Love-Hate Relationship ala Pramuka

| Wednesday, 14 August 2019 |

Saya punya semacam love-hate relationships dengan Pramuka. Sejak kecil, saya sudah sangat menyukai Pramuka. Maklum saja, sejak kecil, saya sudah sering teracuni dengan sindrom petualangan: menjelajah, berburu harta karun, menaklukkan tantangan, tidur di alam liar, dan sebangsanya. Dan Pramuka, adalah entitas yang, setidaknya bagi saya yang masih kecil, sangat masuk akal untuk memenuhi hasrat petualangan.

Ketika SD, walau tak sesuai-sesuai amat dengan bayangan saya akan konsep petualangan, namun setidaknya, Pramuka toh berhasil membuat saya bahagia.

Pramuka membuat saya akhirnya bisa merasakan berkemah, ikut pesta siaga, dan yang paling penting, bisa membuat saya petantang-petenteng dengan seragam dilengkapi tali dan belati (yang tentu saja tidak tajam, sebab keberadaannya memang lebih bersifat hiasan pelengkap semata alih-alih sebagai alat pemotong). Bagi saya itu memang sangat keren dan sangat militeristik.

Oke, saya paham bahwa militerisme jaman sekarang sangat tidak keren dan tidak wuks, bahkan bagi beberapa orang cenderung menyebalkan. Tapi percayalah, dulu, bagi saya yang rumahnya berada di seberang kompleks akademi militer, melihat tentara dengan belati tergantung di ikat pinggang memang tampak sangat macho dan jagoan. Ayolah, Rambo yang pakai belati itu jauh lebih sangar ketimbang Inspektur Vijay yang pakai pistol.

Namun saat masuk SMP, Pramuka yang dulu saya kenal sebagai kegiatan yang menyenangkan dan penuh petualangan perlahan menjadi tidak lagi menyenangkan.

Senioritas dalam hierarki kepramukaan membuat segala kesenangan berubah. Dulu saat SD kita diasuh oleh kakak pembina yang tak lain dan tak bukan adalah guru kita sendiri. Sedangkan saat SMP, kita diurus oleh kakak kelas yang mentang-mentang lebih senior menjadi sangat menyebalkan. Mereka seperti gagap kekuasaan.

Saat masuk SMA, Pramuka menjadi semakin menyebalkan. Saya yang dulu sangat menyukai pramuka, dengan segala yang menyertainya (termasuk tali dan belatinya yang tidak tajam itu), kini menjadi sangat benci.

Kelak, perjalanan hidup saya kemudian justru mempertemukan saya dengan orang-orang yang ternyata tumbuh dengan baik salah satunya karena Pramuka.

Sebagai penulis, saya tak menyangka jika ada banyak penulis berbakat yang dulu adalah anak-anak Pramuka.

Saya merasa antara penulis dan pramuka kerap punya keterikatan. Saya pikir memang ada sehimpun syaraf di tangan yang membuat seseorang yang ahli tali-temali juga piawai dalam tulis-menulis.

Contoh yang saya pakai tentu saja adalah Puthut EA.

Banyak yang tak tahu, kalau Puthut EA yang penulis dan cerpenis jempolan itu dulunya merupakan pramuka pilih tanding. Seingat saya, ia bahkan sampai pernah ditunjuk untuk mewakili Rembang dalam sebuah ajang pramuka nasional (atau malah internasional? Saya agak lupa).

Itulah kenapa, kalau soal Pramuka, Puthut EA sangat otoritatif. Bahkan kalau kita perhatikan dengan teliti, setiap kedipan mata Puthut EA adalah serupa sandi morse yang memberontak untuk dipecahkan.

Penulis lain yang juga layak untuk dijadikan contoh adalah Pak Bondan Winarno almarhum. Penulis handal yang oleh banyak orang lebih dikenal sebagai ahli kuliner itu ternyata adalah anak Pramuka jempolan.

Saking jempolannya, Pak Bondan yang Maknyus itu bahkan pernah memimpin penggalang Indonesia dalam ajang Jambore Pramuka Dunia di Amerika Serikat tahun 1967.

Contoh lain adalah Yusi Avianto Pareanom. Penulis yang novel terbarunya membuat saya tak henti-hentinya terkagum-kagum itu belakangan saya ketahui pernah menjadi Siaga terbaik se-Jawa Tengah. Tak heran, sebab jika diamati lekat-lekat, di balik tampang Paman Yusi yang tua namun ceria itu, memang tersirat kehidupan masa muda yang keras, masa muda yang penuh halang-rintang, masa muda yang hemat, cermat, dan bersahaja.

