Murni Curhatan

| Thursday, 11 December 2014 |

Namanya NZ, usianya dua puluh satu tahun, alias dua tahun lebih muda dari saya, asalnya dari salah satu kota pesisir di Jawa tengah. Parasnya menarik, Tubuhnya mungil, senyumnya begitu ceria, dengan sedikit dekik di kedua pipinya, tingkah-polahnya sungguh teramat menyenangkan.

Sudah dua setengah tahun terakhir ini saya menyukainya. Dan kemarin, saya benar-benar tak sanggup menyembunyikan perasaan saya.

Kemarin saya bertemu dengan NZ, Kami bertemu dalam sebuah acara resepsi kawinan kawan saya. Kebetulan kawan saya yang nikah itu ternyata temannya kakaknya NZ. Jadinya Saya dan NZ sama-sama dapat undangan.

Saya dan NZ lantas berbincang ringan, yah, sekadar bincang formalitas, intermezzo murahan. Kami berbincang banyak hal, mulai soal kesibukan masing-masing, hingga soal perkembangan dunia tulis-menulis, kebetulan ia cukup punya minat di bidang itu.

Setelah sekitar sepeminuman kopi kami mengobrol, saya dengan polosnya memberanikan diri untuk mengajaknya maju ke panggung.

“Nyumbang lagu yo, kita duet,” ajak saya. Padahal niat saya sih cuma untuk guyon, eh ndilalah, dia-nya mau saja saya ajak naik ke panggung.

“Hambok ayo!” jawab NZ mantap.

Karena sudah kadung kemakan omongan, maka sebagai laki-laki, saya tak bisa mengelak atau meralat ajakan saya. Mau tak mau saya harus berani maju.

Saya lalu melangkah pelan, naik ke panggung bersama NZ. Saya ambil gitar yang tergeletak di tepi panggung, kebetulan band pengisi sedang break. Saya lalu menyanyikan lagu “Fly Me to The Moon”-nya Frank Sinatra. Lagu yang sering saya dengarkan lewat youtube. Saya menyanyi dengan suara yang sumbang, amat amat sumbang. NZ hanya meringis, saya lirik, raut mukanya agak jengkel, mungkin karena ia tak tahu lagu ini, sehingga ia tak bisa ikut menyanyi dan hanya nyengir nganggur di atas panggung. Saya cuek saja dan terus melanjutkan lagu saya.

“Fly me to the moon, let me play among the stars...”
“Let me see what spring is like on Jupiter and Mars...”
“In other words, hold my hand...”
“In other words, darling kiss me...”


Hadirin nampak acuh, mereka tetap fokus pada hidangan prasmanan mereka. Hanya ada beberapa yang melirik saya. Mungkin karena suara saya yang sangat tak merdu.

Lagu romantis itu pun selesai saya nyanyikan, saya merasa terbawa suasana. Dan entah bagaimana ceritanya, saya mendadak nekat mengatakan “Z, I Love you” kepada NZ yang berdiri tepat di samping saya. Saya bingung, Saya kok bisa jadi goblok begini ya. Saya benar-benar malu setengah mati. Beruntung hadirin yang lain tidak mendengar kata 'Z, I Love You' yang saya ucapkan, karena memang saya mengucapkannya tanpa mic.

NZ hanya diam. Dan itu semakin menambah malu saya. Karena penembakan spontan dan bodoh barusan ternyata hanya menghasilkan jawaban bisu. Sejenak kami berdua diam, dia belum juga memberi jawaban. Raut wajahnya mulai terlihat murka, sedangkan saya begitu gugup dan takut. Akhirnya saya putuskan untuk mengajaknya turun, saya tak ingin berlama-lama menanggung malu dan beban mental yang teramat berat ini.

Hahaha. Tentu saja adegan di atas hanyalah adegan fiktif, hanya ada dalam bayangan saya saja. Karena ada berbagai sebab yang membuat adegan di atas tak mungkin terjadi di dunia nyata. Pertama, saya tak bisa memainkan gitar. Kedua, saya tak hafal penuh lirik lagu “Fly Me to The Moon”-nya Frank Sinatra. Ketiga, seandainyapun saya bisa main gitar dan hafal lagu Fly Me to The Moon-nya Frank Sinatra, saya belum tentu punya mental untuk memetik gitar dan menyanyi di hadapan NZ. Dan yang keempat, saya masih cukup waras untuk tidak bilang I Love You kepada dia, maklum lah, pipi kiri saya ini kelihatannya belum cukup kokoh untuk menerima tamparan tangannya.

