Pre-Order buku 'Bergumul Dengan Gus Mul'

| Friday, 23 January 2015 |

Sesuai dengan postingan saya terdahulu tentang buku ''Bergumul dengan Gusmul', bahwasanya buku 'Bergumul dengan Gusmul' akan mulai beredar di toko-toko buku per tanggal 20 Februari. Namun begitu, sampeyan bisa memesan terlebih dahulu (pre-order) buku ini, sehingga bisa mendapatkan buku ini sebelum beredar di toko buku.



Ada pun beberapa keuntungan yang sampeyan dapatkan jika sampeyan membeli buku edisi pre-order ini adalah:

  • Harga lebih murah. Harga asli 44.000, kalau pre-order 35.200 (Lumayan tho, ngirit 8 ewu, iso nggo tuku mie sedap plus ndog, karo torabika moka).
  • Buku bertanda-tangan penulis (walau mungkin sampeyan tidak tertarik dengan tanda tangan saya)
  • 100 pembeli pertama akan mendapatkan stiker alias karkir.

Tata cara dan petunjuk Pre-Order

Berikut ini adalah tata cara dan petunjuk pre-order buku 'Bergumul dengan Gusmul':
  • Pre-Order dimulai 26 Januari , berakhir 3 Februari pukul 23.59 WIB, dan hanya diselenggarakan di toko buku online bukukita.com.
  • Pre-Order dilakukan lewat beligusmul.com.
  • Jumlah buku bertanda tangan yang dijual secara pre-order sebanyak 300 eksemplar.
  • Pembeli yang dianggap telah membeli adalah mereka yang telah melakukan pembayaran. Jadi, sebaiknya setelah sampeyan memesan "Bergumul dengan Gusmul" di beligusmul.com, segeralah melakukan transfer pembayaran.

Tanya jawab seputar Pre-Order

Harga 35.200 ribu itu termasuk ongkos kirim atau belum?
Harga35.200 belum termasuk ongkos kirim. Untuk perhitungan ongkos kirim, akan dihitungkan oleh sistem ketika kamu memesan bukunya tanggal 26 Januari nanti, di halaman pembayaran, sesuai dengan alamat pengiriman.

Kalau ndak punya ATM atau kartu kredit, bayarnya gimana?
Sistem pembayaran pre-order hanya dengan menggunakan transfer. jadi, kalau sampeyan tidak memiliki ATM atau rekening di bank, sampeyan bisa titip transfer ke teman atau orangtua, ya. jangan lupa bilang, "matur nuwuuun."

Apakah bisa melakukan pembayaran dengan COD (Cash on Delivery)?
Untuk program preorder "Bergumul dengan Gusmul" bertanda tangan asli penulis, sistem COD di BukuKita tidak diberlakukan.

Ketika sudah memesan, kapan bukunya sampai?
Buku akan dikirim mulai tanggal 4 Februari dan paling lambat tanggal 12 Februari 2015, buku sudah sampai di rumah sampeyan.

Apakah ada batasan pembeli untuk pre-order?
Ya, karena jumlah buku yang dijual secara pre-order hanya 300 eksemplar, dan 100 pembeli pertama akan mendapatkan bonus stiker

Bonus stiker? Stiker apa?
Maaf, saya ndak bisa njawab, Lha wong saya sendiri juga belum tahu bagaimana bentuk dan rupa stikernya, hehe

Kapan pre-order ditutup?
Pre-order buku 'Bergumul dengan Gusmul' ditutup tanggal 3 Februari 2015, pukul 23.59 WIB. Jadi, hanya dibuka selama seminggu.


Informasi lebih lanjut

Untuk info seputar pre-order, sampeyan bisa menghubungi kontak-kontak di bawah ini selama jam kerja:

Twitter: @bukukita
Facebook: BukuKita.com
SMS: 083870009010
WA: 0812-8500-0570
Line: BukuKita
Instagram: BUKUKITACOM
BBM: 52637686

Buku 'Bergumul Dengan Gus Mul'

| |

Selamat sore pembaca, ini adalah update dari postingan saya sebelumnya tentang rencana terbitnya buku kedua saya, Bergumul Dengan Gus Mul.

Alhamdulillah, buku Bergumul dengan Gus Mul sudah selesai naik cetak. Nah, untuk pembaca yang ingin tahu bagaimana rupa cover buku kedua saya ini. berikut ini lho penampakannya.

Bergumul dengan Gusmul

Iya, covernya dominan Pink, warna unyu, warna yang kata banyak orang memang warnanya orang yang sedang jatuh cinta.

Itu konsep cover yang baru. Karena sebelumnya, cover buku saya tadinya mau dikonsep seperti cover majalah TIME yang edisi Jokowi itu, tapi ndak jadi, mungkin karena wajah saya kurang cocok kalau harus dipotret dengan mimik muka serius kali ya.

Untuk pembuatan cover ini, saya sampai nglegakke untuk foto di Ignite Photography yang memang sudah terkenal dengan hasil foto studio-nya yang ciamik (Matursuwun mas Tri Prasetyo karena sudah ngancani dan bersedia nyilehi kaos polosnya).

Konsep buku Bergumul Dengan Gus Mul ini masih sama dengan buku saya yang pertama, Jomblo Tapi hafal Pancasila, dimana isinya adalah artikel-artikel yang saya tulis di blog dengan penambahan beberapa artikel baru. Untuk buku Bergumul Dengan GusMul ini, bakal ada 37 artikel, dimana 14 diantaranya adalah artikel yang sengaja tidak saya tayangkan di blog ini.

