Nando 'Penghina Nyepi' dan Emosi Sosial Media

| Friday, 27 March 2015 |

Halo mas Nando apa kabar? Masih diliputi rasa ketakutan kah? Ah, semoga sudah tidak ya mas

Mas Nando, sebelum saya melanjutkan catatan ini, mungkin ada baiknya kalau kita beramah-tamah dahulu. Yah, sekadar basa-basi atau intermezzo gitu lah. Atau kita bisa berkenalan dulu mungkin? Maklum, sebagai sesama penggemar liga inggris, kurang lengkap rasanya kalau kita belum saling berkenalan.

Oke, saya duluan ya mas. Saya akan memperkenalkan diri, nama saya Agus Mulyadi. Saya orang Magelang, 23 tahun, masih bujang, dan pendukung berat Manchester United. Beda dengan sampeyan yang pendukung berat Arsenal (Yah, tapi tak apa. Kita memang punya hak untuk memilih jalan masing-masing. Sampeyan memilih jalan Arsenal, sedangkan saya memilih jalan kebaikan dan kebenaran).

Nah, sekarang giliran sampeyan yang memperkenalkan diri, mas.

Eh, tapi ndak usah ding, Setelah saya pikir-pikir, sampeyan ndak perlu memperkenalkan diri deh. Kan saya sudah tahu nama sampeyan: Nando Irawansyah, saya sudah tahu siapa sampeyan, Saya juga sudah tahu kalau sampeyan pendukung berat Arsenal, jadi sampeyan tidak perlu lagi memperkenalkan diri.

Saya dengar, mas Nando tinggal di Bali ya! Saya pernah lho ke Bali, dua kali malah. Tapi itu dulu mas, dulu banget. Sewaktu Darma Wisata kelas 3 SMP dan 3 SMA. Kalau sekarang sih rasanya berat bagi saya untuk berlibur lagi ke Bali. Maklum mas, berat di ongkos.

Oke, tu nde poin saja ya mas.

Begini mas Nando. Beberapa waktu yang lalu. Saya baca berita tentang Mas Nando. Iya, berita tentang Mas Nando yang menulis status hujatan itu. Ndak ingat? yang begini lho statusnya:

"bener2 fuck nyepi sialan se goblok ne, q jadi gak bisa nonton ARSENAL maen, q sumpahin acara gila nyepi semoga tahun depan pas ogoh2 terbakar semua yang merayakan, fuckkk you hindu"

Sudah ingat kan, mas? Ah, pasti ingat lah.

Begitu saya membaca status tersebut, sejenak, saya benar-benar tak habis pikir dengan mas. Bagaimana bisa seseorang yang tinggal di Bali tega menulis status yang sebegitu menyakitkan bagi masyarakat Bali.

Duh mas Nando, Sangat disayangkan, sampeyan rela mengorbankan harga diri dan nama baik sampeyan hanya demi Arsenal (kalau demi MU sih masih mending).

Tentu sampeyan kini tahu apa konsekuensi status tersebut. Ya, kini sampeyan menjadi public enemy di Bali (bahkan mungkin di Indonesia). Sampeyan dicari oleh banyak orang. Beberapa ingin menasehati, tapi kebanyakan ingin menghadiahi bogem mentah.

Tak heran sih, soalnya status facebook sampeyan itu benar-benar sudah keterlaluan. Menghina agama Hindu dengan kata yang teramat sangat kotor.

Saya yang notabene bukan pemeluk Hindu saja sempat merasa murka begitu membaca status sampeyan.

Saya jadi ingat dengan kasus yang pernah menimpa Florence Sihombing beberapa waktu yang lalu. Kasusnya hampir sama dengan yang sedang melanda mas saat ini: meluapkan emosi di sosial media, lalu memancing kemarahan massa.

Kasus Florence itu harusnya bisa menjadi pelajaran penting bagi saya, sampeyan, dan seluruh pengguna sosial media khususnya di Indonesia, untuk bisa lebih bijak dan beretika dalam menggunakan sosial media. Kendati sosial media adalah ranah maya, namun tetap saja kita harus bersikap layaknya seperti di ranah nyata. Karena seluruh aturan yang ada dalam sosial media pada dasarnya dibangun oleh aturan yang biasa digunakan oleh orang-orang di dunia nyata.

