Agus Mulyadi Njaluk Rabi

Memilih Sponsor MU di Goodie Bag

| Thursday, 18 September 2025 |

Beberapa waktu yang lalu, saya diundang buat membedah buku saya oleh Perpus Salatiga. Peserta yang hadir mendapatkan satu goodie bag dengan desain bergambar lelaki atraktif memakai jersey MU ini.

Tentu saja ini desain yang menarik, tetapi saya jelas penasaran dengan pemilihan jersey yang digambar di goodie bag ini.

goodie bag bedah buku agus mulyadi

“Mas, kenapa jersey MU-nya bersponsor AON? Kenapa bukan Snapdragon, sponsor terbarunya MU?” tanya saya pada panitia.

Jawaban panitia simpel tetapi menohok.

“Sengaja kami pilihkan desain pas jaman sponsornya masih AON, Mas. Soalnya pas sponsornya AON, MU masih berwibawa, masih sering jadi juara, dan jarang kalah. Nggak kayak sekarang, Mas. Remhoook.”

Sungguh sebuah keputusan yang bijak lagi taktis. Ah, bahkan sekadar urusan harga diri MU, bisa berdampak terhadap keputusan kepustakaan dan literasi daerah.

Benar-benar tim di luar nalar.

Kelas Menulis Lucu ala Agus Mulyadi

| Friday, 8 August 2025 |

Setahun yang lalu, saya pernah bikin kelas menulis lucu melalui zoom. Kelas berdurasi dua jam itu diikuti oleh 56 peserta. Seingat saya itu kali pertama saya membuka kelas menulis lucu, sebab sebelumnya, saya lebih sering mengisi kelas menulis ringan atau kelas storytelling.

Sejujurnya, saya tak terlalu puas dengan kelas tersebut. Menyampaikan materi tentang penulisan lucu secara online melalui zoom, di mana banyak peserta yang tidak on cam, ternyata bukanlah hal yang mudah. Selain itu, durasi dua jam juga membuat saya kurang maksimal, terutama dalam memaparkan contoh tulisan.

Sejujurnya, saya merasa tulisan saya bukan jenis tulisan yang bagus. Saya lebih pede menyebut tulisan-tulisan saya adalah jenis tulisan yang lucu. Setidaknya itu yang bisa saya simpulkan dari tulisan-tulisan saya di Facebook yang sering mendapat banyak emot tertawa.

Menulis cerita lucu adalah satu hal, sedangkan menulis lucu adalah hal yang lain. Anda mungkin bisa tertawa terbahak-bahak jika melihat langsung saat saya terjatuh terpeleset kulit pisang lalu wajah saya disambut tahi kebo seperti selayaknya adegan-adegan slapstick film Warkop itu. Namun saya yakin, Anda tidak akan tertawa (atau kalaupun tertawa, tidak akan seterbahak-bahak itu) saat adegan tersebut tidak Anda saksikan secara langsung, melainkan hanya Anda ketahui melalui tuturan tulisan.

Sebaliknya, Anda mungkin tidak akan tertawa jika berjumpa dengan Karni Ilyas atau David Letterman. Namun, Anda boleh jadi akan tertawa (minimal menyunggingkan senyum) jika Anda menemui Karni Ilyas dan David Letterman tidak secara langsung, melainkan dari narasi tulisan seperti di bawah ini.

David Letterman, lelaki bangkotan yang namanya bisa di-Indonesia-kan menjadi Daud Suratman itu adalah presenter yang amat kondang, kelasnya internasional. Kalau di level lokal, ada Karni Ilyas, sosok presenter yang amat berkharisma walau suaranya serak parau dan kalau ngomong harus sering dicicil selayaknya tagihan kredit Astra itu.

Lalu, apakah menjadi lucu itu bakat? Saya pikir tidak. Andika Pratama membuktikannya di Lapor Pak! Dia bukan aktor lucu, tetapi konsistensi, latihan, dan lingkungan di sekitar dialah yang membuat ia mampu tampil lucu.

Saya meyakini, menjadi lucu bisa dipelajari. Kiranya itu pula yang terjadi pada menulis lucu. Ada banyak teknik yang bisa dipakai untuk memoles sebuah tulisan agar menjadi lebih lucu, bahkan walau dengan humor yang tipis-tipis. Ada pola yang bisa dipelajari.

Nah, hari Minggu lalu, sebagai sebuah upaya balas dendam atas ketidakpuasan saya terhadap kelas menulis lucu yang diselenggarakan secara online, saya akhirnya kesampaian mengisi kelas menulis lucu secara offline untuk pertama kalinya. Durasi kelasnya 4 jam dengan jumlah peserta 19 orang (7 di antaranya dari luar Jogja).

Kali ini, saya merasa jauh lebih puas dan marem. Ada banyak contoh tulisan yang bisa dibedah, pun ada lebih banyak materi yang bisa dieksplore ketimbang saat kelas online. Walau tetap saja, durasi 4 jam rupanya masih tidak cukup.

Terima kasih kepada belajarliterasi.id yang sudah memfasilitasi kelas menulis lucu ini. Terima kasih kepada Kaktus Coffee yang sudah menyediakan tempat dan fasilitas kelas yang nyaman. Serta tak lupa, terima kasih kepada para pejabat pemerintah yang tak henti-hentinya memberikan supply bahan baku kelucuan yang tak habis-habis.

Sampai jumpa si kelas berikutnya.

kelas menulis lucu agus mulyadi

Disparitas Intelektualitas

| Monday, 23 June 2025 |

Kemarin siang saya berkesempatan mengisi di acaranya kawan-kawan prodi Pemikiran Politik Islam UIN Surakarta berduet bersama Mas Zainal Arifin Mochtar alias Mas Uceng.

agus mulyadi zainal arifin mochtar

Jelas ini sesi yang agak bernuansa ketabahan, sebab tim favorit saya dan Mas Uceng sama-sama baru saja menelan kekalahan memalukan di final dan sama-sama gagal tampil di kompetisi Eropa musim depan. Saya fans MU, sementara Mas Uceng fans Milan.

Saya dan Mas Uceng adalah tetangga dekat di Ngaglik. Rumah Mas Uceng hanya berjarak beberapa ratus meter dari rumah saya. Namun, walau tetangga dekat, input kami sebagai personal sangat berbeda. Rumah Mas Uceng dekat sekali dengan masjid, sementara rumah saya dekat sekali dengan lapangan mini soccer.

Mas Uceng terbiasa mendengarkan kalimat-kalimat thoyyibah dari masjid, entah ceramah atau bacaan ayat suci Al-Quran. Sementara saya terbiasa mendengarkan kalimat “Oper kene, Su!” atau “Wooo, goblok, bal penak ngono kok ora gol!”

Kiranya itulah yang membuat kami menjadi pribadi yang sangat berbeda. Mas Uceng kini dikenal sebagai dosen dan salah satu pakar hukum tata negara paling jempolan di negeri ini. Ia sosok yang sangat berpendidikan, wajahnya sangat tut wuri handayani, gerak-geriknya sangat pedagogi. Ibarat kata, melihat wajahnya saja sudah membuat seseorang merasa terdidik.

Sementara saya, jelas jauh panggang dari api. Pendidikan saya mentok cuma sampai SMA, dan wajah saya pun jelas bukan gambaran ideal wajah seorang cendekia, semacam wajah yang jauh lebih pantas seandainya dijadikan sebagai cover buku “Pendidikan Kaum Tertindas”-nya Paulo Freire.

