Hukuman Asoy Buat Sipil dari Tentara Tanpa Harus Menggampar

| Wednesday, 18 October 2017 |

Melihat berita soal kerusuhan dalam laga Persita Tangerang kontra PSMS Medan di Stadion Persikabo, Bogor, Rabu lalu yang di dalamnya terdapat aksi kebrutalan tentara saat menghajar para suporter Persita, atau saat melihat video persekusi anggota TNI kepada seorang pemuda, yang ndilalah kok ya ngehek, karena tindakan sembrononya menghina TNI di sosial media, rasa-rasanya membangkitkan kegelisahan saya soal tentara.

Ini menjadi unik. Baru seminggu lalu TNI merayakan hari ulang tahunnya dengan cara menggaungkan slogan kemanunggalan mereka, “Bersama rakyat TNI kuat”. Ealah, kok ujug–ujug muncul dua peristiwa yang memergoki betapa mudahnya TNI menggampar dan menghajar masyarakat sipil.

Bagi saya, ini tentu saja sesuatu yang wagu. Tentara kok menghajar sipil? Di mana letak heroiknya? Apalagi sebabnya cuma sepele, masalah ribut sepak bola dan masalah penghinaan oleh pemuda bau kencur yang mungkin untuk onani pun belum bisa sesuai dengan panduan yang baik dan benar. Dua masalah yang menurut saya tak perlu bagi seorang tentara untuk main kekerasan sebab blas nggak ada pengaruhnya sama stabilitas nasional negara kesatuan Republik Indonesia.

Saya sadar betul akan hal ini. Dua puluh enam tahun lebih saya tinggal bersebelahan dengan kompleks perumahan Akademi Militer Angkatan Darat terbesar di Indonesia, membuat saya banyak merasakan pengalaman betapa tentara selalu punya cara untuk memberi pelajaran pada sipil tanpa harus main kekerasan; cara-cara yang tidak membuat slogan “Bersama rakyat TNI kuat” berubah menjadi “Bersama rakyat TNI kumat”.

Nah, berikut ini adalah beberapa cara elegan militer dalam menghukum sipil tanpa harus main tangan, tapi tetap ampuh untuk menghukum sipil-sipil “pembangkang”.

Kupas Kelapa

Ini hukuman yang dulu pernah didapatkan oleh kawan-kawan saya karena ketahuan mencuri kelapa muda di kompleks perumahan Akmil, tak jauh dari kampung saya.

Entah bagaimana ceritanya, aksi pencurian kelapa muda ini berjalan tidak mulus dan dipergoki oleh seorang tentara.

Sebagai hukuman, para tersangka kemudian dikumpulkan di kantor perumahan. Dan, betapa baik dan berbudi luhurnya para tentara ini, para tersangka yang ketahuan mencuri kelapa muda ini kemudian malah diberi apa yang mereka curi. Mereka diberi masing-masing dua kelapa muda.

Tapi jelas harus ada timbal baliknya.

Para maling kurang peruntungan itu kemudian disuruh mengupas kelapa muda tersebut. Namanya hukuman, ya tidak dengan bantuan golok, terlalu gampang. Mereka disuruh melakukannya dengan mulut.

Mereka baru boleh pulang dan dinyatakan bebas dari persidangan bila masing-masing sudah berhasil mengupas kelapa muda tersebut dengan mulut mereka.

Bagi orang yang kesurupan saat jathilan atau kuda lumping, mengupas kelapa dengan mulut tentu urusan remeh belaka, namun bagi orang yang sedang waras dan tidak sedang dirasuki demit apa pun, mengupas kelapa dengan mulut adalah salah satu bentuk penyiksaan yang ngilu lagi menyakitkan.

Boleh dibilang, hukuman ini kejam sekaligus tidak kejam. Kejam karena si terhukum akan begitu tersiksa, tidak kejam karena orang yang melihat hukuman ini tak akan merasa iba.

