Pilpres Laksana Kenangan Sunat

| Friday, 25 October 2019 |

“Siapa pun yang menang, mau Jokowi atau Prabowo, yang kalah tetaplah rakyat,” begitu kata kawan saya yang juga menjabat sebagai bapak arsip twitter nasional, Bilven Sandalista.

Sinisme tentang Pilpres yang saya pikir berlebihan, namun kelak, saya sadar apa yang dikatakan oleh Bilven adalah sebenar-benarnya kebenaran.

Sekarang, dengan jelas kita melihat bahwa memang rakyat sedang menanggung kekalahan itu. Kekalahan yang nggak telak-telak amat memang, tapi tetap saja itu sebuah kekalahan.

Lima tahun lalu, di bilik suara, rakyat bimbang mau pilih Jokowi atau Prabowo. Kita bingung memilih siapa yang menurut kita cocok menjadi pemimpin yang mengurusi hajat hidup kita.

Kebimbangan dan kebingungan itu bukan hal sederhana. Ia dijalani dengan konsekuensi yang besar. Ada banyak orang yang demi mendukung Jokowi atau Prabowo, ia sampai mengorbankan hubungan perkawanan mereka, mereka sampai berdebat keras dengan kerabat dekat sendiri, unfriend teman di Facebook, unfollow kawan di Twitter, bahkan pada titik tertentu, sampai memutus tali silaturahmi.

Ada yang sampai di-kick dari grup wasap keluarga, ada yang sampai bertaruh uang dengan nilai yang tak sedikit, ada yang sampai rela menjadi buzzer gratisan yang sampai harus membagikan berita yang ia paham betul itu hoax.

Ada yang sampai gagal menikah karena ia seorang Jokower sedangkan calon mertuanya Prabower.

Ada suami yang bahkan dengan tegas rela menceraikan istrinya jika ia mencoblos capres yang tidak sama dengan pilihannya.

Terlalu banyak konsekuensi yang harus ditanggung untuk memilih antara Jokowi atau Prabowo.

Konsekuensi tersebut pada akhirnya bikin kecewa banyak orang. Lha gimana, setelah ditetapkan sebagai pemenang, Jokowi ternyata memilih Prabowo, rivalnya, menjadi menteri Pertahanan. Padahal, banyak orang yang memilih Jokowi agar Prabowo tidak duduk di pemerintahan. Banyak yang memilih Jokowi bukan karena ia suka dengan Jokowi, melainkan karena “asal bukan Prabowo”.

Mengutip kembali kata Bilven, “Beli 1, dapat 2.”

Entah kenapa, nasib tersebut mengingatkan saya pada kenangan sunat. Dulu saya sunat di akademi militer. Ikut program sunat massal di sana. Saya tadinya tak mau ikut, sebab saya masih belum siap untuk disunat, tapi karena banyak kawan lelaki saya satu kelas yang mendaftar, saya mau tak mau ikut mendaftar. Saya takut disunat, tapi saya lebih takut dikatai pengecut oleh kawan-kawan lelaki saya.

Kala itu, di ruang penjagalan, sesaat sebelum mengeksekusi si kecil, Pak dokternya yang bertugas menjagal pucuk kelelakian saya bertanya, “Biusnya mau yg suntik apa oles?” karena saya agak takut disuntik, maka tentu saja saya jawab, pakai bius oles saja.

Dan bajingan betul, jebul setelah burung saya dioles, saya ternyata disuntik juga. Sambil menahan sakit akibat tusukan jarum suntik, saya melayangkan protes. “Lho, lho, lho. Kok disuntik juga, Dok? Tadi katanya bius oles!”

Dia menjawab santai, “Kalau cuma dioles, biusnya kurang mantep.”

Dalam hati saya ngedumel. “Trus ngapain tadi sok-sokan nanya mau bius oles apa suntik?”

Saya jadi semakin yakin, bahwa politik tak ubahnya seperti burung. Sama-sama KNTL.

Iman Murah Meriah

| |

Salat jumat tadi siang, seperti biasa, saya meletakkan kaca mata saya di depan saya.

Lhadalah, lha kok ternyata ada anak kecil yang benar-benar menganggu kekhusyukan salat saya sekaligus bikin jantung saya syir-syiran.

Ia berlarian di depan barisan shaf salat saya. Tentu saja saya mak tratap. Saya takut kaca mata saya terinjak.

Lha gimana, ini sudah kali ketiga saya ganti kaca mata, dan tiap kali ganti, koceknya lumayan terasa. Kaca mata saya ini harganya nggak mahal-mahal amat sih, tapi juga nggak murah-murah amat. 1,3 juta. Kalau sampai terinjak, ya tekor juga.

