Jathilan Seneng Dadi Siji

| Tuesday, 26 January 2016 |

Sudah beberapa waktu terakhir ini, geliat kesenian kuda lumping (sering disebut juga Jaran kepang atau jathilan) di kampung saya sedang nafsu-nafsunya. Maklum, selama beberapa tahun sebelumnya, kesenian Kuda Lumping di kampung saya sempat mati suri. Sebabnya beraneka ragam, mulai dari susahnya mendapat ijin dari kepolisian karena seringnya terjadi perkelahian setiap kali ada pertunjukkan kuda lumping, sampai isu perebutan dominasi kepemilikan paguyuban kuda lumping antar dua Dusun (kampung saya namanya Kampung Seneng, dan terbagi menjadi dua dusun: Seneng 1, dan Seneng 2).

Tidak adanya pentas kuda lumping (untuk selanjutnya saya sebut saja Jathilan) waktu itu mengakibatkan para pemuda di kampung Seneng dilanda nglangut yang berkepanjangan dan kekurangan hiburan. Hal ini tentu menjadi preseden buruk yang tak boleh dibiarkan berlarut-larut karena efeknya sangat tidak baik untuk stabilitas kampung.

Akhirnya, dengan penuh pertimbangan yang matang, para pemuda dan segenap kaum tua merencanakan untuk menghidupkan kembali guyup kesenian Jathilan kampung Seneng, tentu selain untuk mempertahankan budaya, juga agar menjadi sarana hiburan bagi para pemuda, maklum, karena di setiap ada gelaran Jathilan, maka akan selalu ada gadis-gadis dari kampung lain yang datang untuk menonton (Nah, para gadis imigran itulah yang oleh para pemuda disebut sebagai hiburan).

Rembugan pun dihelat, diikuti oleh para pemuda dan tetua dari kedua dusun, dan akhirnya, semuanya setuju untuk menghidupkan kembali paguyuban kesenian Kuda Lumping Kampung Seneng menggunakan nama baru: Siswo Turonggo Mudho, dengan tagline-nya, "Seneng Dadi Siji" (Seneng jadi Satu). Para pemuda pun diwajibkan untuk berkomitmen menjaga ketertiban dan keamanan selama berlangsungnya pertunjukkan jathilan.

Palu diketok, Pertunjukkan Jathilan pun mulai rutin dilaksanakan. Dalam satu bulan, bisa sampai dua kali.



Kalau sampeyan ndilalah belum tahu apa itu jathilan, biar saya terangkan sedikit. Jadi, Jathilan adalah tarian tradisional Jawa yang menceritakan tentang perang antara dua pasukan kavaleri (berkuda). Tarian ini menampilkan dua kelompok prajurit yang saling berperang dengan menunggang kuda palsu (yaiyalah palsu, ini Jathilan, bukan Makibao) yang terbuat dari bambu atau bahan lainnya yang di anyam dan dipotong menyerupai bentuk kuda, dengan dihiasi rambut tiruan dari tali plastik atau sejenisnya yang di gelung atau di kepang. Anyaman kuda ini dihias dengan cat dan kain beraneka warna.



Selain fragmen perang pasukan berkuda, ada juga fragmen lain yang diisi oleh penari Buto, para penari buto ini biasanya menggunakan bantalan mantel lonceng kecil (yang sering disebut dengan krincingan), sehingga setiap penari buto ini bergerak, akan selalu terdengan bunyi gemerincing lonceng yang sangat nyaring.



Nah, Bagian terbaik dan yang paling saya suka dari Jathilan adalah Ndadi, yaitu bagian dimana para penari mengalami kesurupan atau kerasukan roh halus (atau kita sebut saja dhemit jobless yang mendambakan eksistensi).

Tak hanya penari, kadang para penonton pun tidak luput dari fenomena kerasukan ini. Banyak warga sekitar yang menyaksikan pagelaran menjadi kesurupan dan ikut menari bersama para penari. Dalam keadaan tidak sadar, mereka terus menari dengan gerakan yang khas. Hal ini wajar, karena konon, ndadi itu memang menular. Kalau menurut teori saya, dhemit yang merasuki penonton itu sebenarnya pengin flashmob, tapi tidak ada media sebagai pelampiasan, makanya, merasuki para penonton Jathilan untuk kemudian menari bersama adalah salah satu langkah taktis yang bisa dilakukan.



