Pengalaman Konyol Menggunakan Sepeda Motor

| Friday, 25 May 2018 |

Ada banyak kekonyolan dalam pengalaman pertama menggunakan sepeda motor. Kekonyolan yang kemudian membuat pelakunya merasa begitu goblok dan tidak berpendidikan.

Dulu, sewaktu pertama kali mencoba menggunakan motor, saya pernah menghabiskan waktu yang lama hanya untuk berusaha ngeslah starter kaki biar motor hidup. Saya sudah coba berkali-kali ngeslah dengan tenaga yang luar biasa kuda, namun mesin motor tak jua mau hidup.

Belakangan baru saya tahu kalau ternyata penyebab motor tidak bisa hidup karena saya ngeslah tanpa ngegas stang motornya.

Kekonyolan itu saya lakukan di depan banyak orang, dan tentu saja cukup membuat saya malu.

Namun, kalau membandingkannya dengan apa yang pernah dialami oleh Kalis, rasanya saya merasa jauh lebih punya wibawa.

Lha gimana tidak. Dulu, saat awal-awal Kalis menggunakan motor, Kalis pernah tidak bisa membuka jok motornya saat akan mengisi bensin di Pom bensin. Jok motornya tidak bisa dibuka. Diangkat dengan tenaga sebesar apa pun, tidak mau terangkat, padahal kunci pembuka sudah diputar dengan benar. Kalis sampai hampir nangis.

Usut punya usut, ternyata saat membuka jok, yang diangkat oleh kalis adalah ujung jok bagian depan, bukan belakang.

Deadpool 2 dan Niat Baik

| Thursday, 17 May 2018 |

Karena tergoda dengan banyak postingan kawan yang bilang kalau Deadpool 2 bagus, maka, kemarin, saya memutuskan untuk nonton Deadpool 2 bareng Kalis. Kalis sebenarnya kurang dan memang tidak terlalu suka nonton film superhero, namun karena kemarin dia kebetulan pas libur, dia mau saja saat saya ajak nonton.

Sesampainya di bioskop, seperti biasa, selalu saja ada orangtua goblok yang mengajak serta anaknya yang masih kecil untuk nonton Deadpool 2, padahal jelas-jelas rate Deadpool 2 adalah 17 tahun ke atas.

Setelah film usai, di selasar bioskop dekat pintu keluar, saya mendengar jelas percakapan salah satu orangtua yang dengan pedenya menonton Deadpool 2 dengan anaknya yang masih kecil.

“Filmnya bagus ya,” kata si orangtua.

“Iya, Mah, tapi Deadpoolnya jahat, masak bunuh-bunuhin orang, kepala orang dipotong begitu,” jawab si anak.

“Enggak, itu Deadpoolnya sebenarnya baik kok, niatnya baik.”

Saya jadi bingung, semacam gabungan rasa ingin tertawa dan mengelus dada.

Di perjalanan pulang, saya bertanya pada Kalis. “Lis, Filmnya tadi lucu banget ya, Kok bisa ya film superhero selucu itu.”

Saya tak menduga, jawaban Kalis benar-benar kontemplatif.

“Lucu dari mana? wong isinya cuma orang-orang dibunuh, dibabat, bahkan sampai ada yang kepalanya ketancep pager tralis. Kaya gitu kok dibilang lucu.”

Saya kemudian terdiam. Sebab, tak mungkin saya jawab: Mereka membunuh niatnya baik.

Tragedi Roti Tawar dan Meses

| Sunday, 6 May 2018 |

Roti tawar itu saya olesi mentega, saya sapukan sampai lotro agar seluruh permukaan roti tawar terlapisi tanpa terkecuali. Sembari mengoleskan dan meratakan mentega, saya membayangkan betapa eco dan nikmatnya roti ini nanti kalau sudah siap santap.

Permukaan roti akhirnya terlapisi oleh mentega dengan merata. Permukaannya yang tadi berwarna putih kini berwarna kuning mengkilap bak eldorado.

Langkah selanjutnya, tentu saja menaburkan meses. Bukan sembarang meses, tapi harus Ceres. Maklum, mulut saya sering tak bisa berkompromi dengan meses yang murah.

Satu bungkus meses Ceres sachet yang sudah dipotong ujungnya pun kemudian saya ambil. Bersiap untuk saya suntak agar butiran-butiran coklatnya jatuh berhamburan di atas roti yang sudah siap menunggu mahkotanya.

Tapi bajangkrek setan alas.

Bukannya butiran meses yang keluar, tapi malah cicak kecil yang melompat mak prucut dari lubang sachet meses.

“Asuuuu!” saya kaget sampai mengumpat anjing kepada hewan yang bahkan tidak bisa mengonggong ini.

Ternyata sudah beberapa lama si cicak berdiam diri di dalam kemasan sachet meses yang memang saya lupa tutup ujungnya ini.

Nafsu bersantap saya langsung luntur. Lha gimana tidak, tentu tidak elok kalau saya harus memakan roti tawar bertabur meses yang sudah dijamah sama cicak.

Kali ini, saya membayangkan, betapa tidak sedapnya kalau harus makan roti tawar dengan mentega tapi tanpa meses di atasnya.

Duh Gusti, berikan hambamu petunjuk. Mana yang harus saya korbankan? Rasa jijik atau rasa lapar?

Tentang Saya

Saya Agus Mulyadi, biasa dipanggil Gus Mul (bukan lulusan pesantren seperti Gus Dur, Gus Muh, maupun Gus Mus. Gus Mul hanya akronim dari nama saya). Blogger dan Freelance Layouter. Kini berusia 24 tahun. Aktif di Karang Taruna dan Komunitas Blogger Magelang Pendekar Tidar. Profil lebih lengkap, Lihat Disini

Tambahkan saya di Google+

 
Copyright © 2010 Agus Mulyadi Blog , All rights reserved
Design by DZignine . Powered by Blogger