Kerinduan Sopir pada Istri dan Indomie

| Tuesday, 16 January 2018 |

Sudah hampir dua tahun terakhir ini Rambat menekuni profesinya sebagai sopir truk muatan antar provinsi. Ia ikut Pakliknya di salah satu perusahaan produksi onderdil mesin traktor di Semarang. Sebagai sopir, tugas Rambat adalah mengantar muatan komponen mesin traktor dari pabriknya ke pelabuhan Merak di Banten dan sesekali ke Tanjung Perak, Surabaya.

Sebelum menjadi sopir, Rambat sempat bekerja sebagai pedagang cilok, sales sendok dan garpu, sampai operator bianglala pasar malam. Namun hasil dari ketiga pekerjaan Rambat tersebut selalu saja pasang surut, tidak pernah tetap. Karena itulah, Rambat akhirnya memutuskan untuk bekerja ikut Pakliknya sebagai sopir di Semarang. Kebetulan di perusahaan tersebut, Paklik Rambat adalah kepala bagian pengiriman, sehingga mudah bagi Rambat untuk bisa masuk sebagai sopir.

Rambat begitu menyukai pekerjaannya sebagai sopir. Sebab, selain punya gaji tetap, ia juga menganggap pekerjaannya bukan sekadar pekerjaan, melainkan juga sebuah petualangan. Hal yang tidak bisa Rambat dapatkan pada pekerjaan-pekerjaan sebelumnya.

Hanya ada satu hal yang cukup memberatkan Rambat pada pekerjaannya sebagai sopir, yaitu ia harus lebih kuat diri dan hati sebab harus sering meninggalkan istri dan anak tercintanya di rumah. Maklum, dalam satu kali pengantaran muatan, butuh waktu minimal satu minggu, sebab Rambat tidak sekadar mengantar muatan ke pelabuhan lalu pulang, melainkan juga harus mendatangi beberapa kota di sekitar jalur pengiriman untuk mengambil onderdil-onderdil mesin traktor yang mengalami kerusakan dari beberapa bengkel traktor.

Jauh dari istri selama berhari-hari tentu bukan perkara yang enteng bagi Rambat, terlebih jika itu menyangkut kebutuhan biologis. Karenanya, tak heran jika setiap pulang, Rambat selalu memanfaatkan waktu kepulangannya dengan percumbuan mesra bersama Genduk, sang istri tercinta.

Kadang, jika hasrat seksual sudah memuncak tak tertahankan, dan ia masih dalam tugas pengiriman, maka pelacuran pun menjadi solusi akhir untuk memenuhi kebutuhannya. Hal yang mungkin sudah menjadi hal yang biasa di kalangan para penggilas jalanan.

Seperti waktu itu, saat Rambat masih berada di pelabuhan, entah kenapa, birahinya mendadak tinggi. Padahal baru tiga hari sebelumnya ia bercumbu dengan istri tercinta di rumah.

Maka, begitu bongkar muat barang selesai, Rambat langsung menancap gas truk muatannya ke salah satu area lokalisasi tak jauh dari pelabuhan. Truk muatan berwarna hijau pupus dengan tulisan “Susumu mambu Samsu” di bagian body belakangnya itu melaju dengan kecepatan yang sporadis. Maklum, makhluk di belakang kemudinya mungkin sudah tak sabar ingin segera menuntaskan dendamnya.

Sesampainya di lokasi, Rambat segera masuk ke sebuah rumah yang memang diketahui sebagai rumah sang mucikari. Oleh penjaga rumah, Rambat disuruh menunggu sebentar di ruang tamu. Setelah lima menit menunggu, sang mucikari yang oleh para pelanggannya dipanggil dengan nama Mami Elok pun datang dan menyambut Rambat.

“Welha, pendekar Traktor retetet ndona-ndona datang,” goda Mami Elok menyambut kedatangan Rambat. Retetet ndona-ndona sendiri adalah plesetan dari nama perusahaan tempat Rambat bekerja: PT Adiluhung Ndona Traktor.

“Wah, dirimu kok tambah montok ya, Mi. Tangannya juga semakin lentik saja” Rambat balas menggoda.

“Iya lentik, biar luwes kalau mau ngaplok lambemu,” sahut Mami Elok. “Gimana? pengiriman lancar?”

“Ah, nggak usah ngomongin pengiriman, Mi. Ini aku sudah brahi, sudah tinggi, nggak sabar pengin ngamar.”

Tanpa intermezzo, Rambat langsung mengeluarkan uang lima ratus ribu dari dalam dompetnya dan membantingnya di atas meja.

“Mi, ini saya ada duit lima ratus, tolong carikan saya wanita yang jelek, tua, dan agak gembrot” kata Rambat, “Sama minta Indomie goreng telurnya satu porsi,” lanjutnya.

Mami Elok terhenyak dan heran, “Oalah, Mbaat… Mbaat… kamu ini lagi kemaki atau memang mau pamer duit tho? Dengan uang segitu, kamu bisa dapet yang cantik, muda, dan montok, plus tiga porsi ayam bakar madu, sama wedang uwuh satu gelas mencep. Kenapa kamu malah milih yang jelek tua lagi gembrot sama satu porsi indomie telur. Apa kamu sudah nggak nafsu suka sama yang cantik?” Tanya Mami Elok.

“Bukannya saya nggak nafsu suka sama yang cantik, Mi. Saya cuma lagi kangen sama yang di rumah!”




Buku Agus Mulyadi

0 komentar :

Post a Comment

Tentang Saya

Saya Agus Mulyadi, biasa dipanggil Gus Mul (bukan lulusan pesantren seperti Gus Dur, Gus Muh, maupun Gus Mus. Gus Mul hanya akronim dari nama saya). Blogger dan Freelance Layouter. Kini berusia 24 tahun. Aktif di Karang Taruna dan Komunitas Blogger Magelang Pendekar Tidar. Profil lebih lengkap, Lihat Disini

Tambahkan saya di Google+

 
Copyright © 2010 Agus Mulyadi Blog , All rights reserved
Design by DZignine . Powered by Blogger