Pertemuan dengan Editor Bentang Pustaka

| Tuesday, 3 June 2014 |

Menjadi penulis bukanlah cita-cita saya. Sedari kecil, saya memang punya sederet cita-cita, karena bagi saya, cita-cita adalah sesuatu yang bisa digonta-ganti sesuka hati. Tergantung sikon. Namun dari sekian banyak list cita-cita yang pernah saya patri, Penulis sama sekali tak masuk dalam hitungan.

Saya pernah bercita-cita menjadi ahli sejarah, pernah bercita-cita menjadi politisi, pernah bercita-cita menjadi petani, pernah bercita-cita menjadi pengusaha, bahkan pernah juga bercita-cita menjadi Brama Kumbara. Dan sekali lagi, sama sekali tak pernah terfikirkan untuk menjadi seorang penulis.

Perjalanan hiduplah yang pada akhirnya mengantarkan saya untuk menjadi seorang penulis. Yah, walaupun masih tingkat ecek-ecek.

Berawal dari sebuah kasus edit foto bareng artis, nama saya kemudian sempat meroket karena cerita insiden tersebut dimuat di berbagai portal berita ternama, bahkan sempat masuk di Merdeka.com dan Yahoo Indonesia. Dari situlah kemudian mulai banyak yang mengunjungi blog saya.

Lonjakan pengunjung di blog saya membengkak hebat, sempat tembus sampai 100 ribu pageviews dalam satu hari, padahal di hari biasa, paling mentok hanya 500 pageviews. Sebuah pencapaian yang sangat luar biasa menurut saya.

Banyak diantara mereka yang kemudian menyukai tulisan-tulisan saya di blog ini. Blog yang mulai saya bangun pada bulan mei 2013 ini pun akhirnya ikut melonjak namanya.



Artikel demi artikel yang saya buat alhamdulillah selalu mendapatkan respon yang cukup baik dari para pembaca, bahkan ada beberapa pembaca yang menyarankan saya untuk membukukan tulisan-tulisan saya. Waktu itu saya belum terlalu ngeh, maklum saja, Kecuali buku nikah, saya rasanya tak pernah punya orientasi khusus untuk membuat sebuah buku.

Tentu bukan tanpa alasan, karena setahu saya (sebagai orang awam), membuat buku adalah hal yang sangat sulit. Kita harus menulis naskah, mengirimkannya ke berbagai penerbit (yang entah itu dibaca atau tidak oleh penerbitnya), menunggu lama untuk mendapatkan kepastian diterima atau tidaknya naskah kita, proses revisi (kalau memang diterima), dan sederet usaha susah-payah lainnya.

Kalau mau jujur, blogger pun sebenarnya sudah termasuk kategori penulis, namun mungkin sudah menjadi hukum khalayak bahwasanya belum sah seorang penulis kalau tulisannya belum naik cetak dalam bentuk buku.

Pada akhirnya, kesempatan menjadi penulis pun datang menghampiri saya.

Adalah Bentang Pustaka, salah satu penerbit major asal Jogja yang kemudian menawari saya untuk membuat buku. Tawaran itu datang melalui email, dikirim langsung oleh editornya, Mbak Baiq Nadia Yunarthi, seorang editor perempuan yang belakangan baru saya tahu adalah seorang editor yang sangat gahol dan fangkeh, serta punya selera fashion yang cukup mumpuni :)

Tawaran kerjasama untuk membuat buku ini jelas tidak saya sia-siakan seperti saya menyia-nyiakan Briptu Eka. Saya sungguh beruntung, saya tak perlu bersusah-payah mengirimkan naskah ke banyak penerbit, karena sudah ada yang menawari. Nasib baik benar-benar sedang menaungi saya waktu itu.

Setelah terjadi tawar menawar singkat via email, akhirnya, pihak Bentang mengajak saya untuk bertemu langsung, mungkin komunikasi sekadar lewat email dianggap sebagai komunikasi semu. Mosok mau bikin buku kok komunikasinya LDR-an terus. Akhirnya janji untuk bertemu pun akhirnya dibuat.

Sebenarnya sih saya mau saja kalau harus disuruh ke Jogja, asal ongkos transportnya dibayari, hehehe. Eh ternyata malah orang Bentang-nya ngajak ketemu di Magelang. Hayo maknyus, bisa ngirit ongkos kalau gitu.

Mbak Nadia mengajak bertemu di Artos (Armada Town Square), ajakan yang langsung saya tolak mentah-mentah, maklum, saya ini paling anti sama Mall atau supermarket. Saya paling ngeri dan merasa wagu kalau harus masuk ke tempat ramai dengan penerangan lampu lebih dari 100 watt. Saya merasa minder, Soalnya ndak ada tampang borjuis sama sekali pada raut wajah saya. Jangankan kok mall, lha wong masuk Alfamart saja saya sering lepas sendal saking mindernya (oke skip, ini terlalu berlebihan).

