Nikah-nikah bathukmu sempal

| Thursday, 23 October 2014 |

Kadang dalam kesendirian, saya merasakan kemirisan yang teramat dalam. Betapa tidak, di usia saya yang sudah menginjak 23 tahun ini, saya belum juga diberikan momongan, eh, pendamping maksudnya. Pokoknya ngenes. Dua adik perempuan saya sudah kenal yang namanya pacaran, adik pertama saya malah sudah gonta-ganti pacar. Sedangkan saya? Persis seperti absensi kelas satu SD, Nihil.

Kawan-kawan seangkatan saya rata-rata sudah pada punya pacar, beberapa ada yang sudah berumah-tangga, dan bahkan segelintir diantaranya malah sudah punya anak, untung saja ndak ada satupun teman seangkatan saya yang sudah punya cucu.

Nah, atas dasar itulah beberapa tetangga dan kerabat sering meledek saya, "Kapan kamu mau kawin?", dan biasanya saya jawab dengan enteng, "Saya masih mencoba mencari wanita terbaik, karena selama ini, wanita-wanita yang mendekati saya hanya mengincar tubuh saya semata" #Hassuk.

"Saya ini kan kerjanya belum mapan, belum punya kapabilitas untuk berumah tangga, lha wong masang regulator tabung gas saja saya masih belum cakap kok. Ibarat buah, saya ini masih belum gemading ataupun matang, saya ini masih mentah,"

"Lho, tapi kan buah mentah bisa dimatengkan lebih cepat, pakai karbit misalnya, Hayo!, jadi kapan kamu mau nikah gus!", sanggah kerabat saya.

Ah, pokoknya kalau sudah urusan nikah, saya pasti kalah omong. Selalu kena skak mat dan kehabisan kata-kata untuk menyanggah. Padahal kalau sudah ngomongin hal lain, mulut saya ini sudah bagaikan magazine yang pelurunya berebutan untuk keluar.

Dikiranya saya ini ndak pengin nikah apa? Saya ini sebenarnya juga sudah pengin nikah, Imron saya sudah bergejolak sejak lama. Tapi hanya belum ada saja calon yang bersedia cocok. Jadi mau gimana lagi, ya harus sabar. Sabar sampai Alloh mempertemukan jodoh saya kepada saya. Toh saya sudah berusaha, mulai dari stalking sampai ngegombal. Berdoa juga ndak ketinggalan. Padahal dalam hal kriteria wanita idaman, saya ndak menuntut kriteria yang tinggi-tinggi kok, Cantik ndak papa, yang penting kaya dan sholekhah.

Dan juga sebagai laki-laki, saya ini baik hati, pinter, rajin nabung, bukan tapol, punya blackberry lagi (walau bekas dan ndak pernah saya paketin). Hayo, kurang apa lagi coba? kan ya cuman kurang cakep aja tho?

Nah, untuk para wanita lajang yang kebetulan baca blog ini, saya kasih tahu satu hal. Kalau anda nikah sama pria cakep, putih, tinggi, kaya, lagi baik hati, yakinlah, setiap ditinggal suami, maka anda akan senantiasa was-was, takut suami anda dicolek perempuan lain. Tapi kalau anda nikahnya sama pria yang mukanya minoritas (saya contohnya), maka anda akan tetap tenang dan istiqomah di rumah saat ditinggal suami. Boro-boro dicolek perempuan lain, setan mau ndulit juga sungkan.

Jadi, untuk para perempuan, sudahkah anda minum yakult hari ini?

Artikel ini juga Diulas di Yahoo, Silahkan Dibaca Disini

Suatu hari, di Ini Talkshow

| Wednesday, 22 October 2014 |

Jumat sore, 10 Oktober 2014. Saya menerima pesan dari seseorang bernama Rina, ia mengaku sebagai tim kreatif acara Ini Talkshow Net tv. Katanya, ia ingin mengundang saya sebagai salah satu narasumber di acara Ini Talkshow.

Pesan Rina Ini Talkshow

Usut punya usut, Redaksi Ini Talkshow rupanya ingin mengangkat fenomena edit foto yang dulu pernah melambungkan nama saya. Saya diminta untuk bercerita tentang ihwal edit foto tersebut, dan juga sedikit tentang keseharian serta tentang buku yang sudah saya tulis. (Belakangan, pembahasan soal buku tidak jadi diangkat karena suatu alasan).

Perasaan saya jadi ndak karuan, antara senang dan takut. Senang karena ini adalah kesempatan bagus bagi saya untuk lebih mengenalkan buku saya ke khalayak, takut karena karena saya mudah gugup kalau harus berbicara di depan banyak banyak orang, apalagi disorot kamera.