Lalu untuk apa saya menulis curhatan yang ndak jelas ini?

Yah, siapa tahu si NZ baca curhatan ini, sehingga ia sadar, bahwa saya begitu menyukainya. Sengaja saya tulis di blog agar ketika yang bersangkutan sadar kalau saya menyukainya, maka yang ia tampar bukanlah pipi saya, melainkan layar monitor atau gadget yang ia gunakan untuk membaca postingan ini.

Dan entah mengapa, setelah menulis curhatan ini, pipi saya kok rasanya seperti ada yang menampar. Dan sedari tadi, berkali-kali saja mendengar bisikan gaib: “Dasar blogger nggak tahu diri!”.

Plakkk!!!

Tuh... Pipi saya ditampar lagi.

Pesugihan Terlarang

| Wednesday, 3 December 2014 |

Semalam, Saya, dua kawan saya: Niko dan Kebo, serta Bapak Saya melek sampai pagi. Entah karena pengaruh kopi yang malam itu sama sekali tidak mêjên, atau memang karena obrolan kami berempat yang begitu menggebu, hingga tak terasa kami bisa larut dalam perbincangan seru dari jam dua belas malam hingga menjelang subuh.

Kamar Loteng Agus mulyadi

Entah berawal dari bahasan apa, mendadak bahan perbincangan kami menjurus ke arah dunia mistis. Mulai dari penampakan, kesurupan, sampai dunia pesugihan. Bahasan yang sebenarnya agak ironi, mengingat diantara kami berempat, tak ada satupun yang pemberani, baik saya, Niko, Kebo, maupun bapak saya, semuanya adalah makhluk pengecut kalau sudah berhubungan dengan dunia supranatural.

Dari sekian obrolan yang meluncur deras dari mulut kami berempat, satu yang jelas saya ingat adalah kisah bapak saya.

Saya tak menyangka, bapak saya yang kelihatannya woles dan unyu itu ternyata menyimpan kisah masa lalu yang begitu mistis dan pekat.

Bapak dulu rupanya pernah mendatangi situs makam kuno untuk mengikuti program pesugihan

Alkisah, sewaktu saya masih berusia satu tahun, ekonomi keluarga saya begitu buruk. Bapak saya budrêk. Penghasilan dari menjadi kernet angkot sama sekali tak bisa diandalkan. Ubêtan sana-sini belum jua mencukupi kebutuhan hidup, sungguhpun waktu itu, anak yang menjadi tanggungan baru saya seorang, kedua adik saya belum lahir.

Himpitan ekonomi semakin merapat, nalar pun teracuni. Bapak pun kemudian mencari jalan pintas: Pesugihan.

Berbekal rekomendasi tokcer dari beberapa kawan. Bapak akhirnya mendatangi salah satu situs makam kramat di daerah Muntilan (maaf, demi kenyamanan bersama, nama daerah persisnya tidak saya sebutkan).

Bapak berangkat dari rumah ke lokasi makam keramat dengan penuh kemantapan. Sepanjang perjalanan, bapak terus saja dibayangi angan-angan hidup mapan yang mungkin akan segera bapak dapatkan.

Tak butuh waktu lama untuk sampai di lokasi makam. Di lokasi makam tersebut, ada beberapa orang yang nampaknya juga mempunyai maksud dan tujuan yang tek berbeda jauh dengan bapak. Setelah nyekar, Bapak kemudian dipertemukan dengan sang juru kunci yang kono juga merangkap sebagai perantara pesugihan.

“yang jadi Juru kuncinya itu sama sekali ndak sêtil, ora sangar, ndak ada potongan juru kunci, lempeng. Tapi ilmunya katanya begini!”, kata bapak sambil mengacungkan jempolnya. “Banyak yang berhasil di situ, yang tadinya mlarat kéré, habis dari situ, beberapa bulan kemudian langsung jadi juragan,” lanjut bapak.

“Yang mau ikut pesugihan akèh po pak mo?” tanya Kebo (nama bapak saya Trimo)

Yo akèh tho, lha wong tempatnya sudah terkenal kok!”

Kata bapak, pesugihan di sana memang terkenal karena gêthuk tular, dari mulut ke mulut. Sudah banyak yang membuktikan.

Saya dan Niko menyimak seksama, Kebo sesekali mengajukan pertanyaan. Agaknya Kebo begitu antusias dengan kisah pesugihan bapak saya ini.

