Hari ini, tepat lima tahun lalu, saya menikah dengan Kalis Mardiasih. Ia perempuan yang cerdas, baik, dan tentu saja, tabah. Dengan ketabahan itulah ia berani dan mantap menjalani kehidupan yang lebih serius tetapi penuh dengan ketidakpastian dengan saya.


Di Kelenteng Hok Tik Bio, tempat resepsi pernikahan kami saat itu, saya tak henti-hentinya melirik Kalis yang berdiri di samping saya mengenakan gaun berwarna krem. Rasanya seperti mimpi.
Saya masih tak percaya, bahwa saya pada akhirnya menikah, dan yang lebih sukar untuk saya percayai, saya menikah bukan dengan perempuan biasa, melainkan perempuan yang cukup populer dan punya potensi lumayan besar untuk terpilih menjadi anggota legislatif Kabupaten Blora seandainya ia dipinang parpol dan dimodali logistik yang cukup.
Kerumunan tamu yang ada di hadapan sayalah yang segera menyadarkan saya, bahwa saya tidak sedang bermimpi.
Saya melirik ke sebelah ujung kanan, di sana berdiri Pak Samuri, mertua saya, yang perawakannya gagah gempal, yang segera mengingatkan saya pada sosok Zhang Fei dalam kisah Romance of the Three Kingdoms. Sementara di ujung kiri, sosok Trimo “Franky” Mulgiyanto berusaha mengimbangi kegagahan besannya itu dengan memasang gaya tegap khas seorang hansip kamra.
Memang nyata. Bukan mimpi.
“Sekarang kamu suamiku lho,” kata Kalis berbisik.
Saya tertawa kecil. Itu menjadi hari yang aneh, tapi sangat menggembirakan.
Saya dan Kalis kemudian menjalani hari-hari yang panjang dan akrobatik sebagai pasangan suami-istri. Kami mencoba membangun keluarga kecil yang bahagia, yang selalu punya siasat untuk menghadapi masalah-masalah rumah tangga kami, baik masalah yang konyol maupun masalah yang serius.
Kami ingin menjadi pasangan yang saling memahami, walau pada kenyataannya, itu ternyata bukan hal yang mudah. Banyak hal dari Kalis yang sukar untuk saya pahami, dan saya kira begitu pula sebaliknya.
Kalis membuat hidup saya menjadi lebih bergairah. Perhatian yang ia berikan, kekonyolan yang ia tunjukkan, sikap kekanak-kanakan yang ia munculkan, kepedulian yang ia praktikkan, dan segala rupa sifat-sifat Kalis dalam menjalani hidup sebagai seorang istri.
Kalis-lah perempuan yang menjadi tempat saya bisa memamerkan pencapaian-pencapaian saya, juga tempat bercerita sambil menangis tentang masalah-masalah saya, walau kadang, ia jugalah yang menjadi sumber masalah-masalah saya.
Saya bahagia hidup bersama Kalis, dan belakangan, juga bersama Raras, anak kami. Keluarga kecil inilah, alasan yang membuat saya selalu ingin hidup lebih lama.
Terima kasih, Kalis, atas lima tahun yang menyenangkan, dan yang masih akan panjang.
Lima Tahun Pernikahan
Beban Berat Raras Ugahari
Raras Ugahari, tak bisa dimungkiri, adalah bayi yang hebat dan tangguh. Sejak kecil, ia sudah dipaksa untuk hidup dalam bayang-bayang nama besar dan kepopuleran kedua orang tuanya, terutama bapaknya (uhuk).
Tidak semua bayi sanggup menjalani takdir menjadi anak pasangan Agus Mulyadi dan Kalis Mardiasih. Tidak semua bocah mampu memikul mandat kenasaban tersebut.
Itulah kenapa, kami harus mendidiknya sejak dini agar ia tidak kaget, tidak njeglek. Ia harus tumbuh menjadi anak yang tidak pernah lelah untuk belajar dan tidak mudah menyerah dalam mengejar apa yang perlu ia kejar.
Di lingkungan pergaulannya kelak, kemungkinan hanya dirinyalah yang kisah asmara orang tuanya difilmkan (Dalam hal ini, hanya Jan Ethes dan Cipung yang berpotensi menjadi pesaing beratnya), dan di situlah salah satu tantangan terberat Raras sebagai anak.
Kelak, Raras akan menyadari, bahwa sebagai anak pasangan Agus Mulyadi dan Kalis Mardiasih, dirinya akan sering dituntut untuk punya sikap welas asih seperti bapaknya, dan doyan menonton film India seperti ibunya.
Semoga engkau siap, Raras anakku. Jalan panjang dan berliku menunggumu.
Maaf jika bapak dan ibumu terlalu populer dibandingkan dengan orang tua kawan-kawan sepermainanmu kelak.
🤣🤣🤣
Ciuman Raras
Dulu saat pertama kali melihat Raras bisa geleng-geleng kepala, saya bahagia betul. Saya seperti anak kecil yang mendapatkan mainan baru.
