Tentang Djoempa Kerabat Kota Toea Magelang 2013

| Friday, 16 August 2013 |

Yang namanya komunitas, jelas rasanya akan hambar jika tidak disertai dengan acara kumpul-kumpul para anggotanya (bahasa kerennya kopdaran lah), karena memang nyawa dari sebuah komunitas itu ya kebersaman dari segenap member komunitas itu sendiri. Hal ini disadari betul oleh Komunitas Kota Toea Magelang, sebuah komunitas Pecinta dan pelestari bangunan tua di Magelang dan sekitarnya. Selain aktif mengadakan event utama yaitu jelajah bangunan lawas, Komunitas ini juga tercatat selalu menyelenggarakan acara kumpul-kumpul silaturahmi dan diskusi segenap anggota setiap tahunnya yang bertajuk Djoempa Kerabat Kota Toea Magelang.

Dan tahun 2013 inipun, agenda Djoempa Kerabat Kota Toea Magelang kembali digelar.

Berbeda dengan edisi tahun lalu, event Djoempa Kerabat Kota Toea Magelang tahun 2013 ini terasa spesial, karena diselenggarakan pada waktu yang masih bersuasana syawal, sehingga aroma "Sugeng riyadi" masih sangat terasa kental.



Acara Djoempa Kerabat Kota Toea Magelang 2013 kali ini diselenggarakan pada hari Kamis, 15 Agustus 2013, di Warung Makan Voor de Tidar. Acara sejatinya dijadwalkan mulai pada jam 6 sore, tapi kemudian molor sampai jam 7 karena banyak peserta yang datang tak sesuai jadwal.

Kendatipun acara ini adalah acara komunitas Kota Toea Magelang, namun Djoempa Kerabat Kota Toea Magelang 2013 ternyata tak hanya dihadiri oleh anggota internal saja, karena rupanya, banyak peserta lain yang berasal dari lintas komunitas dan latar belakang, diantaranya akademisi, pengajar, bahkan sampai pengusaha.





Acara diisi dengan perkenalan masing-masing peserta (maklum, kendatipun sudah saling tahu di grup facebook komunitas, tapi banyak yang belum kenal langsung sesama anggota, apalagi bertatap muka), silaturahmi, dan juga diskusi ringan seputar Kota Tua Magelang ataupun pembahasan agenda serta kegiatan komunitas Kota Toea Magelang kedepannya.

Diskusi ringan tentang kota tua Magelang dalam Djoempa Kerabat Kota Toea Magelang 2013 benar-benar penuh warna, Bagaimana tidak, beragamnya para peserta kemudian "memaksa" para peserta yang berasal dari latar belakang yang berbeda-beda untuk saling berbagi dan mengemukakan pandangannya tentang Magelang sebagai Kota Tua dari sudut pandang masing-masing.



Mbak Wahyu Utami misalnya, Calon Doctor jebolan Universitas Gadjah Mada yang kerap membuat essay tentang kemagelangan ini begitu lanyah dalam mengemukakan berbagai keunikan-keunikan kota Magelang berdasarkan letak dan topografis kota Magelang.

Lain mbak Wahyu Utami, lain pula dengan Pak Soli Saroso, anggota komunitas Kota Toea Magelang yang juga anggota komunitas Volkswagen Kedu ini dengan sangat berapi-api mengemukan dan menceritakan tentang sejarah Magelang di masa kolonial sampai sejarah nafas Komunis di kota Gethuk ini.

Diskusi ringan makin asyik dan menarik saat mas Rahadian, eks wartawan Jawa Pos yang besar di kota Magelang berbagi tips tentang bagaimana mengenalkan Kota Magelang kepada dunia luar dengan segenap sisi positif dan kearifan lokalnya melalui media online dan sosial media seperti Facebook maupun twitter.

Tak jauh berbeda dengan Mas Rahadian, Uraian menarik juga disampaikan oleh pak Chandra Irawan, Manajer Hotel Atria Magelang yang menjelaskan tentang tantangan bisnis pariwisata di Magelang terutama bisnis penginapan dengan memaksimalkan segala potensi pariwisata di Magelang dan sekitarnya.





Selain diskusi menyampaikan pandangan, para peserta juga diberikan sesi kesempatan untuk memberikan saran, kritik, ataupun gagasan membangun perihal Kota Magelang maupun Komunitas Kota Toea Magelang, dan sesi ini tak disia-siakan oleh para peserta yang langsung memberondong dengan berbagai gagasan-gagasan yang unik dan menarik. Pak Marwan salah satunya, beliau memberikan gagasan yang unik, yaitu mendorong Pemkot agar melarang pendirian bangunan yang tingginya melebih Gunung Tidar. Gagasan menarik lainnya keluar dari lisan pak Bondan, seorang akademisi yang sekarang berprofesi sebagai guru, beliau memberikan gagasan bilamana segala posting yang ada di grup facebook Kota Toea Magelang bisa dibukukan, gagasan menarik lainnya adalah mendorong kegiatan Kota Toea Magelang agar bisa masuk ke sekolah-sekolah lokal di Magelang, mengingat masih banyak pelajar Magelang yang belum tahu tentang sejarah kota Magelang sendiri.

Acara Djoempa Kerabat Kota Toea Magelang 2013 ini dipandu langsung oleh mas Bagus Priyana selaku koordinator komunitas Kota Toea Magelang.



Dengan disuguhi menu makanan pecel lele spesial dari Warung Makan Voor de Tidar dan dihibur dengan alunan lagu kroncong tradisional nan merdu oleh grup seni Omah Tumpuk, membuat acara Djoempa Kerabat Kota Toea Magelang 2013 terasa sangat berkesan, terlebih lagi di akhir acara, ada doorprize berupa poster tentang Kota tua Magelang yang dibagikan kepada beberapa peserta yang sanggup menjawap pertanyaan yang diajukan oleh sang komandan, Mas Bagus Priyana selaku pemandu acara.

Tepat jam 10 kurang seperempat, acara pun usai yang ditandai dengan penampilan pamungkas dari grup seni Omah Tumpuk yang membawakan lagu berjudul Magelang dan juga sesi foto bersama seluruh peserta.



Hhh, sungguh acara yang sangat berkesan. Semoga tahun depan, even Djoempa Kerabat Kota Toea Magelang kembali digulirkan.

Gambar hasil jepretan Pak Widoyoko Magelang




Buku Agus Mulyadi

1 comment :

  1. mantaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaappppp...tjap toedjoeh djempol boeat itoe tjerita

    ReplyDelete

Tentang Saya

Saya Agus Mulyadi, biasa dipanggil Gus Mul (bukan lulusan pesantren seperti Gus Dur, Gus Muh, maupun Gus Mus. Gus Mul hanya akronim dari nama saya). Blogger dan Freelance Layouter. Kini berusia 24 tahun. Aktif di Karang Taruna dan Komunitas Blogger Magelang Pendekar Tidar. Profil lebih lengkap, Lihat Disini

Tambahkan saya di Google+

 
Copyright © 2010 Agus Mulyadi Blog , All rights reserved
Design by DZignine . Powered by Blogger