Tertawa bersama, sehat bersama

| Monday, 20 April 2015 |



“Tertawa adalah tanda bahagia, tapi akan lebih bahagia jika anda bisa membuat orang lain tertawa”, begitulah kata kangmas Albert Einstein.

Tentu saya sangat sependapat dengan beliau, karena bagi saya, berbagi tawa memanglah sesuatu yang sangat menyenangkan dan bikin ketagihan, Lebih nyandu ketimbang ciu.

Tertawa itu menyehatkan. Jadi bisa dibilang, cara termurah untuk menjadi seorang dokter adalah dengan membagikan hal-hal yang lucu yang mampu membuat orang lain tertawa.

Beberapa waktu yang lalu, saya dan dua kawan saya, Nico dan Kebo mencoba membuat akun twitter yang mengusung twit humor, akun tersebut kami namai @CocotSelo. Misinya ya itu tadi: membagikan hal-hal yang lucu.

"Akun Dagelan waton Muni, Kadang ora dipikir, jadi rasah protes nek ra lucu... Meh Follow yo Karepmu, Ra Follow yo Matamu", begitulah bio yang tercantum di akun humor ini.



Saya, Nico, dan Kebo adalah kawan sepermainan, kami bertiga sering nongkrong dan ngobrol ngalor-ngidul sembari ngopi dan bermain kartu bareng di kamar loteng saya. Dari obrolan tersebut, sering kali terlontar guyonan-guyonan yang menurut kami lucu. Atas dasar itulah, kami kemudian membuat akun Cocotselo, yaitu untuk menampung guyonan-guyonan tersebut lewat twit. Harapannya agar guyonan-guyonan tersebut bisa dinikmati tidak hanya oleh kami bertiga.

Karena keseharian kami menggunakan bahasa Jawa, maka Cocotselo pun kami isi dengan twit-twit lucu (lucu menurut kami) berbahasa Jawa, biasanya soal asmara atau sosial.

Selain twit, kadang kami juga mengisi cocotselo dengan meme yang dibuat sekenanya. Yah, ndak lucu-lucu banget sih, tapi lumayan lah, ada saja barang sepotong dua potong manusia yang mau ngretweet.





Alhamdulillah, akun ini ternyata mendapat respon yang cukup baik. Pelan tapi pasti, follower mulai berdatangan. Follower cocotselo kini sudah mencapai 1700-an.

Puas dengan Cocotselo, Saya dan Nico ingin kembali membuat akun lucu-lucuan yang lain, tapi kali ini, kami ingin membuat akun dengan konsep grup, sehingga nantinya, bukan hanya saya, Nico, dan Kebo yang bisa memposting konten lucu, melainkan seluruh anggota grup juga bisa ikut berkontribusi menyebarkan kelucuan.

Kami akhirnya memilih Sebangsa.com sebagai platform eksplorasi kami. Alasannya sederhana: Sebangsa adalah sosial media buatan anak negeri, dan fiturnya tidak kalah canggih dibanding sosial media global kebanyakan.

Grup di Sebangsa ini kami namakan Dagelan. Anggotanya baru sedikit, yah, namanya juga masih akun baru.

Tentu saya akan sangat berbahagia kalau sampeyan mau bergabung dan meramaikan grup Dagelan ini. Yah, siapa tahu sampeyan punya stok bahan humor yang turah-turah. Ingat, Humor itu seperti birahi, kalau tidak dilampiaskan, bisa berbahaya. hehehe

Wah, tapi saya belum punya akun Sebangsa je mas Agus...

Ya tinggal bikin tho, gitu aja kok gundah...

Hanyalah Wong Cilik

| Sunday, 19 April 2015 |



"Presiden'e meh sopo, nasibe wong cilik koyo dhewe ki yo tep podo wae"

Wong cilik yang sudah biasa rekoso mungkin sudah menganggap bahwa default hidupnya memang sudah disetting rekoso. Jadi ketika kondisi hidup dirasa sulit, dia hanya nggresulo sebentar dan misuh sekedarnya, setelah itu, ya biasa saja: ngudud, ngopi, ngarit, tidak menghujat siapa-siapa, tidak nyumpahi siapa-siapa.

Kalaupun harus menghujat presiden, menghujatnya ya cuma sebentar, tidak ndremimil seperti buzzer awal bulan. Karena ia menganggap, hidup itu lumrahnya memang harus begitu, harus rekoso.

Mereka sadar, susah itu pasti, tapi ketenangan adalah hak. jadi, Walau keadaan susah, pikiran mereka tetap jreeng, tidak spaneng.

Mereka tetap bahagia, dan kebahagiaan mereka didapat tanpa perlu piknik. Karena sejatinya, hidup itu sendiri adalah piknik yang sepiknik-pikniknya.

Kabar buruknya, orang-orang semacam ini biasanya tidak punya akun facebook atau twitter, sehingga saya tidak bisa men-Cc atau memensen beliau-beliau ini.

