Agus Mulyadi Njaluk Rabi

Beban dan Tanggung Jawab Identitas

| Sunday, 4 April 2021 |

Dalam hidup, identitas apa pun yang melekat pada pada diri seseorang sejatinya berpengaruh pada beban hidup orang lain yang kebetulan punya identitas personal yang sama. Setidaknya dalam kadar yang paling tipis. Aksi bom bunuh diri yang dilakukan oleh orang Islam beberapa waktu yang lalu, misalnya, mau tak mau memang kemudian memberikan beban yang besar bagi orang-orang Islam yang lain.

Sebagai orang yang punya agama yang sama, orang-orang Islam jadi punya semacam beban sosial untuk membuktikan bahwa mereka tidak sama dengan orang islam yang nekat melakukan aksi bom bunuh diri dan melukai orang lain. Mereka jadi punya semacam “kewajiban” tak tertulis untuk bisa lebih menjaga sikap.

Contoh yang lebih sederhana adalah aksi koboi jalanan pengendara Fortuner yang dengan entengnya mengacungkan pistol karena diberhentikan sebab ia diduga menabrak seorang pengendara motor hingga jatuh. Apa yang ia lakukan boleh jadi adalah kegoblokan pribadi semata. Namun tak bisa dimungkiri, identitas “Pengendara Fortuner” tersebut turut memberikan beban kepada para pengendara Fortuner lainnya.



Melalui sosial media, terbentuk guyonan tentang betapa menyebalkannya pengendara Fortuner. Banyak yang kemudian meletakkannya satu level dengan para penculik jaman dulu yang kerapa memakai mobil jip kotak warna gelap. Awalnya memang hanya guyonan. Namun kita semua tahu, guyonan yang diulang terus-menerus bisa menjadi sebuah stigma yang langgeng dan serius.

Imbasnya, kebencian, atau setidaknya antipati orang-orang terhadap pengendara Fortuner akan semakin besar.

Semua pengendara mobil pasti pernah ngebut dan membahayakan orang lain, dan itu layak untuk dibenci. Namun beda kalau mobilnya Fortuner, kadar kebenciannya bakal menjadi lebih tinggi. Ia lebih tidak bisa ditolerir.

Jika seorang pengendara mobil layak dibenci ketika ia ngebut pada kecepatan 120 kilometer per jam di jalan umum, maka bagi pengendara Fortuner, angka 100 kilometer per jam pun sudah cukup untuk membuat orang lain muntab.

“Wooo, mobilnya Fortuner, pantes kalau ugal-ugalan.” Padahal boleh jadi ada banyak pengendara mobil yang jauh lebih ugal-ugalan namun kemudian mendapatkan pemakluman karena kebetulan mobilnya bukan Fortuner.

Hal ini tentu berlaku pada identitas apa saja. Bisa identitas pendidikan, identitas kedaerahan, identitas komunitas, bahkan sampai identitas-identitas yang terasa jauh dan tidak nyambung sekalipun. Identitas orang jelek, misalnya.

Kalau kebetulan warga di suatu kompleks menangkap dua orang maling dan kebetulan dua-duanya bertampang jelek, maka jangan heran jika identitas “tampang jelek” itu pun bisa dikembangkan serampangan menjadi sebuah stigma yang serius. Jika stigma ini sudah kadung besar ukurannya, maka gawat belaka.

Kalau kelak ada orang yang tampangnya cakep dan manis tapi ketahuan maling laptop di kos-kosan milik salah satu warga, niscaya bisa timbul semacam pengampunan atau pemakluman. Atau setidaknya, ada toleransi keringanan dalam menghukumnya. Biasanya maling digebuki sampai bonyok, namun karena tampang si maling tampak seperti orang baik-baik, maka cukup digebuki sekadar sebagai formalitas rasa sakit saja.

Lain soal kalau ada orang jelek dan kemudian ketahuan maling duit 100 ribu. Walau jumlah yang dimaling sebenarnya sedikit saja, tapi karena stigma tampang jelek itu tadi, maka ia tetap saja digebuki sampai bonyok. Hantaman benda tumpul pada sekujur tubuhnya pun pasti punya power yang lebih stabil dan bertenaga.

“Pantes maling, tampangnya memang jelek, cocok kalau jadi maling.” atau “Sudah jelek, maling pula.”

Pada titik itulah, penting bagi kita untuk bisa bersikap dan bertindak sehati-hati mungkin. Jangan sampai tindakan buruk kita memberikan beban kepada orang lain yang kebetulan punya identitas yang sama dengan kita.

Terkhusus buat orang yang tampangnya jelek, tolong jaga sikap. Sebab ada banyak orang jelek yang beban hidup dan kehormatannya dipengaruhi oleh kelakuan Anda. Saya salah satunya.




Sawer blog ini

0 komentar :

Post a Comment

Tentang Saya

Saya Agus Mulyadi, biasa dipanggil Gus Mul (bukan lulusan pesantren seperti Gus Dur, Gus Muh, maupun Gus Mus. Gus Mul hanya akronim dari nama saya). Blogger dan Freelance Layouter. Kini berusia 24 tahun. Aktif di Karang Taruna dan Komunitas Blogger Magelang Pendekar Tidar. Profil lebih lengkap, Lihat Disini
 
Copyright © 2010 Blog Agus Mulyadi , All rights reserved
Design by DZignine . Powered by Blogger