Video Call Wasap

| Tuesday, 25 April 2017 |

Ponsel saya berdering agak keras, rupanya ada panggilan video call wasap yang masuk, tentu saja dari dia yang terkasih.

Saya menerimanya dengan wajah sumringah, sedikit memastikan tampang saya tidak berantakan sebelum berhadapan dengan wajahnya di ujung jauh sana. Kami memang terbiasa ber-video call jika satu dari kami berada di luar kota.

Kami ngobrol agak lama, walaupun sepanjang obrolan, yang kami bicarakan hanya basa-basi semata. Bahkan sesekali kami diam dan sama sekali tak bicara. Hanya saling menatap satu sama lain sambil senyam-senyum sendiri. Toh itu sudah cukup menyenangkan bagi kami.

Hingga kemudian, setelah lima belas menit berlalu, panggilan video call kami tiba-tiba berhenti.

Ia lantas mengirimkan pesan text di wasap.

“Mas, maaf, kuotaku mau habis, gantian mas yang nelpon video call, ya?”

Saya langsung diam. Semacam gabungan antara dongkol dan geli.

Saya hanya membatin: perempuan ini goblok apa gimana, sih? Lha ini kan video call wasap, yang nelpon sama yang ditelpon kan sama-sama kesedot kuotanya.

Duh Gustiiii, padahal selama ini saya membangga-banggakan dia oleh sebab kecerdasan dan kekritisannya.

Ah, tapi ya mau bagaimana lagi, namanya juga cinta.

Suguhan Snack Sentimentil

| Sunday, 16 April 2017 |

Kalau sampeyan mengikuti tulisan-tulisan di blog ini, sampeyan mungkin masih ingat tentang postingan di mana saya membahas tentang snack-snack favorit saya. Ya, setahun yang lalu, saya memang pernah menulis di blog ini tentang tujuh snack favorit saya.

Nah, jujur, Saya sudah hampir lupa sama postingan ini, hingga akhirnya, beberapa waktu yang lalu, sewaktu saya diundang jadi narasumber talkshow penulisan di MAN 1 Surakarta, panitia menyajikan tujuh snack ini untuk saya.



Tentu ini menjadi momen yang begitu trenyuh bagi saya. Lha betapa tidak, berkali-kali saya diundang menjadi pemateri dan pembicara, namun baru kali ini saya disuguh sama snack yang benar-benar saya suka. Snack yang benar-benar sengaja dicarikan sedemikian rupa oleh panitia untuk saya.



Sungguh, kalau bukan karena banyak orang, mungkin saya sudah nangis mimbik-mimbik saking terharunya.

Duuh gusti, perkara snack kok bisa jadi sentimentil begini sih...

Wahai Tetangga Pemilik Pohon Rambutan

| Tuesday, 21 March 2017 |



Jujur, semasa saya kecil, saya hampir tak pernah membeli rambutan. Kalaupun saya makan rambutan, itu biasanya karena dikasih atau dapet metik dari pohon tetangga yang dengan sukarela rambutannya dipetiki anak-anak kiri-kanan rumah, atau pohon "tak bertuan" di pinggir kali dekat perumahan akademi militer.

Sekira dua atau tiga minggu yang lalu, saat perjalanan dari Magelang ke Jogja, saya mendadak berhenti di pinggir jalan, tertarik dengan display rambutan yang nampak begitu hijau kekuningan, ranum, dan juga sintal yang dijajakan pedagang di tepi jalan di sekitaran jalan Blondo.

Saya berniat membeli barang sekilo dua kilo. Yah, hitung-hitung buat oleh-oleh kawan atau pacar di Jogja (uhuk).

Saya tanya harga satu kilonya.

“Dua lima satu kilo, mas,” jawab bapak penjualnya.

Deg, saya kaget tratapan, harga rambutan satu kilo yang mungkin hanya satu dompol itu ternyata mahal juga.

“Wah, lha kok mahal je pak, nggak bisa kurang?” tawar saya. Entah kenapa, dalam situasi begini, jiwa nyang-nyangan saya kok mendadak keluar.

“Wah, nggak bisa, mas. Ini rambutannya baru soalnya, kalau mau yang murah, ini yang sudah agak alum, sekilo 12 ribu juga boleh,” katanya sambil menunjukkan setumpuk rambutan di keranjang yang lain yang tampilannya sungguh tiada menyelerakan sebab sudah tidak segar lagi.

Duh gusti, kalau ingat momen-momen itu, saya jadi membayangkan, betapa baiknya tetangga-tetangga saya yang punya pohon rambutan dan rela rambutannya dipetiki oleh anak-anak tetangga di lingkungannya. Lha betapa tidak, sekali petik, biasanya bisa sampai 3-4 dompol, alias bisa sampai 3-4 kilo. Yang kalau dirupiahkan dengan parameter harga rambutan tadi, maka itu artinya rambutan senilai 75-100 ribu.

Ingin sekali rasanya saya pulang ke Magelang, lalu mencium tangan tetangga saya, sembari berterima kasih atas berpuluh-puluh kilo rambutan yang sudah mereka relakan untuk saya dan kawan-kawan saya petik.

Tapi... Ah, kapan-kapan aja ah. Mereka juga udah ikhlas ini...

Tentang Saya

Saya Agus Mulyadi, biasa dipanggil Gus Mul (bukan lulusan pesantren seperti Gus Dur, Gus Muh, maupun Gus Mus. Gus Mul hanya akronim dari nama saya). Blogger dan Freelance Layouter. Kini berusia 24 tahun. Aktif di Karang Taruna dan Komunitas Blogger Magelang Pendekar Tidar. Profil lebih lengkap, Lihat Disini

Tambahkan saya di Google+

 
Copyright © 2010 Agus Mulyadi Blog , All rights reserved
Design by DZignine . Powered by Blogger