Alhamdulillah, meski telah berkali-kali mencuri di kompleks tentara, saya sama sekali belum pernah mendapatkan hukuman jenis ini. Yah, mungkin si tentara sadar, melihat topografi gigi saya yang progresif ini, mengupas kelapa dengan mulut bukanlah bentuk hukuman, melainkan rekreasi atau pertandingan persahabatan.

Mandi Full

Kali ini cerita soal kawan saya, sebut saja Marcopolo. Ia terciduk oleh militer karena mabuk di tempat yang tak semestinya.

Dalam kondisi yang masih liyut, ia dibawa ke markas untuk menerima hukuman. Kali ini hukumannya adalah mandi.

Ya, mandi. Namun, bukan mandi biasa, melainkan mandi malam hari dan dipaksa untuk menghabiskan satu batang sabun langsung saat itu juga.

Bayangkan, malam hari, diberi satu batang sabun mandi, disuruh mandi, dan sabunnya harus habis.

Yang terjadi kemudian adalah Marcopolo memulai guyuran air pertamanya saat mandi pukul sebelas malam, dan baru bisa menuntaskan dan menghabiskan sabun mandinya pukul tiga pagi.

Itu adalah mandi paling lama yang pernah dirasakan Marcopolo.

Semut Rangrang

Ini hukuman yang dulu pernah didapat bapak saya sewaktu muda dan masih bujang karena kelewat bengal.

Jadi, dulu itu, entah karena momentum apa, pernah ada peristiwa penjarahan di kantor pos tak jauh dari perumahan Akmil.

Hasil jarahan yang begitu besar nilainya saat itu adalah perangko dan bertumpuk-tumpuk majalah berbahasa Jawa Djaka Lodang.

Bapak saya bukan tipikal orang pemberani. Dia tidak ikut dalam aksi penjarahan tersebut. Sayang, walau tidak terlibat langsung, ia rupanya ikut mengambil andil yang justru sangat besar peranannya: sebagai penjual hasil jarahan.

Dasar nasib. Penjarahan itu terlacak oleh tentara dan bisa diusut sampai tuntas. Para pelaku termasuk bapak saya sebagai penjual jarahan ditangkap dan lagi-lagi dibawa ke kantor perumahan untuk menerima surprise.

Dan tahukah Anda kali ini hukuman apa yang diberikan? Tentu saja bukan disuruh ngremusi halaman-halaman majalah Djaka Lodang seperti yang dilakukan kepada para pencuri kelapa muda tadi.

Hukuman yang diberikan kali ini adalah, tangan para tersangka diikat ke belakang, dibuka celana mereka, kemudian ditaburkanlah satu kompi alias satu genggam semut rangrang di balik celana dalam mereka.

Yang terjadi kemudian adalah sebuah penderitaan berbalut sensualitas.

Si pemilik burung pusaka akan kelojotan menahan gigitan-gigitan si semut. Sedangkan si semut berpesta pora karena mendapat ladang eksplorasi yang baru.

Gerobak Atraksi

Hukuman yang ini lagi-lagi diterima oleh bapak saya. Bedanya, yang menerimanya bapak saya sendiri, tidak bareng-bareng dengan sesama tersangka. Sebab, tersangkanya ya memang bapak saya thok.

Kejahatan yang dilakukan bapak saya adalah kepergok melintasi jalan kompleks perumahan Akmil yang jelas-jelas bertanda “Dilarang lewat selain penghuni”.

Bapak saya lewat dengan gerobak kayuh es kelapa muda. Saat itu, bapak saya masih jualan es kelapa muda di kantin sekolah SMP Ahmad Yani yang lokasinya berada di dalam kompleks perumahan Akmil.

“Heh! Kamu bisa baca nggak itu tanda?” tanya seorang tentara yang memergoki bapak saya.

Sadar akan kesalahannya, bapak saya langsung pasrah. Ia pun menjawab dengan jawaban yang tak berkelit.

