Kenangan nyolong buah di Panca Arga

| Tuesday, 11 February 2014 |

Panca Arga, begitulah nama sebuah kompleks perumahan akademi militer yang lokasinya bersebrangan persis dengan kampung Seneng, kampung tempat saya tinggal. Bahkan keduanya masih termasuk satu kelurahan. Perumahan Panca arga adalah perumahan otonom yang statusnya setara dengan Dusun.

Kompleks perumahan ini ditinggali oleh tentara yang bertugas di Akademi militer, dan karena sifatnya adalah perumahan dinas, maka penghuninya pun selalu berganti-ganti. Hanya segelintir yang bisa menempati rumah di Panca Arga ini sampai jangka waktu puluhan tahun.

Saya dan anak-anak Kampung Seneng sering sekali main ke Panca Arga, maklum lah, di kampung Seneng ndak ada lapangan bola, jadi kalau kami ingin bermain bola, ya mau ndak mau harus mlipir bermigrasi sejenak ke Panca Arga ini.

Panca Arga pintu 2

Sebagai kompleks perumahan yang ditinggali oleh tentara dan karyawan Akademi militer, perumahan ini termasuk salah satu kompleks perumahan dengan fasilitas maha lengkap. Satu Masjid besar, belasan Mushola, Gereja Kristen dan Katholik, taman rekreasi, Bank, ATM, Dua lapangan Tennis, tiga lapangan sepak bola, dan masih banyak lagi fasilitas-fasilitas lainnya. Dengan segenap fasilitas ini, bisa dibilang, bahwa penghuni perumahan ini adalah para keluarga yang beruntung.

Lebih beruntung lagi adalah mereka yang menempati rumah baru di Panca Arga yang pekarangan rumahnya sudah terisi dengan aneka tanaman buah yang ditanam oleh penghuni sebelumnya.

Sewaktu kecil, saya dan kawan-kawan begitu iri dengan penghuni yang model begini. Gimana ndak bikin iri, Lha wong mereka datang pindahan, dan tanpa dipesan di rumahnya sudah tersedia pohon jambu, kalau panen tinggal petik tanpa harus bersusah payah menanam pohon dan merawatnya sampai usia produktif. Bisa dibilang, mereka ini adalah para penerima warisan.

Di Panca Arga, banyak sekali tanaman buah yang bisa dengan mudah ditemukan di pekarangan rumah, mulai dari mangga, jambu, belimbing, sawo, rambutan, matoa, bahkan sampai buah duwet sekalipun. Dan bagi saya dan kawan-kawan waktu kecil, buah-buahan itu adalah emas. Ya, waktu kami kecil, kami belum terlalu memikirkan uang apalagi pacar. Sehingga buah-buahan menjadi harta yang tak ternilai harganya, maka kebun buah di pekarangan Panca Arga itu pun nampak seperti El-Dorado di mata kami.

Saya masih ingat betul, dulu sewaktu masih kecil, saya dan kawan-kawan sering sekali mencuri buah di pekarangan rumah para penghuni Panca Arga.

Maklum saja, melihat potensi buah yang begitu melimpah, jiwa pendekar kami menjadi bergejolak hebat, adrenalin kami terpacu, dan naluri nggragas kami terus meninggi, maka begitu ada kesempatan, niscaya terjadilah pencurian kecil-kecilan yang berulang-ulang itu.

Namun sebagai anak kecil yang masih sedikit menjunjung norma kesopanan, kami tentu saja tak langsung mencurinya tanpa intermezzo, kami biasanya nembung dulu secara baik-baik dan diplomatis.

"Kulonuwun, pak buk, nyuwun jambune nggih????"

Kalau dijawab boleh, ya langsung kami petik. Tapi kalau ndak ada jawaban, ya tetap kami petik, soalnya kami punya prinsip Diam berarti Ya. Trus kalau dijawab tidak boleh? Ya sekali lagi, tetap kami petik, tapi keesokan harinya, karena kalau yang ini, kami menganut prinsip Penolakan adalah izin yang tertunda.



Beberapa pemilik pohon kadang ada yang merasa senang kalau buahnya dipetik oleh kami, karena itu berarti mereka merasa buah yang ada di pekarangannya bisa berguna bagi penduduk sekitar. "Udah mas, ambil saja yang banyak, kalau perlu kresek nanti saya ambilkan di belakang!". Nah, tipe penghuni seperti inilah yang sangat kami cintai dan kami banggakan.

Namun ada juga penghuni yang pelitnya ndak ketulungan, cuma minta jambu saja ndak diperbolehkan. Nah, kalau tipe penghuni yang seperti ini, biasanya malah sering kami jadikan target operasi wajib.