Bersikap tidak sopan dan tidak etis di dunia maya tentu saja tak jauh berbeda fatalnya dengan bersikap tidak sopan di dunia nyata.

Saya berani ngomong begini karena saya sendiri dulu pernah mengalaminnya mas. Iya, dulu saya pernah menulis status yang sangat sangat tidak etis.

Entah kegoblokan bagian mana yang dulu sampai bisa membuat saya menulis status facebook yang sebegitu kurang ajar. Kurang lebih, begini bunyi statusnya:

"Wanita adalah kendaraan terbaik di dunia ini, karena: Memiliki 2 lampu depan yg menawan, Memiliki 2 bemper belakang yg indah, Mengeluarkan pelumas sendiri saat panas, Di starter hanya dengan sentuhan jari, Ganti oli otomatis setiap bulan, Beragam posisi berkendara, mudah di sesuaikan, dan Aksesorisnya mengagumkan..."

Status tersebut sebenarnya bukan asli buatan saya, itu jelas, karena saya terlalu sholeh dan lurus untuk bisa menulis status se-bajingan itu. Status itu saya dapatkan dari pesan di facebook yang kemudian saya copas dan saya buat sebagai status facebook. Niatnya awalnya sih untuk lucu-lucuan saja. Ealah, status tersebut malah menjadi sumber perkara bagi saya.

Alih-alih mendapatkan komentar yang lucu (harapan saya sih begitu), saya justru mendapatkan banyak hujatan. Bahkan ada salah satu guru SMP saya (kebetulan beliau berteman di facebook) ikut memarahi.

Status saya sebagai jejaka yang suci dalam fikiran, perkataan, dan perbuatan langsung tumbang seketika. Roboh sudah pertahanan nama baik saya waktu itu. Entah sudah berapa kawan wanita meng-unfriend pertemanan facebook saya setelah status itu terbit.

Dan efek yang paling parah tentunya adalah: saya semakin susah dapat pacar. Lha bayangkan, lha wong seandainya saya rutin nulis status-status motivasi khas Mario Teguh pun saya belum tentu dapat pacar, apalagi kalau saya nulis status yang isinya menghina perempuan. Duuuh, jelas makin banyak perempuan yang menjauhi saya.

Karenanya, Sejak saat itu, saya kemudian selalu berhati-hati kalau mau nulis status atau ngetwit. Takut kalau-kalau ada yang tersinggung oleh status atau twit saya.

Nah, Mas Nando, sebagai orang yang sama-sama pernah dihujat karena menulis status di sosial media. Saya hanya ingin menasehati sampeyan. Mari kita sama-sama belajar untuk tidak seenaknya sendiri menulis status di sosial media. Mari sama-sama belajar untuk tidak melampiaskan emosi di sosial media yang memang sudah terlalu berisik ini.

Sampeyan bukanlah pelukis ternama yang bisa dengan mudah melampiaskan emosinya lewat lukisan dan kemudian menjualnya dengan harga puluhan juta, yang tentu lebih dari cukup untuk membeli persediaan kopi teman begadang selama bertahun-tahun.

Sampeyan juga bukan aktor atau aktris sinetron yang bisa melampiaskan emosi lewat akting memukau di layar kaca yang untuk selanjutnya dibayar dengan bayaran yang luar biasa tinggi, yang tentu lebih dari cukup untuk membeli persediaan orson pengisi kulkas selama setahun lebih.

Sampeyan bukan penjual emosi yang cerdik, maka setidaknya, jadilah penyalur emosi yang baik. Salurkanlah emosi sampeyan pada tempatnya. Karena bagaimanapun, emosi itu tak selamanya buruk, asal disalurkan pada tempat yang pas.

Nah, karena saya tahu sampeyan adalah fans berat Arsenal, maka saran saya, luapkan saja emosi sampeyan pada Manchester United, karena tim 'kacangan' asal Manchester itu sudah menggondol gelar juara liga Ingris jauh lebih banyak ketimbang Arsenal, sehingga membuat tim sekelas Arsenal nampak seperti pecundang.

Oke mas Nando, semoga sharing singkat kita kali ini bermanfaat.

Sudah ya mas. Sekian dulu, kapan-kapan dilanjut lagi. Saya sedang nunggu SMS dari manajemen One Direction soalnya.