Akhirnya saya mengajak bertemu di Voor de Tidar, sebuah warung makan bergaya kuno yang berlokasi di dekat Bukit Tidar. Dan Mbak Nadia pun setuju.

Tiba di hari yang sudah disepakati, Mbak Nadia pun akhirnya meluncur ke Magelang. Mbak Nadia datang bersama dua kawan sesama orang Bentang, Yang pertama adalah Mas Imam Risdiyanto, seorang pria paruh baya yang dikenal sebagai editor Laskar Pelangi, dan yang satu lagi adalah Mbak Avicenna Nindya, Orang Bentang yang punya jobdesk menemani penulis berkeliling promosi buku (Mau dong mbak saya ditemani #tsahhh).

Rombongan Bentang ini rupanya terlalu rajin, mereka sudah sampai di Depan warung makan Voor de Tidar, padahal saya masih di rumah, sedang mandi.

Saat masih asyik bergumul dengan gayung mandi, tiba-tiba saya dikagetkan dengan dering ponsel saya. Nampaknya telfon dari Mbak Nadia, katanya pertemuannya harus dipindah tempat, karena rupanya warung makan Voor de Tidar sedang tutup.

Pertemuan kami yang semula dijadwalkan di Voor de Tidar ini pun akhirnya gagal, maka jadilah Mbak Nadia kembali menawarkan alternatif tempat lain. Pilihan venue pun akhirnya jatuh di IniBaru, sebuah resto steak yang lokasinya tak terlalu jauh dari warung makan Voor de Tidar.

Saya pun mau tak mau mengiyakan, walaupun dalam hati saya tetap kurang setuju. Alasanya karena saya jarang makan steak (eh, malah ndak pernah sama sekali ding).

Saya baru berangkat dari rumah setelah kru bentang sampai di Resto IniBaru. Dari rumah saya mengendarai sepeda onthel, maklum lah, jarak rumah saya dengan resto IniBaru memang tak terlalu jauh, jadi daripada naik angkot, lebih baik naik sepeda, kan bisa ngirit dua ribu. Yah, setidaknya tidak naik naga Indosiar lah.



Sesampainya di Resto IniBaru, saya langsung menyapa kru Bentang Bentang yang sudah lebih dulu sampai (eh, saya lupa, saya yang nyapa duluan apa saya yang disapa ya?).

Tanpa basa-basi, Mas Imam langsung menyodori saya daftar menu makanan yang bisa dipesan, Mungkin beliau segera tahu bahwa dari bentuk mulut saya, saya adalah tipe pemakan yang agresif.

Saya bingung setengah mati, nama-nama menu makanannya barat semua, satu yang paling saya tahu hanya French fries (dan alhamdulillah saya tahu bahwa itu artinya kentang goreng, bukan Prancis goreng), sisanya blank alias nol puthul. Kalau saja ada menu rendang di resto tersebut, mungkin sudah langsung saya sawut.

Untung saja menu minumannya tak sebarat menu makanannya. Sudah banyak yang saya kenal, ada Es Jeruk, Susu coklat, Aneka Jus, dan sederet minuman populer konvensional lainnya.

Saya bisa dengan mudah memilih minuman, tapi tidak dengan menu makanan. Menu-menu makanan yang terlalu kulon ini sukses membuat remaja jelata seperti saya ini kebingungan.

Mengetahui saya begitu kebingungan memilih menu, mbak Nadia kemudian menyarankan saya untuk mencoba menu Steak terderloin. Ah, menu yang terdengar sangat hedonis dan flamboyan. Kelihatannya sangat asing dengan perut pribumi saya.

Pada akhirnya, saya hanya bisa manut saja, karena apapun saran dari wanita, biasanya itu adalah saran yang paling tepat. Bukankah Wanita selalu (sok) benar?. Saya hanya bisa berharap, semoga Si Terderloin ini rasanya sefantastis namanya.

Setelah saya memesan, barulah Mas Imam, Mbak Avicenna, dan Mbak Nadia memesan menu pilihan masing-masing. Agaknya mereka ingin terlebih dahulu mengetes tingkat selera makanan saya, atau mungkin, tingkat kemanutan saya.

"Kita ngobrolin bukunya sambil makan saja ya Gus!" kata mbak Nadia mencoba mengawali pembicaraan seputar pembuatan buku.

"Nggih mbak!" jawab saya singkat, walau saya sendiri masih beranggapan, bahwa ngobrol sambil makan itu hukumnya Ora Ilok.

