Memaknai Makanan di Hotel Berbintang

| Tuesday, 23 June 2020 |

Kalau suatu ketika Anda menginap di hotel bintang tiga, empat, atau lima, maka sudah hampir bisa dipastikan bahwa sarapan yang akan Anda santap di pagi hari pastilah makanan yang kualitetnya jempolan dan punya rasa yang di lidah bukan hanya bisa bergoyang, tapi juga berdansa.

Apalagi kalau bintang lima, makanannya pasti sempurna.

Telor rebusnya pas dan eco. Ia seperti direbus dengan durasi yang presisi: tidak kelamaan, tidak juga kecepetan. Warna kuning telurnya sempurna serupa bendera Golkar yang masih baru dan belum sering kena angin malam dan sinar matahari.

Nasinya pun pulen setengah mampus. Dibikin dari beras terbaik. Nasi yang dengan mengunyahnya saja niscaya langsung bisa meningkatkan kepercayaan diri seseorang yang sudah bertahun-tahun menerima jatah beras cap raskin dari kelurahan.

Steak dagingnya juga pasti dibikin dari daging sapi yang mumpuni. Sapi yang pakannya saja pasti rumput pilihan yang sama sekali tidak bercampur dengan gulma, hasilnya, dagingnya begitu empuk dan legit. Tidak butuh banyak tenaga dan makian untuk bisa mengunyahnya dengan sempurna.

Buahnya apalagi. Segarnya paripurna. Warnanya menggoda. Merahnya semangka, kuningnya nanas, jingganya pepaya, dan putihnya begkoang, semuanya tampil dalam warna yang paling ranum dan paling estetik, yang semakin menyelerakan hati untuk segera melahapnya. Rasanya jangan ditanya. Sudah pasti enak betul laksana buah dapat nyolong dari komplek perumahan Akmil.

Kalau hotel yang nggak berbintang, ya jangan harap bisa mencicipi kesempurnaan-kesempurnaan di atas. Mentok roti panggang dengan isi meses coklat yang tidak merata. Kadang sesekali menunya nasi goreng yang rasanya, mengutip apa kata Mahbub Junaidi, netral. Tidak manis tidak juga asin. Pokoknya blas tidak ada rasa nasi gorengnya.

Itu juga masih beruntung karena roti dan nasi goreng bagi sebagian orang dianggap masih cukup kompetitif dan menyenangkan.

Di beberapa hotel malah hanya menyediakan teh anget dengan kacang rebus sebagai makanannya. Makanan, lebih tepatnya cemilan, yang bakal membuat siapa pun tamu yang menginap langsung merasa sebagai seorang peronda penjaga poskamling di masa darurat kamtibmas alih-alih seorang turis tajir yang sedang melancong.

Saya tentu saja bukan pelancong yang rajin. Kendati demikian, saya cukup mujur karena sering menginap di hotel berbintang. Musababnya karena saya sering sekali diminta untuk menjadi pemateri kelas menulis atau menjadi pengisi acara mewakili Mojok. Kalau acara tersebut diselenggarakan di luar kota, saya sering diinapkan di hotel yang, alhamdulillah bagus oleh panitia. Sungguh berkah anak shaleh.

Kendati demikian, saya jarang sekali bisa menikmati makanan hotel. Entah kenapa, seenak apa pun sarapan yang disediakan oleh hotel, rasanya tak pernah bisa memuaskan batin saya. Kenyang memang kenyang. Enak memang enak. Namanya juga hotel bagus, hotel berbintang. Namun rasanya kayak ada yang kurang.

Saya baru merasa plong kalau saya sudah makan ayam penyet, nasi padang, atau pecel lele hasil beli via go-food yang kemudian saya makan di dalam kamar sembari menonton tayangan ular yang sedang memburu kodok atau azab piton rakus yang tertusuk duri-duri landak di channel National Geographic.

Ada semacam kepuasan saat memakan pecel lele itu. Pada setiap suapan yang masuk, ada bagian dari diri saya yang hilang sejak menginap di hotel yang seakan muncul kembali.

Perasaan muncul kembali itu sudah bisa saya rasakan bahkan sejak driver go-jek mengirim pesan “Pak, saya sudah di depan!”

Saya, setelah membaca pesan tersebut, bakal langsung bergegas. Saya melompat dari tempat tidur, saya raih kacamata, saya pakai sandal hotel saya yang empuk tapi tidak senyaman swallow itu, saya langsung merangsek keluar kamar dan segera menuju ke lobi.

Keluar dari lift, saya cepat melesat. Dari jauh, sudah tampak si Bapak driver berdiri mencangking makanan pesanan saya.