Namun setelah mempertimbangkan segala sesuatunya, akhirnya saya memutuskan untuk menerima undangan dari mbak Rina.

Sehari sebelum keberangkatan ke Jakarta, mbak Rina mengirimkan tiket pesawat PP Jakarta – Yogyakarta – Jakarta untuk keberangkatan tanggal 15 oktober.

Saya berangkat cukup pagi, karena dari rumah ke terminal Jombor Jogja dan dari Terminal ke Bandara sering tidak terkira waktu tempuhnya. Beruntung saya sampai di bandara tepat waktu (eh, mepet sih), saya sampai loket empat menit sebelum counter check in ditutup.

Penerbangan sempat delay cukup lama. Saya baru sampai jam setengah dua belas, terlambat 45 menit dari jam yang sudah dijadwalkan.

Sampai di Bandara Halim Perdanakusumah, saya kemudian dijemput oleh driver-nya Net tv, kalau ndak salah namanya mas Deden. Saya langsung diantar ke studio.

Sesampainya di Studio, saya langsung dipertemukan dengan Mbak Rina, Tim Kreatif yang menghubungi saya.

Tadinya saya sempat khawatir akan keterlambatan saya, karena kalau menurut jadwal, saya harus sudah on cam jam 12 siang, padahal saat itu sudah lebih dari jam 12. Ndilalah, jadwal syuting ternyata mundur satu jam.

Saya kemudian dipersilahkan menunggu di ruang tunggu.

Di ruangan berukuran sekitar 4x3 meter ini, sudah ada satu narasumber yang duduk manis menunggu, namanya Tika. Seorang gadis berparas amat cantik dengan senyum yang manis menawan (kalau bukan karena ingat anak istri di rumah, mungkin sudah rontok iman saya, hehehe).

“Mbak Tika, kenalkan, ini mas Agus, yang nanti jadi narasumber juga sama mbak Tika!”, begitu kata mbak Rina mengenalkan saya kepada si gadis bernama Tika tersebut.

Sayapun bersalaman dengan Tika, saling mengenalkan diri masing-masing dengan perkenalan yang lumayan standar. Saya dan Tika kemudian ditinggal di ruang tunggu oleh Mbak Rina.

Saya agak gugup, berada satu ruangan dengan mbak-mbak yang cantiknya setengah modar. Untunglah Tika ini orangnya pangerten dan cukup responsif. Tanpa banyak ba bi bu, ia menyapa dan mengajak saya ngobrol.

“Mas Agus sekarang sibuk apa mas?” katanya dengan diiringi senyum yang aduhai manisnya.

“Saya ndak sibuk apa-apa mbak, kalau mbak sendiri gimana, sibuk apa?” jawab saya sambil membalas tanya.

“Sama mas, saya juga ndak sibuk apa-apa!”

“Wah, berarti kita sama-sama ndak ada kesibukan ya!, hehehe!” (Ini saya ndak sedang berusaha mbribik lho ya)

Kami berdua hanya mengobrol sebentar, karena sesudah itu, kami sibuk dengan gadget masing-masing. Maklum, sebagai pemuda desa, saya nihil stok bahan pembicaraan, apalagi untuk lawan bicara yang cantiknya alamak seperti Tika ini.

Belakangan baru saya tahu, bahwa Tika yang ngobrol sama saya ini ternyata Tika Bravani, aktris muda yang namanya melambung lewat film ‘Alangkah lucunya negeri ini’ dan ‘Soekarno: Indonesia Merdeka’. Sumpah, saya tadinya ndak tahu kalau dia itu Tika Bravani, maklum saja, soalnya saya tahu Tika Bravani justru dari sinetron yang dibintanginya, yakni Bidadari-bidadari Surga, dimana ia berperan sebagai Laisa, Gadis desa yang punya kulit gelap. Sedangkan Tika yang ada di hadapan saya ini kulitnya putih pualam bak tembok rumah pas agustusan. Makanya saya agak kurang ngeh.

Tika Bravani

Tak berselang lama, Tika disuruh ke ruang make up. Tinggallah saya sendirian di ruang tunggu. Kira-kira sepeminuman kopi, masuklah Mbak Yurike Prastika ke ruang tunggu. Saya takjub. Bagaimana tidak, Yurike Prastika adalah salah satu artis idola saya, dan saya duduk hanya berjarak dua meter dari tempatnya ia duduk. Saking takjubnya saya, sampai saya hanya bisa menyunggingkan senyum ke arahnya yang ia balas dengan senyum pula.