*Terbit pertama kali di kolom Merdeka.com, 27 Maret 2015

Hanya Sepotong Doa untuk Mbak Winalia

| Friday, 13 March 2015 |



Dear Mbak Winalia,

Kemarin, Saya terperanjat kaget dengan link iklan jual rumah yang dibagikan seorang kawan di Facebook. Iklan jual rumah itu bukan iklan jual rumah biasa, karena tagline iklan tersebut sangat-sangat menggoda mata untuk membaca lebih lanjut: "Beli rumah bisa ajak pemiliknya nikah."

Saya mengira, itu hanya iklan guyonan atau sekadar trik promosi situs properti yang menayangkan iklan tersebut. Maklum, di jaman sekarang ini, banyak sekali web e-commerce yang menggunakan metode iklan nyleneh dan nyentrik agar menarik perhatian banyak orang.

Tak berselang lama, berita soal iklan itu kemudian masuk ke berbagai portal berita. Dan saya kembali terperanjat. Ternyata iklan jual rumah plus nikah sama pemiliknya itu benar adanya. Bukan guyonan.

Setelah saya cari tahu, ternyata pemilik rumah itu adalah Mbak Winalia. Iya, kamu mbak, kamu..., Mbak Winalia.

Mbak adalah janda cantik berusia 40 tahun dan punya dua orang anak. Kini mbak memang sedang mendambakan seorang suami pendamping hidup. Saya paham, menjadi janda di usia yang belum terlalu renta memang menjadi problema tersendiri.

Mendadak, saya merasa harus mencari tahu lebih jauh tentang mbak.

Berusaha untuk tidak menaruh perhatian kepada seorang janda cantik yang sedang mencari pendamping hidup memang sulit rasanya, mbak. Sama sulitnya seperti menyebutkan nama personel Soneta selain Rhoma Irama. Karenanya, setiap ada berita soal mbak, saya akan berusaha untuk menyempatkan diri untuk membaca. Saya ingin mengetahui perkembangan proses penjualan rumah mbak.

Saya masih terus terkagum-kagum dengan mbak. Betapa tidak, mbak sedang terlilit masalah keuangan, karenanya mbak kemudian ingin menjual rumah mbak yang sebenarnya mbak sendiri masih sangat sayang untuk melepasnya, karena memang mbak sudah sangat lama tinggal di rumah tersebut. Di satu sisi, mbak juga sedang mencari seorang suami untuk mendampingi mbak.

Polemik itu akhinya memancing mbak untuk bermanuver cantik.

"Aku berpikir rumah ini kalau dijual sayang juga, lalu terlintas gimana kalau yang beli itu nanti jadi suamiku, biar aku juga bisa tetap tinggal di sini."

Dan akhirnya, terbitlah iklan sensasional itu.

Saya suka dengan cara berpikir mbak yang sangat taktis dan brilian. Jarang lho ada wanita yang kepikiran seperti itu.

Namun sayang mbak, iklan rumah dijual milik mbak itu juga membuat saya merasa prihatin. Soalnya gara-gara iklan itu, jadi banyak yang menghujat mbak, ada yang bilang Janda gatel lah, wanita perhitungan lah, murahan lah, dan masih banyak lagi hujatan yang menerpa mbak. Jujur, saya ingin sekali meninju muka mereka yang tega menghujat mbak. Apa urusan mereka? Bisanya kok cuma menghujat. Orang mau berusaha mencari suami yang baik kok malah dinyinyirin. Dasar manusia kelas menengah ngehek.

Tapi saya yakin, mbak adalah tipe wanita yang tabah dan tahan banting.

Bagi saya, apa yang mbak lakukan adalah salah satu usaha mulia mbak untuk beribadah (Bukankah menikah itu ibadah?). Karenanya menurut saya, tak elok rasanya jika sampai ada yang menghujat mbak.

Lagipula, syarat kriteria yang diajukan mbak pada pembeli rumah yang berminat meminang mbak juga mantap. Tak terlalu berlebihan, tidak ndakik-ndakik, namun berbobot.

"Syaratnya pertama single, Islam, kalau bisa mengerti agama, syukur-syukur bisa ajak aku umroh dan pulangnya aku pakai hijab, dan tentunya bertanggung jawab lah, karena aku juga punya anak yang butuh sosok ayah yang bertanggung jawab," begitu kata mbak beberapa waktu yang lalu kepada wartawan.

