Karena Garing Selalu Punya Alasan

| Tuesday, 9 June 2015 |

Beberapa waktu yang lalu, saya diundang sebagai pembicara di acara talkshow yang diselenggarakan oleh forum diskusi kampus di salah satu Universitas di Yogyakarta. Saya diminta untuk membawakan materi tentang sesuatu yang sebenarnya saya kurang menguasai.

Saya sih maklum, soalnya saya sadar, saya memang biasa diundang bukan karena faktor derajat keilmuan, melainkan karena saya dianggap lucu.

Ini wajar, karena dalam sebuah talkshow, selama pembicaranya lucu, audien biasanya akan tetap khusyuk mengikuti talkshow, seburuk apapun materi yang disampaikan.

Mungkin saya memang sudah dikenal sebagai pembicara yang goblok, tapi rodo lucu (yang di jaman sekarang semakin susah dicari, hehehe).

Padahal saya sendiri sih sebenarnya merasa ndak lucu-lucu amat (kalau elegan sih iya). Kalaupun di blog saya ini ndilalah banyak postingan lucu, itu sebenarnya yang lucu temen-temen dan keluarga saya (yang kisahnya saya tulis di blog).

Tapi tak apa lah, sudah kadung ini.

Maka, sebagai pembicara yang diharapkan "kelucuannya" (bukan keilmuannya), pas talkshow, saya pun berusaha membawakan materi dengan se-jenaka mungkin dan penuh semangat (terlebih setelah tahu ternyata audien-nya cantik-cantik). Saya bahkan sengaja banyak menggunakan bahasa jawa untuk menambah nuansa kejenakaan lokal. Harapannya satu, agar audien setidaknya bisa mudeng sedikit materi yang saya sampaikan, dan tetap terhibur dengan guyon yang saya bawakan.

Beberapa kali saya menyisipkan cerita tentang kawan-kawan saya yang saya anggap lucu.

Namun ternyata, krik-krik. Banyak audien yang terdiam, tak banyak yang tertawa.

Saja jadi salah tingkah dan penuh tanya. "Perasaan, saya sudah mencoba membawakan materi dengan sense of humor yang cukup berkelas, tapi kok sedikit ya yang tertawa?"

Batin saya mulai berkecamuk. Apakah saya salah dalam membawakan materi? atau memang humor yang saya bawakan materinya cukup jayus? Ah, perasaan ndak deh. Soalnya beberapa materi humor yang saya bawakan, pernah saya bawakan juga acara talkshow saya yang lain, dan hasilnya audien tertawa tergelak.

Apa yang salah ya? Saya kok merasa jadi garing begini.

Kondisi yang penuh kegaringan ini pun kemudian membuat tenggorokan saya kering. Dan saya pun meminta air pada panitia.

"Mbak, aku njaluk wedange yo, ngelak je, cangkemku garing iki!"

Si mbak Panitia pun hanya mengerutkan dahinya dengan wajah penuh tanya. Saya mencoba menebak, apa yang terjadi, dan sekelebat, saya baru menyadari, si mbak panitia ternyata ndak mudeng bahasa Jawa.

Bagai disambar geledek, saya kemudian tersadar pada sesuatu yang lain.

"Disini siapa yang bisa bahasa Jawa?" tanya saya pada audien.

Dan dari sekitar 50 audien, Tak sampai 10 orang yang mengangkat tangan.

Semprul...

Kini terjawab sudah pertanyaan saya. Pantes saja ndak ada yang tertawa dengan materi saya, lha jebul banyak yang ndak bisa bahasa jawa.

Cuuuk, Tiwas cangkemku ngasi mumpluk le ngomong je. Trembelane...

Agaknya Sun Tzu memang benar, bahwa senjata terbaik dalam sebuah perang adalah "pemahaman yang mendalam tentang musuh"




Buku Agus Mulyadi

37 comments :

  1. Replies
    1. lha gek numpang ngising we oleh kok... hahaha

      Delete
    2. Moh, ndak akeh seng nonton haaaa

      Delete
    3. ngguyu karo ngising kuwi butuh diguyang,,,,,

      Delete
    4. lahdalah....jorok amat. cebok kagak tu ?????