Tiap kali saya bilang “Raras, geleng-geleng kepala,” lalu diikuti dengan gerakan menggeleng darinya, ada semacam perasaan hangat di dalam diri saya sebagai seorang bapak.
Saya paham ini perasaan sentimentil seorang bapak yang baru punya anak bayi. Dan saya menikmati perasaan itu.
Ada semacam kebanggaan saat Raras bisa melakukan tindakan-tindakan sederhana saat saya suruh. Kebanggaan itu terus berlanjut dan makin membesar saat saya mulai mengeksplorasi perintah-perintah baru buat Raras.
Seiring berjalannya waktu, Raras mulai bisa melakukan banyak tindakan, dari bertepuk tangan di depan orang, melet-melet di depan cermin, memegang kepala saat diputarkan lagu topi saya bundar, sampai melakukan gaya “kiss bye” saat bapak atau ibunya pamit berangkat kerja.
Yang termutakhir, dan ini yang membuat saya sangat bahagia belakangan ini, Raras sudah bisa saya suruh untuk mencium pipi saya.
“Raras, cium bapak,” begitu kalimat perintah yang saya sampaikan kepadanya, dan dia akan segera mendaratkan bibirnya ke pipi saya.
Ciuman itu terasa sangat menggembirakan. Ciuman Raras ke pipi saya selalu saya maknai sebagai rasa sayang seorang anak perempuan kepada bapaknya.
Ah, rasanya tak sabar menunggu waktu sampai Raras tumbuh lebih besar dan saya bisa menyuruhnya untuk membeli Indomie dan Kopi Kapal Api di warung.
Gendongan Ideologis
Libur lebaran kemarin menjadi momen pertama kalinya bagi Raras untuk mudik ke Blora, kampung halaman istri saya. Hal tersebut sekaligus menjadi perjalanan jauh pertama Raras yang biasanya cuma mentok bolak-balik Magelang-Jogja.
Di Blora, kakek dan neneknya sangat bergembira menyambut kehadiran Raras. Ibu mertua saya terutama, sangat rajin menggendong Raras. Maklum saja, sebab selama berbulan-bulan lamanya, ibu mertua memang hanya bisa melihat Raras melalui videocall, beda dengan ibu saya yang memang sangat sering berkunjung ke Jogja untuk menengok Raras.
Saya senang Raras akhirnya punya kesempatan untuk menikmati suasana Blora. Bagi saya, Raras harus dikenalkan dengan Blora sejak dini, sebab tidak bisa tidak, ada darah Blora yang mengalir deras di dalam tubuhnya, sama derasnya dengan darah Magelang yang juga mengalir di dalam dirinya.
Saya memang ingin Raras menjadi pribadi yang manut dan patuh kepada orangtuanya seperti selayaknya prajurit akademi militer Magelang yang sangat “Sir, Yes Sir!” kepada atasannya.
Raras perlu punya nilai-nilai prajurit jebolan Magelang, setidaknya punya kedisiplinan khas seorang Gatot Soebroto, dan punya kecerdasan khas seorang Susilo Bambang Yudhoyono.
Namun demikian, di sisi yang lain, saya juga ingin Raras tumbuh seperti selayaknya manusia-manusia jempolan dari Blora. Menjadi pribadi yang punya keberanian untuk membangkang seperti Samin Surosentiko, serta menjadi pribadi yang tangguh dan revolusioner seperti Pramoedya Ananta Toer.
Dan semua itu saya kira bisa dimulai dengan mengajak Raras untuk rajin menghirup udara Magelang dan udara Blora.
Maka, ketika melihat foto Raras sedang digendong oleh neneknya yang asli Blora ini, saya yakin itu bukan jenis gendongan biasa, itu adalah gendongan ideologis, gendongan yang penuh dengan pembangkangan dan bibit-bibit revolusi.
Lebaran Tanpa Mbok’e
Saya melihat ilustrasi suasana rumah nenek di momen lebaran karya ilustrator Arif San ini dengan perasaan yang sangat sentimentil. Apa yang digambarkan pada ilustrasi itu kini akan segera saya hadapi.
Lebaran tahun ini menjadi lebaran pertama bagi saya tanpa seorang nenek. Nenek saya, baik dari jalur bapak maupun jalur ibu, baik nenek kandung maupun nenek tiri, sudah tiada semua. Mbok Ruliyah, nenek terakhir yang saya punya meninggal dunia bulan Mei tahun lalu. Tahun ini jelas akan menjadi lebaran yang berbeda. Tak ada lagi tangan tua nenek yang keriput itu untuk saya ciumi. Kebersamaan kumpul keluarga besar yang dulu berpusat pada sosok nenek kini terancam mulai luntur, tahun demi tahun, cepat atau perlahan.
Kepergian nenek tentu saja menyisakan lubang besar dalam hati saya yang tak akan pernah bisa ditambal dengan apa pun. Dan dengan lubang itulah kini saya melanjutkan hidup saya.