Entah mengapa, waktu itu kami merasa mendapatkan kepuasan tersendiri saat bisa mencuri buah-buahan di pekarangan rumah Panca Arga. Kami merasa seperti pahlawan yang berani menghadapi tirani. Persis Kaya Si Pitung yang berani mencuri harta para tuan tanah dan kompeni. Bedanya, kalau pitung harta curiannya emas perhiasan dan dibagikan ke rakyat miskin, sedangkan kalau kami harta curiannya berupa buah dan dimakan sendiri.

Selain itu, ndak tahu kenapa, buah hasil curian itu kok terasa sangat nikmat. Mungkin karena efek usaha dan perjuangan dalam mendapatkannya. Makanya kalau sampeyan kebetulan beli buah-buahan di Supermarket dan rasanya enak, maka bisa jadi itu hasil nyolong lho sodara-sodara, *ndiasmu gus, (Apa Mungkin itu sebabnya mengapa pacar hasil menelikung teman sendiri kadang rasanya sedap dan nikmat?).

Dalam melancarkan setiap aksi, kami senantiasa berhati-hati. Kami ingin melakukan pencurian yang sebersih mungkin. Kami main rapi. Bahkan kadang ada semacam pembagian tugas. Ada yang bagian memanjat, bagian menangkap buah, dan bagian mengawasi, semuanya seakan sudah terencana dengan sangat terorganisir serta sesuai dengan SOP yang berlaku. Kami jarang sekali tertangkap basah, lagipula kalau tertangkap basah, paling yang punya buah hanya mengomeli kami tanpa memberikan hukuman yang berarti. Mungkin hal itulah yang membuat kami semakin kesetanan.

Tapi jelas, tak selamanya aksi-aksi kami berjalan mulus. Pernah suatu kali teman kami tertangkap basah sedang mencuri kelapa muda di wilayah perumahan Panca Arga. Maka sekonyong-konyong dia dibawa ke kantor Panca Arga dan langsung diinterogasi. Karena masih kecil, biasanya tersangka akan langsung dilepaskan setelah sebelumnya diberikan nasihat atau sedikit hukuman.

Karena teman kami waktu itu tertangkap basah sedang mencuri kelapa muda, maka hukumannya disuruh mengupas kelapa muda dengan menggunakan gigi, persis seperti adegan atraksi kuda lumping. Dan kawan kami pun menyerah hanya dalam tiga gigitan, petugas yang tak tega kemudian langsung melepaskannya, dengan sedikit ancaman tentunya.

Beruntung, saya sama sekali belum pernah tertangkap basah mencuri kelapa muda seperti kawan saya itu. Yah, walaupun sebenarnya mengupas kelapa dengan gigi bukanlah hal yang terlalu sulit bagi gigi saya yang agak over size ini. Entah saya harus bersyukur atau menyesal akan hal ini.

Hhh, sungguh, sebuah pengalaman masa kecil yang begitu indah dan sangat menyenangkan.

Kalau anak jaman sekarang? Lah, boro-boro bergerilya mencuri jambu atau mangga, manjat pohon saja mungkin banyak yang ndak bisa. Padahal kalau disuruh main Ninja Fruit, skillnya luar biasa dewa.

Ahh, jaman memang luar biasa berubah.

Kini sudah belasan tahun berlalu, dan saya sudah tak lagi menjalani "profesi" masa kecil itu lagi. Kini saya sudah bisa membedakan, mana yang salah dan mana yang salah banget. Sudah sejak lama saya sadar, bahwa Mencuri adalah perbuatan tercela dan merugikan orang lain.

Kalau sekarang, Penginnya sih ndak mencuri buah, tapi mencuri hatimu yang nampak ranum menggantung di dahan asmara itu dek... #Tsaaahh



*Kampung Seneng adalah nama Dusun di Desa Banyurojo, Mertoyudan, Magelang.




Buku Agus Mulyadi

25 comments :

  1. Cilik'anmu bandel yo mas Agus? Kurang lebih sama dengan saya, wkwkwkwk :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. ketoke hampir setiap masa kecil anak desa yo kurang lebih ngono kuwi kas...

      Delete
  2. Hahahha, kelingan kancaku nyolong tebu nang nggembung trus bmx e disita...bapak e sing kon njupuk nang ktr komplek...

    ReplyDelete
    Replies
    1. untung ra dikon ngonceki BMX'e nggo cangkem kas..

