Penerbangan Kelas Bisnis

| Wednesday, 29 July 2015 |

Kemarin, untuk pertama kalinya, akhirnya saya kesampaian untuk naik pesawat kelas bisnis. Yah, sekali-kali, inlander seperti saya ini kan juga berhak untuk macak parlente. Hehehe...

Sejarah besar ini bermula saat saya diundang untuk tampil sebagai salah satu pengisi acara di acara talkshow di salah satu stasiun televisi swasta di Jakarta (saya rahasiakan namanya ya, takut dikira ngiklan). Entah khilaf apa yang sedang menerpa tim kreatif mereka, sampai-sampai mereka mau mengundang saya untuk ikut di acara mereka.

Rencana agaknya memang bakal berjalan mulus, hingga akhirnya, muncullah masalah yang cukup pelik itu.

Jagad dewa Bathara, Jebul-nya, seluruh tiket pesawat kelas ekonomi untuk keberangkatan Jogja-Jakarta sudah ludes. Padahal perjanjian cangkem sudah diteken, dan acara juga sudah dijadwal, mau beli tiket kereta juga tidak mungkin karena perjalanan bakal memakan waktu yang lama.

Akhirnya, keputusan yang sangat diplomatis pun diambil, saya akhirnya dibelikan tiket kelas bisnis yang harganya dua jutaan. Hehehe, Untung buat saya, tekor buat mereka.

Saya belum tahu kalau saya ternyata dapat tiket pesawat kelas bisnis, karena saya cuma dikasih tahu kode bookingnya thok. Saya baru tahu kalau ternyata tiket pesawat saya adalah kelas bisnis justru sesaat setelah check in. Jadi ceritanya, setelah saya check in, saya langsung disuruh menunggu oleh petugas bersama dua orang penumpang lain. Tak berselang lama kemudian, kami diberi tahu kalau untuk penumpang kelas bisnis ruang tunggunya bukan di ruang tunggu boarding, melainkan di executive lounge dan mendapatkan fasilitas free lunch.

Lha saya jelas langsung mak jegagik, kaget, lha jebul, tiket saya ini tiket kelas bisnis tho. Saya kira ekonomi, seperti biasanya.

Saya dan dua penumpang lain langsung digiring ke executive lounge. Mendadak, cara berjalan saya jadi sedikit jumawa dan kemlinthi, sok-sokan jadi orang kaya. Padahal waktu itu, saya cuma pakai sandal cepit swallow. Ha mbok prek, kelas bisnis je.

Sesampainya di executive lounge, saya dijamu dengan sangat baik dan dipersilahkan untuk sarapan, eh, lunch ding.

Sebagai pribadi prasojo yang baru pertama kali masuk ke executive lounge, tentu bayangan saya akan tempat ini terbentuk dengan sangat indahnya. Sebuah lobi khusus dengan deretan kursi empuk dan nyaman, yang hanya diperuntukkan untuk orang-orang khusus pula. Maka, menu sarapan yang bakal dihidangkan pun tentu bukan makanan sembarangan, pasti makanan mahal yang serba mewah dan mriyayeni, minimal pizza, sedangkan minumnya, setidaknya Martini.

Tapi... dasar asu edan ra katokan.

Begitu saya menuju ke meja prasmanan, saya lagi-lagi harus kaget mak jegagik. Lha kok jebul, menu makanan yang dihidangkan ternyata adalah nasi goreng, telo godhog, gedang godhog, plus pukis, itupun ukurannya cuma sak uplik.

Oalah, lha kalau untuk kaum priyayi, mungkin makanan-makanan tadi kesannya etnik dan mewah, Lha tapi kalau untuk saya? lak yo sudah sehari-hari to kas!!... duuuh, mungkin ini yang dinamakan lounge rasa pawon.

Suasana di lounge pun tak seasyik di ruang tunggu boarding. Kalau nyaman sih memang nyaman, lha namanya juga executive lounge. Tapi atmosfernya itu lho, kurang greget, isinya cuma bapak-bapak sama ibu-ibu, atau kalau tidak ya rombongan satu keluarga, sama sekali ndak ada daun mudanya, kalaupun ada, itupun cuma satu dua, prosesi cuci mata menjadi sangat terbatas. Padahal, kalau di ruang tunggu boarding, saya bisa leluasa melaksanakan kebiasaan saya: bergerilya mencari sosok-sosok penumpang cantik sambil membayangkan kalau-kalau kelak saya jadi suami mereka. Nah, sensasi itu yang tidak saya dapatkan di tempat super nyaman bernama executive lounge.

