Plesiran Batik di Pasar Klewer

| Tuesday, 28 May 2013 |

Dalam sinetron "Ketika cinta bertasbih the series" yang sempat ditayangkan di RCTI beberapa waktu yang lalu, saya ingat betul salah satu scene adegan tatkala Ustad Mujab yang diperankan oleh Habiburrahman El Shirazy berkata kepada istrinya "Bu, besok belanja batiknya di pasar Klewer saja, biar harganya lebih murah, nanti disini bisa kita jual lagi". Sejak melihat adegan itulah kemudian agak terpatri sugesti dalam pikiran saya bahwa pasar batik yang murah itu ya Pasar Klewer, kendatipun saya sendiri belum pernah belanja di pasar yang berlokasi di Surakarta ini.

Sebelum itu, sugesti saya tentang pasar batik murah tertuju pada Pasar Beringharjo Yogyakarta, kalau untuk pasar yang satu ini, saya memang sudah sering membuktikan sendiri betapa murahnya harga batik di pasar Beringharjo ini. Harga batik di pasar Beringharjo tergolong sangat murah, satu buah kemeja batik kualitas sedang dengan model yang sangat bagus pernah saya dapatkan dengan harga hanya Rp 17.000 di pasar Beringharjo, padahal di Malioboro ataupun pasar malam (samping benteng Vredeburg), kemeja batik dengan model dan kualitas yang hampir serupa harganya bisa mencapai Rp 25.000 - Rp 30.000.

Karena itulah kemudian sering terlintas di pikiran saya untuk membandingkan, mana yang lebih murah batiknya, pasar Klewer, atau pasar Beringharjo. Namun agaknya memang sulit bagi saya untuk merealisasikan niatan tersebut, karena selama ini, hanya pasar Beringharjo yang sering saya sambangi, sedangkan pasar klewer, belum pernah sama sekali.

Dan Alhamdulillah, Alloh SWT ternyata masih berbaik hati pada saya untuk bisa membandingkan harga batik di kedua pasar batik terkemuka itu, Kesempatan itu datang seiring dengan berlangsungnya acara ASEAN Blogger Festival 2013 yang diselenggarakan beberapa hari yang lalu di Surakarta dimana saya didapuk menjadi salah satu pesertanya, melalui acara ASEAN Blogger festival itulah saya memperoleh kesempatan pertama saya untuk berbelanja batik di Pasar Klewer yang konon katanya murah meriah itu.

Pasar Klewer

Pasar Klewer nampak dari Depan (ndak depan-depan banget sih)

Minggu, 12 Mei 2013. Hari terakhir pelaksanaan acara ASEAN Blogger Festival 2013. Salah satu agenda acara ASEAN Blogger Festival di hari itu adalah berkunjung ke keraton Surakarta. Dalam hati, saya agak sumringah, karena dengan berkunjung ke Keraton, otomatis saya punya kesempatan untuk berbelanja di pasar klewer yang jaraknya hanya beberapa ratus meter dari keraton, terlebih sehari sebelumnya, saya bersama Kang Nanang (salah seorang sedulur blogger yang juga menjadi peserta ASEAN Blogger Festival), sudah merencanakan untuk plesir santai ke Pasar Klewer.

Namun apa lacur, ternyata menurut panitia kegiatan, tak ada agenda belanja ke pasar Klewer, melainkan hanya berkunjung ke Keraton, dan setelah itu langsung kembali ke Hotel. Maka, setelah beberapa saat saya dan kang Nanang berdiskusi di Sitinggil keraton, akhirnya Saya dan Mas Nanang, dengan Ditemani Bang Komar dan Kang Enjang pun memberanikan diri untuk tidak mengikuti acara kunjungan keraton dan lebih memilih untuk plesir ke Pasar Klewer, tentu setelah memberi kabar dan konfirmasi terlebih dahulu pada panitia.

