Tiga Tahun Akal Buku

| Monday, 10 May 2021 |

agus mulyadi kalis mardiasih

Dulu, ketika saya dan Kalis mendirikan Akal Buku, kami menganggap itu sebagai cita-cita luhur kami. Kami ingin dilihat sebagai pasangan muda-mudi yang dimabuk asmara namun tetap produktif. Kami ingin memajukan literasi dengan mendirikan perpustakaan dan toko buku kecil. Kami ingin ikut membagikan gagasan-gagasan progresif dengan konten-konten yang kami buat.

Kalau dipikir-pikir, sungguh cita-cita yang tampak dahsyat dan luar biasa. Nggleleng, orang Jawa bilang.

Belakangan, baru kami sadar kalau Akal Buku sebagai sebuah cita-cita ternyata tidak hebat-hebat amat. Biasa saja. Blas tidak nggleleng.

Kendati demikian, Akal Buku tetap menjadi bagian penting dalam perjalanan hidup saya dan Kalis. Toh, nama Akal Buku pun diambil dari nama kami: Agus-Kalis.

Awalnya kami hanya menjual buku-buku karya kami sendiri. Kemudian melebar menjadi buku-buku yang kami suka. Hingga akhirnya melebar menjadi buku-buku yang satu selera dengan kami atau salah satu dari kami.

Awalnya benar-benar hanya diurus oleh saya dan Kalis. Hingga kemudian kami rekrut satu karyawan, kemudian jadi dua, kemudian jadi tiga.

Kami menikmati menjalankan toko buku ini. Lengkap dengan segala suka-dukanya. Kami sempat merasakan tunjang palang dan ketakutan saat kulakan buku hardcover dalam jumlah yang agak banyak dan ternyata buku itu tak laku. Namun, kami juga sempat merasakan ketiban durian runtuh saat kami berhasil menjual ribuan eksemplar buku “Menjerat Gus Dur” hanya dalam waktu kurang dari seminggu.

Akal Buku bukan hanya mampu membantu memantapkan kestabilan ekonomi kami, lebih dari itu, ia juga mampu membantu memantapkan kestabilan hubungan asmara kami.

Saat pacaran, saya dan Kalis pernah hampir putus. Tepat di tepi keputusan itu, saya bertanya kepada Kalis. “Kalis, kalau kita putus, apakah kamu masih mau melanjutkan Akal Buku bareng aku walau status kita sudah nggak pacaran lagi?”

“Ya nggak, lah. Ngapain aku masih ngurus Akal Buku!” jawabnya.

Jawaban itulah yang kelak membuat kami tidak jadi putus. Eman-eman. Lha aset Akal Buku saat itu nilainya sudah puluhan juta. Hal yang kemudian tak pernah saya sesali. Dan terbukti, kami toh akhirnya sampai juga di titik ini.

Lagi pula, tak terbayang bagaimana ganjilnya kalau saat itu saya dan Kalis putus, lalu saya pacaran dengan perempuan lain bernama Sulastri, lalu membikin toko buku baru bernama “Asu Buku”.

Ketika saya dan Kalis menikah dan mengontrak rumah dengan lokasi yang cukup strategis dengan halaman yang agak luas, kami pun melengkapi toko buku kecil ini dengan satu petak perpustakaan kecil dengan koleksi buku yang tentu saja tak lengkap-lengkap amat. Kami juga mencoba membikin acara-acara kecil, entah diskusi, kelas menulis, atau bedah buku. Sekadar sebagai formalitas bahwa kami punya semangat untuk meningkatkan literasi dan nggak cari duit melulu dari Akal Buku.

Ini tahun ketiga Akal Buku berdiri. Kami tentu berharap agar toko buku ini masih akan awet. Yah, setidaknya sampai kami berhasil mengumpulkan modal yang besar untuk kemudian buka toko bangunan atau jadi juragan beras, gas, dan galon seperti cita-cita yang sangat diidam-idamkan oleh Kalis.

Atau malah sekalian, jadi juragan beras, gas, dan galon merangkap toko buku. Biar nanti bisa bikin promo menarik: Beli Bright gas 10 tabung, gratis buku "Cantik Itu Luka". Tambah 5 tabung, bonus buku "Analisis Gender dan Transformasi Sosial".

Bayangkan, betapa indahnya. Ada literasi yang terjaga dalam setiap cetekan kompor yang dinyalakan. Apinya mematangkan masakan, bukunya mematangkan pikiran.

Sebuah Analisis tentang Cicak Kawin

| Saturday, 24 April 2021 |

cicak kawin

Tidak seperti manusia yang butuh menjadi Peter Parker yang digigit laba-laba terlebih dahulu agar bisa berjalan merayap pada bidang vertikal, cicak secara alamiah sudah dibekali kemampuan untuk berjalan merayap di tembok atau bidang vertikal lainnya.

