Seni Merumitkan Perkara Sederhana

| Tuesday, 4 December 2018 |

Di dunia ini, selalu saja ada orang-orang yang di tangannya, perkara sesimpel dan semudah apa pun selalu bisa menjadi perkara yang begitu rumit, gawat, dan membingungkan.

Orang-orang jenis ini mungkin adalah satu dari sekian jenis manusia yang, meminjam istilah Albert Einstein, have a problem for every solution.

Dan entah kenapa, saya sering dipertemukan dengan manusia-manusia jenis ini. Entah di sosial media, atau di di dunia nyata.

Saya tentu saja selalu punya kesan tiap kali bertemu dengan orang jenis itu. Termasuk orang yang saya temui hari Kamis kemarin.

Kamis kemarin, saya mengikuti acara “Facebook Laju Digital”, semacam acara workshop tentang pemanfaatan fitur-fitur produk Facebook untuk bisnis yang diadakan oleh Facebook Indonesia di Alana Hotel.

Salah satu sesi dalam acara tersebut adalah pembahasan tentang penggunaan Whatsapp business. Saya memang cukup menantikan sesi ini, sebab saya memang sedang getol-getolnya mengoprek Whatsapp business seiring dengan kesibukan saya mengurus toko buku online yang saya jalankan bersama pacar saya.

Sesi Whatsapp business tersebut diisi oleh pemateri dari Facebook. Saya lupa siapa nama pematerinya, namun yang jelas, dari prejengan-nya, tampak betul bahwa ia adalah lelaki metroseksual yang sangat memperhatikan penampilan.

Dalam penyampaian materinya, sebelum sampai pada materi pokok, ia menceritakan kisah bagaimana ia merasa begitu tertolong oleh Whatsapp.

“Saat berangkat ke Jogja kemarin, saya terburu-buru, packing saya kurang sempurna, saking buru-burunya, celana dalam saya ketinggalan,” ujarnya. “Saya baru sadar kalau ternyata celana dalam saya ketinggalan saat saya sudah sampai Jogja. Saya panik setengah mati, nggak mungkin dong saya harus pakai celana dalam yang sama selama tiga hari selama saya tinggal di Jogja.”

Demi mendengar ceritanya tersebut, saya mendengus agak kesal. Saya berbisik pada peserta di samping saya, “Iki pematerine ketoke ra tau mlebu Indomaret, ha mung perkoro cawet we kok urusane iso ribet banget. Ha gari tuku neng Indomaret, patang puluh ewu entuk telu. Beres tho”

“Hoo, ribet banget, Mas…”

Saya kembali melemparkan konsentrasi saya pada si pemateri. Saya menunggu, kerepotan apa lagi yang akan ia sampaikan.

“Untunglah ada Go-mart dan ada whatsapp,” kata dia. “Begitu sampai hotel, saya langsung buka go-mart, trus beli celana dalam di outletnya Uniqlo. Karena pilihan celana dalam di Uniqlo banyak, si driver yang membelikan pesanan celana dalam kemudian berkomunikasi dengan saya lewat Whatsapp, dia kirim beberapa gambar pilihan celana dalam.”

Bedebah. Isi hati saya berontak. Saya kembali berbisik pada kawan di sebelah saya, kali ini dengan suara yang lebih keras.

“Asuuu, mung cekekan cawet we ngasi tuku ng Uniqlo, opo manuke deknen ki larang po yo? Manuke manuk hypebeast ketoke.”

Kawan di sebelah saya malah tertawa, padahal sungguh, saya tidak terlalu berniat melucu, murni karena saya kesal saja dengan adanya kesenjangan dan perbedaan kasta cawet yang ternyata begitu lebar.

Saya kembali mendengarkan penuturan pemateri hypebeast ini. Tentu saja dengan perasaan yang dongkol-dongkol geli.

Diam-diam, saya semakin meyakini teori “Kesuksesan pria berawal dari celana dalamnya”.

Jangan-jangan, saya jadi karyawan Mojok karena celana dalam saya mereknya Indomaret, coba kalau celana dalam saya mereknya Uniqlo, mungkin sekarang saya sudah jadi karyawan Facebook atau karyawan Microsoft.