Belum habis ketakjuban saya, ketakjuban lain pun muncul. Kali ini Maya Septha yang masuk ke ruang tunggu. Sumpah, Maya Septha ini cantik dan putih setengah mati. Ia juga ramah, baru duduk beberapa detik, ia langsung menghampiri saya dan menyapa saya.

“Ini mas Agus yang suka ngedit foto itu ya?”, tanya dia dengan senyum yang jelas tak akan bisa saya lupakan.

“Iya mbak!”, saya menjawab dengan singkat dan dengan diiringi dengan senyum pula, namun jelas senyum saya tak akan semanis senyum mbak Maya tentunya.

Baru sebentar saya berbincang dengan Mbak Maya Septha, saya dipanggil sama kru Net untuk persiapan make up.

Saya masuk ke ruang make up. Di dalamnya berjejer tiga kursi. Satu kursi di pojok sudah terisi oleh Mbak Rini Wulandari alias Rini idol (yang nantinya juga akan menjadi salah satu narasumber), sedangkan dua kursi lainnya kosong. Saya kemudian duduk di kursi tengah, sengaja agar bisa mencuri pandang mbak Rini Idol.

Saya sebenarnya sangat malas untuk dimake-up segala. Namun bagaimana lagi, ini sudah jadi prosedur. Lagipula, semua narasumber juga dimake-up kok. Tak apalah, sekali-kali mengikuti arus. #tsaaaah

“Wah, Mas rambutnya sudah dikasih minyak ya?”, kata si penata make up yang mengurus saya.

“iya je mbak, niatnya sih biar rambutnya kelihatan rapi,” begitu jawab saya.

“Ya sudah, kalau gitu kita keringkan rambutnya aja dulu pakai hairdryer, trus kita kasih gel ya mas!”,

“nggih mbak, saya manut saja!”

Wajah dan rambut saya kemudian dipermak sedemikian rupa. Disemprot sama cairan yang saya ndak tahu apa itu namanya, ditabur bedak, diunyeng-unyeng rambutnya. Pokoknya sangat protokoler.

Hampir 15 menit saya dimake-up.

Perubahan pasca make-up nampak sangat jelas, memang sih wajah saya tetap minor, namun setidaknya jadi kelihatan lebih segar dan bergairah.

Setelah dimake-up, saya kemudian disuruh masuk ke ruang wardrobe untuk memilih busana. Saya disuruh mengganti kaos melepas sandal saya, rupanya saya harus memakai kemeja dan sepatu. Oalah, jebul kostum doreng tentara khas malvinas yang saya pakai ini dinilai kurang layak masuk TV, Pun Sandal jepit baru yang saya beli beberapa waktu yang lalu rupanya dianggap kurang pantas untuk disorot kamera.

Jadilah saya tampil dengan kemeja berwarna ungu muda, celana panjang non jeans, dan dengan sepatu sneaker yang ukurannya longgar sama kaki saya. Praktis, saya berubah, menjelma menjadi pemuda kekinian, sangat tidak saya. Tapi tak apa, setahun sekali kok.

Oh ya, kira-kira begini tampilan saya dengan kemeja ungu muda yang begitu menggoda itu.

Agus Mulyadi Ini Talkshow Net

“Mas Agus nanti masuk di segmen ke dua, masih sekitar satu jam lagi, mas nunggu saja di dalam studio, sambil lihat proses syuting, sekalian membiasakan diri dengan suasana studio, biar nggak gugup!”, kata mbak Rina.

Di studio, sudah ada banyak kru dan pemain. Saya berjalan pelan ke arah kursi narasumber. Melewati deretan kursi host, saya lihat sudah duduk Sule dan Andre. Saya hanya melempar senyum, dan baik Sule maupun Andre juga hanya membalas senyuman saya.

Baik Andre maupun Sule kemungkinan belum tahu kalau saya nanti yang bakal jadi salah satu narasumber di acara mereka. Maklum, karena sebelum take, saya sama sekali tidak dipertemukan dengan Sule maupun Andre. Saya juga tidak diberi tahu perihal skenario talkshow Mungkin agar tercipta obrolan yang spontan dan menarik.



Saya menunggu di studio sekitar satu jam, satu jam yang terasa sangat lama. Saya sangat gugup, bahkan sampai berkali-kali bolak-balik ke toilet untuk buang air kencing saking gugupnya. Mbak Rina berkali-kali mencoba menenangkan saya.

