Aksi mandi susu di Boyolali - foto oleh Aloysius Jarot Nugroho (Antara Foto)
Para peternak sapi perah di Boyolali dan sekitarnya merugi karena aturan pembatasan kuota susu, mereka lalu protes dengan cara mandi susu. Aksi protes para peternak itu lalu dikomentari oleh sekelompok orang yang mengatakan bahwa itu pemborosan.
“Kenapa susunya tidak dibagikan saja kepada masyarakat? Kenapa malah buat mandi, pemborosan, mubazir.” Kata mereka.
Tidak salah, namun itu jadi bukti bahwa masih banyak orang yang tidak bisa melihat inti permasalahan dari sebuah perkara ekonomi-sosial. Fenomena kompleks seperti aksi mandi susu sapi itu ya bakal konyol kalau cuma dilihat dari kacamata boros atau tidak. Mubazir atau tidak. Etis agama atau tidak.
Dari dulu, yang namanya aksi protes itu ya akan selalu mengandung “pemborosan”. Perjuangan akan selalu membutuhkan biaya.
Para peternak itu “terpaksa” memilih aksi mandi susu itu selain sebagai ekspresi kekecewaan, juga memang agar mendapat perhatian luas dari berbagai pihak, sehingga isu tentang aturan pembatasan kuota susu itu bisa dibicarakan oleh banyak pihak, termasuk pemegang kebijakan.
Kok kasian betul para peternak sapi itu. Sudahlah rugi karena susunya tidak bisa dijual, masih dituntut untuk menyedekahkan susunya, dan kalau tidak mereka lakukan, mereka bakal dihujat karena dianggap melakukan hal mubazir.
Para penghujat itu tidak berpikir, bahwa mengemas susu dan mendistribusikan susu secara gratis ke orang-orang itu butuh biaya. Kecuali orang yang dibagi susu datang sendiri satu-satu ke peternakan lalu disuruh ngenyot sendiri ke tetek sapinya. Sekali lagi, mereka tidak mampu berpikir sejauh itu.
Orang yang cuma bisa berkomentar soal boros dan tidak ini, kalau melihat demonstrasi menuntut keadilan yang disertai aksi membakar ban bekas, mungkin akan berkomentar “Sayang ban bekasnya, harusnya bisa diolah menjadi sandal jepit atau ayunan.”
Akan lebih geli lagi kalau membayangkan seandainya mereka hidup di zaman perjuangan, mereka mungkin akan mengomentari para pejuang, “Daripada buat perang, mending waktu dan tenaganya digunakan buat bekerja, pasti akan lebih produktif dan bermanfaat. Senapan dan pelurunya juga mending dijual kiloan dan duitnya dipakai buat beli sawah atau buat modal ternak itik dan kalkun.”
Menghakimi Aksi Mandi Susu Sapi
Selamat Hari ABRI
Saya selalu sentimentil dengan tentara. Bagaimanapun, tak bisa tidak, saya hidup dengan iklim yang sangat militer. Kampung tempat tinggal saya berada persis di antara markas Akademi Militer (Akmil) dan perumahan tentara Panca Arga.
Kakek saya, Joseph Paiman, semasa hidupnya adalah seorang pegawai di Akademi Militer.
Bapak dan ibu saya menghidupi saya salah satunya melalui jalan yang “semi” militer. Bapak berjualan es kelapa muda di komplek lapangan tembak yang sering digunakan sebagai tempat latihan para prajurit angkatan darat. Sementara ibu saya menjadi buruh cuci di salah satu rumah seorang tentara berpangkat kapten bernama Pak Gana.
Saya sangat militer. Saya sering bermain di lapangan perumahan tentara. Skill sepakbola saya yang dulu agak lumayan itu ditempa di sana.
Melihat tank bukan sesuatu yang baru bagi saya seperti anak-anak lain yang bermimpi naik tank hanya saat momen karyawisata di museum militer. Ketika anak-anak kecil lain bermain memutar gasing, saya sudah bermain memutar moncong tank Amphibi PT-76 buatan Soviet, nyaris setiap pekan.
Mencuri buah di komplek perumahan tentara? Itu sudah jadi aktivitas sehari-hari. Dari mangga, sawo ijo, alpukat, kelapa muda, sampai tebu, saya sudah khatam. Itu cara yang saya dan kawan-kawan pilih untuk memacu adrenalin.
Saya sangat militer. Sejak kecil, sebelum subuh, saya sudah dibangunkan oleh suara terompet dan lagu-lagu perjuangan yang dimainkan dari kompleks Akmil sebelah kampung. Terompet itu terdengar lebih dulu ketimbang azan subuh. Itu artinya, secara musikal, saya bahkan lebih nasionalis-militeristik ketimbang nasionalis-relijius.
Saya sangat militer. Sampai-sampai dingklik atau kursi kecil di rumah saya adalah kotak kayu bekas wadah amunisi yang kami dapat dari Akmil.
Bayangkan, bapak-bapak dan ibu-ibu yang terhormat di Komisi I DPR itu mungkin sudah puluhan kali duduk di kursi senayan membahas alutsista. Sedangkan saya yang kurang terhormat ini sudah sejak lama menduduki langsung alutsistanya.
Saya sangat militer. Bahkan sprei kasur saya dulu adalah sprei berkelir putih berlogo Akmil, lungsuran dari juragan emak saya. Ketika jutaan pemuda berbadan tegap berharap diterima Akademi Militer, saya yang kurus ceking ini sudah menidurinya.
Saya sangat militer. Sampai-sampai, saya disunat melalui program sunat korsa berbasis kolektif militer alias sunat massal dalam rangka hari jadi ABRI. Hasil sunatnya tokcer, dorengnya khas malvinas, gerak-geriknya lincah dan trengginas. Bentuk kepalanya serupa baret. Kalau dengar musik “terpesona” sedikit saja, niscaya dia akan auto glidik dan menggeliat
Saya disunat oleh dokter militer, di dalam komplek Akademi Militer, lepas perbannya pun di klinik kesehatan militer. Dan karena itu, secara teknis, saya memang masyarakat sipil, tetapi burung saya burung militer.
Maka, hari ini, 5 Oktober, adalah hari yang harus saya rayakan. Ini hari ABRI. Hari penting. Sebagai lelaki sipil dengan darah ketentaraan yang sangat kental, saya dengan penuh sukacita ikut berbahagia dalam merayakan hari ulang tahun ABRI ini.
Dan di hari yang bahagia ini, tentu tak ada kata lain yang lebih penting untuk saya sampaikan, selain Jayalah tentara Indonesia.
Jayalah tentara Indonesia. Berlatihlah keras di dalam barak, dan bersikap lembutlah di luar barak. Jadilah pelindung untuk rakyat, jangan kau gebuk rakyatmu sendiri.
Jayalah tentara Indonesia. Jangan kau popor pipi rakyat, sebab senapanmu itu dibeli dari patungan uang mereka.
Jayalah ABRI-ku. Jayalah tentaraku. Selamanya, kau adalah anak kandung rakyat. Maka, muliakanlah orang tuamu.
Jangan kau jadi durhaka.
Film Seni Memahami Kekasih Hari Ini Tayang
Film “Seni Memahami Kekasih” akhirnya tayang hari ini. Ini film tentang kisah cinta orang miskin dengan sesama orang miskin. Dengan dinamika hidup khas orang biasa, dan konflik asmara seperti orang-orang menengah ke bawah kebanyakan. Dan karena itu, film ini cocok ditonton oleh banyak orang, terutama oleh buruh tani, mahasiswa, dan rakyat miskin kota.
Kalau ndilalah kalian kaya, tontonlah film ini, semata agar kalian punya bahan untuk bersyukur. Dan jika kalian miskin (dan memang kelihatannya begitu), tontonlah film ini, lalu biarkan film ini menemani kemiskinan kalian.
Selamat Menjadi Juara, Messi dan Argentina
Saya menyukai Edinson Cavani. Di mata saya, Cavani adalah pemain yang sangat layak diidolakan. Kerja kerasnya, determinasinya, gairah bermainnya, penempatan posisinya, ketidakegoisannya, gesturnya tiap kali rekannya mencetak gol, pembelaannya pada rekan setim yang dikasari pemain lawan. Sempurna.
Cavani, secara naluriah, membuat saya mendukung Uruguay untuk menjadi juara Piala Dunia 2022. Apalagi di timnas Uruguay, juga ada Facundo Pellistri, pemain yang juga saya suka, pemain muda Manchester United yang belum pernah bermain satu kali pun untuk Manchester United, namun sudah berkali-kali membela Timnas Uruguay.
Dan kita semua tahu, Uruguay tumbang di babak penyisihan grup. Maka, demi tetap relevan, setidaknya sampai sebelum final, saya harus memilih jago yang lain.
Saya memutuskan untuk mendukung Kroasia dan Maroko di semifinal. Gejala “The underdog effect” memang membuat saya, dan banyak orang lainnya, punya kecenderungan untuk mendukung tim yang lebih tidak diunggulkan. Tentu akan sangat menggembirakan jika ada juara baru. Itu akan melengkapi kegembiraan kita sebelumnya karena menyaksikan negara-negara Asia dan Afrika mempecundangi negara-negara Eropa dan Amerika latin.
Pada prosesnya, Maroko dan Kroasia sama-sama tumbang dan menyisakan dua tim yang sama-sama punya sejarah juara: Prancis dan Argentina.
Lagi-lagi, saya harus memilih. Mana yang akan lebih saya dukung? Dan pilihan saya jatuh pada Argentina. Alasannya sederhana. Empat tahun lalu, Prancis sudah juara. Gantian. Sekarang biar giliran Argentina. Penantian yang lebih lama tentu akan lebih berhak.
Kali ini, dukungan saya tidak mental. Argentina benar-benar juara. Walau ia bukan opsi pertama bagi saya, namun mongkok juga saya melihat Messi mengangkat piala emas itu untuk pertama kalinya.
Messi, dengan segala kemampuan dan kerja kerasnya selama ini, memang sangat berhak mendapatkan perpisahan yang paling paripurna dengan menjadi juara dunia. Tentu saja Ronaldo juga berhak, tapi tak apa jika ia tak mendapatkannya, setidaknya di Piala Dunia inilah, ia bisa mencetak rekor sebagai satu-satunya pemain yang bisa mencetak gol di 5 Piala Dunia. Hal yang tidak bisa Messi lakukan. Dan itu membuat Ronaldo tidak kalah-kalah amat.
Saya bahagia menyaksikan Messi berdiri mengangkat trofi di atas panggung, walau di sisi yang lain, saya tak tega juga menyaksikan Kylian Mbappe berjalan gontai dengan tatapan yang layu, bahkan walau ia keluar sebagai top skor di turnamen ini.
Untunglah, besok pagi, atau mungkin lusa, atau setidaknya minggu depan, ingatan kita tentang itu akan meranggas. Kita mungkin tak akan peduli lagi dengan persaingan Mbappe dan Messi. Kita kembali larut dalam kesibukan-kesibukan kita yang lain.
Begitulah sepakbola, begitulah Piala Dunia.
Kebahagiaan, adrenalin, gairah mendukung, percekcokan, perdebatan, analisis, dan segala rupa atribut lainnya itu kelak memang akan menguap begitu saja.
Kita lalu akan sabar menunggu piala dunia lagi, memilih dan mendukung tim idola lagi, bersorak-sorai lagi, bergembira lagi, berjudi lagi, memacu adrenalin lagi. Lalu melupakannya lagi. Begitu seterusnya.
Sekali lagi, begitulah semesta sepakbola. Dunia aneh yang bisa membuat kita menaruh iba kepada Mbappe, tanpa kita peduli, bahwa gaji Mbappe sebulan masih jauh lebih besar dari gaji kita seumur hidup.
Hanya di semesta sepakbola-lah, kita bisa kasihan kepada Mbappe, tanpa kita peduli, ketika kita sibuk mencampur air ke dalam botol shampoo yang mulai habis lalu mengocoknya agar masih bisa dipakai, Mbappe bisa dengan mudah membuat kolam renang yang isinya shampo semua.
Selamat, Messi. Selamat, Argentina.
Semacam Review Film “Srimulat: Hil yang Mustahal”
Saya cukup beruntung karena ikut menonton film “Srimulat: Hil yang Mustahal” dalam pemutaran gala premier di XXI Epicentrum Kuningan pada 12 Mei 2022 lalu alias seminggu sebelum film ini resmi dirilis ke bioskop pada 19 Mei 2022 mendatang. Ini film yang saya tidak ragu dan tidak punya beban untuk merekomendasikannya kepada orang-orang.