Pada akhirnya, sepanjang sesi berjalan, yang paling bisa saya ingat dengan jelas dari paparan materinya justru soal celana dalamnya, bukan soal Whatsapp business-nya.

Ah, mungkin di luar sana, memang ada banyak orang-orang yang hidup dengan seni merumitkan perkara sederhana.

Menghadapi Hidup Dengan Jurus Dipikir Karo Mlaku, Sing Penting Yakin, dan Mbuh Piye Carane

| Wednesday, 28 November 2018 |

Saya punya banyak sekali kawan dengan berbagai sifat, dari yang paling kikir dan pelit sampai yang paling murah hati dan ringan tangan. Dari yang paling kalem, sampai yang paling nyolot. Dari yang paling lucu sampai yang paling garing dan kering bak kanebo yang sudah mengeras.

Dari sekian banyak kawan yang saya punya, saya selalu terkagum-kagum dengan kawan yang selalu bisa melihat perkara dengan begitu sederhana. Memandang sesuatu dengan sangat simpel, nikmat, dan kadang masuk akal.

Gembus, adalah kawan saya yang masuk dalam jenis ini.

Ia adalah tipikal manusia yang, bagi saya, selalu saja punya cara yang elegan dalam menghadapi persoalan hidup. Selalu bisa menghadapi hidup dengan cara-cara yang santai dan entah kenapa, selalu berhasil membuat saya terkagum-kagum.

Gembus, yang bekerja sebagai juru las di salah satu usaha pembuatan pager tralis dan kanopi ini di antara kawan-kawan sepermainan saya bukanlah sosok yang punya penghasilan besar, namun dialah yang hampir selalu menjadi penyumbang bantingan terbesar kalau ada acara serkileran atau sekadar kumpul-kumpul mabuk saat malam mingguan.

Rasanya hampir berkali-kali, ia menghabiskan hampir seluruh gaji mingguannya yang ia terima setiap sabtu untuk mentraktir kawan-kawannya mabuk saat malam minggu. Gembus begitu royal.

Saya yang, merasa sedikit punya pengetahuan manajemen duit, sering menanyakan hal ini pada Gembus.

“Mbus, nek bayaranmu mbok entekke ngge urusan mabuk ngene iki, njuk sesuk seminggu kowe le mangkat kerja piye?” Tanya saya.

Dan entah kenapa, jawaban Gembus selalu saja membuat saya terkekeh antara kagum dan jengkel.

“Halah, Gus, mabuk ki urusan dino iki, lha nek urusan kerjo ki urusan sesuk senin. Saiki yo mikir urusan saiki. Urusan senin dipikir sesuk senin. Teko santai tho, buos.”

Kenyataannya, gembus memang selalu punya cara yang tak diduga-duga untuk menyambung hidup selama seminggu ke depan sampai masa gajian berikutnya tiba. Kadang untuk jajan seminggu, ia bisa saja menjual salah satu burung peliharannya. Untuk berangkat kerja, ia bisa saja menebeng angkot yang ditarik oleh Bayan, tetangga kami. Untuk urusan rokok, ia bisa saja ngebon dulu di warung langganan milik tetangganya.

“Urip ki kan pancen mung nunut utang ro nyarutang tho, Gus?” ujar Gambus sambil prengas-prenges. “Nek utang ki sing kendel sisan, rasah ragu-ragu, mumpung cocote isih dipercoyo!”

Kadang saya bingung, apa yang ia lakukan ini masuk dalam kategori goblok, atau masuk dalam kategori pasrah dan tawakal.

Gembus selalu punya cara yang brilian untuk menghadapi hidup. Termasuk dengan menipu saya.

Pernah suatu ketika, tengah malam, dia datang mengetuk pintu kamar saya (kamar saya punya dua pintu, salah satunya terpisah dari ruang tamu), dia bilang ingin meminjam uang. Lima puluh ribu, katanya.

“Ngge tuku poltri (pakan ayam), Gus. Pitik-pitikku do protes, pakanane entek, nek ra dipakani saiki, sesuk esuk bakal podo ngambek,” kata Gembus.