      Delete
  3. setuju, buah hasil maling luih enak rasane,,,,nek duit korupsi jangan2 yo luih enak gus?aahaha

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ha nek kuwi njajal takon pak Akil Mohtar kono.. wkwkwk

      Delete
  4. podo gus ndik cilik aku yo rung gagas pacaran karo duit, paling sing diangen-angen mung krungokne sandiworo saur sepuh karo sandiworo Trinil sing di mainke Theater Polaris Magelang, Rung lahir kwe mesti........

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wah, nek kui wis jatah'e cah lawas bos...

      Delete
  5. Haha, sama aja yah, masa kecil itu, aku bahkan pernah sampai mencuri burung merpati. *menyedihkan

    ReplyDelete
  6. kok padha wae yo kelakuane cah cilik neng ngendi-endi

    ReplyDelete
  7. jaman cilikku ra tau nyolong, ning nek njaluk woh2an kok ra entuk, uwite tak tegor... beres!

    ReplyDelete
  8. Aku iki mantan warga Panca Arga mulai 1979-1988, wis mulai biyen tradisi nyolong jambu, pelem, opomaneh tebu iku dilakoni warga sekitar perumahan...plus warga perumahan PA dewe ugo nglakoni...termasuk aku...hehe...umurku saiki 42 tahun. Isih koyo biyen wae....

    ReplyDelete
  9. ncen tenanan nek buah colongan kui uenake ngalahke swargo... opo meneh nyolong njuk dibengoki sing duwe omah, njuk mak brabat nyrunthul ra mengo kiwo nengen....

    tapi ngesuke meneh dibaleni nyolonge, malah nyengojo ben konangan sing duwe sisan...

    mangkane bocah" biyen podo sehat", wes pakanane buah, njuk sambi olah raga mlayu"... ra koyo bocah" saiki sing ngertine mung dulat-dulit ipet ro hape....

    ReplyDelete
  10. Tulisannya ringan tapi keren. Enak lah...mungkin seenak buah2an curiannya...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hayoo...ngapain disini??? Ayo pulang...ngayab terus...

      Delete
  11. Kebun tebu sisih wetan panca arga kae iseh po ora yo? mbiyen konangan mandor, kon ngentekne tebu sik wis diopek haha,,,,

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hahahaha, iseh, saiki malah aman, soale bocah saiki do ra kober le nyolong

      Delete
  12. Dadi kangen Panca Arga..

    ReplyDelete
  13. hahaha...sama gus, bedanya kalo saya dulu nyolongnya singkong di sawah belakang rumah.. :))

    ReplyDelete
  14. Jiann.. Aku mbiyen cilikane yo seneng melu2 nyolong tebu mas, tapi ga ning sawah, tapi nglorodi ning truk pengangkut tebu hahaha

    ReplyDelete
  15. Aku nunggu tulisan berikutnya yang berjudul "Konangan nyolong buah di Panca Arga".

    ReplyDelete
  16. "Kalau sekarang, Penginnya sih ndak mencuri buah, tapi mencuri hatimu yang nampak ranum menggantung di dahan asmara itu dek." - Lembut dan dalam gus.. mantaap. hahaa

    ReplyDelete
  17. Sing ono tanda bintang ngisor dhewe kuwi kudune Desa Banyurojo, Mertoyudan, KABUPATEN Magelang Gus. Ojo gawe gerakan separatis dhewe kowe.

    ReplyDelete
  18. Cerita copas:
    Kakek: dulu waktu kakek masih kecil, bawa uang seratus rupiah aja udah dapet banyak di warung terdekat
    Cucu: kok bisa kek? Sekarang bagaimana?
    Kakek: sekarang mah cctv dimana-mana
    Cucu: ????

    ReplyDelete
  19. Dadi kelingan mongso cilik dekbien aku yo sok nyolong salak, timon, karo pelem gon kebone tonggoku. yo ngono kui mas rasane enak tenan bedo karo gone dewe. untong ra nganti ke cekel wektu kui...

    ReplyDelete

Tentang Saya

Saya Agus Mulyadi, biasa dipanggil Gus Mul (bukan lulusan pesantren seperti Gus Dur, Gus Muh, maupun Gus Mus. Gus Mul hanya akronim dari nama saya). Blogger dan Freelance Layouter. Kini berusia 24 tahun. Aktif di Karang Taruna dan Komunitas Blogger Magelang Pendekar Tidar. Profil lebih lengkap, Lihat Disini

Tambahkan saya di Google+

 
Copyright © 2010 Agus Mulyadi Blog , All rights reserved
Design by DZignine . Powered by Blogger