Boleh dibilang, Ndadi adalah bentuk Klabing ajojing dengan nuansa kearifan lokal dengan bintang tamu dhemit setempat.

Saya sendiri, sejauh ini, Alhamdulillah belum pernah sekalipun ikut ndadi atau kesurupan. Ayolah, seindie-indienya dhemit Magelang, dia pasti bakal berfikir dua kali untuk merasuki saya, birokrasi raga saya ini terlalu rumit, sehingga sangat sulit untuk bisa dirasuki (kecuali kalau memang mereka punya orang dalam).

Saya sebenarnya tak terlalu suka dengan kuda, karena ukuran alat vitalnya yang ora umum itu telah membuat banyak pria (termasuk saya, tentunya) merasa kecil dan tidak ada apa-apanya. Tapi, kalau untuk Kuda Lumping, tentu beda ceritanya, karena saya merasa tidak punya alasan yang cukup untuk tidak menyukainya. Lha Gimana bisa ndak suka? lha wong apik tenan je. Terutama pas bagian ndadi-nya itu lho, Sangar dan awesome sekali. Sungguh sebuah pertunjukkan yang sayang untuk dilewatkan.

Nah, yang unik dari Jathilan di kampung saya adalah, tembang yang dinyanyikan untuk mengiringi gamelan. Kalau biasanya Jathilan diiringi dengan gamelan dan tembang Jawa, maka di kampung saya lain ceritanya. Karena kampung saya adalah kampung yang patriotik, lokasinya bersebelahan persis dengan markas akademi militer, maka lagu-lagu yang dinyanyikan untuk mengiringi gamelan bukanlah lagu tembang Jawa atau mocopatan, melainkan lagu-lagu wajib nasional dan lagu perjuangan seperti Indonesia tetap Merdeka, 17 Agustus 1945 (Hari Merdeka), ataupun Halo Halo Bandung.

Motto kami, "Kesurupan boleh saja, tapi patriotisme tetaplah yang utama", lagian, dhemit kan butuh suplemen bela negara juga bukan? dan bagaimanapun, secara de facto dan de jure, mereka masih tetap Dhemit NKRI yang sah.




Buku Agus Mulyadi

26 comments :

  1. raiso mbayangke yen Gus Mul "ndadi" trus mangan pecahan botol. Rak yo tambah dhedhel duwel lambemu mas.

    ReplyDelete
  2. Goro-goro trauma ket cilik tekan saiki wedi karo sing jenenge jathilan, reog opo meneh kobro siswo.... padahal anak bojo seneng nonton... hadeh.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Lha kok iso ngasi trauma barang, trauma le mergo ngopo mas? disaduk barongan po?

      Delete
  3. Mas jk ada wktu bln november ada waktu coba main k tulungagung dan trenggalek, selalu mengadakan festival jaranan/kuda lumping tiap tahun, pesertanya senusantara mas, kmarin paling jauh dri kalimantan, coba search youtube festival jaranan tulungagung/trenggalek, bisa jd ide kreasi jathilan panjenengan

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wah, suwun infonya mas... kapan-kapan kalau ndilalah pas momennya pasti mampir

      Delete
  4. heee... keren mas. lumayan untuk orang padang kayak saya bisa mengetahui budaya lain di indonesia. Saya jadi berpikir, jangan-jangan teman-teman cewek saya yang kesurupan waktu zaman SMK itu sebenarnya lagi flashmob. Salah paham saya..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ha bisa jadi... namanya juga dhemit, selalu mendambakan eksistensi

      Delete
  5. Apik mas, dulu waktu kecil saya hobi nonton jathilan di Mangunan. Eh btw njenengan mbiyen SD ne nang ngendi yo?

    ReplyDelete
  6. Neng kampungku emboh wes pirang taon ora tau ono maning (transmigran sulawesi) tapi seng ngoceh iki ora nduwe geteh jowo blas (original sulawesi) :p

    ReplyDelete
  7. Rek misale koe melu, yakin bakalan gak kesurupan, Gus. Wes tenann iki hahhahahahh

    ReplyDelete
  8. Barongan, Anoman karo penthul e kok rung d critake gus,,

    ReplyDelete
  9. Nek aku ndelok jathilan seneng le krunggu drum-e karo sikile sing mendem, leh goyang iso pas ro iramane drum ro kenonge Mas... Tapi njenengan melu ra Mas, ojo nonton njuk ditabrak trs ketularan..hahaha

    ReplyDelete
  10. Dhemit seng ngrasuki kui biyen pas jek urip mesti preman dangdut. Mulane senengane njoged.. :D

    ReplyDelete
  11. Wahh gonku Jathilan enenge mung pas ono supitan, karo 17an , Mas Agus.

