Sandal Jepit dan Perkara Nuklir

| Sunday, 3 April 2016 |

Kebiasaan saya memakai sandal jepit akhirnya menyebabkan masalah juga.

Hari ini, saya diundang menjadi pemateri tentang manajemen konten online di BATAN (Badan Tenaga Nuklir Nasional) di Yogyakarta.

Seperti biasa, saya datang dengan sandal jepit swallow dan celana training. Karena saya mengira, peserta pelatihan adalah anak-anak muda webmaster situs Batan. Ternyata saya salah besar, pelatihan ternyata juga dihadiri oleh banyak pejabat Batan, termasuk pejabat Batan Pusat. Walhasil, saya pun terpaksa tertahan di ruang security karena tidak diperkenankan masuk sebab saya hanya pakai sandal jepit dan celana training. Saya akui, ini memang murni kesalahan saya.

"Wah, sampeyan ini mau masuk area kantor kok cuma pakai sandal jepit dan celana tidur," kata Satpam.

Saya tertahan cukup lama, hingga akhirnya perwakilan panitia datang menjemput saya dan memberitahu Satpam bahwa saya adalah narasumber yang nanti akan mengisi pelatihan. Saya pun akhirnya diperkenankan masuk, namun sebelumnya, saya sempatkan untuk minjem sepatu ke Satpam, karena bagaimanapun, saya tak ingin dianggap menghinakan para pejabat Batan karena cuma pakai sandal jepit.



Yah, walaupun moplok-moplok (ukuran sepatu saya 40, sedangkan sepatu satpam yg tersedia ukuran 44), tapi setidaknya saya punya niat baik.

Si mbak panitia yang menjemput saya tak henti-hentinya minta maaf atas insiden ini. Saya memaklumi, karena sejujurnya, saya sendiri juga merasa salah.



Dan alhamdulillah, insiden yang cukup merepotkan itu rupanya membawa berkah juga.

Di akhir acara, saya diperkenankan untuk mengunjungi reaktor nuklir milik Batan Jogja. Tak tanggung-tanggung, saya ditemani langsung oleh tiga pengawas, salah satunya adalah pak Djati Gunawan, pejabat akselerator senior di Batan Jogja.



Saya bahkan diijinkan masuk ke area ruang kendali utama reaktor (saya tidak boleh mengambil foto di ruang ini) dimana kata petugas di situ, tidak sembarang orang boleh masuk. Ucapan pak petugas ini sedikit banyak membuat saya jadi agak kemlinthi.

Kunjungan singkat ke reaktor nuklir ini memberikan pengetahuan yg baru bagi saya. Kata pak Djati, nuklir tak melulu digunakan sebagai bom, namun juga bisa digunakan untuk pemanfaatan energi, percepan panen tanaman, pengawet makanan, hingga urusan medis.

reaktor nuklir kartini

Pak Djati sendiri memaklumi kalau masyarakat masih menganggap nuklir sebagai sesuatu yg mengerikan, karena memang selama ini, stigma yg terbangun di masyarakat memang seperti itu.

Saya sendiri pun juga demikian. Saya selalu ngeri kalau denger kata nuklir. Kalau saya ditanya apa yang saya ketahui tentang nuklir, maka jawaban saya satu: Kim Jong Un.

Nah, alasan itulah yang yang menjadi salah satu latar belakang Batan untuk menggelar pelatihan manajemen konten, yang mana tujuannya adalah sebagai pemantik gerakan sosialisasi sisi positif nuklir kepada masyarakat.

Oh ya, btw saya ndak tahu tadi pas di reaktor nuklir saya kena paparan radiasi nuklir atau tidak. Tapi yang jelas, kalau ndilalah besok pagi saya sudah berubah jadi Hulk atau Godzilla, tolong katakan padanya, kalau aku sayang dia...




Buku Agus Mulyadi

40 comments :

  1. Dikasih pinjem sama satpam nya, mungkin sebagai tanda maaf tuh ya, udah nahan gak boleh masuk. Wkwkwk :D

    ReplyDelete
  2. Satu lagi, nuklir juga bisa jadi brand warung bakso

    ReplyDelete
    Replies
    1. mulai dari Nuklir, Rudal, sampai Setan

      Delete
  3. Katakan ke si dia siapa to mas??? Yang mana??? Hehehe... Nuklirnya juga takut ketemu sampeyan, hehehe.... Peace mas Agus

    ReplyDelete
  4. risiko nya masih terlalu gede kalo pake nuklir mas.... kebocoran nuklir bisa kasih pengaruh buruk sampai bergenerasi2 kan...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Yaelah, Nuklir ndak sesepit yang njenengan kira kok mas...

      Delete
  5. luar biasa mas Agus blusukan ke BATAN! kapan dolan ke Surabaya mas?

