Warna Bunglon dan Hal Tak Penting Lainnya

| Sunday, 3 September 2017 |

"Seperti apakah warna bunglon jika berada di tempat yang penuh dengan cermin?"

Mak tratap saya membaca judul artikel tersebut. Bukan... bukan... bukan karena rasa penasaran saya akan warna si bunglon, tapi karena terfikir betapa selonya orang yang begitu niat dan berambisi mencari jawaban atas pertanyaan tidak penting tersebut.

Lama-lama, saya kok ya jadi merenung sendiri. Kadang dunia memang tidak selalu tentang perkara yang penting-penting. Ada kalanya, dunia juga membutuhkan apa saja yang sejatinya tidak terlalu penting.

Perenungan yang lumayan bermakna, karena setidaknya, kini saya jadi sedikit tahu, untuk apa Gusti Alloh menciptakan buku tulis halus, puting lelaki, politikus, dan klub sepakbola Liverpool.

Menjadi Pesakitan Gara-gara Masker

| Friday, 1 September 2017 |

Suatu saat, ketika sedang sekrol-sekrol temlen, iklan masker wajah itu mendadak muncul begitu saja. Iklannya sederhana namun menarik. Iklan yang tersiri dari video penggunaan masker beserta visual betapa ampuhnya ia untuk mengangkat komedo dan sel kulit mati pada wajah.

Sebagai sosok yang merasa punya hubungan kurang baik dengan komedo, saya memutuskan untuk membuka lebih lanjut link di iklan masker tersebut dan kemudian membelinya.

Saya membeli satu box, isi 10 sachet. Di websitenya, harganya 160 ribu, tapi saya dapat diskon, sehingga hanya perlu bayar 125 ribu. Ditambah ongkir 15 ribu, total jadinya 140 ribu.

Nama maskernya Hanasui Naturgo, kemasan box-nya berwarna orange, dengan warna sachet ala-ala merah tembaga dengan gambar wajah seorang wanita memakai handuk di kepala dengan masker hitam yang menutup sebagian wajahnya.



Nah, malam tadi, ketika saya pulang ke Magelang, saya membawa masker ini dan menunjukkannya kepada adik saya.

Bajangkrek setan alas, sama adik saya, saya malah ditertawakan dan digoblok-goblokkan. Lha gimana nggak goblok, ternyata adik saya sendiri juga jualan masker ini, produk dan mereknya sama persis. Dan sampeyan tahu harganya berapa? 20 ribu satu box.

Duh Gusti, dalam berbagai urusan, di dalam keluarga, saya hampir selalu diposisikan sebagai kakak yang unggul dan paham akan banyak hal. Namun untuk urusan masker, saya mendadak berubah jadi pesakitan. "Keluasan ilmu" saya seolah tak ada artinya lagi.

Sonteeeeeee

Untung dan Buntung Bervakansi ke Bali: Dari Tiket Gratisan Sampai Salah Jalur di Tol Laut

| Wednesday, 30 August 2017 |

SAYA tak pernah menyangka jika di bulan ini, saya bisa piknik dan agustusan di Bali. Lha gimana nggak? Agustus selalu menjadi bulan yang sibuk bagi saya. Dari mulai acara lomba tujuh-belasan (yang mana saya sering disuruh jadi panitia) sampai acara perayaan ulang tahun Mojok –media tempat saya bekerja– yang tahun dihelat dengan kesibukan yang luar biasa karena dibarengkan dengan acara jambore pembaca Mojok. Yah, mungkin saya dan pulau Bali memang sedang berjodoh.

Rencana piknik ke Bali ini sebenarnya sudah lumayan lama saya rencanakan, maklum, sudah lama saya pengin banget bisa piknik sendiri ke Bali, piknik yang benar-benar bebas dan sendiri, bukan piknik rombongan yang biasanya waktu dan obyek wisata yang dikunjungi harus dibatasi. Nah, ndilalah, kesempatan bervakansi ke Bali ini baru kesampaian di bulan Agustus ini.


Salah satu sudut keindahan di pulau Bali

Vakansi saya ke Bali kali ini adalah yang keempat kalinya. Yang pertama dan yang kedua masing-masing waktu study tour SMP dan SMA, sedangkan yang ketiga kalinya waktu saya transit di Bali selama setengah hari dalam perjalanan dari Lombok ke Jogja yang kemudian dipakai untuk dolan sejenak ke Ubud.

Nah, berbeda dengan kunjungan saya yang pertama dan kedua yang piknik demi membikin karya tulis sebagai syarat untuk ikut ujian nasional (Bah, betapa menyedihkannya dunia pendidikan kita, bahkan saat sedang piknik pun, pelajar masih harus tetap mikir dunia akademik), piknik saya kali ini murni buat refreshing, nggak mikir karya tulis. Lha saya ini sudah lama banget nggak piknik, je.