    ReplyDelete
  12. lagu pengiringnya warbyasak, kampung nan nasionalis

    ReplyDelete
  13. pengen nonton Gus Mul Ndadi...(n)dadi guyon mksude

    ReplyDelete
  14. Di daerah saya, Wonosobo, namanya "Emblek".

    Ngakak baca kalimat ini "atau kita sebut saja dhemit jobless yang mendambakan eksistensi".

    ReplyDelete
  15. Wah ini mengingatkan saya waktu kecil menonton kuda lumping. Takut-takut tapi suka menonton, hehehe...

    ReplyDelete
  16. Sampai sekarang di daerah asal istriku, Jombang, jathilan masih tetap eksis...kalo ada jathilan pasti penontonnya membludak.....yang paling di tunggu yo pas yg ndadi itu....dan yang paling lucu kaolo ada yang ndak ndadi....tapi pura-pura ndadi....sama temen-temennya dikasih makan daun pepaya....

    ReplyDelete
  17. ndadi nek neng daeraeh inyong kene (banyumas) dejenengi wuru...

    pengertiane ya padha baen kuweh kang Agus... Wuru adalah sejenis kegiatan dimana para setan, kalau di banyumas namanya INDHANG (bisa indhang kethek, macan, ayam, ular, dsb) merasuk ke tubuh pemain EBEG (Jathilan)...

    grup ebege desane nyong tau juara 1 neng kabupaten banyumas... juara pestipal ebeg...
    hehehee....

    ReplyDelete
  18. Assalamualaikum Salam sejahtera untuk kita semua, Sengaja ingin menulis
    sedikit kesaksian untuk berbagi, barangkali ada teman-teman yang sedang
    kesulitan masalah keuangan, Awal mula saya mengamalkan Pesugihan Tanpa
    Tumbal karena usaha saya bangkrut dan saya menanggung hutang sebesar
    1M saya sters hampir bunuh diri tidak tau harus bagaimana agar bisa
    melunasi hutang saya, saya coba buka-buka internet dan saya bertemu
    dengan KYAI SOLEH PATI, awalnya saya ragu dan tidak percaya tapi selama 3 hari
    saya berpikir, saya akhirnya bergabung dan menghubungi KYAI SOLEH PATI
    kata Pak.kyai pesugihan yang cocok untuk saya adalah pesugihan
    penarikan uang gaib 4Milyar dengan tumbal hewan, Semua petunjuk saya ikuti
    dan hanya 1 hari Astagfirullahallazim, Alhamdulilah akhirnya 4M yang saya
    minta benar benar ada di tangan saya semua hutang saya lunas dan sisanya
    buat modal usaha. sekarang rumah sudah punya dan mobil pun sudah ada.
    Maka dari itu, setiap kali ada teman saya yang mengeluhkan nasibnya, saya
    sering menyarankan untuk menghubungi KYAI SOLEH PATI Di Tlp 0852-2589-0869
    agar di berikan arahan. Supaya tidak langsung datang ke jawa timur,
    saya sendiri dulu hanya berkonsultasi jarak jauh. Alhamdulillah, hasilnya sangat baik,
    jika ingin seperti saya coba hubungi KYAI SOLEH PATI pasti akan di bantu Oleh Beliau

    ReplyDelete
  19. jathilan itu sma dengan ebeg kan mas, kuda lumping gitu.. hmm

    ReplyDelete

Tentang Saya

Saya Agus Mulyadi, biasa dipanggil Gus Mul (bukan lulusan pesantren seperti Gus Dur, Gus Muh, maupun Gus Mus. Gus Mul hanya akronim dari nama saya). Blogger dan Freelance Layouter. Kini berusia 24 tahun. Aktif di Karang Taruna dan Komunitas Blogger Magelang Pendekar Tidar. Profil lebih lengkap, Lihat Disini

Tambahkan saya di Google+

 
Copyright © 2010 Agus Mulyadi Blog , All rights reserved
Design by DZignine . Powered by Blogger