Salat saya benar-benar kacau. Kepikiran terus sama kaca mata.

Untung saja, sepanjang rakaat pertama, si anak kecil tersebut berlarian ke arah shaf yang menjauhi saya.

Tapi dasar nasib. Pas rakaat kedua, sesaat setelah saya bangkit dari rukuk, si anak ternyata berlari ke arah depan saya. Posisi kaki si anak tersebut saya perkiraan bakal menginjak kaca mata saya.

Dalam jarak yang sangat tipis, tangan dan mulut saya reflek.

“Awas!” teriak saya sembari memajukan tangan menghalau si anak.

Saya lemas. Batal sudah salat jumat saya.

Maka, mau tak mau, saya harus mengganti salat jumat saya dengan salat Duhur.

Saya sedih. Bukan karena saya harus mengganti salat saya, melainkan karena iman saya ternyata masih murah, sampai-sampai saya tidak bisa menjaga kekhusyukan salat hanya karena kaca mata.

Saya jadi ingat kisah khalifah Umar bin Khattab RA. Beliau pernah tertinggal salat asar berjamaah karena sibuk dengan kebun kurmanya. Beliau sungguh menyesal atas hal itu. Sebagai penebusan, Beliau pun lantas menyedekahkan kebun kurma miliknya.

Malam ini, saya mengamati kaca mata saya lekat-lekat.

Dalam hati, terpikir pertanyaan “Haruskah saya meniru khalifah Umar? Haruskah saya menyedekahkan kaca mata ini?”

Lima detik kemudian, dari dalam hati pula, tersirat jawaban, “Ojo, Gus. 1,3 juta, je!”

Saya makin yakin. Iman saya memang murah meriah.

Love-Hate Relationship ala Pramuka

| Wednesday, 14 August 2019 |

Saya punya semacam love-hate relationships dengan Pramuka. Sejak kecil, saya sudah sangat menyukai Pramuka. Maklum saja, sejak kecil, saya sudah sering teracuni dengan sindrom petualangan: menjelajah, berburu harta karun, menaklukkan tantangan, tidur di alam liar, dan sebangsanya. Dan Pramuka, adalah entitas yang, setidaknya bagi saya yang masih kecil, sangat masuk akal untuk memenuhi hasrat petualangan.

Ketika SD, walau tak sesuai-sesuai amat dengan bayangan saya akan konsep petualangan, namun setidaknya, Pramuka toh berhasil membuat saya bahagia.

Pramuka membuat saya akhirnya bisa merasakan berkemah, ikut pesta siaga, dan yang paling penting, bisa membuat saya petantang-petenteng dengan seragam dilengkapi tali dan belati (yang tentu saja tidak tajam, sebab keberadaannya memang lebih bersifat hiasan pelengkap semata alih-alih sebagai alat pemotong). Bagi saya itu memang sangat keren dan sangat militeristik.

Oke, saya paham bahwa militerisme jaman sekarang sangat tidak keren dan tidak wuks, bahkan bagi beberapa orang cenderung menyebalkan. Tapi percayalah, dulu, bagi saya yang rumahnya berada di seberang kompleks akademi militer, melihat tentara dengan belati tergantung di ikat pinggang memang tampak sangat macho dan jagoan. Ayolah, Rambo yang pakai belati itu jauh lebih sangar ketimbang Inspektur Vijay yang pakai pistol.

Namun saat masuk SMP, Pramuka yang dulu saya kenal sebagai kegiatan yang menyenangkan dan penuh petualangan perlahan menjadi tidak lagi menyenangkan.

Senioritas dalam hierarki kepramukaan membuat segala kesenangan berubah. Dulu saat SD kita diasuh oleh kakak pembina yang tak lain dan tak bukan adalah guru kita sendiri. Sedangkan saat SMP, kita diurus oleh kakak kelas yang mentang-mentang lebih senior menjadi sangat menyebalkan. Mereka seperti gagap kekuasaan.

Saat masuk SMA, Pramuka menjadi semakin menyebalkan. Saya yang dulu sangat menyukai pramuka, dengan segala yang menyertainya (termasuk tali dan belatinya yang tidak tajam itu), kini menjadi sangat benci.

Kelak, perjalanan hidup saya kemudian justru mempertemukan saya dengan orang-orang yang ternyata tumbuh dengan baik salah satunya karena Pramuka.

Sebagai penulis, saya tak menyangka jika ada banyak penulis berbakat yang dulu adalah anak-anak Pramuka.

Saya merasa antara penulis dan pramuka kerap punya keterikatan. Saya pikir memang ada sehimpun syaraf di tangan yang membuat seseorang yang ahli tali-temali juga piawai dalam tulis-menulis.