“Rileks aja mas Agus, nanti juga biasa kok, pokoknya kalau ditanya, jawab aja dengan santai, nggak usah terlalu serius,” kata mbak Rina, saya hanya mengangguk pelan.

Akhirnya, setelah sekitar satu jam kurang sedikit, saya diberi aba-aba untuk persiapan take.

“Dan disini, sudah hadir salah satu praktisi edit foto yang sempat membuat editan foto bersama artis, inilah dia Agusss Mulyadiiii!”, Suara Andre Taulany terdengar kencang.

Saya langsung masuk ke arena studio Ini Talkshow diiringi dengan alunan musik dari band pengiring. Andre langsung berdiri dan menghampiri saya dan bersalaman dengan saya, begitupun Sule.

Saya langsung duduk di sebelah Rini Idol dan Tika Bravani yang sudah lebih dulu masuk.

Agus Mulyadi Ini talkshow

Agus Mulyadi Ini talkshow

Selepas itu, Sule dan Andre langsung bergantian bertanya seputar edit foto, keseharian saya, dan lain sebagainya.

Agus Mulyadi Ini talkshow

Selain berbincang-bincang banyak hal seputar edit foto, saya juga diminta untuk membacakan kuis, menirukan gerak host, bahkan menyanyi lagu Stinky untuk merayu Rini Idol. (Mohon maaf, untuk yang bagian ini, silahkan sampeyan lihat sendiri nanti di Net atau di youtube).

Agus Mulyadi Rini Idol

Proses syuting berlangsung dalam suasana yang sangat menyenangkan, aman, tenteram, dan sentosa. Apalagi pas adegan Maya Septha membuatkan saya minum, duh, berasa jadi seorang suami. Naluri kelaki-lakian saya bangkit, terlebih saat ia menyunggingkan senyum semribitnya, brrrrrr, berasa pengin menafkahi. Hehehe.

Syuting baru berakhir sekitar satu jam.

Setelah syuting usai, saya langsung berkemas, karena saya harus langsung bertolak pulang sore itu juga. Sebelum pulang, saya sempatkan diri berfoto bersama Sule dan Andre, yah, sekadar kenang-kenangan.

Agus Mulyadi Sule Andre

Jam lima sore, Saya diantar sama supir Net ke bandara Halim Perdanakusuma untuk bertolak ke Jogja malam harinya dan pulang ke Magelang, untuk kembali menjadi manusia.

Begitulah sodara, begitulah.

Update.. Ini link Youtube tayangan ini Talkshownya









Kawat Gigi, Rokok, dan Rasa Syukur

| Monday, 20 October 2014 |


Markopolo (jongkok di tengah, kaos hitam)

Sore itu, Saya, Markopolo, dan Duwek asyik bercengkerama sambil mabuk (saya ndak ikut mabuknya lho ya) di buk perempatan jalan dekat rumah saya. Yah, hitung-hitung menghabiskan sore hari sambil menunggu kawan-kawan lain pulang kerja.

Sambil ngobrol, Sesekali, Markopolo dan Duwek bergantian minum ciu dari botol aqua ukuran sedang yang sudah dihilangkan labelnya. Maklum, karena hanya dua orang, mabuknya pun tidak dibandari (dituang di gelas sloki dan diputar sesuai giliran minum), melainkan ditenggak langsung dari botolnya secara bergantian.

Entah bagaimana ceritanya, obrolan kami tiba-tiba menyasar tentang Aini, gadis tetangga desa yang baru saja pasang behel di giginya.

“Untu wis apik-apik, kok seh dikawat, warnane biru sisan, malah koyo pager kantor PLN!”, celoteh Markopolo.

“Haiyo, jan koyo kurang gawean, ha nek kowe gus, minat ra pasang kawat untuk koyo mono? Mbok menowo mrongosmu kelong sithik-sithik”, tanya Duwek pada saya.

“Ah, ra minat aku, wis teko ngene wae, rasah dikawat-kawat barang, teko narimo ing pandum wae tho, rasah aneh-aneh, mrongos yo mrongos”, jawab saya agak bangga dengan kemrongosan saya.

Sesaat, saya jadi takabur, saya merasa menjadi orang yang paling bersyukur di dunia.

“Bener gus, ra usah aneh-aneh pasang kawat untu, untumu ki kan wis dadi ciri khas, rasah diubah-ubah. Yo mbok menowo suk kowe mati nang ndalan lak polisine njuk gampang le ngidentifikasi, ra perlu main otopsi, cukup ndelok cocotmu!” kata Marcopolo sengak.

