Diskusi Novel Sang Patriot dan aksi teatrikal Rantai Kentjana

| Thursday, 25 September 2014 |

Bisa dibilang, Novel berjudul Sang Patriot ini adalah salah satu novel autobiografi perjuangan terbaik yang terbit tahun ini. Novel yang ditulis oleh Irma Devita ini menceritakan tentang perjuangan seorang tokoh pejuang kemerdekaan dari Tanah jember bernama Letkol Moch Sroedji, yang notabene adalah kakek sang Penulis.

Pertama kali saya tahu novel ini dari postingan Pakdhe Cholik, kawan sesama blogger yang ndilalah sama-sama aktif di komunitas Warung Blogger.

Bagi saya, Novel Sang Patriot adalah novel yang sangat menarik, karena tak melulu menceritakan tentang kisah perang, namun juga menceritakan kisah asmara nan romantis dan mengharukan, sehingga nuansa asmara khas novel kekinian anak muda tetap terjaga.


Tak sia-sia beli buku ini, isinya benar-benar bikin mbrebes mili

Magelang beruntung karena menjadi salah satu dari sekian kota persinggahan bagi sang Penulis untuk membedah bukunya.

Adalah Komunitas Magelang Kembali, bekerja sama dengan SMP Negeri 1 Magelang, yang menggelar acara Diskusi Novel Sang Patriot hari minggu kemarin tanggal 21 September 2014 dengan mendatangkan langsung sang penulis, Mbak Irma Devita sebagai pembicara.


Mameth Hidayat (anggota Magelang kembali) dan Irma Devita

Komunitas Magelang kembali sendiri adalah Komunitas Sejarah yang rutin menyelenggarakan kegiatan kesejarahan dan berusaha membangkitkan semangat patriotisme lewat berbagai aksi teatrikal perjuangan zaman penjajahan dengan setting kota Magelang pada khususnya dan Indonesia pada umumnya. Dalam setiap aksi teatrikalnya, Komunitas ini selalu mengenakan replika pakaian jaman dulu, sesuai dengan setting kisah perjuangan yang diperankan. Hampir sama dengan Cosplay, bedanya, replika kostum yang dipakai bukanlah kostum tokoh anime, melainkan kostum tentara pejuang di zaman penjajahan.

Saya termasuk manusia Magelang yang beruntung, karena bisa ikut menghadiri acara diskusi novel ini. Maklum, event langka ini tentu sangat sayang untuk dilewatkan, karena selain diskusi buku, event ini juga dimeriahkan oleh pertunjukan teatrikal Rantai Kentjana 1945.


Saya Bersama mas Ake Ru dan mas Arief dari Komunitas Kota Toea Magelang

Pertunjukan tatrikal"Rantai Kentjana 1945" ini akan diperankan oleh Komunitas Magelang kembali, bekerjasama dengan Komunitas Djokjakarta 1945, Roodebrug Soerabaia, dan Semarang Historical Reenactment, serta dibantu oleh para siswa SMP Negeri 1 Magelang.

Pertunjukan teatrikal ini menceritakan tentang kisah pertempuran antara pejuang Indonesia melawan tentara Jepang di masa pasca Kemerdekaan.

Saat pertunjukan teatrikal dimulai, Halaman upacara SMP Negeri 1 Magelang seketika berubah menjadi medan tempur tempat berlangsungnya perang sengit antara pejuang Indonesia melawan tentara Jepang. Asap buatan dan suara ledakan dari petasan serta teriakan-teriakan heroik dari para pejuang pemeran teatrikal semakin menambah keseruan pertunjukkan.

Berikut ini adalah beberapa cuplikan adegan pertunjukkan Teatrikal "Rantai Kentjana 1945"


Mbak perawat, aku kena tembak, obati aku mbak, obati aku!! Sakitnya tuh disini


Menyerbu Pasukan Jepang, hancurkan Hentai beserta akar-akarnya #hehe


Acting terbaik dan paling natural: Pura-pura mati


semangat juang tetap tinggi meski satu per satu pejuang berguguran


Aksi Cak gepeng dari Roodebrug Soerabaia, Auuuuuuuu

Aksi teatrikal ini berlangsung sekitar setengah jam, dan cukup menyedot banyak sekali pewarta untuk meliput. para prajurit yang ikut berperang pun mendadak menjadi selebritis dadakan karena diburu oleh para hadirin yang ingin mengabadikan foto bersama mereka.


Berfoto Bersama Mas Bagus Priyana, Prajurit yang nyambi jadi Gubernur Komunitas Kota Toea Magelang

Tak hanya para hadirin, bahkan para prajurit yang berperang pun ikut narsis berpose mengabadikan foto mereka.


Tentara PETA dan Prajurit Jepang, duh seneng deh kalau kalian akur begini, kenapa ndak dari dulu sih akurnya?

Setelah pertunjukan teatrikal usai, dan sesi foto-foto berakhir, seluruh peserta diskusi novel dipersilahkan untuk memasuki aula SMP Negeri 1 Magelang untuk mengikuti acara diskusi novel.

Aula SMP Negeri 1 Magelang seakan berubah menjadi seperti barak prajurit, betapa tidak, karena selain para peserta bedah novel, aula ini juga menjadi tempat berkumpulnya para prajurit dari Komunitas Magelang kembali, Komunitas Djokjakarta 1945, Roodebrug Soerabaia, dan Semarang Historical Reenactment.


Para prajurit, perwakilan dari empat Komunitas

Sebelum acara diskusi buku dimulai, para peserta diskusi dihibur dengan aksi paduan suara SMP Negeri 1 Magelang dan diputarkan video teaser tentang kisah singkat Tokoh utama Novel Sang Patriot, yaitu Letkol Sroedji.


