Kekecewaan pada Sebuah Kekaguman

| Monday, 25 May 2015 |

Membuat kawan kita terkagum-kagum dengan sesuatu yang sangat kita banggakan ternyata memang bukan hal yang mudah. Butuh usaha keras, dan kadang harus disertai dengan kebejoan pula.

Dulu, sewaktu kecil, saya pernah mengajak Rudi, kawan sepermainan saya untuk berkunjung ke rumah nenek saya di kaliangkrik, sebuah daerah yang berada di lereng gunung Sumbing.


Salah satu sudut Kaliangkrik, via santridanalam.blogspot.com

Bukan tanpa sebab saya mengajak Rudi main ke rumah nenek, selain untuk menemani saya mengambil pesanan marmut, saya juga ingin membuat Rudi merasa takjub dengan keindahan alam pegunungan yang ada di kampung nenek saya.

Namun sesampainya di kampung nenek saya, apa yang saya harapkan ternyata jauh dari ekspektasi. Rudi sama sekali tidak terkagum-kagum dengan keindahan alam di kampung nenek saya. Agaknya, pemandangan pegunungan yang hijau dengan hamparan sawah yang luas memang masih terlalu umum untuk dikagumi.

Saya tak habis usaha dan tak mau menyerah begitu saja.

Saya pun kemudian mengajak Rudi turun ke sungai di dekat rumah nenek saya, Kali Kanci, begitulah warga sekitar menyebutnya. Saya yakin, Kesegaran dan kejernihan air Kali Kanci pasti akan membuat Rudi terkagum-kagum.

Namun hasilnya kembali nihil. Rudi tak menampakkan wajah kekaguman sedikitpun.

Saya mulai kecewa. Ternyata tak ada yang istimewa dari kampung nenek saya ini di mata Rudi.

Hingga pada suatu titik, Rudi memanggil saya dengan penuh antusias.

“Gus, cepetan sini!”

“Ada apa Rud?” kata saya seraya menghampiri Rudi yang terlihat nampak begitu sumringah

“Lihat, ada anakan ikan lele banyak banget!” kata Rudi sambil menunjuk pada sebuah kubangan di salah satu bagian sungai.

Dengan Jumawa saya menjawab “Wah, kalau cuma anakan lele, disini memang banyak Rud!”

“Wah, gila ya, banyak sekali anakan lele-nya, kalau di kampungku, anakan lele sebanyak ini pasti sudah diambili trus dijual!”

“Kalau disini ndak Rud! soalnya orang-orang disini ndak terlalu suka sama lele!” kata saya menerangkan seolah-olah anakan lele yang begitu dikagumi oleh Rudi itu tampak tak berharga bagi orang-orang di kampung nenek saya.

Tanpa sadar, harapan saya kembali membuncah.

Akhirnya, ada juga sesuatu dari kampung nenek saya yang bisa membuat Rudi terkagum-kagum. Rupanya Rudi begitu kagum dengan banyaknya anakan Lele yang ada di Kali Kanci. Yah, walau cuma karena anakan lele, tapi setidaknya, ada sesuatu yang bisa saya banggakan dari kampung nenek saya.

Dalam perjalanan pulang, saya tak henti-hentinya tersenyum. Tersenyum karena misi saya untuk membuat Rudi terkagum-kagum pada kampung nenek saya setidaknya bisa terlaksana.

Namun di satu sisi, saya juga merasa sedih. Sedih karena anakan lele yang dilihat oleh Rudi di Kali Kanci tadi sebetulnya adalah...

Kecebong... Ya, Kecebong.

Kiriman Yang Mengejutkan

| Thursday, 14 May 2015 |

Beberapa waktu yang lalu, sekira pagi menjelang siang, saya ditelpon sama pegawai pos, katanya sih mau tanya ancer-ancer rumah saya, soalnya ada paket kiriman.

“Depan pintu 2 perumahan Akademi militer Panca Arga pak, masuk, perempatan pertama dekat mushola, tanya saja sama orang daerah situ, Saya orangnya cukup populer kok pak! mustahil kalau sampai ada yang tidak tahu siapa itu Agus Mulyadi, pak!”, begitu jawab saya kira-kira. #UmukSithikRapopo

Kebetulan, hari itu saya tidak sedang di rumah, jadi kemungkinan paket tersebut bakal diterima sama nenek saya yang sehari-harinya berada di rumah.

