Ada semacam kesedihan yang sentimentil dalam diri saya saat mendengar kabar bahwa Pak Susilo Nugroho, atau yang lebih populer sebagai Den Baguse Ngarso meninggal dunia sore ini.
Saya mungkin bukan bagian dari lingkar terdalamnya, juga bukan orang yang sering berbagi panggung dengannya. Namun, bagi saya, Pak Sus (begitu saya biasa memanggilnya) menghadirkan kesan yang sangat mendalam.
Tak bisa tidak, beliaulah orang pertama yang memberikan saya kepercayaan diri untuk berani berakting.
Saya memang seorang penulis, tetapi nasib membawa saya untuk beberapa kali mencicipi kehidupan artifisial sebagai seorang aktor di beberapa film.
Film pertama saya berjudul “Jomblo Juga Keren” yang disutradarai oleh Dona Roy dan diproduksi oleh Dinas Kebudayaan DIY. Di Film ini, saya berperan sebagai tokoh utama bernama Roy, seorang anak SMA tengil dan miskin yang jatuh cinta kepada teman satu kelasnya. Sementara Pak Sus berperan sebagai Pak Beye, bapak saya.
Bayangkan, pengalaman pertama berakting dan langsung beradu dialog dengan Den Baguse Ngarso, nama raksasa yang rekam jejak keaktorannya sudah mengakar sangat dalam di tanah Jogja.
Di hari-hari pertama syuting itu, saya menjelma menjadi makhluk paling menyedihkan. Saya gugup, gemetar, dan tentu saja, sering mengacau. Kalau boleh jujur, semacam sedikit nervous, banyak gobloknya. Namun, di tengah kekacauan itu, Pak Sus hadir bukan sebagai bintang besar yang angkuh. Ia justru hadir menjadi seorang senior yang menenangkan, seorang senior yang merangkul dan ngayem-ayemi saya dengan kesabaran luar biasa.
Setiap kali saya salah blocking, terbata-bata, atau mendadak lupa naskah sehingga harus di-cut oleh sutradara, saya selalu merasa tak enak hati, sebab bukan saya saja yang kemudian harus mengulang adegannya, melainkan juga para pemain lain, tak terkecuali Pak Sus.
“Ngapunten nggih, Pak Sus, barusan saya lupa dialognya,” kata saya. Kalau tak salah ingat, itu adalah permintaan maaf saya yang kedua untuk sebuah adegan yang kami mainkan.
Pak Sus tersenyum, tidak ada raut jengkel sama sekali.
“Santai wae, Le, jenenge syuting yo ancen ngono kuwi. Umpomo awakmu ora lali dialog, yo tetep dibaleni kok.”
Kalimat itu mungkin terdengar seperti angin lalu bagi orang lain, tapi bagi saya yang sedang dililit ketakutan, kata-kata itu bekerja selayaknya mantra. Apa yang ia katakan adalah kebenaran murni dalam dunia syuting: sebagus apa pun akting kita di percobaan pertama, sutradara akan tetap menuntut pengambilan gambar berulang demi stok alternatif, walau pada akhirnya yang akan dipakai adalah shoot yang pertama.
Harus saya akui, kalimat itulah yang kelak saya tanamkan dalam diri saya sehingga saya mulai punya kepercayaan diri untuk tidak takut salah dalam proses syuting-syuting berikutnya.
Pak Sus tak sekadar jago menenangkan, ia juga manifestasi dari kesederhanaan. Di tengah ingar-bingar dunia seni peran, saya tak pernah sekalipun melihatnya menuntut riders aneh-aneh atau perlakukan istimewa. Sering kali, saya mendapatinya duduk santai saat jeda syuting, menyantap bekal nasi jagung dan menyesap teh hangat yang ia bawa sendiri dari rumah.
Pak Sus seorang pencair suasana yang baik. Sering sekali ia melemparkan celotehan-celotehan spontan yang lucu dan menjadi hiburan bagi pemain dan kru yang mungkin sedang lelah dan letih selama menjalani proses syuting.
Pernah suatu ketika, seorang telco (talent coordinator) menawari Pak Sus yang barangkali pengin nitip beli rokok karena si telco mau membeli sesuatu di toko kelontong tak jauh dari lokasi syuting.
“Njenengan bade nitip rokok nopo mboten, Pak Sus?” tanya si telco.