Gembus yang saya tahu memang memelihara beberapa ayam pasang tampang yang meyakinkan.

Saya tentu saja percaya. Maka, tanpa banyak pikir, saya langsung pinjami dia lima puluh ribu.

Pagi harinya, saat kumpul di warung Mbak Ninik, tempat kami biasa nongkrong, saya ditertawakan oleh Marcopolo, salah seorang kawan saya satu permainan.

“Gembus mambengi jarene nyilih duit ning kowe po, Gus?” Katanya sambil merenges.

“Hoo, piye tho?”

“Kowe gelem nyilehi?”

“Yo gelem, meh ngge tuku poltri, mesakke, jarene piteke gembus ora iso disemayani, nek ra dipakani, esuke bakal do ngambek pitike…”

Marcopolo tertawa terbahak. “Tak kandhani, Gus. Seko jaman nabi Adam ngasi tekan seprene, hurung ono sejarahe pitik ki iso ngambek”

Saya terhenyak. Bedebah, ternyata saya ditipu gembus mentah-mentah. Gembus yang sesaat kemudian ikut bergabung dengan kami pun kemudian juga ikut tertawa dan menggoblok-goblokkan saya.

“Kowe ki, kerjone nulis, tapi kok goblok, Ha mbok mikir, rumangsane toko pakan pitik po yo ono sing bukak jam siji bengi?” ejek Gembus tanpa merasa bersalah pada saya.

“Asuuuuu…”

Belakangan baru saya ketahui, kalau uang yang Gembus pinjam tengah malam itu ternyata ia gunakan untuk modal judi. Ia menggunakan alasan untuk beli pakan ayam karena ia yakin, saya tak akan meminjaminya kalau ia bilang uangnya akan digunakan untuk judi.

Saya semakin yakin, bahwa Gembus adalah senyata-nyatanya manusia Jawa yang hidup dengan tiga falsafah pamungkas: “Dipikir karo mlaku”, “Sing penting yakin”, dan “Mbuh piye carane”.

Selalu ada solusi mudah dan ringan atas masalah yang ia hadapi. Gembus selalu mengingatkan saya atas anekdot lawas tentang pria tua yang ngebet pengin ngewek dengan mahasiswi.

“Aku ini sudah bangkotan, istri sudah kendor, anak sudah dua, tapi aku pengin banget sekali saja bisa ngewek dengan mahasiswi, kamu punya cara?” tanya pria tua pada temannya.

“Ada…” jawab temannya.

“Apa?”

“Suruh istrimu kuliah lagi!”

Masuk Rumah Sakit Gara-Gara Jengkol

| Tuesday, 20 November 2018 |

Hari itu boleh jadi merupakan hari yang sangat menyenangkan. Saya pulang dari Semarang setelah mengisi semacam seminar kemahasiswaan yang diselenggarakan oleh Undip.

Dalam perjalanan balik ke Jogja, saya mampir sebentar ke Magelang, melepas kangen sama keluarga, dan mengambil pesanan saya: sayur jengkol.

Dari Magelang, saya membawa tiga plastik penuh sayur khuldi Jawa itu. Saya tak menyangka, jika sayur tersebut bakal menjadi awal rasa sakit yang teramat sangat.

Sampai Jogja, sayur itu langsung saya lahap dengan sangat dramatis. Nasinya setengah, dan jengkolnya full. Sangat kolosal. Lebih layak disebut jengkol lauk nasi, ketimbang sebaliknya.

Dan itu saya lakukan berkali-kali. Saya bahkan menyantapnya tanpa nasi, saya gado, saya titil-titil, sampai saya tak sadar sudah berapa jengkol yang saya santap.

Rasa sakit itu kemudian muncul sekitar pukul setengah tujuh malam saat saya akan menemui kawan lama saya di salah satu cafe. Saya mampir ke Alfamart sebentar untuk membeli permen relaxa. Maklum, bagi pemangsa jengkol, permen relaxa adalah salah satu obat utama untuk mengurangi “bau naga” yang timbul dari mulut.