“Mas Agus, ya?”

“Iya,” jawab saya.

“Ini, Mas,” katanya sembari menyerahkan bungkusan yang ia tenteng kepada saya.

“Sudah bayar pakai go-pay ya, Mas.”

“Ya, Mas,” jawabnya.

“Sudah lama kerja di sini, Mas?” tanyanya.

Saya tercekat. Bedebah. Ia ternyata mengira saya karyawan di hotel ini, dan bukannya tamu. Apa dia tidak melihat sandal yang saya pakai?

Saya tentu saja agak tersinggung dengan pertanyaan itu. Pertanyaan itu seolah meragukan kemampuan finansial saya. Pertanyaan yang berisi tuduhan bahwa tampang saya ini tidak punya potongan turis yang kuat nginep di hotel berbintang.

Tapi sebagai pribadi yang luhur, tentu saja tetap saya jawab belaka pertanyaan yang berbau tantangan terbuka itu.

“Saya nginep di sini, Pak.”

“Oh…”

Ia kemudian berlalu, saya pun kembali ke kamar.

Kali ini, ada perasaan aneh yang lain. Saya merasa tak perlu memakan pecel lele untuk menghadirkan kembali sebagian dari diri saya yang hilang sejak menginap di hotel. Pertanyaan keparat dari driver go-jek tadi ternyata sudah cukup menggantikannya.

Kelihatannya memang sudah sepantasnya saya diragukan. Seharusnya memang begitu. Itulah saya yang sejati. Saya yang hakiki.

Suara Melengking Kalis Mardiasih

| Tuesday, 2 June 2020 |

Kata banyak orang, suara yang melengking dan nyaring adalah hasil konstruksi dari perpaduan berbagai aspek, dari mulai lingkungan, sosial, sampai budaya.

Saya tak terlalu yakin dengan anggapan tersebut, walau memang pada kenyataannya, ada banyak pengakuan tentang hal itu.

Mamah Dedeh, dai perempuan yang wajah dan suaranya sudah pernah menemani jutaan ibu-ibu majlis ta’lim dari seluruh penjuru nusantara itu adalah salah satu sosok yang punya suara keras melengking. Suara yang kemudian membuat dirinya punya kesan galak dan judes.

Berdasarkan keterangan dari Abdel, tandemnya di acara Mama dan Aa’, suara Mamah Dedeh itu terbentuk karena sedari kecil Mamah Dedeh memang tinggal di dekat usaha penggilingan padi, sehingga sejak kecil ia terbiasa untuk ngomong kenceng agar tidak kalah dengan suara penggilingan padi.

Pada kasus yang lain, pemimpin legendaris Kamboja, Norodom Sihanouk itu juga dikenal sebagai sosok dengan suara yang nyaring lagi melengking. Tak sekedar itu, ia juga dikenal doyan nyerocos kalau sedang berbicara. Sempurna sudah. Nyaring dan nyerocos.

Dalam suatu kesempatan, istri Sihanouk, Norodom Monineath menjelaskan alasan kenapa suami tercintanya itu punya suara yang demikian. Penjelasannya sangat ilmiah namun juga jenaka.

“Kamboja itu lengang, penduduknya cuma enam juta. Karenanya Sihanouk mesti nyaring suaranya, sebab kalau tidak, negeri akan sunyi senyap.”

Apakah itu kemudian menjadi sebab sebenarnya kenapa Sihanouk punya suara yang nyaring? Tentu saja belum tentu. Namun alasan geografis yang meluncur itu boleh jadi memang punya benang merah.

Penduduk Korea atau Jepang, setidaknya melalui berbagai serial film, kita tahu punya suara yang keras dan di telinga kita terdengar sangat emosional.

Di berbagai drama Korea, kita menyaksikan betapa orang Korea kalau ngomong banyak yang suaranya kenceng.

Setali tiga uang, orang Jepang juga demikian. Film Crows Zero yang sangat populer itu bahkan dengan sukses mengamplifikasi fakta tentang suara yang keras dan nyaring itu.

Teriakan “Takiya Genjiiiiiiiieeehhh” atau “Serizawaaaaa!” itu entah kenapa menjadi sangat populer dan seolah mewakili tipikal suara orang Jepang. Suara yang seolah lahir dari orang dengan tenggorokan yang penuh dengan pasir.

Amplifikasi suara orang Jepang lewat film Crows Zero ini sampai memunculkan tebakan anekdotal tentang apa bahasa Jepangnya mengajak orang ngopi, tebakan yang jawabannya adalah “Ngopi Oraaaaaaaa?”

