Yang Memaksa Untuk Pulang

| Wednesday, 27 September 2017 |

Saya harusnya pulang ke Magelang rabu sore kemarin, tapi niat saya itu harus tertunda karena cuaca jogja sedang mesra-mesranya dengan hujan. Yah, maklum, mungkin banyak anak puisi yang berdoa agar Tuhan menurunkan hujan agar mereka bisa menghayati puisi dan kesenduan mereka.

Oleh adik saya, saya kemudian di wasap, dia tanya kenapa saya nggak jadi pulang, sudah diarep-arep emak, katanya. Adik saya juga bilang, katanya emak saya sudah menyiapkan sesuatu buat saya.

Saya balas saja: hujan, kemis aku pulang.

Dan, hari ini, akhirnya saya kesampaian juga buat pulang, walau hanya satu hari, sebab besok Jumat saya harus kembali ke Jogja, ada rapat redaksi.

Begitu sampai di rumah, emak saya sudah menyambut saya dengan wajah yang sumringah. Ini semacam wajah sumringah yang tak seperti biasanya, wajah sumringah yang mungkin hanya saya yang tahu apa sebabnya.

Saya langsung berlari ke dapur, dan benar saja. Di sana, sudah tersedia dua wajan di atas kompor, dan masing-masing berisi keindahan duniawi: Sayur jengkol dan sayur kulit melinjo. Si peringkat 1 dan peringkat 2 dalam daftar sayur kesukaan saya.



Tak butuh waktu lama bagi saya untuk segera menandaskan dua porsi sekaligus. Saya tak peduli besok pas rapat kawan-kawan Mojok bakal terganggu dengan bau mulut saya. Sebab, secinta-cintanya saya sama Mojok, jelas saya jauh lebih cinta sama emak saya, dan masakannya.

Benar kata orang. Setiap anak tahu, kapan ia harus pulang, namun hanya ibunya yang tahu, apa yang bisa memaksa anaknya untuk pulang.




Buku Agus Mulyadi

19 comments :

  1. Betul Mas, emak memang juara urusan masak memasak.

    ReplyDelete
  2. Tep jos masakan kui dab. mMung aku rung tau mangan jengkol, yen kulit melinjo aku seneng :-D

    ReplyDelete
    Replies
    1. wah, sekali seumur hidup awakmu kudu njajal...

      Delete
  3. Bener banget.
    Ojo lali sikatan mas

    ReplyDelete
    Replies
    1. sikatan kadang ra kacek mas, uyohe sing asline muambune puooool

      Delete
  4. Semur jengkol emang ga ada duanya, the best food in the world disamping rendang.

    ReplyDelete
  5. biar gak bau jengkol ada caranya, yaitu makan pete? pasti hilang bau jengkolnya

    ReplyDelete
    Replies
    1. Lha iya...sing mambu pete ne wkwkwk

      Delete
  6. Mesakne Bantale mas neg Ngiler jadi pulau yang berasap karena kena Gas Jengkol .. xixixixi

    ReplyDelete
  7. dadi kangen pengen mulih omah tur maem masakane simbok T.T

    ReplyDelete
  8. masakan emak emang paling enak mas, biarpun ada pizza, hamburger sama lainnya, tetap aja masakan emak is the best

    ReplyDelete
  9. ngilerrr mas, nek ndelokne sayur jengkol
    bikin laper baen iki jan

    ReplyDelete
  10. oh hujan turun lagi .... emang waktunya musim hujan. bagus mas pengalamannya. top.

    ReplyDelete
  11. Wihh Enak baru pulang makan jengkol hehehe

    ReplyDelete

Tentang Saya

Saya Agus Mulyadi, biasa dipanggil Gus Mul (bukan lulusan pesantren seperti Gus Dur, Gus Muh, maupun Gus Mus. Gus Mul hanya akronim dari nama saya). Blogger dan Freelance Layouter. Kini berusia 24 tahun. Aktif di Karang Taruna dan Komunitas Blogger Magelang Pendekar Tidar. Profil lebih lengkap, Lihat Disini

Tambahkan saya di Google+

 
Copyright © 2010 Agus Mulyadi Blog , All rights reserved
Design by DZignine . Powered by Blogger