Humor Seksualitas ala Supir dan Kenek Truk

| Wednesday, 23 April 2014 |

Rasanya tak berlebihan kalau saya menyebut profesi supir maupun kenek truk sebagai profesi yang kerap bergesekan dengan perkara seksualitas khususon dunia pelacuran.

Sopir Truk
Sopir truk perkasa gembira ria jarang merana (lokal-zone.com)

Jobdesk ketat yang kerap memaksa mereka untuk bertugas mengantarkan barang hingga berhari-hari ke luar kota bahkan ke luar pulau dengan perjuangan meninggalkan anak istri tentu bukanlah godaan enteng. Terlebih jika sudah menyangkut masalah pemenuhan hasrat biologis. Istri jauh, sedangkan hasrat sudah meledak-ledak, maka wanita tuna susila pun acap kali menjadi pelampiasan (Tapi tentu tidak semua sopir truk seperti itu, hanya sebagian besar saja). Hal inilah yang kemudian memunculkan kedekatan khusus antara profesi supir truk dengan dunia pelacuran.

Saking besarnya chemistri antara profesi supir truk dengan dunia pelacuran, hubungan keduanya bahkan sampai melahirkan banyak genre prostitusi baru, Kopi Pangku salah satunya (silahkan Googling sendiri).

Nah, menilik fakta ini, tentu tak berlebihan jika di kalangan supir maupun kenek muncul aneka obrolan humor yang nuansanya nyerempet-nyerempet ke arah seksual. Humor sekitar selangkangan ini memang menjadi salah satu jokes favorit bagi kalangan sopir dan kenek.

Saya punya dua kawan dekat yang berprofesi sebagai Kenek, Sebut saja Paijo dan Gembus (bukan nama sebenarnya). Kalau pas akhir pekan atau sedang tak ada kerjaan pengiriman, keduanya sering main ke rumah. Saya paling gemar mendengarkan cerita-cerita perjalanan mereka berdua saat mengantarkan barang ke luar kota. Setiap kali saya kongkow dengan mereka berdua, candaan-candaan Seronok selalu meluncur dengan mudahnya dari mulut mereka. Los tanpa filter, mengalir begitu saja, tanpa ada yang menghardik, semuanya seakan menikmati obrolan-obrolan desah tersebut dengan santai. Obrolan yang bagi kaum serba teratur akan nampak tabu untuk diperbincangkan.

"Supir truk itu kalah romantis kalau dibandingkan dengan tukang bakso" Kata Paijo mengawali alur lelucon-nya.

"Lha kok bisa jo?" tanya saya penasaran.

"Yo iso wae, lha soalnya, selaris apapun dagangan baksonya, kalau pulang, istrinya tetep disisai bakso dua!"

"Matamu sempal jo!" balas saya disertai dengan gelak tawa yang menjadi-jadi.

Di kesempatan berikutnya, Gembus membuat lelucon tanggapan yang tak kalah lucu dibandingkan lelucon seronok paijo. Jadi ceritanya, Paijo bercerita tentang seorang pelacur kenamaan di daerah xxx, sebut saja namanya Inem (bukan nama sebenarnya) kebetulan si inem ini punya badan yang lumayan berisi dengan ukuran dada yang sangat besar, Paijo pun bercerita dengan sangat menggebu-gebu. Begitu selesai bercerita tentang si Inem, Paijo langsung meminta pendapat Gembus tentang si inem ini, dan ternyata tanggapan gembus begitu tak terduga.

"Ha nek inem itu, L*nte menungso, tapi porsi gendruwo" Kata Gembus singkat padat.

Dan jelas, jawaban gembus ini juga membuat saya tertawa terbahak-bahak, bahkan saya sampai sakit perut dan menangis. Oalah...

Kadang kalau sudah begini, malah saya sendiri yang merasa kewalahan untuk mengontrol suara gelak tawa kami. terutama si Paijo, dia adalah pengobrol porno paling militan, lebih militan dari penggiat MLM sekalipun. Volume tawanya begitu keras, nada bicaranya pun sering tak terkendali, sehingga beberapa kali saya terpaksa memaksa dia untuk memelankan suara-nya. Ndak enak sama bapak dan ibu saya.

Kali lain, Pernah juga suatu ketika saya mencoba mencandai Paijo karena statusnya yang jomblo (sungguhpun saya sendiri juga masih jomblo).

"Jo, kerjomu lak yo wis mapan tho? kenalan cewek yo nduwe akeh, lha kok seprene awakmu iseh wae jomblo? cewek-cewek do alergi ro rupamu po?" Tanya saya sambil berharap Paijo akan mengeluarkan jawaban pasrah.

"Jomblo rapopo, sing penting lak wis tau numpaki wedokan pirang-pirang, ha mbangane kowe, 23 tahun kok isone mung nguyuh thok! ora isin ro manukmu po?" jawabnya singkat dan sangat menohok. "Ah, Asu kowe jo!".

Tulisan Truk

Tak hanya humor lelucon, Kode-kode seputar seksualitas pun beberapa kali saya dengar dari Paijo dan Gembus. Mereka kerap menyebut Pelacur dengan sebutan "Pacar isi Ulang", kali lain mereka menyebut air mani dengan sebutan "Ompol Dewo" (Kencing dewa), juga menyebut pelacuran dengan sebutan "SPBU Birahi". Sungguh kode-kode seksual yang begitu segar lagi jenaka.