Tapi tak apa, setidaknya penerbangan kelas bisnis ini memberikan saya satu pengalaman berharga untuk saya.

Biasanya, setiap naik pesawat, mata saya selalu pecicilan melihat pemandangan di luar jendela. Maklum, namanya juga Wong Jowo gumunan. Tapi di penerbangan kelas bisnis kali ini, Rasanya sangat berbeda. Pecicilan saya hilang seketika.

Lha gimana mau pecicilan coba, lha wong saya duduknya di kursi 1D, alias kursi yang posisinya berhadap-hadapan dengan mbak-mbak pramugari yang sintal dan senantiasa melemahkan iman itu. Lha daripada sibuk mengamati pemandangan di luar jendela, ha mbok mendingan sibuk nyuri pandang ke mbak-mbak putih yang ada di depan saya. Wong ya sama-sama indah je.

Aduuh, keindahan kok bisa jadi sangat kontekstual begini ya?

Catatan: Maaf, nggak ada fotonya. Namanya juga penumpang kelas bisnis, harus elegan dong, nggak perlu foto-foto, kaya penumpang kelas ekonomi saja.

Edit Foto dan Rasa Trenyuh

| Wednesday, 22 July 2015 |



Sebenarnya sudah sejak dua tahun, saya berhenti membuka jasa edit foto. Namun hingga kini, masih saja ada yang ngirim pesan buat minta dieditkan fotonya. Mulai minta edit foto bareng pemain bola, sampai edit foto sebelahan sama biduan dangdut.

Permintaan edit foto yang saya terima sungguh beraneka rupa dan beraneka motif. Dan semuanya saya tolak, karena saya memang sudah kadung janji untuk tidak melayani jasa edit foto lagi (kecuali kalau memang sangat-sangat kepepet, hehe)

Nah, dari sekian banyak pesan permintaan edit foto, ada dua permintaan yang cukup membuat saya trenyuh.

Permintaan pertama, dari seorang cowok ABG, yang minta dieditkan fotonya sebelahan sama cewek cantik, dia minta agar dibuat semesra mungkin, katanya hasil editan foto itu nantinya mau dipasang jadi wallpaper di hapenya, agar nanti pacarnya lihat, dengan harapan, dia bakal diputusin sama pacarnya. Usut punya usut, ternyata si ABG ini pengin mutusin pacarnya, tapi ndak tega. Jadi dia mencari cara bagaimana agar ia yang diputusin, bukan yang mutusin.

Permintaan yang kedua, dari seorang cewek. Ia minta dieditkan fotonya sebelahan bareng seorang cowok. Foto editan itu mau ia tunjukkan sama orang tuanya. usut punya usut, ternyata si cewek ini sedang dijodohkan sama orang tuanya, dan ia tak mau. Jadi, ia berencana membuat foto editan itu agar orang tuanya mengira kalau ia sudah punya gandengan.

Sembari membaca pesan permintaan mereka berdua, saya merenung khusyuk. Ternyata memang benar, perkara cinta adalah perkara yang selalu pelik.

Duuuuh, Ini saya yang terlalu trenyuhan, atau memang mereka berdua yang terlalu ke-drama-drama-an ya?

Panganan Tradisional Lebaran khas Magelangan

| Tuesday, 21 July 2015 |

Lebaran memang sudah berlalu, tapi agaknya, sayang rasanya kalau saya tidak menulis barang selarik dua larik perihal lebaran. Nah, makanya, di postingan kali ini, saya akan mencoba menulis sedikit tentang panganan yang biasa disajikan saat lebaran untuk menjamu para tamu.



Tapi tentu saya tidak akan membahas tentang Astor, orson, wafer, biskuit, ataupun nastar, soalnya sangat tidak elok dan tidak inlander, juga terlalu kapitalis. Saya hanya akan membahas beberapa panganan ringan khas tradisional yang jamak disajikan di rumah-rumah sebagai hidangan lebaran, khususnya di daerah Magelang dan seputaran Kedu (Temanggung, Wonosobo, Purworejo, Kebumen, dan sekitarnya), daerah tempat tinggal saya.

Nah, apa sajakah? Ini dia beberapa kudapan pilih tanding yang mungkin beberapa diantaranya anda sudah kenal dengannya.

Jipang

Jipang

Walau namanya mirip dengan negara yang ke-hentai-hentai-an, namun percayalah, panganan yang satu ini sama sekali tak punya hubungan kekerabatan dengan sushi, ramen, ataupun onigiri. Jipang terbuat dari beras ketan, teksturnya renyah, rasanya manis, namun masih kalah manis kalau dibandingkan sama Raisa atau Nia Daniati.