      Delete
  2. Replies
    1. wah, ojo, engko malah menggeliat koyo cacing

      Delete
    2. setubuh atau bahasa tubuh ???

      Delete
  3. hehehehe keluar bahasanya cuk..... semangat Gus Mul !!!!

    ReplyDelete
  4. Kalo saya yang jadi audien, Mas Agus baru satu langkah menginjak panggung saja saya udah ketawa....
    #iki dudu nglegani lho, serius...hahaha

    * salam kenal Mas Agus

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hehe, sayangnya tidak semua audien saya seperti mbak, hehehe

      Delete
  5. Replies
    1. Hahahaha, polos, padakke CIU wae...

      Delete
  6. Saya termasuk yang ga bisa bahasa jawa nih. Padahal muka saya udah kejawa-jawaan. :-/

    ReplyDelete
    Replies
    1. welha, lha sampeyan ini orang mana tho aslinya mbakyu?

      Delete
  7. Hahahaha ngelek aku kang...ra ono sing nandingi

    ReplyDelete
  8. Jhahaha..., jebul banyak yang nggak bisa bahasa Jawa. Jadi garing, tapi ceritanya nggak garing kok.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hahahaha, ndilalah.. makanya sekarang kalau ada event, saya pilih-pilih dulu audiennya... hehehe

      Delete
  9. Ra popo mas artis meniti karir yo ngunu kui

    ReplyDelete
  10. Sing penting wes ono usaha mas, meskipun audien mu ora paham opo sing kok omongne. Sek, tak ngekek dilut ae. Hahahaha...

    ReplyDelete
  11. Hahahaha ngelek aku kang...ra ono sing nandingi

    ReplyDelete
  12. Replies
    1. Bagiku, lucunya Mas Agus ini ndak biasa, postingannya selalu mengikuti perkembangan berita dengan bahasa sendiri

      Delete
  13. Owalah pancen koe gue, jawane kentel koyo anunr. Hee

    ReplyDelete
  14. podo karo "wes macak gak sido berangkat karnaval" cek melas men awakmu gus

    ReplyDelete
  15. wkwkwkwkwkwk. ora popo mas. sing uwis yo uwis

    ReplyDelete
    Replies
    1. buat pelajaran nanti jika diundang lagi.

      Delete
  16. Di jogja tidak bisa bahasa jawa , ini yang sekolah orang jogja atau orang luar jawa ???

    ReplyDelete
    Replies
    1. di kalimantan juga banyak org jawa yg gak bisa bahasa dayak atau banjar.. pdhal sdh bertahun2 hidup disana... jadi biasa aja toh... : )

      Delete
    2. lebih aneh lagi justru orang lokal yang tidak mau kuliah di kotanya, hayo gimana ini ? :)

      Delete
  17. Apa sampeyan gak tanya dulu ke panitia audiensnya berapa prosen wong jawa? Jadi sebelum tampil kan udah tau komposisi materinya apa harus banyak bahasa jawa apa gak. Yo wis kejadian gimana lagi tho... Lain kali kudu pelajari audien mas yo.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ndilalah ndak mas, lha saya kira banyak yg bisa bahasa jawa je...

      Delete
  18. Atau bintang tamunya pendidikannya lebih tinggi sehingga tidak bisa bahasa nasional :)

    ReplyDelete
  19. "Cuuuk, Tiwas cangkemku ngasi mumpluk le ngomong je. Trembelane..."
    Dyar cocote! Hahaahaha... (guyon kang)

    ReplyDelete

Tentang Saya

Saya Agus Mulyadi, biasa dipanggil Gus Mul (bukan lulusan pesantren seperti Gus Dur, Gus Muh, maupun Gus Mus. Gus Mul hanya akronim dari nama saya). Blogger dan Freelance Layouter. Kini berusia 24 tahun. Aktif di Karang Taruna dan Komunitas Blogger Magelang Pendekar Tidar. Profil lebih lengkap, Lihat Disini

Tambahkan saya di Google+

 
Copyright © 2010 Agus Mulyadi Blog , All rights reserved
Design by DZignine . Powered by Blogger