Untuk soal ini, contoh yang paling dekat dengan hidup saya saja tentu saja adalah istri saya sendiri. Kalis, istri saya punya suara yang sangat nyaring dan keras serupa penyanyi rock n roll Joan Jett.

Bayangkan, saat ia sedang ngobrol dengan kawannya melalui sambungan telepon di ruang tengah, saya yang berada di luar rumah masih tetap bisa mendengarkan suaranya yang nyaring itu. Bahkan setelah pintu saya tutup, suaranya tetap terdengar sangat keras.

Bukan hanya saat menelpon, bahkan saat berbicara dengan saya pun, dalam keadaan setenang apa pun, suaranya terdengar sangat keras.

“Maaaas, sayurnya dihabisiiiiiin,” ujarnya saat menyuruh saya agar tidak menyisakan banyak nasi di piring.



Suara Kalis senantiasa terdengar sangat intimidatif. Kalau saja saya tak tahu kalau suara itu keluar dari mulut istri saya, mungkin sudah jiper nyali

Suara istri saya yang nyaring dan kencang membuat rumah yang saya tinggali lebih mirip lembaga pemasyarakatan alih-alih rumah, sebab suara Kalis memang lebih cocok sebagai suara yang meluncur dari sipir kepada tahanan alih-alih dari istri kepada suami.

Dulu, jauh sebelum kami menikah, saya pernah menanyainya tentang kenapa suaranya begitu nyaring. Jawabannya cukup membuat saya maklum. “Rumahku kan Blora, Mas. Blora itu hutan jati, jadi kalau ngomong harus kenceng,” jawabnya.

Jawaban yang kelak saya anggap sebagai omong-kosong belaka, sebab saat pertama kali saya mampir ke rumahnya, jelas sekali bahwa rumahnya berada di tengah perkampungan kota yang begitu padat, blas nggak ada hutan-hutannya.

“Suaraku nyaring dan keras saja kamu masih sering nggak nurut, apalagi kalau suaraku kalem,” kata Kalis defensif suatu kali.

Pernyataan tersebut membuat saya pasrah dan siap untuk menerima kenyataan, bahwa rumah kami masih akan terus menjadi lembaga pemasyarakatan. Entah sampai kapan.

Tapi tentu saja saya menikmatinya. Sebab saat ini, saya adalah “narapidana” yang mujur dan beruntung. Lha gimana, narapidana mana yang tiap hari dimasakin sambel pindang kemangi kualitet tinggi sama sipirnya?

Mungkin hanya di lembaga pemasyarakatan inilah, saya “dipenjara” seumur hidup, dan tak sudi mendapatkan remisi.

Aseeeeeeeeeeek...

Selamat Lebaran

| Saturday, 23 May 2020 |

Ada satu ritual sederhana yang selalu saya lakukan tiap kali lebaran datang. Memakan tape ketan buatan nenek yang memang sengaja nenek bikin hanya setahun sekali saat lebaran.

Itu tapi ketan spesial. Rasanya ciamik. Ia bukan hanya bergoyang di lidah, tapi juga berdansa di sana.

Saya tidak sedang membual, sebab memang berdasarkan penilaian lidah saya, tape ketan buatan nenek adalah salah satu tape ketan terbaik yang pernah saya santap.

Saya tak mau berdebat tentang apa sebab tape ketan yang secara penampilan sangat biasa itu bisa terasa sangat enak. Dugaan goblok saya karena tape itu dibikin dengan melibatkan cinta di dalamnya. Ini alasan yang mungkin sangat bucin, tapi sangat masuk akal.

Sesuatu yang dibikin dengan cinta, memang akan selalu penuh dengan kesempurnaan.

Tiap lebaran, tape ketan buatan nenek selalu mendapatkan pujian dari banyak sanak kerabat yang ujung (bersilaturahmi) ke rumah nenek.

Serentet pujian dari kerabat dan anak-anak cucu itulah yang, menurut dugaan saya, memberikan semacam semangat tersendiri bagi nenek agar bisa membuat tape yang tetap atau lebih enak di lebaran-lebaran tahun berikutnya.

Nenek saya kini memang menjadi satu dari sedikit sesepuh dalam keluarga besar saya. Ia menjadi tujuan ujung bagi banyak anggota keluarga jauh yang memang sudah berpencar entah ke mana.

Tiap kali ada sanak saudaranya yang datang, ia pasti kemudian memanggil saya, bapak saya (yang kebetulan rumahnya sebelahan), atau anak cucu yang lain untuk memperkenalkannya kepada sedulurnya itu.

