Duhai Wak haji Rhoma Irama

| Thursday, 27 February 2014 |

Rhoma Irama Presiden
Polemik terkait pengangkatan Rhoma Irama sebagai Gacuk calon Presiden dari partai PKB sedikit banyak telah menyita perhatian saya (halah, memangnya sampeyan itu siapa gus?), hehe, sejujurnya ini adalah intermezzo pembuka yang kurang mutu, tapi tak apalah. Hanya pembelaan saya saja, karena kelihatannya kurang afdol bagi saya kalau di tahun 2014 ini tidak posting tentang dunia politik.

Jadi mohon maaf kalau postingan kali ini agak kaku, berat, dan serius, tak seperti postingan-postingan ringan di blog ini sebelumnya. Dan kebetulan, sebagai bahan, saya memilih Rhoma Irama sebagai materi.

Oke, inilah sedikit tanggapan subjektif ngawur saya perihal tokoh yang satu ini terkait dengan kiprahnya.

Dalam proses pencalonannya sebagai presiden, Tokoh yang sering juga dipanggil dengan panggilan Bang Oma ataupun Wak Haji ini lebih banyak mendapat cacian ketimbang pujian. Hal ini tentu sangat beralasan, karena betapapun juga, nama Rhoma memang sudah tak seharum dulu.

Sederet polemik telah mengerek turun nama baiknya, mulai dari peristiwa heboh pencekalan goyang ngebor Inul, sampai ajakanya untuk tidak mencoblos gubernur non muslim dalam ajang Pemilu Gubernur-Wakil Gubernur DKI beberapa waktu yang lalu.

Jauh sebelum itu, Titik balik pudarnya pesona Rhoma tentu dimulai dengan pengakuannnya telah menikahi siri Angel Lelga. Seperti yang kita tahu, pernikahan siri (kendatipun itu tak menyalahi aturan) adalah sebuah antipati bagi sebagian besar masyarakat Indonesia, terlebih jika itu dilakukan oleh tokoh ternama.

Pencalonan Rhoma sebagai Presiden oleh banyak orang dinilai sebagai lelucon belaka dan diangap hanya sebagai pendongkrak popularitas PKB semata. Bahkan sampai muncul kelakar bahwa tujuan Rhoma Irama untuk menjadi presiden sebenarnya adalah untuk merebut Ani dari tangan SBY (Oalah dab). Seperti yang kita ketahui, Ani adalah nama tokoh peran kekasih Rhoma Irama dalam Film Gitar Tua dan Berkelana yang diperankan oleh Yatie Octavia. Nama Ani ini kelak menjadi sebutan nama paten untuk peran kekasih Rhoma Irama dalam film-film lainnya.

Secara pribadi, saya memang kurang setuju jika Rhoma Irama jadi presiden, alasannya karena menurut saya, Rhoma Irama memang kurang punya kapabilitas sebagai seorang presiden. Hal ini makin terlihat menguat di mata saya saat saya melihat tayangan Mata Najwa edisi Rhoma Irama, dalam episode tersebut, terlihat jelas betapa Rhoma Irama agak gagap dalam menjawab pertanyaan Najwa Shihab perihal kenegaraan, hal itu bagi saya adalah parameter yang jelas bahwa Rhoma memang belum siap untuk berkiprah menjadi presiden.

Lagipula kan, Bangsa ini sedang menantikan sosok Satria Piningit, bukan Satria bergitar.

Namun begitu, saya sangat-sangat tidak suka jika ada banyak pihak yang kemudian meng-underestime-kan beliau atau bahkan sampai menggoblok-goblokkan dan mengkonyol-konyolkan beliau.

Karena jelas tak bisa dipungkiri, Rhoma punya sumbangsih yang sangat besar terhadap kehidupan akhlak bangsa ini. Hal yang tak dapat dibantah, bahwa Rhoma bersama Soneta-nya melalui berbagai lagu dengan konsep Syiar dalam Syair telah mampu memberikan banyak perbaikan akhlak.

Bersama Soneta dan ditemani oleh gitar amputasi-nya, beliau sukses mengguncang jagad hiburan Indonesia, juga sukses "mencuci-otak" masyarakat dengan lagu-lagu-nya. Ia punya banyak sekali penggemar. Bahkan berdasarkan data penjualan kaset, dan jumlah penonton film- film yang dibintanginya, penggemar Rhoma tidak kurang dari 15 juta atau 10% penduduk Indonesia. Ini catatan sampai pertengahan 1984.

Tentu tak terhitung berapa jumlah anak yang kemudian mendapatkan pencerahan untuk lebih berbakti kepada ibu-nya setelah mendengarkan lagu "Keramat". Tak terhitung pula berapa remaja yang tercerahkan untuk menjauhi minuman keras dan narkoba setelah mendengarkan lagu "Mirasantika". Hal ini masih belum termasuk dengan lagu-lagu lain yang syairnya sebagian besar berisi ajakan untuk berbuat baik dalam berakhlak dan bermasyarakat.

Bahkan kalau boleh jujur, menurut saya, sumbangsih Rhoma terhadap dunia akhlak bangsa jauh lebih besar ketimbang SBY sekalipun.

Di masa jayanya, Rhoma bersama Soneta adalah sebuah magnet, sebuah pesona, sebuah kelopok persuasif yang mempu mengajak segenap masyarakat untuk berusaha menjadi lebih baik dalam berakhlak, beragama, berbangsa, dan bernegara.

