Pembalasan kuku jempol kaki

| Wednesday, 13 August 2014 |

Boleh percaya boleh tidak, saya tak mempunyai kuku jempol kaki sebelah kiri. Kuku jempol saya berhenti tumbuh sejak saya kecil.



Dulu, saya pernah tersandung potongan dahan kayu tajam, saking kerasnya sandungan saya waktu itu, kuku jempol kaki saya sampai njeplak separoh. Perih sekali, Saya menangis sejadi-jadinya. Bukan soal cengeng, tapi percayalah, seorang SBY pun kalau berada dalam posisi saya di usia yang sama, beliau pasti akan menangis sejadi-jadinya juga seperti saya, bahkan mungkin lebih keras.

Di rumah, Emak saya kaget setengah mati, emak juga nampak sangat cemas, begitu melihat banyak sekali darah yang keluar dari sela kuku jempol kaki saya. Emak saya kemudian membasuh kaki saya dengan air hangat, rasa perih di sela kuku jempol terasa semakin pilu.

Setelah kering, sakit di bagian kulit bawah kuku saya hilang, namun rasa sakit itu akan muncul lagi tiap kali ujung kuku saya yang njeplak setengah itu mengenai sesuatu. Saya perlu waktu ekstra untuk memakai kaus kaki.

Emak saya kemudian punya gagasan gila untuk menghilangkan rasa sakit tersebut, gagasan yang terlalu spartan, sangat Barbar: "Copot saja kukumu seluruhnya, daripada cuma njeplak setengah seperti itu!". Mungkin emak saya terlalu perfeksionis, beliau agaknya tak pernah rela melihat sesuatu yang setengah-setengah.

"Tapi nanti sakit mak!", kata saya setengah pasrah

"yo sakit tapi kan cuma sekali, setelah itu ndak lagi, daripada kukumu sakit terus tiap kali kena sesuatu, mending mana? lagipula, nanti kalau sudah dicabut seluruhnya, toh nanti bakalan tumbuh lagi!"

"Bener, mak, bakal tumbuh lagi?"

"Iya, nanti tumbuh lagi!", jawab emak penuh kepastian.

Saya akhirnya menuruti ide barbar emak, kuku jempol yang terlanjur njeplak itu dicopot seluruhnya oleh emak, sakitnya begitu luar biasa, tapi begitu dicopot lalu dibersihkan lukanya. Sakitnya pun hilang. Lega rasanya, setidaknya kini, saya bisa memakai kaus kaki dengan cepat.



Tidak adanya kuku di jempol kaki saya itu kemudian sering menjadi bahan ejekan kawan-kawan saya. Maklum lah, namanya juga anak kecil, belum tahu apa itu simpati.

"walah gus, kukumu diamputasi ya?", ledek salah satu kawan saya sambil terkekeh.

Saking seringnya saya diledek karena ketiadaan kuku jempol ini, saya sampai kebal dengan setiap ledekan yang meluncur.

Waktu pun berlalu, saya dengan setia menunggu kuku jempol saya tumbuh, saya terus menunggu dan menunggu, menunggu sampai kuku jempol saya tumbuh, seperti yang emak katakan. Dan nyatanya, sampai sekarang, kuku itu belum juga tumbuh (See? bahkan emak saya sendiri tega mem-PHP saya).

Saya pernah menyalahkan emak saya atas tidak tumbuhnya kuku jempol saya ini, dan tahu apa jawaban emak saya waktu itu?

"Justru bagus tho gus, kamu ndak perlu motong kuku, dan juga, besok kalau kamu hilang, bakalan mudah carinya, soalnya punya ciri-ciri fisik yang lain daripada yang lain!".

Agaknya memang saya harus merelakan kuku jempol saya. Anggap saja karya seni. Mutilasi tingkat mikro.

Kemarin sore, kawan sekaligus tetangga dekat saya, Sastro, berkunjung ke rumah. Sastro ini kawan saya sejak kecil. Dia dulu adalah salah satu kawan yang getol meledek saya karena kuku jempol kaki saya.

Dia cerita tentang musibah yang dialaminya di tempat kerja. Kakinya kejatuhan loker besi. Dan tahu apa yang terjadi dengan kakinya? Darah di jempol kakinya menggumpal dan membuatnya terpaksa mencongkel kukunya.

Saya pun prihatin, namun sedikit geli juga, soalnya sekarang, saya punya kesempatan untuk meledek dia perihal kuku jempolnya.

"Tro, Copotnya kukumu itu adalah bukti, bahwa pembalasan, cepat atau lambat, pasti akan datang, sungguhpun perlu menunggu, belasan tahun lamanya!", kata saya sambil tertawa kecil meledek jempol si Sastro yang kini sudah plontos tak berkuku. "Ingat lho tro, jempol kaki seperti itu, biasanya kukunya tak mau tumbuh lagi, dia kapok karena telah disia-siakan!", lanjut saya.

"Ndiasmu!", kata si sastro kecut.