Saat berdiri untuk antri di kasir, perut saya melilit luar biasa. Sakitnya setengah mati.

Saya mencoba untuk menahan rasa sakit tersebut, setidaknya selama saya harus ngobrol dengan kawan lama saya. Saya tak ingin menyambutnya dengan kondisi saya yang tampak sakit.

Saya dan kawan saya ngobrol sampai sekitar pukul setengah sepuluh.

Setelah kawan saya pulang, rasa sakit di perut semakin menjadi-jadi. Perut saya seperti diremas-remas. Saya berusaha untuk tidur agar sakitnya tak terasa, tapi saya gagal saking sakitnya.

Tengah malam, rasa sakit tersebut semakin menjadi-jadi. Ia seperti sedang mengejek saya. Saya pasrah. Saya menyerah. Saya kemudian menghubungi Kalis untuk mengantarkan saya ke rumah sakit.

Tengah malam, menggunakan Go-car, kami bertolak ke Sarjito.

“Sakit apa, Mas?” Tanya Driver Go-car

“Saya nggak tahu, Mas. Saya takutnya ini kena usus buntu…” jawab saya sambil terus menahan sakit.

Mobil kemudian melaju dengan kecepatan yang sangat Pantura. Si Driver mungkin sadar diri, bahwa ia sedang mengangkut makhluk lemah yang butuh mendapatkan penanganan dengan segera.

Rasa sakit mulai mengacaukan pikiran saya dan membuat saya melantur tak keruan.

“Lis, apa jangan-jangan aku mens, ya? Apa aku minum Kiranti saja?” Kata saya pada Kalis.

“Rasah aneh-aneh,” jawab Kalis.

Sekitar lima belas menit perjalanan, kami akhirnya sampai di Sarjito. Catatan cleansheet saya yang sejak kelas 2 SMP untuk tidak pernah masuk rumah sakit sebagai pasien akhirnya ternodai.

Di Sarjito, saya langsung diperiksa oleh dokter jaga, dugaan sementara, asam lambung saya naik. Ini lumayan aneh, sebab selama ini, saya memang tidak pernah punya riwayat buruk dengan lambung.

Saya kemudian diberi resep oleh dokter.

Seorang kawan SMA, sebut saja Kutul yang kebetulan jadi perawat jaga di Sarjito kemudian menghampiri saya.

“Kowe ki asline mung kurang mangan, Gus…” ujarnya sambil tertawa dan mengambil foto saya yang sedang tergolek lemah untuk kemudian ia posting di grup wasap SMA.

“Lambemu…” jawab saya sambil meringis.

Belakangan, baru diketahui bahwa ternyata sakit yang saya rasakan bukan karena usus buntu, asam lambung, atau kurang makan. Melainkan karena sebuah penyakit unik yang disebabkan oleh terlalu banyak makan jengkol: jengkolit, alias jengkolen.

Hal ini ketahuan setelah semua gejala yang saya rasakan cocok dengan gejala jengkolit: nyeri perut, muntah, pengeluaran urin sedikit dan terdapat titik-titik putih seperti tepung di ujung penis.

Ah, hidup memang “wolak-walik”. Rasanya baru kemarin saya dan kawan-kawan di komunitas KBEA menertawakan Kikik karena masuk klinik sebab babak bundas setelah menabrak motor orang yang parkir beli martabak, ealah, sekarang saya yang jadi bulan-bulanan karena masuk rumah sakit sebab overdosis jengkol.

Tentang Saya

Saya Agus Mulyadi, biasa dipanggil Gus Mul (bukan lulusan pesantren seperti Gus Dur, Gus Muh, maupun Gus Mus. Gus Mul hanya akronim dari nama saya). Blogger dan Freelance Layouter. Kini berusia 24 tahun. Aktif di Karang Taruna dan Komunitas Blogger Magelang Pendekar Tidar. Profil lebih lengkap, Lihat Disini

Tambahkan saya di Google+

 
Copyright © 2010 Agus Mulyadi Blog , All rights reserved
Design by DZignine . Powered by Blogger