Jelas ini kesenjangan yang sangat besar. Mangkanya, tempo hari, saya agak jiper saat Dafi, mantan anak buah saya dulu (uhuk) yang sekarang sudah jadi Kaprodi di UIN Surakarta itu meminta saya buat berduet dengan Mas Uceng.

Puji Tuhan, performa saya ternyata tidak njeglek-njeglek amat saat beradu dengan Mas Uceng. Bahkan setelah selesai acara, mahasiswa yang meminta saya buat berfoto tak kalah jumlahnya dengan mahasiswa yang meminta foto bersama Mas Uceng.

Puncaknya adalah saat di ruang transit sesaat setelah Mas Uceng pulang. Saya berbisik pelan kepada Dafi. “Daf, iki jujur-jujuran wae. Aku penasaran. Honorku ro honore Mas Uceng gedhe sopo?”

“Podo,” jawab Dafi.

Tepat saat jawaban itu keluar dari mulut Dafi, saya merasa segala kesenjangan intelektual tadi langsung hilang seketika.

Northwestern University - 1
SMA Tidar - 1

Realisme Magis Berwujud Air Galon di Hotel Berbintang

| Friday, 30 August 2024 |

Ini pengalaman pertama kalinya dalam hidup. Nginep di hotel yang lumayan terkenal di tengah kota Jakarta, dan airnya mati. Trus sama pihak hotelnya dikasih air dua galon sama gayung buat cebok dan cuci muka. Benar-benar pengalaman “realisme magis”.

air galon

Bukan, ini bukan salah hotelnya, sebab bukan cuma hotel yang saya tinggali ini yang kena dampak air mati, tapi juga ribuan bangunan lainnya di 84 kelurahan di Jakarta Selatan, yang memang diakibatkan oleh kebocoran pipa air PAM Jaya.

“Kemarin jam empat sempat hidup sebentar airnya, tapi sekarang mati lagi,” kata resepsionis.

Sejak sering bolak-balik Jogja-Jakarta buat promo film, saya dan Kalis memang jadi sering menginap di hotel ini, hotel lawas bintang 4 yang memang lokasinya sangat strategis karena berada di tengah kawasan perkantoran dan kebetulan dekat dengan kantor media yang menggarap film saya.

“Nanti petugas kami akan bawakan air dua galon ke atas.“

Saya dan kalis lalu berjalan menuju kamar, tentu dengan perasaan agak tak percaya. Dan begitu dua galon itu benar-benar sampai di depan pintu, meledaklah tawa saya.

“Tidak masuk akal, Kalis. Tidak masuk akal.” Kata saya. Jujur saja, saya jadi bingung, harus marah atau malah harus tertawa.

Saya memang pernah mendengar cerita bahwa Raisa mandi dengan air galon, namun saya tak menyangka saya akan mengikuti jejaknya, bahkan lebih dahsyat, sebab air galon itu tidak saya pakai untuk mandi, melainkan untuk cebok.

Area vital saya benar-benar dimanjakan. Benar-benar silit elit, manuk ningrat.

“Kui yen galon’e isi air RO, cebokmu full oksigen mas,” komentar Okta kawan saya.

Tentu saja saya tertawa membaca komentar itu, sebab saya jadi membayangkan, bagaimana jadinya silit dan manuk yang full oksigen. Saya jadi bertanya-tanya, apakah kentut saya akan makin ngowos dan bertenaga? Dan apakah burung saya jadi punya performa kelelakian yang jauh lebih agresif serupa piston angin?

Sambil meringis getir, saya berjongkok menatap dua galon dengan gayung baru yang masih ada label harganya itu. Di dalam galon itu, bukan hanya ada air, tapi juga ada kunci kesuksesan Raisa, nama baik PAM Jaya, dan reputasi hotel bintang empat.

Ah, rasanya tak pernah saya melihat galon air yang penuh statement dan sepuitis ini.

Kepuasan Menonton Film Siksa Kubur

| Wednesday, 17 April 2024 |

Kemarin saya dan Kalis akhirnya kesampaian buat menonton film Siksa Kubur. Ini film yang memang sudah saya tunggu-tunggu, selain karena memang trailernya menjanjikan, juga karena banyak perbincangan tentang gimmick-gimmick yang menyertai film ini. Dari gimmick yang serius sampai gimmick yang lucu.

siksa kubur

Saya tak terlalu suka menonton film horor, namun khusus untuk film horor garapan Joko Anwar, ada pengecualian. Saya suka Pengabdi Setan dan Perempuan Tanah Jahanam, jadi saya pikir, saya juga akan suka dengan Siksa Kubur. Dan dugaan saya tak salah. Saya suka.

Kalis yang biasanya tidak suka film horor pun ternyata mau menonton film ini. Ya sudah. Gaaas.

agus kalis

agus kalis

Film Siksa Kubur ini bercerita tentang Sita, perempuan dengan dendam yang amat membara, sebab saat kecil, orangtuanya tewas terbunuh oleh bom bunuh diri yang diledakkan oleh seorang pria yang mengaku sangat ketakutan pada siksa kubur.

Sebelum bunuh diri, pria tersebut sempat memberikan kaset pita berisi rekaman suara siksa kubur yang ia rekam sendiri di makam seorang penjahat kepada Adil, kakak Sita. Berawal dari kaset itulah, rangkaian dendam itu kemudian membesar.

Setelah dewasa, Sita terobsesi untuk mencari orang-orang yang ia anggap bejat dan jahat dan menunggunya mati agar ia bisa “mem-booking” liang kuburnya, tidur di sebelah mayatnya, untuk membuktikan siksa kubur itu benar-benar ada atau tidak.

Obsesi itu seperti menemukan jalannya, sebab Adil, kakaknya, bekerja sebagai tukang memandikan jenazah sekaligus menguburkannya.

Selama proses pencarian bukti itulah, Sita jadi sering menghadapi pengalaman-pengalaman mengerikan yang membuat batinnya sangat tersiksa.

siksa kubur

Saya merasa puas dan marem. Ini mungkin agak tidak berperasaan, tapi entah kenapa, saya girang betul tiap kali Sita tersiksa batinnya karena kelewat ngebet pengin membuktikan bahwa siksa kubur itu tidak ada. Entah sudah berapa kali saya membatin “Modar kowe…!!!” tiap kali Sita mengalami hal yang membuatnya ketakutan.

Saya orangnya simpel, kalau ada orang ngeyelan dan keras kepala lalu kena batunya, saya senengnya minta ampun. Lagian pakai sok-sokan tidur di samping mayat di liang kubur, Kalau memang nggak percaya sama agama, minimal percaya sama teknologi GoPro.

Sosok yang Sangat Pemilu

| Thursday, 20 July 2023 |

Jumat lalu, saya menjadi salah satu pemateri di acaranya Ditjen Politik dan Pemerintahan Umum Kemendagri. Tema acaranya “Peningkatan Partisipasi Politik Mahasiswa melalui Forum Demokrasi”. Saya dipanel bareng Mas Bayu Dardias, Kaprodi magister Ilmu Politik dan Pemerintahan Fisipol UGM, dan Mas Dian Permata, peneliti Sindikasi Pemilu dan Demokrasi.

agus mulyadi

agus mulyadi

agus mulyadi

agus mulyadi

Tentu saja acara ini makin melengkapi karier skena kepemiluan saya.

Kalau mau direkap, saya pernah ikut kampanye partai (PDIP dan PKB), pernah jadi tukang pasang umbul-umbul dan bendera partai, pernah jadi tukang desain stiker caleg, pernah jadi saksi caleg untuk Pemilu 2009 (Demokrat) dan 2014 (Gerindra), pernah jadi anggota KPPS, pernah jadi trainer sosialiasi pengawasan partisipatif untuk Bawaslu (baik Bawaslu pusat maupun daerah), dan sekarang ditambah jadi pemateri untuk forum peningkatan partisipasi politik mahasiswa oleh Kemendagri.