Film ini bercerita tentang kisah perjalanan kelompok lawak Srimulat dalam meniti karier dunia hiburan, tentang bagaimana grup lawak ini, yang sudah cukup punya nama di daerah melalui pementasan panggung, berusaha untuk melebarkan sayapnya ke ibukota sebagai grup lawak nasional melalui pementasan televisi.
Ada sederet masalah yang harus mereka hadapi, dari masalah laten pelawak: gagal tampil lucu, proses pencarian ciri khas persona masing-masing personel, sampai masalah kecakapan bahasa Indonesia mereka yang kurang fasih dan lancar.
Impresi saya pada film ini jelas: Ini film komedi yang bagus dan layak untuk ditonton. Film ini sangat menghibur, dan unik. Saya katakan unik, sebab formula humor yang dipakai dalam film ini benar-benar humor lawas yang, saya pikir, sudah nyaris punah bertahun-tahun yang lalu. Tipikal komedi farce yang dramatik dan karikatural.
Sebagai ilustrasi, dalam film ini, ada adegan di mana Rano Karno meminum teh dan ia salah menempelkan cangkir tehnya, bukan pada mulutnya, melainkan pada matanya. Ini jenis adegan komedi yang tentu saja satu liting dengan adegan orang mengambil bola yang setelah diangkat ternyata kepala orang, atau adegan saat seseorang salah paham menggunakan es contong sebagai teropong untuk melihat sesuatu. Adegan-adegan yang mengiringi kehidupan komedi kita di masa lalu.
Dan keparat, adegan Rano Karno yang salah menempelkan cangkir tehnya itu, yang harusnya jayus dan oldies itu, ternyata berhasil membuat saya dan nyaris seluruh penonton di dalam bioskop tertawa terbahak-bahak. Ini menyebalkan, kami dibuat tertawa oleh adegan yang seharusnya bikin kami mengelus dada.
“Asuuuuu, mung koyo ngene wae kok aku iso ngguyu.”
Bahkan sekadar melihat adegan Tarzan yang diperankan oleh Ibnu Jamil bertemu dengan perwakilan pejabat pemerintah yang diperankan oleh Tarzan yang asli (Toto Muryadi) pun, saya lagi-lagi tertawa.
Film “Srimulat: Hil yang Mustahal” benar-benar membuat selera humor penonton merosot berjamaah, sebab film ini membuat penonton tertawa terus-menerus melalui adegan-adegan komedi yang receh. Komedi yang sama sekali tidak butuh mikir. Saya jadi agak meragukan intelektualitas humor saya.
Walau secara format film ini adalah film biopik, namun kisah dalam film ini dibumbui gaya lawakan yang tentu saja ala Srimulat. Singkatnya, film ini menceritakan kisah nyata personel Srimulat, namun dibalut dengan komedi panggung Srimulat. Jadi, ini bukan film yang 100 persen biopik. Ini semacam peleburan antara dunia nyata dan dunia panggung. Dan peleburan itu berhasil.
Tentu saja ada ekspektasi yang luput. Ketika akan menonton film ini, saya sebenarnya berharap ada adegan yang, walau hanya sekilas, menceritakan bagaimana transformasi para personel dari sebelum masuk Srimulat menuju momen saat sudah di Srimulat. Ya misal kisah sekelebat bagaimana seorang Kabul, yang tampil kemayu itu, dengan nama panggung Tessy itu, dulunya adalah seorang marinir KKO. Namun sayang, ekspektasi itu tidak saya dapatkan. Padahal menurut saya, itu penting sebagai sebuah kisah biopik.
Kendati demikian, toh saya tetap puas dengan film ini. Selain karena faktor komedinya yang memang berhasil, juga kecemerlangan tim casting dan make-up yang berhasil menyeleksi dan memermak aktor-aktris dengan total sehingga mereka pas memerankan tokoh-tokoh pemain Srimulat dan juga tokoh-tokoh di luar Srimulat.
Pemilihan para aktor dan aktris yang terlibat, wabil khusus Ibnu Jamil sebagai Tarzan, Zulfa Maharani sebagai Nunung, Elang El Gibran sebagai Basuki, dan Bio One sebagai Gepeng, menurut saya adalah manuver yang jitu.
Dan ya, saya sempat dibikin kaget dengan sosok Pak Djijat yang berperan dengan amat sempurna sebagai Presiden Soeharto dan Endah Laras sebagai Bu Tien. Saat adegan yang melibatkan mereka berdua muncul, ada perasaan mak tratap, saya sampai mengira Pak Harto dan Bu Tien hidup lagi.
Lebih lanjut, ada banyak fragmen-fragmen kecil penyokong komedi yang sangat berhasil dalam film ini. Fragmen-fragmen itu pula yang saya pikir ikut berperan membuat adegan seorang Rano Karno salah menempelkan cangkir menjadi amat lucu.
Yang paling penting, kalau memang harus ada pesan moral seperti selayaknya produk kebudayaan masyarakat ketimuran, film ini memberikan pelajaran penting tentang kolektivitas dalam berorganisasi, apalagi sebuah organisasi lawak. Dalam hal ini, saya mengingat jelas apa yang dikatakan oleh tokoh tukang jahit yang diperankan oleh Arief Didu: “Menjadi pelawak itu nggak harus lucu, tapi harus bisa bikin teman-temannya lucu.” Betapa dunia lawak adalah hal yang bukan hanya butuh ekosistem, namun juga support system.
Dan saya pikir, film ini sangat berhasil mengejawantahkan hal itu, sebab menurut saya, adegan paling lucu dan berhasil memancing tawa yang panjang dalam film ini justru adegan selengekan Ki Sapari yang diperankan oleh Whani Darmawan, sosok yang saya tidak menyangka dan tidak terlalu berharap ia bakal selucu itu.
Sekali lagi, ini film yang bagus dan menyenangkan. Kalau ada waktu, tontonlah.
Burung Saya Disunat Dengan Cara Militer
Sebagai orang yang tinggal di kampung yang posisinya diapit oleh markas dan kompleks perumahan Akademi Militer, kehidupan saya dipengaruhi betul oleh nuansa tentara. Pengaruh militer yang saya dapatkan dalam hidup menyentuh banyak aspek.
Rutinitas pagi saya, misalnya, selalu dimulai dengan lebih dulu mendengarkan suara drumben dari Akademi Militer ketimbang azan subuh dari musala dekat rumah. Soal tidur, saya terbiasa tidur dengan seprai bergambar logo Akademi Militer. Di dapur, dingklik (bangku pendek) yang sering dipakai keluarga kami adalah kotak bekas wadah amunisi. Urusan wisata, sedari kecil saya sudah terbiasa diajak berkeliling ke Taman Panca Arga dan oleh Bapak saya sering diajari bagaimana cara memutar penembak pada tank tempur.
Namun, dari sekian aspek kemiliteran yang pernah menyentuh kehidupan saya tersebut, rasanya tak ada yang lebih besar pengaruhnya daripada aspek yang satu ini, yakni ketika saya disunat menggunakan cara militer.
Ya, saking besarnya pengaruh militer dalam hidup saya, sampai-sampai perangkat yang paling vital dalam hidup saya pun terbentuk atas kerja-kerja kemiliteran.
Saya disunat saat duduk di bangku kelas 5 SD dan, seperti penjelasan saya tadi, saya disunat menggunakan cara-cara militer alias disunat oleh dokter militer, di markas militer, bahkan dengan prosedur yang militer pula.
Sebagai seseorang yang begitu mendukung pencabutan Dwifungsi ABRI, saya merasa sulit untuk mengakui hal ini, tetapi kebenaran, seperih apa pun itu, memang harus dikatakan. Lha gimana? Jangankan urusan pemerintahan, wong urusan burung saja tentara bisa ikut campur sebegitu dalamnya di kehidupan saya.
Kejadiannya bermula saat saya sedang libur caturwulan. Ndilalah, pas libur itu Akademi Militer mengadakan acara sunat massal. Rupanya, beberapa teman sekolah saya ikut mendaftar. Saya lalu ditawari oleh salah seorang kawan, sebut saja dia Rojib, untuk ikut acara tersebut.
“Gus, kamu mau ikut sunat di Akmil nggak?” tanya Rojib kepada saya.
“Ah, nggak, ah. Males,” jawab saya.
Alasan saya sebenarnya bukan males, tapi takut. Hanya saja, sejak kecil saya memang sudah terbiasa untuk berdiplomasi mengamankan harga diri sehingga untuk urusan tipu-tipu saya sudah cukup lihai dan ahli.
“Mumpung ada kesempatan, lo. Yang lain juga pada ikut,” desak Rojib.
“Aduh, ikut nggak, ya? Tapi, aku males je, Jib.”
“Sudah, ikut saja. Lagian mau massal apa tidak, toh kamu nanti bakal tetap merasakan sunat. Kalau bareng-bareng, kan, enak, banyak temannya,” kata Rojib memaksa.
“Ya, sudah, nanti aku pikir-pikir lagi, deh,” pungkas saya.
Ketika itu jelas saja saya takut. Maklum, bagi anak kecil seusia itu, sunat adalah sesuatu yang sangat mengerikan. Jari tangan kebeset pisau saja rasanya sakit minta ampun, ini kok malah mau sengaja dipotong kulitnya. Duh, nggak kebayang sakitnya.
Saya merenung beberapa saat. Lama-kelamaan pikiran soal ketakutan itu terkubur oleh bayangan saya akan perasaan malu. Bagaimana seandainya kawan-kawan saya yang lain yang ikut sunat ternyata mengejek saya sebagai anak penakut dan bermental tempe karena nggak berani sunat? Duh, duh, mau ditaruh di mana muka saya?
Bayangan akan takut disunat dan takut dipermalukan kawan-kawan itu berkelindan hebat di pikiran saya.
Pada akhirnya dengan segala pertimbangan yang ada saya memutuskan ikut mendaftar sebagai peserta di acara sunat massal tersebut. Semahal apa pun harga diri, ia harus dibayar, meski rasa sakit disunat yang harus menebusnya.
Tanpa meminta izin dahulu kepada Bapak, saya diantar Rojib mendaftar ke sekretariat sunat massal di Akademi Militer.
Sepulang dari sana, dengan masih diiringi bayangan rasa takut disunat, saya membayangkan pujian yang akan segera saya dapatkan dari Bapak karena telah mengambil keputusan heroik.
Begitu sampai rumah saya langsung mengabarkan kepada Bapak perihal pendaftaran sunat massal tersebut. Namun, boro-boro mendapatkan pujian, saya justru dimarahi habis-habisan. Bapak marah setengah mati karena saya mendaftar sunat massal tanpa konsultasi dulu dengan dirinya. Bapak merasa saya merendahkan dirinya, menganggap Bapak nggak mampu membayar biaya sunat pribadi sampai-sampai anaknya harus ikut sunat massal.
Padahal saya tidak bermaksud demikian. Namun, apa mau dikata, nasi sudah menjadi bubur, maka mau tak mau bubur tadi harus dibuat seenak mungkin. Beberapa hari kemudian perwakilan dari panitia sunat massal mendatangi rumah kami untuk mengonfirmasi pendaftaran peserta. Bapak pun dengan terpaksa setuju dan mengizinkan saya mengikuti sunat massal tersebut.
Hari demi hari berlalu begitu cepat, tak terasa waktu semakin mendekati hari-H pelaksanaan sunat massal. Saya semakin ketakutan. Terlebih lagi banyak orang yang iseng menakut-nakuti saya tentang betapa sakitnya disunat.
Ada yang cerita soal ngilunya disunat, cerita bagaimana detail saat pisau itu mengiris kulit anu kita, sampai cerita-cerita pedih pengalaman sunat.
Kisah-kisah tersebut membuat penantian saya terasa lebih panjang dan lebih menyebalkan.
Pada akhirnya, waktu memang wasit yang paling adil. Hari-H datang jua. Saya ingat, momen itu jatuh pada hari Sabtu.
Saya berangkat bersama beberapa kawan satu SD yang juga ikut sunat. Di markas Akademi Militer sudah menunggu puluhan peserta lain yang telah siap dipotong kulit pucuk burungnya.
Kami para peserta sunat massal dikumpulkan di halaman salah satu ruangan dengan sebuah tenda militer (yang bentuknya mirip tenda sirkus) sebagai peneduh.
Entah apa motivasinya kami dikumpulkan di bawah tenda militer yang mirip tenda sirkus tersebut. Mungkin agar kami teringat dengan badut dan terlupa pada bayangan rasa sakit. Mungkin.
