Paijo, Kuncung, dan Maratama

| Saturday, 12 December 2015 |

Di perempatan Pakelan itu, Kuncung dan Paijo selalu sigap. Lha gimana ndak sigap, namanya juga pengamen bus, harus selalu bisa menselaraskan langkah kaki mengikuti laju bus yang senantiasa ritmis dan bergegas.

Perempatan Pakelan menjadi semacam posko bagi mereka. Perempatan Pakelan adalah salah satu perempatan yang strategis, karena menjadi salah satu nadi utama jalur transportasi Purworejo-Magelang-Semarang-Jogja.

Kuncung adalah seorang maestro kencrung, sedangkan Paijo adalah dewa ketipung. Klop sudah, mereka bagaikan dwitunggal dalam dunia perngamenan.


Sang Dwitunggal: Kuncung (kiri) dan Paijo (kanan)

Pagi itu, agaknya bakal menjadi pagi yang menjanjikan. Lalu lintas belum terlalu ramai, saat dari kejauhan, bus berwarna biru muda mulai terlihat merapat ke lampu merah perempatan Pakelan. Sebagai manusia oportunis, Kuncung tentu bersorak pelan, bersyukur akan kedatangan si mangsa.

“Maratama, jo!” ujar Kuncung menyebut salah satu nama bus, “Ayo, langsung sikat!” lanjutnya

“Wah, masih pagi cung, nanti saja lah, ngopi-ngopi dulu, rokokan dulu” sahut Paijo.

“He pekok, ini Maratama cuk, eman-eman kalau dilewatkan, sudah, cepet, siapkan ketipungnya!” Kata kuncung sembari menyiapkan gitar kencrungnya. “Jarang-jarang jo pagi-pagi begini sudah dapat Maratama!” imbuhnya.

Paijo pun terpaksa menuruti apa kata Kuncung, Lagipula, Paijo sebenarnya juga merasa sayang kalau harus melewatkan tarikan Bus Maratama ini. Maka, bergegaslah Paijo menyiapkan ketipung maut-nya.

Bus mendekat, dan berhenti tepat di lampu merah. Dengan sigap, Paijo dan Kuncung langsung naik. Dasar hari baik, rupanya kondisi bus sedang on-fire, alias penuh dengan penumpang.

Keduanya lantas segera mempersiapkan diri. Sepatah dua patah intermezzo (yang menjadi tanda sah formalitas pengamen) pun dilancarkan. Tak butuh waktu lama setelah intermezzo yang lirih dan hanya berisi perkenalan dan bla bla bla itu rampung, keduanya langsung memasang kuda-kuda dan segera memainkan aksi musikal mereka.

Kencrung langsung digenjreng tanpa perlu disetem dahulu, karena Kuncung sudah begitu yakin dengan bunyi kencrungnya yang begitu melodius. Paijo pun tak mau kalah, ketipungnya segera ditabuh mengikuti irama genjrengan kencrung si Kuncung, tentu dengan ketukan yang syahdu dan aduhai geboy.

Vokal pun dilantunkan. Dan alamak, indah nian keduanya berdendang.

Untuk bagian vokal, keduanya saling bergantian, namun untuk beberapa bagian, Kuncung terdengar lebih dominan, karena memang Kuncung lah yang lebih banyak hafal lirik tembang yang sedang dimainkan.

Para penumpang nampak begitu terhibur, beberapa ada yang menggoyangkan kepalanya, beberapa bahkan ada yang ikut bernyanyi mengikuti lirik tembang yang sedang didendangkan oleh dwitunggal kita.

Lima belas menit berlalu, dan tak terasa, tiga buah nomer sukses didendangkan: Mendem Kangen, Lungiting Asmoro, dan Layang Sworo.

Setelah keduanya selesai dengan tembang mereka, Kini saatnya bagi Paijo untuk mengambil peran yang lebih dominan: mengumpulkan "iuran" receh sukarela. Paijo mengambil bungkusan plastik dan mulai mengedarkannya dari kursi ujung depan sampai ujung bagian belakang. Sedangkan Kuncung masih tetap memainkan genjrengan kencrunganya sebagai suara latar.