Sebagai jejaka single yang merasa sholeh (walau ndak hafal ayat kursi), hati saya seakan terpanggil untuk menyanding mbak di Pelaminan. Namun apa daya mbak, merasa terpanggil saja rupanya belum cukup, saya musti cari duit satu miliar dulu kalau mau bersanding dengan mbak. Dan itu jelas sulit bagi saya.

Satu miliar itu jumlah yang sangat besar, mbak. Kalau dibelikan LKS, mungkin bisa digunakan untuk sekolah sampai ribuan caturwulan. Kalau dibelikan behel, tentu sudah tak terhitung berapa gigi tonggos yang terselamatkan karenanya.

Dan lagi, saya juga harus membuang jauh ego saya. Saya jelas tak cocok dengan njenengan mbak. Jauh, saya sadar akan hal itu.

Ada banyak alasan mengapa saya tak mungkin bisa (atau belum bisa) bersanding dengan njenengan, mbak.

Pertama, Usia saya sekarang baru 23, masih lucu-lucunya. Sedangkan mbak sekarang sudah 40 tahun. Kalau kita jadi bersanding, apa kata orang-orang nantinya, saya tak ingin mbak dituduh sebagai wanita yang hanya mengincar sensasi brondong belaka.

Kedua, ya masalah itu tadi. Saya ndak punya duit satu miliar untuk membeli rumah mbak. Seandainya pun saya punya, saya pasti lebih memilih untuk menggunakan uang tersebut untuk untuk beli sawah, buka konter pulsa dan token listrik, kulakan batu akik, dan buat ongkos naik haji bersama kawan-kawan saya yang sangat doyan mabuk.

Ketiga, saya tak mau gegabah dalam urusan memilih pasangan hidup, sungguhpun saya yakin bahwa mbak adalah wanita baik-baik. Soalnya selama ini, saya punya track record yang buruk soal asmara. 23 tahun saya hidup, belum pernah sekalipun saya pacaran, maklum, selama ini, wanita-wanita yang dekat dengan saya hanya mengincar tubuh saya semata.

Keempat, dan yang paling utama, saya ndak yakin Mbak Winalia mau sama saya. Lha wong laler saja kelihatannya harus introspeksi diri dulu sebelum memutuskan untuk sekadar hinggap di tubuh saya. Apalagi mbak Winalia yang elok dan cantik jelita ini.

Mungkin Mbak Winalia memang belum atau bukan jodoh saya. Saya yakin, di luar sana, ada banyak sekali pria-pria beruntung yang lebih cakap dari saya yang siap menerima curahan cinta mbak sebagai seorang istri yang baik. Saya yakin itu.

Dan Alhamdulillah, tadi saya baru saja baca berita, katanya sejak iklan mbak heboh, kini sudah banyak yang menghubungi mbak. Sehari konon bisa sampai ratusan penelpon, ada yang hanya berminat membeli rumah mbak saja, pun ada pula yang berminat ingin membeli rumah sekaligus menjadi suami mbak juga. Semoga diantara sekian banyak penelpon, ada yang sreg di hati mbak.

Yah, pada akhirnya, Hanya doa yang sanggup saya haturkan untuk mbak Winalia.

Semoga rumah mbak laku, dan mbak mendapatkan suami yang mampu menjadi imam yang baik bagi keluarga mbak nantinya. Dan semoga keluarga mbak senantiasa diberikan keberkahan dan kebahagiaan (Pembaca, tolong diaminkan).

Pokoknya, sampeyan bahagia saja duluan, mbak. Saya gampang.

*Terbit pertama kali di kolom Merdeka.com, 12 Maret 2015

Sekadar Catatan Hati untuk Mbak Anindya Kusuma Putri

| Saturday, 28 February 2015 |

Kaos Palu Arit

Halo mbak Anindya Putri, Perkenalkan, nama saya Agus Mulyadi mbak. Kalau mbak masih ingat, kemarin kamis, kita sempat ketemu walau hanya sejenak di studio NET di Kampung Melayu. Saya yang waktu itu pakai kaos warna hijau mbak, pakai sandal cepit swallow. Ingat ndak mbak? Ah, sampeyan pasti ndak ingat ya mbak. Tak apa, saya memang sudah biasa dilupakan kok mbak. Apalah saya ini mbak, hanya penjepit hasduk pramuka, yang hanya penting saat dibutuhkan, dan selebihnya dilupakan begitu saja.