Kalau ditambah dengan kiprah keluarga, di mana bapak saya pernah jadi koordinator uang serangan fajar dan juga hansip TPS, maka makin lengkaplah darah pemilu yang mengalir di dalam tubuh saya. Ada asas “luber jurdil” dalam setiap napas dan gerak tubuh saya, dan TPS adalah rumah kedua saya.

Maka, rasanya sudah jelas dan gamblang, siapa sosok yang paling pas untuk menjadi Ketua KPU periode mendatang.

Lelaki Sukses di Adegan Iklan Rokok

| Monday, 3 July 2023 |

Dua hari lalu, saya diminta buat mengisi workshop penulisan laporan untuk Ditjen KPAII Kementerian Perindustrian Indonesia.

kelas agus mulyadi

Mungkin sudah puluhan kali saya mengisi workshop penulisan di kantor-kantor di Jakarta, namun seingat saya, baru kali ini saya mengisi di ruangan yang sangat Jakarta: ruangan dengan background gedung-gedung pencakar langit ibukota.

Berdiri memaparkan presentasi di depan para pegawai dan pejabat kementerian di ruangan dengan background gedung-gedung pencakar langit di bilangan Gatot Subroto, sungguh sebuah adegan yang sejujurnya membuat saya seperti selayaknya eksekutif muda yang menjadi representasi lelaki sukses di scene iklan-iklan rokok (terutama rokok Wismilak) itu.

kelas agus mulyadi

kelas agus mulyadi

kelas agus mulyadi

Tentu saja adegan itu akan makin sempurna jika setelah memaparkan presentasi, saya lalu lanjut ke gym untuk fitness di sore hari, lalu menghabiskan malam di klub sambil dansa-dansi, cipika-cipiki, dan minum martini.

Namun tentu saja saya tidak melakukan itu. Sebab saya bukan tokoh iklan rokok, saya Agus Mulyadi.

Sehabis mengisi workshop, saya langsung bablas ke Stasiun Gambir, nyepur pulang menuju Jogja. Sampai rumah pukul 2 pagi. Langsung masuk kamar, cium kening dan perut istri yang sudah tidur, nonton Naruto dan sekrol-sekrol medsos sebentar, lalu tidur.

Bangun-bangun sudah siang. Istri sudah ndeprok menonton film India di depan televisi di ruang tengah.

“Galon habis, Mas,” ujarnya.

Saya berjalan pelan ke dapur, memeriksa galon, lalu memesannya di tukang galon via Whatsapp. Pesan terkirim, saya kembali ke ruang tengah. “Sudah aku pesankan galonnya,” kata saya pada istri saya. Ia menengok menyunggingkan senyum, “Terima kasih, Sayang.”

Saya lantas berpindah ke ruang kerja, menyalakan komputer, lalu membuka Netflix, lanjut nonton Naruto. “Ini baru lelaki sukses,” batin saya.

Kampus Muhammadiyah Harus Berani Tampil Lucu

| Tuesday, 27 June 2023 |

Hari senin lalu, saya mengisi training media sosial untuk para admin media sosial prodi, fakultas, unit, biro, lembaga, serta amal usaha yang ada di bawah naungan Universitas Muhammadiyah Yogyakarta.

agus mulyadi

agus mulyadi

agus mulyadi

agus mulyadi

Sependek ingatan saya, ini kali keempat saya mengisi di UMY, dan di kesempatan kali ini, saya diduetkan dengan Erwan Sudiwijaya, dosen muda Ilmu Komunikasi UMY yang punya tinggi badan standar Eropa dan berkumis ala-ala gentleman mustache itu.



Di forum itu, saya berusaha menekankan agar akun-akun di bawah lembaga UMY berani tampil jenaka. Data dari Sproutsocial menyebutkan bahwa 51,3 persen keputusan seseorang untuk memutuskan mengikuti sebuah akun brand di media sosial adalah karena akun tersebut menghibur.

“Haram hukumnya kalau sampai akun kampus Muhammadiyah tidak lucu,” kata saya.

“Jadilah lucu” menjadi nasihat yang masuk akal untuk saya sampaikan, apalagi acara ini diselenggarakan di Gedung AR. Fachruddin, gedung yang namanya diambil dari sosok layak menjadi representasi tokoh Muhammadiyah yang jenaka.

Pak AR. Fachruddin, sosok Ketua Umum Muhammadiyah terlama itu adalah sosok yang jenaka. Jika di NU ada Gus Dur, maka di Muhammadiyah ada Pak AR. Banyak warga Muhammadiyah yang menjadi saksi betapa jenakanya sosok yang satu ini.

Kepada saya dan beberapa kawan Mojok saat syuting video Sowan Kiai beberapa tahun lalu, Buya Syafii Maarif pernah bercerita bertapa jenakanya Pak AR.

“Pak AR ini kok merokoknya banyak sekali tho?” Tanya Buya Syafi’e kepada Pak AR suatu kali.

Jawaban Pak AR benar-benar ndlogok: “Ah, kata siapa banyak? Saya merokoknya satu-satu kok,” ujarnya sambil menirukan gerakan dua jari memegang rokok yang dimaju-mundurkan di depan mulutnya.

Kisah legendaris lainnya tentang jenakanya Pak AR tentu saja adalah saat ia mengikuti tes praktik SIM sepeda motor.

Konon, saat berada di lintasan zig-zag, alih-alih mengendarai motornya, beliau justru turun dari motor lalu menuntunnya pelan melewati lintasan.

Si petugas penuh keheranan bertanya kepada Pak AR, “Lho, kok motornya dituntun, Pak?”

Jawaban Pak AR tangkas. “Kalau saya naik motor trus ketemu jalan seperti ini, ya pasti motornya saya tuntun.”

Kali Kedua di Acara Bawaslu

| Friday, 14 October 2022 |

Ini kali kedua dalam satu bulan terakhir saya mengisi di acaranya Bawaslu. Sebelumnya saya mengisi untuk Bawaslu RI, sedangkan kemarin, saya mengisi untuk Bawaslu Jateng.

Agus Mulyadi

Tentu saja rangkaian itu menjadi hal yang menyenangkan bagi saya pribadi. Maklum saja, saya bukan sosok yang sangat pemilu. Kalaupun ada sedikit gurat pemilu dalam wajah saya, itu semata karena tampang saya sangat cocok menjadi tukang pasang spanduk caleg atau penyalur uang serangan fajar.

Memang bapak saya langganan hansip TPS dan saya pernah menjadi saksi untuk salah satu partai, namun saya pikir, itu belum cukup untuk melegitimasi karier kepemiluan saya.

Untung saja, Bawaslu adalah lembaga yang pengertian. Mereka paham betul bahwa saya bukan sosok yang punya kapasitas untuk berbagi materi tentang pemilu, mangkanya, mereka selalu meminta saya untuk berbagi tentang hal yang saya merasa punya kepercayaan diri untuk menyampaikannya: konten media sosial.

Dalam acara kemarin, saya menyampaikan materi tentang strategi konten media sosial kepada anak-anak muda alumni sekolah kader pengawas partisipasif yang berasal dari berbagai daerah di Jawa Tengah.









Kata Mas Tsani, staf Bawaslu Jateng yang menghubungi saya, para peserta pelatihan inilah yang nantinya bakal diproyeksikan untuk ikut membagikan konten-konten edukasi seputar pemilu dan turut aktif memberikan laporan kepada kanal Bawaslu jika menemukan konten-konten menyesatkan tentang pemilu.