Keripik Tempe

Keripik tempe

Agaknya, orang Magelangan paham benar, bahwa makanan ringan tak melulu diposisikan sebagai pelepas rasa, lebih dari itu, makanan ringan juga mempunyai hak untuk memenuhi kodratnya sebagai suplemen asupan gizi. Karenanya, jangan heran jika keripik tempe menjadi salah satu menu kudapan andalan orang-orang Magelang. Tentu kita semua tahu, bahwa selain mengandung banyak protein, tempe juga mengandung vitamin B kompleks, mineral kalsium, juga zat besi, sehingga sangat bagus untuk kesehatan. Eh, saya kok mendadak jadi sok biologi gini ya.

Klici

Klici

Panganan mungil yang terbuat dari tepung terigu. Salah satu panganan yang sengaja diciptakan untuk mengetahui tingkat ketangguhan gigi seseorang. Panganan ini sangat digemari, karena selain ngirit dan cocok untuk ngemil, panganan ini juga sangat gembol-able.

Kerupuk Gendar

Kerupuk gendar

Dengan mengusung konsep "Reduce, Reuse, Recycle" atau prinsip daur ulang, kerupuk ini tampil sebagai salah satu panganan yang ramah lingkungan. Betapa tidak, kerupuk gurih ini biasanya dibuat dari nasi yang sudah basi (walau ada juga yang biasa membuatnya dari nasi yang masih baru). Caranya, si nasi diberi garam bleng, kemudian dikenyalkan, lalu diiris-iris tipis, dijemur, kemudian digoreng. Karenanya, tak salah bila krupuk ini sering disebut sebagai perwujudan Nasi goreng dalam bentuk yang paling paripurna.

Semprong

Semprong

Jauh sebelum chocolatos dan fullo merajai dunia makanan teropong, Panganan bernama Semprong ini sudah lebih dulu menancapkan tonggak eksistensinya di bumi nusantara ini.

Tape Ketan

Tape Ketan Magelang

Hasil fermentasi beras ketan, rasanya sungguh-sungguh nikmat dan menggugah selera, jika dimakan dalam porsi berlebih, akan menghasilkan efek mabuk ringan. Sebagai warga Magelang, Sungguh sangat durhaka kalau saya sampai tidak menyertakan panganan yang satu ini.

Unthuk-unthuk Cacing

Unthuk unthuk cacing

Begitu mendengar kata cacing, yang terlintas di pikiran sampeyan tentu adalah binatang mungil yang geli dan menjijikkan. namun jikalau kata cacing diberi awalan unthuk-unthuk, maka segala kejijikan dan kegelian itu bakal sirna seketika dan berganti dengan kelezatan dan citarasa tinggi. Terbuat dari adonan tepung ketan, unthuk-unthuk cacing ini menjanjikan rasa yang manis-gurih, lagi renyah. Dinamakan unthuk-unthuk cacing karena memang bentuknya yang persis seperti Cacing yang sedang berkumpul dan berserikat.

Untir-untir

untir-untir

Bahannya terbuat dari tepung terigu, pembuatan adonannya hampir sama dengan klici, Namun secara wujud, Untir-untir ini jauh lebih ngilmiah, karena untir-untir adalah satu-satunya panganan yang dibuat dengan mengikuti konsep bentuk rantai ganda DNA.

Itulah beberapa sajian panganan yang jamak disajikan di rumah saat momen-momen lebaran untuk menyambut tamu di daerah Magelangan. Sebenarnya masih ada banyak, diantaranya ada Sinapon, Satu, Geblek, Ongko Wolu, Lenteng, dan masih banyak lagi. Namun karena keterbatasan gambar, jadi tak mungkin bakal saya cantumkan semuanya.

Nah, pembaca sekalian, adakah diantaranya pembaca yang menyediakan salah satu panganan di atas di meja rumah anda?

Tentang Saya

Saya Agus Mulyadi, biasa dipanggil Gus Mul (bukan lulusan pesantren seperti Gus Dur, Gus Muh, maupun Gus Mus. Gus Mul hanya akronim dari nama saya). Blogger dan Freelance Layouter. Kini berusia 24 tahun. Aktif di Karang Taruna dan Komunitas Blogger Magelang Pendekar Tidar. Profil lebih lengkap, Lihat Disini

Tambahkan saya di Google+

 
Copyright © 2010 Agus Mulyadi Blog , All rights reserved
Design by DZignine . Powered by Blogger