Sembari menunggu pesanan makanan datang, kami ngobrol basa-basi seputar blog saya, tentang kasus edit foto saya, juga tentang kegiatan saya sehari-hari. Tak lupa juga, saya diberi tiga buku terbitan Bentang Pustaka, katanya sih untuk referensi penulisan.



Tak sampai sepuluh menit menunggu, makanan yang dipesan pun akhirnya datang. Saya dan mbak Avicenna pesan steak, sedangkan Mbak Nadia dan Mas Imam seingat saya hanya memesan Kentang Goreng, kemungkinannya dua, antara tidak doyan steak, atau memang sedang ingin ngirit.

Disinilah saya mulai bingung dan grogi setengah mati. Bayangkan, biasanya untuk urusan perdagingan, saya selalu makan dengan cara ksatria, alias tangan kosong. Lah kali ini skenario berkata lain. Saya harus makan dengan bantuan garpu dan pisau (sungguh, ini alat bantu yang sangat tidak membantu). Saya benar-benar kagok makan dengan garpu dan pisau.

Saya mencoba sebisanya, separlente-parlentenya. Nampak beberapa karyawan resto memperhatikan saya. Keringat agak dingin perlahan mulai turun. Sayapun mencoba meminta tanggapan tentang cara makan saya pada mas Imam.

"Mas, ini cara makan saya sudah bener tho?", tanya saya dengan sedikit berbisik.

Dan ternyata justru dijawab dengan jawaban yang senewen, "Ya asal kamu makannya masih pake mulut, Insha Alloh tidak ada yang salah!", jawab Mas Imam sambil tersenyum dengan senyuman yang dimanis-maniskan. Bajilak setan alas...

Untung saja, kekagokan itu tak berlangsung terlalu lama. Saya mulai bisa beradaptasi dengan steak tersebut. Beberapa kali trial and error rupanya membuat saya cukup terlatih dan luwes menggunakan garpu dan pisau.

Dan alhamdulillah, rasa si Steak terderloin itu cukup lezat. Yah, minimal cocok lah dengan reputasi namanya yang sangat wah. Dagingnya lembut, empuk, sausnya campuran antara manis gurih dan pedas. Jika parameter penilaian rasanya antara 1 sampai 10, maka saya tak segan memberinya nilai 8 (nilai 10 masih tetap dipegang oleh sayur kulit melinjo buatan emak saya).

Sambil menyantap hidangan, kami berempat membicarakan tentang teknis kerjasama penulisan buku antara saya dan Bentang Pustaka. Tentang kontrak, naskah, serta hal-ihwal lainnya terkait kepenulisan.

Obrolan pun akhirnya selesai seiring dengan habisnya makanan di depan kami. Obrolan setengah jam itu membuahkan beberapa kesepakatan tentang kerjasama pembuatan buku antara saya dan bentang Pustaka.

Setelah dinilai cukup, Kami pun kemudian bersiap untuk berkemas.

Dan seperti biasa, sebelum meninggalkan medan laga, saya berlagak merogoh kocek biar dikira mau membayar makanan saya, padahal dalam hati saya berharap sekali untuk dibayari.

Ulam pun tiba, begitu Mbak Nadia melihat saya merogoh saku, diapun langsung menyela: "Mas Agus, kita aja yang bayar mas, wong kita yang ngajak kok!".

Alhamdulillah, Mbak Nadia termasuk perempuan yang responsif.

"Nggak usah mbak, saya bayar sendiri aja mbak!", Kata saya memaksa, padahal dalam hati, saya berkata: "Yo silahkan saja mbak kalau mau dibayari, kan lumayan, saya jadi ngirit!".

Saya terus memaksa untuk membayar makanan saya sendiri, Saya sadar, Ibarat jurus layang-layang, ini adalah salah satu diplomasi menjaga harga diri yang paling tokcer.

Tarik ulur pun terjadi, setelah beberapa kali adu debat, akhirnya saya mengalah, "ya sudah mbak kalau memang mau dibayari, matursuwun!", kata saya pasrah penuh kemenangan. Yah, setidaknya kru Bentang tahu, bahwa saya bukanlah pria gampangan.

Setelah pertemuan tersebut. Giliran saya yang beberapa kali mampir ke Kantor Bentang di Jogja untuk membicarakan masalah progress buku saya.

Kini, sudah hampir setengah tahun berlalu sejak pertemuan saya pertama kali dengan editor Bentang di Resto IniBaru.

Proses penulisan buku saya pun kini sudah rampung. Tinggal menunggu proses pemilihan Cover. Doakan semoga bisa segera terbit dalam waktu dekat ini.


NB: Artikel ini terinspirasi dari Tulisan Kevin Anggara. Kevin adalah blogger sekaligus penulis buku Student Guidebook for Dummies. Dalam salah satu postingan di blog-nya, ia menuliskan kisah pengalamannya bertemu dengan editor Bukune, penerbit yang menerbitkan buku Student Guidebook for Dummies.




