Ketlingsut dan Emosi Tak Terduga

| Friday, 23 June 2017 |

Bapak saya marah-marah, karena ikat pinggang yang dia taruh di kamar emak saya hilang alias ketlingsut entah kemana.

Kamar emak saya tentu saja sejatinya adalah juga kamar bapak saya. Namun, karena saking banyaknya lemari (ada 3 lemari), ditambah beberapa kotak pakaian yang terparkir di kamar emak membuat bapak sumpek dan membuat ia lebih sering memilih tidur di depan tivi.

Emak saya berada satu barisan dengan dua adik perempuan saya. Gemar membeli pakaian namun lebih suka menyimpannya alih-alih memakainya. Jadilah jumlah pakaian di rumah kami bejibun dan semuanya disimpan di kamar emak. Maklum, rumah kami adalah rumah tipe RS9 (Rumah Sungguh Sangat Sempit Sekali Sehingga Selonjor Sedikit Saja Sulit).

Berlawanan kutub dengan emak, bapak saya dan juga saya (sebagai sesama lelaki) berada pada barisan yang lain. Tak terlalu suka membeli banyak pakaian dan selalu bernafsu untuk membuangnya jika memang sudah tak pernah dipakai lagi. Bagi kami, sebaik-baik pakaian adalah iman (uhuk).

Dua barisan dalam satu biduk ini selalu mengalami pergolakan yang hebat. Bapak, sering sekali diam-diam mengambil pakaian yang sudah sering tiada dipakai dari dalam lemari untuk dipotong lalu dijadikan keset atau lamping (kain yang sering digunakan untuk mengangkat gagang panci panas dari kompor). Pada titik yang ekstrem, bapak malah pernah mengambil cukup banyak pakaian untuk kemudian membakarnya.

Saya sendiri mungkin juga sering merasakan apa yang bapak saya rasakan. Sumpek karena terlalu banyak pakaian.

Nah, efek paling mengganggu dari terlalu banyak pakaian di kamar emak ini salah satunya adalah sering membikin ketlingsut barang-barang yang ditaruh di sana. Baik itu sarung, tas kecil, buku, atau yang barusan terjadi pada bapak saya: ikat pinggang.

Barang-barang yang kelingsut itu biasanya baru ketemu setelah kotak-kotak pakaian dan lemari diudal-udal.

Nah, barusan, atas kehilangan ikat pinggangnya itu, bapak marah cukup sadis dan mengumpat dengan umpatan yang, bajangkrek setan alas, malah terlihat lucu ketimbang seram.

“Wis, sesuk ben tak obong kabeh klambi ning kene iki, kabeh-kabeh barang angger tak seleh ning kene kok mesti ilang. Iki kamar po segitiga bermuda tho?” Ujarnya geram.

Demi mendengar kata "Segitiga bermuda", saya kaget terperanjat, dan langsung menahan tawa. Saya tak habis pikir, bagaimana mungkin bapak saya yang tak pernah baca majalah Natgeo ini kok bisa-bisanya tahu tentang fenomena segitiga bermuda.

Saya terdiam sejenak, lalu tersadar akan satu hal. On The Spot Trans7, ya... Pasti gara-gara On The Spot Trans7. Tiada bukan.

Menu Buka Puasa yang Selalu Sporadis

| Friday, 9 June 2017 |

Sebelum ramadan itu, emak saya kalau masak biasanya cuma satu jenis sayur sama lauk saja, tapi kalau pas ramadan, masaknya kok ya jadi sporadis. Entah karena naluri "bakul janganan"-nya bangkit, atau memang ini murni karena berkah ramadan. Namun yang jelas, saya jadi serba salah.

Seperti hari ini, emak saya masak jangan lubis ijo, ditambah nggoreng tempe uyah bawang. Sialnya, emak juga masak sop ceker ayam, ditambah nggoreng bakwan jagung, dan dipungkasi dengan bikin kolak degan.



Mbah saya juga nggak mau kalah memanaskan lantai dansa. Mbah saya bikin kolak kimpul yang, tanpa harus dites di laboratorium UGM, ITB, dan IPB, sudah pasti teruji kelezatannya.



Adik saya bikin suasana tambah runyam. Ia kok ya selo saja bikin salad buah yang komposisinya anggur, kiwi, melon, semangka, dan bengkoang yang tentu saja menantang berkelahi lidah saya ini.



Dasar apes, sayur sambel gereh pindang sisa sahur semalam kok ya masih ada. Ditambah dodol manis dan ketela goreng oleh-oleh dari pacar saya kok ya juga masih tersedia.

Dengan komposisi menu yang begitu beragam dan semuanya menggoda itu, saya harus menentukan mana yang akan saya ajak untuk berbuka. Sebab, sebagai anak IPA, saya paham betul, bahwa perut saya ini punya batas toleransi.

Maka, begitu "tok tok tok, dul dul dul," itu terdengar, dimulailah pergulatan batin nafsu saya.

Saya pun merasa, puasa saya sejatinya adalah puasa yang tiada akhir. Jika sebelum "tok tok tok, dul dul dul," saya berpuasa menahan nafsu lapar dan dahaga, maka setelah "tok tok tok, dul dul dul," saya berpuasa menahan nafsu untuk balas dendam.

Saya paham betul, bahwa revolusi yang baik adalah revolusi yang dimulai oleh orang-orang lapar, dan dilakukan oleh orang-orang yang kenyang. Tapi saya juga sadar, bahwa kediktatoran yang kejam kadang dimulai oleh orang-orang yang terlalu kenyang.

Di sini, di meja makan ini. Saya bersiap-siap, menyambut kediktatoran.

Ketemunya Deddy Mizwar Lagi

| Thursday, 8 June 2017 |

deddy mizwar

Terkadang, pikiran iseng saya ini kok ya bertanya-tanya, Bagaimana ya rasanya jadi orang Jawa Barat yang hobi nonton sinetron ramadan Para Pencari Tuhan?

Bukannya apa-apa, Lha kalau ke kelurahan atau kantor instansi pemerintahan lainnya, ketemunya poster Deddy Mizwar.

Trus, pas di rumah, pagi nonton iklan sarung Atlas ketemu Deddy Mizwar, agak siangan nonton iklan Promag ketemu Deddy Mizwar, zuhur nonton iklan larutan penyegar yang ada badaknya, ketemu Deddy Mizwar, menjelang sore nonton iklan sosis So Nice ketemu Deddy Mizwar, malam nonton iklan pasta gigi Enzim ketemu Deddy Mizwar.

Pas sahur, nonton sinetron PPT, ealah, ketemunya Deddy Mizwar lagi.

Apakah ini yang dinamakan dengan bahaya laten Deddy Mizwar?

Tentang Saya

Saya Agus Mulyadi, biasa dipanggil Gus Mul (bukan lulusan pesantren seperti Gus Dur, Gus Muh, maupun Gus Mus. Gus Mul hanya akronim dari nama saya). Blogger dan Freelance Layouter. Kini berusia 24 tahun. Aktif di Karang Taruna dan Komunitas Blogger Magelang Pendekar Tidar. Profil lebih lengkap, Lihat Disini

Tambahkan saya di Google+

 
Copyright © 2010 Agus Mulyadi Blog , All rights reserved
Design by DZignine . Powered by Blogger