Daster Feminim

| Monday, 19 February 2018 |

Kadang memang susah memahami bagaimana cara kerja selera wanita. Ia seperti punya lintasannya sendiri, lintasan pendek yang seringkali justru tak bisa dinalar oleh logika-logika berpikir sederhana.

Peristiwa sore itu benar-benar membuat saya yakin atas hal ini.

Saya menemani Kalis membeli daster di salah satu pasar di bilangan Jogja. Dia memang pernah bilang kalau gemar memakai daster kalau pas di kosan.

Cukup lama ia memilah dan memilih daster yang ingin ia beli, dan ia belum juga menentukan pilihannya, padahal sudah sibak sana, sibak sini. Bahkan sampai kemudian ia berpindah ke lapak lain yang ndilalah sama-sama menjual daster.

"Gimana? sudah dapat?" Tanya saya dengan agak tidak sabar.

"Hurung, mas."

"Kok suwe sih, bukane satu sama lain nggak jauh beda?"

"Beda lah, ya. Mau cari yang agak feminim,"

Saya berusaha memahami jawabannya. Walau menurut akal bodo saya, yang namanya daster itu ya sudah pasti feminim.

Sepeminuman kopi saya menunggu, akhirnya ia selesai juga memilih daster yang ia inginkan. Alhamdulillah, sabar saya menemukan jalannya.

Saya tak tahu, daster yang mana dan yang bagaimana yang ia pilih, sebab tahu-tahu, penjaga kios sudah membungkusnya di tas kresek dan memberikannya kepada Kalis.

Sesampai di kos, ia langsung memfoto daster yang baru saja ia beli dan mengirimkannya ke saya lewat wasap.

Saya terperanjat kaget. Semacam gabungan rasa ingin tertawa dan prihatin pada porsi yang nyaris seimbang.

Betapa tidak, "daster feminim" hasil seleksi dalam durasi yang tak sebentar itu rupanya adalah daster berwarna kuning macan yang begitu rawrrr dengan motif semut ngangkrang.

Dan sungguh, saya sama sekali tak bisa menemukan, dimana letak feminimnya daster tersebut.




Buku Agus Mulyadi

16 comments :

  1. Ya begitu lah kaum hawa. Itu baru masalah daster loh mas, belum sepersekian miliar dari permasalahan cewek yang lainnya...

    ReplyDelete
  2. anomali urip.. lumrah. nek ora kaya kie ora seru

    ReplyDelete
  3. kaya kie rumite pemikiran cewek mas
    susah kito ki memahami

    ReplyDelete
  4. Emange semut ngangkrang lanang kabeh?

    ReplyDelete
  5. hehe ya begitulah kaum hawa kang Agus banyak uniknya.

    ReplyDelete
  6. Karena wanita adalah mahluk yang paling susah untuk dimengerti

    ReplyDelete
  7. Ojo di paido Mas, mengko mundhak gelo....

    ReplyDelete
  8. Emang kudu sabar nek ngancani wadon belonjo mas. Aku pernah ngancani mbak ku tuku baju, wis suwi ngubek2 kios A. Jare ga ono sing cocok. banjur muter2 maneh golek kios liane. Pirang2 kios wis di "obrak-abrik" eh jebule sidane le tuku baju yo nang kios A iku sing pertama kali ditekani :D

    ReplyDelete
  9. Coba cek semutnya ada anunya atau tidak jika tidak berarti cewe (femininim) hehe

    ReplyDelete
  10. cah wedok ki ncen mbuh, og. tapi yo piye yen wis sayang ki..

    ReplyDelete
  11. kuwi ngunu kode mas agus, sampeyan kie sing peka og

    ReplyDelete
  12. Pernah dengar istilah begini:
    Cewek pergi belanja niatnya beli sepatu. Sampai di toko jadi kepingin beli celana. Pas pulang, akhirnya malah beli tas

    ReplyDelete
  13. hahaha namanya juga cewek susah untuk dimengerti

    ReplyDelete

Tentang Saya

Saya Agus Mulyadi, biasa dipanggil Gus Mul (bukan lulusan pesantren seperti Gus Dur, Gus Muh, maupun Gus Mus. Gus Mul hanya akronim dari nama saya). Blogger dan Freelance Layouter. Kini berusia 24 tahun. Aktif di Karang Taruna dan Komunitas Blogger Magelang Pendekar Tidar. Profil lebih lengkap, Lihat Disini

Tambahkan saya di Google+

 
Copyright © 2010 Agus Mulyadi Blog , All rights reserved
Design by DZignine . Powered by Blogger