Masing-masing dari kami ditemani dua orang kerabat. Ketika itu saya ditemani bapak dan paman saya. Kalau tak salah, jumlah peserta yang ikut disunat ada delapan puluh orang. Peserta yang satu SD dengan saya ada enam orang, sedangkan peserta lainnya berasal dari SD lain yang masih satu kecamatan. Segelintir kecil sisanya merupakan kerabat dari tentara yang berdinas di Akademi Militer.
Pada saat itu saya merasakan kecemasan dan ketakutan yang teramat sangat. Saya melihat hal tersebut juga terjadi kepada peserta yang lain, termasuk kawan-kawan satu SD saya. Padahal, sebelum ini, kami sudah memantapkan diri untuk membangun tinggi tembok ketegaran dan keberanian. Apa daya, begitu sampai di markas Akademi Militer, keberanian kami menguap begitu saja.
Kami berdelapan puluh saling memperkenalkan diri. Beberapa dari kami juga saling bercengkerama untuk menghibur diri dan mencairkan suasana sebelum waktu “penjagalan” tiba.
Tepat pukul 10 pagi acara penjagalan dimulai. Satu per satu dari kami diminta mengambil kertas undian yang menentukan urutan sunat.
Saya maju dengan langkah gontai dan mengambil kertas undian tersebut. Saya membukanya perlahan, di kertas tersebut tertulis angka 24. Ya, saya mendapatakan nomor urut 24. Lumayanlah, tak terlalu awal, pun tak terlalu akhir, batin saya.
Satu per satu peserta masuk ke ruang-ruang pemotongan. Enam bilik telah disiapkan untuk pelaksanaan eksekusi, jadi untuk setiap satu giliran masuk, akan ada enam peserta yang disunat.
Saya mendapatkan nomor urut 24, itu artinya saya akan masuk pada giliran keempat. Setiap satu gelombang masuk, kira-kira waktu yang dihabiskan sekitar lima belas sampai dua puluh menit. Itu berarti masih ada waktu sekitar empat puluh lima menit sebelum saya menghadap dokter dan menjalani proses “penjagalan”. Sisa waktu itu saya pergunakan untuk menenangkan diri sambil berdoa. Tak lupa saya dan peserta lain saling menyemangati.
“Tenang saja, kata bapakku nggak sakit kok, rasanya kaya digigit semut,” kata seorang peserta kepada saya, bermaksud mengurangi rasa takut.
Saya hanya bisa mengiyakan walaupun dalam hati saya sebenarnya menjawab begini: Nggak sakit, ndiaaasmu. Iya, memang kaya digigit semut, tapi semutnya segede knalpot motor Ninja!
Terlepas dari banyak orang mengatakan bahwa sakitnya tidak seberapa, saya tahu, yang namanya disunat pastilah sakit. Tapi, untuk menenangkan suasana saya pun terpaksa berkompromi dengan omong kosong mereka.
Diselimuti ketakutan dan rasa waswas yang sama rupanya melahirkan jiwa korsa khas militer yang kuat di antara kami para peserta. Kami seakan-akan menjadi satu keluarga yang dipersatukan oleh rasa sakit yang sama. Kami memang tak saling mengenal dengan baik, tapi ketakutan akan rasa sakit akibat disunat membuat kami lebur dalam kebersamaan.
Di tengah penantian, ada satu momen yang, sungguh, membuat saya begitu emosional dan semakin menebalkan rasa takut saya. Entah bagaimana ceritanya, mendadak ada satu peserta yang pingsan sebelum disunat. Ia kemudian digotong ke luar ruangan dengan melewati barisan tempat saya dan kawan-kawan lain menunggu giliran.
Asuuuuuuuuuu...
Penantian saya yang sebenarnya tinggal beberapa belas menit itu menjadi terasa begitu panjang setelah melihat adegan yang bajangkrek setan alas tadi.
Dengan perjuangan penantian yang penuh keringat dingin, saya akhirnya dipanggil maju ke ruang penjagalan. Mau tak mau saya memang harus masuk ke ruangan putih itu tanpa boleh ditemani orangtua dan tanpa sempat menuliskan surat wasiat.
Sesampainya di ruangan, saya disuruh tiduran di salah satu bilik yang kosong. Sambil sesekali mengintip, saya bisa melihat peserta lain yang biliknya tepat berhadapan dengan bilik yang saya tempati. Seraut ekspresi ketakutan tergambar jelas di wajah peserta itu.
“Sudah siap, Dik? Nggak sakit, kok. Kalau nanti mau nangis, jangan ditahan. Nangis saja nggak apa,” kata dokter yang sebentar lagi mengeksekusi properti saya.
“Nggih, Pak Dokter, saya siap,” jawab saya penuh kecemasan.
“Kelas berapa?” tanyanya penuh basa-basi
“Kelas 5, Pak,” jawab saya masih dengan kecemasan yang sama.
“Oh, dari SD mana?”
“Dari SD Banyurojo 1, Pak.”
“Di sini diantar sama siapa? Bapak?” tanyanya lagi, seperti intel.
“Diantar Bapak sama Paklik.”
Dokter itu berkali-kali mengajukan pertanyaan yang menurut saya nggak penting. Saya tahu, itu upaya pengalihan isu. Jadi saya menjawab sekenanya saja. Setelah melewati beberapa pertanyaan yang membosankan, akhirnya ia sampai juga pada pertanyaan tentang urusan sunat.
“Mau pakai bius suntik atau bius oles?” tanyanya dengan nada bicara yang rendah.
Saya berpikir sejenak dan kemudian mantap menjawab, “Pakai bius oles saja, Pak, kalau pakai bius suntik, kan, sakit.”
“Ya, sudah, saya mulai saja, ya?” tanyanya yang hanya saya jawab dengan anggukan.
Dengan bantuan dua asisten, si dokter mulai mengoleskan obat bius tersebut. “Sakit nggak?” tanya Dokter sambil mengetes apakah obat biusnya sudah bekerja dengan cara menyentil-nyentil properti saya.
“Nggak sakit, Pak, tapi masih terasa.”
Beberapa saat kemudian tiba-tiba saya merasa ada tusukan jarum tajam yang menghunjam. Saya melirik sekilas. Buset, ternyata saya disuntik! Saya pun mengajukan protes.
“Lo, Pak! Sakit, Pak. Katanya tadi saya cuma dibius oles, kok, masih disuntik juga? Percuma dong tadi saya jawab pertanyaan Pak Dokter?” tanya saya dengan nada protes sambil meringis.
“Kalau cuma dibius oles nanti sakitnya terasa sekali. Tapi, kalau disuntik juga, sakitnya nggak akan begitu terasa,” jawabnya dengan nada diplomatis.
Bedebah betul ini dokter. Kalau saja saya tak ingat bahwa masa depan saya ada di tangannya, mungkin sudah saya pisuhi pak dokter satu ini.
Sejurus kemudian saya melewati sepuluh menit yang tidak akan terlupakan bagi saya. Rasa sakit itu begitu terasa kendati saya sudah dibius oles dan suntik.
Efek yang ditimbulkan rasa sakit memang membuat segala sesuatu terasa lebih lama. Sepuluh menit menjadi seperti satu jam.
Saya tak peduli bagaimana proses penyunatan berlangsung, tak tahu dikemanakan pula kulit burung saya dan bagaimana proses penjahitannya. Sebab, sepanjang proses penyunatan saya terus-menerus memejamkan mata.
Begitu proses selesai, dengan (tentu saja) segenap rasa sakit yang masih tersisa, saya berjalan keluar dengan dipapah oleh salah seorang petugas.
Saya keluar dari ruang penjagalan dengan perasaan yang oleh Silampukau digambarkan dengan “utuh sebagai lelaki”.
Di ujung pintu keluar saya melihat kawan-kawan seperjuangan saya menatap getir. Ingin saya berkata kepada mereka, “Jangan takut, tidak sakit, kok,” untuk sekadar menenangkan mereka. Namun, hal itu tentu saja saya urungkan karena wajah ngilu saya sudah pasti bakal membuat perkataan itu tak lebih dari omong kosong belaka.
Sampai di rumah, saya mendapatkan ganjaran atas sakit yang sudah saya alami. Uang amplopan dari para tetangga yang jumlahnya lumayan banyak itu boleh saya gunakan. Tentu setelah dipotong pajak keluarga dan pengeluaran untuk menyuguh para tamu yang datang menjenguk.
Disunat dengan cara militer membuat saya punya pengharapan militeristik terhadap kehidupan saya. Setidaknya, saya pernah berkeinginan bisa masuk TNI atau minimal menjadi lelaki yang gagah berani seperti prajurit.
Nyatanya, pengharapan tersebut semu belaka. Saya tumbuh menjadi lelaki yang jauh dari kata gagah berani. Lelaki lemah dengan akun rekening yang jauh lebih lemah lagi. Lelaki kurus yang bahkan tidak cukup layak untuk ikut seleksi masuk Akademi Militer.
Lama-kelamaan, peruntungan tersebut bisa saya maklumi, sebab saya sadar, pada diri saya, yang militer cuma burung saya thok, sedangkan kaki, selangkangan, perut, tangan, kepala, dan yang lainnya tetaplah sipil.
Seorang Lelaki yang Menjual Kalung Kesehatan
Sore hari yang menyenangkan. Saya sedang sibuk memberi makan dua kompi ikan lele yang saya pelihara di dalam dua ember besar di halaman rumah saat lelaki muda itu datang.
Ia tidak memperkenalkan dirinya. Atau mungkin ia memperkenalkan diri tapi saya lupa atau tak terlalu memperhatikannya. Yang jelas, dari gelagatnya, saya sudah langsung tahu bahwa di adalah seorang salesman.
Ia datang dengan rambut yang begitu klimis. Sepintas lalu, rambutnya itu benar-benar tak ada beda dengan rambutnya Marshello si vokalis band The Hydrant itu. Kemejanya begitu rapi. Sepatunya mengkilap dan hitamnya paten seperti sepatu ketua OSIS di hari senin sesaat sebelum upacara bendera. Saya yakin, sepatunya itu sudah punya chemistri yang sangat erat dengan semir Kiwi.
Ia kemudian mulai berbasa-basi.
“Mas ini asli sini, Mas?” tanya dia dengan sangat ramah.
“Nggak, saya di sini cuma ngontrak, Mas. Saya asli Magelang.”
Tepat saat saya menyebut Magelang, tampangnya langsung berubah. Tampangnya menjadi lebih bersahabat. Rambutnya yang klimis itu menjadi tampak lebih berkilau.
“Magelangnya mananya Tegalrejo, Mas?”
“Agak jauh, saya dekat Akmil.”
“Saya dulu pernah mondok di Tegalrejo, Mas.”
“Pondok API-nya Gus Yusuf?”
“Nah, iya. Gus Yusuf itu kiai saya.”
“Oh, saya kenal baik sama beliau, baru dua minggu lalu saya sowan ke sana.”
Kami kemudian sempat ngobrol sejenak tentang pondok API (Asrama Perguruan Islam) Tegalrejo itu.
Sejurus kemudian, dengan manuver yang cukup halus, ia kemudian mulai memancing saya ke inti perkara. Saya tahu ia akan menawarkan sesuatu pada saya. Sedari awal, saya sudah memantapkan diri untuk menerimanya dengan baik, selayaknya seorang tuan rumah yang beriman dan berakhlak.
Namun, sedari awal pula saya sudah memantapkan diri untuk tidak akan membeli apa yang ia jual jika memang saya tidak benar-benar membutuhkannya, apalagi jika harganya mahal.
“Ini tak akan lama, saya akan mengakhirinya di saat yang tepat,” batin saya dalam hati.
Yang ia tawarkan kepada saya ternyata adalah sebuah kalung. Kalung ion. Atau apalah itu namanya. Intinya, ia menjabarkan bahwa kalung tersebut punya manfaat yang baik untuk tubuh saya.
Penjelasannya tentang manfaat kesehatan kalung yang ia jual membuat dirinya seketika berubah dari seorang vokalis band rockabily menjadi seorang mantri kesehatan dari sebuah puskesmas di daerah terpencil.
Sambil sesekali bercerita tentang produknya, ia sempat pula bercerita pada saya bahwa ia sedang dalam masa training. Ia mendapat tugas dari kantor tempatnya bekerja untuk menjual kalung tersebut.
Saat ia menceritakan kisahnya tersebut, mendadak saya melihat diri saya muncul pada diri kawan kita ini. Ingatan saya langsung terlempar ke masa sembilan tahun yang lewat, saat saya berada dalam posisi yang sangat bingung karena tak punya pekerjaan yang pada akhirnya menuntun saya untuk melamar di sebuah perusahaan kecil di mana saya mendapatkan tugas pertama untuk menjual jas tuxedo.