Sore harinya, begitu saya pulang ke rumah, adik saya memberitahukan tentang adanya paket kiriman. Walau saya sebenarnya sudah tahu, tapi saya pura-pura terperanjat, yah, minimal agar adik saya merasa punya jasa karena telah memberitahu saya perihal paket kiriman tersebut.

Kirimane saiki ning kamare Mbok'e (nenek),” kata adik saya

Saya langsung bergegas meminta kiriman tersebut kepada nenek saya.



Kiriman tersebut berupa amplop coklat seukuran amplop gajian. Saya berusaha menebak, apa isi amplop tersebut. Mungkinkah isinya uang? atau wesel? atau cuma remah-remah rindu yang sudah lapuk dimakan waktu? ah, daripada terus penasaran, akhirnya saya buka saja amplop tersebut. Nenek saya ikut menyaksikan prosesi pembukaan paket punya saya itu, karena nenek saya ternyata juga penasaran, apa isi amplop tersebut. Nenek bahkan sudah punya prediksi, kalau isi amplop tersebut kemungkinan adalah duit atau cek.

Dan begitu saya buka dan saya lihat isinya. Ternyata isi amplop tersebut adalah...



Sikat gigi, ya... Sikat gigi...

Saya pun tercekat, sedangkan nenek saya tertawa histeris.

Saya kemudian memegang sikat gigi bermerk Pepsodent tersebut seraya merenung dan berfikir keras, “Apa maksud PT Unilever mengirimkan satu buah sikat gigi ini kepada saya?”

Setelah cukup lama merenung, akhirnya saya tersadar dan ingat, bahwa beberapa waktu yang lalu saya pernah iseng ikut kuis yang diselenggarakan oleh Tanyapepsodent.com yang berhadiah satu buah sikat gigi, Kemungkinan, sikat gigi ini memang hadiah dari kuis yang saya ikuti beberapa waktu yang lalu itu.

Dan benar saja, setelah membaca pesan yang juga disertakan di dalam amplop, ternyata, saya memang terpilih menjadi salah satu pemenang yang berhak mendapatkan satu buah Sikat gigi Pepsodent deep clean.



Hahaha, Agaknya, Hanya PT Unilever lah satu-satunya perusahaan yang menyadari benar, bahwa gigi saya adalah aset yang sangat berharga.

*Tuh dek, Kamu ndak malu apa sama Unilever? Unilever aja bisa peka sama gigiku, masa kamu ndak bisa peka sama hatiku?

Tiga Pelajaran Asmara dari Kekalahan Manny Pacquaio

| Wednesday, 13 May 2015 |

Pacquaio Mayweather

Pertarungan abad ini antara Manny Pacquiao melawan Mayweather Jr memang sudah berlangsung lebih dari seminggu yang lalu. Namun hingga kini, masih saja banyak orang yang terus membicarakan tentang pertarungan tersebut, terutama tentang kekalahan Pacquaio yang dinilai penuh intrik dan manipulatif. Ini wajar saja, namanya juga supporter (Hal ini sesuai dengan hukum olahraga no.241: “Supporter berhak nyocot”). Padahal Pacquiao sendiri sebagai pihak yang kalah sudah mengaku legowo dengan kekalahannya tanpa harus menggugat ke MK.

Jujur saja, saya ini sebenarnya tidak terlalu suka dengan olahraga tinju, maklum saja, saya ini kan pria yang terlalu berperasaan, jadi suka ndak tegaan kalau harus melihat dua manusia saling hantam dan saling menyakiti satu sama lain. Saya lebih suka olahraga catur, olahraga yang bagi saya lebih menjunjung prinsip welas asih, olahraga yang penuh dengan nuansa pengorbanan, saling serang dan saling tikung, namun tak ada satu insan pun yang tersakiti.

Mangkanya, begitu ada kabar heboh soal pertarungan mas melawan Mayweather, saya tidak terlalu antusias. Saya ngetwit soal tinju pun semata biar dikira mengikuti perkembangan timeline. Lha habis banyak yang ngomongin tinju sih, jadi mau nggak mau saya harus ikut-ikutan, biar dianggap kekinian.

Beruntung bapak saya dulu pernah jadi petinju amatir, sehingga saya jadi punya sedikit pengetahuan soal tinju. Jadi kalau ngetwit soal tinju, ndak terlalu kelihatan awam-awam banget lah.

