Menolak Pelegalan Nikah Sesama Jenis

| Tuesday, 30 June 2015 |

Beberapa hari yang lalu, Mahkamah Agung Amerika Serikat akhirnya mengetok palu untuk melegalkan pernikahan sesama jenis di Seluruh Negara Bagian Amerika. Sejarah baru akhirnya terukir. Publik pun kemudian menyambut dan merayakan putusan ini dengan aneka bentuk visual pelangi, yang merupakan bendera resmi komunitas homoseks. Tagar #CelebratePride ‪dan #‎LoveWins‬ pun menggema mengiringi riuh ramai gambar pelangi (Kasihan anak-anak TK yang baru belajar menggambar pelangi pakai pensil warna, kecil-kecil sudah dicap "bibit-bibit antek Homoseks", hehehe)

#LoveWins Bikini Bottom

Bagi kebanyakan kaum LGBT, keputusan ini tentu menjadi sebuah kemenangan besar. Bagi kaum yang lain, ini adalah salah satu kerusakan yang nyata untuk akidah. Sedangkan bagi agusmulyadi.web.id, ini adalah bahan yang bagus untuk menaikkan rating dan menambah jumlah pembaca (dan juga haters, tentunya) hehehe.

Jujur, saya sendiri memproklamirkan diri untuk berada dalam barisan yang menolak undang-undang pernikahan sesama jenis. Terlebih sebagai seorang muslim, saya meyakini, bahwa homoseksualitas adalah penyimpangan dan dosa besar.

Menurut saya, menjadi seorang homoseks tak ubahnya seperti menjadi seorang pemabuk. Masing-masing pribadi punya kontrol untuk mengendalikan dirinya sendiri. Jadi saya rasa, bukan sebuah kemustahilan bagi seorang homoseks untuk bisa sembuh, sama halnya dengan seorang pemabuk dan kemudian tobat dan berhenti minum minuman keras.

Itulah salah satu sebab kenapa saya menolak keras pelegalan nikah sesama jenis. Karena pelegalan nikah sesama jenis akan memperkecil kemungkinan seorang homoseks untuk bisa sembuh. Dengan adanya legal marriage, mereka akan semakin tidak punya niat untuk bisa sembuh dan berubah. “Buat apa sembuh, toh nikah sesama jenis juga sah kok!”

Kalau dalam rangka mencari pengakuan dan hak untuk tidak dijauhi dan tidak dianggap hina serta diperlakukan setara di dalam masyarakat, jelas saya sangat mendukung para homoseks untuk mendapatkannya. Bahkan saya rasa, itu wajib hukumnya, Tapi kalau untuk pernikahan, Jangan deh.

Alasan klise yang sering digunakan para kaum homoseks untuk bisa menikah legal adalah bahwa menikah itu bertujuan untuk mendapatkan kebahagiaan, dan jika seseorang menolak pernikahan sejenis, berarti ia termasuk membatasi kebahagiaan makhluk lain.

Tak salah memang, namun mereka lupa, bahwa menikah bukan semata perkara mencari bahagia. Pernikahan juga tentang bagaimana mendapatkan keturunan yang baik dari laku proses yang baik pula. Kalau cuma mau mencari bahagia, ndak usah menikah, cukup perbanyak piknik saja.

“Tapi kami saling cinta, dan cinta tanpa nikah itu siksa, kami harus nikah, ga peduli orientasi seksual kami, love has no gender”

Iya.. iya… tapi mbok ya ingat, masih ada pameo lenjeh lain yang harus kita pegang erat, yaitu “Cinta tak harus memiliki (baca: menikahi)”. Cinta dan nikah tak selalu menjadi dua entitas yang senantiasa berjalan beriringan.

Saya bisa dengan mudah mencintai Raisa, tapi sulit bagi saya untuk menikahinya.

Bukankah tingkatan cinta yang paling tinggi adalah saat kedua insan mampu mengorbankan perasaan masing-masing untuk kebaikan masing-masing pula?. Dan saya yakin, menjalani kehidupan sesuai kodrat seksual adalah juga merupakan salah satu kebaikan yang sebaik-baiknya.

Mungkin akan sangat berat menjalaninnya. Saya sendiri juga belum pernah merasakan bagaimana rasanya menjadi seorang gay. Alhamdulillah, sampai detik ini, saya masih merasa sebagai pria straight, (ndak tahu deh nanti sore gimana). Yah, setidaknya, saya masih cukup ngaceng lah kalau dikasih lihat belahan tetek dedek-dedek gemez. Jadi saya tidak tahu, bagaimana susahnya bagi seorang gay untuk bisa keluar dari lingkaran ke-homoseks-annya untuk kemudian menjalin kehidupan normal.

Tapi saya percaya, usaha, niat, dan kerja keras tak akan pernah mengkhianati. Tugas kita kan berusaha dan berdoa, soal hasil, itu urusan Tuhan. Dan lagipula, semakin besar cobaan seseorang, semakin mulia pula kedudukan yang akan ia dapatkan jika ia mampu melewatinya.

Untuk kawan-kawan homoseks, yakinlah. Perubahan adalah hal yang sangat mungkin.

Dan bagi kita yang saat ini sudah diberikan nikmat straight oleh Alloh SWT, mari kita mensyukuri nikmat straight ini dengan tidak menghujat kaum Homoseks.

Sebagai sesama manusia, kita punya kewajiban untuk memperlakukan para homoseks dengan perlakuan yang sebaik-baiknya. Kita juga punya kewajiban untuk mendampingi, memperingatkan, juga memberikan nasehat. Syukur-syukur kalau bisa memberikan solusi dan jalan keluar.