Bayangkan saja, saya, dengan wajah yang begitu dekil dan sangat tidak eksekutif, harus menjual jas tuxedo, pakaian yang identik sebagai pakaian orang-orang kantoran sukses. Bayangan kekhawatiran saya saat itu tentu saja bukan kalau jas yang saya jual tidak laku, namun khawatir kalau-kalau saya justru dituduh sebagai orang yang habis maling jemuran londri dan kemudian sedang berusaha untuk menjual barang curiannya.
Saya tak bertahan lama di perusahaan tersebut dan memutuskan keluar karena saya sadar, tidak akan mudah bagi saya untuk menjual jas tuxedo. Itu usaha yang sama konyolnya seperti orang botak yang menjual obat penumbuh rambut. Bagi saya, keberhasilan adalah perpaduan antara kerja keras dan realitas.
Ah, keparat. Sampai mana tadi?
Oh ya, demi mendengar ceritanya bahwa dia sedang dalam masa training itu, saya pun mencoba berbasa-basi. Saya menampakkan sedikit rasa ketertarikan saya pada kalung tersebut. Walau sedari awal, sekali lagi, saya sudah memantapkan diri untuk tidak akan membelinya. Hal itu semata saya lakukan demi meningkatkan kepercayaan diri kawan kita ini saat menawarkan barangnya di rumah berikutnya setelah saya. Semacam penyemangat bahwa barang yang ia jual punya nilai yang membuat orang tertarik walau mungkin belum tentu mau membelinya.
“Berapa, Mas?”
Ia tak langsung menyebutkan harga aslinya. Ia melipir jauh dengan menyebutkan harga yang cukup mahal dan kemudian menurunkannya jika saya membeli darinya saat itu juga.
Pada akhirnya, ia menyebutkan harga akhirnya: 299 ribu.
Memang jauh lebih murah ketimbang harga yang ia sebutkan di awal, namun tetap saja, bagi saya, itu harga yang cukup mahal untuk sebuah kalung yang saya bahkan belum terlalu tahu banyak kevalidan manfaatnya.
“Kalung ini bagus kalau dipakai dan menempel di dada. Bisa menetralisir racun, Mas. Bisa melancarkan aliran darah,” terangnya. “Bisa juga buat detoksifikasi air, Mas. Nanti kalau Mas mau minum, kalung ini dicuci dulu, nanti dicelupkan ke air yang mau diminum. Diamkan dua menit saja.”
Bagi saya, tidak ada sesuatu yang benar-benar membuat saya tertarik pada produk yang ia tawarkan setelah ia menjelaskannya dengan panjang lebar.
Tak mau menyerah, kawan kita ini kemudian mengeluarkan ponselnya lalu memutarkan dan menunjukkan pada saya video testimoni dan khasiat kalung tersebut.
Jujur, saya tidak bisa fokus pada video yang ia putarkan, saya justru fokus pada ponsel yang ia pakai untuk memutar video tersebut. Sungguh sebuah ponsel android butut yang saya yakin pasti sudah melalui banyak asam-garam onak-duri dan benturan. Ada banyak lecet dan goresan. Tempered glass-nya sudah retak di beberapa sisi.
“Oke, sebelum semakin lama, saya harus segera mengakhirinya,” batin saya setelah ia memutarkan video tersebut.
Namun tampaknya, kawan kita ini benar-benar seorang pekerja keras. Ia terus menembakkan kalimat-kalimat yang membuat saya mau tak mau harus bertahan lebih lama. Kata-katanya berluncuran seperti peluru yang berebutan keluar dari magasin.
Ini tentu saja berbahaya. Saya adalah orang yang tidak tegaan. Semakin lama waktu yang ia habiskan untuk berusaha, maka semakin rapuh pertahanan saya dan semakin tak tega saya untuk menolaknya.
Maka, saya terpaksa mengambil langkah taktis untuk menolaknya dengan cara yang, entah bagaimana, mendadak terpikir dengan spontan.
“Mas, kalau mas kasih saya harga 200 ribu, saya ambil. Tapi kalau nggak, ya sudah. Lain kali saja.”
Saya sudah memperhitungkan hal tersebut. Saya sudah yakin ia tak akan melepas kalungnya di angka 200, sehingga saya pikir, ini penolakan yang cukup halus dan tak menyakitkan hati.
Benar saja. Dugaan saya tak meleset, Ia tak mau melepas kalungnya di angka 200.
“Maaf nggih, Mas. Ini sudah dari sananya. Saya bisa dimarahi kalau jual 200. Saya nanti harus nombok,” terangnya dengan wajah penuh kekecewaan. “299 ini aja sudah harga diskon, Mas.”
“Nggih, pun, Mas, kalau begitu. Mungkin lain kali,” kata saya.
“Ya sudah, Mas.”
Ia tampak layu. Ia kemudian mulai mengemasi barang dagangannya lengkap dengan aneka brosur dan tetek bengek lainnya yang sedari tadi ia gunakan untuk “berperang” melawan saya.
Saya sudah bersiap dan menguatkan diri untuk menerima wajah ketus dari orang yang sudah berpanjang lebar menjelaskan barang dagangannya namun ternyata yang diterangkan menawar dengan kejam dan pada akhirnya tidak membelinya.
Namun, kali ini, dugaan saya meleset jauh. Yang terjadi ternyata justru sebaliknya. Kawan kita ini justru berlalu dengan wajah yang tetap menggembirakan.
“Maaf sudah menganggu waktunya nggih, Mas” katanya dengan wajah yang tak kalah ramah dengan wajah yang ia tampakkan tadi di awal. Melihat wajahnya yang tetap pasang wajah ramah itu, ada semacam sesak dalam diri saya.
Sesaat sebelum ia benar-benar pergi meninggalkan saya dan keluar dari halaman rumah saya, ia sempat berbalik pelan dan kemudian mengatakan sesuatu yang sebentar lagi bakal membalikkan keadaan.
“Mas, kalau suatu saat Mas mampir lagi ke Tegalrejo, tolong sampaikan salam saya buat Gus Yusuf, ya.”
Blaaaaar. Tepat setelah ia mengatakan kalimat itu, hati saya langsung mencelos. Saya membalas “Ya,” dengan perasaan yang campur aduk.
Ya Tuhan. Saya mungkin bisa menolak tawaran dari seseorang yang menjual barang yang saya tak membutuhkannya. Namun jelas saya tak bisa menolak tawaran dari seseorang yang senantiasa ingat, hormat, dan takzim pada guru dan kiainya.
Maka, baru beberapa langkah ia berjalan, saya segera memanggilnya.
“Mas!” kata saya. “Ya sudah, boleh deh, 299 ribu.”
Ia kembali pada saya dengan wajah yang semringah. Saya masuk ke rumah untuk mengambil uang lalu membayarkannya.
“Semoga rejekinya lancar ya, Mas,” kata dia. Sungguh sebuah doa yang saya yakin ia berikan dengan tulus. Doa yang kalau setelah ini rejeki saya menyerbu laksana air bah, maka saya yakin salah satunya karena doa tersebut.
“Aamiin, Mas. Suwun,” kata saya.
Ia pun kemudian berlalu. Saya memandangi kalung yang kini berada di tangan saya. Saya menatapnya dengan prengas-prenges. Kalung yang membuat saya membatin “Bajigur, kok iso-isone aku tuku barang koyo mene.” Ketika beberapa minggu lalu saya nekat membeli ketipung dangdut, saya merasa itu sudah sangat tidak masuk akal. Tapi ternyata, saya akhirnya membeli barang yang jauh lebih tidak masuk akal lagi.
Kalung itu menjadi bukti bahwa seseorang bisa kalah sekaligus menang dalam waktu bersamaan.
Hari itu, saya merasa tidak sedang membayar untuk sebuah kalung. Saya membayar untuk sebuah rasa hormat seorang murid terhadap gurunya, sekaligus rasa takzim seorang santri kepada kiainya.
Dengan harga yang kelewat “murah”.
Sugeng Tindak, Didi Kempot
“Sugeng sonten, Gus Mul, menawi wonten wekdal, Insya Allah dalem bade wonten siar wonten De Tjolomadoe Solo, saget pinanggih, matur sembah suwun,” begitu pesan video dari Mas Didi Kempot.
Ketika mendapatkan pesan video tersebut pada pertengahan Agustus tahun lalu melalui kawan saya, Pakdhe Blontank, betapa mongkok sekaligus segan hati saya. Mongkok karena akhirnya saya bakal bisa ngobrol banyak dengan sosok pendekar campursari Indonesia itu, sekaligus segan sebab ia menyampaikan pesannya dalam bahasa Jawa halus.
Beberapa hari berselang, saya akhirnya benar-benar bertemu dengan Didi Kempot. Lelaki yang saat itu boleh dibilang sedang berada di puncak kariernya itu menemui saya yang datang bersama kawan-kawan Mojok di sebuah ruang khusus di belakang panggung De Tjolomadoe, sebuah bangunan bekas pabrik gula terbesar di Solo raya. Saat itu, ia sedang gladi resik untuk konser kemerdekaan yang memang akan dilenggarakan di sana.
Di dalam ruangan berukuran sekira 4×6 meter itu, kami ngobrol banyak hal. Tentang Mas Mamiek, tentang Pak Ranto, juga tentang bagaimana dulu ia merintis karier.

Ia antusias menceritakan tentang proses pengambilan video klip yang baru saja ia rampungkan beberapa hari sebelumnya di sebuah kolam renang di hotel di Solo.
Saya melihat hasil video klip tersebut. Sebuah video yang, menurut saya, sangat tidak sepantasnya untuk ukuran seorang Didi Kempot. Maklum saja, pengambilan video klip tersebut hanya menggunakan kamera biasa, tanpa tata lampu dan tetek bengek lainnya seperti selayaknya pengambilan video klip artis-artis lain.
“Sing penting ki hasile, Mas,” kata Didi Kempot, kali ini dengan bahasa Jawa ngoko. “Lha nganggo kamera apik tapi sing nonton sithik, percumah.”
“Mashook, Pak Didi.”
“Biyen kuwi, Via Vallen le rekaman neng studione kancaku, aku ngerti dhewe deknen ngasi turu klekaran neng sofa ngenteni jadwal rekamane,” ujarnya, “Delok saiki hasile.”
* * *
Saat Musyawarah Nasional Lara Ati pertama kali diselenggarakan di Surakarta, saya tak bisa hadir. Pelaksanaan munas yang kelak menjadi awal terbentuknya embrio sobat ambyar yang menaungi sad bois dan sad girl (wadah bagi pengemar Didi Kempot) di berbagai kota di seluruh Indonesia itu kebetulan bertepatan dengan hari lamaran saya.
Kelak, Jarkiyo, salah satu penggagas acara dadakan yang ternyata dihadiri langsung oleh Didi Kempot itu kemudian secara ndlogok menyebut saya sebagai penasihat sobat ambyar.
Saya pikir, itu julukan yang hanya main-main belaka. Hingga kemudian, dalam sebuah konser Didi Kempot di The Sunan, Solo, beberapa bulan yang lalu, Jarkiyo meminta saya untuk memberikan semacam laporan langsung terkait konser tersebut di akun Instagram Sobat Ambyar.
Postingan laporan langsung tersebut ternyata ditonton oleh banyak sad bois dan sad girl di seantero Instagram dan Twitter hingga kemudian banyak orang yang benar-benar melabeli saya sebagai penasihat sobat ambyar.
“Aku ki wis tunangan, Pak, mosok mlebu sobat ambyar. Lagipula, wong sing wis ambyar ki kadang ora perlu dinasihati” kata saya pada Jarkiyo saat ia mengantarkan kaos The Godfather of Brokenheart untuk saya.
“Justru mergo awakmu wis tunangan kuwi, Pak, kowe njuk dadi penasihat. Nek kowe hurung tunangan, statusmu anggota biasa.”
“Asuuuuuu.”
Malam itu, konser Didi Kempot berlangsung sangat meriah. Penonton penuh dan menggila. Lagu Pamer Bojo sampai dinyanyikan dua kali.
Setelah konser selesai, saya menunggu di depan lobi hotel karena kawan saya Pakdhe Blontank Poer berjanji akan memfasilitasi kawan-kawan yang ingin ngobrol-ngobrol sejenak dengan Mas Didi Kempot.
Saya duduk di dekat tangga sembari menyaksikan rombongan penonton yang antri keluar dari hall konser tepat di sebelah hotel.