Sekarang, bapak dan ibu saya sudah menjadi kakek dan nenek, saya pun sudah menjadi bapak dan Kalis menjadi ibu. Raras anak saya sudah menjadi cucu bagi kakek dan neneknya. Bapak dan ibu saya sebentar lagi bakal menjadi poros baru bagi keluarga besar saya dan dua adik saya. Kelak saya juga yang akan menjadi poros keluarga besar bagi anak-anak dan cucu-cucu saya. Begitu seterusnya.
Waktu memang terus merambat maju, tak pelan, namun juga tak cepat. Ia berderap sesuai dengan kodrat edarnya. Kesenangan dunialah yang membuat waktu terasa lambat, dan kematian orang-orang tercintalah, yang membuatnya terasa cepat.
Ingatan saya rasanya terlempar ke masa lebaran saat saya masih bocah kecil. Bocah yang amat bersemangat menyambut bedug masjid pagi hari saat lebaran. Betapa itu menjadi masa-masa yang indah dan menyenangkan.
Pada akhirnya, kini saya sadari, bahwa yang paling saya rindukan dari lebaran masa kecil saya ternyata bukan mercon dengan segala gegap gempitanya, bukan uang saweran hasil dari keliling rumah tetangga yang saya anggap kaya, pun bukan celana dan baju baru dengan dompet Dagadu yang amat setil itu, melainkan kehadiran orang-orang tercinta di sekeliling kita, yang dulu kehadirannya kita anggap wajar dan biasa saja.
Tampaknya benar belaka lirik lagu Rhoma Irama itu, “Kalau sudah tiada baru berasa bahwa kehadirannya sungguh berharga”.
Ya Tuhan, doaku hari ini sederhana. Semoga di akherat nanti, saya dan orang-orang yang membaca tulisan ini, dikumpulan bersama orang-orang terkasih, dalam keadaan yang baik.
Ah, maaf, saya menangis saat menulis kalimat ini.
Anakku Raras Ugahari Lahir Hari Ini
Hari ini, saya ingin mengabarkan kepada dunia, saya resmi menjadi bapak. Raras Ugahari, demikian nama anak perempuan yang dilahirkan Kalis pagi ini.
Raras rencana dilahirkan pada tanggal 1 Oktober, tanggal yang sebenarnya agak bikin saya khawatir, sebab tanggal itu berpotensi membuat dirinya punya panggilan candaan yang nylekit: “Raras Gestok” atau “Raras G30S”.
Saya pribadi lebih suka jika ia lahir agak terlambat, terutama tanggal 5 Oktober, bertepatan dengan hari ABRI, hari lahirnya Beni anaknya Mister Rigen dalam serial “Mangan Ora Mangan Kumpul” karya Umar Kayam itu.
Namun Gusti Allah tampaknya punya rencana yang besar untuk menghilangkan kekhawatiran saya. Tanggal 27 kemarin, saat kontrol terakhir, diketahui bahwa bobotnya naik dengan sangat pesat, 5 ons hanya dalam satu minggu. Kunjungan yang awalnya hanya untuk kontrol akhirnya berubah menjadi persiapan kelahiran.
Dokter yang menangani Kalis menawarkan untuk tindakan eracs esok harinya. Kami setuju. Itu artinya, anak kami lahir di hari yang sangat baik. Hari kelahiran Kanjeng Nabi Muhammad saw.
Anak saya terselamatkan. Ia tidak jadi menyandang nama julukan “Raras G30S” atau “Raras Gestok”, melainkan “Raras Maulidan”
Raras lahir dengan tangisan yang sangat kencang. Saat mendengar tangisannya yang kencang itu, saya ikut menangis, Kalis juga menangis. Kami bertiga menangis dengan jenis tangisan kami masing-masing. Ini menjadi koor pertama keluarga kecil kami.
Pasca kelahiran Raras, saya masih tetap diselimuti perasaan yang ganjil. Rasanya baru kemarin saya menjadi anak bapak dan ibu saya yang butuh dibentak agar mau pulang dari bermain kelereng, kini saya sudah menjadi bapak.
Kepada Raras, tentu saja saya tak akan memintanya untuk meninju congkaknya dunia seperti Iwan Fals memintanya kepada Galang Rambu Anarki, namun yang jelas, saya akan berusaha keras memintanya menjadi manusia yang baik, menusia yang berperasaan, dan manusia yang tidak mudah menyakiti orang lain.
Saya tidak ingin mewajibkannya menjadi manusia yang cerdas, namun saya akan memintanya menjadi manusia yang tidak pernah lelah mencari ilmu, sebanyak-banyaknya, jauh lebih banyak dari bapak dan ibunya.
Saya akan meminta Raras menjadi manusia yang menghargai kegembiraan dan bersabar atas kesedihan. Sebab di dunia ini bertebaran kebaikan dan berserakan keburukan. Dunia ini penuh dengan kegembiraan namun juga sarat akan kesedihan. Persis seperti hari sebelum ia dilahirkan, saat Manchester United membantai Crystal Palace 3-0, namun di hari yang nyaris sama, tim U21 Manchester United dibantai Bolton Wanderers 8-1. Kelak ia akan bersiap dengan hal-hal seperti itu.