Mendengar penjelasan itu, terharu juga perasaan saya. Ternyata saya bisa juga ikut andil dalam usaha mewujudkan pemilu yang baik. Jiwa kemaki saya langsung membuncah.

Selesai acara, saya langsung meninggalkan Hotel Atria, tempat dilangsungkannya acara, dengan dada yang tegap. Tidak sabar saya ingin segera pulang ke rumah, lalu bertemu istri saya dan menceritakan kegiatan yang baru saja saya lalui. Dia pasti bangga, punya suami yang menjalankan peran sebagai sekrup demokrasi dengan penuh passion dan dedikasi.

Agus Mulyadi

Btw, tentu saja akan sangat bijak jika setelah ini, DKPP dan KPU juga ikut mengundang saya, sebab itu bukan saja akan menjadi upaya untuk menjaga stabilitas pemilu, namun juga menjaga stabilitas ekonomi rumah tangga saya. Yang mana keduanya saya kira sama-sama penting.

Mengajar Guru-Guru Luar Biasa

| Tuesday, 20 September 2022 |

Saya bodoh dan miskin, namun saya beruntung punya guru-guru yang luar biasa. Jalan hidup saya dibangun oleh banyak hal, dan kebaikan hati para guru adalah salah satunya.

Bu Darmi yang selalu menawarkan kesabaran tiada ujung dan tak pernah usai, Bu Rochalimah yang selalu membesarkan hati saya yang sering mengkeret karena kemiskinan, Pak Lartono yang selalu memberikan semangat untuk sukses dengan cara yang lucu dan konyol, Bu Tentrem yang selalu menawarkan kepedulian tulus luar biasa, hingga Bu Resmiyati yang sering memuji tulisan saya sehingga menguatkan kepercayaan diri saya yang sebelumnya sangat rapuh dan amburadul.

Guru-guru saya, dengan segala hal yang mereka berikan kepada saya, turut menambal tembok-tembok berlubang pada benteng nyali saya yang membuat saya merasa lebih lebih tangguh dalam mengarungi hidup yang keras dan tidak kenal kompromi ini. Kepada mereka, saya akan selalu punya hutang yang besar.

Maka, ketika beberapa waktu yang lalu, saya diminta oleh Nyalanesia untuk ikut mengisi pelatihan menulis bagi para guru yang berasal dari berbagai penjuru daerah ini, saya merasa itu adalah salah satu jalur bagi saya untuk mencicil hutang saya kepada guru-guru saya.

Saya merasa, di depan saya, ada Bu Darmi-Bu Darmi yang lain, Bu Rochalimah-Bu Rochalimah yang lain, ada pak Lartono-Pak Lartono yang lain, ada Bu Tentrem-Bu Tentrem yang lain, ada Bu Resmiyati-Bu Resmiyati yang lain.

Selalu menyenangkan bisa berbagi dengan guru-guru yang punya semangat besar untuk tumbuh dan belajar menjadi pengajar yang berdampak bagi murid-muridnya.

Saya tak punya pengharapan yang besar, sekadar berdoa semoga seringan-ringannya ilmu menulis yang saya bagikan, bisa bermanfaat dan bisa membuat guru-guru di depan saya ini menjadi perantara bagi murid-murid yang bodoh dan miskin seperti saya, untuk tetap merasa berharga dan punya keberanian menantang kerasnya hidup.

teacher masterclass

Agus Mulyadi

Agus Mulyadi

teacher masterclass

teacher masterclass

teacher masterclass

Agus Mulyadi

teacher masterclass

Keharuan dalam Konser 30 Tahun Dewa 19

| Saturday, 28 May 2022 |

Dari sekian banyak konser Dewa19 yang pernah saya tonton, konser 30 Tahun Dewa19 di Grand City, Surabaya, semalam rasanya menjadi salah satu yang paling berkesan.

Konser itu menjadi konser pertama Ari Lasso bersama Dewa19 setelah ia dinyatakan pulih dari Kanker.

Ini konser yang agak berbau “kejutan” sebenarnya. Saat pertama kali saya memesan tiket, vokalis yang bakal tampil adalah Ello dan Virzha. Namun entah bagaimana ceritanya, sekira beberapa hari sebelum konser, saya melihat kembali posternya dan sudah ada tambahan Ari Lasso sebagai vokalis. Tentu saja saya girang, dan terharu.

konser 30 tahun DEwa19

Ari Lasso memang hanya menyanyikan lima lagu. Namun tak apa, sebab Ello dan Virzha berhasil melakukan tugasnya dengan baik untuk membawakan sisanya.

Tiga lagu pertama yang dibawakan adalah lagu Dewa19 era Ari Lasso yang sangat jarang dibawakan saat konser: Selamat Pagi, Kita Tidak Sedang Bercinta Lagi, dan, Still I’m Sure We’ll Love Again.

Walau tiga lagu itu tidak dinyanyikan oleh Ari Lasso, melainkan bergantian oleh Ello dan Virzha, saya tetap bahagia. Apalagi “Still I’m Sure We’ll Love Again” adalah lagu yang nyaris tidak pernah dibawakan saat konser.

“Spesial untuk konser 30 tahun ini, Dewa19 akan membawakan lagu ini,” kata Dhani.

Ello dan Virzha, saya akui, tampil dengan sangat baik, apalagi Ello, yang baru pertama kali tampil dalam konser Dewa19, berhasil membuktikan bahwa Dewa19 tak perlu menyesal menunjuk dirinya sebagai salah satu vokalis additional.

Momen saat Ari Lasso akhirnya naik ke panggung menjadi momen yang paling istimewa. Ada keharuan yang merayap di sana.

“Lasso... Lasso... Lasso...” penonton berteriak kompak mencoba memanggil Ari Lasso agar naik ke atas panggung. Dan ketika akhirnya ia benar-benar naik, tempik-sorak itu tak bisa dihindarkan lagi.

“Yak opo kabare, Rek?” kata Ari Lasso yang langsung disambut dengan teriakan dan gemuruh yang tak jelas lagi saking ramainya.

“Saya lebih ganteng sekarang apa dulu?” kata Ari bertanya tentang penampilannya yang kini berambut pendek pasca penyembuhan.

“Sekaraaaaaaang!!!” Jawab penonton.

Dari belakang, Dhani menimpali jawaban penonton untuk Ari Lasso itu. “Kon iku ket biyen ancen gak tau ganteng, Ri.”

“Iyo, Dhan. Ngono yo dijawab karo penonton.”

Penonton tentu saja tertawa dengan celetukan itu. Tawa yang berhasil memecah keharuan yang ada.

“Terbaring di tempat tidur selama sembilan bulan dan tidak bisa bernyanyi seperti sekarang ini rasanya sangat melelahkan. Tapi alhamdulillah, saya bisa lolos dari lubang jarum dan bisa tampil lagi di sini.” Kata Ari Lasso.

Penonton kembali berteriak, beberapa mungkin menangis. Itu adegan yang sentimentil, saya kira. Dan sial, Dhani lagi-lagi berulah.

“Ha kamu mending cuma sembilan bulan, aku sebelas bulan,” ujarnya. Sebelas bulan yang ia maksud adalah saat dirinya dipenjara karena kasus ujaran kebencian tahun 2019 lalu.

Keharuan yang muncul itu kembali dihempaskan oleh Dhani. Keparat betul. Tapi memang begitulah seharusnya Dewa19 di “rumah” mereka sendiri. Penuh canda dan keakraban masa lalu.