Liburan edisi Agustusan di Bali kali ini saya tidak menghabiskan banyak duit, murni hanya ongkos hotel dan jalan-jalan, sebab biaya terbang ke Balinya saya pakai Loyalty Points. Buat yang belum tahu, Loyalty points adalah poin yang didapat oleh pengguna (atau member bahasa kerennya) Traveloka App setiap mereka memesan hotel atau membeli tiket pesawat di aplikasi itu. Nah, poin ini nantinya bisa ditukar dengan tiket pesawat atau pemesanan hotel (Yah, semacam Go-points kalau di Gojek). Ndilalah, jumlah Traveloka Poin yang saya punya cukup buat ditukar tiket pesawat PP ke Bali gratis. Lumayan, pengiritan. Citra saya sebagai pribadi yang hemat, cermat, dan bersahaja kian terjaga.


Poin hanya bisa ditukar dengan tiket pesawat dan hotel, bukan dengan pahala

Saya berangkat tanggal 16 Agustus, alias satu hari menjelang peringatan hari kemerdekaan Indonesia, dan baru pulang tanggal 20 Agustus, alias empat hari setelahnya.

Sebenarnya agak berat juga saya berangkat, sebab di kampung saya, setiap tanggal 17 Agustus, selalu dihelat karnaval kampung yang selalu saja ramai dan seru. Apalagi tahun ini, bapak, emak, dan dua adik saya full ikut tampil dan macak ngedan. Bapak macak jadi suster, emak macak jadi siswa SD Inpres, adik saya masing-masing macak jadi zombie pemangsa bayi dan lutung hitam putih alias lutung yin yang.


Padahal saya penginnya bapak macak jadi Pattimura dan emak jadi Cut Nyak Dien

Yah, ya mau bagaimana lagi, soalnya tanggal yang memungkinkan bagi saya untuk mengajukan libur ya tinggal pas tanggal-tanggal itu, sebab pekan berikutnya, saya dan kawan-kawan sudah harus sibuk mempersiapkan acara Jambore pembaca Mojok.

* * *

DULU waktu jaman piknik SMP dan SMA, saya merasa sangat tidak puas karena hanya diberi waktu tiga jam untuk menikmati pantai kuta. Padahal ini spot yang sangat-sangat menyenangkan. Pantai pasir putih yang indah, tingkat kelandaian pantai yang pas, ombak yang sempurna, pemandangan turis-turis berbikini, serta sunsetnya yang terkenal romantis membuat ia serasa begitu istimewa. Nggak heran kalau dulu mas Andre Hehanusa bikin lagu romantis menggunakan latar pantai Kuta.


Sudah boleh jadi "cah senja" belum inih?

Nah, ketidakpuasan semasa SMP dan SMA tadi membuat saya memutuskan untuk menginap di hotel di sekitar pantai kuta. Saya menginap di dua hotel yang berbeda. Dua malam pertama menginap di Hotel Amaris di jalan Lebak Bene, sedangkan satu malam terakhir saya menginap di Sandat Hotel Kuta yang jaraknya hanya sepelemparan batu dari Monumen Bom Bali.

Menginap di hotel di sekitaran pantai kuta sungguh sebuah pilihan yang sangat tepat, karena saat itu, di pantai kuta, sedang berlangsung festival Kuta Sea Sand Land, festival pantai yang dihelat atas kerjasama desa adat setempat untuk memperingati hari kemerdekaan Indonesia.


"Ngopo mecicil? rung tau weruh cah bagus po? mangkane piknik!"

Selama festival tersebut berlangsung, ada panggung hiburan yang menghadirkan banyak penampil, mulai dari live music, DJ, sampai aneka pertunjukkan tari.


Menikmati musik disko sambil lesehan, kenikmatan yang haqiqi


Mas DJ sedang memanaskan lantai dansa 


Aduh maaaas, badan sendiri kok ditusuk-tusuk begitu lho, situ sadomasokis yha?

Tak hanya itu, berbagai stand kuliner dan pakaian pun ikut meramaikan festival. Pantai kuta malam hari yang biasanya syahdu menjadi lebih meriah dan semarak.

Selama di Bali ini, saya menyewa motor buat keperluan kesana-kemari, maklum, di Bali ini, apalagi di sekitaran Kuta, susah buat order Gojek atau Gocar, angkutan yang memungkinkan paling-paling ya taksi, yang tentu saja tidak ramah kantong jika harus berkali-kali, karenanya pilihan yang paling memungkinkan adalah menyewa motor yang hanya 50 ribu per hari.

* * *

SEBELUM tanggal 16 Agustus 1945, istri Bung Karno, Ibu Fatmawati sebenarnya sudah membuat bendera merah putih. Namun Bu Fatma merasa tidak puas dengan bendera tersebut, sebab dianggap terlalu kecil, panjangnya hanya 50 cm. Itulah sebabnya Ibu Fatwamati kemudian menjahit bendera baru yang lebih besar.

