Panganan Tradisional Lebaran khas Magelangan

| Tuesday, 21 July 2015 |

Lebaran memang sudah berlalu, tapi agaknya, sayang rasanya kalau saya tidak menulis barang selarik dua larik perihal lebaran. Nah, makanya, di postingan kali ini, saya akan mencoba menulis sedikit tentang panganan yang biasa disajikan saat lebaran untuk menjamu para tamu.



Tapi tentu saya tidak akan membahas tentang Astor, orson, wafer, biskuit, ataupun nastar, soalnya sangat tidak elok dan tidak inlander, juga terlalu kapitalis. Saya hanya akan membahas beberapa panganan ringan khas tradisional yang jamak disajikan di rumah-rumah sebagai hidangan lebaran, khususnya di daerah Magelang dan seputaran Kedu (Temanggung, Wonosobo, Purworejo, Kebumen, dan sekitarnya), daerah tempat tinggal saya.

Nah, apa sajakah? Ini dia beberapa kudapan pilih tanding yang mungkin beberapa diantaranya anda sudah kenal dengannya.

Jipang

Jipang

Walau namanya mirip dengan negara yang ke-hentai-hentai-an, namun percayalah, panganan yang satu ini sama sekali tak punya hubungan kekerabatan dengan sushi, ramen, ataupun onigiri. Jipang terbuat dari beras ketan, teksturnya renyah, rasanya manis, namun masih kalah manis kalau dibandingkan sama Raisa atau Nia Daniati.

Keripik Tempe

Keripik tempe

Agaknya, orang Magelangan paham benar, bahwa makanan ringan tak melulu diposisikan sebagai pelepas rasa, lebih dari itu, makanan ringan juga mempunyai hak untuk memenuhi kodratnya sebagai suplemen asupan gizi. Karenanya, jangan heran jika keripik tempe menjadi salah satu menu kudapan andalan orang-orang Magelang. Tentu kita semua tahu, bahwa selain mengandung banyak protein, tempe juga mengandung vitamin B kompleks, mineral kalsium, juga zat besi, sehingga sangat bagus untuk kesehatan. Eh, saya kok mendadak jadi sok biologi gini ya.

Klici

Klici

Panganan mungil yang terbuat dari tepung terigu. Salah satu panganan yang sengaja diciptakan untuk mengetahui tingkat ketangguhan gigi seseorang. Panganan ini sangat digemari, karena selain ngirit dan cocok untuk ngemil, panganan ini juga sangat gembol-able.

Kerupuk Gendar

Kerupuk gendar

Dengan mengusung konsep "Reduce, Reuse, Recycle" atau prinsip daur ulang, kerupuk ini tampil sebagai salah satu panganan yang ramah lingkungan. Betapa tidak, kerupuk gurih ini biasanya dibuat dari nasi yang sudah basi (walau ada juga yang biasa membuatnya dari nasi yang masih baru). Caranya, si nasi diberi garam bleng, kemudian dikenyalkan, lalu diiris-iris tipis, dijemur, kemudian digoreng. Karenanya, tak salah bila krupuk ini sering disebut sebagai perwujudan Nasi goreng dalam bentuk yang paling paripurna.

Semprong

Semprong

Jauh sebelum chocolatos dan fullo merajai dunia makanan teropong, Panganan bernama Semprong ini sudah lebih dulu menancapkan tonggak eksistensinya di bumi nusantara ini.

Tape Ketan

Tape Ketan Magelang

Hasil fermentasi beras ketan, rasanya sungguh-sungguh nikmat dan menggugah selera, jika dimakan dalam porsi berlebih, akan menghasilkan efek mabuk ringan. Sebagai warga Magelang, Sungguh sangat durhaka kalau saya sampai tidak menyertakan panganan yang satu ini.

Unthuk-unthuk Cacing

Unthuk unthuk cacing

Begitu mendengar kata cacing, yang terlintas di pikiran sampeyan tentu adalah binatang mungil yang geli dan menjijikkan. namun jikalau kata cacing diberi awalan unthuk-unthuk, maka segala kejijikan dan kegelian itu bakal sirna seketika dan berganti dengan kelezatan dan citarasa tinggi. Terbuat dari adonan tepung ketan, unthuk-unthuk cacing ini menjanjikan rasa yang manis-gurih, lagi renyah. Dinamakan unthuk-unthuk cacing karena memang bentuknya yang persis seperti Cacing yang sedang berkumpul dan berserikat.