Tapi kaum homoseks sebaiknya juga harus sadar diri dalam bersikap, setidaknya, kalau dinasehati, ya minimal kooperatif lah, jangan malah ngeyel dan membalas dengan jawaban sengak “Lha elu belum ngrasain enaknya jadi homoseks siiiih!” atau “Kalau belum pernah jadi homoseks, jangan sok-sok-an ngasih nasehat deh!”

Karena sebaik-baik homoseks adalah ia yang menyadari bahwa dirinya salah dan di dalam hati kecilnya masih punya niatan untuk bisa berubah.

Kenangan yang tak Selalu Indah

| Monday, 22 June 2015 |



Kenangan akan sebuah tempat memang tak selalu berasal dari segala sesuatu yang indah-indah. Ada kalanya, saat kita berada di tempat yang baru, tempat yang teratur, dengan segala ritme kehidupan yang efisien, taktis, dan nyaman, kita justru rindu pada tempat lama, yang penuh dengan kesemrawutan dan seringkali membuat kita repot lagi tidak teratur.

Dalam salah satu tulisannya (kalau tidak salah, judulnya Sebuah Warung Kopi Di Lucky Plaza), Umar Kayam pernah menuliskan tentang kerinduannya akan Jogja, saat ia berada di Singapura. Dimana yang dirindukan oleh Umar Kayam saat itu justru bukan suasana yang hangat dari Jogja, atau keramahan orang-orangnya. Melainkan aroma khas dari bekas sampah yang baru saja disapu.

Seperti halnya kenangan, Kerinduan juga tak melulu tentang sesuatu yang indah-indah.

Maka jangan heran jika banyak laki-laki yang begitu meratapi perpisahannya dengan wanita yang sangat ia cintai, sungguhpun wanita tersebut adalah wanita yang doyan selingkuh dan sering sekali menyayat hati si laki-laki.

Alasanya satu: Mungkin Laki-laki memang selalu rindu untuk disakiti.

Tagline Iklan Televisi di Bulan Ramadhan

| Friday, 19 June 2015 |

Televisi jadul

Salah satu parameter euforia bulan Ramadhan yang paling kentara adalah iklan-iklan televisi yang mendadak jadi lebih Islami. Mendadak jadi lebih alim dengan aneka konsep khas bulan suci. Tapi itu wajar lah. Namanya juga strategi pasar.

Saya mengamati, Selama bulan ramadhan, banyak iklan-iklan produk di televisi yang berusaha memasukan unsur Ramadhan (atau minimal unsur islami) ke dalam materi iklannya. Hal ini bisa kita lihat dengan cukup jelas melalui tagline iklan yang ditampilkan.

Iklan salah satu produk pasta gigi, misalnya, selama bulan Ramadhan, iklan yang tayang biasanya menggunakan tagline berbasis bulan puasa, contohnya "Jaga kesegaran mulut selama ramadhan". Ada juga iklan minuman isotonik, yang kerap menggunakan tagline "Menjaga cairan tubuh selama berpuasa". Kemudian iklan salah satu minuman bersoda, yang tagline-nya "Segarkan Ramadhanmu". Atau yang paling mainstream, iklan minuman suplemen, dengan tagline andalannya "tetap kuat beraktivitas di bulan suci".

Beberapa iklan tadi saya anggap cukup berhasil, karena memang materi iklan dan produknya ndilalah sangat kontekstual dengan Bulan Ramadhan.

Namun tak selamanya iklan produk di televisi materinya relevan dengan nuansa Ramadhan, beberapa malah sering terlihat terlalu maksa karena mencoba memasukan nuansa ramadhan ke dalam materi iklannya.

Iklan salah satu produk tablet misalnya, tagline yang digunakan adalah "Serunya berkah ramadhan, makin besar dengan layar besar", ini jelas wagu, memangnya apa hubungannya berkah ramadhan dengan ukuran layar gadget? Oke, Memang sih, dengan layar gadget yang besar, sampeyan bisa melihat twitpic jadwal imsak dengan ukuran yang lebih besar pula. Tapi mbok ya please, itu bukan kontekstual namanya. Itu namanya... ah, sudahlah

Tapi itu pun masih mending, karena ternyata, masih ada iklan yang lebih maksa lagi, yaitu iklan pembalut. Tagline-nya "Tetap kering dan lincah di bulan Ramadhan". Hadeuuuh.

Untunglah selama ini saya belum pernah melihat ada iklan kondom berkonsep ramadhan, karena kalau sampai ada, mungkin tagline yang digunakan adalah "Bermain aman di bulan penuh berkah".

*terbit pertama kali di kolom Kompas Ramadhan

Tentang Saya

Saya Agus Mulyadi, biasa dipanggil Gus Mul (bukan lulusan pesantren seperti Gus Dur, Gus Muh, maupun Gus Mus. Gus Mul hanya akronim dari nama saya). Blogger dan Freelance Layouter. Kini berusia 23 tahun (sedang lucu-lucunya). Lahir di Magelang, hidup di Magelang, dan besar di-Dzolimi. Agak mrongos, humoris, cerewet, ceplas-ceplos, menyukai dangdut koplo, tidak terlalu bertanggung jawab. Aktif di Karang Taruna dan Komunitas Blogger Magelang Pendekar Tidar. Profil lebih lengkap, Lihat Disini
 
Copyright © 2010 Agus Mulyadi Blog , All rights reserved
Design by DZignine . Powered by Blogger