Mungkin karena mereka sadar, bahwa facebook dan twitter hanyalah makhluk yang bisanya cuma bikin spaneng.

Mas Mario, The Commando

| Friday, 17 April 2015 |



Dear Mas Mario Steven Ambarita.

Eh, saya harus panggil mas Mario, atau Mario saja ya? Soalnya saya lebih tua dari sampeyan je mas...Etapi saya panggil “Mas Mario” aja deh, biar lebih sopan.

Mas Mario,...” (tolong jangan dijawab dengan kalimat: “sahabat saya yang super”)

Saya begitu tersentak begitu membaca berita di Merdeka.com tentang aksi mas yang nekat menyusup ke roda pesawat Garuda GA 177 tujuan Pekanbaru – Jakarta dengan cara melompati pagar Bandara Pekanbaru, Riau sesaat sebelum pesawat lepas landas. Lebih tersentak lagi tatkala mengetahui kalau mas akhirnya bisa selamat sampai tujuan (Jakarta). Yah, kendatipun dengan kondisi tubuh yang sangat memprihatinkan: Tubuh membiru dan telinga banyak mengeluarkan darah.

Sungguh sebuah aksi yang sangat dan berani. Aksi yang mungkin akan membuat seorang Limbad pun akan berfikir seribu kali untuk melakukannya. Aduuuh, pucing pala Limbad.

Mas Mario, Dulu saya pernah begitu takjub dengan keberanian para bonek yang berani ndompleng di atas kereta yang melaju dengan kecepatan tinggi demi untuk menonton Persebaya berlaga. Sebuah keberanian berbalut militansi yang sangat luar biasa. Namun begitu mengetahui aksi mas Mario, keberanian para bonek tadi jadi terlihat berkurang cukup banyak di mata saya. Ternyata memang benar apa kata pepatah, di atas langit, masih ada langit, di atas Bonek, masih ada yang lebih Bonek.

Aksi sampeyan benar-benar membuat heboh jagad penerbangan. Berita tentang sampeyan bercokol di tangga teratas aneka portal berita.

Mas Mario, aksi sampeyan mengingatkan saya pada sebuah film lawas berjudul Commando, Di film besutan tahun 1985 yang dibintangi oleh Arnold Schwarzenegger (yang berperan sebagai John Matrix) itu, ada adegan yang hampir serupa dengan aksi yang sampeyan lakukan. Yakni adegan saat si John Matrix ndompleng di roda pesawat terbang. Tapi aksi tersebut jelas tidak ada seupil-upilnya jika dibandingkan dengan aksi sampeyan, mas. Karena adegan si John Matrix itu hanya adegan dalam film, bukan adegan nyata, lagipula, di film tersebut, si John Matrix tidak ndompleng sampai Jakarta, melainkan cuma sampai ujung bandara, untuk kemudian lompat ke rawa-rawa.

Saya jadi berfikir, mungkin sampeyan lah yang lebih pantas menyandang nama Schwarzenegger, bukan si Arnold itu. Keren lho mas, coba bayangkan, nama sampeyan berubah jadi Mario Schwarzenegger, sangat barat dan sangat “Commando”. Ehhm… Atau kalau sampeyan kurang suka, bagaimana kalau sedikit diubah agar jadi lebih Ngindonesia, Mario Suasanaseger, misalnya... Gimana? gimana?

Mas Mario...

Bagi saya, aksi mas bukanlah sekadar aksi random yang sembarangan seperti kata banyak orang. Karena sebelumnya, Mas Mario telah mempersiapkan segala sesuatunya. Bahkan sampeyan sempat selama 10 hari mengamati Bandara Sultan Syarif Kasim II Pekanbaru dan mancari tahu bagaimana cara untuk bisa menyusup. Sampeyan juga dengan teliti dan cermat memperhitungkan jeda taxying pesawat selama 5 menit di ujung landasan bandara.

Sungguh aksi yang cerdas, nekat, militan, dan.... Sableng.

Aksi yang jelas membuat banyak orang heran, tak terkecuali saya. Gimana ndak heran, Disaat banyak orang mengeluh tentang Jakarta yang berisik, macet, banjir, dan semrawut. Sampeyan malah mempertaruhkan nyawa untuk bisa berangkat ke Jakarta.

Well,pada akhirnya, Keheranan saya akan aksi mas akhirnya terjawab. Sampeyan rela berangkat ke Jakarta dengan toh nyowo ternyata demi untuk menemui seseorang, seseorang yang katanya sangat-sangat sampeyan idolakan. Dan seseorang itu ternyata adalah... Jokowi., ya Jokowi... Presiden yang sangat sampeyan kagumi.

Entah benar apa tidak, tapi begitulah alasan yang sampeyan kemukaan saat ditanya oleh para wartawan terkait motivasi sampeyan melakukan aksi yang bikin kuduk berdiri itu. (btw, kenapa harus Jokowi sih mas?).