“Oh yo, sisan yo, rokok … sak bungkus,” jawab Pak Sus menyebut nama salah satu merek rokok yang saya lupa apa mereknya.
Singkat cerita, rokok pun dibeli dan diserahkan kepada Pak Sus oleh si telco.
Pak Sus kemudian merogoh sakunya untuk mengambil uang yang akan digunakan untuk membayar rokoknya itu.
Melihat Pak Sus merogoh saku, si telco segera mencegahnya, “Mboten usah, Pak Sus, mboten usah, ini sudah ada budgetnya kok.”
Demi mendengar penjelasan tersebut, Pak Sus langsung merenges dan menjawab, “Nah, aku pancen nunggu kowe ngomong ngono, soale ning sak-ku asline yo ra ono duit.”
Gatheeeeeel.
Saya yang berada di sebelah Pak Sus persis sontak langsung tertawa, begitu pula telco dan beberapa kru yang menyaksikan adegan tersebut. Benar-benar senior pencair suasana. Ia tahu persis kapan harus membangun panggung kebahagiaan di tengah rasa letih.
Kelak, dalam beberapa kesempatan, saya masih lumayan sering berjumpa dengan Pak Sus, dan ia masih tetap Pak Sus yang celetukan-celetukannya menghibur dan ngangeni.
Selama ini saya masih cukup rutin menonton pertunjukan Ketoprak Conthong di TBY, salah satunya ya demi menyaksikan celetukan-celetukan Pak Sus.
Maka, ketika hari ini berita kepulangannya mengetuk telinga, ada bagian dari masa lalu saya yang ikut runtuh. Saya kehilangan seorang pembimbing tanpa pamrih.
Doaku hari ini, semoga Pak Sus tenang di alam sana, dan semoga ia senantiasa penuh dengan tawa, seperti orang-orang yang ia hibur dengan guyonan dan celetukan-celetukan nggathelinya.
Sugeng tindak, Pak Sus. Sugeng tindak, Den Baguse Ngarso. Kula nyekseni, panjenengan tiyang sae.
Sugeng Tindak, Den Baguse Ngarso
Sedikit Hansip Banyak Bansernya
Maghrib tadi saya pulang ke rumah Magelang. Kakak dari salah satu kawan saya meninggal dunia kemarin sore. Saya meniatkan pulang untuk lek-lekan hari kedua. Harusnya saya pulang kemarin, tetapi kemarin saya tidak enak badan, semacam masuk angin yang disertai dengan kepala nggliyeng.
Sesampainya di rumah, saya tidak menemukan bapak saya.
“Sedang ada dines,” kata ibu saya.
“Nggak ikut lek-lekan?”
“Sudah kemarin, sekarang jatahnya dines.”
Dines yang dimaksud ibu adalah bertugas sebagai banser. Sejak lulus diklatsar beberapa tahun yang lalu, bapak memang jadi sering kebagian jatah jaga tiap kali ada acara pengajian yang dilaksanakan di wilayah Mertoyudan dan sekitarnya.
Saya senang bapak punya banyak kegiatan di masa-masa tuanya. Bagi saya, itu adalah keasyikan dan kesibukan tersendiri buat bapak selain momong cucu-cucunya.
Setahu saya, bapak saya lumayan aktif di empat komunitas kolektif. Kolektif pertama adalah grup penggali kubur. Di grup ini, bapak saya lebih banyak berposisi sebagai ice breaker ketimbang gravedigger, sebab ia memang lebih sering menghabiskan porsi waktunya untuk bercanda dan prengas-prenges ketimbang menggali tanah kuburan.
Kolektif kedua adalah Bravo atau Banyurojo Volunteer, semacam grup relawan desa yang aktif diperbantukan untuk membantu masalah-masalah kebencanaan yang terjadi di desa. Kolektif inilah yang membuat bapak saya mulai terbiasa menyebut kasus orang tenggelam bukan sebagai “wong klelep” melainkan sebagai “laka air”.
Kolektif ketiga adalah Hansip alias Linmas. Ini identitas yang melekat pada diri bapak dan nyaris abadi, sebab sudah puluhan tahun bapak mengemban identitas ini. Pemilu tanpa bapak adalah pemilu yang kurang satu. Dialah ujung tombak demokrasi.
Nah, kolektif terakhir adalah banser. Bapak saya ikut diklatsar bersama beberapa kawannya satu dusun dan dinyatakan lulus. “Diniati melu ngaji,” kata bapak dengan prengesan khasnya.