Jujur ya mbak, kemarin itu saya benar-benar ndak nyangka bisa ketemu sampeyan mbak. Sosok sampeyan benar-benar persis seperti di foto yang terpampang di aneka portal berita tanah air. Sampeyan cantik, tinggi, putih, langsing, juga murah senyum. Lumrah sih, namanya juga Puteri Indonesia.

Sewaktu ketemu, saya lihat, mbak benar-benar nampak sumringah. Sangat kontras dengan polemik kaos palu arit yang sedang menimpa mbak.

Agaknya mbak Anin memang wanita yang tegar. Duh, Tipe saya sekali.

Saya sebenarnya ingin ngobrol banyak lho, mbak. Pengin menanyakan perihal perasaan mbak karena omongan miring orang-orang indonesia yang sedikit banyak masih terlalu gumunan itu. Tapi apalah daya saya mbak, jangankan untuk menanyakan soal kaos palu arit, lha wong sekedar minta foto atau njaluk salaman saja saya ndak berani (iya mbak, saya memang jejaka lemah).

Tapi ndak apa, toh saya tetap bisa mengulik sedikit informasi tersebut lewat aneka media online.

Mbak Anin, tadi pagi, saya benar-benar dibuat kaget lho mbak. Saya habis baca berita, ternyata FPI (tepatnya, FPI Solo Raya) sedang berusaha untuk mempolisikan mbak karena sudah memakai kaos palu arit itu mbak. Tuduhannya lumayan serius mbak: mempengaruhi dan melakukan penyebaran paham komunis. Welha dalah mbak, yang sabar ya mbak.

Nah, yang lebih bikin saya kaget lagi mbak, adalah komentar dari Pongky Yoga Wiguna, Kuasa Hukum FPI Solo Raya kepada wartawan terkait proses pelaporan ini. Begini katanya:

“Salah satunya karena melanggar syariat karena komunis tidak mengenal Tuhan. Kami berharap karena ini diduga melanggar ketentuan pidana sehingga patut diproses dan semua yang bersangkutan, pelaku dapat ditindak tegas. Sesuai hukum yang berlaku di Indonesia,”

Aduh mbak, kalau jadi mbak, mungkin saya sudah berulang kali menyentuh jidat dengan punggung tangan sambil bilang “capek deeehhh!”

Tapi nyatanya, kita memang berbeda mbak. Sebagai Puteri Indonesia yang baik dan berbudi luhur, mbak Anin pasti berbaik sangka sama mas Pongky dan kawan-kawan ini. Ya Mungkin saja mas Pongky ini ndak tahu kalau Musso adalah anak pesantren yang taat, mungkin beliau ndak tahu kalau Tan Malaka adalah pemeluk Islam yang teguh sampai akhir hayat, dan mungkin beliau juga ndak tahu kalau DN Aidit adalah salah satu tokoh pendiri organisasi keagamaan “Nurul Islam”. Dan yang paling pasti, mungkin Mas Pongky ndak tahu kalau “Komunis=Atheis” sebenarnya hanyalah propaganda rezim Orde Baru.

Saya tahu kok mbak, kalau kaos palu arit yang mbak pakai itu adalah kaos kenang-kenangan hasil tukar souvenir dengan mahasiswa asing dari Association Internationale des √ątudiants en Sciences √ąconomiques et Commerciales (AIESEC). Ndilalah mbak berkesempatan untuk bertukar souvenir dengan mahasiswa asal Vietnam. Mbak ngasih batik, dan dia ngasih kaos palu arit itu. Jadi mbak Anin aslinya sama sekali tak bermaksud ingin menyebarkan paham komunis. Toh mbak sendiri mengakui, bahwa sampeyan adalah seorang Pancasilais.

Sebagai seorang kawan, tentu mbak rikuh jika tak memakai kaos palu arit hasil pemberian itu, Mangkanya untuk menghormati dan menyenangkan hati si pemberi souvenir, mbak lantas memakai kaos itu dan mempostingnya di sosial media.

Saya paham akan kondisi ini mbak, mangkanya saya ndak ikut-ikutan menghujat mbak seperti kebanyakan masyarakat kita yang masih phobia sama komunis itu.