Untir-untir

untir-untir

Bahannya terbuat dari tepung terigu, pembuatan adonannya hampir sama dengan klici, Namun secara wujud, Untir-untir ini jauh lebih ngilmiah, karena untir-untir adalah satu-satunya panganan yang dibuat dengan mengikuti konsep bentuk rantai ganda DNA.

Itulah beberapa sajian panganan yang jamak disajikan di rumah saat momen-momen lebaran untuk menyambut tamu di daerah Magelangan. Sebenarnya masih ada banyak, diantaranya ada Sinapon, Satu, Geblek, Ongko Wolu, Lenteng, dan masih banyak lagi. Namun karena keterbatasan gambar, jadi tak mungkin bakal saya cantumkan semuanya.

Nah, pembaca sekalian, adakah diantaranya pembaca yang menyediakan salah satu panganan di atas di meja rumah anda?




Buku Agus Mulyadi

46 comments :

  1. wah mas agus.. nek klici ki bahane ki seko tepung ketan lho mas.. :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wah, matursuwun koreksinya mas... mungkin daerah kita beda, soalnya di daerah saya, hampir semua ibu-ibu kalau buat klici, pakainya tepung terigu... lha kalau buat unthuk-unthuk cacing, baru pakai tepung ketan...

      Delete
    2. owh ngoten to mas.. :D
      bedo ternyata.. salam kenal mas agus..
      orang tua saya asli magelang (sawangan), tapi pas saya lahir udah tinggal dan menetap di kebumen mas.. hehe
      kapan2 kulo angsal nunut ngopi nggeh mas nek pas teng magelang..hehe

      Delete
    3. welha, hayo jelas, boleh sekali... jangkan kopi, orson pun saya kasih

      Delete
  2. waahhh.. nikmatnya.. jadi kangen pingin lebaran lagi.. :p

    ReplyDelete
    Replies
    1. Nunggu Tahun depan mas, hehehe, atu kalau ndak sabar nunggu setahun, nunggu lebaran haji juga boleh

      Delete
  3. Neng tempatku wis jarang sing nyuguhi panganan koyo kuwi Mas. Minimal nastar lah. Pancene era kekinian menyingkirkan makanan2 tradisionil.

    ReplyDelete
    Replies
    1. kahanan jaman, yang modern bakal mengikis tradisional

      Delete
  4. Kerupuk gendar bahasa kerennya kerupuk nasi..hihi. Btw, khongguan isi rempeyek gak dimasukin juga gus?

    ReplyDelete
    Replies
    1. ada juga yang nyebut "Nasi Goreng praktis"... hahaha

      Delete
  5. Bleng ki podo karo boraks lho bro. gak baik untuk kesehatan :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. hoo... tapi wis jamak, jadi seakan-akan jadi lumrah

      Delete
  6. wihh..penjelasannya lengkap. fotonya juga sip!
    salam kenal dari Lombok ^_^

    ReplyDelete
    Replies
    1. Salam kenal mbakyu.... salam hangat dari Magelang

      Delete
  7. aku paling seneng kerupuk gendar gus. Perlu kamu tahu.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hahaha, nek aku ra patio seneng, tapi lumayan lah nek dinggo lawuh madang campur jangan tahu, hehehe

      Delete
  8. Jadi pengen... ma kue asli jowo....
    Makasih atas tulisane ya bro... jd hilang stress, spaneng lih kerjo... xixixi...
    Kutunggu karya tulisan berikutnya.... lanjut!!!!

    ReplyDelete
    Replies
    1. Matursuwun mas atas kunjungannya... semoga senantiasa ringan dan jarang spaneng, hehehe

      Delete
  9. Panganane enak kabeh kuwi! Saya suka semua terutama keripik tempenya.

    Minal aidin wal faidzin. Mohon maaf lahir batin, nggih Mas.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Nek aku seneng tape ketan'e, hehehe Sugeng riyadi mbak

      Delete
  10. kok sama ya Mas kaya didaerah Pekalongan

    sedap semua itu makananya Mas Gus . . .

    cocok dengan lidah orang Indonesia

    ReplyDelete
  11. Ahh lebaran di rumah eyang saya di daerah Secang selalu ada jipang, klici, gendar buatan eyang kakung dan tape ketan dimakan sama emping :D
    Salam dari pembaca baru anda di Eindhoven :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Di Eindhoven ndak ada emping ya mbak? hehehe, salam kenal mbak

      Delete
  12. Mas Agus tulisanya selalu renyah ^^. Serenyah kerupuk gendar...

