Sandal Hotel Sandal Swallow

| Tuesday, 22 November 2016 |

sandal swallow

Saya selalu menganggap sandal hotel sebagai sandal yang prestisius. Ia mampu membawa kesan bahwa si pemakai adalah orang makmur sentosa yang sanggup membayar biaya tidur semalam minimal setara upah tukang bangunan selama seminggu kerja.

Dibandingkan dengan sandal swallow yang memang sudah satu tarikan napas dengan kata "jelata", tentu sandal hotel punya kasta yang jauh lebih tinggi.

Namun seiring berjalannya waktu, kualitas akan selalu menunjukkan jalannya.

Seprestisius apapun sandal hotel, ia tak akan pernah bisa membawamu berjalan jauh, sebab sejatinya, ia hanya sandal spons yang ringkih dan murahan. Sebaliknya, sejelata apapun sandal swallow, ia akan selalu siap kau ajak untuk menyusuri jalanan yang jauh dan berbatu sekalipun, sebab ia adalah sandal karet yang kuat dan nyaman.

Saya memang sedang berbicara soal sandal, bukan soal cinta. Tapi silakan jika anda mau menarik garis lurusnya.

Sebab, pada akhirnya, cinta juga soal perjalanan jauh.

Kutunggu Jengkolmu Minggu Depan

| Thursday, 17 November 2016 |

“Mak, aku balik jogja sore ini,” ujar saya kepada Emak,

“Lho, ora sesuk? Lha Makmu ini nanti malam mau masak jengkol lho, itu jengkolnya baru saja direbus,”

Saya lantas meluncur ke dapur untuk memastikan emak tidak sedang bercanda. Saya segera membuka tutup panci, dan nampaklah di sana sebuah pemandangan yang begitu indah, satu dompol jengkol yang siap direbus dan menanti untuk diolah nanti malam, untuk kemudian siap disantap esok paginya.

jengkol rebus

“Waduh mak, kok ya masaknya ndak dari kemarin tho?”

“Lha mak kira kamu baliknya masih besok je.”

“Duh Gusti...,”

Saya pun cuma bisa mrengut. Lha gimana lagi? Sebenarnya ingin hati ini tinggal sehari lagi di Magelang biar bisa ikut menikmati sayur yang dijuluki “khuldi-nya Indonesia” ini, tapi apa mau dikata, sore ini saya harus tetap balik Jogja, ada kerjaan yang harus saya kerjakan.

Emak menatap saya dalam-dalam, mungkin mencoba memahami betapa hancurnya perasaan saya, “Ya sudah, minggu depan, masak jengkol lagi,” katanya mencoba menghibur anak lanangnya yang bagus dhewe itu.

Janji emak sedikit meringankan kekecewaan saya. Tapi tetap saja, bayangan si jengkol terus saja menggedor-gedor pintu kemantapan hati saya untuk balik ke Jogja.

Sembari berkemas, saya menatap nanar ke arah dapur, di sana, di atas panci itu, saya seperti melihat gadis cantik yang melambai sambil terus menahan saya untuk pergi,

“Mas Agus, nggak nunggu aku mateng dulu po?”

Duh, dewi jengkol yang agung, maafkan kangmasmu ini yang belum bisa menjamahmu dengan jamahan yang semestinya...

Si Pelawak Keempat

| Tuesday, 8 November 2016 |

Taypak

Saya selalu percaya, bahwa di Indonesia, ada empat pelawak yang sangat layak untuk dihormati. Mereka adalah Junaedi, Basiyo, Mamiek Srimulat, dan yang terakhir: bokong truk.

Tiga yang saya sebut di awal, statusnya sudah "tidak aktif" melawak, sedang yang saya sebut terakhir, statusnya masih "aktif" entah sampai kapan.

Saya tak bercanda soal pelawak keempat ini. Ia adalah komedian pilih tanding yang dengan kata-kata paling sederhana pun, asal ia tertempel di bokongnya, maka kata-kata itu akan menjadi punch luar biasa jenaka:

"Lali rupane eling ukurane"
"Can are Rock"
"Sedia Bibit Bayi"
"Mencari nafkah demi desah"
"Pengin cepet ora macet, numpako celeng"
"Papa pulang mama keramas"
"Alone way must"
"Sopir bercinta, Kenek Merana"
"Cintaku Kandas karena Lendir"
"Susumu tak semurni bensinku"
"Lorena, Lonte Kere Merana"
"Biar Binal yang penting tak Ternoda"
"Susumu mambu Samsu"
"BMW, Body Mengalahkan Wajah"
"Papa jahat mama dipake mulu"

Dan dari sekian banyak punch bokong truk, ada satu punch yang sangat sangat saya ingat karena saking lucunya:

RINDU BOKONG BUNDA

Tentang Saya

Saya Agus Mulyadi, biasa dipanggil Gus Mul (bukan lulusan pesantren seperti Gus Dur, Gus Muh, maupun Gus Mus. Gus Mul hanya akronim dari nama saya). Blogger dan Freelance Layouter. Kini berusia 24 tahun. Aktif di Karang Taruna dan Komunitas Blogger Magelang Pendekar Tidar. Profil lebih lengkap, Lihat Disini

Tambahkan saya di Google+

 
Copyright © 2010 Agus Mulyadi Blog , All rights reserved
Design by DZignine . Powered by Blogger