Ngamen yang dulu bukanlah ngamen yang sekarang

| Wednesday, 3 July 2013 |

Hari belum beranjak siang, belum ada satu jam sejak saya membuka warnet tempat saya bekerja, saat tiba-tiba muncul seorang bapak yang ngamen di depan warnet tempat gawean saya. Alat musik yang dia bawa tak tanggung-tanggung, bukan kencrung ataupun gitar, melainkan gendang gamelan. Welha dalah. Pakaiannya sederhana, dengan blangkon di kepala. Benar-benar njawani.


Tanpa aba-aba. Dengan suara yang sedengan (tak terlalu jelek, namun juga kurang pantas dikatakan merdu), bapak pengamen ini menyanyikan sebuah tembang berbahasa jawa, saya tak tahu persis apa judulnya, tapi yang jelas, saya mudeng liriknya. suara sedengan bapak tadi bisa terdengar cukup enak didengarkan karena iringan musik gendang yang ia mainkan. Jujur, saya cukup terhibur. Seandainya beliau adalah peserta audisi X-Factor dan saya adalah Bebi Romeo, mungkin saya akan berkata, "Pak pengamen, Papa Bangga Sama Kamu!!"

Dengan hiburan singkat yang sempat saya dapatkan dari lantunan tembang bapak pengamen ini, Saya pun tak segan memberikan uang dua ribu rupiah (seadanya uang di kantong) pada pak pengamen yang njawani ini, padahal biasanya kalau ada pengamen yang menyambangi warnet tempat gawean saya, paling pol saya kasih gopek. Yah, mungkin karena saya menganggap pak pengamen ini ngamen dengan style yang anti mainstream.

Btw, ini adalah pertama kalinya dalam setahun ini saya melihat pengamen di kampung saya yang menggunakan gamelan tradisional sebagai alat musik ngamen.

Belasan tahun yang lalu, saat saya masih SD, saya ingat betul kampung saya sering disambangi oleh pengamen wanita paruh baya yang menggunakan kecapi sebagai alat musik. Kecapinya selalu dia bawa dengan dicangklong di bahu, sepintas, saya melihat seperti pendekar kecapi yang sering muncul di cerita silat China. Dalam setiap ngamen-nya, beliau selalu membawakan lagu jawa yang dinyanyikan dengan cengkok sinden. Sangat menghibur. Tapi entah mengapa, sejak saya masuk SMP, ibu pengamen ini sudah jarang muncul di kampung saya. Padahal, sudah banyak yang menanti kedatangannya. (Apa jangan-jangan si Ibu pengamen ini memang pendekar kecapi yang sedang menyamar? Ah Sudahlah).

Yah, dunia per-ngamen-an memang sudah sangat berubah. kini sudah sangat jarang ditemukan pengamen-pengamen dengan suara aduhai (minimal menghibur) atau pengamen-pengamen yang benar-benar sanggup menghibur. Bapak pengamen yang saya ceritakan di atas bisa jadi hanyalah satu dari sedikit pengamen yang masih mampu memberikan penghiburan bagi empunya rumah yang diameni.

Ngamen yang dulu bukanlah ngamen yang sekarang. Dulu, ngamen murni merupakan profesi jual suara, jadi jangan heran jika pengamen dulu hampir semuanya punya suara yang merdu, minimal enak untuk didengar. Jadi sang tuan rumah yang diameni pun tak merasa segan untuk memberikan uang demi mendengar suara merdu sang pengamen, bahkan beberapa malah nanggap, alias memberi uang lebih dengan syarat si pengamen menyanyikan beberapa buah lagi lagi.

Untuk pengamen solo, suara bagus menjadi sebuah keharusan, sedangkan untuk pengamen grup atau rombongan, suara bagus  bisa sedikit dikesampingkan, asalkan didukung dengan alat musik meriah, minimal gitar, kencrung, dan ketipung paralon.

Namun kini, semuanya berubah setelah negara api menyerang, Ngamen kini sering kali menjadi profesi jual iba, dan bukan jual suara. Kebanyakan pengamen jaman sekarang tak terlalu mementingkan suara merdu. Alat musiknya pun kadang ala kadarnya, bahkan kecrekan tutup botol atau sekedar keplok alias tepukan tangan pun dinilai sudah cukup mumpuni. Kadang malah lagu yang dinyanyikan ndak karuan, hanya mengandalkan tampang melas dan kasihan. Praktis, tujuan empunya rumah yang diameni memberi uang pun bukan lagi untuk mendengarkan lagu yang merdu, melainkan karena kasihan, atau agar sang pengamen cepat-cepat pergi.

Hhh, Sekali lagi, Ngamen yang dulu bukanlah ngamen yang sekarang.

NB : Jika barangkali anda ndak suka atau kurang suka dengan artikel ini? mohon layangkan gugatan anda ke agus@agusmulyadi.com atau ke twitter saya di @AgusMagelangan




Buku Agus Mulyadi

2 comments :

  1. mbok coba gus, ganti profesi agus sing ngamen piye jal... merdu ( merusak dunia ) hehehhehe... pissss....

    ReplyDelete

Tentang Saya

Saya Agus Mulyadi, biasa dipanggil Gus Mul (bukan lulusan pesantren seperti Gus Dur, Gus Muh, maupun Gus Mus. Gus Mul hanya akronim dari nama saya). Blogger dan Freelance Layouter. Kini berusia 24 tahun. Aktif di Karang Taruna dan Komunitas Blogger Magelang Pendekar Tidar. Profil lebih lengkap, Lihat Disini

Tambahkan saya di Google+

 
Copyright © 2010 Agus Mulyadi Blog , All rights reserved
Design by DZignine . Powered by Blogger