Dengan bekal uang yang cukup mepet, kami berempatpun kemudian melenggang gagah menuju pasar klewer, kami berjalan beriringan, bak empat sekawan yang siap menerjang musuh. Jarak Pasar dengan Sitinggil Kraton hanya sekitar 100 meter, dan itu bisa ditempuh dengan 4 menit berjalan kaki.

Untuk ukuran pasar tradisional, Pasar Klewer termasuk pasar yang besar dan luas (konon didapuk sebagai pasar batik terbesar di Indonesia). Pasar Klewer menempati lahan seluas lebih dari 2 hektar, pun bangunannya permanen dan berlantai dua. Los-losnya pun tertata dengan rapi dengan pembagian blok yang teratur, lorongnya bersih dan cukup terawat. Salah satu bukti keseriusan pemerintah Kota Setempat untuk memajukan ekonomi rakyat lewat komoditi perdagangan batik di Pasar Klewer.

Pasar Klewer
Langsung disambut dagangan batik nan menggoda begitu masuk Pasar Klewer

Untuk Keragaman batik, Pasar Klewer memang jagonya, mulai dari batik cap kain katun seharga belasan ribu sampai batik tulis sutra seharga jutaan rupiah, mulai dari batik lokal solo, sampai batik luar seperti batik Banyumas, Pekalongan, Madura, Yogyakarta. Semuanya tersedia di Pasar Klewer. Maka tak salah jika kemudian pasar Klewer disebut sebagai One stop Shopping Batik.

Kami berempat mulai menjelajahi pasar klewer melalui slaah satu pintu masuk sisi utara. Berawal dari pintu masuk ini, kami kemudian mulai menjelajah dan menelusuri setiap lorong demi lorong selebar kurang lebih dua meter untuk menemukan batik yang cocok bagi pandangan mata kami. Sesekali kami berhenti di salah satu kios batik untuk sekedar melihat-lihat sambil meraba batik yang kami temukan, namun kamipun segera berlalu dan kembali menelusuri setiap lorong demi lorong untuk kembali berburu batik incaran. Namun sebelum yakin untuk membeli, kami sebelumnya ingin membandingkan harga dulu antara kios yang satu dengan kios yang lain, agar kami bisa memperkirakan harga pasaran batik tersebut dan mampu memperoleh harga yang termurah.

Pasar Klewer
Berkeliling, dari Kios satu, ke kios yang lain demi target batik dengan harga termurah

Setelah hampir setengah jam kami berkeliling, akhirnya kami mantap berhenti di salah satu kios batik, Bang Komar tertarik dengan batik couple yang dipajang di depan kios tersebut. Sang pedagang menawarkan dua potong batik pasangan tersebut dengan harga 120 ribu, Bang Komar merasa harga itu msih terlalu mahal, akhirnya dikeluarkanlah jurus kanuragan nyang-nyangan ala Bang Komar. Dan setelah dipenuhi dengan tragedi tawar-menawar yang berdarah-darah, akhirnya Bang Komar bisa mendapatkan Batik Couple itu dengan harga 75 ribu. Good Job Bang Komar, lain waktu saya harus belajar ilmu tawar-menawar dari bang Komar nih. Kapan buka kelas khusus bang?

Pasar Klewer
Bang Komar : "Pokoknya ini celana batik dapet goceng ya bu, kalo ndak, saya ngambek lho!"

Kami berempat kemudian berlalu kembali untuk mencari kios berikutnya, setelah berjalan sekitar sepeminuman teh, akhirnya kami berempat kembali berhenti di salah satu kios. Dan kali ini Kang Enjang yang tertarik dengan kaos anak bermotif wayang yang dijual di kios tersebut. Tawar menawar pun kembali tak terhindarkan, namun kali ini tanpa berdarah-darah, karena kang Enjang orangnya tidak se-militan Bang Komar dalam menawar harga, hehe (Ampun bang Komar). Kang Enjang akhirnya bisa mendapatkan kaos anak tersebut dengan harga 12 ribu rupiah per potong (seingat saya, kalau ndak salah), Kang Enjang juga tidak ketinggalan membeli satu potong batik untuk dirinya, harganya sendiri saya kurang tahu, karena saya tidak menyaksikan prosesi transaksinya.