“Ndiasmu mlocot kuwi su!” umpat saya. Dan kami bertiga pun tertawa terbahak-bahak.

“Sek, tak nang warung dilit!”, kata saya seraya bangkit dari duduk dan melangkah ke warung mas Andri yang lokasinya hanya beberapa langkah dari tempat kami ngobrol.

“Gus, Signature loro gus!”, kata Marcopolo sambil memicingkan sebelah matanya dengan sangat genit, Signature merujuk pada salah satu varian rokok milik Gudang Garam: Gudang Garam Signature.

“Ha duite endi?”, tanya saya.

“Hayo melu kowe tho, ngono kok yo seh takon lho, ha nek aku nduwe duit ra bakal aku nembung ro kowe!”

“Asu, wegah, duitku meh entek, nek ra nduwe duit yo wis, rasah ngudud!”

“Lha dhewe ki nek omong-omongan ngene trus ra ono rokok’e ki jan njuk koyo wong padu je!”

“hahaha”, saya tertawa kecil, saya sudah hafal, ini siasat basa-basi Marcopolo kalau minta dibelikan rokok, basa-basi yang teramat garing kerontang, namun sering sukses membuat saya luluh. Saya pun melangkah ke warung dan membelikan dua batang rokok signature sesuai pesanan Marcopolo.

“Nyoh!”, kata saya sambil melemparkan dua batang rokok pesanan Marcopolo. “Le mbayar sesuk yo ra popo!”, kata saya menggoda Marcopolo. Yang digoda hanya nyengir nglegani.

Marcopolo pun langsung meraih satu batang rokoknya dan langsung menyalakannya.

Belum habis seperempat batang, tiba-tiba muncul mas Trimbil dengan mengendarai motor Astrea Grand kesayangannya. Mas Trimbil adalah seorang Dept Collector yang ngontrak di dekat rumah Marcopolo.

Mas Trimbil berhenti di dekat tempat Saya, Marcopolo, dan Duwek ngobrol

“Rokok ko?”, kata Mas Trimbil menawari Marcopolo rokok.

“Wah, rasah mas, matursuwun, ki wis nduwe rokok kok!”, kata Marcopolo sambil menujukkan rokoknya yang masih belum habis, mencoba menolak dengan halus pemberian rokok dari Mas Trimbil.

“Halah, iki, teko jupuk wae, turahan kok!”, kata mas trimbil memaksa sambil mengulungkan sebungkus rokok Dji Sam Soe kepada Marcopolo. “Jupuk kabeh wae!”, tambahnya.

Marcopolo rikuh, dan dengan agak sungkan, tapi mau bagaimana lagi, ia pun kemudian mengambil sebungkus rokok yang ditawarkan oleh Mas Trimbil. Saya tahu, dalam hati, sebenarnya Marcopolo girang bukan main karena diberi rokok oleh Mas trimbil ini. Hanya mungkin, Marcopolo masih punya gengsi yang agak mumpuni.

“Matursuwun lho mas, matursuwun!”

“Yo,” kata mas Trimbil singkat sambil berlalu.

Begitu dilihatnya mas Trimbil sudah cukup jauh dan dirasa cukup aman, Marcopolo langsung memeriksa bungkusan rokok yang ada di tangannya, dilihatnya dengan seksama. “Wah, jan lumayan tenan, isine seh akeh, mung gek kelong papat!”.

“Oalah, jan rejekine wong mabuk ki ono wae, Gusti Alloh ki cen apikan, wong mabukan we seh dikei rejeki rokok, isine meh sak bungkus sisan!” Kata Marcopolo.

Saya tercekat dengan kalimat Marcopolo, kali ini saya merasa menjadi orang yang paling tidak bersyukur di dunia.

Tentang Saya

Saya Agus Mulyadi, biasa dipanggil Gus Mul (bukan lulusan pesantren seperti Gus Dur, Gus Muh, maupun Gus Mus. Gus Mul hanya akronim dari nama saya). Blogger dan Freelance Layouter. Kini berusia 23 tahun (sedang lucu-lucunya). Lahir di Magelang, hidup di Magelang, dan besar di-Dzolimi. Agak mrongos, humoris, cerewet, ceplas-ceplos, menyukai dangdut koplo, tidak terlalu bertanggung jawab. Aktif di Karang Taruna dan Komunitas Blogger Magelang Pendekar Tidar. Profil lebih lengkap, Lihat Disini
 
Copyright © 2010 Agus Mulyadi Njaluk Rabi, All rights reserved
Design by DZignine. Powered by Blogger