Reportase Mercon Lebaran 1434 Hijriah

| Saturday, 10 August 2013 |

Mercon alias petasan memang tak dapat dipisahkan dari momen Lebaran, tradisi menyulut mercon untuk memeriahkan lebaran sudah berlangsung sejak puluhan tahun yang lalu. Bahkan sejak diperkenalkan pertama kalinya oleh pedagang-pedagang perantauan tionghoa 3 abad yang lalu, hingga sekarang, mercon seakan sudah menjadi bagian yang tak terpisahkan bagi warga Indonesia untuk memeriahkan berbagai momen dan acara, terutama hari raya lebaran maupun hari raya imlek.

Namun seiring dengan makin banyaknya laporan tentang bahaya mercon, telah sedikit banyak membuat pihak kepolisian semakin mengetatkan regulasi peredaran mercon. Bukan tanpa alasan, karena dalam beberapa tahun terakhir, jumlah angka kematian yang ditimbulkan karena meledaknya mercon ini semakin tinggi, terakhir yang membuat media heboh adalah meninggalnya Muhtarom, bocah Warga Desa Semingkir, Kecamatan Randudongkal, Pemalang, Jawa Tengah yang meningal akibat terkena ledakan mercon raksasa yang disulut di ladang tak jauh dari rumahnya. Belum lagi dengan dampak lainnya seperti kebakaran yang kerap terjadi pada rumah atau gudang penyimpanan mercon.

Regulasi pengetatan peredaran mercon ini terasa semakin menjadi setelah keluarnya fatwa MUI yang melarang penyulutan mercon karena mendatangkan mudharat dan tak mendatangkan manfaat sama sekali.

Hal inilah yang membuat mercon kian hari kian tersingkir dan mulai tergantikan oleh kembang api (yang sebenarya masih satu keluarga dengan mercon, hanya saja dampaknya dianggap tak terlalu bahya dibandingkan dengan mercon ledak). Selain itu, makin tingginya harga bumbu mercon yang kini sudah mencapai angka 25 ribu per ons telah membuat banyak orang mulai malas untuk membuat mercon.

Namun begitu, masih saja ada beberapa warga desa di berbagai perjuru yang masih tetap membuat mercon untuk memeriahkan lebaran. Diantaranya adalah beberapa pemuda di kampung saya, Kampung Seneng Banyurojo, Mertoyudan, Magelang. Menjelang lebaran tahun ini, beberapa pemuda di kampung saya sibuk membuat mercon untuk dinyalakan di hari lebaran.

Masing-masing pemuda saling berlomba untuk membuat mercon terbanyak, ada yang membuat sendiri, ada pula yang rombongan. Untuk yang mebuat sendiri, biasanya hanya menghabiskan 1 ons bumbu mercon bubuk, sedangkan yang rombongan, bisa sampai setengah kilogram bumbu. Meron dibuat dengan gulungan kertas padat yang diisi dengan bumbu mercon, beberapa diantaranya menggunakan bungkus cuka maupun bungkus handbody berisi bumbu mercon yang kemudian dibalut dengan gulungan koran.

Mercon

Mercon

Untuk satu ons bumbu, biasanya bisa dibuat sampai 10 mercon besar (diameter sekitar 10 cm), sedangkan bila dibuat ukuran sedang (diameter sekitar 5cm), satu ons-nya bisa dibuat sampai 15 mercon.

Mercon

Mercon

Satu hari sebelum lebaran alias pas ramadhan terakhir, beberapa pemuda mengujicobakan mercon yang mereka buat, suara ledakan mercon beberapa kali memekakkan telinga. "Mercon siap diledakkan besok pagi, suara ledakannya sudha mantap!" tukas seorang kawan yang ikut serta membuat mercon.

Tibalah jua di hari lebaran, beberapa saat setelah turun shalat Ied. Orang-orang berkumpul di pelataran jalan untuk menyaksikan prosesi penyulutan mercon. Satu per satu mercon dinyalakan. Para pemuda Kampung di bagian timur dan barat saling beradu keras suara mercon. dentuman suara mercon saling bersahut-sahutan menyambut datangya hari kemenangan.

Mercon

Mercon

Suasana saat itu benar-benar meriah. Riuh suara warga bergemuruh takjub melihat dahsyatnya ledakan mercon yang dinyalakan. Tak sampai satu menit setelah mercon satu dinyalakan, ledakan mercon yang lain sudah langsung menyusul.

Tak sampai satu jam, mercon pun habis, tak pelak jalanan kampung menjadi penuh dengan kertas hasil ledakan mercon. Persis seperti jalanan 5th avenue di New york pas musim dingin, hanya saja saljunya diganti dengan sobekan-sobekan kertas.





Sobekan-sobekan kertas tadi sengaja tak disapu dan dibiarkan begitu saja mengotori setiap sudut jalanan, tujuannya satu, hanya untuk menandai, bahwa di hari itu, lebaran telah menyapa.




Buku Agus Mulyadi

3 comments :

  1. Tradisi sing ngrameni, tapi yo iso nyilakani....

    ReplyDelete
    Replies
    1. bener mas, tapi cen dino bodo ki kurang meriah nek hurung ono mercon

      Delete

Tentang Saya

Saya Agus Mulyadi, biasa dipanggil Gus Mul (bukan lulusan pesantren seperti Gus Dur, Gus Muh, maupun Gus Mus. Gus Mul hanya akronim dari nama saya). Blogger dan Freelance Layouter. Kini berusia 24 tahun. Aktif di Karang Taruna dan Komunitas Blogger Magelang Pendekar Tidar. Profil lebih lengkap, Lihat Disini

Tambahkan saya di Google+

 
Copyright © 2010 Agus Mulyadi Blog , All rights reserved
Design by DZignine . Powered by Blogger