Dan di sebuah kios yang tak jauh dari kios kedua tempat kang Enjang meminang batiknya, Kang Nanang nampak memperhatikan sebuah kaos anak berwarna hitam dengan corak gambar batik Arjuna (kalau ndak salah lho ya), kaos ini masih satu genre dengan kaos yang dibeli kang Enjang. Wah, nampaknya sesepuh Pendekar Tidar yang satu ini tertarik untuk nyempil baju tersebut untuk oleh-oleh untuk putra kesayangan alias calon suksesornya. Dan tanpa tedeng aling-aling, Kang Nanang pun melancarkan ajian nyang-nyangan semurah-murahnya. Dengan penuh perjuangan, Kang Nanang berusaha menawar kaos anak tersebut dengan harga terendah. Dan usahanya ternyata berhasil, Sang penjual akhirnya rela melepas kaos dagangannya dengan harga yang cukup murah, sekali lagi, saya ndak tau berapa harga pastinya, tapi yang jelas, sedikit lebih murah dari harga kaos yang dibeli kang Enjang.

Pasar Klewer
Suasana Los dan Lorong Pasar Klewer yang nampak bersih dan tertata

Kini, tinggal saya yang belum beli satupun kemeja batik maupun kaos bermotif batik. Eits, tunggu dulu, Niatan saya kan ingin membandingkan harga batik antara di Pasar Beringharjo dan pasar Klewer, dan untuk membandingkan harganya kan tidak perlu belanja, cukup melihat teman kita saja yang belanja, iya to?. Dengan tahu harga-harga batik yang dibeli Bang Komar, Kang Enjang, maupun Kang Nanang, itu sudah lebih dari cukup untuk menelisik perbandingan harga batik di Pasar Klewer dan pasar Beringharjo (Halah, bilang aja sampeyan lagi kere dan ndak punya duit buat Plesir, iya tho? Wets, lancang sampeyan)

Lah, lalu apa tujuan saya mampir ke pasar Klewer kalau tidak untuk plesir Batik? Saya memang mau plesir di pasar Klewer, tapi bukan batik yang mau saya beli, melainkan Surjan alias Baju lurik. Itu lho, baju khas orang Jawa jaman dulu yang dibuat dari kain tenunan dengan motif coklat bergaris-garis. Tahu kan? Kalau masih tetap belum tahu, nih saya kasih gambarnya.

Surjan Lurik
Surjan Lurik, Kaos Distro Idama kawula muda (tapi jaman kerajaan Mataram dulu, hehe)

Saya memang sudah berniat untuk membeli baju surjan lurik ini, soalnya koleksi baju surjan lurik saya di rumah hanya satu, jadi saya mau beli lagi untuk cadangan. Dan kebetulan, Kang Nanang juga katanya mau beli juga untuk anaknya. Kang Komar juga nampaknya tertarik untuk beli baju Surjan lurik ini. Nah, jadinya klop kan?. Akhirnya kami bertiga (Kang Enjang ndak ikut beli, wah, ndak kompak nih kang Enjang, hehe) memutuskan untuk membeli baju surjan dan memakainya bersama agar terlihat kompak (juga sekaligus untuk gaya-gayaan).

Setelah sempat berkeliling ke beberapa kios untuk membandingkan harga baju Surjan, akhirnya kami memutuskan untuk membeli di Kios pinggir pasar, dan melalui perdebatan tawar-menawar yang cukup alot, akhirnya kami mendapatkan harga yang cukup murah. Untuk ukuran S, harganya 45 ribu, untuk ukuran M harganya 50 ribu, dan untuk ukuran XL (ukuran bang Komar), harganya 65 ribu. Dan langsung saja kami rogoh kocek masing-masing untuk meminang si Baju Surjan ini.