Dan bajingan, sobat-sobat ambyar yang antre untuk keluar itu ternyata tak sedikit yang tahu tampang saya. Mereka, lengkap dengan atribut kaos dan bendera “Sobat Ambyar”, “Sad bois club”, “Pasukan lara ati” dsb itu kemudian mendatangi saya untuk salaman atau sekadar melambaikan tangan dan menyapa saya yang mungkin mereka kenal sebagai penasihat sobat ambyar itu.
“Mas Agusss, kulo wangsul rumiyin…”
“Eh, Mas Agus…”
“Mas Agus, ndisikan…”
Demi melihat adegan yang, saya tak tahu itu membanggakan atau malah ngisini-isini itu, kawan saya, Masjun yang duduk di sebelah saya persis langsung tertawa keras.
“Asuuuuu, bocah-bocahmu militan tenan, Nda,” kata dia.
“Iyoik…”
Sejak saat itulah saya sadar, bahwa status “penasihat sobat ambyar” yang diberikan secara serampangan oleh Jarkiyo itu cukup serius.
Setiap kali menonton konser Didi Kempot, selalu saja ada yang mendatangi saya untuk kemudian memberi saya stiker atau kaos Didi Kempot.
Saya bahkan punya kaos “Paspampot” alias Pasukan Pengamanan Kempot yang saya dapat dari Ibil, kawannya Gus Nabil Haroen yang beberapa waktu yang lewat sempat menduetkan Didi Kempot dan Letto di Boyolali akhir tahun lalu.

Pengalaman-pengalaman konyol itu, membuat saya, tak bisa tidak, merasa begitu getir dan sedih saat mendengar kabar bahwa Didi Kempot meninggal dunia.
Berita kepergiannya sungguh bagaikan palu godam yang menghantam tanpa aba-aba. Kita semua sadar bahwa kita semua memang akan mati. Kita hanya tak siap, bahwa jadwal keberangkatan Didi Kempot ternyata secepat dan semendadak itu.
* * *
Didi Kempot adalah segelintir dari sedikit musisi top namun sederhana. Rekam jejak hidupnya sebagai musisi yang besar di jalanan memang membuat Didi menjadi sosok yang dekat dengan masyarakat bawah.
Itu pula sebabnya, hampir seluruh lagu-lagunya selalu menceritakan tentang kehidupan masyarakat bawah. Lagu-lagu asmara atau patah hati yang ia nyanyikan hampir selalu mengambil fragmen percintaan yang melibatkan insan-insan melarat yang tak sentosa.
Ia menciptakan lagu tentang terminal, stasiun, dan pelabuhan. Namun tak pernah sekalipun ia menciptakan lagu tentang bandara. Memang ia pernah menyanyikan lagu “Cintaku di Kualanamu”, tapi dalam lagu itu, ia hanya menyanyikannya, sedangkan penulis lagunya bukanlah dirinya, melainkan seorang penulis lagu asal Batak bernama Tagor Pangaribuan.
“Wong sing pisahe neng bandara kuwi kemungkinan bakal iso ketemu meneh. Paling seminggu rong minggu yo wis mbalik. Karang wong sugih. Tapi nek pisahe neng stasiun, pelabuhan, opo meneh terminal, mesti nggrantes, soale le ketemu meneh mesti bakal suwe. Kuwi yo hurung karuan iso ketemu sebab hurung mesti nduwe sangu kanggo bali,” kata Didi Kempot saat saya tanya kenapa ia tak pernah mau membuat lagu tentang bandara.
Lagu-lagu Didi Kempot benar-benar mewakili kegagalan asmara orang-orang miskin. Sudahlah miskin, gagal pula asmaranya. Apesnya dobel. Dan kepada Didi Kempotlah orang-orang yang apesnya dobel itu bisa mewakilkan suara perasaannya melalui lagu.
Tengoklah sepenggal lirik lagu “Aku dudu rojo” yang menjadi salah satu lagu andalan radio-radio di pelosok daerah itu: Aku pancen wong cilik ra koyo rojo, Iso mangan wae aku uwes trimo. Sebuah titik kepasrahan yang sangat paripurna.
Atau tengoklah lagu “Cidro” yang legendaris itu: Opo mergo kahanan uripku iki, mlarat bondo seje karo uripmu. Ia membawa disparitas ekonomi dalam jalinan kisah asmaranya yang gagal.
Di tangan Didi Kempot, dua kombinasi maut penderitaan, yakni kemiskinan dan patah hati, bisa disulap menjadi sebuah seni yang layak diketipungi dan dijogeti.
Ia piawai mengambil hal-hal kecil yang tak terpikirkan untuk dipadukan dengan kisah asmara.
Dalam lagu “Lingso Tresno” misalnya, ia menggunakan diksi sindap alias ketombe sebagai pembuka narasi patah hatinya.
Bayangkan, ketika Franky Sahilatua menggunakan “Rembulan di malam hari”, Broery Marantika menggunakan “Bulan sabit yang jatuh di pelataran”, atau Melly Goeslow menggunakan “Bagaikan langit di sore hari”, Didi Kempot justru menggunakan “Sindap sing ono rambutku iki”. Ini semacam semiotika sederhana bahwa cinta tak melulu tentang hal yang besar-besar. Cinta adalah potongan-potongan kecil yang rapuh dan bisa diempaskan angin kapan saja.
Dalam lagu yang lain, ia menggunakan lirik yang begitu sufistik dan pantunis: Pupus godhong gedhang, ajang pincuk saiki wis ra kelingan. Biting pringe garing, mbok apusi awakku yo nganti gering.
Bayangkan, hanya musisi jenius yang mampu menggambarkan hancurnya perasaan melalui narasi seperangkat alat makan.
Bagi saya, musisi hebat dan legendaris itu parameternya sederhana, yakni ia punya acara sendiri di radio-radio yang khusus memutar lagu-lagunya. Dan parameter ini tentu saja dengan mudah dipenuhi oleh Didi Kempot. Ia punya acara-acara khusus di radio lokal seperti Dikempongi (Didi Kempot Wayah Wengi), Dikempotshow (Didi Kempot Show), sampai Dot Ai di (Didi Kempot Idolaku).
Ah, entah kapan lagi akan lahir musisi seluarbiasa dia. Musisi yang bisa bikin lagu dari kondisi insfrastruktur jalan yang paling buruk (Udan-udan dalane lunyu) sampai jalan berubah menjadi bagus dan baru (Ning dalan anyar kowe karo sopo?)
Haissssh, remhoooook. Sekali lagi, sugeng tindak Mas Didi. Kulo nyekseni, njenengan tiyang sae. Sae pwooool.
😢😢😢
Logika Rezeki
Pada suatu ketika, di sebuah jalanan yang yang tak terlalu ramai dekat rumah kontrakan, saya dan Kalis yang sedang berbencengan naik motor Honda Beat Pop berkelir hitam kebanggaan kami berpapasan dengan seorang pedagang bakso keliling.
Saya melirik si pedagang bakso. Saya amati sepintas lalu. Gerobak baksonya lumayan minimalis. Ramping. Mungkin memang menyesuaikan kondisi jaman yang semakin bergegas. Semakin kecil gerobaknya, semakin gesit dan lihai pula dalam bermanuver.
“Mas, di jaman go-food seperti sekarang ini, pedagang bakso keliling itu kira-kira masih laku nggak, ya?” Tanya Kalis.
Pertanyaan sederhana tapi sangat menarik. Diakui atau tidak, pertanyaan itu cukup mengusik pikiran saya.
Sejauh ingatan saya bekerja, setidaknya sudah hampir tiga tahun saya tidak pernah membeli bakso atau mie ayam dari pedagang keliling. Padahal, dulu, bersama kawan-kawan, saya sering sekali mencegat tukang bakso atau mie ayam di buk perempatan tempat kami biasa nongkrong untuk kemudian menyantapnya ngiras langsung di tempat.
Seiiring berjalannya waktu serta makin berkembangnya zaman dan teknologi di dunia perkulineran, saya kini selalu memesan makanan lewat aplikasi pemesanan makanan online. Tak lagi suka menunggu dan mencegat pedagang bakso atau mie ayam di perempatan.
Saya pikir, kebiasaan itu juga terjadi pada banyak anak-anak muda lainnya. Bukan hanya saya.
Dengan kondisi yang sedemikian, maka pertanyaan ‘Apakah pedagang bakso keliling masih tetap laris?’ menjadi sangat masuk akal dan relevan.
“Tapi kelihatannya, ya masih tetap laris-laris aja ah, Lis.” Jawab saya spontan. “Logikanya, kalau nggak laris, atau minimal yang beli sedikit, nggak mungkin dia masih jualan.”
Saya pikir, Gusti Allah pasti mengatur rezeki orang dengan cara yang sedemikian rupa, dengan konsep yang susah dimengerti oleh manusia.
Saya kemudian teringat dengan kejadian beberapa hari tahun yang lewat, saat saya dan Kalis sedang berada dalam bis antar-kota, saat menempuh perjalanan pulang dari Salatiga ke Jogja.
Saat bis ngetem di terminal, seperti yang sudah-sudah, berebutlah para pedagang asongan untuk menawari kami para penumpang barang dagangannya yang rata-rata seragam: kacang, tahu goreng, arem-arem, dan aneka minuman.
“Kacang tahu arem-arem… kacang tahu arem-arem…”
“Aqua dingin mizone… aqua dingin mizone…”
Para pedagang asongan ini naik ke dalam bis dan menjajakan dagangannya bergantian. Teriakan mereka sungguh amat metodis dan khas. Para pedagang asongan ini tetap menjajakan dagangannya meskipun mereka tahu, para penumpang sudah ditawari barang dagangan yang sama oleh pedagang sebelumnya.
Mereka tetap yakin bakal ada yang beli. Pada kenyatannya, keyakinan itulah yang membuat mereka tetap sanggup bertahan.
Dan saya pikir, keyakinan tersebut jelas bukan tanpa sebab. Mereka para pedagang sudah membuktikannya. Bertahun-tahun. Dan saya sebagai pembeli pun juga mengamininya.
Ketika saya ditawari aqua oleh pedagang pertama, saya tak tertarik. Saya merasa saya tak perlu membeli air minum sebab saya yakin akan bisa menahan haus setidaknya sampai saya tiba di tujuan.
Namun ketika si pedagang tersebut turun, entah kenapa, tenggorokan saya terasa kering. Saya merasa haus. Maka, ketika pedagang kedua naik dan menawari saya aqua (barang yang tadi sudah ditawarkan oleh si pedagang pertama, dan saya menolaknya), saya langsung membelinya.
Betapa dahsyat. Saya bisa mendadak haus dari yang tadinya tidak. Dan itu hanya berlangsung dalam dua menit. Dan saya pikir, begitulah kuasa Tuhan bekerja. Ia dengan mudah membolak-balikkan hati, dan juga mengeringkan tenggorokan yang tadinya terasa masih basah.
Pertanyaan Kalis, lebih jauh, membuat saya sadar. Bahwa kita, manusia, kerap terlalu banyak melibatkan logika dan probabilitas, bahkan dalam urusan rezeki. Sesuatu yang sebenarnya jauh lebih besar dan rumit ketimbang logika dan probabilitas itu sendiri.
Pak Luhut yang Presenter
Berkali-kali saya bilang, Pak Luhut itu sangat cocok menjadi seorang presenter, utamanya acara talkshow.
Saya paham bahwa Luhut memang sudah tua, tapi dalam dunia showbiz, usia bukanlah penghalang. David Letterman, salah satu presenter paling kondang dalam industri hiburan itu buktinya. Lelaki sepuh yang kalau di Indonesia sering dipanggil jadi Daud Suratman itu bisa menjadi presenter yang buagusnya ngaudubillah setan walau usianya sudah lebih dari enam puluh tahun.
Kalau mau contoh lokalan, ada Karni Ilyas. Bayangkan, seorang Karni Ilyas, yang suaranya serak parau dan sesekali kalau ngomong harus dicicil itu, berhasil menjadi presenter salah satu acara talkshow paling menjanjikan di Indonesia. Kalau Karni Ilyas bisa, kenapa Luhut Pandjaitan tidak?
Sebagai menteri macam-macam, Luhut pasti sudah menguasai ilmu public speaking yang mumpuni. Ia punya banyak koneksi untuk mengundang narasumber-narasumber terkenal yang belum tentu mau kalau dihubungi oleh acara talkshow lain.
Kalau Najwa Shihab hanya bisa menghadirkan beberapa menteri sebagai narasumber, maka bukan tak mungkin Luhut bisa menghadirkan seluruh menteri kebinet Indonesia Maju, lengkap dengan Presiden Jokowi dan Wakil Presiden Ma’ruf Amin.