Saya akan berusaha mengajarinya untuk hormat kepada ibunya, perempuan yang melahirkannya dengan penuh kepayahan.
Dan yang pasti, saya akan memintanya untuk memaklumi segala tingkah konyol bapaknya, terutama saat berjoget dan kendangan di acara Video Mojok Mentok “Dung tak tung dung dung dut” itu. Sejatinya jogetan dan kendangan itulah yang ikut menebus ongkos lahirannya. Saya berharap ia menganggap jogetan dan kendangan bapaknya itu bukan sebagai sebuah kekonyolan, melainkan sebagai sebuah craftsmanship yang hanya segelintir lelaki bisa dan mau melakoninya sebagai jalan pedang.
Raras Ugahari, anakku, selamat datang di dunia.
Mendidik Anak Sebelum Si Anak Lahir
Dalam sesi bedah buku “Hak dan Perlindungan Anak dalam Islam” di rangkaian acara Islamifest hari Sabtu kemarin, ada satu kalimat Pak Quraish Shihab yang amat saya ingat.
“Ada satu cara untuk mendidik anak kita, bahkan sebelum anak kita lahir,” kata Pak Quraish Shihab, “Bagaimana caranya? Pilihkan ibu/bapak yang cerdas, untuk anakmu kelak.”
Nasihat yang sangat dahsyat itu tak pelak langsung meriuhkan ruangan. Tepuk tangan bergemuruh.
Saya yang duduk di deretan belakang ikut bertepuk tangan bersama peserta lainnya.
Sungguh sebuah nasihat yang bagus dan tegas. Puji Tuhan, saya sudah mengamalkan nasihat tersebut. Sayang, justru istri saya yang tidak melakukannya.
Selamat Jalan, Mbah Ruliyah
Mbah Ruliyah, nenek terakhir yang saya punya, akhirnya meninggal dunia kemarin pagi. Mboke, begitu saya biasa memanggilnya, berpulang setelah lebih dari satu bulan dirawat di PKU Muhammadiyah dan Sardjito.
Usianya yang memang sudah sepuh (85 tahun), sakitnya yang parah, dan lamanya ia dirawat, membuat kami sekeluarga sudah bersiap dengan kemungkinan yang terburuk.
Kesedihan itu sudah kami cicil hari demi hari. Hingga akhirnya, tepat saat Mboke berpulang, kami sudah sangat bisa merelakan kalau memang Mboke harus pergi. Bahkan, ada sejumput kelegaan.
Kami rasanya sudah tak tega melihat Mboke selama dirawat di rumah sakit hanya bisa hidup dengan bantuan alat, bernafas dengan selang yang dicocok ke tenggorokannya yang dilubangi, hidup dengan ginjal yang sudah sangat buruk sehingga harus senantiasa dicuci darahnya. Ikhtiar sudah kami lakukan, tapi jalan terbaik dari Tuhan tak dapat kami tolak.
Setelah Mbah Sri, lalu Mbah Mi, lalu Mbah Maksum, dan kini Mbah Ruliyah. Saya sudah tak lagi punya nenek.
Waktu memang terus merambat maju, tak pernah pelan, namun juga tak pernah cepat. Ia berderap sesuai dengan kodrat edarnya. Kesenangan dunialah yang membuat waktu terasa lambat, dan kematian orang-orang tercinta yang dulu memanjakan kitalah, yang membuat waktu terasa sangat cepat.
Setelah ini, kehidupan akan kembali berjalan seperti biasa. Memang akan aneh sebab tak ada lagi Mboke, namun tentu saya akan terbiasa, cepat atau lambat.
Bapak dan ibu saya sudah menjadi kakek dan nenek, saya dan Kalis akan segera menjadi bapak dan ibu, anak saya pun kelak akan punya anak, dan giliran saya dan Kalis yang akan menjadi seorang kakek dan nenek.
Hidup memang tentang menggantikan dan digantikan. Kita hanya bisa berusaha agar mampu menjalani peran itu dengan sebaik-baiknya. Menghadirkan kebijaksanaan saat menggantikan, dan meninggalkan warisan yang baik dan layak dikenang saat digantikan.
“Mbah Ruliyah itu dulu puluhan tahun bekerja sebagai tukang bungkus tempe, kita semua warga Seneng 1 dan Seneng 2 kalau makan tempe ya pasti tempe yang dibungkus oleh Mbah Ruliyah. Kita besar salah satunya karena tempe bungkusan Mbah Ruliyah. Semoga untuk setiap hal baik yang kita lakukan, Allah mencatatkan itu sebagai amal baik bagi Mbah Ruliyah,” begitu kata Pak Mukhid, imam yang menyolati Mboke sesaat setelah sholat selesai.
Saya mendengarkan itu dengan perasaan yang hangat.
Semoga amal Mbah Ruliyah diterima, dan kesalahannya diampuni.
Selamat Datang, 2023
Ada banyak resolusi tahun baru yang terlewat, dan saya siap membuat resolusi baru lagi, yang tahun depan mungkin juga akan terlewat lagi.
