Menanti Ahok Show Setelah Ahok Bebas

| Wednesday, 16 January 2019 |

Jika tak ada aral yang melintang, Basuki Tjahaja Purnama a.k.a Ahok akan segera bebas murni (setelah menerima potongan remisi) pada 24 Januari 2019 mendatang. Bebasnya Ahok ini tentu bakal menjadi momen yang sangat ditunggu oleh banyak orang, utamanya para pendukungnya.

Di tengah penantian hari kebebasan Ahok ini, sudah banyak yang bertanya-tanya, apa yang akan dilakukan oleh Ahok setelah keluar dari penjara? Apakah ia akan ikut menjadi tim sukses Jokowi? Apakah ia akan kembali berbisnis? Entahlah. Sejauh ini, belum ada yang tahu pasti, namun sudah banyak dugaan-dugaan yang hadir terkait dengan pilihan kesibukan yang akan dipilih oleh Ahok.

Salah satu pilihan yang kemungkinan bakal dipilih oleh Ahok adalah pilihan sebagai seorang pembawa acara.

Hal tersebut dikuatkan oleh pernyataan Ahok yang pernah mengatakan bahwa dirinya tak ingin berkecimpung lagi di dunia politik dan akan melanjutkan program Ahok Show yang dulu pernah ia bawakan.

“Saya sudah putuskan, selesai ini saya akan jadi pembicara saja. Enggak masuk partai politik, enggak mau jadi menteri, enggak jadi staf presiden, semua enggak,” ujar Ahok pada awal Mei tahun lalu. “Aku mau bikin Ahok Show dengan salah satu stasiun televisi. Tapi dengan revenue sharing ya. Jadi kalau terima iklan berapa, bagi saya lah, 20-30 persen. Kita ngajar aja, jadi mendidik saja,” kata Ahok sambil sedikit merenges.

Rencana Ahok untuk menghidupkan kembali menghidupkan Ahok Show ini tentu saja menjadi kabar baik bagi insan hiburan tanah air.

Setiadaknya, ada banyak hal yang membuat Ahok Show bakal menjadi penanda banyak hal yang menyenangkan.

Pertama, jika memang Ahok Show benar-benar terlaksana, tentu ia akan menjadi acara yang unik, laris, dan tentu saja sangat menghibur. Unik karena ini soal Ahok. Laris sudah pasti. Nama besar Ahok tentu bisa dengan mudah menarik banyak pemirsa.

Apakah ia bisa menghibur? Jangan tanya lagi. Urusan menghibur, Ahok jagonya. Nggak percaya? Coba lihat video Ahok joget chaiya-chaiya ini.


Sumpah, saat menonton video tersebut, saya ngakak setengah mati, Ternyata, ada yang lebih lucu ketimbang joget patah-patahnya Prabowo.

Kedua, Hadirnya Ahok Show tentu akan menjadi acara yang begitu terbuka, keras, frontal, dan tajam.

Masyarakat sudah rindu dengan hadirnya talkshow yang seperti ini, sebab. Memang belum banyak host yang berani dengan blak-blakan menelanjangi narasumbernya, apalagi dengan kata-kata pedas bak nasi Padang berkaret dua.

Bayangkan, dalam salah satu sesi, Ahok Show menampilkan M Taufik, politisi mantan koruptor yang nekat ingin daftar jadi caleg itu.

“Fik, lu kan mantan koruptor nih ya, kok lu masih aja ngebet daftar jadi caleg, sih? Bajingan bener, Lu.” Kata Ahok

Taufik tentu bakal agak keder, namun ia kemudian menjawab dengan jawaban defensif namun kuat, “Ya itu kan hak warga negara, Hok, lagian sekarang MA juga sudah mengesahkan aturan kalau mantan koruptor boleh nyaleg.”

“Ya itu kan karena elunya aja yang ngeyel dan bikin acara gugat-gugatan segala, bajingan bener, Lu.”

“Ya trus lu maunya apa, Hok?”

“Ya nggak mau apa-apa, cuma pengin bilang bajingan aja sama lu!”

Percakapan keras macam itu kemungkinan hanya bisa muncul dalam acara talkshow di mana Ahok jadi presenternya. Lha gimana nggak, tagline acaranya saja sudah bikin keder kaki: “Ahok Show, mengupas isu setajam neneklu!”

Maka, jangan heran jika hanya di acara Ahok Show-lah Edy Rahmayadi tidak akan banyak berkutik.

“Bung Edy, Bung kan menjadi gubernur Sumatera Utara, apakah Anda merasa terganggu ketika tugas Anda, tanggung jawab Bung menjadi Gubernur dan juga menjadi ketua umum PSSI? Apalagi kemarin sempat ada desas-desus pengaturan skor yang beberapa waktu lalu sempat menggoyang PSSI” Tanya Ahok.

Edy kemudian menjawab ketus, “Apa urusan Anda menanyakan itu?”

“Ebangsat, ditanya baik-baik malah nyolot, gua beri juga, nih…”

Begitu tahu kalau host-nya ternyata lebih galak, Edy kemudian menghaluskan gaya bicaranya, “Ehm… maap, maap, Bang. Saya kira situ Aiman Kompas tipi. Sekali lagi, saya minta maap.”

Ketiga, Ahok Show bakal jadi pelopor hijrah banyak profesi lain menjadi pembawa acara. Selama ini kita sudah mengenal banyak pelawak yang jadi pembawa acara seperti Sule atau Tukul Arwana, kemudian wartawan yang jadi pembaca acara seperti Najwa Shihab, lalu ada lawyer yang jadi pembawa acara seperti Hotman Paris, sampai pesulap yang juga beralih rupa jadi pembawa acara seperti Deddy Corbuzier.