Acara yang, saya usul sebaiknya diberi nama “Luhut and His Friends” ini tentu bakal menjadi tontonan yang menarik. Saya membayangkan, Luhut akan membuka talkshow yang diikuti seluruh anggota kabinet Indonesia Maju dengan pernyataan yang sangat ndlogok dan gathel.
“Di Istana Negara, Jokowi yang jadi pemimpinnya, tapi di sini, saya yang jadi host-nya. Mari berpestaaaaa…”
Yang kemudian langsung dihajar dengan hentakan musik dari band yang memainkan lagu “Buka dikit josss” dengan Caesar tampil untuk memimpin penonton untuk ber-goyang Caesar ala-ala acara hiburan sahur.
“Menteri saktiiii… turutututututuuuuu…”
Acara joget-joget selesai. Luhut kemudian mempersilakan semua menteri di Kabinet Indonesia maju untuk mengemukakan langkah-langkah strategis mereka utamanya yang terkait dengan bidang kementerian mereka dalam menghadapi wabah virus corona.
Setelah semua menteri, juga wakil presiden mengemukakan langkah-langkah strategis mereka, akhirnya tibalah giliran Jokowi yang dipersilakan sebagai pembicara puncak.
“Jadi gimana, Bapak Presiden, apa saja langkah strategis yang akan Sampeyan ambil?”
Jokowi kemudian membenarkan tempat duduknya.
“Jadi beg…”
Belum sempat Jokowi melanjutkan bicaranya, Luhut keburu memotongnya untuk kemudian berdiri.
“Kita rehat sejenak!” kata Luhut.
Pilpres Laksana Kenangan Sunat
“Siapa pun yang menang, mau Jokowi atau Prabowo, yang kalah tetaplah rakyat,” begitu kata kawan saya yang juga menjabat sebagai bapak arsip twitter nasional, Bilven Sandalista.
Sinisme tentang Pilpres yang saya pikir berlebihan, namun kelak, saya sadar apa yang dikatakan oleh Bilven adalah sebenar-benarnya kebenaran.
Sekarang, dengan jelas kita melihat bahwa memang rakyat sedang menanggung kekalahan itu. Kekalahan yang nggak telak-telak amat memang, tapi tetap saja itu sebuah kekalahan.
Lima tahun lalu, di bilik suara, rakyat bimbang mau pilih Jokowi atau Prabowo. Kita bingung memilih siapa yang menurut kita cocok menjadi pemimpin yang mengurusi hajat hidup kita.
Kebimbangan dan kebingungan itu bukan hal sederhana. Ia dijalani dengan konsekuensi yang besar. Ada banyak orang yang demi mendukung Jokowi atau Prabowo, ia sampai mengorbankan hubungan perkawanan mereka, mereka sampai berdebat keras dengan kerabat dekat sendiri, unfriend teman di Facebook, unfollow kawan di Twitter, bahkan pada titik tertentu, sampai memutus tali silaturahmi.
Ada yang sampai di-kick dari grup wasap keluarga, ada yang sampai bertaruh uang dengan nilai yang tak sedikit, ada yang sampai rela menjadi buzzer gratisan yang sampai harus membagikan berita yang ia paham betul itu hoax.
Ada yang sampai gagal menikah karena ia seorang Jokower sedangkan calon mertuanya Prabower.
Ada suami yang bahkan dengan tegas rela menceraikan istrinya jika ia mencoblos capres yang tidak sama dengan pilihannya.
Terlalu banyak konsekuensi yang harus ditanggung untuk memilih antara Jokowi atau Prabowo.
Konsekuensi tersebut pada akhirnya bikin kecewa banyak orang. Lha gimana, setelah ditetapkan sebagai pemenang, Jokowi ternyata memilih Prabowo, rivalnya, menjadi menteri Pertahanan. Padahal, banyak orang yang memilih Jokowi agar Prabowo tidak duduk di pemerintahan. Banyak yang memilih Jokowi bukan karena ia suka dengan Jokowi, melainkan karena “asal bukan Prabowo”.
Mengutip kembali kata Bilven, “Beli 1, dapat 2.”
Entah kenapa, nasib tersebut mengingatkan saya pada kenangan sunat. Dulu saya sunat di akademi militer. Ikut program sunat massal di sana. Saya tadinya tak mau ikut, sebab saya masih belum siap untuk disunat, tapi karena banyak kawan lelaki saya satu kelas yang mendaftar, saya mau tak mau ikut mendaftar. Saya takut disunat, tapi saya lebih takut dikatai pengecut oleh kawan-kawan lelaki saya.
Kala itu, di ruang penjagalan, sesaat sebelum mengeksekusi si kecil, Pak dokternya yang bertugas menjagal pucuk kelelakian saya bertanya, “Biusnya mau yg suntik apa oles?” karena saya agak takut disuntik, maka tentu saja saya jawab, pakai bius oles saja.
Dan bajingan betul, jebul setelah burung saya dioles, saya ternyata disuntik juga. Sambil menahan sakit akibat tusukan jarum suntik, saya melayangkan protes. “Lho, lho, lho. Kok disuntik juga, Dok? Tadi katanya bius oles!”
Dia menjawab santai, “Kalau cuma dioles, biusnya kurang mantep.”
Dalam hati saya ngedumel. “Trus ngapain tadi sok-sokan nanya mau bius oles apa suntik?”
Saya jadi semakin yakin, bahwa politik tak ubahnya seperti burung. Sama-sama KNTL.
Puja-Puji untuk Lord Didi Kempot
Di dunia ini, tidak ada yang bisa menandingi Didi Kempot. Tidak Robbie Williams, tidak Frank Sinatra, tidak pula Nat King Cole, semuanya tak bisa. Sebab Didi Kempot adalah semesta yang lain.
Ia lelaki luar biasa yang oleh banyak orang dijuluki sebagai “God Father of broken heart”, bapak patah hati. Julukan yang tentu saja sangat kurang tepat, sebab Didi kempot adalah broken heart itu sendiri.
Didi Kempot, pada titik tertentu, ia jauh lebih besar dari Jokowi.
Saya bertemu langsung dengan dia pertama kali enam tahun lalu di Hotel Sahid Jaya. Saat itu, dia keluar dari bar hotel, sementara saya sedang duduk di lobi. Melihatnya, tak butuh waktu lama bagi saya untuk segera menghampirinya dan meminta berfoto bersamanya.
Dia berjalan pelan. Sangat anggun namun tetap gagah. Dari jarak yang sangat dekat, aura patah hati terasa sekali. Mungkin di dunia ini, hanya Didi Kempot, yang mampu membuat seseorang patah hati bahkan tanpa perlu jatuh cinta lebih dahulu.

Saat bertemu dengan saya, ia memakai kaos bertuliskan huruf LE. Ini bukan huruf biasa, melainkan dua huruf awal dan akhir dari kata LOVE. Ada semiotika di sana. Bahwa cinta itu soal mengawali dan mengakhiri. Sedangkan perjalanannya, adalah petualangan yang penuh misteri. LE bisa menjadi LIVE, hidup. Bisa pula menjadi LOSE, kehilangan.
Didi Kempot bukan semata penyanyi. Ia adalah dimensi waktu. Maka tak berlebihan jika kemudian ada istilah “Waktu Indonesia bagian kembang tebu sing kabur kanginan.”
Katon Bagaskara boleh saja membuat Jogja menjadi tempat yang melemparkan ingatan masa lalunya, atau John Denver membikin West Virginia-nya sebagai labirin nostalgianya. Namun Didi Kempot, baginya kenangan bisa tercecer di mana saja. Di Stasiun Balapan, di Terminal Tirtonadi, di Terminal Kertonegoro, di Pantai Klayar, di Tanjung Mas, di Gunung Purba Nglanggeran, di Parang Tritis. Semuanya adalah lumbung-lumbung kenangan.
Ia penyanyi yang mampu menembus sekat-sekat ketidakmungkinan. “Sewu kuto, uwis tak liwati,” ujarnya dalam lagunya. Padahal jumlah kota dan kabupaten di Indonesia hanya 415. Artinya, ia menembus batas negara untuk mengejar cinta sucinya. Tak banyak yang sanggup berjuang dengan perjuangan yang lebih sakit dari pada dia.
Perjuangan yang ketika ia yakin ia tak bisa memenangkannya, ia merelakannya, dengan ikhlas. “Umpamane kowe uwis mulyo, lilo aku lilo.”
Cobalah kau sesekali menonton konsernya. Konser yang akan terasa sangat aneh, sebab tak ada air mata yang menetes, namun kepedihan terasa mengalir deras sekali.
Pada akhirnya, kita semua memang harus mengakui. Dia bukan seorang penyanyi. Kita salah besar. Sebab, dialah nyanyian itu sendiri.
Semua ibu melahirkan anak, tapi tidak dengan ibunya Didi Kempot, ia melahirkan legenda.
Hanya di tangan Didi Kempot-lah, negara seperti Swiss yang kuat meski tanpa tentara itu bisa luluh menjadi pesakitan.
*Swiss sakmestine, ati iki nelongso.
Kenangan Tempat Berak Masa Lalu
Dalam sebuah wawancara di salah satu acara talkshow di TVRI yang disiarkan tahun 2003 silam, Cak Nun pernah dengan sangat baik dan menawan menjelaskan tentang epistemologi mudik.
Mudik, menurut Cak Nun kala itu, merupakan pengejawantahan paling dasar atas naluri manusia yang senantiasa punya keinginan untuk kembali pada asal-usulnya. Asal-usul jasmani dan ruhani. Asal-usul berupa kampung halaman, sanak famili, dan juga nuansa budaya yang membesarkan dia sewaktu kecil.
Cak Nun benar. Mudik kali ini, saya menemui asal-usul budaya yang membesarkan saya dalam bentuk “legok”.
Legok bagi saya bukanlah sungai biasa, ia sungai yang penuh kenangan masa kecil yang kadang riang kadang muram.
Saya tak tahu apa nama resminya, namun yang jelas, warga menyebutnya sebagai “legok”. Sebuah sungai kecil yang berada di pinggir kampung. Sungai ini menjadi batas alam yang memisahkan kampung saya dengan kampung sebelah. Sungai ini punya arus yang tak besar. Bentuk tanahnya unik. Kiri dan kanannya dipenuhi oleh hutan bambu yang membuatnya menjadi rindang.



Di sungai inilah, dulu, ketika orang-orang belum punya kamar mandi di rumahnya, membuang hajatnya dengan penuh suka-cita.
Saya ingat betul, dulu, setiap pagi, di sepanjang sungai, setidaknya ada 3-5 orang yang berjongkok untuk berak. Jumlahnya bisa bertambah bisa berkurang. Sungai ini, tiap pagi, memang selalu ramai. Sebelum berangkat bekerja, sebelum berangkat ke sekolah, orang-orang selalu menyempatkan diri untuk berak lebih dahulu.

Orang-orang dengan etel membuka celananya tanpa merasa risih pantatnya terlihat oleh orang di sebelahnya, yang tentu saja juga sama-sama berak.
Kadang percakapan antar mereka terjadi begitu saja. Sambil berak, mereka bisa ngobrol dengan sesama pem-berak lain tentang apa saja. Tentang pendidikan anak, tentang pembangunan masjid, tentang pekerjaan, tentang apa saja. Dialektika terbangun di atas tahi-tahi yang mengambang dan hanyut dibawa arus.
Kami semua punya semacam spot pijakan favorit. Beberapa bahkan membuat penanda tersendiri. Penanda yang kemudian memunculkan semacam aturan tak tertulis yang seolah berkata “Itu tempatku, kalau aku dan kamu kebetulan sama-sama kebelet berak pada waktu yang sama, aku lebih berhak dan lebih otoritatif untuk berak di situ. Kamu carilah tempat pijakan yang lain. Kau boleh pakai tempatku, tapi nanti, kalau aku sudah selesai.”
Karena legok menjadi satu-satunya tempat untuk buang air besar, maka dulu legok selalu stand by 24 jam. Saya pernah kebelet berak jam 1 malam, dan kemudian harus mengumpulkan nyali agar berani turun ke legok dan berak di sana.
Seiring dengan perkembangan jaman dan makin tingginya kesadaran masyarakat akan keberadaan MCK, juga seiring dengan program pemerintah yang menggelontorkan dana PNPM Mandiri yang salah satunya adalah untuk membangun MCK kolektif bagi warga yang rumahnya masih belum punya MCK, legok tak lagi banyak digunakan sebagai tempat buang air besar.