Tentu ada beberapa hewan yang punya kemampuan berjalan merayap di bidang vertikal, namun agaknya, cicaklah yang paling pas untuk merepresentasikan hewan dengan kemampuan merayap di tembok atau dinding rumah. Buktinya, lagu anak yang satu itu liriknya begini: “cicak-cicak di dinding”, bukan “semut-semut di dinding”, apalagi “tokek-tokek di dinding”.

Banyak orang penasaran dengan kemampuan cicak menempel di tembok. Beberapa bahkan mengira bahwa kaki cicak mempunyai semacam zat perekat yang membuatnya mampu menempel di tembok.

Usut punya usut, kemampuan cicak menempel di tembok ternyata bukan sebab zat perekat, melainkan rambut-rambut halus yang ada di telapak kakinya. Rambut-rambut halus ini namanya spatulae, ukurannya sangat kecil, hanya sekitar 200 nanometer, alias 500 kali lipat lebih tipis dibandingkan rambut manusia dan lebih tipis dari titian Shiratal Mustaqim yang tipisnya rambut dibelah tujuh itu.

Cicak menggunakan spatulae tersebut untuk masuk ke dalam atom lapisan dinding kemudian mengikat secara kuat dan menahan tubuhnya agar melekat dengan dinding dan bisa berjalan dengan mudah.

Namun, spatulae ini tidak lantas menjamin cicak tidak akan jatuh dari dinding atau permukaan vertikal lainnya, sebab pada kondisi tertentu, cicak juga bisa terjatuh, terutama jika sedang sial karena berada pada permukaan yang licin atau jika spatula-nya tidak mencengkeram atom lapisan dinding dengan cukup kuat.

Jadi, jika ada mitos yang mengatakan bahwa seseorang yang ketiban cicak akan terkena sial, maka mitos ini sejatinya palsu belaka, sebab yang sial sesungguhnya adalah cicak itu sendiri.

Oh ya, rambut-rambut halus spatulae pada cicak ini hanya ada pada telapak kaki cicak, bukan di sekujur tubuh, sehingga cicak hanya bisa menempel di tembok dengan posisi tengkurap, bukan telentang. Yah, kecuali cicaknya cicak akrobatik yang punya hobi kayang.

Itu pula sebabnya, saat cicak kawin, si jantan tidak akan pernah memaksa si betina untuk ambil posisi telentang. Kecuali kalau kawinnya di lantai atau bidang horizontal lainnya.

“Dik, mlumah’o, Dik.”

“Mlumah ndasmu, tibo, goblok!”

Wawancara Singkat Bersama Wafer Khong Guan

| Friday, 23 April 2021 |

Rasanya semua orang sepakat bahwa wafer Khong Guan adalah pilihan utama yang selalu menjadi rebutan di antara sekian banyak jenis isi dalam kaleng biskuit Khong Guan. Ia, selalu menjadi yang pertama untuk diambil. Kehadirannya kerap menimbulkan konflik horizontal antar sesama anggota keluarga, ia kerap menjadi sebab utama perkelahian antara sepupu satu dengan sepupu yang lain saat lebaran karena masing-masing tak ada yang mau mengalah untuk memilihnya.

Sebagai salah satu orang yang juga terbawa arus untuk ikut memperebutkan wafer Khong Guan sejak kalengnya dibuka untuk pertama kalinya, saya mencoba mencari tahu, bagaimana kehidupan wafer ini, dan perjuangannya dalam mengarungi kehidupan perbiskuitan yang semakin lama semakin keras saja.

Berkat salah satu koneksi di bagian distribusi, saya akhirnya berhasil menemui wafer Khong Guan dan bercakap-cakap agak lumayan dengannya. Wawancara yang hanya 18 menit tersebut saya rasakan cukup intim, ia membagikan banyak informasi penting, dan tak ketinggalan, ia juga membeberkan curahan-curahan perasaannya sebagai seorang wafer Khong Guan.

Dari sembilan jenis isi di dalam Khong Guan, Bung adalah primadona yang selalu menjadi pilihan pertama untuk diambil, bagaimana perasaan Bung?

Banyak orang mengira bahwa menjadi yang utama adalah hal yang menyenangkan, itu tak sepenuhnya salah. Namun khusus untuk wafer Khong Guan, orang harus mulai berpikir lebih jauh. Menjadi wafer Khong Guan adalah pertaruhan besar. Ada beban dan tekanan batin yang amat kuat yang harus senantiasa saya pikul, utamanya di masa jelang-jelang lebaran seperti sekarang ini.

Sebentar, beban seperti apa yang Bung maksud?

Ya beban personal. Menjadi pilihan utama, maka ekspektasinya pun pasti utama pula. Sebagai yang selalu diambil pertama, orang-orang selalu berharap saya mampu memberikan rasa wafer yang luar biasa serta kerenyahan yang kriuk paripurna. Hal tersebut tentu tak selalu bisa saya berikan. Selera orang tak pernah bisa sama. Ada kalanya, orang tak suka dengan jenis rasa yang saya punya, tentu saja itu bukan salah saya, namun pastilah kesalahan itu kemudian ditimpakan kepada saya.

Hanya itu? Receh itu, Bung.