Keharuan malam itu bukan hanya hadir melalui kembalinya Ari Lasso, melainkan juga dimunculkannya foto-foto kolase perjalanan Dewa19 selama 30 tahun. Hal yang tentu saja menyisakan sesak, sebab foto-foto itu mau tak mau memang membuat ingatan Baladewa tentang kepergian Erwin Prasetya juga hadir. Sosok yang huruf pertama pada namanya akan selalu mewakili huruf “E” pada Dewa19 itu.

Konser sepanjang dua setengah jam tadi malam saya kira menjadi konser pelepas rindu yang amat sempurna.

Lagu “Kamulah Satu-Satunya” yang dinyanyikan bertiga oleh Ari Lasso, Virzha, dan Ello menutup konser dengan kegembiraan yang empuk dan paripurna.

Selamat datang kembali, Ari Lasso. Selamat berkonser lagi, Dewa19.

Penerbangan yang Berkemajuan

| Thursday, 14 February 2019 |

Tanggal 13 Februari, alias H-1 hari Valentine kemarin, saya memang bertolak ke Bengkulu untuk mengisi semacam kelas menulis bagi anak-anak di sebuah sekolah milik sebuah perusahaan perkebunan. Sekolah tersebut rutin mengadakan acara pelatihan tiap tanggal 14 Februari, tujuannya untuk mengisi hari Valentine dengan kegiatan yang berguna dan bermanfaat. Nah, kebetulan tahun ini, saya diminta oleh salah seorang pengurus sekolah (yang kebetulan istri dari kawan saya) untuk mengisi kelas penulisan di sekolah tersebut.

Saya naik pesawat dari Jogja ke Bengkulu. Penerbangan saya bukan penerbangan langsung, melainkan harus transit dahulu sebentar di Jakarta sebelum akhirnya lanjut ke Bengkulu.

Saya sudah pernah beberapa kali ke Sumatera, namun baru pertama kali ini ke Bengkulu.

Selama di Bandara, saya sudah mencium hawa unik terkait dengan penerbangan saya.

Beberapa orang yang satu pesawat dengan saya ternyata saling kenal satu sama lain.

“Lho, Mas Hasan…”

“Ealah, Pak Wiryo…”

“Wah, Ibu Yuni…”

“Mas Naryo…”

Saya jadi merasa seperti sedang berada dalam sebuah acara reuni keluarga minus nyanyi lagu “Kemesraan”.

Penerbangan dari Jogja ke Jakarta ditempuh dalam waktu satu jam lebih sedikit. Sampai di Jakarta, keanehan kembali berlanjut.

Beberapa penumpang baru dari Jakarta yang ikut penerbangan Jakarta-Bengkulu lagi-lagi banyak yang saling kenal.

Kali ini jumlahnya jauh lebih banyak.

“Lhooo, Pak Andi…”

“Eh, prof Yahya…”

“Masya Alloh, Mas Hendra…”

“Mbak Siti…”

Saya mulai membatin, betapa dunia ini sempit sekali. Apakah sebegitu eratnya hubungan antar perantau dari Bengkulu sampai-sampai saat di pesawat mereka bisa saling kenal.

Pertanyaan dan rasa kepenasaranan saya tentang para penumpang yang saling kenal itu akhirnya terjawab tepat setelah saya tiba di Bengkulu dan turun dari pesawat.

Sampai di Bandara Fatmawati Bengkulu, tak jauh dari gerbang masuk bandara, tampak baliho besar sambutan untuk para penumpang yang baru tiba.

Belakangan baru saya ngeh kalau ternyata saya satu rombongan dengan orang-orang Muhammadiyah dari berbagai daerah yang memang akan mengikuti agenda sidang Tanwir Muhammadiyah di Bengkulu.

Pantas saja penerbangan saya terasa sangat berkemajuan dan blas nggak ada guyon-nya. Jebul memang isinya orang-orang Muhammadiyah semua.

Sesaat setelah turun dari pesawat, saya iseng menengok ke belakang. Mencoba mengamati satu per satu wajah-wajah berkemajuan itu.

“Yah, nggak ada Amien Rais…” batin saya pelan.

Ke Malang, Demi Dewa 19, Ari Lasso, dan Once

| Thursday, 20 October 2016 |

Masih tengah bulan, belum gajian, dan kemarin saya nekat berangkat ke Malang dengan akomodasi seadanya. Semata demi membuktikan bakti saya sebagai Baladewa: nonton konser Dewa 19.

Dan semalam, rasa haus itu akhirnya terobati dengan konser yang begitu istimewa.

Ada satu alasan besar mengapa saya rela jauh-jauh ke Malang untuk nonton Konser Dewa 19, dan alasan itu tak lain dan tak bukan adalah karena Konser yang berlangsung di Graha Cakrawala malam tadi merupakan pertama kalinya Dewa 19 tampil dengan dua vokalisnya sekaligus: Ari Lasso dan Once Mekel.



Tentu ini momen spesial yang sangat rugi untuk dilewatkan oleh siapapun yang mengaku sebagai Baladewa. Memang sebelumnya mereka pernah tampil sepanggung, tapi itu bukan murni konser Dewa 19, yaitu saat konser Mahakarya Ahmad Dhani di Jakarta Convention Centre, Senayan, 13 Juni 2012 silam, serta di konser hajatan nikahannya Raffi Ahmad dan Nagita Slavina, 25 Oktober 2014 lalu di Bali (tolong koreksi jika saya salah).

Tampil dengan dua vokalis sekaligus membuat lagu-lagu Dewa seakan dibawakan sesuai dengan kodrat dan khitahnya. Bagaimanapun juga, lagu-lagu legendaris seperti Restoe Boemi, Kirana, Satu Hati, hingga Cinta Kan Membawamu Kembali memang hanya layak dinyanyikan oleh Ari Lasso. Begitupun juga dengan lagu-lagu seperti Pupus, Dua Sejoli, Arjuna, hingga Sayap-Sayap Patah yang memang hanya layak dinyanyikan oleh Once Mekel. Bukan sebaliknya.

Semalam, Ari menyanyikan tujuh lagu, sedangkan Once dua belas. Mereka kemudian berduet di dua lagu terakhir, menyanyikan "Kangen", dan "Kamulah Satu-Satunya. Benar-benar malam yang indah.



Anda mungkin menganggap saya berlebihan, tapi jujur, di konser malam tadi, saya berkali-kali meneteskan air mata, mungkin karena trenyuh, atau mungkin karena terlalu menghayati lagu "Pupus" entahlah, Tapi yang jelas, saya tak menyesal menumpahkan air mata saya di momen yang begitu istimewa tersebut.

Rasanya saya benar-benar tak ingin beranjak dari tribun. Bahkan saat lagu Satu Hati dibawakan dan kemih saya tak bisa diajak bekerja sama, saya sempat kepikiran untuk ngompol saja di celana saking tidak inginnya saya berpaling dari konser, sebelum akhirnya saya mengalah kepada si kecil.





Yah, Bagaimanapun, Dewa 19 tetaplah Dewa 19. Band lain mungkin melahirkan Album, tapi Dewa 19 tidak, ia melahirkan Romansa.

*maaf, saya tak punya foto atau video saat konser berlangsung. Saya bukan orang bodoh yang bayar tiket mahal dan rela antri berjam-jam hanya untuk merekam konser Dewa 19 alih-alih menikmatinya dengan kekhusyukan yang teramat khidmat.

---

TAMBAHAN:

Ada banyak yang tanya gimana saya bisa foto sama Once dan Yuke kemarin setelah nonton konser (lihat postingan saya sebelumnya).