Dasar untung tak dapat diraih, sial tak dapat ditolak. Dari depan sampai belakang, tercatat hanya tiga penumpang yang bersedia menyisihkan uangnya untuk aksi musikal Paijo dan Kuncung, itupun satu penumpang memberi seribu, dan dua penumpang lainnya masing-masing lima ratus. Total, hanya dua ribu perak uang yang Paijo dapatkan di dalam bungkusan plastiknya.

Paijo ngedumel, dan kemudian duduk di kursi deretan belakang sambil memberikan kode kepada Kuncung agar segera menyusulnya ke belakang.

“Cung, cuma tiga yang ngisi, dan dapatnya cuma dua ribu,” kata Paijo

“Weee! lha kok bisa?” tanya si Kuncung kaget

Hambuh ki, lha aku sendiri juga bingung je”

Mereka berdua heran, bagaimana mungkin dari sekian banyak penumpang Bus Maratama, hanya ada tiga penumpang yang bersedia mengisi kantong perjuangan mereka. Padahal selama ini, kalau beroperasi di Bus Maratama, satu kali tarikan, mereka berdua bisa dapat banyak, seapes-apesnya ya bisa lima ribu, maklum, Maratama adalah bus trayek Magelang-Purworejo yang dikenal cukup ramah pengamen alias ngamen-able, banyak penumpang yang biasanya sudah menyiapkan uang kecil khusus untuk para pengamen.

“Ini Maratama edisi kere jo” Kuncung ngedumel pelan, “Wis, turun wae, daripada nanti emosi!” imbuhnya.

Paijo kemudian mengetuk pintu bus dengan uang koin sebagai tanda agar bus berhenti. Keduanya langsung turun begitu bus menurunkan kecepatannya. Jam terbang mereka yang tinggi sebagai pengamen rupanya telah menempa mereka untuk bisa turun dari bus bahkan sebelum bus yang mereka tumpangi benar-benar berhenti.

“Woooo, penumpang kere, Maratama kere!” umpat Kuncung sesampainya di darat.

Paijo pun hanya bisa ikut-ikutan mengumpat sambil sambil menatap bus yang terus berlalu menjauh dengan pandangan yang terpaku. Ia terdiam sejenak, hingga kemudian tersadar dan segera memaki Kuncung.

“Maratama dengkulmu mlocot!” maki Paijo pada Kuncung, “deloken kae!” lanjutnya sambil menunjuk pantat bus yang baru saja ia dan kuncung naiki.

Kuncung pun melihat ke arah bus tadi, dan segera terperanjat. Di body belakang bus tadi, tertulis jelas tulisan segedhe gaban: USMANTEX. Itu artinya, bus yang baru saja mereka naiki bukanlah bus angkutan umum, melainkan bus antar jemput karyawan.

“Woooooooo, asuuuuu!” teriak kuncung

Kowe sing asu, asal ngomong kalau itu Bus Maratama, jebul bus Usmantex, pantes wae cuma tiga yang ngasih iuran”

“Yo sori jo, Lha wong warna bus-nya sama-sama biru muda je, aku kira kan yo Maratama, sori ya jo, aku khilaf,” Kata Kuncung berusaha merajuk begitu sadar akan kesalahannya.

“Khilaf ndasmu!




Buku Agus Mulyadi

27 comments :

  1. Hhahaha..mung iso ngguyu..tep semangat wae lah

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hahaha, sing tetep semangat kudune Paijo

      Delete
  2. edisi bus gak ramah pengamen gus..

    ReplyDelete
  3. Gus kok ora kwe wae sing nyanyi? kwe rak yo mirip Ryan d'masiv...

    ReplyDelete
  4. Replies
    1. Nek ra somplak hudu Paijo ro Kuncung jenenge, hehehe

      Delete
  5. Ngamen-able? Hahaha, ini istilah keren buat ngelawan "Ngamen Gratis" yang biasa dipasang tukang fotokopi. :D

    Salam kenal,
    http://penjajakata.com/

    ReplyDelete
  6. Ngamen~able,???dadi eling selawean taun kepungkur,kenangan saat masih muda,sering bolak balik kebumen~semarang,sing ngamen th 90'an ganteng2,manis2,,ora sangar,,,nanging saiki,, anak wedok trauma numpak kendaraan umum merga tau dadi korban pelecehan nang angkot,,,naudzubillah,.,

    ReplyDelete
  7. Dua pengamen kawakan itu kurang awas. Lha, gak bisa bedain mana pekerja pabrik dengan penumpang antar kota.

