Surat Terbuka untuk Pak Mendikbud yang Berencana Menggelar Nobar Dilan

| Sunday, 22 April 2018 |

Dear Pak Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Muhadjir Effendy. Sebelumnya, mohon maaf atas kelancangan surat saya ini.

Saya sudah lama sekali tidak menulis surat terbuka. Seingat saya, terakhir kali saya menulis surat terbuka adalah waktu saya mengkritik tayangan siaran langsung proses persalinan Ashanti istrinya mas Anang “Tapi Tak begini” Hermansyah itu, dan itu sudah empat tahun yang lalu. Karenanya, saya berharap, semoga surat terbuka ini tidak jelek-jelek amat, kalaupun jelek, ya tolong dimaklumi, yang penting kan isinya. Bukan begitu, Pak?

Jadi begini, Pak Muhadjir. Saya yakin, sampeyan pasti sudah tahu arah surat terbuka ini. Yak, betul. Saya pengin menuliskan soal ketidaksetujuan saya atas rencana sampeyan menggelar acara nonton bareng film ‘Dilan’ saat puncak Hari Pendidikan Nasional, Mei mendatang.

Sebagai seorang warga negara yang alhamdulillah pernah mengenyam bangku sekolah, saya merasa bangga dan girang lho, Pak, sama sampeyan sebab sampeyan membawa angin baru dalam dunia pendidikan kita ini.

Salah satu kebaruan yang sampeyan terapkan tentu saja adalah menerapkan Ujian Nasional Berbasis Komputer (UNBK) dengan menyisipkan soal-soal untuk mengukur kemampuan berpikir tingkat tinggi siswa dengan memakai standar PISA (Programme for International Student Assessment).

Kebijakan ini, walaupun sangat tidak pop, diprotes oleh banyak pihak, dan utamanya diperangi oleh para siswa (tentu saja, sebab banyak siswa yang mengaku berangkat ujian untuk mengerjakan matematika, tapi malah dikerjain sama matematika), namun sampeyan tetap kukuh dengan kebijakan ini, sebab sampeyan menganggap kebijakan tersebut memang penting untuk diambil demi menaikkan peringkat sistem pendidikan di Indonesia serta membuat para pelajar Indonesia punya kemampuan berpikir yang bisa diandalkan.

Nah, kebanggan saya akan kebijakan brilian sampeyan ini mendadak langsung dibuat terjun bebas begitu mendengar soal rencana sampeyan menggelar acara nonton bareng film ‘Dilan’ saat puncak Hari Pendidikan Nasional.

Dalam hal ini, saya satu suara dengan Dyah Arum Sari Dewan Pengurus Pusat Himpunan Mahasiswa Pascasarjana Indonesia (DPP HMPI) Bidang Perempuan dan Anak yang mengatakan bahwa film tersebut kurang cocok jika diputar sebagai bagian dari peringatan Hari Pendidikan Nasional.

Walau settingnya kisah anak SMA, namun Dilan jelas bukan pendidikan. Ia lebih menonjol pada intrik romantikanya, unsur pacarannya. Adegan belajar di kelas paling cuma lima menit, sedangkan sisanya, adegan nggombal-nggombal receh yang bisa menginspirasi banyak remaja untuk menjalin pacaran yang lebih romantis.

Ungkapan-ungkapan nakal tapi bikin meleleh seperti “Jangan kangen, berat, kamu nggak akan kuat”, “Milea, Kamu cantik, tapi aku belum jatuh cinta, nggak tahu kalau nanti sore”, sampai “Jangan bilang padaku ada orang yang menyakitimu, sebab orang itu akan hilang,” tentu bisa menjadi referensi yang bagus bagi para anak SMA dalam menjalani hubungan pacaran.

Intinya, Film Dilan membuka diskursus baru bagi anak-anak SMA dalam menjalin komunikasi asmara.

Ini yang menurut saya seharusnya perlu diperhatikan dan dipertimbangkan.

Begini lho Pak Muhadjir. Jelek-jelek dan ngehek-ngehek begini, saya pernah jadi pemeran utama di sebuah film garapan Dinas Kebudayaan Yogyakarta berjudul “Jomblo Juga Keren”, film tersebut dibuat salah satunya sebagai materi sosialisasi kepada anak-anak SMA agar tidak pacaran dan mengurangi angka kehamilan di luar nikah. Sekali lagi, sosialisasi kepada anak-anak SMA agar tidak pacaran dan mengurangi angka kehamilan di luar nikah.

Ealah, lha kok sekarang sampeyan malah menyarankan dan bahkan menggelar acara nonton bareng film yang jelas-jelas menggambarkan indahnya romantika pacaran. Bodhol bakule slondok, Pak.

Itu masih soal pacaran, belum soal kekerasan.

