5 Jenis Orang Goblok yang Bisa Anda Temui di Bioskop

| Saturday, 21 April 2018 |

Sebagai tempat hiburan menengah ke atas, bioskop kerap menjadi gambaran paling sederhana untuk menunjukkan sebuah panggung kemewahan. Di sana, kita bisa temukan lelaki dan perempuan dengan penampilan-penampilan terbaik mereka. Dengan minyak wangi yang paling harum, dengan sisiran rambut yang paling klimis, dengan model baju yang paling spekulatif, dan kadang dengan hotpants yang paling kimcil.

Sebagai sebuah penanda peradaban, bioskop menjadi tempat di mana banyak hal bisa ditemukan. Salah satu yang paling mudah ditemukan tentu saja adalah kegoblokan.

Ini serius. Di bioskop, orang goblok bisa dengan mudah ditemukan. Hal ini mungkin karena memang kemewahan dan tak berbanding lurus dengan kecerdasan. Keduanya berjalan pada lintasan yang berbeda, lintasan yang kerap tak pernah punya pertautan.

Menurut hitungan saya, setidaknya ada lima jenis orang goblok di bioskop.

Mari kita ulas satu per satu.

Orang goblok jenis pertama bisa ditemukan di dalam antrean pembelian tiket di depan loket.

Mereka adalah orang-orang yang tidak mempersiapkan uang tunai di tangan saat antrean tiba. Sudah tahu antrean panjang, banyak yang menunggu di belakang, eh mereka malah menyibukkan diri dengan mengambil uang di dompet saat sudah berada di depan petugas tiket. Lebih parah lagi kalau ternyata dompet itu disimpan di dalam tas sehingga butuh waktu yang lebih lama.

Tidak bisakah mereka menyiapkan uang di tangan (sukur-sukur uang pas) saat masih mengantri dan kemudian tinggal membayarkannya langsung begitu sudah di depan loket? Bukankah harga tiket sudah jelas-jelas tertera di layar?

Oh iya, lupa, mereka kan orang goblok.

Orang goblok jenis kedua tak beda jauh dengan jenia pertama. Bedanya, jika jenis pertama terlalu banyak memakan waktu karena sibuk mengambil duit dari dompet, maka golongan kedua ini terlalu banyak memakan waktu karena begitu sampai di depan loket, mereka malah bimbang dan bingung mau nonton film apa.

Lebih bajingan lagi kalau ternyata di depan loket malah berdebat dengan pacar atau kawan nontonnya soal film apa yang mau ditonton.

“Nonton Yo Wis Ben aja beb, film bagus, penuh muatan lokal, gimana?”

“Ah, enggak, mau nonton Love for Sale aja, pengin liat pantatnya Gading Marten nih…”

“Pokoknya Yo Wis Ben.”

“Nggak mau, aku maunya Love for Sale, titik!”

Hashhh, kntl.

Orang goblok jenis ketiga keberadaannya sudah tidak lagi di depan loket, tapi sudah di dalam teater.

Orang goblok jenis ini adalah mereka yang mengajak serta anaknya yang masih kecil untuk menonton film yang ratingnya seharusnya untuk penonton usia dewasa.

Orang goblok jenis ini sungguh sangat menyebalkan. Dan sialnya, saya berkali-kali bertemu dengan mereka.

Kemarin misalnya, saat nonton sebuah film dengan rate R13, pas asyik nonton, baru saya sadar kalau ternyata di deretan bangku di depan saya, ada sepasang orangtua muda yang membawa serta anaknya yang masih kecil ikut nonton.

Ketika ada adegan semi, si ibu langsung kaget dan terlihat sibuk menutupi mata anaknya.

Rasanya ingin sekali saya datangi si ibuk dan kemudian saya bisiki kupingnya dengan mesra, “Mbak, eh bu, yang patut ditutupi seharusnya bukan mata anakmu, tetapi ketololanmu.”

Orang goblok jenis keempat adalah kaum yang sungguh tak tahu diuntung. Orang goblok jenis ini adalah mereka yang sibuk bermain hape di dalam teater saat film sudah diputar. Entah sekadar main game, buka wasap, atau yang paling keparat, instagram stories-an.

Entah mereka ini sadar atau tidak bahwa sinar layar yang terpancar dari hape mereka itu begitu mengganggu dan mendistraksi penonton yang lain, utamanya yang berada di posisi belakangnya. Yang jelas, mereka sungguh egois.

Ketika diingatkan, tak jarang mereka membela diri dengan argumen yang menjijikkan, “Bukannya tidak ada larangan untuk bermain hape di dalam teater? Yang dilarang kan cuma merekan film dan menaikkan kaki di kursi.”

Kalau sudah begini, rasanya ingin sekali saya misuh dan membalasnya dengan argumen yang jauh lebih menjijikkan pula: “Lha mbok sekalian bikin kemah dan api unggun di dalam teater, kan tidak ada larangannya.”

Wahai kaum goblok jenis keempat, kalau dikau memang ingin bermain hape, jangan nonton bioskop, cukup nonton Big Movies Global TV saja.

Untuk Orang goblok jenis kelima, saya merasa tak perlu terlalu banyak meng-eksplore. Sebab orang goblok jenis ini adalah saya sendiri.