Hadirnya Ahok ini tentu akan memicu gelombang hijrah besar-besaran.

Nantinya, bukan hanya mantan kepala daerah yang beralih menjadi Pembawa acara. Tapi juga pensiunan jenderal, anggota DPR, bahkan kalau perlu, mantan presiden.

Terbayang betapa serunya jika kelak SBY punya acara talkshow dengan dirinya sendiri yang jadi pembawa acara. Ia bisa menyalurkan hasrat komentar sekaligus bakat bermusiknya.

Nama acaranya tentu saja: Bincang dan Dendang bersama Pak Bambang.

Tagline acaranya tak kalah yahud: Menyibak fenomena dengan prihatin.

Menyambut Kembalinya Mata Pelajaran PMP

| Sunday, 23 December 2018 |

Kementerian Pendidikan dalam waktu dekat berencana akan menghidupkan kembali mata pelajaran Pendidikan Moral Pancasila atau yang sering disingkat sebagai PMP.

Sebagai manusia yang cukup pancasilais (dan juga pernah menulis buku berjudul “Jomblo tapi Hafal Pancasila”, saya tentu saja menjadi salah satu orangy di barisan terdepan yang setuju kalau mata pelajaran PMP dihidupkan kembali.

Ini bukan karena saya rindu orba lho ya. Ini murni soal rasa kasihan saya sama para siswa.

Di tengah kondisi pendidikan yang begitu keras dan kompetitif, di mana soal kelas 3 SD jaman sekarang sudah seperti soal kelas 2 SMP jaman dulu, PMP tentu bisa menjadi oase yang menyejukkan.

Ada banyak mata pelajaran yang dipelajari oleh siswa. Dari sekian banyak mata pelajaran, pada masanya, PMP menjadi mata pelajaran yang paling dicintai oleh banyak siswa.

Sebabnya tentu saja karena soal-soal PMP memanglah soal yang normatif yang, bahkan tanpa perlu belajar pun, segoblok apa pun, siswa akan bisa mendapatkan nilai minimal 8.

Lha gimana, soal PMP itu mentok ya soal-soal yang seperti ini:

Jika kawan kamu terjatuh dari sepeda, apa yang akan kamu lakukan?

a. Menolong
b. Menertawakan
c. Mengambil sepedanya.

Saya yakin, siswa-siswa Indonesia tidak cukup jahat untuk memilih jawaban B dan C.

Yah kecuali kalau memang siswa-siswa Indonesia semuanya punya sifat kayak Bombom, saudara tirinya Lala itu.

Belanja dan Digabung

| Friday, 7 December 2018 |

Kalau saya sedang bersama Kalis dan saya mampir ke Indomaret, Kalis yang biasanya tak berniat untuk membeli apa-apa kemudian ikut masuk ke dalam dan lantas membeli beberapa makanan atau minuman. Biasanya Yakult, frestea, atau makanan ringan.

Saat akan mau bayar, Kasir biasanya bertanya, “Mau digabung atau dipisah?”

Sebagai lelaki, tentu saja saya menjawab digabung. Masak saya tak mau membayari belanjaan pacar sendiri yang biasanya cuma Frestea sama beng-beng itu. Wong ya paling mentok cuma sepuluh ribu.

Saya lantas mengeluarkan uang dan kemudian membayar semuanya.

Begitu pula saat kami berdua berbelanja buku di toko buku. Kalis biasanya ambil Majalah Tempo. Di kassa, saat Kasir bertanya notanya mau digabung apa dipisah, tentu saya langsung jawab dengan tegas. “Digabung.”

Masak saya pelit kalau cuma sekadar membelikan majalah Tempo buat Kalis. Wong ya harganya paling berapa.

Ha lelaki, je.

Saya lantas mengeluarkan uang dan kemudian membayar semuanya.

Kebiasaan itu berlanjut tadi siang saat saya memesan celana di Eagle Jeans. Di sana, melihat bahan jeans yang terlihat menarik, Kalis kemudian tertarik untuk ikut bikin.

Di depan kassa, Kalis mengeluarkan dompetnya, bersiap untuk membayar. Kasir kemudian bertanya, “Ini notanya mau digabung apa dipisah?”

Saya yang berdiri tak jauh dari Kalis reflek menjawab, “Digabung!”

Kalis Tampak sumringah. Saya tak tahu kenapa ia begitu sumringah. Begitu notanya jadi, barulah saya paham kenapa Kalis begitu sumringah.

Ternyata Kalis pesan 3 celana, habisnya 600 ribu.

Saya yang sudah kadung bilang “Digabung” tak mungkin menarik ucapan saya. Ini soal harga diri.

Sepanjang perjalanan pulang, saya mbesengut nggak karuan. Sedangkan kalis prengas-prengas sepanjang jalan.

Ah, Seandainya saya bisa lebih bijak, hari ini seharusnya saya bisa berhemat 600 ribu.

Tentang Saya

Saya Agus Mulyadi, biasa dipanggil Gus Mul (bukan lulusan pesantren seperti Gus Dur, Gus Muh, maupun Gus Mus. Gus Mul hanya akronim dari nama saya). Blogger dan Freelance Layouter. Kini berusia 24 tahun. Aktif di Karang Taruna dan Komunitas Blogger Magelang Pendekar Tidar. Profil lebih lengkap, Lihat Disini

Tambahkan saya di Google+

 
Copyright © 2010 Agus Mulyadi Blog , All rights reserved
Design by DZignine . Powered by Blogger