Dari mereka juga saya tahu, bahwa kebanyakan Sopir maupun kenek truk tahu dimana lokasi-lokasi pelacuran di berbagai kota yang pernah dilintasinya, beberapa malah hafal nglothok sampai tarif harga beserta spesifikasi body ciblek-nya.

Paijo pernah menceritakan kepada saya nama-nama tempat pelacuran di sepanjang jalur pantura. Semuanya disampaikan dengan teramat detail, mulai dari harga, syarat-prasyarat, rata-rata usia para pelacur yang menjaja di sana, bahkan sampai nama-nama primadona di setiap pelacuran. Sedikit lebih mirip testimoni.

"Kalau yang di xxx murah gus, soalnya sudah pada tua, tapi barange tetep STNK (Setengah Tuo Ning Kepenak) kok!. Kalau mau yang muda dan murah, mending yang di yyy, pokoke asal pinter nego-nya!, kalau yang di zzz, harganya agak mahal, tapi legit, koyo pisang bolen!" Tukas Paijo saat mengomentari beberapa lokasi pelacuran di bilangan Pesisir Pantura. Ada-ada saja.

Kalau anda ingin juga menelisik humor seksualitas ala Supir dan kenek truk, cara yang paling mudah tentu melalui tulisan-tulisan di sisi dan belakang body truk mereka. Tulisan-tulisan biasa namun sering dianggap sebagai luapan perasaan Sang tuan pengendara.

Dari sekian banyak, ada beberapa yang bisa saya ingat dengan jelas, diantaranya adalah:

"Ingat rasanya, tak ingat wajahnya"
"Mencari nafkah demi desah"
"Papa pulang mama keramas"
"Sopir bercinta, Kenek Merana"
"Asal abang kuat nanjak, Monggo saja"
"Kena Gigi Uang Kembali"
"Cintaku Kandas karena Lendir"
"Tolong kembalikan Lendir pada tempatnya"
"Susumu lebih murni dari bensinku"
"Menggelinjang nikmat di Jok Pantura"
"Lorena, L*nte Kere Merana"
"Biar Binal yang penting tak Ternoda"
"Kutunggu desahmu di Jalur ini"
"Susumu mambu Samsu"
"Gelem Enak'e ra gelem Anak'e, Waton Mokondo"
"BMW, Body Mengalahkan Wajah"


Kalau anda melaju di jalur arteri lintas kota antar provinsi, cobalah sesekali menengok aneka tulisan di body truk yang melaju, Niscaya beberapa kalimat seronok seperti kalimat-kalimat di atas akan bisa anda temukan dengan mudah. Dan saya yakin, tulisan-tulisan tersebut cukup berharga untuk menebus senyum simpul anda.

Ah, Bicara humor seksualitas? rasanya Sopir dan kenek truk memang ahlinya. Dokter Boyke pun saya rasa tak akan mampu menandinginya.

Oh ya, sebagai penutup, berikut ini saya kasih bonus anekdot singkat tentang dunia seksualitas sopir truk, anekdot ini pertama kali saya baca dulu di sebuah harian lokal, saya lupa apa nama hariannya, tapi saya ingat betul isi ceritanya.

Syahdan, seorang supir truk selesai menunaikan tugasnya mengantar muatan barang ke pelabuhan. Kerjaan selesai, sang supir truk pun memutuskan untuk rileks dan mencari hiburan. Kebetulan pelabuhan tersebut dekat dengan sebuah tempat lokalisasi. Maka tanpa banyak babibu, supir truk tersebut pun mantap untuk mampir.

Supir truk tersebut kemudian masuk ke sebuah rumah yang memang diketahui sebagai rumah sang mucikari. Oleh penjaga rumah, supir truk disuruh menunggu sebentar di ruang tamu. Setelah 5 menit menunggu, sang mucikari pun datang dan menyambut sang supir truk.

Tanpa intermezzo, si supir truk langsung mengeluarkan uang 500 ribu dan membantingnya di atas meja. "Ini, saya ada 500 ribu, tolong carikan saya wanita yang jelek, tua, dan agak gembrot". Kata sang supir truk.

Si mucikari terhenyak dan heran, "Oalah mas, dengan uang segini, sampeyan bisa dapet yang cantik, muda, dan montok, kenapa malah milih yang jelek tua lagi gembrot. Apa sampeyan ndak suka sama yang cantik?" Tanya sang Mucikari.

"Bukannya saya ndak mau yang cantik, tapi saya memang lagi kangen sama istri di rumah!" Jawab sang supir truk lugas.


NB: Postingan ini saya buat bukan untuk mendiskreditkan profesi Sopir dan kenek truk, namun hanya ingin mengangkat sisi lain yang unik dari pergaulan Supir dan kenek yang saya rasa cukup menarik untuk diulas.

Sekilas Tentang Saya

Saya Agus Mulyadi, biasa dipanggil Gus Mul (bukan lulusan pesantren seperti Gus Dur, Gus Muh, maupun Gus Yusuf, Gus Mul hanya akronim dari nama saya). Blogger dan Freelance Layouter. Lahir di Magelang, hidup di Magelang, dan besar di-Dzolimi. Agak mrongos, humoris, cerewet, ceplas-ceplos, menyukai dangdut koplo, tidak terlalu bertanggung jawab, Penggemar berat Pangkur Jenggleng, Manchester United, Mela Barbie, dan busana 80-an. Profil lebih lengkap, silahkan lihat Disini
 
Copyright © 2010 Agus Mulyadi Njaluk Rabi, All rights reserved
Design by DZignine. Powered by Blogger