Contoh yang saya pakai tentu saja adalah Puthut EA.

Banyak yang tak tahu, kalau Puthut EA yang penulis dan cerpenis jempolan itu dulunya merupakan pramuka pilih tanding. Seingat saya, ia bahkan sampai pernah ditunjuk untuk mewakili Rembang dalam sebuah ajang pramuka nasional (atau malah internasional? Saya agak lupa).

Itulah kenapa, kalau soal Pramuka, Puthut EA sangat otoritatif. Bahkan kalau kita perhatikan dengan teliti, setiap kedipan mata Puthut EA adalah serupa sandi morse yang memberontak untuk dipecahkan.

Penulis lain yang juga layak untuk dijadikan contoh adalah Pak Bondan Winarno almarhum. Penulis handal yang oleh banyak orang lebih dikenal sebagai ahli kuliner itu ternyata adalah anak Pramuka jempolan.

Saking jempolannya, Pak Bondan yang Maknyus itu bahkan pernah memimpin penggalang Indonesia dalam ajang Jambore Pramuka Dunia di Amerika Serikat tahun 1967.

Contoh lain adalah Yusi Avianto Pareanom. Penulis yang novel terbarunya membuat saya tak henti-hentinya terkagum-kagum itu belakangan saya ketahui pernah menjadi Siaga terbaik se-Jawa Tengah. Tak heran, sebab jika diamati lekat-lekat, di balik tampang Paman Yusi yang tua namun ceria itu, memang tersirat kehidupan masa muda yang keras, masa muda yang penuh halang-rintang, masa muda yang hemat, cermat, dan bersahaja.

Nah, yang paling sahih dan dekat tentu saja adalah calon istri saya sendiri, Kalis Mardiasih. Penulis yang selalu membuat saya terkagum-kagum itu ternyata adalah seorang pramuka teladan. Saat SMA, ia bahkan menjabat sebagai ketua Pradana putri. Lebih dari itu, tulisan pertama dia yang tembus di koran (saat itu Solopos) juga adalah tulisan tentang reformasi Pramuka.

Singkat kata, sebagai penulis, saya punya semacam hubungan emosional yang, walau nggak dekat-dekat amat, cukup berkesan dengan Pramuka.

Namun, seperti yang sudah saya tulis di atas, saya memang merasakan bahwa pada titik tertentu, Pramuka menjadi hal yang sangat menyebalkan.

Salah satu episode yang membuat saya begitu meyakini hal tersebut adalah sebuah kejadian yang terjadi saat saya kelas 1 SMA.

Saat itu, saya ditanya oleh Bantara, “Dek, kamu cinta sama tanah air nggak?”

Tentu saja saya jawab, “Cinta, Kak!”

Eh, bedebah, setelah saya jawab begitu, Si Bantara tidak tahu diuntung itu kemudian menyuruh saya untuk berbaring di tanah, “Kalau memang cinta, sekarang cium tanahnya!” Ujarnya sambil membentak.

Bangsat. Pramuka kok jadi goblok begini.

Belakangan saya agak merasa bersyukur, sebab apa yang saya alami ternyata masih belum ada apa-apanya ketimbang kawan saya. Amalia namanya.

Suatu ketika, ia pernah ditanya oleh Bantara, “Dasa Dharma pramuka yg kelima apa?”

Ia kemudian menjawab “Rela menolong dan tabah, kak.”

“Kalau begitu, kamu mau nggak nolongin kakak?”

“Siap, mau, Kak!”

“Petik bunga itu”, pinta sang Bantara sembari menunjuk bunga.

Kawan saya kemudian memetiknya, ia lantas memberikannya kepada Si Bantara, “Ini, kak.”

Bukannya berterima kasih, Si Bantara justru mengajukan pertanyaan lain. “Kamu tahu Dasa Dharma kedua?”

“Tahu, Kak. Cinta alam dan kasih sayang sesama manusia.”

“Terus kenapa kamu petik bunganya?”

Modiaaaaaaaar.

Tentang Saya

Saya Agus Mulyadi, biasa dipanggil Gus Mul (bukan lulusan pesantren seperti Gus Dur, Gus Muh, maupun Gus Mus. Gus Mul hanya akronim dari nama saya). Blogger dan Freelance Layouter. Kini berusia 24 tahun. Aktif di Karang Taruna dan Komunitas Blogger Magelang Pendekar Tidar. Profil lebih lengkap, Lihat Disini
 
Copyright © 2010 Agus Mulyadi Blog , All rights reserved
Design by DZignine . Powered by Blogger