Nah, yang paling sahih dan dekat tentu saja adalah calon istri saya sendiri, Kalis Mardiasih. Penulis yang selalu membuat saya terkagum-kagum itu ternyata adalah seorang pramuka teladan. Saat SMA, ia bahkan menjabat sebagai ketua Pradana putri. Lebih dari itu, tulisan pertama dia yang tembus di koran (saat itu Solopos) juga adalah tulisan tentang reformasi Pramuka.

Singkat kata, sebagai penulis, saya punya semacam hubungan emosional yang, walau nggak dekat-dekat amat, cukup berkesan dengan Pramuka.

Namun, seperti yang sudah saya tulis di atas, saya memang merasakan bahwa pada titik tertentu, Pramuka menjadi hal yang sangat menyebalkan.

Salah satu episode yang membuat saya begitu meyakini hal tersebut adalah sebuah kejadian yang terjadi saat saya kelas 1 SMA.

Saat itu, saya ditanya oleh Bantara, “Dek, kamu cinta sama tanah air nggak?”

Tentu saja saya jawab, “Cinta, Kak!”

Eh, bedebah, setelah saya jawab begitu, Si Bantara tidak tahu diuntung itu kemudian menyuruh saya untuk berbaring di tanah, “Kalau memang cinta, sekarang cium tanahnya!” Ujarnya sambil membentak.

Bangsat. Pramuka kok jadi goblok begini.

Belakangan saya agak merasa bersyukur, sebab apa yang saya alami ternyata masih belum ada apa-apanya ketimbang kawan saya. Amalia namanya.

Suatu ketika, ia pernah ditanya oleh Bantara, “Dasa Dharma pramuka yg kelima apa?”

Ia kemudian menjawab “Rela menolong dan tabah, kak.”

“Kalau begitu, kamu mau nggak nolongin kakak?”

“Siap, mau, Kak!”

“Petik bunga itu”, pinta sang Bantara sembari menunjuk bunga.

Kawan saya kemudian memetiknya, ia lantas memberikannya kepada Si Bantara, “Ini, kak.”

Bukannya berterima kasih, Si Bantara justru mengajukan pertanyaan lain. “Kamu tahu Dasa Hharma kedua?”

“Tahu, Kak. Cinta alam dan kasih sayang sesama manusia.”

“Terus kenapa kamu petik bunganya?”

Modiaaaaaaaar.

Memanaskan Mesin

| Sunday, 16 June 2019 |

Nyali itu seperti mesin, perlu dipanaskan. Dan hari ini, saya dengan ditemani keluarga dan kerabat mencoba memanaskan mesin itu. Melamar Kalis, gadis yang paling piawai menjaga perasaan saya. Datang memintanya untuk menjadi istri saya, walau tentu saja, dengan mental yang tidak prima-prima amat.

Puji Tuhan, lamaran saya diterima.

Keluarga saya punya semacam tradisi penamaan yang aneh. Bapak saya namanya Mulgiyanto, tapi ia dipanggil “Trimo” sebab saat remaja, ia harus menerima keadaan ditinggal mati bapaknya. Ibu saya tak jauh beda, namanya Isrowiyah, namun di kampung kelahirannya, ia dipanggil “Urip” karena selamat setelah hampir tewas tenggelam di kolam saat kecil.

Saya, Agus Mulyadi, tentu saja tak perlu mendapat panggilan “Untung”, namun yang jelas, hari ini, saya yakin, saya memang lelaki yang beruntung. Lelaki yang ketiban ndaru.

Saya jadi ingat momen awal tahun, ketika saya masih takut-takut untuk main ke rumah Kalis. Apalagi di sana, bapaknya sempat bercerita tentang masa lalunya sebagai seorang jagoan.

“Waktu muda dulu, saya ini pernah ikut tarung bebas, Dik. Full body contact,” ujarnya dengan nada bicara yang sangat berat. “Kalau sekarang ya kaya MMA lah...” kata bapaknya Kalis.

Saya mantuk-mantuk. Mendengarkan ceritanya dengan penuh takzim.

“Tahun 85, atau 86, saya agak lupa. Saya bahkan sempat lolos dalam salah satu kejuaraan nasional di GOR Siliwangi, Bandung.”

Saya melirik sebentar. Dari jarak dekat, terlihat lengannya yang tampak masih menyisakan tanda-tanda lengan seorang petarung. Saya menelan ludah. Mental saya menipis dengan sendirinya.

Apa pun yang ia katakan tentang pengalaman masa mudanya itu di telinga saya terdengar seperti sebuah peringatan: “Berani macem-macem sama putriku, tak timplik cengelmu!”

