Mutung dan Nyegat Bis

| Sunday, 2 July 2017 |

Beberapa waktu yang lalu, Mas Edi Mulyono menulis di Mojok tentang Tafsir Jodoh dan pernikahan menurut Quraish Shihab. Dalam artikel yang luar biasa lucu tersebut, ada bagian soal mutung-nya seorang istri yang kemudian memaksa dan mengancam pulang ke rumah orang tuanya naik bis.

Setelah artikel itu tayang, tak berselang lama, Kalis mengirimi saya pesan wasap.

“Tulisane pak Edi nggawe aku ngakak. Bagian padu njaluk mulih nyegat bis,” Begitu tulis Kalis.

Saya paham betul alasan kenapa dia ngakak, sebab dua minggu yang lalu, pas main ke rumah saya, Kalis sempat marah sama saya dan benar-benar mengancam mau pulang naik bis.

Gara-garanya sepele, karena saya bermaksud pengin nonton sendirian.

“Lis, tak tinggal dilit yo, kowe ng kene ndisik,”

“Lha kowe meh nangdi?”

“Tak nonton, dilit kok, paling mung rong jam,”

Saya memang merencanakan ingin nonton sendirian tanpa Kalis, sebab yang mau saya tonton waktu itu adalah Wonder Woman, film yang konon katanya tidak elok untuk ditonton berpasangan (Ayolah, lelaki mana yang masih butuh pasangan ketika di depan matanya, Gal Gadot memberikan senyum yang begitu manis dan metodis). Lagipula, saya juga paham betul, Kalis tidak suka film action apalagi yang superhero. Karenanya saya memberanikan diri sekadar formalitas untuk meminta ijin nonton sendiri.

Namun apa daya, bukan ijin yang saya genggam, malah bentakan yang saya dapat.

“Kowe ki karepe piye tho? Aku nglegakke tekan kene kok kowe tegel-tegele meh ninggal aku nonton dhewe, karepmu ki piye?”

“Ehm....”

“Wis, aku tak mbalik Jogja wae, Aku tak ngebis dhewe,” bentaknya yang kemudian membuat saya jiper.

Itulah saat di mana saya memandang Kalis bukan sebagai gadis kalem dan intelek, saya memandangnya serupa singa betina yang terluka.

Lalu apakah saya jadi nonton? Tak perlu saya jawab, sebab saya yakin, sampeyan sudah tahu jawabannya.

Mugo Iso Menangi Bodo Ngarep

| Sunday, 25 June 2017 |

Setiap kali sungkem dan meminta maaf kepada para tetua di hari lebaran, hampir semuanya mendoakan satu doa pamungkas, “mugo iso menangi bodo ngarep”, semoga bisa bertemu dengan lebaran tahun depan.

Ia semacam doa yang template dan sederhana. Namun justru doa itu yang selalu punya kesan dan bermakna. Betapa manusia memanglah makhluk yang selalu penuh dengan pengharapan.

Rasanya selalu trenyuh saat mereka mendoakan kita dengan doa yang sederhana itu, apalagi jika sembari memegang tangan mereka yang begitu ringkih dan keriput, tangan-tangan yang dulu gagah dan tangkas melawan matahari.

“Mugo iso menangi bodo ngarep.”

Sebuah doa sederhana yang kemudian membuat saya berpikir, jangan-jangan, Gusti Alloh masih memberi kita kesempatan untuk hidup dan sehat di hari lebaran kali ini adalah karena doa dari mereka para tetua di hari lebaran yang lalu.

Ketlingsut dan Emosi Tak Terduga

| Friday, 23 June 2017 |

Bapak saya marah-marah, karena ikat pinggang yang dia taruh di kamar emak saya hilang alias ketlingsut entah kemana.

Kamar emak saya tentu saja sejatinya adalah juga kamar bapak saya. Namun, karena saking banyaknya lemari (ada 3 lemari), ditambah beberapa kotak pakaian yang terparkir di kamar emak membuat bapak sumpek dan membuat ia lebih sering memilih tidur di depan tivi.

Emak saya berada satu barisan dengan dua adik perempuan saya. Gemar membeli pakaian namun lebih suka menyimpannya alih-alih memakainya. Jadilah jumlah pakaian di rumah kami bejibun dan semuanya disimpan di kamar emak. Maklum, rumah kami adalah rumah tipe RS9 (Rumah Sungguh Sangat Sempit Sekali Sehingga Selonjor Sedikit Saja Sulit).

Berlawanan kutub dengan emak, bapak saya dan juga saya (sebagai sesama lelaki) berada pada barisan yang lain. Tak terlalu suka membeli banyak pakaian dan selalu bernafsu untuk membuangnya jika memang sudah tak pernah dipakai lagi. Bagi kami, sebaik-baik pakaian adalah iman (uhuk).

Dua barisan dalam satu biduk ini selalu mengalami pergolakan yang hebat. Bapak, sering sekali diam-diam mengambil pakaian yang sudah sering tiada dipakai dari dalam lemari untuk dipotong lalu dijadikan keset atau lamping (kain yang sering digunakan untuk mengangkat gagang panci panas dari kompor). Pada titik yang ekstrem, bapak malah pernah mengambil cukup banyak pakaian untuk kemudian membakarnya.

Saya sendiri mungkin juga sering merasakan apa yang bapak saya rasakan. Sumpek karena terlalu banyak pakaian.

Nah, efek paling mengganggu dari terlalu banyak pakaian di kamar emak ini salah satunya adalah sering membikin ketlingsut barang-barang yang ditaruh di sana. Baik itu sarung, tas kecil, buku, atau yang barusan terjadi pada bapak saya: ikat pinggang.

Barang-barang yang kelingsut itu biasanya baru ketemu setelah kotak-kotak pakaian dan lemari diudal-udal.

Nah, barusan, atas kehilangan ikat pinggangnya itu, bapak marah cukup sadis dan mengumpat dengan umpatan yang, bajangkrek setan alas, malah terlihat lucu ketimbang seram.

“Wis, sesuk ben tak obong kabeh klambi ning kene iki, kabeh-kabeh barang angger tak seleh ning kene kok mesti ilang. Iki kamar po segitiga bermuda tho?” Ujarnya geram.

Demi mendengar kata "Segitiga bermuda", saya kaget terperanjat, dan langsung menahan tawa. Saya tak habis pikir, bagaimana mungkin bapak saya yang tak pernah baca majalah Natgeo ini kok bisa-bisanya tahu tentang fenomena segitiga bermuda.

Saya terdiam sejenak, lalu tersadar akan satu hal. On The Spot Trans7, ya... Pasti gara-gara On The Spot Trans7. Tiada bukan.

Tentang Saya

Saya Agus Mulyadi, biasa dipanggil Gus Mul (bukan lulusan pesantren seperti Gus Dur, Gus Muh, maupun Gus Mus. Gus Mul hanya akronim dari nama saya). Blogger dan Freelance Layouter. Kini berusia 24 tahun. Aktif di Karang Taruna dan Komunitas Blogger Magelang Pendekar Tidar. Profil lebih lengkap, Lihat Disini

Tambahkan saya di Google+

 
Copyright © 2010 Agus Mulyadi Blog , All rights reserved
Design by DZignine . Powered by Blogger