Bagi saya, ini tak ubahnya seperti acara tukar kostum para pemain sepakbola sehabis berlaga. Sebagai penggemar berat Manchester United, saya sangat benci dengan Manchester City. Namun jika dalam sebuah laga derby saya melihat Wayne Rooney bertukar kostum dengan pemain City dan kemudian memakainya, tentu saya tak lantas harus membenci Rooney.

Tapi sayang mbak, banyak masyarakat kita yang menganggap tukar kaos yang mbak lakukan ini tak sesimpel tukar kostum di pertandingan sepak bola, katanya ini lebih sensitif, karena menyangkut luka masa lalu bangsa ini.

Saya sih hanya mesam-mesem saja mbak, Persetan dengan luka masa lalu. Lha Kalau alasannya memang murni karena luka masa lalu, trus kenapa mereka bisa sebegitu mempermasalahkan kaos bergambar logo palu arit, padahal di satu sisi, mereka diam saja ketika melihat banyak orang menggunakan kostum orange Van Persie atau kostum Jepangnya Shinji Kagawa. Luka masa lalu, heh? Luka masa lalu kok pilih-pilih.

Disitu kadang saya merasa asu, mbak...

Mbak, Saya sebenarnya pengin sekali mbelani mbak Anin, tapi mau bagaimana lagi, apalah saya ini mbak. Hanya katengbat kopok kuping, yang hanya merasakan kepahitan, dan selebihnya dibuang.

Lagipula, sampeyan juga salah sih mbak. Pake atribut begitu kok di Indonesia dan di post di sosmed. Ya jelas bakal heboh lah.

Tapi tenang mbak, sebagai pria sejati pelindung kaum hawa (apalagi yang cantik dan sintal seperti mbak Anindya), saya jelas tak akan membiarkan mbak melewati permasalahan ini tanpa memberikan sedikit masukan untuk mbak.

Jadi begini, kalau memang mbak Anin masih ngebet untuk memakai kaos palu arit, namun tidak ingin dianggap sebagai antek komunis. Caranya gampang mbak. Cukup tambahkan sablonan gambar linggis, cetok, tang, dan cangkul di sekeliling gambar palu arit di kaos mbak itu. Semakin banyak gambar perkakas yang mbak tambahkan, semakin berkurang pula kadar marxis sampeyan. Syukur-syukur kalau sampeyan mau menambahkan tulisan “TB. BAJA MULYA” di bawah gambar-gambar perkakas tadi. Dijamin, Mbak Anin akan terhindar dari bahaya nyinyir laten kapitalis.

Selamat mencoba ya mbak Anin, kalau butuh tukang sablon, silahkan hubungi saya, saya punya referensi yang bagus. Baik yang sablon digital maupun yang gesut.

Salam dari saya, Agus Mulyadi, anggota tidak tetap Marxis Manja Group


- - - - - - - - - -
Update:

Barusan saya dapat kiriman dari kawan saya, mas Muhammad fajar, beliau berbaik hati untuk membuatkan gambar desain kaos yang saya maksudkan untuk mbak Anin, monggo mbak Anin, silahkan dinikmati. Silahkan disablon. Matursuwun untuk mas Muhammad fajar, semoga kebaikan hati dan keseloan sampeyan menjadikan berkah untuk panjenengan. Tapi please mas Fajar, Mbak Anin tetap jatah saya...



Dapat kiriman ciamik lagi dari mas Arkaan Rewhat Prakarsa (WHTWLV @THXGOD Studio), monggo mbak Anin, silahkan dinikmati, dan disablon.

Tentang Saya

Saya Agus Mulyadi, biasa dipanggil Gus Mul (bukan lulusan pesantren seperti Gus Dur, Gus Muh, maupun Gus Mus. Gus Mul hanya akronim dari nama saya). Blogger dan Freelance Layouter. Kini berusia 23 tahun (sedang lucu-lucunya). Lahir di Magelang, hidup di Magelang, dan besar di-Dzolimi. Agak mrongos, humoris, cerewet, ceplas-ceplos, menyukai dangdut koplo, tidak terlalu bertanggung jawab. Aktif di Karang Taruna dan Komunitas Blogger Magelang Pendekar Tidar. Profil lebih lengkap, Lihat Disini
 
Copyright © 2010 Agus Mulyadi Njaluk Rabi, All rights reserved
Design by DZignine. Powered by Blogger