Bendera yang lebih besar ini warna putihnya diambil dari kain sprei yang ndilalah berwarna putih, sedangkan warna merahnya dicarikan oleh seorang pemuda bernama Lukas Kastaryo yang pada akhirnya didapat dari kain tenda sebuah warung soto (Versi lain mengatakan kain bendera pusaka didapat dari seorang perwira Jepang bernama Hitoshi Shimizu).

Ketidakpuasan seorang Fatmawati pada ukuran bendera yang kecil ini agaknya menurun kepada orang-orang Bali.

Di Bali, saat momen Agustusan, saya hampir selalu menemukan bendera merah putih berukuran raksasa berkibar di tepian jalan. Tak main-main, ukurannya bisa mencapai 3-6 meter dengan tiang yang terbuat dari bambu.


Bendera merah putih yang gedhe magreng-magreng

Saking besarnya ukuran bendera, tak sedikit tiang bambu yang sampai doyong dan terlihat seperti ingin memberontak seba tak kuat menahan beban yang begitu berat. Yah, nasionalisme memang tak pernah ringan, bung.


Sampai doyong, bung...


Bendera merah putih satu meter? Hahaha, lemah.

Entah mengapa, tiap kali melihat bendera-bendera raksasa itu berkibar, saya melihat betapa besarnya rasa bangga orang-orang Bali akan bendera pusakanya.

Barangkali memang bukan kebetulan, jika darah Bali mengalir deras di urat nadi sang proklamator kita.

* * *

HIDUP manusia memanglah ladangnya sawang-sinawang. Menunggu untuk saling bergantian mendapatkan jatah kesalahan.

Seminggu yang lalu, saya yang selalu menahbiskan diri sebagai pengemudi yang taat aturan, berhenti saat lampu merah, dan tak pernah nglakson kalau tidak benar-benar diperlukan akhirnya merasakan juga bagaimana rasanya menjadi pengemudi yang ngawur dan sembrono dengan melaju di jalan tol dengan motor. Bukan jalan tol biasa, namun jalan tol Bali Mandara yang ada di tengah laut itu.

Saya dari Denpasar dan ingin ke Garuda Wisnu Kencana. Saya melaju dari jalan bypass Ngurah Rai, dan entah bagaimana ceritanya, ada sedikit miskomunikasi antara saya dengan google maps yang membuat saya salah berbelok dan memasuki jalan satu arah yang menuju gerbang tol Bali Mandara.

Lha sudah kadung masuk, mau bagaimana lagi. Saya lantas masuk melalui gerbang khusus motor.

Saya sadar sudah salah arah, karenanya, saya pun terus saja melaju dan berusaha mencari jalur putar balik yang ternyata lumayan jauh, mungkin sekitar dua atau tiga kilo, saya tak ingat.

Setelah memutar di jalur putar balik, saya langsung melaju ke arah gerbang tol tempat tadi saya masuk.

Belum terlalu lama, dari belakang, tiba-tiba saya diklakson sama mobil box, kernet mobil tersebut melongokkan kepala dan berteriak ke arah saya. Teriakannya kencang, namun angin di atas laut agaknya jauh lebih kencang, sehingga teriakan si kernet tak bisa saya dengar dengan jelas.

Saya mulai takut. Apa yang salah dengan saya sampai saya diteriaki oleh kernet mobil box. Ketakutan saya mulai terjawab saat saya melihat sekeliling dan ternyata sama sekali tak ada motor. Masya Alloh, ini jalur mobil. Modiar.

Saya mulai ndredeg tak karuan. Dan bajangkrek setan alas, sudahlah salah masuk jalur, kok ya ndilalah saya baru ingat kalau motor sewaan yang saya pakai saat itu saya lupa mintakan STNK-nya. Wah, modiar kuadrat.


Tangguh dan bisa diandalkan walau hanya motor sewaan 

Sudah kepalang basah, ya sudah, beranikan diri saja sekalian untuk nyebur. Saya menekatkan diri untuk terus melaju. Persetan, mau ditangkap polisi ya monggo, mau dihukum denda ya silakan. Apapun bakal saya terima resikonya. Lha mau bagaimana lagi?

Begitu sampai di gerbang tol, beberapa petugas langsung mendekati saya. Saya langsung bilang dengan jujur, "Maaf pak, saya salah jalur."

Untung sungguh untung. Pak petugas agaknya melas sama wajah saya. Dia sama sekali tidak menangkap, menilang, atau menghukum saya.

"Lain kali hati-hati, Mas." katanya sembari membukakan portal yang menghubungkan jalur mobil dengan jalur motor.