Ada yang menduga saya beli tiket platinum dan bisa ikut meet and greet, ini perkiraan yang salah, saya tidak sekaya itu untuk bisa beli tiket platinum. Ada juga yang menduga saya merangsek masuk menembus barikade pengamanan dan memaksa foto bareng bersama, ini dugaan yang jauh lebih salah lagi, saya tak se-heroik itu sebagai seorang baladewa.

Jadi begini, setelah rampung konser, saya dan dua kawan saya (sengaja nggak saya mensen, takut mereka ge-er) nongkrong di sebuah cafe di di bilangan Klojen. Cafe ini sengaja kita pilih karena setelah kita keliling kemana-mana cari cafe, ternyata, cuma cafe inilah yang masih buka.

Di Cafe inilah saya sempat beli air mineral yang seharga delapan belas ribu itu (aqua, tapi botolnya kaca, nggapleki tenan).

Nah, jam setengah dua pagi, ketika pengunjung cafe sudah mulai berguguran. Datanglah rombongan sejumlah dua mobil. Rombongan inilah yang di dalamnya ada Once dan juga Yuke.

Dasar rejeki anak lumayan saleh...

Jam setengah tiga pagi, sebelum saya dan dua kawan saya memutuskan kembali ke homestay, saya nekat mendatangi rombongan tersebut dan minta foto bareng Once dan Yuke.

“Mas Once, saya ini datang jauh-jauh dari Magelang, jadi sebagai kenang-kenangan, boleh lah saya meminta foto?”

Once tersenyum, dan langsung merangkul saya, “Lho, bukannya tadi kelihatannya sudah ya?” kata dia sambil tersenyum mencandai saya.

Saya pengin menjawab, “Sudah ndasmu qwerty kuwi, hurung su!”, tapi saya keburu sadar, dia adalah Once, bukan teman nongkrong ataupun teman TPA, jadi saya urungkan jawaban itu. Saya lantas menjawab, “weeee, belum mas...”

Kami lantas berselfie. Dan tercetaklah foto itu.

Saya lantas mendatangi Yuke, dan meminta foto bareng, hanya saja dengan percakapan yang berbeda.

“Mas Yuke, beberapa waktu yang lalu, kita sempet ketemu di Tirtodipuran, Pas mas Yuke ngejam, cuma waktu itu, saya nggak sempet minta foto, jadi sekarang, sebagai penebusan, ijinkan saya minta foto bareng,"

Dengan keramahan yang tak jauh berbeda dengan Once, si Bassist ini pun langsung memasang pose, merangkul saya, dan cekrek, foto pun tercetak.

Begitulah nda... begitulah...

Dan entah mengapa, setelah berhasil berfoto dengan dua pentolan Dewa 19 itu, air mineral yang seharga delapan belas ribu jadi terasa sangat murah, ya... sangat-sangat murah...

Ah, coba harga air mineralnya lima puluh ribu, mungkin saya sudah bisa selfie saya Maia Estianty

Sepi ing Pamrih Rame ing Blogging: Kopdar Blogger Super Gayeng

| Thursday, 31 March 2016 |

Sekira sebulan yang lalu, Saya bersama mas Puthut EA dan segenap kru Mojok.co berkunjung ke Solo untuk mewawancarai Gibran Rakabuming, anaknya pak Presiden yang terkenal karena sukses berbisnis kuliner itu. Kebetulan, waktu itu Mojok sedang menguji coba rubrik baru, yaitu rubrik wawancara bertamu seru, dan ndilalah Gibran kami pilih sebagai tokoh pertama yang kami wawancarai.

Agus Mulyadi dan Gibran Rakabuming
Serupa tapi tak sama, Agus Rakabuming dan Gibran Mulyadi

Nah, di sela-sela kunjungan ke kami Solo waktu itu, kami menyempatkan diri untuk mampir ke Rumah Blogger Indonesia, basecamp komunitas blogger Solo yang dikomandani oleh Pakdhe Blontank Poer, salah satu blogger senior (untuk tidak menyebutnya tua) yang misuwur dan kondang kaloka di jagad perbloggeran nasional. Yah, sekadar bersilaturahmi sekaligus nyaur utang, karena memang sudah sejak lama, saya dan Mas Puthut sudah berjanji kepada Pakdhe Blontank untuk mampir ke Rumah Blogger Indonesia (untuk selanjutnya saya sebut saja RBI).

Di RBI, kami ngobrol ngalor-ngidul dengan Pakdhe, ditemani kopi kapal api dan aneka gorengan yang sudah dingin dan lemes namun tetap maknyus, kami ngobrol banyak hal, mulai tentang internet, portal berita, perkembangan dunia aktivis, hingga tentang dunia teater dan kesenian. Kami ngobrol sampai larut malam. Kopi yang kami nikmati bahkan sampai harus di jok beberapa kali.

Di akhir obrolan sesaat sebelum saya, Mas Puthut, dan Kru Mojok lainya harus pamit dan kembali ke Hotel, Pakdhe Blontank mengabari saya, bahwa dirinya dan kawan-kawan RBI berencana akan menghelat acara kopdar blogger lintas daerah. Pakdhe berniat mengundang saya dan dua orang blogger Magelang lainnya sebagai perwakilan Pendekar Tidar (komunitas Blogger Magelang) agar nanti bisa ikut meramaikan acara kopdar blogger tersebut.

Saya tentu girang bukan kepalang, karena saya memang sudah lama tidak ikut acara kopdar blogger. Terakhir acara kopdar blogger yang saya ikuti adalah Blogger Nusantara, yang dihelat tahun 2013 lalu.

“Siyap dhe, pokoknya kalau pakdhe yang dhawuh, saya siyap meramaikan,”

Kopdar Blogger, Mangkat.

“Gus, acara kopdar blogger yang beberapa waktu lalu aku bicarakan jadinya akan dihelat tanggal 26-27 Maret besok, sabtu minggu. Tolong nanti aku diwasap alamat blog-mu dan kawan-kawan dari Magelang yang nanti bakal hadir, beserta ukuran kaos masing-masing, soalnya nanti mau tak buatke kaos untuk cinderamata. Suwun.” Begitu pesan wasap Pakdhe Blontank yang saya terima.

Begitu pesan tersebut saya terima, saya dan beberapa kawan Pendekar Tidar segera rembugan, menentukan siapa siapa saja yang nanti bakal ikut berangkat ke Karanganyar. Dari rembugan tersebut, akhirnya diputuskan bahwa nanti yang bakal berangkat ke acara Kopdar Blogger di Karanganyar adalah Saya, Kokoh Ahmad, dan Mas Lisin.

Itinerary perjalanan ke Solo segera disusun secepat dan setaktis mungkin. Maklum, sebagai penduduk Magelang yang sudah erat dengan dunia militer, kami sudah terlatih untuk bergerak cepat, terutama saya sendiri yang kampungnya memang bersebelahan persis dengan markas akademi militer. Gerak saya hanya lambat kalau urusan wanita, kalau urusan lain, Insha Alloh tangkas dan trengginas.

Kami bertiga (Saya, Kokoh, dan Mas Lisin) berangkat ke Solo Sabtu pagi 26 Maret dengan menumpang kereta api Prameks dari Stasiun Tugu setelah sebelumnya menempuh perjalanan singkat dengan bus dari Magelang ke Jogja. Rencananya, kami bakal turun di stasiun Purwosari.


Kontingan Kopdar Blogger dari Magelang. The sweetest one is on the left

Perjalanan yang cukup jauh rupanya tak membuat kami merasa sayah dan lelah, maklum, bayangan akan kemeriahan kopdar seakan mampu menghapus lelah dan letih selama perjalanan, terutama saya, yang ndilalah kok ya bejo karena pas di kereta duduknya sebelahan sama mbak-mbak cantik yang putihnya kaya labur tujuh-belasan.