Saya pun tertawa bahagia, bagai senopati, yang pulang dari medan perang membawa kemenangan. Oh, ternyata keadilan masih tegak di bumi ini. Hehehe




Buku Agus Mulyadi

34 comments :

  1. Replies
    1. Lengo klentik wae mo.... sing ngirit

      Delete
  2. postingan ini berisi konten berbahaya, waspada bau jempol kakinya seorang agus.... hoek!

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wah, jangan salah mas, jempol saya baunya semerbak segar...

      Delete
  3. kuku jentik sikilku yo nyoplok. podo, gara2 kesandung. tapi njedul maneh ki kukune.

    ReplyDelete
    Replies
    1. wah, berarti pancen mung kukuku sing ra gelem tukul...

      Delete
  4. Gile..itu ngilu banget pas bayangin cabut kukunya.. Tp ga apa mas Agus seenggaknya ud dpt pelajaran hidup yg berarti, bahwa lebih baik rasa perih memilukan di kuku kaki daripada di hati. Betul?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bener mbak, sakit di kuku, bekasnya ndak terasa, kalau sakit di hati, bekasnya senantiasa membekas lara... wkwkwk

      Delete
  5. Sastro, adalah satu dari sekian banyak orang yang kembali membuktikan bahwa:

    "Hukum karma pasti berlaku." :)))))

    ReplyDelete
    Replies
    1. kapan sampeyan berminat jadi salah satu pembukti hukum karma kas? wkwk

      Delete
  6. Dua sejoli kui...rabi wae wis pantes kui..jiakkkakakka

    ReplyDelete
  7. Lha kok sama tho Gus. Nek aku jempol kaki sebelah kanan yang tertimpa pohon pagar sewaktu kelas satu smp. Kukunya tumbuh lagi tapi gak semulus kuku jempol kaki sebelah kiri.

    ReplyDelete
    Replies
    1. santai kang, nek ra mulus yo gari dioles handbody tho.... wkwkwk

      Delete
  8. Dan si jempol merasakan akan Merdeka dari segala aturan, kekangan juga kekuasaan dari pemotong kuku.

    ReplyDelete
  9. haha, pembalasan, tetapi setidaknya sekarang sudah punya teman yg sama2 tidak punya kuku jempol kaki

    ReplyDelete
    Replies
    1. Tapi tunggu dulu, siapa tahu, setelah ini kuku teman saya tumbuh.... saya sendirian lagi dong..

      Delete
  10. Replies
    1. wah, hidup saya ini sudahpenuh dengan kepalsuan, tak mau diriku menambahnya dengan kepalsuan yang lain... :)

      Delete
  11. waah ini agus yang terkenal itu kah,, foto jempol nya gak diedit sob biar keren dikit

    ReplyDelete
  12. RA TRIMO SIRAH AE SENG GUNDOL, BAKNE JEMPOLMU YO GUNDUL TO LEK.

    ReplyDelete
    Replies
    1. nek sampeyan opone sing gundul? jodhone? hehehe

      Delete
  13. Replies
    1. maafkan aku atas kengiluanmu yo mbak... hehe

      Delete
  14. Lah? Terus kuku jempol tangannya kenapa? *salah fokus maksimal*

    ReplyDelete
  15. Aku yo tau coplok kuku, tapi yo jebul tukul maneh. Mungkin sampean kurang beruntung. Lek ora ngunu brarti kuku jempol sampean loro ati jalaran sampean tatap tatapke. Salam kenal mas Agus :)

    ReplyDelete
  16. asem, ndelok gambar-gambar jempol pas lagi ngemil :))
    untung ora metu meneh camilanku >_<

    ReplyDelete
  17. Pengalaman yang sama umur 6th Kuku jempol kaki kiri jeplak ,
    gara-gara belajar sepeda dikejar anjing(Pancen ASU....!!!!) jatoh kuku jempol ilang, ditambah lagi diinjek pake teklek sama tetangga....
    Tapi Alhamdulillah punya saya tetep mau tumbuh meski gak "PERFECT"

    - Salam Cah MAGELANG

    ReplyDelete
  18. This comment has been removed by a blog administrator.

    ReplyDelete
  19. Wah, mas Agus. harusnya jangan dicabut. Kuku jempol kakiku pernah njeplak copot dua kali mas (1. njeplak keno/kesaruk standar samping motor, 2. njeplak pas aku numpak motor, nabrak mobil mandeg pinggir dalan, bengi2, pas aku mlengo noleh ning tengen kesuwen). Alhamdulillah pulih mas. normal. soale ora tak cabut.

    ReplyDelete
  20. Kuku jempolku yo pesok, terlalu banyak nendang bola wkwkwk

    ReplyDelete

Tentang Saya

Saya Agus Mulyadi, biasa dipanggil Gus Mul (bukan lulusan pesantren seperti Gus Dur, Gus Muh, maupun Gus Mus. Gus Mul hanya akronim dari nama saya). Blogger dan Freelance Layouter. Kini berusia 24 tahun. Aktif di Karang Taruna dan Komunitas Blogger Magelang Pendekar Tidar. Profil lebih lengkap, Lihat Disini

Tambahkan saya di Google+

 
Copyright © 2010 Agus Mulyadi Blog , All rights reserved
Design by DZignine . Powered by Blogger