Well, Saya tak perlu keheranan dua kali. Karena saya tahu bagaimana rasanya mengidolakan seorang tokoh.

Memang benar, rasa cinta yang berlebihan kepada sang idola kerap mematikan nalar manusia. Saya sendiri sudah membuktikannya.

Adalah Freddie Mercury, si vokalis Queen, manusia yang bisa membuat saya menjatuhkan pilihan untuk mengidolakannya. Alasannya simpel: Dia Mrongos, dan luar biasa. Sebagai salah satu duta pria mrongos Indonesia, saya merasa harus mengidolakan tokoh yang juga mrongos tapi mempunyai prestasi yang sensasional. Dan Freddie Mercury adalah jawabanya. Sebenarnya, Luiz Suarez juga masuk kriteria, tapi sayang, dia bukan pemain MU, jadi saya terpaksa mencoretnya dari daftar. Tapi tenang, Diding Boneng tetap masuk list kok.

Rasa cinta saya pada Freddie Mercury membuat saya sering menirukan gayanya saat tampil di panggung. Saya sering secara spontan menirukan gaya berjalannya sambil membopong stan mic, dengan langkah yang dibuat sedemikian manja, kadang berlari-lari kecil, kadang merenggangkan kaki sambil mengepalkan tangan di atas. Dan itu sering saya lakukan di hadapan kawan-kawan saya. Saya bahkan tak canggung melakukan aksi tersebut di hadapan guru ngaji saya, beliau bahkan sampai berseloroh “wooo, dasar cah gendeng” sambil tersenyum geli melihat tingkah saya, tapi saya cuek saja.

Gara-gara Freddie pula, saya sering berniat memanjangkan kumis (kebetulan, Freddie punya kumis tebal), walau banyak kawan-kawan saya yang sudah memperingatkan, bahwa wajah saya tak akan lebih mendingan dengan bantuan kumis tebal di bawah hidung saya.

Yah, mungkin ini yang namanya nalar mati karena idola.

Seandainya Freddie Mercury masih hidup dan sekarang tinggal di Jakarta, saya mungkin tak akan berfikir dua kali untuk menemuinya. Tapi jelas bukan dengan ndompleng roda pesawat seperti yang mas lakukan. Saya tak mau badan saya membiru. Sudah pendek, biru lagi. Saya takut nanti orang-orang bakal menyamakan saya dengan galon air isi ulang.

Tapi mas Mario, bagaimanapun, Saya tetap salut dengan tekat dan keberanian sampeyan untuk ndompleng di pesawat dengan mempertaruhkan nyawa sampeyan. Namun saya berharap, jika kelak, di kemudian hari, sampeyan ingin melancarkan aksi yang lebih ekstrem dan lebih “Arnold” lagi, tolong jangan lakukan aksi tersebut demi Jokowi. Lakukanlah demi Raisa, Chelsea Islan, atau minimal salah satu personel JKT48.

Karena saya yakin, Jokowi mungkin tidak akan peduli dengan aksi sampeyan, karena sekarang ini, beliau sedang sibuk “mengurus” urusan negara dan juga sibuk mengurus persiapan hajatan nikahan anaknya.

Saya ndak ingin mas makan ati. Masak, sudah jauh-jauh menggantung di pesawat, eh, masih ditambah digantungin sama Jokowi. Kan nyesek mas. #DiaMahGituOrangnya.

Ya sudah mas. Segini saja. Saya ndak mau menambah beban mas Mario lewat surat terbuka yang sangat tidak jelas ini.

Semoga mas Mario senantiasa diberikan kesehatan, dan lolos dari hukuman (sumpah, saya kasihan sama ibu sampeyan mas). Dan semoga, kelak, Pak Jokowi berkenan untuk memberikan balasan atas aksi mas.

Iyaaaa, Saya pengin banget melihat Pak Jokowi ndompeng di roda pesawat dari Jakarta sampai ke Pekanbaru untuk bertemu mas Mario.

*Terbit pertama kali di Kolom Merdeka.com

Tentang Saya

Saya Agus Mulyadi, biasa dipanggil Gus Mul (bukan lulusan pesantren seperti Gus Dur, Gus Muh, maupun Gus Mus. Gus Mul hanya akronim dari nama saya). Blogger dan Freelance Layouter. Kini berusia 23 tahun (sedang lucu-lucunya). Lahir di Magelang, hidup di Magelang, dan besar di-Dzolimi. Agak mrongos, humoris, cerewet, ceplas-ceplos, menyukai dangdut koplo, tidak terlalu bertanggung jawab. Aktif di Karang Taruna dan Komunitas Blogger Magelang Pendekar Tidar. Profil lebih lengkap, Lihat Disini
 
Copyright © 2010 Agus Mulyadi Njaluk Rabi , All rights reserved
Design by DZignine . Powered by Blogger