Alangan Ndasmu Sempal Kuwi

| Wednesday, 9 August 2017 |

Ndelok video kecelakaan wong ngebut buanter ugal-ugalan nabrak mobil. Njuk ono sing komentar “wis, rasah nyalah-nyalahke sing kecelakaan, jenenge we alangan”

Rasane atiku kok yo ngguonduk...

Ha Alangan ndasmu sempal kuwi. Ngene lho nde... Sing jenenge alangan ki nek sing kecelakaan wis berusaha tertib, berusaha patuh, nganggo helm, le mlaku alon-alon ngati-ati, ora banter. Tapi ndilalah tep iseh ketemu kecelakaan, mbuh le keblender pasir po kejeglong dalan.

Lha nek sing kecelakaan kuwi seko awal wis ngebut ugal-ugalan, rumongso dalan raya kuwi sirkuit sentul, kuwi jenenge hudu alangan. Tapi nggolek memolo.

Elingo. Nenek moyange dhewe ki pelaut, hudu pembalap.

Tekan semene paham?

Tidak Terangkut di Pasar Kangen

| Friday, 28 July 2017 |

Sore ini, saya dan Kalis berkunjung ke pasar kangen. Yah, sekadar jalan-jalan cuci mata sambil melihat-lihat buku dan kaset bekas, tentu sambil membeli barang satu dua.

Selepas adzan isyak, saya mengajak kalis pulang. Maklum, suasana pasar kangen pada jam-jam tersebut sudah sangat ramai, sehingga agak tidak syahdu kalau mau berkeliling dari stan satu ke stan yang lain. Lagipula, saya dan kalis sudah cukup puas membeli beberapa buku dan kaos di sana.

Kami segera ke parkiran. Mengambil motor, dan langsung tancap gas pulang.

Di perjalanan, saya kepikiran buat menawari kalis nonton. Kebetulan, kami berdua sama-sama belum nonton Dunkirk.

“Bar iki meh langsung bali po meh nonton?” Tanya saya. Kalis hanya diam, tak menjawab. “Lis, nek ditakoni ki mbok njawab, ora meneng wae!” kata saya sedikit membentak. Dan dia masih tetap diam.

Bajangkrek setan alas, bocah ini ngambek apa gimana sih. Dari tadi ditanya kok diam saja.

Saya agak kesal dan kemudian menengok ke belakang bermaksud untuk memarahinya, dan... Masya Alloh, boncengan belakang saya kosong mlompong. Ternyata Kalis belum terangkut. Dan saya sudah jalan satu kilo.

Saya buka wasap, buru-buru minta maaf. Sebab saya sadar, kalau saya tidak segera minta maaf, hidup saya terancam.

Tanpa banyak babibu, saya langsung putar balik dan menjemput muatan saya yang tertinggal. Sesampainya di tempat penjemputan, saya melihatnya memasang muka mrengut.

“Ha kowe ki piye tho? Aku gek nganggo helm kowe wis nglencer wae, tak kiro tekan ndalan meh mandek, jebul bablas,” ujarnya.

“Dingapuro yo, tak kiro kowe wis munggah,” kata saya penuh sesal. “Pantes wae mau kok rasane enteng, manuvere iso gesit, jebul ra ono buntute.”

Kalis tertawa. Saya ayem. Hidup saya tidak jadi terancam.


Mutung dan Nyegat Bis

| Sunday, 2 July 2017 |

Beberapa waktu yang lalu, Mas Edi Mulyono menulis di Mojok tentang Tafsir Jodoh dan pernikahan menurut Quraish Shihab. Dalam artikel yang luar biasa lucu tersebut, ada bagian soal mutung-nya seorang istri yang kemudian memaksa dan mengancam pulang ke rumah orang tuanya naik bis.

Setelah artikel itu tayang, tak berselang lama, Kalis mengirimi saya pesan wasap.

“Tulisane pak Edi nggawe aku ngakak. Bagian padu njaluk mulih nyegat bis,” Begitu tulis Kalis.

Saya paham betul alasan kenapa dia ngakak, sebab dua minggu yang lalu, pas main ke rumah saya, Kalis sempat marah sama saya dan benar-benar mengancam mau pulang naik bis.

Gara-garanya sepele, karena saya bermaksud pengin nonton sendirian.

“Lis, tak tinggal dilit yo, kowe ng kene ndisik,”

“Lha kowe meh nangdi?”

“Tak nonton, dilit kok, paling mung rong jam,”

Saya memang merencanakan ingin nonton sendirian tanpa Kalis, sebab yang mau saya tonton waktu itu adalah Wonder Woman, film yang konon katanya tidak elok untuk ditonton berpasangan (Ayolah, lelaki mana yang masih butuh pasangan ketika di depan matanya, Gal Gadot memberikan senyum yang begitu manis dan metodis). Lagipula, saya juga paham betul, Kalis tidak suka film action apalagi yang superhero. Karenanya saya memberanikan diri sekadar formalitas untuk meminta ijin nonton sendiri.

Namun apa daya, bukan ijin yang saya genggam, malah bentakan yang saya dapat.

“Kowe ki karepe piye tho? Aku nglegakke tekan kene kok kowe tegel-tegele meh ninggal aku nonton dhewe, karepmu ki piye?”

“Ehm....”

“Wis, aku tak mbalik Jogja wae, Aku tak ngebis dhewe,” bentaknya yang kemudian membuat saya jiper.

Itulah saat di mana saya memandang Kalis bukan sebagai gadis kalem dan intelek, saya memandangnya serupa singa betina yang terluka.

Lalu apakah saya jadi nonton? Tak perlu saya jawab, sebab saya yakin, sampeyan sudah tahu jawabannya.

Tentang Saya

Saya Agus Mulyadi, biasa dipanggil Gus Mul (bukan lulusan pesantren seperti Gus Dur, Gus Muh, maupun Gus Mus. Gus Mul hanya akronim dari nama saya). Blogger dan Freelance Layouter. Kini berusia 24 tahun. Aktif di Karang Taruna dan Komunitas Blogger Magelang Pendekar Tidar. Profil lebih lengkap, Lihat Disini

Tambahkan saya di Google+

 
Copyright © 2010 Agus Mulyadi Blog , All rights reserved
Design by DZignine . Powered by Blogger