Lha gimana, dalam dunia pendidikan kita ini, perkara yang memang sedang menjadi bahan pembicaraan yang cukup ramai adalah soal kekerasan guru terhadap murid, kekerasan murid terhadap guru, serta kekerasan murid terhapap murid.

Nah, dalam film Dilan, bajangkrek setan alas tenan, semua adegan itu ada semuanya.

Dalam film Dilan, ada adegan Pak guru Suripto menempeleng Dilan. Itu artinya, ada contoh kekerasan oleh guru kepada murid. Nah, bajingannya, alih-alih takut, Dilan ternyata membalas menggampar Pak Suripto. Itu artinya, juga ada adegan kekerasan oleh murid terhadap guru.

Bayangkan, Pak. Kalau suatu saat, ada murid berani melawan guru. Kemudian si Guru bertanya, “Berani-berani kamu melawan guru, siapa yang ngajarin?” kemudian dijawab sama si murid “Dilan, Pak!” Nah lho, gimana jal, pak? Berat kan? Bapak nggak bakal kuat.

Itu belum ditambah dengan adegan gelut saling balas gampar antara Dilan dan Anhar yang mana merupakan adegan kekerasan antara murid terhadap murid yang lain.

Trus, yang lebih nggentho, adegan sekolah diluruk alias diserang sama sekolah lain. Apa nggak ngeri itu, Pak. Sekolah bagus-bagus kok dilemparin batu banyak banget. Itu sekolah lho, Pak, bukan jumroh.

Kalau mau ditambah dengan printilan-printilan adegan kecil yang menggambarkan betapa tidak cocoknya Dilan sebagai film yang diproyeksikan sebagai film nobar Kemdikbud, tentu buanyak banget. Misal, tawuran, menjawab pertanyaan cerdas-cermat seenak hati, sampai adegan motoran Dilan yang tak pernah pakai helm.

Etapi itu film settingnya tahun 90, Wajar dong kalau nggak pakai helm.

Lho, rumangsanya tahun 90, aspal teksturnya empuk?

Kalau kata Fahri Hamzah, “Kayaknya pada lagi nggak punya ide tentang apakah arti pendidikan. Lalu ikut-ikutan nonton film yang lagi terkenal. Padahal Hari pendidikan itu terkait dengan perjuangan mencerdaskan bangsa yang serius. Dilan itu karya bagus tapi bukan film sejarah. Dan perilaku dalam film Dilan itu fiksi romantis, bukan hasil pendidikan karakter.”

Jujur, saya benci mengakuinya, tapi khusus untuk yang satu ini, saya harus sepakat sama Fahri Hamzah.

Yah, Pak Menteri, Entah kenapa, urusan nonton bareng di negeri ini, selalu saja kacau kalau sudah berurusan dengan instansi pemerintah.

Peringatan peristiwa 30 September, Nontonnya film Pengkhianatan PKI (yang sudah jelas-jelas dianggap tidak sesuai ceritanya), Peringatan Hari Pendidikan, Nontonnya Film Dilan. Giliran publik ada acara nonton bareng Film Tan Malaka, Senyap, dan film-film dokumenter lain yang mencoba menawarkan perspektif baru, malah diberangus dan dibredel.

Yah, Pak Muhadjir, mumpung masih belum tanggal 2 Mei, semoga sampeyan punya alternatif pilihan film lain untuk menggantikan Dilan.

Kalau memang mentok nggak punya, ya sudah, nonton “Laptop Si Unyil” juga tak mengapa. Yang penting jangan Dilan, Pak. Please.

Salam Sayang, Pak.

Agus Mulyadi, pecinta dangdut koplo yang sedikit peduli sama pendidikan.

~Ing Ngarsa sung Nella Kharisma, Ing Madya mangun Ratna Antika, Tut Wuri Rena KDI.

- - - - - -

Update: Per hari Senin 23 April 2018, Kemendikbud memutuskan untuk mengganti film Dilan dengan film Kartini. Link beritanya klik di sini.




Buku Agus Mulyadi

2 comments :

  1. Aspal atos yo lawas Gus, mungkin pertimbangan e Pak Medikbud, tahun 90' hurung ono Sumber Kencono wkwkwkwk

    ReplyDelete
  2. dilan memang fenomena, ikatan dinas masih pusing mencari cara penyampaian pesan agar lebih mudah di terima generasi sekarang.

    ReplyDelete

Tentang Saya

Saya Agus Mulyadi, biasa dipanggil Gus Mul (bukan lulusan pesantren seperti Gus Dur, Gus Muh, maupun Gus Mus. Gus Mul hanya akronim dari nama saya). Blogger dan Freelance Layouter. Kini berusia 24 tahun. Aktif di Karang Taruna dan Komunitas Blogger Magelang Pendekar Tidar. Profil lebih lengkap, Lihat Disini

Tambahkan saya di Google+

 
Copyright © 2010 Agus Mulyadi Blog , All rights reserved
Design by DZignine . Powered by Blogger