Tahun selalu berganti, dan ia akan selalu menuntut beban dan tanggung jawab yang lebih besar dari yang sudah-sudah. Maka, tak ada cara yang lebih masuk akal untuk merayakan pergantian tahun selain dengan mensyukuri nikmat-nikmat sederhana yang sudah kita dapatkan.
Pekerjaan yang tidak besar namun ajeg, kawan-kawan yang baik, keluarga yang peduli, masakan istri yang bermutu, reputasi yang makin moncer, follower yang makin banyak, cicilan yang perlahan segera lunas, dan nikmat-nikmat lainnya.
Ini malam tahun baru yang agak berbeda. Saya tidak menghabiskannya dengan nongkrong dan thethek semalam suntuk di ngeboog perempatan bersama kawan-kawan seperti tahun-tahun sebelumnya.
Saya menghabiskannya di depan layar komputer, sambil mencicil pekerjaan. Kalis sudah terlelap di kamar. Dan kucing-kucing kesayangan yang selama ini menjadi penghangat hati hanya bisa kaget atau sesekali mengintip dari jendela, saat kembang-kembang api tahun baru itu menyalak di langit.
Tuhanku yang maha kasih, aku tidak meminta agar tahun 2023 menjadi tahun yang lembut dan lunak, aku meminta dikuatkan agar sanggup menghadapi 2023, sekeras apapun bentuknya.
Selamat datang, 2023.
Cincin Pernikahan
Hari ini, tepat tiga tahun lalu, saya menikahi Kalis Mardiasih. Tentu tiga tahun merupakan durasi yang tanggung. Belum terlalu panjang, tapi sudah sangat cukup untuk membuka sifat-sifat asli kami berdua.
Saya tidak pernah meragukan kualitas cinta saya kepada Kalis, dan begitu pula sebaliknya. Kami sudah menjalani hari-hari berdua, dengan segala kesemrawutan, keindahan, keromantisan, kecurigaan, keputusasaan, kebencian, kerinduan, dan aneka bumbu-bumbu pernikahan lainnya. Dan itu makin menguatkan kami.
Kalis, dengan pemakluman yang nyaris sukar dinalar, seakan selalu bisa menerima saya dengan segala kekurangan yang saya miliki. Hal yang sebenarnya membuat saya merasa sangat terharu sekaligus masygul, apalagi kalau mengingat bagaimana saya merasa tidak memberikan penghargaan atas cinta kepadanya dengan cara yang layak.
Saya, misalnya, menembak Kalis di atas motor Honda Beat butut saat kami melaju berboncengan di jalan Kaliurang. Lokasi yang sebetulnya lebih berpotensi dikenal sebagai TKP klithih alih-alih jalanan yang romantis untuk mengungkapkan perasaan.
Saat melamar Kalis, saya lupa memakai sepatu sehingga saya datang ke rumah Kalis dengan masih memakai sandal jepit Swallow. Seserahan yang saya bawa juga dibungkus kardus-kardus Indomie, bukan kotak kemasan yang estetik. Hal yang sejujurnya membuat saya dan keluarga sepintas lalu tampak seperti rombongan pemudik antar provinsi.
Yang lebih saya ingat, cincin lamaran kami adalah cincin imitasi yang yang saya beli ala kadarnya di toko perhiasan tanpa mengukur jari kami berdua. Jadilah cincin itu hanya menjadi cincin formalitas belaka dan harus dilepas saat dipakai sebab ukurannya logro alias longgar, baik di jari saya, maupun jari Kalis. Setelah menikah, kami juga tidak memakai cincin.
Dosa yang lebih besar adalah saat ijab kabul, saya lupa tidak menghias uang mahar saya. Ehm lebih tepatnya, memang belum punya kesadaran untuk menghias uang mahar. Ketika ditanya oleh penghulu, mana uang maharnya? Dengan bodohnya, saya keluarkan begitu saja uang mahar itu dari saku, lembaran-lembaran uang kertas yang kucel itu saya tata seperti seorang kondektur bis yang menata uang iuran ongkos dari penumpang. “Ini, Pak,” ujar saya menunjukkan uang itu pada penghulu. Totalnya 625 ribu.
Tentu saja kebodohan itu tidak mengurangi rasa sayang Kalis pada saya. Walau belakangan saya tahu, ia dongkol juga. Ia pernah mempertanyakan alasan saya tidak mem-pigura atau menghias uang mahar pernikahan kami seperti selayaknya pasangan wajar pada umumnya.
Untung saja saya punya jawaban yang taktis dan mampu meredam tegangnya pertanyaan itu: “Kalis, Duit kucel kuwi malah lebih terasa kebermanfaatannya. Tak terhitung berapa tangan pekerja keras dan kotak infak yang sempat ia singgahi sebelum akhirnya jatuh ke tanganmu. Lagipula, uang maharnya nggak bakal bisa dihias cantik, sebab cantiknya sudah diambil semua oleh mempelai perempuan.”