Terakhir, mungkin empat atau lima tahun lalu, masih ada beberapa orang yang berak di legok. Sekarang kelihatannya sudah tak ada.
Kemarin, sepulang dari makam untuk berseh, saya meniatkan diri untuk menengok legok. Rasanya aneh. Airnya tak sederas dulu. Juga tentu saja tak sebersih dulu.
Saya mencoba mencari spot favorit saya. Masih ada. Bentuknya tak berubah.

Ingatan saya kemudian melayang pada fragmen tahi-tahi yang jatuh dari dubur ke air yang kemudian menghasilkan bunyi mak-plung dengan irama yang begitu ritmis dan melodis. Saya melihat bayangan Agus kecil di sana. Bayangan bocah kecil dengan pantat yang tentu saja sangat tidak menyelerakan, berjongkok, seraya menyanyikan lagu soundtrack Jin dan Jun.
Ya Tuhan, kenapa tempat berak bisa sesentimentil ini.
Benar apa kata orang bijak, setiap silit punya sejarah dan kisahnya sendiri-sendiri.
Tafsiran Penerimaan
Suatu malam, saya lupa kapan persisnya, perut saya melilit minta ampun. Lapar. Dalam keadaan yang demikian, pesan makanan lewat go-food menjadi solusi yang luamayn bisa diandalkan.
Saya ambil ponsel, buka aplikasi Go-food, otak-atik sebentar, dan langsung saya pesan makanan yang ingin saya nikmati.
“Sesuai aplikasi ya, Mas,” pesan saya melalui aplikasi pada driver Go-Jek di seberang sana yang mengambil orderan saya.
“Ya, mas, ditunggu,” balasnya singkat.
Sembari menunggu driver memesankan makanan yang saya pesan, saya membaca buku kumpulan kolomnya almarhum Bondan Winarno yang “Seratus Kiat” itu. Saya memang menyukai kolom-kolom Bondan Winarno. Ia sosok yang tak hanya fasih mengucapkan kata “Maknyus”, tapi juga piawai menulis kolom yang maknyus pula.
Belum juga tiga halaman saya dapat, si driver Go-Jek sudah mengirimi saya pesan.
“Mas, barangkali sekalian mau top-up Go-pay, Mas” tulisnya
“Boleh, Saya isi 50 ribu, ya,” balas saya.
“Oke, makasih, Mas, berkah dalem,” balasnya lagi.
Saya paham betul kebahagiaan kecil yang dia dapat. Sebagai driver Go-Jek, ia memang mendapatkan bonus poin tambahan setiap kali ada pelanggan yang mengisi saldo Go-pay melalui dirinya. Mangkanya, tak heran jika banyak driver yang kerap menawari pelanggannya mengisi saldo Go-pay.
“Sudah saya kirim,” kata dia
“Nggih, siap, Mas.”
“Semoga lekas menikah, banyak anak, banyak rejeki, banyak teman.”
“Aamiin.”
Didoakan begitu rupa, tentu saja saya girang dan menyunggingkan senyum. Selepas itu, saya merasa geli. Geli karena… ehm, dari mana dia tau kalau saya belum menikah?
Namun bukan itu poinnya. Poin yang cukup membuat saya termenung justru ada pada doa “Semoga banyak teman” itu. Entah kenapa, didoakan begitu, saya kok ya malah merasa agak kikuk dan wagu.
Lha gimana, didoakan begitu, saya seakan-akan jadi merasa seperti orang yang tak punya teman, orang yang dikucilkan, apatis, orang yang dijauhi banyak orang, sampah masyarakat.
“Ya Tuhan, apakah sesempit ini pergaulan saya sampai saya didoakan agar saya punya banyak teman?”
Inilah yang dinamakan tafsiran penerimaan. Apa yang datang baik, tak selalu bisa diterima dan diartikan dengan baik pula.
Saya jadi ingat dengan kawan saya, Niko namanya. Ia bekerja sebagai seorang SPB (Sales promotion Boy) di salah satu gerai alat elektronik di sebuah mal di Magelang.
Ia terbiasa mengantar barang pesanan pembeli sekaligus membantu instalasi, setting, atau pemasangan alat elektronik seperti tivi, kulkas, mesin cuci, dan sebagainya.
Dari memasang alat elektronik tersebut, ia kerap mendapatkan uang tip dari pembeli.
Banyak ucapan yang menyertai pembeli saat memberinya uang tip. Dari mulai “buat jajan”, “buat beli rokok”, sampai “buat uang bensin”. Namun, ada satu ucapan yang baginya terdengar sangat wagu dan cukup mengganggu di telinganya: Buat beli makan.
Tak ada yang salah dengan ucapan “Buat beli makan,” namun ucapan tersebut pada titik tertentu memang terasa berbeda.
“Entah kenapa, pas pembeli bilang ‘buat beli makan ya, Mas’, itu, aku jadi merasa bahwa aku ini orang yang nggak pernah makan dan nggak kuat beli makan,” kata Niko sewaktu bercerita kepada saya. “Aku merasa kere.”
Saya tak bisa berkomentar banyak, sebab bagi saya, memang ada benarnya juga.
Sekali lagi, ini perkara tafsiran penerimaan.
Contoh lain tentang perkara ini yang cukup bisa menggambarkan dengan jelas bagaimana tafsiran penerimaan ini bekerja adalah pengamen di bus kota.
Bayangkan, suatu ketika, Anda naik bus kota yang tak terlalu ramai dengan pengamen di dalamnya. Kebetulan Anda duduk di kursi paling belakang.
Si pengamen selesai menyanyi dan kemudian mulai mengedarkan kantong iurannya. Sial bagi si pengamen, ternyata dari ujung depan sampai deretan kursi belakang, tak ada satu pun yang memberinya duit.
Lebih sial lagi Anda, sebab walau Anda prihatin dengan si pengamen, namun rupanya, Anda pun tak punya uang receh. Sehingga, ketika si pengamen sampai di kursi Anda, Anda hanya bisa tersenyum sambil memberikan tanda maaf dengan tangan.
Si pengamen tampak sebal. Ia kemudian bilang kepada Anda, “Nggih Mas, Semoga perjalanan Anda menyenangkan, semoga selamat sampai tujuan, aman, dan tidak terjadi apa-apa setelah ini.”
Jantung Anda langsung berdesir.
Doa “Semoga tidak terjadi apa-apa setelah ini” tentu saja adalah doa yang baik. Tapi entah kenapa, ia terdengar seperti bukan sesuatu yang baik.
Doa tersebut membuat Anda merasa setelah ini bakal terjadi apa-apa dengan Anda.
Inilah yang dinamakan tafsiran penerimaan.
Saya yakin, Anda pasti pernah mengalaminya. Mungkin berkali-kali.
Menanti Ahok Show Setelah Ahok Bebas
Jika tak ada aral yang melintang, Basuki Tjahaja Purnama a.k.a Ahok akan segera bebas murni (setelah menerima potongan remisi) pada 24 Januari 2019 mendatang. Bebasnya Ahok ini tentu bakal menjadi momen yang sangat ditunggu oleh banyak orang, utamanya para pendukungnya.
Di tengah penantian hari kebebasan Ahok ini, sudah banyak yang bertanya-tanya, apa yang akan dilakukan oleh Ahok setelah keluar dari penjara? Apakah ia akan ikut menjadi tim sukses Jokowi? Apakah ia akan kembali berbisnis? Entahlah. Sejauh ini, belum ada yang tahu pasti, namun sudah banyak dugaan-dugaan yang hadir terkait dengan pilihan kesibukan yang akan dipilih oleh Ahok.
Salah satu pilihan yang kemungkinan bakal dipilih oleh Ahok adalah pilihan sebagai seorang pembawa acara.
Hal tersebut dikuatkan oleh pernyataan Ahok yang pernah mengatakan bahwa dirinya tak ingin berkecimpung lagi di dunia politik dan akan melanjutkan program Ahok Show yang dulu pernah ia bawakan.
“Saya sudah putuskan, selesai ini saya akan jadi pembicara saja. Enggak masuk partai politik, enggak mau jadi menteri, enggak jadi staf presiden, semua enggak,” ujar Ahok pada awal Mei tahun lalu. “Aku mau bikin Ahok Show dengan salah satu stasiun televisi. Tapi dengan revenue sharing ya. Jadi kalau terima iklan berapa, bagi saya lah, 20-30 persen. Kita ngajar aja, jadi mendidik saja,” kata Ahok sambil sedikit merenges.
Rencana Ahok untuk menghidupkan kembali menghidupkan Ahok Show ini tentu saja menjadi kabar baik bagi insan hiburan tanah air.
Setiadaknya, ada banyak hal yang membuat Ahok Show bakal menjadi penanda banyak hal yang menyenangkan.
Pertama, jika memang Ahok Show benar-benar terlaksana, tentu ia akan menjadi acara yang unik, laris, dan tentu saja sangat menghibur. Unik karena ini soal Ahok. Laris sudah pasti. Nama besar Ahok tentu bisa dengan mudah menarik banyak pemirsa.
Apakah ia bisa menghibur? Jangan tanya lagi. Urusan menghibur, Ahok jagonya. Nggak percaya? Coba lihat video Ahok joget chaiya-chaiya ini.
Sumpah, saat menonton video tersebut, saya ngakak setengah mati, Ternyata, ada yang lebih lucu ketimbang joget patah-patahnya Prabowo.
Kedua, Hadirnya Ahok Show tentu akan menjadi acara yang begitu terbuka, keras, frontal, dan tajam.
Masyarakat sudah rindu dengan hadirnya talkshow yang seperti ini, sebab. Memang belum banyak host yang berani dengan blak-blakan menelanjangi narasumbernya, apalagi dengan kata-kata pedas bak nasi Padang berkaret dua.
Bayangkan, dalam salah satu sesi, Ahok Show menampilkan M Taufik, politisi mantan koruptor yang nekat ingin daftar jadi caleg itu.
“Fik, lu kan mantan koruptor nih ya, kok lu masih aja ngebet daftar jadi caleg, sih? Bajingan bener, Lu.” Kata Ahok
Taufik tentu bakal agak keder, namun ia kemudian menjawab dengan jawaban defensif namun kuat, “Ya itu kan hak warga negara, Hok, lagian sekarang MA juga sudah mengesahkan aturan kalau mantan koruptor boleh nyaleg.”
“Ya itu kan karena elunya aja yang ngeyel dan bikin acara gugat-gugatan segala, bajingan bener, Lu.”
“Ya trus lu maunya apa, Hok?”
“Ya nggak mau apa-apa, cuma pengin bilang bajingan aja sama lu!”
Percakapan keras macam itu kemungkinan hanya bisa muncul dalam acara talkshow di mana Ahok jadi presenternya. Lha gimana nggak, tagline acaranya saja sudah bikin keder kaki: “Ahok Show, mengupas isu setajam neneklu!”
Maka, jangan heran jika hanya di acara Ahok Show-lah Edy Rahmayadi tidak akan banyak berkutik.
“Bung Edy, Bung kan menjadi gubernur Sumatera Utara, apakah Anda merasa terganggu ketika tugas Anda, tanggung jawab Bung menjadi Gubernur dan juga menjadi ketua umum PSSI? Apalagi kemarin sempat ada desas-desus pengaturan skor yang beberapa waktu lalu sempat menggoyang PSSI” Tanya Ahok.
Edy kemudian menjawab ketus, “Apa urusan Anda menanyakan itu?”
“Ebangsat, ditanya baik-baik malah nyolot, gua beri juga, nih…”
Begitu tahu kalau host-nya ternyata lebih galak, Edy kemudian menghaluskan gaya bicaranya, “Ehm… maap, maap, Bang. Saya kira situ Aiman Kompas tipi. Sekali lagi, saya minta maap.”
Ketiga, Ahok Show bakal jadi pelopor hijrah banyak profesi lain menjadi pembawa acara. Selama ini kita sudah mengenal banyak pelawak yang jadi pembawa acara seperti Sule atau Tukul Arwana, kemudian wartawan yang jadi pembaca acara seperti Najwa Shihab, lalu ada lawyer yang jadi pembawa acara seperti Hotman Paris, sampai pesulap yang juga beralih rupa jadi pembawa acara seperti Deddy Corbuzier.
Hadirnya Ahok ini tentu akan memicu gelombang hijrah besar-besaran.
Nantinya, bukan hanya mantan kepala daerah yang beralih menjadi Pembawa acara. Tapi juga pensiunan jenderal, anggota DPR, bahkan kalau perlu, mantan presiden.