“Pesugihan disini tidak banyak syarat yang aneh-aneh, mas. Sampéyan cuma wajib menyelipkan uang sepersepuluh dari jumlah penghasilan Sampéyan di tikar yang menjadi alas tidur Sampéyan, uang itu nantinya akan hilang sendirinya diambil sama préwangan” Kata bapak mencoba menirukan petunjuk si juru kunci waktu itu.

Bapak pun kemudian bertanya kepada sang juru Kunci perihal kapan saja uang itu harus diselipkan.

“Seminggu sekali, tidak boleh terlupa, karena kalau terlupa sekali saja, Sampéyan sendiri yang akan jadi tumbalnya!” begitu kata juru kuncinya.

Bapak saya pucat seketika.

“Piyé mas? wani?”

Waduh, kosék mbah, saya tak mikir-mikir dulu!” jawab bapak gamang.

Sampai di titik ini, Bapak benar-benar dibuat bingung. Betapa tidak, ini pilihan yang sulit. Bapak sempat senang karena tahu kalau syarat pesugihan di tempat itu tidak aneh-aneh. Tapi begitu tahu tentang mekanisme pertumbalanya, bapak saya langsung mak jêgagik mlintir. Mental bapak yang dari rumah sudah keras seperti batu karang sekarang langsung lembek bak marshmallow.

Sidone Sampéyan wani pak mo?” tanya Kebo

“Aku mikir bo, sebenarnya syarat sih ndak susah-susah banget, Cuma nyêlipke duit seminggu sekali di bawah tikar. Tapi yo itu, kalau terlupa sekali saja, aku yang jadi tumbalnya. Yang namanya manusia itu, setajam-tajamnya ingatan, pasti bakal dikasih lupa juga. Lha kalau ndilalah suatu waktu aku lupa nyêlipke duit di bawah tikar, lak yo modar tho aku bo!

Njuk akhirnya sampéyan jadi ambil ndak pak mo? penasaran ini” kali ini Niko yang bertanya.

Saya hanya menyimak serius sambil sesekali menulis catatan penting tentang kisah bapak ini di kertas . Yah siapa tahu bisa saya tulis di blog (dan nyatanya memang saya tulis di blog toh, lha yo postingan ini tulisannya).

“Akhirnya, aku ndak berani ko, daripada kena mêmolo, lebih baik mundur!”

“Ah, pa’e kicir, mosok gitu aja ndak berani!” ejek saya. Kali ini saya ikut dalam pergumulan.

Kicir ndasmu, lha yang jadi jaminan tumbal ki bapakmu sendiri je, lha kalau yang jadi tumbal anak pertama, mesti bakal langsung tak lakoni!”, balas bapak menohok saya.

Kami berempat langsung tertawa terbahak.

Modiar ra kowé gussss!”, kata Kebo di tengah tawanya yang menggelegar.

Asuuuuuu

______
Ingatlah, bahwasanya Dalam berbagai ritual pesugihan terdapat bentuk kesyirikan, yaitu memalingkan salah satu ibadah kepada selain Allah. Dan itu adalah seburuk-buruknya.

“Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatupun” (QS. An Nisa’: 36)

“Janganlah kamu adakan Rabb yang lain di samping Allah, agar kamu tidak menjadi tercela dan tidak ditinggalkan (Allah).” (QS. Al Isra’: 22)


Semoga kita terhindar dari hal yang sedemikian dan senantiasa sabar. Aamiin

Pelajaran Berharga dari Mini Drama AADC 2014

| Tuesday, 18 November 2014 |

Mini drama Ada Apa Dengan Cinta (AADC) 2014 yang diluncurkan oleh LINE beberapa waktu yang lalu rupanya benar-benar mampu menarik perhatian khalayak, terutama generasi 80-90an. Mini Drama berdurasi sekitar 10 menit itu menceritakan kelanjutan kisah AADC 2002, tentang pertemuan kembali Cinta dan Rangga yang sudah terpisah selama 12 tahun.

Tentu saya tak akan menceritakan penuh bagaimana sinopsis mini drama tersebut. Karena sampeyan bisa lihat sendiri nanti di youtube. Atau kalau sampeyan cukup malas untuk buka youtube, ini saya kasih embed-an videonya, monggo ditonton dahulu sampai habis, baru baca lanjutannya.