Saya lantas keluar dengan tol dengan ayem dan lega.

Sepanjang perjalanan, saya kecut dan senyum-senyum sendiri membayangkan wolak-waliking cerita, sebab beberapa waktu yang lalu, saya sempat tertawa terbahak-bahak tatkala melihat video emak-emak mengendarai motor matic dan menerobos jalan tol dengan sangat santainya. Dalam hati, saya membatin, Ya Tuhan, betapa ngawur dan sembrononya ini emak-emak.

Jalan takdir toh kemudian membalik cerita dengan seenaknya. Saya sendiri akhirnya diberi pengalaman merasakan bagaimana rasanya menjadi emak-emak yang melaju di atas tol dengan motor. Bedanya, emak-emak tadi menerobos tol karena keberanian, sedangkan saya karena ketololan dan kebodohan.

Ya Tuhan, Saya bersyukur, sebab si kernet mobil box hanya meneriaki saya, bukannya merekam saya saat melaju di atas tol dan kemudian menguploadnya di facebook seperti video emak-emak yang saya tonton beberapa waktu yang lalu. Sebab kalau sampai begitu, mungkin saya sudah jadi bulan-bulanan orang-orang di seluruh Indonesia sembari menjadi sasaran umpatan dari netizen Indonesia yang terkenal buas dan brutal itu. "Woooo, pemotor guuoblooooook!"

Aduuuuh, Mau ditaruh di mana muka saya?

Beruntung saya bisa sampai dengan selamat di Garuda Wisnu Kencana, keindahan tempat wisata berisi patung Dewa Wisnu dan burung garudanya ini sungguh sebuah harga yang layak ditebus dengan adegan salah jalur di jalan tol laut yang bikin dada glagapan ketar-ketir itu.

Di kompleks Taman Budaya Garuda Wisnu Kencana ini, Patung Dewa Wisnu masih belum berubah sejak saya terakhir datang kelas dua SMA. Tangannya masih buntung, begitupun dengan Garudanya. nah, yang membedakan dengan Taman Budaya Garuda Wisnu Kencana yang dulu adalah kini dibangun Amphitheatre dan bioskop mini di mana pengunjung bisa menikmati pertunjukkan tari barong dan pemutaran film Garuda Cilik.


Nonton tari Barong lagi, kali ini di teater di GWK


Sama-sama serong ke kiri, biar kompak sama garudanya

Selain itu, di bagian halaman di depan patung garuda sekarang ada penyewaan segway-nya. Pengin sih sebenarnya cobain nyewa segway, tapi harganya itu lho, lebih mahal ketimbang tiket masuknya. Yah, mending buat beli beras sama gula.

* * *

Dua tahun lalu, dalam perjalanan transit dari Lombok ke Jogja, saya sempat transit beberapa jam di Bali dan nglegakke buat dolan ke Ubud. Ke mana lagi kalau bukan ke Tegalalang rice terraces alias sawah terasering Tegalalang yang kesohor karena jadi tempat peplayon-nya mbak Julia Roberts di film Eat Pray Love itu.


Jika dunia adalah pertanyaan, maka kopi adalah jawaban. 

Nah, di kunjungan saya kali ini, saya kembali mengunjungi sawah terasering Tegalalang, bedanya, kali ini saya motoran dari tempat saya menginap di kuta sampai ke Ubud. Sungguh, ini pengalaman yang cukup mendebarkan.

Motoran di tempat yang asing dan belum kita kenal, hanya mengandalkan Google maps, dan dengan menggunakan motor sewaan yang saya lupa mintakan STNK-nya. Beruntung, sepanjang perjalanan, blas nggak ada cegatan atau ditilang polisi karena nglanggar lalu lintas.


Jaman dulu, sawah itu tempat kerja, sekarang jadi tempat piknik

Di sawah terasering Tegalalang, pemandangannya masih tetap sama, tetap indah dan tetap instagramable. Saya tak tahu apa saja perubahan yang sudah terjadi sejak terakhir kali saya berkunjung dua tahun lalu. Tapi yang jelas, kedai kopi tempat dulu saya mampir sekarang sudah bukan hanya jual kopi, tapi juga jual es krim gelato.

Yah, begitulah. Dunia memang cepat berubah.

Tentang Saya

Saya Agus Mulyadi, biasa dipanggil Gus Mul (bukan lulusan pesantren seperti Gus Dur, Gus Muh, maupun Gus Mus. Gus Mul hanya akronim dari nama saya). Blogger dan Freelance Layouter. Kini berusia 24 tahun. Aktif di Karang Taruna dan Komunitas Blogger Magelang Pendekar Tidar. Profil lebih lengkap, Lihat Disini

Tambahkan saya di Google+

 
Copyright © 2010 Agus Mulyadi Blog , All rights reserved
Design by DZignine . Powered by Blogger