    ReplyDelete
  8. Mbok sesekali kon munggah neng bis tulisane Polisi Militer, wes yakin aku rek bakalan akeh seng ngei duet :-D

    ReplyDelete
  9. Kelingan akhir tahun 2004 Gus... wong Magelang ki pancen ramah tamah, lha neng terminal kae,akeh wong sing ngajak salaman gus, padahal ora kenal je.... Salaman....salaman...salaman... hahahha

    ReplyDelete
  10. Koyone prosentase royalti buat Kuncung lan Paijo plus boro kurowo harus jelas dan tertulis cah bagus..., uang dengar kudu disisihken juga, yah minimal Torabika sachet rasa moka lah :D

    ReplyDelete
  11. Kasian amat salah naik bis, hahaha

    ReplyDelete
  12. MOCO RO KERJO ...NGGUYUKU TAK EMPET BAR LUNGO TOILET LANGSUNG NGAKAK.....

    ReplyDelete
  13. maknyuss, naik bus kaya naik pesawat. turunya terjun payung..


    http://kasamago.com/

    ReplyDelete
  14. Serius baca dari awal, dan endingnya betul-betul klimaks hahaha.

    Sugeng tetepangan Gus Mul dari Wonogiri

    ReplyDelete
  15. hahhaa, kehidupan real pengamen di jawa ini ya bro....yang biasa naik turun bus aja ternyata bisa salah bus ya...hehhe

    ReplyDelete
  16. kuncung karo paijo ki apane sampeyan gus?

    ReplyDelete
  17. Hahahaaa matanya lg kelilipan pundi2 5rb pertama tuch mas

    ReplyDelete
  18. lucu ha ha ha.....
    sok atuh buat videonya wkwwk

    ReplyDelete
  19. Assalamualaikum Salam sejahtera untuk kita semua, Sengaja ingin menulis
    sedikit kesaksian untuk berbagi, barangkali ada teman-teman yang sedang
    kesulitan masalah keuangan, Awal mula saya mengamalkan Pesugihan Tanpa
    Tumbal karena usaha saya bangkrut dan saya menanggung hutang sebesar
    1M saya sters hampir bunuh diri tidak tau harus bagaimana agar bisa
    melunasi hutang saya, saya coba buka-buka internet dan saya bertemu
    dengan KYAI SOLEH PATI, awalnya saya ragu dan tidak percaya tapi selama 3 hari
    saya berpikir, saya akhirnya bergabung dan menghubungi KYAI SOLEH PATI
    kata Pak.kyai pesugihan yang cocok untuk saya adalah pesugihan
    penarikan uang gaib 4Milyar dengan tumbal hewan, Semua petunjuk saya ikuti
    dan hanya 1 hari Astagfirullahallazim, Alhamdulilah akhirnya 4M yang saya
    minta benar benar ada di tangan saya semua hutang saya lunas dan sisanya
    buat modal usaha. sekarang rumah sudah punya dan mobil pun sudah ada.
    Maka dari itu, setiap kali ada teman saya yang mengeluhkan nasibnya, saya
    sering menyarankan untuk menghubungi KYAI SOLEH PATI Di Tlp 0852-2589-0869
    agar di berikan arahan. Supaya tidak langsung datang ke jawa timur,
    saya sendiri dulu hanya berkonsultasi jarak jauh. Alhamdulillah, hasilnya sangat baik,
    jika ingin seperti saya coba hubungi KYAI SOLEH PATI pasti akan di bantu Oleh Beliau

    ReplyDelete

Tentang Saya

Saya Agus Mulyadi, biasa dipanggil Gus Mul (bukan lulusan pesantren seperti Gus Dur, Gus Muh, maupun Gus Mus. Gus Mul hanya akronim dari nama saya). Blogger dan Freelance Layouter. Kini berusia 24 tahun. Aktif di Karang Taruna dan Komunitas Blogger Magelang Pendekar Tidar. Profil lebih lengkap, Lihat Disini

Tambahkan saya di Google+

 
Copyright © 2010 Agus Mulyadi Blog , All rights reserved
Design by DZignine . Powered by Blogger