Sampai di Stasiun Purwosari, kami langsung meluncur ke RBI yang jaraknya memang cukup dekat. RBI inilah yang bakal menjadi tempat kumpul awal seluruh peserta sebelum diberangkatkan ke Karanganyar.

Oh ya, di Stasiun Purwosari, kami sempat ketemu sama Mas Bagus Gowes, salah satu peserta Kopdar Blogger juga yang ternyata masih satu kereta dengan kami tapi beda gerbong. Kami tidak bisa meluncur bareng ke RBI sama mas Bagus Gowes, karena sebagai goweser yang kaffah, beliau sudah sip sedia dengan sepeda lipatnya. Lagian, kan ndak etis juga kalau kami bertiga memaksa minta cengpat.

Akhirnya Melepas Kangen

Saya, Kokoh, dan Mas Lisin tiba di RBI sekitar pukul 11 siang. Di sana, kami langsung disambut oleh para peserta lain yang sudah hadir lebih dahulu. Sungguh, ini momen yang yang sangat membahagiakan. Bisa bertatap muka dan klangen-klangenan dengan sahabat-sahabat blogger dari berbagai daerah yang sudah lama saya tidak bertemu, ada juga beberapa kawan blogger yang saya belum pernah bertemu sama sekali, hanya sering bersua lewat media sosial.


Bersama Ndop, bandingkan mana yang terawat (kiri) dan tidak terawat (kanan)

Yah, sebutlah diantaranya ada Didik, Dito, Virmansyah, Ndop DzofarFrenavit, hingga Baba Rasarab. Tak ketinggalan juga blogger-bloger senior (sekali lagi, untuk tidak menyebutnya tua) seperti Kika Syafii, Maztrie, Donny BUMartoArt, Adi Sunata, Didi Nugrahadi, hingga Lantip.

Kalau tidak ingat saya ini laki-laki, mungkin saya sudah nangis mimbik-mimbik saking terharunya.

Sebuah Villa Indah, di Lereng Gunung Lawu

Adalah sebuah villa milik pak Hasan yang berlokasi di Dusun Nglerak, Desa Segoro Gunung, Kecamatan Ngargoyoso, Karanganyar, yang menjadi venue penyelenggaraan acara Kopdar Blogger spesial yang mengambil tagline "Sepi ing Pamrih, Rame ing Blogging" ini.


Rumah Indah Pak Hasan di lereng Gunung Lawu (gambar oleh: Mas Dito)

Villa ini mempunyai pemandangan yang sangat indah lagi ciamik. Persawahan penduduk dengan hamparan pegunungan yang memanjakan mata. Di Villa ini, kita bisa menyaksikan matahari terbit dari balik Gunung Lawu, dan menyaksikan matahari tenggelam dengan perpaduan pemandangan Gunung Merapi dan Merbabu. Pokoke villa yang benar-benar yang-yangan-able.


Pemandangan persawahan dilihat dari rumah Pak Hasan (gambar oleh: Mas Dito)

Di villa inilah kami para peserta yang jumlahnya sekitar 60-an orang menghabiskan waktu sabtu minggu dengan berkopdar.

Butuh perjuangan yang tidak mudah untuk bisa mencapai villa pak Hasan ini. Karena untuk sampai ke sana, kami sampai harus bergonta-ganti kendaraan.

Dari RBI, saya bersama beberapa peserta lain didrop di terminal Tirtonadi, terminal yang sempat bikin kami terkagum-kagum karena saking luas dan bersihnya.

“Terminal kok resik’e koyo mene yo, ra pantes dadi terminal iki, cocoke bandara,” celetuk salah satu peserta Kopdar Blogger.

“Hoo, terminal sing kurang terminal, terminal murtad,”

“Pancen apik tenan kok yo, mesjid’e apik, karpet’e yo iseh empuk, koyo bokong kimcil.” balas yang lain.

Obrolan tentang terminal Tirtonadi ini sempat membuat kami tertawa ger-geran, maklum, sebagian besar dari kami memang belum pernah melihat terminal sebersih terinal Tirtonadi sebelumnya.

Dari Terminal Tirtonadi, kami naik bis umum sampai ke terminal Karanganyar. Perjalanan dari Tirtonadi ke terminal Karanganyar memakan waktu yang cukup lama. Saya duduk sebelahan sama Ndop Dzofar, blogger yang juga kondang sebagai seorang vektoris papan atas. Si Ndop ini rupanya seorang pembaca Mojok, sehingga sepanjang perjalanan, kami berdua ngobrol ngecuprus tentang Mojok.

Sampai di terminal Karanganyar, perjalanan dilanjut menggunakan minibus Elf ke Bale Branti, sebuah rumah makan berkonsep alam yang dibangun dari swadaya desa. Pemandangan kebun teh serta sawah dengan background pegunungan yang menghampar membuat kami merasa betah singgah di rumah makan ini.


Usai makan siang di Bale Branti (gambar oleh: Pakdhe Blontank)


Gentho-gentho yang siap ber-amar ma'ruf nahi mungkar (gambar oleh: Kang Gery)


Macak Kalem di Rumah makan Bale Branti (gambar oleh: Ndop Dzofar)

Nah, dari Bale Branti inilah perjalanan yang sesungguhnya dimulai. Saya bersama dua orang kawan bloger Magelang lainnya berangkat satu mobil bersama rombongan blogger Ponorogo yang terdiri dari Yuda Jidat, Pardi, Dafhy, dan Gofur.

Perjalanan benar-benar penuh halangan dan rintangan. Benar-benar My Trip My Adventure. Lha bayangkan saja, kami satu mobil harus nyasar sampai berkali-kali. Jidat (yang kami angap sebagai yang paling tidak punya malu) bahkan sampai harus naik-turun mobil untuk bertanya kepada penduduk setempat.


Berpose sejenak, Karena nyasar juga perlu diabadikan (gambar oleh: Yuda Jidat)

“Pokoke liyane ojo ngasi ngerti nek dhewe kesasar, reputasiku sebagai sopir iso rusak.” Kata Pardi dari balik kemudi.

“Ha nek liyane do takon, dhewe kudu njawab opo?” tanya saya.

“Gampang, teko jawab wae, dhewe telat mergo mau nulungi ibu-ibu kecelakaan nang ndalan,” Jawab Pardi selow. “Omong nek ibu-ibu sing kecelakaan kuwi sikile ngasi rempal mergo keplindes ban, ben luwih dramatis.” lanjutnya.

“Asuuuuu”

Tawa kami bertujuh pecah. Membayangkan betapa pentingnya sebuah reputasi sampai harus ditukar dengan sebuah dusta yang sangat murahan.

Gara-gara kenyasaran kami, kedatangan kami terpaksa harus terlambat. Rombongan lain sudah sampai di rumah pak Hasan sejak jam empat sore, sedangkan kami baru sampai sekitar jam setengah enam.

Kopdar yang Sekopdar-Kopdarnya.

Di rumah pak Hasan, peristiwa yang indah itu pun dimulai. Kami para peserta Kopdar langsung memasang badan untuk bercengkerama dengan peserta yang lain. Ngobrol ngalor ngidul, membahas dunia blog, pengalaman pribadi, nggosip kesana-kemari seperti ibu-ibu sosialita yang doyan arisan.

Pakdhe Blontank yang notabene sebagai penyelengara benar-benar membebaskan kami untuk ngobrol sepuasnya, tanpa ada batasan.

Sajian telo godhog dan jadah beserta jahe anget pun ikut menyemarakan obrolan kami.

