Antara Saksi dan Hansip Pemilu

| Monday, 7 April 2014 |

Rabu mendatang, Pemilihan umum legislatif sudah mulai dilaksanakan. Dan untuk kesekian kalinya, saya lagi-lagi mendapat tugas sebagai saksi. Kelihatannya saksi memang sudah menjadi jalan hidup saya.

Saksi pemilu bukanlah pekerjaan/posisi yang bonafit dan mentereng, karena untuk mencapainya, tak perlu ijazah tinggi, patokan IP, atau aneka persyaratan akademik lainnya, yang penting asal bisa baca tulis dan mengerti mekanisme pemilihan umum. Tampang dan penampilan pun tak perlu menarik seperti layaknya SPG ataupun petugas front office (tapi kalihatannya, kalau saksinya cakep-cakep, si caleg mungkin bisa sedikit bangga), nyatanya saya yang dekil dan penuh daki ini saja tetap ada yang nyuruh saya jadi saksi kok.

Namun kedatipun tak bonafit, tetap saja banyak orang yang tertarik menjadi saksi. Maklum saja, honor sebagai saksi terbilang tinggi jika dibandingkan dengan pekerjaanya. Boleh dibilang, Saksi itu kerjaanya hanya duduk dari pagi sampai sore hari, dan dibayar kira-kira seratus ribu rupiah.

Dan tentu dengan honor segitu, saya sangat-sangat tertarik, maklum lah, uang segitu bagi saya sudah cukup besar nilainya. Kalo dibelikan torabika Sachet, bisa dapet 100 sachet Torabika Moka dan 50 sachet Torabika Susu. Cukup untuk persedian begadang hingga 50 hari kedepan.

Untuk pemilu 9 april kali ini, saya ditawari oleh tiga timses caleg untuk menjadi saksi, pertama dari Gerindra, kedua Demokrat, dan ketiga PKS. Namun kendatipun saya adalah seorang simpatisan PKS, tawaran yang saya terima justru yang dari timses Gerindra, soalnya yang dari Gerindra inilah yang pertama kali menawari saya. Dan hal ini membuat saya otomatis terdaftar sebagai anggota partai Gerindra (Ah, rupanya begini rasanya menjadi Simpatisan PKS yang suka Jokowi dan terdaftar sebagai anggota Gerindra).

Oiya, Saya sempat juga diusulkan untuk menjadi anggota KPPS, namun saya sama sekali tak berminat, saya jauh lebih tertarik menjadi saksi, maklum, anggota KPPS kendatipun honornya jauh lebih besar daripada saksi (bisa sampai 3-4 kali lipat daripada honor saksi), namun kerjaanya cukup berat: harus mendata ini itu, apel, tanda tangan berkas berbundel-bundel, menyiapkan aneka dokumen, setor laporan, rapat koordinasi, menyiapkan kelengkapan TPS, dan sederet tugas njlimet lainnya. Kalau jadi saksi kan tugasnya enteng, tinggal datang, apel, nyatet perolehan suara, trus laporan. Sudah, itu saja. Yah, beda harga tentu beda kerja.

Selain saya, adik perempuan saya juga ditawari menjadi saksi, Tapi kalau adik saya jadi saksi untuk caleg partai Demokrat... Duhhh malangnya dirimu dik. #Eh

Kalau bapak saya lain lagi. Kendatipun sempat ditawari jadi saksi, tapi bapak tetap ngotot pada peran andalan-nya: Hansip alias Linmas.

"Pokoke Ra Hansip Ora!", begitu kata bapak.

Entah sejak kapan bapak punya jiwa hansip yang sedemiian militan, tapi yang jelas, sejak saya kecil, bapak sudah setia mengawal jalannya pesta demokrasi sebagai seorang Hansip, entah itu pemilihan umum nasional, pemilihan lurah, atau bahkan pemilihan kadus sekalipun. Seperti sudah ada chemistri tersendiri antara bapak dengan si seragam hijau rumput. Seakan-akan, pemilu belum sah kalau bapak saya belum jadi hansipnya.

Kata bapak, jadi Hansip itu enak. "Hansip itu seperti polisi: tugasnya mengamankan, namun kadang bisa bertindak seenak hati, nggaya, kadang kementhus, kadang kemlinthi. Bedanya, hansip ndak pernah dibenci seperti masyarakat membenci polisi!" (mungkin karena hansip ndak pernah nilang kali ya?).

Alasan yang kurang bermutu, tapi cukup bisa diterima. Karena memang setahu saya, sejak jamannya Bokir jadi Hansip di film Suzanna, hansip seolah menjelmakan citranya sebagai sahabat, pengaman, dan penghibur masyarakat. Karenanya jangan heran jika di sinetron-sinetron jaman sekarang, peran hansip selalu diemban oleh tokoh-tokoh lucu dan kocak.

"Selain itu gus, setiap ada hajatan pemilihan umum, hansip selalu dikasih sepatu PDL baru, kalau perhelatan acara yang diamankan sudah selesai, sepatu tersebut kan bisa dijual lagi. Sudah honornya lumayan, masih ditambah uang hasil penjualan sepatu lagi, untungnya jadi ndobel tho?", tambah bapak.

Ah, kelihatannya enak juga jadi hansip. Mungkin di Pemilu berikutnya, saya harus coba jadi hansip. Soalnya bosan juga lama-lama kalau jadi saksi terus.

Lagipula kelihatannya, saya ndak jelek-jelek amat kalau jadi hansip.

Agus Hansip

Sekilas Tentang Saya

Saya Agus Mulyadi, biasa dipanggil Gus Mul (bukan lulusan pesantren seperti Gus Dur, Gus Muh, maupun Gus Yusuf, Gus Mul hanya akronim dari nama saya). Blogger dan Freelance Layouter. Lahir di Magelang, hidup di Magelang, dan besar di-Dzolimi. Agak mrongos, humoris, cerewet, ceplas-ceplos, menyukai dangdut koplo, tidak terlalu bertanggung jawab, Penggemar berat Pangkur Jenggleng, Manchester United, Mela Barbie, dan busana 80-an. Profil lebih lengkap, silahkan lihat Disini
 
Copyright © 2010 Agus Mulyadi Njaluk Rabi, All rights reserved
Design by DZignine. Powered by Blogger