Maka, keputusan saya untuk mengajak Kalis membeli cincin pernikahan di ulang tahun pernikahan kami yang ketiga, tentu saja adalah keputusan konyol, namun saya merasa, itu bisa menjadi selemah-lemahnya iman untuk membuktikan, bahwa saya punya semangat untuk menghadirkan penghargaan yang layak atas cinta Kalis kepada saya.
Saya bahagia melihat Kalis tampak sumringah saat memilih cincin untuknya. Hal sederhana yang harusnya bisa saya usahakan sejak lama.
Ini perasaan yang ganjil. Kami berdua akhirnya punya sepasang cincin perak yang indah dan punya ukuran pas. Memang bukan cincin berlian yang harganya ratusan juta (Saya adalah Agus Mulyadi, bukan Erick Thohir atau Kylian Mbappe), namun setidaknya, saya berharap, semoga sepasang cincin perak ini bisa menjadi semacam pelengkap yang luwes untuk pernikahan kami.
Terima kasih, Kalis. Atas cinta dan ketabahanmu selama tiga tahun ini. Saranku satu: Pertahankan!
Pertautan Rasa dan Selera
Kemarin di Surabaya, saat berkumpul bersama kawan-kawan Patjar Merah yang memang sedang punya hajat, Kalis mencoba pecel semanggi yang dibawa oleh seorang kawan. Itu pertama kalinya Kalis makan pecel semanggi.
Kalis menciduk sambel pecel itu dengan potongan kerupuk lalu memasukannya ke mulutnya, dan mengunyahnya dengan penuh khidmat.
Ia diam sejenak. Dari roman mukanya, tampak belaka bahwa ia sedang memproses rasa sambel pecel semanggi. Lidahnya sedang mengkalkulasikan pecel itu, apakah layak disebut enak, biasa saja, atau tidak enak.
“Pecelnya enak,” kata Kalis.
Saya yang mendengar itu langsung mendekatkan tangan saya, mencoba meraih potongan kerupuk dan mencicipi pecel tersebut.
Namun, belum juga saya sempat memotong kerupuk itu, Kalis langsung menghalau saya.
“Mas pasti nggak suka, ini sambel pecelnya kayak ada rasa petisnya,” terang Kalis. “Mas pasti nggak cocok.”
Terharu juga saya mendengarkan penjelasan itu. Betapa sebagai istri, Kalis tahu betul selera makan saya. Hati saya langsung congkak. Apalagi saat itu, ada beberapa kawan yang ikut makan bersama kami. Saya seakan-akan ingin berteriak, “Kalian lihat itu? Betapa istriku sangat mengerti aku.”
Tentu saja itu sejenis kecongkakan yang menggembirakan. Saya menikmati kesombongan yang lahir dari kepekaan Kalis atas selera makan saya itu.
Sebagai pasangan suami-istri yang kerap beradu mulut (baik dalam arti yang sebenarnya maupun tidak), tentu lidah kami sangat sering bertaut. Namun saya tak menyangka, bahwa pertautan itu ternyata menjadi medium bagi lidah Kalis untuk menyerap saripati selera lidah saya sehingga ia sampai bisa tahu, rasa yang bagaimana saja yang bisa cocok di lidah saya dan mana yang tidak.
Malam harinya, saya, Kalis, dan kawan kami Windy Ariestanty, makan malam di salah satu warung penyetan di bilangan Wonokromo.
Di depan meja kasir, Kalis dan Windy sibuk memilih menu, sedangkan saya berdiri di belakang mereka berdua.
Kalis bertanya pada saya, “Mas mau makan apa?”
Entah kenapa, saya ingin sekali menikmati lagi kecongkakan yang saya rasakan tadi siang. Maka, tanpa banyak basa-basi, saya menjawab pertanyaan Kalis itu dengan jawaban singkat.
“Terserah kamu saja, Lis. Kamu tahu seleraku.”
Tepat setelah selesai mengatakan itu, saya langsung berjalan menuju ke tempat duduk. Tentu saja dengan dada yang membusung.
Menonton Dewa 19 (Lagi)
Dewa 19, tak bisa tidak, adalah band yang turut memperlancar jalan asmara saya dengan Kalis. Bagaimanapun, konser Dewa 19 lah yang dulu saja jadikan sebagai momentum untuk mengajak Kalis ngedate.
Mulanya adalah perjalanan pulang dari acara ulang tahun Mojok yang kedua yang diselenggarakan di Surabaya dan Malang pada Agustus 2016 silam. Kebetulan Kalis ikut karena menjadi salah satu penulis yang diajak untuk mengisi forum diskusi.
Dalam perjalanan pulang itulah, saya tahu kalau Kalis suka Dewa 19, ehm, lebih tepatnya, suka Ari Lasso. Saya kemudian menawarinya untuk nonton konser Dewa 19 sebab kebetulan saya seorang Baladewa.
“Kalau besok-besok ada konser Dewa 19, kamu mau nggak aku ajak nonton, Lis?” tanya saya. Dia menjawab mantap. Mau.
Dua bulan kemudian, Dewa 19 ternyata konser di Solo. Kok ya pas banget. Kalis saat itu memang tinggal di Solo.