Mengikuti tren masyarakat, saya juga tertarik ingin membahas tentang kekalahan Pacquaio, tapi jelas bukan tentang hal teknis seperti yang dibahas oleh kebanyakan orang. Saya akan mencoba membahas tentang pelajaran-pelajaran asmara yang bisa diambil dari kekalahan Pacquaio. Apa sajakah? Monggo

1. Mujur tak selalu milik Protagonis.

Selain karena alasan “sesama warga asia tenggara”, alasan lain yang membuat saya ikut mendukung Pacquaio adalah karena si Mayweather lawannya si Pacquaio itu kemlinthi-nya minta ampun. Sumpah, andai keadaannya memungkinkan, ingin rasanya saya menggantikan posisi Pacman untuk bertarung melawan si Mayweather itu. (walau tentu itu mustahil, jangankan meninju wajah si Mayweather, untuk menghalau hantaman kenangan saja saya tak mampu).

Tapi sial, orang yang saya anggap kemlinthi dan menyebalkan itu ternyata menang melawan jagoan saya, Pacquaio. Gaya permainan Mayweather yang taktis dan defensif ternyata mampu meredam permainan menyerang khas Pacman. Ia pun akhirnya menang angka, cukup telak bahkan.

Hasil ini tentu tak terlalu menyenangkan, mengingat banyak sekali yang berharap agar Pacquaio yang menang, bukannya si Mayweather.

Pada akhirnya, kekalahan Pacquiao ini menyadarkan kita, bahwa tak selamanya yang kemlinthi dan menyebalkan itu bakal bernasib buruk. Ada kalanya seseorang yang dianggap menyebalkan dan kemlinthi justru mempunyai peruntungan yang baik dalam banyak hal.

Saya punya seorang kawan, yah, sebut saja namanya Songep. Si Songep ini orangnya kemlinthi dan menyebalkan sekali, banyak omong, lagi tidak jenaka. Tapi herannya, hampir setiap anggrek desa yang baru mekar bisa ia taklukkan hatinya dengan sangat mudah. Pokoknya, Setiap wanita yang ia pacari tidak pernah tidak cantik. Minimal nilainya 8 dari maksimal 10.

Sedangkan saya, sosok pria yang notabene adalah pribadi yang rendah hati dan menyenangkan, nasibnya justru tak semujur si Songep. Jangankan pacar cantik, untuk sekadar punya pacar yang standar saja saya susah.

Ternyata memang benar adanya, Mujur tak selalu milik kaum protagonis.

2. Jangan terlalu lena dengan kekuatan doa

Pacquaio dikenal sebagai petinju yang taat beribadah. Ia rajin membaca kitab suci, dan yang paling utama, ia senantiasa berdoa sebelum bertanding. Dengan trek record rohani seperti itu, jangankan masyarakat, Tuhan pun saya rasa akan ikut mendukung Pacquaio untuk menang saat bertanding melawan Meayweather.

Nyatanya, Pacquaio kalah. Doa-nya ternyata tak mampu menolongnya untuk memenangkan pertandingan. Ooooo, Tidak… tidak, saya tidak sedang meng-underestimate-kan kekuatan doa. Saya hanya sedang ingin memberitahukan poin yang kedua, bahwa tak selamanya seluruh perkara bisa selesai hanya dengan doa.

Gusti Alloh SWT memang senang kalau kita senantiasa berdoa kepada-Nya, karena itu menandakan, kita para manusia sadar diri sebagai makhluk yang senantiasa bergantung kepada Tuhannya. Namun begitu, perlu digarisbawahi, bahwa Tuhan juga berhak untuk mengabulkan atau menolak doa kita. Karena bagaimanapun, Tuhan tahu apa yang terbaik untuk kita.

Mungkin Pacquaio memang sengaja dibuat kalah oleh Tuhan agar dirinya tetap rendah hati. Karena bukan mustahil tho, kalau Pacquaio menang lalu ia malah berubah menjadi pribadi yang sombong dan gayanya sama-sama kemlinthi seperti Mayweather?

Nah, begitu juga dengan kita. Kita jangan terlalu mudah lena dengan kekuatan doa. Jangan terlalu yakin si doi bakal mendadak cinta sama kita hanya karena kita terus-menerus berdoa. Berdoa adalah perkara kita, sedangkan urusan hasil, itu urusan Tuhan.

Nyatanya, kita memang sering mendapati fakta, bahwa preman sekolah yang petakilan terkadang lebih mudah untuk mendapatkan pacar ketimbang anak-anak Rohis yang jadwal berdoanya mungkin lebih rutin ketimbang jadwal ngetwitnya Arman Dhani.