    ReplyDelete
    Replies
    1. hahaha, matursuwun mbakyu atas apresiasinya

      Delete
  13. blm pernah nyobain Klici :D.. setelah lebaran ada yg jual ga ya mas

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sampeyan harus coba mas, minimal sekali seumur hidup, hehehe... Wah, kalau yg jual, kelihatannya jarang mas, soalnya biasanya, orang-orang pada pesen sama pembuatnya langsung

      Delete
  14. hihihihi ampyang gak onok tha mas?

    ReplyDelete
    Replies
    1. aduuuuh, ndilalah ra nduwe gambare je...

      Delete
  15. Unthuk yuyu wuenak pol masGus :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Unthuk yuyu ki sapane unthuk cacing? po masih satu makhluk namun beda nama? hehehe

      Delete
  16. sampeyan kok begitu terampil bahas makanan ringan. Multi talent yo? Angkat semua jempol di tubuhku untukmu, Gus! :D

    ReplyDelete
  17. Gus, niku foto- foto jajanan-nya di ambil di atas karpet (hijau) ya?

    Wah, rasane koq kurang gimana gitu ya...
    Mbok yao, niru foto2 kuliner lainnya yang memperlakukan jajanan “dengan sepantasnya” & tidak ditaruh di bawah (beralaskan karpet).

    Niki sekedar saran, loh...
    Ampun gawe larane ati...
    Suwun...

    ReplyDelete
  18. Tape bikinan bulikku paling jos se desa, rasane nyegrak menggoda :D

    ReplyDelete
  19. Kalo di tempatku, Klici itu disebutnya Biji Ketapang :9

    ReplyDelete
  20. Kui wes tau tak pangan kabeh.. Penak toh dadi wong deso, nggolek untir-untir ro tape ketan haaaa

    ReplyDelete
  21. Mas...pothel kok mboten wonten...... Malah penasaran dengan klinci...eh klici....kok kmrn ndak nemu yaaa... **padahal banyak sodara di area muntilan dan sekitarnya

    ReplyDelete
  22. kulo tiyang kebumen, klo jipang ya sama, klo untir sama juga, klo klici ditempatku namanya klathakan, mungkin pas giginya lepas bunyi klathak gitu yaa hehe. klo unthuk cacing sama juga, tapi kadang-kadang di sebut thuring. Gendar di kebumen ada tambahan Len-nya jadi legendar, mungkin karena makanan tersebut akan LEGEND, makasih sudah bikin kangen kampung halaman ya guss hehe

    ReplyDelete
  23. kripik tahu ora masuk to mas ?

    ReplyDelete
  24. Sampeyan lali karo sing tradisional asli Kabupaten Magelang Gus. Pothil...

    ReplyDelete
  25. gendar nggonku rambak mas,haha tapi podo ae rasane

    ReplyDelete
  26. tape ketane jos. marai mabuk cinta

    ReplyDelete
  27. klici sama Unthuk-unthuk Cacing saya belum pernah coba mas, mungkin cuma ada di daerah sana aja ya, di daerah saya (sunda) gak ada soalnya.. hehe

    ReplyDelete
  28. Wah, Jipang, jajanan masa kecil, jadi nostalgia, btw jipang sudah sampai ke kalimantan juga dulu, tapi sekarang sudah susah nyarinya.

    ReplyDelete
  29. semprong enak mas rasanya, beli nya dimana ya? toko oleh2?
    alat pemotong bawang

    ReplyDelete

Tentang Saya

Saya Agus Mulyadi, biasa dipanggil Gus Mul (bukan lulusan pesantren seperti Gus Dur, Gus Muh, maupun Gus Mus. Gus Mul hanya akronim dari nama saya). Blogger dan Freelance Layouter. Kini berusia 24 tahun. Aktif di Karang Taruna dan Komunitas Blogger Magelang Pendekar Tidar. Profil lebih lengkap, Lihat Disini

Tambahkan saya di Google+

 
Copyright © 2010 Agus Mulyadi Blog , All rights reserved
Design by DZignine . Powered by Blogger