Naskah yang saya setorkan ke Penerbit Mediakita untuk buku ini total ada 39 judul, namun ada 2 judul yang terpaksa dihapus karena dianggap terlalu vulgar, sehingga tersisalah 37 judul.

Di dalam buku ini, saya mencoba untuk lebih terbuka bercerita tentang keluarga saya. Jika di blog ini saya banyak menulis tentang bapak dan juga emak secara personal, maka khusus di buku Bergumul Dengan Gus Mul, saya menuliskan kisah tentang pertemuan bapak dan emak saya sampai bisa menjadi sepasang suami istri.

Masih sama seperti buku Jomblo Tapi hafal Pancasila, Buku Bergumul Dengan Gus Mul ini juga menampilkan cerita tentang Geng Koplo dan beberapa personilnya yang punya banyak sekali kisah menarik dan lucu.



Bergumul Dengan Gus Mul ini akan mulai beredar serentak tanggal 20 Februari di seluruh toko buku Gramedia Jabodetabek, Jabar, Jateng, Jatim, dan DIY.

Namun begitu, anda bisa mendapatkan buku ini lebih cepat dengan sistem Pre-order, dimana tersedia 300 buku yang dijual lebih awal, lengkap dengan tanda tangan penulisnya.



Akhirul kalam, sampai jumpa di tanggal 20 februari nggih... tentu saya akan sangat senang kalau sampeyan berkenan membeli buku saya. Sandang pangan je buoooossss


_________

Untuk Informasi Pre-Order, Klik Disini
Anda blogger dan ingin mendapatkan buku ini gratis? Klik Disini

Efek Meninggal dan Hukuman Mati

| Sunday, 18 January 2015 |

“Per harinya, terhitung 40 sampai 50 orang meninggal dunia karena narkotika. Eksekusi mati adalah penegasan bahwa Indonesia tidak main-main.” Begitu kata jaksa agung, HM Prasetyo terkait tanggapannya terkait putusan eksekusi mati terhadap enam terpidana kasus narkoba baru-baru ini.

Saya tak hendak mengomentari soal eksekusi mati-nya, mungkin itu sudah jadi hukum protap. Saya hanya gusar dan geli saja dengan pernyataan pak jaksa agung ini, yang saklek mengkomparasikan sisi adil hukuman mati dengan “efek meninggal” yang ditimbulkan oleh si terpidana.

Geli, apalagi pas bagian “Eksekusi mati adalah penegasan bahwa Indonesia tidak main-main”. Geli, Karena keenam terpidana kasus narkoba yang dihukum mati tadi, rata-rata dalam kasusnya hanya bertindak sebagai sebagai kurir, dan pengedar. Pelaku kejahatan tingkat pertama. Sedangkan yang jadi bos alias gembongnya, justru lolos dari hukuman mati karena mendapat grasi. Sungguh tidak main-main.

Ah, saya lupa, ini Indonesia.

Bukan... bukan, saya bukan hendak menolak hukuman mati untuk para terpidana kasus narkoba, karena kalau memang itu terbukti efektif (kalau terbukti efektif lho ya) untuk memutus mata rantai peredaran narkoba, ya mengapa tidak. Tapi kan harusnya hukuman itu ditegakkan seadil-adilnya. Jangan pilih kasih.

Oke, kembali ke soal “efek meninggal tadi”. Mungkin benar apa kata pak Jaksa Agung, bahwa ada 40 sampai 50 orang yang meninggal setiap harinya karena narkoba. Tapi kalau mau lebih adil dalam komparasi, sejatinya masih banyak lagi terpidana yang lebih membunuh. Koruptor, misalnya (tentu saja).

Kita tahu, ada ribuan nyawa melayang karena tak mendapatkan layanan kesehatan layak hanya karena uang kesehatan ditilep sama oknum-oknum asu (baca:koruptor) itu. Ada ribuan nyawa melayang karena kelaparan hanya karena uang kesejahteraan ditilep sama oknum-oknum celeng (baca:koruptor) itu. Ada pula ribuan nyawa melayang dalam kecelakaan karena kondisi jalan raya buruk yang disebabkan karena uang pembangunan ditilep oknum-oknum bajingan (baca:koruptor) itu.

Dan belum pernah saya dengar ada berita oknum-oknum (baca:koruptor) itu dihukum mati karenanya. Mentok cuma kurungan penjara. Itupun kadang masih banyak yang naik banding.

Ah, saya lupa, ini Indonesia.

Dan kalau mau yang lebih ekstrem lagi. Ada jutaan pria jomblo yang "mampus" tertusuk asmara, terbakar kasih, dan tertikam kesepian. Dan belum pernah saya mendengar para wanita dieksekusi karenanya.

Oh ya, sekali lagi, saya lupa, ini Indonesia. Eh,...maaf, kalau yang ini ndak cuma di Indonesia ding.

Tentang Saya

Saya Agus Mulyadi, biasa dipanggil Gus Mul (bukan lulusan pesantren seperti Gus Dur, Gus Muh, maupun Gus Mus. Gus Mul hanya akronim dari nama saya). Blogger dan Freelance Layouter. Kini berusia 23 tahun (sedang lucu-lucunya). Lahir di Magelang, hidup di Magelang, dan besar di-Dzolimi. Agak mrongos, humoris, cerewet, ceplas-ceplos, menyukai dangdut koplo, tidak terlalu bertanggung jawab. Aktif di Karang Taruna dan Komunitas Blogger Magelang Pendekar Tidar. Profil lebih lengkap, Lihat Disini
 
Copyright © 2010 Agus Mulyadi Njaluk Rabi, All rights reserved
Design by DZignine. Powered by Blogger