Dalam artikel ini, saya ingin menjembrengkan beberapa pelajaran kehidupan yang bisa diambil dari mini drama AADC 2014 ini. Tentu berdasarkan analisis bodho saya, jadi harap maklum kalau agak menyimpang dari prinsip hidup Anda. Apa sajakah? Ini dia:

Para wanita diharap maklum dan mawas diri kalau di-PHP pria

Tak ada yang bisa membantah betapa indahnya makhluk bernama Dian Sastro itu (beruntung sekali kau Indraguna Sutowo!). Nah, di AADC 2014, jelas para wanita diperlihatkan sebuah ironi yang cukup menyakitkan. Bahwa Dian Sastro yang molek, sintal, dan cantiknya ngedap-edapi saja bisa kena PHP, bahkan sampai 12 tahun lamanya, apalagi para wanita yang berwajah standar yang bahkan untuk sekedar macak pun angel'e setengah modiar.

Jadi, jika Anda adalah wanita yang masih belum bisa menandingi kecantikan seorang Dian Sastro, jangan pernah mengeluh karena di-PHP, maklum dan mawas diri saja. Yakinlah, Gusti Alloh sudah mempersiapkan jalan asmara yang lebih asoy untuk Anda.

Jangan jadi bajingan kalau sampeyan tidak tampan

Kalau Anda ndak punya tampang seganteng Rangga/Nicholas Saputra (atau minimal setara dengan saya), maka buang jauh-jauh niat Anda untuk mem-PHP seorang wanita, apalagi sampai 12 tahun lamanya. Karena bagi wanita, tak ada sebutan lain yang lebih pantas kecuali bajingan untuk pria yang tega menggantungkan perasaan seorang wanita dalam kurun waktu 12 tahun, terkecuali kalau Anda seorang Rangga.

Percayalah, sebajingan-bajingannya Rangga, para cewek akan tetap meleleh kalau melihat tampang cool-nya Rangga. Bahkan pasti ada banyak yang sampai berteriak mentel, “Ranggaaaaaaaaa!”

Bajingan ndak apa-apa, yang penting Rangga.

Kalau mau minggat dari Wanita dan ingin terlihat Keren, ke Luar Negerilah

“Saya akan ke Jakarta besok, selama dua hari. Bisa ketemu?” Begitu pesan yang ditulis Rangga untuk Cinta lewat LINE. Pesan tersebut Jelas terlihat sangar dan flamboyan, karena si Rangga mengirim pesannya dari New York, belahan bumi lain yang jaraknya ribuan kilometer dari Jakarta—tempat Cinta menerima pesannya.

Jelas beda kalau pesan yang terkirim bunyinya: “Saya akan ke Wirobrajan besok, selama dua hari. Bisa ketemu?” Padahal si pengirim mengirim pesannya hanya dari Demak Ijo yang jaraknya cuma sak udutan.

Lak yo bedebah tho?.

Kalau ingin punya pesona romantis, bermain sajaklah

“Detik tidak pernah melangkah mundur, tapi kertas putih itu selalu ada.” Dialog pasif itu membuat Rangga terlihat sangat romantis dan berperasaan. Keromantisan Rangga bertambah dua kali lipat saat sajaknya dibalas oleh Cinta. “Waktu tidak pernah berjalan mundur, dan hari tidak pernah terulang. Tetapi pagi selalu menawarkan cerita yang baru.”

Tentu akan berbeda jika Rangga memulai dialog pasifnya dengan sebuah pantun, terlebih kalau pantunnya diawali dengan kalimat: “Masak aer! Biar mateng. Maaasak aeeer! Biar mateng. Maaaaaasak aeeeeerrr! Biar mateng.”

Pakailah LINE, bukan yang lain

Sebenarnya ini agak wagu, tapi mau bagaimana lagi? Lha wong mini drama Ada Apa Dengan Cinta (AADC) 2014 ini kan terselenggara juga karena LINE, jadi artikel ini akan sangat durhaka jika tidak menyebut si empunya gawe. Jadi tolong maklumi saja bagian ini.

_____
Terbit pertama kali di Mojok.co tanggal 11 November 2014

Tentang Saya

Saya Agus Mulyadi, biasa dipanggil Gus Mul (bukan lulusan pesantren seperti Gus Dur, Gus Muh, maupun Gus Mus. Gus Mul hanya akronim dari nama saya). Blogger dan Freelance Layouter. Kini berusia 23 tahun (sedang lucu-lucunya). Lahir di Magelang, hidup di Magelang, dan besar di-Dzolimi. Agak mrongos, humoris, cerewet, ceplas-ceplos, menyukai dangdut koplo, tidak terlalu bertanggung jawab. Aktif di Karang Taruna dan Komunitas Blogger Magelang Pendekar Tidar. Profil lebih lengkap, Lihat Disini
 
Copyright © 2010 Agus Mulyadi Njaluk Rabi, All rights reserved
Design by DZignine. Powered by Blogger