Gimana nggak goblok, sudah tahu kalau di bioskop banyak orang goblok yang bikin emosi, eh, masih saja tetep suka mampir ke sana.

Kurang goblok gimana, coba?

Harga Diri Operasi Gigi

| Wednesday, 18 April 2018 |

Kemarin saya ke dokter gigi, ada masalah serius dengan gigi geraham saya. Ia tumbuh dengan posisi miring yang mengharuskan untuk dicabut disertai dengan tindakan operasi impaksi.

Pasca operasi, saya ngobrol-ngobrol ringan sama dokternya. Ia sangat ramah dan telaten. Gerak-geriknya menyenangkan.

Hingga pada satu kesempatan, ia menanyakan hal yang cukup membuat saya terhenyak. Pertanyaannya sedikit mengoyak harga diri saya.

“Mas sudah tahu kan biaya operasinya?”

Hati saya saya agak mencelos. Saya merasa sedikit diremehkan. Dikiranya saya miskin apa? dikiranya saya nggak punya duit apa? Apa tampang saya kurang kualitatif untuk bayar biaya operasi? Begini-begini saya ini redaktur Mojok yang sudah pernah masuk tivi.

Saya jawab saja mantap, “Sudah.”

Saya kemudian langsung beranjak ke kasir untuk menyelesaikan pembayaran.

Begitu sampai di kasir, saya dikasih tahu berapa biaya yang harus saya keluarkan.

“Satu juta enam ratus, Mas,” kata mbak Kasir.

Saya langsung mak jegagik, dan kemudian langsung tersadar, bahwa saya ternyata memang miskin.

Pantas saja tadi dokternya nanya begitu.

Agama yang Semakin Tak Ampuh untuk Menghadapi Setan

| Tuesday, 17 April 2018 |

Di film “Pengabdi Setan”, ada satu adegan yang begitu membikin saya sangat miris dan berdesir, yaitu adegan ketika setannya menunggu sosok Rini yang sedang salat dan kemudian menampakkan diri tepat di depan Rini saat ia masih memakai mukena. Selain itu, ustaz di film tersebut tidak tampil sebagai sosok yang superior. Ia mati dibunuh sama setannya.

Ini tentu saja sangat mengerikan. Padahal selama ini, hampir di semua film-film horor kita, sosok ustaz (atau pak kiai) selalu hadir sebagai pengusir setan. Pokoknya kalau pak ustaz atau pak kiai sudah baca Ayat Kursi, beres urusan.

Logikanya, kalau pak ustaznya saja mati dibunuh setan, apalagi yang bisa diharapkan dari orang yang tidak punya kapasitas soal agama?

Di film “Sajen”, setannya tak kalah kurang ajar dibandingkan setan di film “Pengabdi Setan”. Kalau biasanya setan akan panas saat dibacakan Ayat Kursi, setan di film “Sajen” ini sebaliknya, ia malah semakin beringas dan berani. Ayat Kursi tak mempan untuk menjadi senjata melawan setan.

Yang cukup baru, ada film “Danur 2”. Di film ini, setannya keparat betul. Lha gimana nggak keparat, saat ada tokoh yang sedang berzikir tahlil, setannya bisa-bisanya ikut menggangguk-anggukkan kepala sesuai bacaan tahlil.

Yang paling bajingan tentu saja film “Makmum” bikinan Riza Pahlevi itu. Dalam film tersebut, setannya nggak tanggung-tanggung, ia ikut salat menjadi makmum.

Aneka fenomena ketidaktakutan setan pada entitas dan simbolisasi beragama dalam film-film horor Indonesia ini boleh jadi adalah efek dari fenomena masa kini, ketika agama semakin tidak dianggap tinggi. Agama menjadi semakin profan. Semakin ora kajen. Orang-orang banyak yang menggunakan agama sebagai kedok kepalsuan, menggunakannya sebagai senjata politik, menggunakannya sebagai bisnis, dan yang paling bangsat, menggunakannya sebagai pemecah belah masyarakat.

Agama semakin pop, tetapi bukan pada posisi yang tinggi. Agama bukan lagi menjadi sesuatu yang punya posisi paling paripurna. Ia tak lagi menjadi simbol perlawanan keburukan yang disimbolkan dengan setan.

Lha gimana, manusia jaman sekarang ini malah jauh lebih jahat dan lebih nggentho ketimbang setan itu sendiri je.

Entah kenapa, kalau begini terus, saya semakin yakin, di tahun 2019 nanti, setan tidak lagi takut sama agama. Ia akan lebih takut sama politik. Karena itu jangan heran kalau besok, yang bisa mengobati orang kesurupan bukan lagi ustadz atau kiai, melainkan politisi, aparat, dan anggota organisasi kemasyarakatan.

Tentang Saya

Saya Agus Mulyadi, biasa dipanggil Gus Mul (bukan lulusan pesantren seperti Gus Dur, Gus Muh, maupun Gus Mus. Gus Mul hanya akronim dari nama saya). Blogger dan Freelance Layouter. Kini berusia 24 tahun. Aktif di Karang Taruna dan Komunitas Blogger Magelang Pendekar Tidar. Profil lebih lengkap, Lihat Disini

Tambahkan saya di Google+

 
Copyright © 2010 Agus Mulyadi Blog , All rights reserved
Design by DZignine . Powered by Blogger