Beberapa ada juga yang sibuk bermain ping-pong karena memang disediakan meja ping-pong di arena kopdar.


Lesehan bareng sesepuh pinisepuh, Rembug tuwo (gambar oleh: Bagus Gowes)

Pokoknya benar-benar gayeng. Kopdar yang sekopdar-kopdarnya. Tak heran, karena Pakdhe Blontank sendiri memang sudah mengatakan kepada saya, bahwa kopdar yang ingin ia wujudkan adalah kopdar yang santai, yang guyub, penuh obrolan, tanpa presentasi dari sponsor dan tetek bengek lainnya. Dan itu benar-benar terwujud di Kopdar Blogger kali ini.


Cukup dengan lesehan pun, kami sudah bahagia (gambar oleh: Pakdhe Blontank)

Nah, setelah puas gojeg dan kongkow-kongkow, malamnya kami berdiskusi bareng pak Menteri Kominfo yang secara tidak terduga alias surpres datang dan ikut meramaikan kopdar. Sebenarnya sih ndak surpres-surpres amat, karena kehadiran beliau memang sudah direncanakan, hanya saja sedari awal tidak diberitahukan bahwa beliau akan datang. Pakdhe hanya bilang kalau nanti bakal ada mistery guest yang ikut meramaikan acara Kopdar yang ternyata adalak Pak Menteri Kominfo, Pak Rudiantara.

Kehadiran Pak Menteri ini nyatanya tidak mengurangi kadar kecairan para blogger. Suasana tetap santai, tidak protap dan tidak birokrat. Bahkan saat Pak Menteri memaparkan materi di sesi diskusi pun, tetap terjalin gojegan dan tanya jawab yang penuh dengan humor yang segar. Ndilalah, pak Menteri yang satu ini ternyata juga punya selera humor yang lumayan tinggi.


Performance Stand Up materi dari pak Menteri (gambar oleh: Bagus Gowes)

Beberapa kali pak Menteri menimpali pertanyaan dan celetukan peserta dengan guyonan juga.

“Saya ini sebenarnya nggak pinter-pinter amat soal IT, banyak yang lebih pinter dari saya. Saya ini cuma pinter milih orang dan pinter cari temen.” Kata pak Rudiantara saat sesi diskusi

“Tapi kok bisa jadi menteri kominfo, pak?” celetuk salah satu peserta

“Kalau itu memang sudah garis tangan...”

Jawaban spontan dan lucu itu itu sontak membuat seluruh peserta tertawa. Sungguh Pak Menteri yang punya bakat terpendam jadi stand up comedian.

Begitulah, semalam penuh kami dibuat berfikir sambil tertawa, karena setiap materi dan paparan presentasi dari Pak Mentero selalu disisipi humor dan celetukan-celetukan nakal dari peserta.

Hingga presentasi selesai dan jadwal tidur tiba, para peserta seakan tak rela melepas begitu saja kebersamaan yang hangat antar blogger. Maka, jadwal tidur pun diganti begitu saja menjadi jadwal bakar-bakaran jagung di halaman rumah sampai larut.


Bakar jagung, perkara dimakan atau tidak, itu nomor dua (gambar oleh: Yuda Jidat)

Kesibukan hingga larut membuat banyak peserta baru bisa di sepertiga malam, beberapa malah baru bisa tidur menjelang pagi.

Dan ajaib, walau banyak yg terlambat tidur, namun seluruh peserta tidak ada yang terbangun kesiangan. Mungkin karena banyak yang tak ingin melewatkan sunrise di lereng lawu, sehingga banyak yang memasang alarm agar bisa bangun sepagi mungkin.

Pilihan untuk bangun pagi agaknya memang bukan pilihan yang salah. Karena pemandangan sunrise di balik gunung lawu memang indah dan ngedap-edapi. Lebih indah lagi karena bisa dinikmati sambil menyeruput teh hangat sembari gegojegan bersama kawan-kawan blogger.

Setelah puas menikmati sunrise dan kekaring menghangatkan badan. Acara dilanjutkan dengan diskusi blogger. Acara ini memang sudah direncanakan sebelumnya, yaitu untuk rembugan menyusun award blogger sebagai pengganti ISBA (Internet Sehat Blogger Awards) yang memang sudah sejak lama tidak aktif.

Tak berbeda jauh dengan diskusi semalam, diskusi pagi hari ini juga tak kalah ger-geran. Penuh dengan tawa, aktor utamanya adalah trio Pakdhe Blontank, Mas Lantip, dan Mas Marto yang celetukan-celetukannya nggateli setengah modiar dan mampu menarik urat tawa seluruh peserta diskusi.

Diskusi ini akhirnya menghasilkan kesepakatan untuk segera menyusun konsep blogger award dan membentuk tim komitenya.

Setelah rehat sejenak pasca diskusi, acara kemudian dilanjutkan sharing bareng mas Jaka Balung. Seniman difabel yang terkenal karena karya-karya lukisannya yang dibuat menggunakan Microsoft Word.


Menyimak Mas Jaka Balung (gambar oleh: Pakdhe Blontank)

Mas Jaka Balung ini orangnya sangat jenaka. Para peserta tak henti-hentinya tertawa karena kelucuan mas Jaka Balung.

“Pokoknya, misi kami para difabel itu sederhana, kami ingin menggagalkan program pekan imunisasi folio, jadi agar banyak bayi terkena folio, sehingga generasi difabel bisa terus lestari,” canda mas Jaka Balung yang kemudian disambut dengan tawa para peserta.

“Setuju, kita dukung, mas... Semua orang berhak difabel.” celetuk Mas Lantip yang membut tawa peserta semakin membahana.


Difabel juga bisa kemaki dan Kemlinthi, hehehe (gambar oleh: Pakdhe Blontank)


Bersama Mas Jaka Balung, Demi Indonesia yang lebih Kemaki dan Kemlinthi

Acara kopdar blogger pagi itu sungguh tak ubahnya seperti show stand up comedy berjamaah. Banyak tawa, banyak canda, tapi sedikit mikirnya. Hahaha

Benar-benar kopdar blogger yang menyenangkan. Tak berlebihan jika saya menyebutnya sebagai Kopdar blogger paling gayeng yang pernah saya ikuti sepanjang saya berkecimpung di dunia per-blogger-an.


Dunia serasa milik kita berempat ya, dek? (abaikan makhluk yang di belakang itu)


Disini, kita pernah bergembira bersama (gambar oleh: Pakdhe Blontank)

Ah, matursuwun pakdhe Blontank dan kawan-kawan atas kopdar yang begitu berkesan ini. Semoga di kemudian hari, kita bisa berkopdar lagi seperti ini. Ngumpul lagi, gojegan lagi, guyub lagi. Karena bagaimanapun, Blogger tanpa Kopdar adalah bagaikan Donat tanpa Bolongan. Tetap ada, tapi kehilangan maknanya...

Tentang Saya

Agus Mulyadi, seorang blogger, penulis, dan digital storyteller. Lahir di Magelang, 3 Agustus 1991. Sering menulis artikel ringan tentang politik, sosial, isu-isu populer di media sosial, serta catatan reflektif tentang kehidupan sehari-hari utamanya yang berkaitan dengan kehidupan pribadi, kawan, dan keluarga.

Pernah bekerja sebagai pemimpin redaksi di Mojok.co, sebuah media opini alternatif berbasis di Jogja. Sekarang menjadi manajer di Akal Buku, sebuah toko buku online sederhana yang saya jalankan bersama istri saya.
 
Copyright © 2010 Blog Agus Mulyadi , All rights reserved
Design by DZignine . Powered by Blogger