“Gus, kenalkan, ini namanya Pak Haryono, masih sedulur sama kamu, dia anak dari adiknya almarhum mbahmu,” ujar nenek. “Haryono ini tinggalnya di Salatiga, kapan-kapan kalau kami ke Salatiga, mampir, biar tetap gandeng seduluran.”

“Kalau yang ini namanya Sugeng, Gus. Masih ponakanku, kamu boleh manggil Pakde, tinggalnya di Purworejo. Jangan lupa kapan-kapan mampir. Biar pasedulurannya nggak pedot.”

Begitulah. Nenek selalu bahagia ketika memperkenalkan saya dengan saudara-saudara saya yang jauh. Saudara-saudara yang bahkan mungkin tidak saya kenal jika tidak dikenalkan oleh nenek.

Nenek akan semakin bersuka cita saat ada sanak sedulur cucu-cucu jauhnya itu memakan tape ketan buatannya dengan lahap. Ia bahkan siap mengedarkan plastik kresek kalau ada yang mau sangu tape ketan buatannya.

“Enak tho? Jelas, buatan simbah kok. Nanti kamu sangu ya, buat dimakan di jalan,” kata Nenek sumringah.

Bagi nenek, mungkin sudah tak ada kebahagiaan lain selain melihat saudara-saudaranya, anak-anak, cucu-cucu, buyut-buyutnya berkumpul, saling mengenal, sambil berharap semoga kelak mereka akan saling melanjutkan persaudaraan.

Kebahagiaan yang mungkin hanya bisa tervalidasi tiap kali lebaran datang.

Maka, ketika pandemi corona ini bertamu, saya tak bisa membayangkan, betapa akan sunyi dan senyapnya pengalaman lebaran nenek tahun ini.

Kepada nenek, saya sudah bilang bahwa tahun ini saya tak bisa pulang ke Magelang. Saya pikir, itu pula yang terjadi pada saudara-saudaranya yang lain dari luar kota. Lebaran tahun ini, akan banyak sanak saudara yang tak pulang dan menyambangi nenek.

Lebaran tahun ini, nenek saya akan melewati salah satu lebaran terberatnya. Baru beberapa bulan yang lalu adik satu-satunya meninggal, kini ia harus menerima kenyataan bahwa kesempatannya untuk bertemu dengan anak-cucunya di hari lebaran tahun ini juga kandas.

Anak cucunya yang tiap lebaran selalu menunjukkan wajah gembira saat menyantap tape ketan itu tidak akan ia temui.

Saya membayangkan, betapa ia akan tetap memasak tape ketan dengan jumlah yang sama, untuk kemudian menatapnya lekat-lekat di hari kedua lebaran sebab jumlah tape ketannya itu tak banyak yang berkurang.

Ia akan menatap toples-toples berisi kudapan yang sudah ia sediakan khusus untuk anak cucunya yang ternyata tidak pulang. Toples-toples berisi jipang, klici, unthuk cacing, kacang telor, dan makanan-makanan tradisional lainnya yang jumlahnya tak akan menyusut itu.

Nenek tahu apa itu corona, ia tahu bahwa corona adalah pageblug, namun tentu saja ia tak akan menyangka. bahwa pageblug itu sedemikian jahatnya sampai mencegah anak-anak cucunya untuk pulang dan menemuinya.

Sembari menulis ini, saya mencoba membayangkan wajah nenek, wajah yang mengisyaratkan bahwa ia tak takut dengan corona atau penyakit apa pun, ia jauh lebih takut pada sepi dan kesendirian yang perlahan mulai ia rasakan seiring dengan ketidakhadiran anak-cucu dan kerabat-kerabatnya.

Ya, tahun ini, akan ada parade wajah-wajah tua dan renta dari kakek dan nenek di banyak daerah di Indonesia. Parade wajah sendu yang harus menerima kenyataan bahwa corona menghancurkan salah satu kebahagiaan terbesar mereka.

Ya Tuhan, Panjangkanlah umur mereka. Berikanlah kebahagiaan yang sepadan sebagai ganti karena anak dan cucunya tidak bisa pulang lebaran tahun ini.

Selamat lebaran, kawan-kawan.

Tentang Saya

Saya Agus Mulyadi, biasa dipanggil Gus Mul (bukan lulusan pesantren seperti Gus Dur, Gus Muh, maupun Gus Mus. Gus Mul hanya akronim dari nama saya). Blogger dan Freelance Layouter. Kini berusia 24 tahun. Aktif di Karang Taruna dan Komunitas Blogger Magelang Pendekar Tidar. Profil lebih lengkap, Lihat Disini
 
Copyright © 2010 Agus Mulyadi Blog , All rights reserved
Design by DZignine . Powered by Blogger