Buku Agus Mulyadi

34 comments :

  1. lha mbok ketemu saya.
    saya juga editor lho mas. Editor buku materi Matematika kelas V SD.
    hihihihi...
    ^_^

    *bukune bedane karo materi sing neng blog opo mas?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wah... kalo memang jodoh, kelak kita pasti akan bertemu kok dik... hehe....

      Delete
  2. waduh.... aku wajib tuku bukumu gus.... :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Matursuwun mas... dongake semoga cepet metu, dan siap edar di toko bangunan dan material terdekat, hehe

      Delete
  3. Huaaa mas Agus dah makan steak, aku belum jeeew, padahal pingin banget. Selamat ya Mas, untuk bukunya...dapat lemparan buku perdana Mas Agus yooo...heheee

    ReplyDelete
    Replies
    1. walah, berarti saya sudah lebih parlente dong dari panjenengan.. tak lempar majalah trubus wae piye?

      Delete
  4. duh! marakke ndang pengen baca bukumu Gus :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Teko sabar... Jarene Semua akan indah pada waktunya.... wkwkwk

      Delete
  5. Hahahaha, Gus Gus, aku ra mungkin ra ngguyu ben moco postinganmu :))) Selamat buat buku perdananya. Semoga sukses di pasaran, aku pasti tuku :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Matursuwun mas... pokoke tak tunggu tukumu... hehehe....

      Delete
  6. Ning kudu ono potomu lho gus neng covere.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Siap... Insha Alloh fotoku bakal nampang ng cover'e... Kandhani og

      Delete
  7. Replies
    1. Siap kang.... Dongake ben cepet terbit...

      Delete
  8. tak tunggu tandatanganmu gus.

    ReplyDelete
  9. masuk list daftar buku yg akan di beli mas. terus update ning blog mu yo mas, tentang informasi bukumu tekan ndi proses produksine.

    ReplyDelete
    Replies
    1. nggih, matursuwun mas.. Insya Alloh kalau sudah terbit di toko, bakal saya kabarkan lewat blog ini..

      Delete
  10. Mas Agus, aku jelas kepingin moco bukumu. Orasah, aku tak tumbas dewe wae, rasah repot-repot Mas... Tenan, orasah! *ngrogoh2sak*

    ReplyDelete
    Replies
    1. lambemu kas.... wkwkwkw... tapi matursuwun sudah punya keinginan untuk membaca bukuku...

      Delete
  11. lha pertemuan kita tidak menginspirasimu utk menuliskannya kok an...."dadi melu ngrogoh sak"

    ReplyDelete
    Replies
    1. wah mas, ndilalah wis entek momen'e

      Delete
  12. keren mas, wes parlente saiki :D
    kudu tuku bukumu ben apal pancasila mas :D

    ReplyDelete
  13. Ditunggu terbit dan foto bersamanya sesuai janjimu, Kang, sik tak bingungi siji, kok iso yo mangkat ketemuan numpak pit onthel dewean, lha kok iso diabadikan dalam bentuk foto? #AjaibTenan hahahhahah Good luck ^_^

    ReplyDelete
    Replies
    1. wah, kowe jan jos tenan.. pinter nganalisa.... karang kuwi foto lawas...

      Delete
  14. Selamat yo kang. Aku usul umpomo launching buku perdana-mu dibarengke undangan rabimu cocok pora ???

    ReplyDelete
  15. Siap beli pokok e Gus nek bukumu wes beredar

    ReplyDelete
  16. Wah mas Agus jadi penulis :D

    ReplyDelete
  17. rencana dijual di gramed ato gng agung?

    ReplyDelete
  18. critane podo karo aku mas, editor sing kontak aku sik...ngajak ketemuan neng resto larang, alhamdulillah wes dadi buku loro...sayang saiki penerbite ganti aliran, dadi penerbit buku fashion muslimah...aku gak iso nulis neng penerbit kui meneh (mosok lanang tatoan ngene nulis buku fesyen)

    ReplyDelete

Tentang Saya

Saya Agus Mulyadi, biasa dipanggil Gus Mul (bukan lulusan pesantren seperti Gus Dur, Gus Muh, maupun Gus Mus. Gus Mul hanya akronim dari nama saya). Blogger dan Freelance Layouter. Kini berusia 24 tahun. Aktif di Karang Taruna dan Komunitas Blogger Magelang Pendekar Tidar. Profil lebih lengkap, Lihat Disini

Tambahkan saya di Google+

 
Copyright © 2010 Agus Mulyadi Blog , All rights reserved
Design by DZignine . Powered by Blogger