Sekadar Cerita Kecelakaan

| Friday, 10 July 2015 |

Sekitar tahun 2012 yang lalu, saat saya masih bekerja di tabloid, saya punya rekan kerja yang parasnya aduhai manis. Yah, sebut saja namanya Melati. Kami satu kantor, tapi beda bagian, saya jadi tukang layout, sedangkan dia bagian pemasaran merangkap humas.

Setiap masuk kerja, si Melati ini harus naik angkot dari rumah dan turun di depan gerbang perumahan tempat kantor kami berada (Kebetulan, kantor kami berada di dalam kompleks perumahan). Nah, dari gerbang Perumahan sampai ke kantor, jaraknya lumayan jauh kalau harus ditempuh dengan berjalan kaki. Maka, jadilah saya yang hampir setiap hari menjemput si Melati dengan motor dari gerbang perumahan sampai ke kantor (kebetulan, saya adalah satu-satunya karyawan yang tidur di kantor, sehingga saya bisa standby kapan saja). Begitupun kalau mau pulang, saya juga yang harus mengantarkan si Melati dari kantor sampai ke gerbang perumahan

Tentu untuk mengantarkan Melati dari gerbang ke kantor tak terlalu memakan waktu yang lama, mentok cuma 10 menit, tapi momen-momen singkat yang hanya sepuluh menitan sewaktu saya memboncengkan si Melati ini selalu saya resapi dan nikmati betul, maklum, di momen singkat itulah setidaknya saya bisa merasakan sensasi punya pacar. Lagipula, itu juga bisa jadi latihan yang bagus, jadi nanti kalau sudah punya pacar beneran, setidaknya saya sudah tidak kagok lagi kalau harus mboncengin sang pacar.

Suatu ketika, Ibu Melati datang berkunjung ke kantor, mungkin ingin melihat bagaimana suasana tempat kerja anak kesayangannya. Kebetulan, Keluarga Melati masih punya hubungan saudara dengan Pemred tabloid kami, sehingga kunjungan Ibu Melati ke Kantor sekaligus juga sebagai ajang silaturahmi.

Setelah puas "memonitor" lingkungan kerja anak kesayangannya, si Ibu akhirnya pulang, Tapi Pak Pemred rupanya tak tega kalau Ibu Melati harus jalan dari kantor sampai ke depan gerbang perumahan. Maka, diutuslah saya untuk mengantar si Ibu.

Sebagai pria yang baik dan flamboyan, tentu saya tak bisa menolak tugas mulia ini.

Maka tanpa banyak pikir, saya pun langsung menerima permintaan Pak pemred untuk mengantarkan Ibu Melati.

Biasanya mboncengin anaknya, sekarang mboncengin ibunya. Tak apa lah, saya anggap ini sebagai manuver yang bagus untuk sebuah proses infiltrasi. Ya siapa tahu tho, kalau bisa mengambil hati ibunya, barangkali hati anaknya pun bisa ikut terbawa, hehehe.

Motor inventaris kantor pun saya starter. “Monggo bu, naik, anggap saja menantu sendiri,” (hehehe, oke, ini lebay). Setelah saya memastikan Ibu Melati sudah ikut terangkut, tanpa banyak birokrasi, motor langsung saya tancap.

Namun ternyata sial bagi saya. Baru sekitar dua puluh meter motor melaju, Tiba-tiba... "Braaaaak", motor yang kami naiki terpeleset hebat karena melewati tikungan dengan jalan yang agak berpasir. Saya terpelanting ke depan, sedangkan Ibu Melati jatuh terpental ke samping dengan posisi tubuh yang sangat tidak menggembirakan. Saya hanya luka lecet dan sedikit pusing karena benturan di kepala yang tak terlalu keras, Sedangkan Ibu Melati agaknya menderita luka yang cukup parah, kepalanya berdarah. Saya takut setengah mati.

Orang-orang di sekitar perumahan yang melihat kecelakaan yang menimpa kami langsung berhamburan menolong.

Kami berdua kemudian diperiksakan. Dan untunglah, luka di kepala Ibu Melati hanyalah luka luar. Tak ada cerita gegar otak dan semacamnya.

Dan beruntung lagi, Kecelakaan tragis ini rupanya tak mengubah sikap Melati pada saya di tempat kerja. Ia tetap ramah menyapa saya, kendatipun saya adalah pria eksotis yang pernah sempat membuat celaka ibunya.

Namun sejak kejadian itu, Melati tak mau lagi saya boncengkan. Ia lebih memilih jalan kaki ketimbang harus membonceng saya. Alasannya trauma, takut kejadian yang menimpa ibunya kelak akan menimpa dirinya juga.

“Keledai tak akan jatuh dua kali dalam lubang yang sama,” bujuk saya kepada Melati agar ia mau saya boncengkan kembali.

“Iya, kalau keledai sih aku percaya, tapi kalau Agus Mulyadi, aku ragu,” jawabnya setengah bercanda.

Ahh, Saya kalah argumen, saya pun akhirnya memang hanya bisa pasrah, wanita memang tak bisa dipaksa.

Kabur sudah pacar virtual saya.

Tiga tahun berlalu. Saya sudah tidak bekerja di Tabloid tersebut, saya juga sudah melupakan peristiwa kecelakaan itu.

Hingga pada sore hari tadi, Tuhan kembali memberikan nostalgia yang aduhai bernas untuk saya. Saya diberikan kesempatan untuk merasakan kembali rasanya kecelakaan motor, ini adalah kecelakaan yang kedua kalinya sepanjang saya menjalani karir sebagai seorang pemotor.