Aksi paduan suara dari siswa-siswi SMP N 1 Magelang, (eh, mbak-mbak berjilbab hitam yang di pojok itu namanya siapa ya? #Tsaaaah)


Nonton bareng di layar tancap, benar-benar nostalgia masa lalu

Selain Mbak Irma Devita, ada juga mas Rifkhi Sulaksmono dari Komunitas Magelang Kembali yang ikut menjadi pemateri dalam acara bedah Novel ini.

Diskusi novel dibuka dengan penjelasan sang penulis tentang alasan dan motivasi mengapa ia menulis novel ini. Menurutnya, semangat patriotism anak-anak bangsa sekarang ini semakin luntur, di sisi lain, penuturan kisah perjuangan dari para saksi dan pelaku perjuangan pun semakin minim, hal inilah yang membuat Mbak Irma Devita selaku penulis tergugah untuk ikut serta dalam usaha membangkitkan kembali semangat patriotisme di kalangan para pemuda. Salah satu cara yang menurutnya tepat adalah dengan menulis kisah-kisah perjuangan para Pahlawan.


Mbak Irma Devita, menceritakan ihwal bagaimana ia bisa menulis "Sang Patriot"

Bukan perkara yang mudah bagi seorang Irma Devita untuk membuat Novel ini. Karena secara riwayat, Irma Devita bukanlah seorang penulis fiksi, ia adalah seorang praktisi hukum. Ia terbiasa menulis buku-buku seputar hukum bisnis, kenotariatan, dan pertanahan. Novel Sang Patriot ini menurutnya adalah buku pertama yang ia tulis dengan gaya fiksi. Sebelumnya ia sudah menulis tujuh buku, namun seluruhnya adalah buku literatur hukum.

Mbak Irma Devita menceritakan bagaimana perjuangan dia dalam membuat novel ini. Menurutnya, novel Sang Patriot ini bukan novel biasa, karena walaupun genrenya fiksi, namun kisah yang ada di dalam Novel Sang Patriot ini sejatinya adalah kisah nyata. Sang penulis bahkan sampai berkeliling di beberapa kota untuk mengumpulkan riset dan data, bahkan bertanya langsung kepada para saksi hidup yang ndilalah pernah berhubungan dengan Letkol Sroedji.


Kamu... Iya kamuuuu

Kisah perjuangan Letkol Sroedji diceritakan dengan sedemikian runtut dan menarik oleh Mbak Irma Devita.

Di sela-sela penuturan kisah Letkol Sroedji oleh Irma Devita, diselipkan pula materi dan pengetahuan sejarah oleh Rifkhi Sulaksmono, yang membuat acara diskusi buku menjadi semakin menarik dan informatif.


Rifkhi Sulaksmono sedang memaparkan materi tentang perang Gerilya

Seluruh peserta nampak sangat antusias mengikuti acara diskusi novel ini. Apalagi Mbak Irma Devita menyediakan banyak sekali doorprize untuk para peserta diskusi yang mampu menjawab pertanyaan yang ia ajukan. Tak pelak, di akhir sesi diskusi, para peserta berebutan menjawab pertanyaan yang diajukan oleh Mbak Irma Devita.

Hadiah berupa buku, jam tangan, serta kaos Sang Patriot pun ludes dan sukses menjadi oleh-oleh bagi beberapa peserta diskusi.

Acara diskusi berakhir sekitar jam 1 siang.

Dan seperti layaknya acara diskusi buku pada umumnya, di akhir acara, para peserta berebutan untuk berfoto dan meminta tanda tangan sang penulis. Tak hanya para peserta, para prajurit pun ikut gas-gasan mengejar sang penulis untuk diminta foto bersama. Duh, yang sabar ya Mbak Irma, Prajurit memang suka kaya gitu.


Para pejuang bersama mbak Irma Devita, tak ada studio, Dapur umum pun jadi

Ah, sungguh sebuah event yang sangat berkesan. Semoga tahun depan event yang menarik ini bisa kembali dihelat.


Sumber foto: Dokumentasi Pribadi, Candra Yoga Pratama, dan Ake Ru




Buku Agus Mulyadi

9 comments :

  1. Walah, kuwi sing kon pura-pura mati jan penak tenan, le latihan ekting mesti ora susah....

    ReplyDelete
    Replies
    1. hahaha... haiyo, lha wong garek nggletak...

      Delete
  2. Kirain yang akting terbaik dan natural diatas sampean mas.. :p

    ReplyDelete
    Replies
    1. wah, ndilalah saya ndak kebagian peran je mbakyu.... ekting saya kurang meyakinkan

      Delete
    2. Padahal mukamu itu dah pribumi banget lho Gus. *tenin

      Delete
  3. Wah menarik nih buku, masuk list.
    Aksi teatrikal itu mengingatkan swaktu smp dulu...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hambok monggo dibeli mas, dijamin ndak nyesel.... worth it untuk dibeli mas...

      Delete
  4. sing berjilbab ireng genah mbak irma devita kecil gitu og, bandingke ro MMT mburine kwi hehe...

    ReplyDelete
  5. Lho kok Sampean mung dadi penontone tok Mas Gus??

    ReplyDelete

Tentang Saya

Saya Agus Mulyadi, biasa dipanggil Gus Mul (bukan lulusan pesantren seperti Gus Dur, Gus Muh, maupun Gus Mus. Gus Mul hanya akronim dari nama saya). Blogger dan Freelance Layouter. Kini berusia 24 tahun. Aktif di Karang Taruna dan Komunitas Blogger Magelang Pendekar Tidar. Profil lebih lengkap, Lihat Disini

Tambahkan saya di Google+

 
Copyright © 2010 Agus Mulyadi Blog , All rights reserved
Design by DZignine . Powered by Blogger