    ReplyDelete
  6. Ya ampun mas agus pede banget ke batan pake sendal jepit, jadi pemqteri pula. Jangan bilang biar kayak member boys band korea selatan exo yg dibandara pake jepit swallo bersrampat ijo :D
    padahal bukunya udh banyak, sering wara wiri di tipi,sering jadi pemateri, hambok pake sendal yang kekinian to mas hehehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. wah, ha diantara sekian banyak sandal, yg paling nyaman itu yo cuma swallow je mbak... hehehe

      Delete
  7. Jadi pelajaran, Gus. Lain kali kalau diundang jadi pemateri berpakaianlah yang pantas. Salam sukses.

    ReplyDelete
    Replies
    1. kalau saya sih tergantung peserta mas, sebenarnya lebih suka dengan pakaian yang santai...

      Delete
    2. yup betul .. toh berpakaian pantas dan rapi ga ada ruginya justru value added .. salam sukses..

      Delete
  8. Kiro2 nyileh sak kaos kakie gak iki..?? wkwkwk

    ReplyDelete
  9. Lebih menakutkan nuklir atau jombloh, Gus? *Mlipir aluss

    ReplyDelete
  10. Ah, minta bantuan oom Corbuzier dong mas!
    Jadikan sendalnya berubah menjadi sepatunya pak satpam... hehehe...

    Saya sama sekali tidak takut dengan nuklir ini mas ====> bakso NUKLIR...

    Kalau yg nuklir beneran, saya rada2 gemanaaa gitu... semoga BATAN dan para ahli nuklir bisa mengedukasi sisi positip nuklir :)

    ReplyDelete
  11. baut pelajaran ini, kalau mau ke kantor usakan jangan pake sendal. harus pake sepatu :D

    ReplyDelete
  12. Reputasi-ne pean tarah jos-gandhoss mas..
    patut dados mantunipun Pak Jokowi :D

    ReplyDelete
  13. Pengen iso nulis koyo ngene... topik berat jd ringan, dan yang pasti megeli lan nggapleki.....hahaha

    ReplyDelete
  14. ditunggu engko nek wis rabi iso metengi gak iki goro2 pengaruh radiasi
    tapi jan tenanok lugu tenan iki nang ndi ndi nganggo sendal jepit karo celono training..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wong sing podo kerja neng BATAN tahunan yo podo nduwe anak kok mas

      Delete
  15. Mas agus mas agus jos tenan , piye mas carane nulis buku ngono iku ajari mas

    ReplyDelete
  16. Mas Agus...ketemu lagi kita...Materinya tolong kirim ke email saya yaa... Sebagai persekot nya, ini saya kirimi artikel yang saya buat di majalah dan masuk ke blog saya... http://awido1008.blogspot.co.id/2016/03/nuklir-di-indonesia-bukan-bom.html

    ReplyDelete
  17. Saya juga lebih suka pake sendal jepit kemana-mana mas.. :)
    salam blogger www.lisubisnis.com

    ReplyDelete
  18. udah jadi hulk belum mas? wkwkwkwk :v =))

    ReplyDelete
  19. dadi hulk sing nganggo sandal jepit, wkwkw...

    ReplyDelete
  20. tuhan menciptakan sesuatu itu pasti ada manfaatnya, tergantung bagaimna manusia memanfaatkannya. termasuk sendal jepit dan nuklir

    ReplyDelete
  21. Reaktor kartini, cb dlu Indonesia g bolos sekolah dr uni soviet skrg udh bs bkin rudal spti India & China yg seangkatan..

    Nice Trip

    ReplyDelete
  22. wkwkwkwk

    www.fanmusik.wapka.mobi

    ReplyDelete
  23. betul gus kalau ngomongin nuklir kan biasanya urusan peperangan

    ReplyDelete
  24. kalau begitu banyak makanan terkontaminasi nuklir ya

    ReplyDelete
  25. kenapa di negara ini ga gunakan nuklir sebagai bahan baku listrik,kan bisa bayar murah 10rb/bln hehehe

    ReplyDelete
  26. Saya terkesan dengan "idealisme" sandal jepit panjenengan mas Agus. Sandal jepit swallow takkan tergantikan.:D

    ReplyDelete
  27. Opo sandal jepit yo dadi tolok ukur keberhasilane Njenengan Gus... koyo CD-ne kae ?.
    hahahaa...

    ReplyDelete
  28. hehe nuklir, kaya mau perang aja mas.

    ReplyDelete
  29. nuklir d bandung bisa baskso raksasa hahaha

    ReplyDelete

Tentang Saya

Saya Agus Mulyadi, biasa dipanggil Gus Mul (bukan lulusan pesantren seperti Gus Dur, Gus Muh, maupun Gus Mus. Gus Mul hanya akronim dari nama saya). Blogger dan Freelance Layouter. Kini berusia 24 tahun. Aktif di Karang Taruna dan Komunitas Blogger Magelang Pendekar Tidar. Profil lebih lengkap, Lihat Disini

Tambahkan saya di Google+

 
Copyright © 2010 Agus Mulyadi Blog , All rights reserved
Design by DZignine . Powered by Blogger