Saya akhirnya benar-benar menonton konser itu bersama Kalis.
Tentu saja itu menjadi momen yang layak dikenang. Walau di balik itu, Kalis ternyata agak mangkel juga, sebab belakangan baru saya tahu, Kalis mendapatkan bocoran informasi dari sumber yang layak ditempeleng (seorang kawan yang tidak becus untuk menutup mulut), bahwa seminggu sebelumnya, saya menonton Dewa 19 di kota lain, bersama perempuan lain.
Saat itu, saya memang sedang agak hobi menjadikan event konser sebagai jalan ngedate dan pedekate.
Apa pun itu, momen menonton Dewa 19 di Solo itu tentu menyumbang dampak yang besar bagi hubungan kami. Sepulang dari menonton itu, saya mencoba meyakinkan Kalis agar ia pindah saja dari Solo ke Jogja.
“Wis tho, enak, enak.” Kata saya.
Kelak, ia akhirnya benar-benar pindah ke Jogja. Ia mendapatkan pekerjaan untuk mengurusi konten website salah satu penerbit di Jogja.
Kami jadi semakin dekat. Saya sering mengajaknya sarapan bareng di Soto Pak Syamsul pasar Kolombo. Kedekatan itu, ditunjang oleh gojlokan kawan-kawan yang memang sering menjodoh-jodohkan kami, akhirnya benar-benar membuat kami makin akrab dan mesra. Setahun kemudian, kami akhirnya pacaran. Dan dua tahun setelahnya, kami menikah.
Alhamdulillah, investasi tiket Dewa 19 yang seharga 1,5 juta kala itu (per tiketnya 750 ribu) sekarang sudah balik modal. Berlipat-lipat.
Malam ini, saya dan Kalis kembali menonton Dewa 19. Kali ini dengan formasi dahsyat, empat vokalis sekaligus (Virzha, Ello, Once, Ari Lasso) dan dua drummer (Agung Yudha dan Tyo Nugros).
Tentu saja saya yang bayarin tiketnya. Bukan apa-apa, dari pengalaman yang sudah-sudah, saya sering ketiban untung kalau habis bayarin Kalis nonton konser. Ya siapa tahu investasi yang satu ini lagi-lagi balik modal. Siapa tahu, kan?
Ancen dalan rejeki uwong ki bedo-bedo. Ono sing bathi seko saham, ono sing bathi seko properti, ugo ono sing bati seko konser Dewa 19. Kabeh-kabeh rumuse podo: konsisten.
Bismillah, poin.
Darmawisata ke Muangthai
Tanggal 3 Agustus lalu, saya berulang tahun yang ke-31. Kalis memberikan kado berupa traktiran darmawisata ke Thailand selama 4 hari. Saya bukan tipikal orang yang suka liburan, namun karena traktiran ini statusnya adalah hadiah ulang tahun dari istri tercinta, maka tentu saja saya menyambut kado tersebut dengan suka-cita, walau saya tahu betul, Kalis-lah yang sebenarnya sangat ingin berlibur ke Thailand.
Saya menduga ia sengaja mencari tanggal yang pas sebagai momentum, dan dipilihlah hari ulang tahun saya. Taktis sekali. Ia bisa mewujudkan keinginannya untuk berlibur ke Thailand sekaligus menunaikan “tanggung jawab” emosionalnya sebagai istri dengan memberikan kado ulang tahun yang berkesan untuk suami. Sekali dayung, dua pulau terlampaui.
Saya tak yakin ia membaca buku “The Art of War”-nya Sun Tzu, namun harus saya akui, manuver dan siasatnya memang sangat strategis. Semacam perpaduan antara cerdik dan licik dalam kadar yang pas.
Ah, saya tak sabar menunggu tanggal 3 Agustus tahun depan. Entah manuver apa lagi yang akan ia lakukan. Yang jelas, saya sudah siap lahir dan batin kalau tahun depan diajak nonton MU di Manchester atau diajak berangkat umroh ke Mekkah.
Alhamdulillah, poin. Kabeh-kabeh ki nek ditlateni hasile Insya Allah kacek.
Berhati-Hatilah, Wahai Para Suami
Wahai para suami, salam kompak. Pesan saya hari ini, selalu berhati-hati dalam bertindak, sebab celah sedikit saja, itu bisa menjadi serangan yang berbahaya. Saya sudah membuktikannya.
Instagram story soal kucing yang saya pikir tidak berbahaya itu, ternyata bisa diubah menjadi serangan psikis yang membuat jantung saya bekerja amat keras.
Ah, lamat-lamat, saja jadi ingat dengan anekdot lawas soal lelaki yang pulang ke rumah namun di bajunya, menembel satu helai rambut keriting yang agak panjang. Si istri curiga, lalu menginterogasinya.
“Mengaku saja, kamu pasti selingkuh dengan perempuan berambut keriting, ini buktinya,” kata si istri sambil mengambil rambut keriting yang menempel di kemeja suaminya itu.