Coba bayangkan, berapa jumlah laki-laki yang pernah berdoa meminta kepada Tuhan agar bisa menjadi suami Dian Sastro? saya kira jumlahnya puluhan ribu, atau bahkan ratusan ribu. Toh nyatanya, yang jadi Suami Dian sastro tetaplah hanya satu orang, Ya si Indraguna Sutowo itu (Ciamik kali kau punya nasib bro!).

Dan ini adalah keniscayaan. Maka, tugas kita sebagai makhluk hanyalah bisa pasrah dan khusnuzon kepada sang maha Pencipta.

Kalau memang kita sudah berdoa dan ternyata tak berjodoh dengan si doi, yah, mungkin Tuhan memang ingin memberikan pasangan yang lebih baik. (maksudnya pasangan yang lebih baik… untuk dia, hehehe) atau mungkin Gusti Alloh memang sedang ingin menguji seberapa tangguhkah kita dalam usaha mengejar cinta.

Bisa jadi, Gusti Alloh memberikan kesempatan membujang yang lebih lama agar kita bisa belajar untuk meningkatkan kedewasaan kita. Bisa jadi, Gusti Alloh tidak memberikan kita pacar agar kita senantiasa terjaga dari fitnah. Atau bisa jadi, Gusti Alloh sengaja tidak memberikan kita pacar agar kita bisa lebih fokus untuk menjaga kedaulatan dan stabilitas nasional Negara kesatuan republik Indonesia ini. Bisa jadi tho?

So, Sekali lagi, jangan terlalu lena dengan kekuatan doa.

3. Menyerang saja belum cukup, bermain cantik lah

Pacquaio kalah. Ini di luar perkiraan. Karena selama pertandingan, Pacquaio terlihat lebih banyak menyerang ketimbang Mayweather (yang oleh banyak orang disebut lebih banyak berlari dan memeluk ketimbang memukul). Berkali-kali Pacquaio berhasil memojokkan Mayweather dengan jab, hook, maupun uppercut mautnya. Mayweather seakan limbung dalam pertahanannya. Mayweather terlihat tak berkutik karena hanya bisa sesekali menyerang balik.

Namun perlu diingat, walaupun Pacquaio banyak menyerang, namun pukulannya banyak yang meleset alias tidak mengena. andaipun kena, pukulannya tidak tandas. Sedangkan Mayweather memang sedikit menyerang, pukulannya jarang, tapi nyaris di setiap pukulan baliknya selalu telak mengenai sasaran, dan karena itulah ia mendapat poin mutlak. Dan pada akhirnya, ia lah yang keluar sebagai pemenang.

Teknik seperti ini tentu berlaku pula dalam dunia asmara.

Untuk mengejar perempuan, Kita butuh bermain cantik, bukan sekadar bermain menyerang secara beringas dan membabi buta tanpa meninggalkan kesan dan makna. Jangan seperti lelaki tanggung bulan yang cuma berani mbribik-mbribik halus, berlagak manis dan sok polos, malu-malu asu, padahal hasilnya: Nol besar.

Cobalah bermain cantik seperti kawan saya Nody Arizona, yang mampu bermain taktis ala catenacio, bermain kalem, kelihatannya tak pernah menyerang, tapi sekali ia menyengat, wanita manapun pasti akan dibuat menggelinjang dan menggeliat.

Lha kalau saya sendiri?

Saya sendiri? Please deh barbie. Saya ini pria flamboyan, jadi saya tidak bermain menyerang ataupun bermain cantik. Dalam asmara, Saya selalu menempatkan diri sebagai obyek, bukan subyek. Jadi, saya tak pernah berusaha untuk mengejar wanita, biarlah wanita yang mengejar-ngejar saya.

Karena Sekali lagi, saya ini tipe pria flamboyan.

Tentang Saya

Saya Agus Mulyadi, biasa dipanggil Gus Mul (bukan lulusan pesantren seperti Gus Dur, Gus Muh, maupun Gus Mus. Gus Mul hanya akronim dari nama saya). Blogger dan Freelance Layouter. Kini berusia 23 tahun (sedang lucu-lucunya). Lahir di Magelang, hidup di Magelang, dan besar di-Dzolimi. Agak mrongos, humoris, cerewet, ceplas-ceplos, menyukai dangdut koplo, tidak terlalu bertanggung jawab. Aktif di Karang Taruna dan Komunitas Blogger Magelang Pendekar Tidar. Profil lebih lengkap, Lihat Disini
 
Copyright © 2010 Agus Mulyadi Blog , All rights reserved
Design by DZignine . Powered by Blogger