Kemanunggalan TNI-Rakyat

| Monday, 20 May 2013 |

Di jaman orde baru, tentu njenengan semua pernah atau malah sering mendengar istilah Kemanunggalan TNI-Rakyat. Kemanunggalan didapat dari kata dasar Manunggal, yang dalam bahasa jawa berarti bersatu atau persatuan, Secara lebih gamblang, Kemanunggalan TNI-Rakyat kemudian diartikan sebagai Interaksi persatuan yang kokoh antara TNI dan rakyat untuk menciptakan kerjasama yang dinamis demi kemajuan masyarakat. Di jaman perang, Konsep Kemanunggalan TNI-Rakyat sering diartikan sebagai usaha rakyat untuk membantu TNI dalam melawan penjajah, entah ikut sebagai pasukan di medan perang, maupun hanya berpartisipasi membantu dalam bentuk menyediakan makanan, obat-obatan, atau tempat persembunyian bagi para prajurit TNI. Sedangkan di masa pasca pasca perang, Kemanunggalan TNI-Rakyat kemudian diartikan sebagai upaya TNI untuk bekerjasama dengan masyarakat dalam usaha pembangunan. ABRI masuk Desa adalah program pemerintah paling mencolok saat itu yang bisa dikatakan sebagai pengejawantahan Kemanunggalan TNI-Rakyat.

Jenderal besar kita, Jenderal Sudirman dalam beberapa intruksi populernya justru seakan menegaskan bahwa konsep Kemanunggalan TNI-Rakyat merupakan konsep yang tidak perlu, karena pada dasarnya, antara TNI dan rakyat tidak ada pemisahan, TNI itu juga bagian dari rakyat, sehingga tidak perlu dimanunggalkan.

Tapi apapun itu, konsep kerjasama antara TNI dan rakyat tentu punya nilai positif, apapun itu namanya.



Foto di atas saya ambil beberapa waktu yang lalu, di depan pintu gerbang kompleks perumahan akademi militer Panca Arga, Magelang. Foto yang sedrehana, namun menurut saya sangat mewakili semangat Kemanunggalan TNI-Rakyat. Dalam foto di atas, nampak seorang PM (Polisi Militer) dari kesatuan TNI AD yang sedang membantu menyeberangkan jalan untuk dua anak SMP. Saya tahu betul, bahwa dua anak SMP di atas sejatinya adalah anak tentara --dan bukan anak warga sipil biasa-- yang tinggal di kompleks perumahan akademi militer Panca Arga, tapi tetep saja saya yakin, bahwa gambar di atas tetap selaras dengan konsep Kemanunggalan TNI-Rakyat.

Ada yang protes? Layangkan protes anda ke email agus@agusmulyadi.com.




Buku Agus Mulyadi

3 comments :

  1. Yen esuk berarti itu bukan anak TNI, tapi nek masa-masa pulang sekolah baru dimungkinkan anak TNI...

    ReplyDelete
  2. Kang Nahdhi : Wah, analisa yang sangat mendalam sekali, benar, kalo pagi, jelas bukan anak tentara, soalnya nyebrangnya dari kampung depan panca arga, tapi kalo siang, kemungkinan anak tentara, karena nyebrangnya pulang menuju panca arga...

    ReplyDelete
  3. Bisa saja karena tidak semua tentara AKMIL tinggal di Panca Arga tetapi anaknya sekolah di Komplek Panca Arga

    ReplyDelete

Tentang Saya

Saya Agus Mulyadi, biasa dipanggil Gus Mul (bukan lulusan pesantren seperti Gus Dur, Gus Muh, maupun Gus Mus. Gus Mul hanya akronim dari nama saya). Blogger dan Freelance Layouter. Kini berusia 24 tahun. Aktif di Karang Taruna dan Komunitas Blogger Magelang Pendekar Tidar. Profil lebih lengkap, Lihat Disini

Tambahkan saya di Google+

 
Copyright © 2010 Agus Mulyadi Blog , All rights reserved
Design by DZignine . Powered by Blogger