Kenangan Helm

| Sunday, 28 January 2018 |



Tadinya saya berpikir tempelan peringatan ini hanya copywriting lucu-lucuan saja. Tapi kemudian, saya sadar, bahwa itu adalah peringatan yang serius. Sangat-sangat serius.

Saya pernah punya pengalaman yang dalam soal helm dan kenangan.

Dulu saya pernah naksir sama perempuan asal pantura, yah, sebut saja namanya Janur. Saya naksir Janur cukup lama.

Sebagai lelaki yang lugu lagi pendiam, saya blas nggak berani ngomong secara langsung. Takut ditolak, dan dia malah menjauh.

Saya punya sebuah keinginan sederhana atas Janur: memboncengkan Janur keliling Jogja naik motor. Keinginan yang sederhana namun bajangkrek setan alas, ternyata sangat sulit terwujud. Dan alasannya sangat ekonomis. Saya nggak punya motor.

Tapi dasar nasib. Gusti Alloh baik hati. Setelah menunggu bertahun-tahun, saya akhirnya punya motor.

Lagi-lagi, Gusti Alloh baik hati. Setelah punya motor, saya dikasih kesempatan buat mboncengin Janur keliling Jogja.

Karena itu adalah kesempatan yang langka, maka saya berusaha memberikan servis terbaik. Janur saya pakaikan helm INK terbaik dengan warna yang paling elegan. Sedangkan saya cukup dengan helm bawaan bonus dari dealer.

Dua hari saya memboncengkan Janur. Dua hari pula helm INK terbaik itu akrab dengan kepalanya.

Namun dasar nasib. Servis yang saya berikan ternyata tak cukup untuk membuat Janur jatuh hati. Kelak, melalui sebuah pesan singkat, ia bilang kalau ia sudah punya pacar.

Saya tak bisa mendapatkan hati Janur. Yang bisa saya dapatkan hanya aroma khas kain jilbabnya yang menempel di helm INK yang saya pakaikan padanya.

Setiap kali saya memakai helm INK tersebut, saya merasa saya sedang memboncengkan si Janur. Rasanya Janur begitu dekat.

Entah minyak apa yang ia pakai, namun setelah seminggu, dua minggu, bahkan satu bulan berlalu, aroma khas Janur masih terus tertinggal di helm INK tersebut.

Helm INK itu kemudian menjadi helm kesayangan saya. Tak pernah saya izinkan siapa pun meminjamnya. Saya takut aroma khas Janur akan hilang dan berganti menjadi aroma Emeron atau Peditox kalau helm itu dipinjam orang.

Lagi-lagi dasar nasib. Helm kesayangan beraroma Janur itu pun akhirnya hilang. Ia hilang di parkiran salah satu pusat perbelanjaan. Saya tak bisa berbuat apa-apa, hanya bisa mengumpati si maling dengan kata-kata paling kotor yang pernah saya ucapkan.

Sejak saat itu, saya semakin yakin, bahwa kenangan akan perasaan memang kejam adanya. Jangankan hatinya, bahkan sekadar aroma yang menempel di helm pun tak bisa saya miliki.




Buku Agus Mulyadi

13 comments :

  1. Tim marketing helm INK nih! Kwkw

    ReplyDelete
  2. Sedih Mas bacanya. Santai Mas, masih ada Janur Janur lain diluar sana hahaha. Masih banyak cewek yang lebih baik untuk Mas Agus diluar sana.
    Sedih juga waktu tahu helm kenangan itu dicuri maling.

    ReplyDelete
  3. Hahaha konyol, udah kehilangan Janur tambah kehilangan helm beserta kenangan dan bau parfumnya Janur. Lucu dan menyedihkan

    ReplyDelete
  4. hahahaha mas agus ini bener lucu seneng liatny

    ReplyDelete
  5. ini harusnya perusahaan ink bayar sama sampean mas hahaha, keren tulisnya original mas

    salam
    admin jasa backdrop

    ReplyDelete
  6. kenangan klo diredam malah kejam..


    ReplyDelete
  7. lupakan saja ga usah diingat ingat terus masih banyak yang lainnya...

    ReplyDelete
  8. Helm tau ilang nak indomaret yo an gus.. merk e ya lokal kaya e KYT, sampe saiki lak nek indomaret helm tak gowo tak cangklong nak lengen gus hahaha...

    lek ra dicopot wedi ndarani arep ngerampok engko :v

    ReplyDelete

Tentang Saya

Saya Agus Mulyadi, biasa dipanggil Gus Mul (bukan lulusan pesantren seperti Gus Dur, Gus Muh, maupun Gus Mus. Gus Mul hanya akronim dari nama saya). Blogger dan Freelance Layouter. Kini berusia 24 tahun. Aktif di Karang Taruna dan Komunitas Blogger Magelang Pendekar Tidar. Profil lebih lengkap, Lihat Disini

Tambahkan saya di Google+

 
Copyright © 2010 Agus Mulyadi Blog , All rights reserved
Design by DZignine . Powered by Blogger