Kali ini, saya ditabrak dari belakang oleh pemotor lain dalam perjalanan pulang dari Jogja ke Magelang. Saya sempat terjatuh dari motor, nyungsrup, walau tak terlalu jauh, namun itu sudah lebih dari cukup untuk memberikan saya beberapa luka lecet dan luka dalam.

Dan tebak, siapa yang jadi penumpang motor yang menabrak saya tersebut? Ya, Ibu-ibu setengah baya. Dan sialnya, luka si ibu agaknya jauh lebih parah ketimbang saya, karena saat saya dekati, si Ibu meringis penuh kesakitan sambil memegang tangannya.

Kini saya paham satu hal, bahwa dalam urusan berlalu lintas, chemistri saya kurang moncer kalau berhubungan dengan ibu-ibu setengah baya.

Mungkin itu pula sebabnya, mengapa saya tak kunjung punya pacar: karena saya terlalu mengkhawatirkan keselamatan calon ibu mertua saya.

Magelang, 10 Juli 2015
Ditulis dalam keadaan boyok yang luar biasa sakit




Buku Agus Mulyadi

31 comments :

  1. Semoga cepat sembuh Mas Agus. Lagi-lagi komentar yang menyenangkan. Sebenarnya ibu-ibu cuma spik-spik aja Mas Agus, padahal mah kode pengen kenalan. Dalam istilah Trio Warkop, Nyanyian Kode, hihihi... Saking pengen kenalannya, dia bela belain jatuh dan lecet pun tak apa, demi seorang Agus...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Matursuwun mas.. Hahaha, seperti biasa, komenmu selalu ngayem-ayemi mas Hendra,

      Delete
  2. coba niatnya diganti Gus. Niat "saya ingin punya pacar" diganti "saya ingin punya istri" Insya Allah, secepatnya jodohmu datang.Percayalah. Ingat Gus, segala sesuatu dimulai dari niat.

    ReplyDelete
  3. Replies
    1. hahaha, kolo-kolo typo mas, ben tetep diarani menungso

      Delete
  4. Niatnya dirubah dulu Mas Agus, siapa tau besuk bisa bonceng Melati lagi, eh.. boncengin pake motor maksudnya

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wah, semua sudah berlalu terlalu jauh, hahaha

      Delete
  5. Cepet sembuh mas agus, sepertinya chemistry sama wanita setengah baya kita memiliki masalah yg sama, bedanya saya sudah menikah sedangkan mas Agus terlalu pemilih (saya rasa)..hehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. Matursuwun mas Grenada atas doanya... saya bukannya pemilih mas, cuma agak selektif, hahaha

      Delete
  6. Replies
    1. wooo, saya terlalu flamboyan untuk jadi bronsong, haha

      Delete
  7. cepat sembuh mas agus..
    salam manis sesama jomblo..hahaaa

    ReplyDelete
    Replies
    1. Matursuwun pandongane saudaraku...

      Delete
  8. Melu prihatin gus, mugi enggal d paringin waras koyo wingi uni.....aamiin.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aamiin, alhamdulillah saiki wis sehat meneh

      Delete
  9. Gws..
    Saya mlh lbh parah Karir Roda duanya.
    Sejak resmi jd pemotor pd 2009 - skrg, total ad 6x accident.
    Keep waspada selalu.

    Salam Safety Riding. Cegah, Asah, Berdoa

    ReplyDelete
    Replies
    1. satu kali lagi dapet mangkok mas, hehehe

      Delete
  10. Ndang sembuh ya mas Agus, sembuh jomblone. :v

    ReplyDelete
  11. lagi selo yo wes baca2 blog e mas agus..
    ternyata terkisima saat membaca awal2 e wkkwkwk
    tapi ujung2 kok ra enak :( melu sedih ki aku mas..
    moga2 ono seng luweh apik seng mbok taksir mas..
    amin..
    kancamu mek iso do'a ke hahaha

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aamiin, alhamdulillah, saiki wis mari

      Delete
  12. Mugo gek ndang mari yo mas artis. :(

    ReplyDelete
  13. Wow, cerita gagal jadi menanti ini xi xi xi...
    Sial memang bisa datang meskipun dalam keadaan yang bahagia... sedih juga ya...

    ReplyDelete
  14. Cepet sembuh mas agus, sepertinya chemistry sama wanita setengah baya kita memiliki masalah yg sama, bedanya saya sudah menikah sedangkan mas Agus terlalu pemilih

    Agen Sbobet | blackjack | Agen Bola | Game Poker | judi poker | Poker Dewa

    ReplyDelete
  15. photonya pake 360 mas, biar tambah ganteng.
    tapi bagus ko ceritanya..:D

    ReplyDelete
  16. This is great, you are good, i like your post and i still waiting our next post!
    Cerita hot baru: Horny ditempat umum

    ReplyDelete

Tentang Saya

Saya Agus Mulyadi, biasa dipanggil Gus Mul (bukan lulusan pesantren seperti Gus Dur, Gus Muh, maupun Gus Mus. Gus Mul hanya akronim dari nama saya). Blogger dan Freelance Layouter. Kini berusia 24 tahun. Aktif di Karang Taruna dan Komunitas Blogger Magelang Pendekar Tidar. Profil lebih lengkap, Lihat Disini

Tambahkan saya di Google+

 
Copyright © 2010 Agus Mulyadi Blog , All rights reserved
Design by DZignine . Powered by Blogger