Terbayang betapa serunya jika kelak SBY punya acara talkshow dengan dirinya sendiri yang jadi pembawa acara. Ia bisa menyalurkan hasrat komentar sekaligus bakat bermusiknya.
Nama acaranya tentu saja: Bincang dan Dendang bersama Pak Bambang.
Tagline acaranya tak kalah yahud: Menyibak fenomena dengan prihatin.
Menyambut Kembalinya Mata Pelajaran PMP
Kementerian Pendidikan dalam waktu dekat berencana akan menghidupkan kembali mata pelajaran Pendidikan Moral Pancasila atau yang sering disingkat sebagai PMP.
Sebagai manusia yang cukup pancasilais (dan juga pernah menulis buku berjudul “Jomblo tapi Hafal Pancasila”, saya tentu saja menjadi salah satu orangy di barisan terdepan yang setuju kalau mata pelajaran PMP dihidupkan kembali.
Ini bukan karena saya rindu orba lho ya. Ini murni soal rasa kasihan saya sama para siswa.
Di tengah kondisi pendidikan yang begitu keras dan kompetitif, di mana soal kelas 3 SD jaman sekarang sudah seperti soal kelas 2 SMP jaman dulu, PMP tentu bisa menjadi oase yang menyejukkan.
Ada banyak mata pelajaran yang dipelajari oleh siswa. Dari sekian banyak mata pelajaran, pada masanya, PMP menjadi mata pelajaran yang paling dicintai oleh banyak siswa.
Sebabnya tentu saja karena soal-soal PMP memanglah soal yang normatif yang, bahkan tanpa perlu belajar pun, segoblok apa pun, siswa akan bisa mendapatkan nilai minimal 8.
Lha gimana, soal PMP itu mentok ya soal-soal yang seperti ini:
Jika kawan kamu terjatuh dari sepeda, apa yang akan kamu lakukan?
a. Menolong
b. Menertawakan
c. Mengambil sepedanya.
Saya yakin, siswa-siswa Indonesia tidak cukup jahat untuk memilih jawaban B dan C.
Yah kecuali kalau memang siswa-siswa Indonesia semuanya punya sifat kayak Bombom, saudara tirinya Lala itu.
Seni Merumitkan Perkara Sederhana
Di dunia ini, selalu saja ada orang-orang yang di tangannya, perkara sesimpel dan semudah apa pun selalu bisa menjadi perkara yang begitu rumit, gawat, dan membingungkan.
Orang-orang jenis ini mungkin adalah satu dari sekian jenis manusia yang, meminjam istilah Albert Einstein, have a problem for every solution.
Dan entah kenapa, saya sering dipertemukan dengan manusia-manusia jenis ini. Entah di sosial media, atau di di dunia nyata.
Saya tentu saja selalu punya kesan tiap kali bertemu dengan orang jenis itu. Termasuk orang yang saya temui hari Kamis kemarin.
Kamis kemarin, saya mengikuti acara “Facebook Laju Digital”, semacam acara workshop tentang pemanfaatan fitur-fitur produk Facebook untuk bisnis yang diadakan oleh Facebook Indonesia di Alana Hotel.
Salah satu sesi dalam acara tersebut adalah pembahasan tentang penggunaan Whatsapp business. Saya memang cukup menantikan sesi ini, sebab saya memang sedang getol-getolnya mengoprek Whatsapp business seiring dengan kesibukan saya mengurus toko buku online yang saya jalankan bersama pacar saya.
Sesi Whatsapp business tersebut diisi oleh pemateri dari Facebook. Saya lupa siapa nama pematerinya, namun yang jelas, dari prejengan-nya, tampak betul bahwa ia adalah lelaki metroseksual yang sangat memperhatikan penampilan.
Dalam penyampaian materinya, sebelum sampai pada materi pokok, ia menceritakan kisah bagaimana ia merasa begitu tertolong oleh Whatsapp.
“Saat berangkat ke Jogja kemarin, saya terburu-buru, packing saya kurang sempurna, saking buru-burunya, celana dalam saya ketinggalan,” ujarnya. “Saya baru sadar kalau ternyata celana dalam saya ketinggalan saat saya sudah sampai Jogja. Saya panik setengah mati, nggak mungkin dong saya harus pakai celana dalam yang sama selama tiga hari selama saya tinggal di Jogja.”
Demi mendengar ceritanya tersebut, saya mendengus agak kesal. Saya berbisik pada peserta di samping saya, “Iki pematerine ketoke ra tau mlebu Indomaret, ha mung perkoro cawet we kok urusane iso ribet banget. Ha gari tuku neng Indomaret, patang puluh ewu entuk telu. Beres tho”
“Hoo, ribet banget, Mas…”
Saya kembali melemparkan konsentrasi saya pada si pemateri. Saya menunggu, kerepotan apa lagi yang akan ia sampaikan.
“Untunglah ada Go-mart dan ada whatsapp,” kata dia. “Begitu sampai hotel, saya langsung buka go-mart, trus beli celana dalam di outletnya Uniqlo. Karena pilihan celana dalam di Uniqlo banyak, si driver yang membelikan pesanan celana dalam kemudian berkomunikasi dengan saya lewat Whatsapp, dia kirim beberapa gambar pilihan celana dalam.”
Bedebah. Isi hati saya berontak. Saya kembali berbisik pada kawan di sebelah saya, kali ini dengan suara yang lebih keras.
“Asuuu, mung cekekan cawet we ngasi tuku ng Uniqlo, opo manuke deknen ki larang po yo? Manuke manuk hypebeast ketoke.”
Kawan di sebelah saya malah tertawa, padahal sungguh, saya tidak terlalu berniat melucu, murni karena saya kesal saja dengan adanya kesenjangan dan perbedaan kasta cawet yang ternyata begitu lebar.
Saya kembali mendengarkan penuturan pemateri hypebeast ini. Tentu saja dengan perasaan yang dongkol-dongkol geli.
Diam-diam, saya semakin meyakini teori “Kesuksesan pria berawal dari celana dalamnya”.
Jangan-jangan, saya jadi karyawan Mojok karena celana dalam saya mereknya Indomaret, coba kalau celana dalam saya mereknya Uniqlo, mungkin sekarang saya sudah jadi karyawan Facebook atau karyawan Microsoft.
Pada akhirnya, sepanjang sesi berjalan, yang paling bisa saya ingat dengan jelas dari paparan materinya justru soal celana dalamnya, bukan soal Whatsapp business-nya.
Ah, mungkin di luar sana, memang ada banyak orang-orang yang hidup dengan seni merumitkan perkara sederhana.
Obrolan Sederhana di Kursi Belakang Ramayana

Dalam perjalanan pulang dari Semarang ke Magelang, saya sungguh beruntung duduk di kursi paling belakang bis Ramayana yang sudah tampak tua dan ringkih namun masih tetap bergas dan bertenaga itu.
Duduk di kursi paling belakang artinya siap mendengarkan banyak cerita dari sang kernet dan para penumpang yang juga sama-sama duduk di belakang.
Selain saya, ada tiga orang lain yang duduk di barisan kursi belakang. Di sebelah saya persis, seorang lelaki tua dengan potongan rambut yang sangat Broery Marantika. Di sebelahnya, seorang penjual gelang tolak bala yang belakangan memang sedang ngehits di kalangan anak-anak desa. Sedangkan di ujung, seorang lelaki pencari ikan petho (ikan wader cethul) yang naik dengan membawa sewadah penuh hasil tangkapannya.
Si bapak dengan potongan Broery bercerita panjang lebar tentang perjuangan masa lalunya saat ia masih gagah.
“Biyen, golek duit gampang banget,” ujarnya mantap. “Aku biyen usaha adol sepatu, aku kulakan sepatu neng Mustika, sak kodi mung selawe ewu, tak dol ijen, larise ora umum…”
Ceritanya begitu mengalir. Ia membanggakan masa mudanya yang hampir tak pernah menyusahkan keluarga karena selalu bisa mencari uang sendiri untuk biaya sekolah dan biaya hidupnya.
Si pencari petho tak kalah sangar, dengan bekal sewadah petho yang ia bawa, ia menceritakan bagaimana susahnya berjibaku bertarung melawan tantangan hidup yang semakin hari semakin tak masuk akal saja.
“Gaweanku ki mung sobo kalen, koyo cah cilik, kekeceh,” ujarnya sambil membetulkan topi bergambar logo Badan Pusat Statistik yang entah ia dapat dari mana.
“Nggolek petho saiki akeh ora mestine…”
“Lha opo biyen ki mesti?” Sahut si lelaki berpotongan Broery.
“Yo podo-podo ora mestine, Pak, tapi nek biyen hasile akeh.”
“Lha genah saiki awakmu oleh sak kranjang kebak, kok…”
“Biyen iso ngasi rong kranjang, Pak…”
Saya kemudian menengok wadah yang penuh dengan ikan petho yang ditaruh di bawah kursi di samping depan. Ingatan saya kemudian terlempar ke masa lalu. Bagi saya, petho adalah ikan yang tak pernah asing.
Dulu keluarga saya pernah menjadi pembuat dan pemasok peyek petho. Merek peyek buatan kami adalah Sami Remen. Peyek tersebut kami pasok di warung-warung sekitar rumah.
Saya sering diajak bapak untuk berkeliling untuk mencari petho. Dari sungai satu ke sungai yang lain, dari persawahan yang satu ke persawahan yang lain.
Menjaring, mengirig, menyeser, atau apalah itu istilahnya pernah menjadi aktivitas yang begitu saya sukai. Pulang sekolah, menunggu sore, kemudian siap “berpetualang” mencari ikan petho. Saya suka aktivitas tersebut, sebab selalu terbit kejutan dalam setiap seseran jaring yang diarahkan ke sungai.
Terkadang, bukan hanya ikan petho yang ikut terjaring, tapi juga ikan wader atau ikan sepat. Tapi pernah juga ular lareangon.
Si lelaki penjual gelanglah yang paling menarik minat saya. Bukan semata produk gelang yang ia jajakan, namun juga cerita tentang bagaimana ia membuat gelang tersebut.
Gelang tolak bala atau gelang sambetan yang ia jual adalah berupa gelang yang isinya berupa empon-empon seperti dlingo, bengle, padi, kayu angin, dll. Dulu orang-orang tua menggunakan empon-empon ini untuk melindungi bayi dari sawan atau bala.
“Dino iki aku nggowo 400, saiki mung gari 75,” katanya mantap sambil sumringah.
“Wah, mantep nek ngono,” balas Broery KW 2.
“Iki aku nggawe dhewe, direwangi bojoku. Aku nglembur ngasi jam telu, bar kuwi turu dilit, esuk langsung mangkat ider…”
Saya selalu takjub mendengar cerita-cerita tentang perjuangan menyambung hidup seperti ini. Selalu timbul harapan-harapan kecil, kebahagiaan, dan rasa syukur dari setiap kisah-kisah tersebut.
Saya kemudian merasa begitu kecil di hadapan lelaki-lelaki di samping saya ini. Perjuangan mereka nyata. Sedangkan perjuangan saya, terlalu kecil. Saya lelaki pemalas yang beruntung karena bisa mendapatkan uang dari menulis.
Mendengar cerita tiga lelaki tentang perjuangan hidup mereka, saya merasa betapa Tuhan sangat welas asih pada saya.
Saya kemudian reflek membuka tas saya, saya intip isinya. Tampak di sana satu amplop kecil berwarna putih. Isinya honor saya mengisi seminar menulis. Nilainya lumayan. Padahal saya hanya ngomong tak sampai dua jam. Saya pun tak yakin apa yang sampaikan itu ada manfaatnya atau tidak. Yang saya tahu, saya dibayar terlalu tinggi untuk banyak pekerjaan-pekerjaan saya.
“Urip ki pancen isine mung syukur,” kata kernet membuyarkan perenungan saya. “Aku ki wis sepuluh tahun kerjone mung nggandul terus, yo teko disyukuri wae…” ujarnya.
“Wah, mantep, teko ditlateni, dilit meneh ngungkuli tarzan…” timpal Broery.
Bis terus melaju dengan kecepatan yang menyenangkan. Angin yang menerpa tubuh saya melalui pintu belakang begitu menyejukkan saya yang sejak tadi kepanasan terbakar matahari Semarang.
“Nah, kuwi, Le, nek pengin njabutke untu, neng kono kuwi, cepet tur gratis” kata Kernet pada saya seraya menunjuk Markas Brimob Polda Jateng.
Saya tertawa terbahak-bahak. Tak berselang lama, saya kemudian tertidur.

