Nama Cantik Deddy Mizwar Dedi Mulyadi

| Monday, 8 January 2018 |

Ketika akhirnya koalisi Golkar-Demokrat memutuskan untuk mengusung Deddy Mizwar dan Dedi Mulyadi menjadi calon Gubernur dan Wakil gubernur Jawa Barat, maka saat itu pulalah koalisi lain patut ketar-ketir. Sebab, Deddy Mizwar dan Dedi Mulyadi punya dua nama yang sangat othak-athik-able.

Keduanya bisa menggunakan nama panggung yang sangar: Demiz-Demulz.

Kalau mau lebih singkat, bisa pakai Duo DM atau 2DM. Nanti tagline-nya bisa dibikin rima: "Kejar gebetan lewat DM, ikut coblosan pilih DM"

Atau kalau mau keminggris, bisa pakai nama panggung Deddy-Dedi, nanti taglinenya "Deddy and Dedi are Our Daddy", atau "No Deddy, No Dedi, No Party"

Jangan salah, urusan nama ini sangat penting untuk materi kampanye dan mempengaruhi psikologi pemilih.

Saya sudah membuktikannya. Sebagai warga Magelang, nama Bupati saya adalah Zainal Arifin, dan nama wakil bupatinya sama persis, Zainal Arifin juga.

Dan tahukah sampeyan nama populer pasangan ini saat kampanye dulu?

Yak, betul. Upin-Ipin.

Dan mereka menang.

Perbincangan dengan Lelaki Muda

| Monday, 1 January 2018 |

Semalam, saat menonton kembang api tahun baru di sekitar Artos, saya bertemu dengan seorang lelaki muda yang juga menonton kembang api. Ia menonton bersama anak dan istrinya.

Motor kami parkir sebelahan, dan kami berbincang cukup banyak.

Saya tak ingat ia bekerja di mana, tapi yang jelas, ia nyambi sebagai tukang ojek online.

Kami mengobrol panjang lebar, dari mulai soal kemacetan di Jogja dan Semarang, sampai soal pekerjaan.

Dalam salah satu sesi perbincangan, ia dengan mantap berkata begini sama saya, “Enaknya jadi tukang ojek online itu kalau ndilalah dapat penumpang cantik, Mas. Lumayan, iso mbathi-mbathi sithik.”

Saya kaget, bukan karena konteks pendapatnya, tapi lebih karena ia mengatakan itu di posisi yang hanya berjarak lima belas senti dari istrinya.

Perbincangan dengan lelaki muda ini memberikan saya pandangan baru tentang apa arti keberanian dalam menyampaikan pendapat.

Sungguh lelaki muda yang merdeka, berdaulat, dan tidak takut menantang maut.

Seni Menjawab dengan Taktis

| Tuesday, 14 November 2017 |

Dalam berbagai bidang, diplomasi menjawab dengan tangkas dan jitu menjadi sesuatu yang sangat mahal dan penting bagi seorang tokoh besar. Ia tak hanya menjadi perisai serangan, namun juga bisa menjadi serangan itu sendiri.

Saya jadi ingat dengan kisah legendaris ketika Gus Dur ditanya oleh seorang santri tentang bagaimana sikap Gus Dur saat dituduh kafir. Jawaban Gus Dur singkat namun brilian, “Ya nggak apa apa dibilang kafir, tinggal baca syahadat lagi, jadi islam lagi.”

Kali lain, dalam sebuah konferensi pers, wartawan Aristides Katoppo dengan santainya bertanya kepada Benny Murdani yang terkenal berwajah mrengut itu, “Pak, kenapa sih Pak Benny jarang tertawa dan senantiasa cemberut?” Jawaban Benny taktis, “menurut kepercayaan Cina, saya ini dilahirkan dalam tahun monyet, dan saudara pasti paham bagaimana monyet itu, antara ketawa dan mrengut tidak ada bedanya.”

Hal tersebut membuat saya semakin yakin, bahwa bapak saya agaknya berbakat menjadi tokoh besar. Sebab, pernah suatu ketika, saya bertanya kepada bapak saya, “Pak, apakah bapak bisa bertahan hidup selama seminggu dengan uang lima ratus rupiah?"

Ia menjawab mantap: Bisa.

Ketika saya tanya, bagaimana caranya, sungguh, jawaban dia tak kalah taktis daripada jawaban pak benny Murdani.

“Lima ratus tak belikan aqua gelas. Airnya tak minum, trus gelasnya buat ngemis.”

Tentang Saya

Saya Agus Mulyadi, biasa dipanggil Gus Mul (bukan lulusan pesantren seperti Gus Dur, Gus Muh, maupun Gus Mus. Gus Mul hanya akronim dari nama saya). Blogger dan Freelance Layouter. Kini berusia 24 tahun. Aktif di Karang Taruna dan Komunitas Blogger Magelang Pendekar Tidar. Profil lebih lengkap, Lihat Disini

Tambahkan saya di Google+

 
Copyright © 2010 Agus Mulyadi Blog , All rights reserved
Design by DZignine . Powered by Blogger