Si lelaki menampik dan menjelaskannya dengan panjang lebar. Si istri akhirnya percaya.
Hari berikutnya, lelaki itu pulang. Kali ini, ia tak menyangka kalau di kerah bagian belakangnya, ada rambut pirang lurus yang menempel.
Si istri lagi-lagi marah-marah. “Kemarin aku sudah percaya, tapi kali ini, kau kembali membuatku curiga. Sekarang kau selingkuh dengan perempuan berambut pirang dan lurus. Mengaku saja!” ujarnya sambil mengambil rambut yang menempel di kerah belakang suaminya.
Lelaki itu lagi-lagi memberikan penjelasan yang panjang lebar. Ia bahkan sampai memohon-mohon dan memberikan bukti dan alibi bahwa seharian tadi ia berada di kantor. Si istri akhirnya percaya.
Hari berikutnya, tak ingin dituduh selingkuh lagi, sebelum pulang, lelaki itu memastikan bahwa tak ada satu helai pun rambut yang menempel di bajunya. Ia memeriksa dengan seksama dari ujung kerah sampai ujung lipatan celana. Tak ada satu helai rambut pun yang menempel. Aman, pikirnya.
Sampai rumah, istrinya langsung mengamatinya dengan seksama. Dilihatnya dari atas sampai bawah.
“Oh, jadi sekarang kamu selingkuh dengan perempuan botak?”
Melepas Kalis ke Jerman
Semalam saya mengantar Kalis ke bandara. Malam tadi, ia berangkat ke Jerman untuk mengikuti Visitor Trip Global Feminist atas undangan Goethe Institute Programme. Ia akan berada di Eropa setidaknya selama tiga minggu.
Saya harusnya cukup melepasnya dari Bandara YIA (Rute penerbangannya dari Jogja - Jakarta - Qatar - Jerman), namun ia memaksa saya untuk tetap melepasnya dari Soekarno-Hatta.
“Aku kan bakal lama di Eropa, biar Mas melepasnya bisa syahdu gitu, lho,” ujarnya. “Minimal seperti adegan Cinta sama Rangga.”
Saya sebenarnya agak kurang setuju, selain boros, saya merasa tidak ada beda melepasnya di Bandara Jogja atau di Bandara Jakarta. Tapi yah, mau bagaimana lagi, kalau saya menolak, nanti dikira saya tidak peduli pada istri. Akhirnya saya turuti juga permintaan perempuan Blora itu.
Pada kenyataannya, proses pelepasan di Jakarta itu toh sangat tidak Rangga-Cinta. Tidak ada isak tangis, tidak ada keharuan atau sesuatu yang sentimentil, juga, tentu saja, tidak ada adegan ciuman klomoh sebelum berpisah seperti layaknya Cinta melepas Rangga.
Mau ciuman klomoh gimana, di Terminal 3 di pintu masuk menuju ruang tunggu keberangkatan, ruangan penuh oleh orang-orang yang akan berangkat umroh. Kasihan mereka kalau harus melihat kami berciuman. Ibadah umroh harusnya dibekali dengan pengalaman-pengalaman spiritual, bukan pengalaman melihat adegan “kemerosotan moral”.
Maka, momen pelepasan itu pada akhirnya justru jauh dari kesan romantis.
“Hati-hati di sana, sholatnya jangan lupa, cari ilmu yang banyak, dan yang penting, jangan lupa bersenang-senang.” Begitu pesan saya pada Kalis.
Pesan yang, setelah saya pikir-pikir, lebih pas sebagai pesan orang tua kepada anak SD-nya yang mau berangkat piknik ke Gembira Loka atau Monumen Jogja Kembali alih-alih pesan dari suami yang melepas istrinya belajar ke luar negeri.
Ya sudah, selamat belajar, Kalis Mardiasih. Mohon ijin tiga minggu ini saya mau jadi bujangan lagi.
😁😁😁
Jaket Bapak yang Edgy Kepolen
Saat pulang mudik ke Magelang tempo hari, saya sejatinya ingin mencoba memunculkan suasana haru seperti suasana lebaran yang saya temui di rumah mertua saya di Blora, suasana yang penuh dengan air mata saat Kalis dan bapak ibunya saling meminta maaf.
Namun apa mau dikata, begitu pulang ke rumah, saya langsung disambut oleh bapak saya dengan prejengan jaket yang sangat “edgy kepolen” seperti yang tampak di foto.
Tentu saja sirna seketika keharuan yang ingin saya bangun dan langsung berganti dengan tawa yang disisipi makian “Bajangkrek setan alas, jaketmu, Pak. Beyond”
Lha gimana, dengan jaket seperti itu, kalau dilihat dari warna, bapak saya jadi tampak seperti Kamen Rider, sedangkan kalau dilihat dari bentuk jaketnya yang bertudung ala tanaman pemakan serangga Venus Flytrap itu, bapak saya jadi serupa Zetsu Akatsuki.
Duh Gusti, kelihatannya saya memang harus mulai menerima kenyataan kalau keluarga saya tidak akrab dengan keharuan.