Akhir perkara, bapak saya disuruh putar balik. Bedebahnya, bapak saya harus putar balik tidak dengan posisi gerobak maju ke depan, melainkan harus dikayuh mundur ke belakang sama persis seperti rewind saat ia salah melintasi jalan.

Sampai rumah, bapak saya langsung bercerita dengan penuh emosi. “Padakke aku ki pemain sirkus wae!” umpatnya.

Mendengar ceritanya, tentu saja saya tertawa tak habis-habis.

Yang Memaksa Untuk Pulang

| Wednesday, 27 September 2017 |

Saya harusnya pulang ke Magelang rabu sore kemarin, tapi niat saya itu harus tertunda karena cuaca jogja sedang mesra-mesranya dengan hujan. Yah, maklum, mungkin banyak anak puisi yang berdoa agar Tuhan menurunkan hujan agar mereka bisa menghayati puisi dan kesenduan mereka.

Oleh adik saya, saya kemudian di wasap, dia tanya kenapa saya nggak jadi pulang, sudah diarep-arep emak, katanya. Adik saya juga bilang, katanya emak saya sudah menyiapkan sesuatu buat saya.

Saya balas saja: hujan, kemis aku pulang.

Dan, hari ini, akhirnya saya kesampaian juga buat pulang, walau hanya satu hari, sebab besok Jumat saya harus kembali ke Jogja, ada rapat redaksi.

Begitu sampai di rumah, emak saya sudah menyambut saya dengan wajah yang sumringah. Ini semacam wajah sumringah yang tak seperti biasanya, wajah sumringah yang mungkin hanya saya yang tahu apa sebabnya.

Saya langsung berlari ke dapur, dan benar saja. Di sana, sudah tersedia dua wajan di atas kompor, dan masing-masing berisi keindahan duniawi: Sayur jengkol dan sayur kulit melinjo. Si peringkat 1 dan peringkat 2 dalam daftar sayur kesukaan saya.



Tak butuh waktu lama bagi saya untuk segera menandaskan dua porsi sekaligus. Saya tak peduli besok pas rapat kawan-kawan Mojok bakal terganggu dengan bau mulut saya. Sebab, secinta-cintanya saya sama Mojok, jelas saya jauh lebih cinta sama emak saya, dan masakannya.

Benar kata orang. Setiap anak tahu, kapan ia harus pulang, namun hanya ibunya yang tahu, apa yang bisa memaksa anaknya untuk pulang.

Warna Bunglon dan Hal Tak Penting Lainnya

| Sunday, 3 September 2017 |

"Seperti apakah warna bunglon jika berada di tempat yang penuh dengan cermin?"

Mak tratap saya membaca judul artikel tersebut. Bukan... bukan... bukan karena rasa penasaran saya akan warna si bunglon, tapi karena terfikir betapa selonya orang yang begitu niat dan berambisi mencari jawaban atas pertanyaan tidak penting tersebut.

Lama-lama, saya kok ya jadi merenung sendiri. Kadang dunia memang tidak selalu tentang perkara yang penting-penting. Ada kalanya, dunia juga membutuhkan apa saja yang sejatinya tidak terlalu penting.

Perenungan yang lumayan bermakna, karena setidaknya, kini saya jadi sedikit tahu, untuk apa Gusti Alloh menciptakan buku tulis halus, puting lelaki, politikus, dan klub sepakbola Liverpool.

Tentang Saya

Saya Agus Mulyadi, biasa dipanggil Gus Mul (bukan lulusan pesantren seperti Gus Dur, Gus Muh, maupun Gus Mus. Gus Mul hanya akronim dari nama saya). Blogger dan Freelance Layouter. Kini berusia 24 tahun. Aktif di Karang Taruna dan Komunitas Blogger Magelang Pendekar Tidar. Profil lebih lengkap, Lihat Disini

Tambahkan saya di Google+

 
Copyright © 2010 Agus Mulyadi Blog , All rights reserved
Design by DZignine . Powered by Blogger