Setelah puas ber-plesir Ria di pasar Klewer, kami memutuskan untuk kembali ke bus. Namun karena ternyata rombongan yang lain belum juga datang, maka jadilah kami manfaatkan bus sebagai media santai sambil tiduran atau rebahan melepas lelah setelah hampir 3 jam berkeliling Klewer. Kesejukan AC bus ditambah dengan Alunan musik campur sari yang diputar oleh pak Supir semakin menambah nuansa kesantaian. Kami terlena dalam keasyikan bersantai di dalam bus, hingga tak terasa, semua rombongan sudah kembali dari kunjungannya ke Kraton.

Walhasil, kami semua satu rombongan pun akhirnya harus kembali ke Hotel, untuk selanjutnya check out, dan kembali ke kediamannya masing-masing.

Yah, itulah pengalaman saya berbelanja batik (atau lebih tepatnya, menemani belanja batik) di Pasar klewer. Pengalaman yang cukup membekas dalam ingatan. Semoga di lain kesempatan, saya bisa mampir lagi ke pasar Klewer, untuk benar-benar membeli batik, dan bukan sekedar menemani :)

Pasar Klewer
Numpang mempromosikan Kios Batik Amira: Semoga laris dagangannya mbak

Oh ya, lupa. Jawaban kepenasaran saya yang sudah diuraikan sebelumnya di awal. Lebih murah mana harga batik di Pasar Beringharjo dengan di Pasar Klewer? Jawabannya. Harganya hampir sama, keduanya punya harga yang murah. Beberapa model lebih mahal di Klewer, dan beberapa model lebih mahal di Beringharjo. Jadi kalau sampeyan mau kulakan batik, bisa di Beringharjo, bisa juga di Klewer, wong sama-sama murah kok.

NB : Cerita banyak ditambahi improvisasi oleh penulis, Kisah aslinya tidak persis seperti di dalam cerita.

Gambar pertama minjem dari Isroi.com




Buku Agus Mulyadi

7 comments :

  1. tapi yang di Klewer sempat ketemu pedagang yang marah karena proses taar-menawar sangat alot hingga tidak tercapai kesepakatan harga, dan finalnya kita tidak jadi beli.... eee dianya ngambek!

    ReplyDelete
  2. Kang nanang : Aleman yo pedagang'e.. wis tuwo kok ngambeg'an, hehehe.. Lha resiko pedagang kan harusnya memang gitu, salah sendiri dia ndak ngasih harga sesuai penawaran kita (mekso ndes)... hehe

    ReplyDelete
  3. wow baru tahu.. batiknya pasti beda coraknya soalnya di cirebon juga ada batik khasnya dan saya deket sama pusat batik disini :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kalau corak batik solo memang beda dengan batik khas cirebonan, tapi di Klewer juga ada yang jual batik cirebonan lho mas....

      Delete
  4. Siiiiip dah... Thank's bgt... Jalan jalan

    ReplyDelete
  5. This is a well written article on this subject. I have been looking at starting a new business and this is valuable information to help me in my decision. Thank you.
    salam: Situs Indonesia

    ReplyDelete
  6. ternyata kurang lebih sama saja ya perbandingan harga antara pasar bering harjo dan pasar klewer,

    ReplyDelete

Tentang Saya

Saya Agus Mulyadi, biasa dipanggil Gus Mul (bukan lulusan pesantren seperti Gus Dur, Gus Muh, maupun Gus Mus. Gus Mul hanya akronim dari nama saya). Blogger dan Freelance Layouter. Kini berusia 24 tahun. Aktif di Karang Taruna dan Komunitas Blogger Magelang Pendekar Tidar. Profil lebih lengkap, Lihat Disini

Tambahkan saya di Google+

 
Copyright © 2010 Agus Mulyadi Blog , All rights reserved
Design by DZignine . Powered by Blogger