Soneta

Dangdut-nya Rhoma (dan Soneta) tentu berbeda jauh dengan dangdut koplo. Saya melihat, dangdut koplo lebih terkonsentrasi untuk menampilkan sisi hiburan (plus birahi)-nya, sedangkan dangdutnya Rhoma lebih menekankan kepada syiar dan pengedukasian masyarakat daripada sisi hiburannya.

Bahkan idiom goyang antara keduanya pun berbeda jauh. Idiom goyang dangdut koplo adalah "Ayo goyang sing penting ojo jotos-jotosan", sedangkan dangdut-nya Rhoma adalah "Mari bergoyang Asal masih dalam kesopanan dan keimanan"

Ibu saya asalnya dari Kaliangkrik, sebuah daerah di lereng gunung sumbing sana. Ibu saya pernah bercerita, bahwa pernah sewaktu muda dulu, ada informasi bahwa Soneta akan manggung di Kota. Sontak ibu saya bersama puluhan pemuda-pemudi menggalang dana untuk menyewa truk demi bisa turun gunung dan menyaksikan sang Raja Dangdut mendendangkan lagu-lagu-nya.

Bagi saya yang diceritani kisah tersebut, tentu merasa bahwa hal tersebut sangatlah luar biasa. Karena sampai sekarang, saya belum pernah diperlihatkan kembali musisi sekelas Rhoma dan Soneta yang bisa sampai membuat pemuda-pemudi desa menjadi militan dan rela turun gunung untuk menyaksikan aksi mereka.

Maka tak berlebihan rasanya bila seorang Indra J Pilliang sampai mengatakan bahwa Di era keemasannya, Rhoma Irama tidak perlu bagi-bagi duit untuk kumpulkan lautan massa di area pertunjukannya, Tidak ada money music.

Tapi jelas, kalau dalam pemilihan presiden, bakat bermusik dan ketenaran tak bisa menjadi acuan pasti.

Pada akhirnya, saya sih hanya ingin menyampaikan bahwa saya kurang mathuk kalau Indonesia harus dipimpin oleh Rhoma, menurut saya, Wak Haji bisa ikut memberikan sumbangsih lebih besar untuk membangun bangsa ini tanpa harus menjadi presiden. Entah dengan menjadi musisi kebangsaan, atau dengan menjadi motivator religi berbasis nada dakwah. Tapi yang pasti, bukan sebagai Presiden.

Lagipula, sebagai blogger yang doyan melek malam, saya takutnya nanti kalau Rhoma Irama jadi presiden, begadang tidak diperbolehkan, karena begadang tiada artinya... Tssaaah

So, untuk pembaca sekalian, silahkan berkomentar, asalkan masih dalam kesopanan dan keimanan...

NB : Gambar diambil dari Bayituo dan Lorenzeo




Buku Agus Mulyadi

24 comments :

  1. Sepertinya ente cocok jadi Pengamat Gus

    ReplyDelete
    Replies
    1. sekali-kali tho, mumpung tahun politik

      Delete
  2. Yang Mulai lapar siapa yaw wkwkwkwk

    ReplyDelete
  3. setuju di bagian wak haji lebih baik berkontribusi buat indonesia bukan sebagai presiden, mas!

    ReplyDelete
  4. Kalo angel lelga atau mela barbie nyaleg, kamu nyoblos siapa gus?

    ReplyDelete
    Replies
    1. waduh.. itu pilihan yang sangat sulit... wkwkwk, semoga saja satu partai, biar bisa dicoblos semua..

      Delete
    2. coblos pas apane gus,,,kwkwkwk
      maksudku kan nek gambare ndase opo gulune :v

      Delete
  5. Replies
    1. Sayange kurang pinter nggolek pacar.. wkwkwk

      Delete
  6. aku paling suka lagu kehilangan tongkat.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Nek aku paling seneng lagu Yolanda, wkwkwk

      Delete
  7. sangar gus analisamu ngalah-ngalahi bung towel. dadio komentator ISL po o gus :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. wah, ketoke aku ra pantes nek engko diundang Bung Agus... terlalu reformis

      Delete
  8. Replies
    1. wah, "TERLALU"ne kurang dowo kang, kudune "TERLAAALLLUUUU"...

      Delete
  9. kayae kowe yo cocok entok gelar PROFESOR honoris causa kaya bang haji gus.....

    ReplyDelete
  10. idem sama mas Anonim... tapi nambah sithik gus... mbok yao, sampeyan kuwi nulis utawa wacana kontra terorisme gus... ngritik salep 88 kae... piye? wani ora?

    Assalamu'alaikum

    ReplyDelete
  11. Terlaaaaluuuu :D
    *daripada ra komen.. Hehe

    ReplyDelete
  12. Aq #rapopo gus yg penting aq bahagia siapa pun presidennya

    ReplyDelete

Tentang Saya

Saya Agus Mulyadi, biasa dipanggil Gus Mul (bukan lulusan pesantren seperti Gus Dur, Gus Muh, maupun Gus Mus. Gus Mul hanya akronim dari nama saya). Blogger dan Freelance Layouter. Kini berusia 24 tahun. Aktif di Karang Taruna dan Komunitas Blogger Magelang Pendekar Tidar. Profil lebih lengkap, Lihat Disini

Tambahkan saya di Google+

 
Copyright © 2010 Agus Mulyadi Blog , All rights reserved
Design by DZignine . Powered by Blogger