Usaha Gembus Untuk Membuat Burung Plecinya Ngriwik

| Monday, 17 September 2018 |



Dengan wajah yang tentu saja sumringah, Gembus mengeluarkan hape androidnya dari saku. Ia langsung membuka Youtube dan menayangkan sebuah video burung pleci yang sedang ngriwik dengan sangat melodius lagi merdu.

Ia sodorkan tampilan video tersebut pada burung pleci kesayangannya.

“Kowe ki ngopo je, Mbus?” tanya saya penasaran.

“Biasa tho, Gus. Ngajari pleci ben ngriwik,” jawabnya sembari terus fokus pada pleci kesayangannya.

“Oalah, carane ngono kuwi, tho?”

“Hoo…”

“Wah, nek ngono kowe boros kuota berarti, Mbus, pendak pengin ngajari pleci ngriwik kudu mbukak Youtube.”

“Kowe ki jare kerjo neng gang internet, tapi kok goblok tho. Youtube ki videone iso disimpen, dadi tetep iso diputer sanajan offline,” jawabnya sengak.

Saya cuma bisa mantuk-mantuk.

“Emange pleci nek ndelok video pleci ngriwik ngono kuwi njuk iso melu ngriwik po, Mbus?”

“Lha yo jelas iso. Wong menungso ndelok pengajian neng Youtube mung pisan-pindo we langsung dadi pinter babagan agama, kok. Opomeneh mung pleci.”

Saya mantuk-mantuk lagi. Tak mau membantah, sebab kalau urusan burung, saya jelas kalah otoritatif dibandingkan Gembus. Dia sudah mengurus banyak burung, dari pleci sampai labet, beberapa di antaranya sudah laku dijual di forum jual beli burung di Facebook. Sedangkan saya, ngurus satu burung saja tidak becus dan kacau balau.

Snack Delay ala Lion Air

| Wednesday, 8 August 2018 |

Sebagai warga negara yang lemah dengan keuangan yang jauh lebih lemah lagi, saya tentu saja tak kuat naik Garuda kalau harus bepergian ke luar kota, mentok saya memang cuma kuat naik Lion Air.

Dan seperti yang sudah-sudah, maskapai yang satu ini memang terkenal sering delay.

Dan ealah, lha kok benar belaka, kemarin, saya terpaksa harus menikmati ujian kesabaran yang satu itu. Pesawat saya delay. Saya tentu saja tak bisa berbuat banyak, yah, bayar murah kok minta tepat waktu. Ngimpi.

Sebagai penebus rasa bersalah atas keterlambatannya, Lion kemudian memberi saya sedikit snack sebagai pengganjal perut, dan mungkin juga pengganjal amarah. Snack yang mereka berikan bukan snack main-main: biskuit “Biskuat”, choco chips “Good Time”, dan air mineral gelas merek “Prim-a”. Saya pria baik. Tentu saja menerimanya dengan senyum, walau tentu saja, hati rasanya dongkol.



Saya merenung sejenak, hingga akhirnya saya sampai pada satu kesimpulan: mungkin ini memang jalan dari Tuhan melalui Lion Air agar saya berkontemplasi. Memahami makna tersirat dan subtil dari snack yang diberikan. Mungkin inilah bentuk doa Lion Air untuk para penumpang yang terlambat terbang melalui snack yang mereka berikan.

“Semoga para penumpang yang kena delay tetap punya waktu yang baik (Good time), tubuh yang sehat dan prima (Prim-a), serta badan yang kuat seperti macan (Biskuat)”

Harga Busana Anak Hype yang Membuat Banyak Orang Merasa Miskin

| Tuesday, 31 July 2018 |

Di facebook, ada satu video yang banyak dishare oleh kawan-kawan saya. Video tersebut berisi semacam wawancara untuk mengulik harga outfit anak-anak muda hype ibukota yang sungguh membikin siapa pun yang melihatnya jadi merasa miskin.


Ada yang pakai topi seharga 700 ribu, ada yang pakai hoodie seharga 7 juta, ada yang pakai sepatu 10 juta, ada yang pakai tas slempang 4 juta, bahkan ada yang pakai jam tangan harga 200 juta (masya Allah, jam tangan 200 juta, padahal detik sama menitnya sama saja dibanding jam tangan duapuluh ribuan, 1 menit isinya ya tetep 60 detik)

Video tersebut sungguh membuat saya merenung, betapa ketimpangan dan ketidakadilan adalah tontonan yang begitu akrab dan tersebar di mana-mana.

Ada banyak orang yang bingung menghabiskan uang untuk apa, sementara lebih banyak orang yang bingung mau cari uang dari mana? Semua punya kebingungannya masing-masing.

Saya jadi ingat dengan tulisan lama Cak Nun yang berjudul “Ranjang 65 juta”, dalam tulisan tersebut, Cak Nun menulis begini:

“Kita bisa dan boleh membeli ranjang dan kasur tidur seharga 65 juta rupiah. Tapi kita pilih yang harganya satu juta rupiah saja. Atau yang harganya seratus ribu rupiah saja. Bahkan ada teman kita yang memilih jauh lebih murah dari itu.

Kenapa? Salah satu jawabannya adalah: karena ia dewasa.

Ranjang 65 juta rupiah itu bisa dipakai untuk menggaji 2000 guru sekolah dasar, atau untuk makan minum sebulan 1000 keluarga rakyat kecil, atau bisa juga dipakai untuk memodali 130 organisasi koperasi wong cilik.”

Memang susah untuk memahami bagaimana pola konsumtif manusia. Ada yang membeli sesuatu karena gengsi, ada yang membeli sesuatu karena fungsi.

Untuk urusan yang satu ini, tak ada yang lebih jernih dan filosofis ketimbang Paijo, kawan saya di Geng Koplo.

“Tuku cawet ki rasah sing larang, wong yo ra iso dipamerke, kecuali nek kowe kerep nglonte…” tutur Paijo pada saya suatu ketika.

Saya terdiam. Tentu sambil mengamininya.

Tentang Saya

Saya Agus Mulyadi, biasa dipanggil Gus Mul (bukan lulusan pesantren seperti Gus Dur, Gus Muh, maupun Gus Mus. Gus Mul hanya akronim dari nama saya). Blogger dan Freelance Layouter. Kini berusia 24 tahun. Aktif di Karang Taruna dan Komunitas Blogger Magelang Pendekar Tidar. Profil lebih lengkap, Lihat Disini

Tambahkan saya di Google+

 
Copyright © 2010 Agus Mulyadi Blog , All rights reserved
Design by DZignine . Powered by Blogger