Tentu saja tidak. Saya selalu dianggap sebagai pihak yang bertanggung jawab atas kerusakan keharmonisan keluarga karena kehadiran saya kadang membuat kakak-adik atau paman-keponakan saling baku hantam, mereka berebut untuk mendapatkan saya. Kalau hanya satu atau dua keluarga, saya masih bisa berbesar hati, namun kalau ada ribuan keluarga, itu tentu lain perkara.

Ah, kalau itu, memang berat, Bung. Saya turut prihatin.

Tapi itu sebenarnya masih belum seberapa. Ada yang lebih membuat saya merasa sangat frustrasi menjadi wafer Khong Guan.

Apa itu, Bung?

Pandangan sinis dari saudara-saudara saya sekandung dan sekaleng. Bayangkan, kami sembilan bersaudara, namun selalu saya yang menjadi pilihan utama. Tak sekalipun mereka menjadi pilihan yang pertama. Memang ada beberapa momen saya hanya menjadi pilihan kedua atau ketiga, namun itu hanya terjadi pada keluarga yang ganjil, keluarga yang anak-anaknya tidak terlalu suka wafer, dan kita tahu, keluarga ganjil macam ini tentu saja sedikit sekali jumlahnya.

Dalam satu lingkungan kaleng itu, saya merasa seperti dikucilkan. Tatapan saudara-saudara saya kepada saya selalu tak berubah, sejenis tatapan seorang pemburu kepada mangsanya.

Pernah kakak kedua saya, Marie Susu dan adik pertama saya, Rose Cream, secara terang-terangan menyebut saya sebagai anak haram dan tidak layak mendapatkan penghormatan selayaknya saudara sekandung. Itu sakit sekali.

Dan Bung percaya apa kata Marie Susu dan Rose Cream?

Awalnya saya tak mau percaya begitu saya, namun tatapan kakak tertua saya, Chocolate Cream ternyata juga menunjukkan hal yang sama. Kak Choco saya anggap sebagai saudara saya yang paling bijak, maka, kalau ia saja bersikap antipati kepada saya, maka mau tak mau, saya terpaksa harus mulai mempercayai apa kata Marie dan Rose.

Bung pernah mencoba melawan saudara-saudara Bung?

Tak pernah. Saya, dengan segala sikap buruk yang saya terima, masih tetap berusaha menganggap delapan saudara saya satu kaleng itu sebagai saudara kandung. Sejujurnya, saya iri dengan kawan-kawan lain yang punya nasib yang jauh lebih beruntung seperti Superco atau Saltcheese. Mereka berdua, menjalani kehidupan sebagai malkist dan krekers dengan lingkungan yang sehat. Tanpa persaingan.

Tunggu, bukankah kehidupan yang sehat itu justru adalah hidup yang penuh dengan persaingan?

Ya, tapi bukan persaingan yang Anda selalu menjadi pemenangnya. Jika persaingan itu membuat Anda selalu menjadi pemenang, itu bukan sehat, justru itu racun. Dan saya sudah menghirup racun jenis itu, puluhan tahun lamanya.

Bung menyesal menjadi wafer Khong Guan?

Kadang. Tapi bukankah penyesalan tak pernah bisa mengubah keadaan? Ia hanya bisa mengolah penerimaan atas keadaan.

Kalau begitu, kenapa Bung tidak mencoba untuk meminta agar dikemas sebagai kemasan mandiri?

Saya tak perlu meminta sebenarnya, Hal itu sudah dilakukan oleh Khong Guan. Khong Guan sudah punya kemasan khusus wafer Khong Guan. Kemasan yang saya anggap memang diperuntukkan untuk keluarga-keluarga yang tak punya jiwa dan gairah berkompetisi. Hanya saja, Khong Guan tak mau sepenuhnya melepas saya sebagai kemasan kaleng sendiri. Khong Guan masih tetap menginginkan saya ada di kemasan kaleng besar dengan aneka jenis isi itu.

Kalau begitu, berarti tak ada yang bisa Bung lakukan?

Memang. Saya hanya bisa menerima keadaan yang getir ini. Berusaha menjadi anak yang manis dan patuh. Berharap agar saya bisa segera lepas dari situasi yang menyebalkan ini, walau hal tersebut tampak sangat mustahil.

Apa harapan Bung kedepannya?

Saya hanya ingin cepat mati, dan kemudian dilahirkan kembali sebagai wafer Tango atau wafer Nabati.

Tentang Saya

Saya Agus Mulyadi, biasa dipanggil Gus Mul (bukan lulusan pesantren seperti Gus Dur, Gus Muh, maupun Gus Mus. Gus Mul hanya akronim dari nama saya). Blogger dan Freelance Layouter. Kini berusia 24 tahun. Aktif di Karang Taruna dan Komunitas Blogger Magelang Pendekar Tidar. Profil lebih lengkap, Lihat Disini
 
Copyright © 2010 Blog Agus Mulyadi , All rights reserved
Design by DZignine . Powered by Blogger