Dan alhamdulillah, jagoan yang sempat membuat saya sangat jiper itu hari ini menyambut saya sekeluarga dengan sangat ramah. Bersuka-cita mengizinkan saya untuk meminta putri tercintanya sebagai istri saya.

Hari ini, saya terpaksa menyanyikan salah satu lagu Didi Kempot yang blas nggak ada unsur patah hatinya: “Plong rasane njero dadaku, rasane mak plong lego atiku.”

























Puja-Puji untuk Lord Didi Kempot

| Monday, 10 June 2019 |

Di dunia ini, tidak ada yang bisa menandingi Didi Kempot. Tidak Robbie Williams, tidak Frank Sinatra, tidak pula Nat King Cole, semuanya tak bisa. Sebab Didi Kempot adalah semesta yang lain.

Ia lelaki luar biasa yang oleh banyak orang dijuluki sebagai “God Father of broken heart”, bapak patah hati. Julukan yang tentu saja sangat kurang tepat, sebab Didi kempot adalah broken heart itu sendiri.

Didi Kempot, pada titik tertentu, ia jauh lebih besar dari Jokowi.

Saya bertemu langsung dengan dia pertama kali enam tahun lalu di Hotel Sahid Jaya. Saat itu, dia keluar dari bar hotel, sementara saya sedang duduk di lobi. Melihatnya, tak butuh waktu lama bagi saya untuk segera menghampirinya dan meminta berfoto bersamanya.

Dia berjalan pelan. Sangat anggun namun tetap gagah. Dari jarak yang sangat dekat, aura patah hati terasa sekali. Mungkin di dunia ini, hanya Didi Kempot, yang mampu membuat seseorang patah hati bahkan tanpa perlu jatuh cinta lebih dahulu.



Saat bertemu dengan saya, ia memakai kaos bertuliskan huruf LE. Ini bukan huruf biasa, melainkan dua huruf awal dan akhir dari kata LOVE. Ada semiotika di sana. Bahwa cinta itu soal mengawali dan mengakhiri. Sedangkan perjalanannya, adalah petualangan yang penuh misteri. LE bisa menjadi LIVE, hidup. Bisa pula menjadi LOSE, kehilangan.

Didi Kempot bukan semata penyanyi. Ia adalah dimensi waktu. Maka tak berlebihan jika kemudian ada istilah “Waktu Indonesia bagian kembang tebu sing kabur kanginan.”

Katon Bagaskara boleh saja membuat Jogja menjadi tempat yang melemparkan ingatan masa lalunya, atau John Denver membikin West Virginia-nya sebagai labirin nostalgianya. Namun Didi Kempot, baginya kenangan bisa tercecer di mana saja. Di Stasiun Balapan, di Terminal Tirtonadi, di Terminal Kertonegoro, di Pantai Klayar, di Tanjung Mas, di Gunung Purba Nglanggeran, di Parang Tritis. Semuanya adalah lumbung-lumbung kenangan.

Ia penyanyi yang mampu menembus sekat-sekat ketidakmungkinan. “Sewu kuto, uwis tak liwati,” ujarnya dalam lagunya. Padahal jumlah kota dan kabupaten di Indonesia hanya 415. Artinya, ia menembus batas negara untuk mengejar cinta sucinya. Tak banyak yang sanggup berjuang dengan perjuangan yang lebih sakit dari pada dia.

Perjuangan yang ketika ia yakin ia tak bisa memenangkannya, ia merelakannya, dengan ikhlas. “Umpamane kowe uwis mulyo, lilo aku lilo.”

Cobalah kau sesekali menonton konsernya. Konser yang akan terasa sangat aneh, sebab tak ada air mata yang menetes, namun kepedihan terasa mengalir deras sekali.

Pada akhirnya, kita semua memang harus mengakui. Dia bukan seorang penyanyi. Kita salah besar. Sebab, dialah nyanyian itu sendiri.

Semua ibu melahirkan anak, tapi tidak dengan ibunya Didi Kempot, ia melahirkan legenda.

Hanya di tangan Didi Kempot-lah, negara seperti Swiss yang kuat meski tanpa tentara itu bisa luluh menjadi pesakitan.

*Swiss sakmestine, ati iki nelongso.

Tentang Saya

Saya Agus Mulyadi, biasa dipanggil Gus Mul (bukan lulusan pesantren seperti Gus Dur, Gus Muh, maupun Gus Mus. Gus Mul hanya akronim dari nama saya). Blogger dan Freelance Layouter. Kini berusia 24 tahun. Aktif di Karang Taruna dan Komunitas Blogger Magelang Pendekar Tidar. Profil lebih lengkap, Lihat Disini
 
Copyright © 2010 Agus Mulyadi Blog , All rights reserved
Design by DZignine . Powered by Blogger