Sekedar Panjat Pinang

| Sunday, 17 August 2014 |

Panjat Pinang alias Menek Jambe, sejenis lomba tujuh belasan paling khas nomor dua setelah lomba makan krupuk. Sebuah konsep lomba yang cukup nracak, karena harusnya, Dipinang dulu, baru boleh dipanjat, bukan sebaliknya.

Sudah dua tahun ini, Kampung saya mengadakan lomba Panjat Pinang untuk memeriahkan perayaan acara HUT Kemerdekaan Indonesia. Katanya lomba ini menyedot cukup banyak animo warga, sehingga panitia HUT Kemerdekaan Dusun saya ketagihan untuk menyelenggarakannya kembali tahun ini.

Sebenarnya agak kurang tepat juga sih kalau dibilang Panjat Pinang, karena tiang pancang yang digunakan bukan dari batang pohon pinang, melainkan bambu petung, jadi lomba ini sejatinya lebih tepat kalau disebut sebagai Panjat Petung. Tapi yah, mau bagaimana lagi, Pinang memang sudah kadung nge-brand sebagai ajang panjat-panjatan di Agustusan, mungkin sama ngebrand-nya seperti Aqua untuk air mineral atau Sanyo untuk mesin penyedot air. Jadi untuk kedepannya, saya akan tetap menggunakan istilah Panjat Pinang ya.

Lomba Panjat pinang ini agaknya mendapat porsi perhatian yang lebih di kampung saya, hal ini terlihat dari aturan baku yang mewajibkan masing-masing RT untuk mengirimkan delegasinya untuk mengikuti lomba panjat pinang ini. Satu RT minimal enam orang.

Sayang, untuk RT kami, jumlah enam orang ini adalah jumlah mati yang sangat susah untuk dipenuhi. Disaat RT lain mengirimkan 8-10 orang, RT kami justru kesulitan mencari pemain, karena setelah didata, hanya ada 5 pemuda yang bersedia untuk mewakili RT kami menjadi peserta.



Dengan pertimbangan yang sedemikian rumit, akhirnya panitia memberikan keringanan untuk RT kami untuk ngebon satu pemain asing alias pemain luar. Maka, Kuncung, tetangga saya beda RW pun akhirnya dinaturalisasi dan didaulat untuk menjadi salah satu peserta mewakili RT kami.

Bukan hal yang mudah untuk meyakinkan kuncung agar mau menjadi bagian dari Tim Panjat Pinang RT kami, Kuncung butuh ditipu terlebih dahulu dengan iming-iming hadiah beberapa ekor cempe (anak kambing) sebagai hadiah utama lomba Panjat Pinang, padahal aslinya, untuk hewan ternak, panitia hanya menyediakan beberapa ekor ayam pedaging sebagai hadiah.

Tim dari RT kami sempat menjadi bahan nyinyiran, maklum saja, sebab dari enam peserta yang mewakili, lima diantaranya punya tato, Tato si Kuncung bahkan hampir penuh di sekujur tubuh.

"Wah, RT residivis, RT Nusakambangan!", kata salah seorang warga yang kemudian disambut dengan gelak tawa warga lainnya. Saya agak kesal dengan cibiran itu, tapi saya pun mau tak mau memang harus mengamininya, karena saat seluruh anggota tim dari RT kami berbaris, sungguh tak ubahnya seperti narapidana yang sedang menunggu panggilan aparat.



Singkat kata, perlombaan pun dimulai. Masing-masing perwakilan regu mengambil nomor undian dan mulai mencoba menaklukkan si batang petung yang sudah dilumuri dengan oli.

Satu per satu regu bergantian mencoba untuk membentuk tangga manusia agar bisa mencapai ujung tiang petung. Namun satu per satu pula regu yang mencoba bertumbangan. Agaknya memang tak mudah untuk bisa mencapai pucuk petung dalam durasi waktu yang ditentukan. Batang yang keras dan licin itu benar-benar tak mudah untuk ditaklukan. Sungguhpun dengan aksi yang begitu hardcore dan spartan.

Hampir satu jam, tak jua ada regu yang berhasil mencapai ujung petung. Para penonton terus saja bersorak tiap kali ada regu yang gagal. Sorakan penonton akan semakin menggila saat ada pemain yang celananya terkoyak sampai nampak bongkahan pantat hitamnya.

Tim RT kami boleh dibilang adalah salah satu tim dengan performa terbaik. Kuncung tampil amat gemilang, ia beraksi bak tupai kelaparan. Sayang, beberapa personel lain agaknya tak bisa mengimbangi kegemilangan Kuncung, hingga sampai beberapa kali percobaan, ujung petung belum jua bisa dicapai.


Panitia akhirnya memberi kelonggaran durasi, yang tadinya hanya satu setangah menit per angkatan, sekarang ditambah menjadi dua menit per angkatan.

Penambahan waktu ini rupanya memberi pengaruh yang cukup besar. Dengan waktu dua menit, ada beberapa regu yang hampir mencapai puncak petung, satu regu bahkan sudah sempat menyentuh cabang bambu yang digunakan sebagai penggantung hadiah.

Akhirnya, setelah berlangsung persaingan yang cukup ketat dan spartan, RT 2 pun keluar menjadi juara setelah menjadi regu pertama yang mampu memanjat sampai ujung petung dan meraih bendera merah putih yang dipasang di puncak tiang pancang.

Seremoni kemenangan pun kemudian dihelat dengan begitu meriah, personel yang sudah berada di puncak tiang disuruh untuk menyalakan kembang api yang sudah ditaruh di atas. Sejurus kemudian, adegan lempar tangkap hadiah pun tak terhindarkan. Mulai dari Kaos, Tas, Panci, uang, hingga voucher makan.

Tim RT kami hanya bisa memandang lesu penuh kecemburuan. Rasanya begitu pahit melihat tim lain berbahagia mengumpulkan hadiah.

Tak mau rasa cemburu semakin membesar, segenap personel tim kami langsung pulang dengan langkah gontai.

"Mangkanya jangan kirim kontingen yang bertato, hari Kemerdekaan sering kurang ramah dengan pria bertato!", ejek kawan saya dari RT yang ndilalah menyabet gelar juara disertai dengan tawa ejekan yang begitu kecut. Saya pun hanya bisa melenguh pelan dengan sedikit senyum formalitas.

Ah, tak apa, setidaknya dari lomba panjat pinang ini saya belajar satu hal, kenapa dulu Indonesia bisa merdeka?, mungkin salah satu sebabnya karena Bung Karno dan Bung Hatta tak pernah punya Tato.

Mungkin lho ya, mungkin...

Negaraku, selamat berulang tahun. Monggo ditiup lilinnya, ndak usah sungkan, anggap saja rumah sendiri

Tentang Saya

Saya Agus Mulyadi, biasa dipanggil Gus Mul (bukan lulusan pesantren seperti Gus Dur, Gus Muh, maupun Gus Mus. Gus Mul hanya akronim dari nama saya). Blogger dan Freelance Layouter. Kini berusia 23 tahun (sedang lucu-lucunya). Lahir di Magelang, hidup di Magelang, dan besar di-Dzolimi. Agak mrongos, humoris, cerewet, ceplas-ceplos, menyukai dangdut koplo, tidak terlalu bertanggung jawab. Aktif di Karang Taruna dan Komunitas Blogger Magelang Pendekar Tidar. Profil lebih lengkap, Lihat Disini
 
Copyright © 2010 Agus Mulyadi Njaluk Rabi, All rights reserved
Design by DZignine. Powered by Blogger