Bapak saya punya kebanggaan tersendiri tiap kali bisa menjaga pengajian, terutama saat mengawal kiai. Ia sering tidak paham siapa kiai yang ia kawal, yang jelas, asalkan Gus atau kiai, bakal ia ladeni. Sesekali ia mengirimi saya foto dirinya saat sedang mengawal seorang gus atau kiai di sebuah pengajian.
Dalam kesempatan yang tak sering, bapak beberapa kali bercerita dengan penuh kebahagiaan saat ada Gus atau kiai yang mengenali dirinya karena mereka tahu bahwa ia bapak saya. “Wah, ini Pak Trimo bapaknya Mas Agus, nggih?”
Dalam momen yang tidak sering itulah saya merasa punya kebahagiaan tersendiri karena bisa membuat bapak dikenali oleh seorang gus atau kiai. Saya pikir, itulah salah satu dari sangat sedikit kesempatan saya sebagai seorang anak untuk membuat bapak saya bangga. Bahwa anaknya yang pendidikannya tidak tinggi-tinggi amat itu gagal menjadi orang penting atau pejabat tinggi, tetapi setidaknya anaknya kenal dan dikenali lumayan banyak gus dan kiai.
Tadi saat duduk di acara lek-lekan, sebuah chat WA masuk. Saya buka chat itu, ternyata dari Wahyu, kawan SMA saya yang menginfokan kehadiran bapak saya di acara pengajian di dekat rumahnya.
“Terpantau mengamankan area Bagongan malam ini” tulisnya disertai foto dirinya bersama bapak saya. “Pengajian Abah Anza” lanjutnya di chat berikutnya.
Saya melihat foto tersebut. Bapak saya berpose mengacungkan jempol sambil merenges. Ia tampak sumringah dengan seragam banser kebanggaannya. Nametag “M. FRENGKY”, nama panggilan akrabnya, terpajang jelas di dada sebelah kanan.
Dalam ke-merenges-an bapak itulah, saya melihat semangat ber-NU yang sebenarnya. Semangat meramaikan pengajian, semangat ngajeni kiai.
Bagi saya, banser-banser di kampung seperti bapak dan kawan-kawannya itu, guru-guru ngaji di TPQ dan pengajar madrasah, para jamaah rutinan pengajian yang aktif di satu pengajian ke pengajian yang lain, kader-kader yang berkeliling mengedarkan kencleng Lazisnu, ibu-ibu Muslimat yang aktif mendampingi usaha rumahan, mereka-mereka itulah para penggerak NU yang sebenarnya.
Hari ini, di tengah pro-kontra beserta aneka luapan kekecewaan banyak orang atas hasil muktamar terkait kepengurusan PBNU, melihat senyum bapak saya ternyata sudah lebih dari cukup untuk membuat saya masih bangga dan mencintai NU, bahkan walau saya bukan seorang NU.
Lamat-lamat, saya jadi ingat dengan celetukan seorang kawan, “Apakah kita bisa mencintai NU tanpa harus peduli pada PBNU-nya?”
Kawan saya yang lain memberikan jawaban yang saya kira sangat tepat: “Tentu saja bisa, toh selama ini kita mencintai Indonesia tapi membenci setengah mati isi kabinet dan anggota dewannya.”
Akal Buku Jadi Sponsor PPSM Magelang Lagi
Musim ini, toko buku kecil saya, Akal Buku, kembali menjadi sponsor buat PPSM Magelang di kompetisi junior. Ini tahun ketiga bagi saya dan Akal Buku menjadi sponsor buat tim sepakbola yang usianya sudah lebih dari 100 tahun ini.
Bagi saya pribadi, menjadi sponsor untuk PPSM masih dan akan selalu menjadi momen yang sangat sentimentil. Sejak kecil saya sudah menonton PPSM, sering menulis tentang PPSM, dan saat dewasa, akhirnya mendapatkan kesempatan untuk ikut menjadi sponsor bagi PPSM.
Saya tumbuh dengan kenangan sorak-sorai mendukung PPSM di Stadion Abu Bakrin, dengan segala umpatan dan cacian di tepi lapangan, bau minyak angin serta suara berisik penjaja arem-arem yang menyusuri tribun.
Maka, keputusan menaruh logo toko buku independen di jersey tim sepak bola lokal Magelang ini adalah cara saya untuk merayakan kenangan masa kecil. Sebab, tidak bisa tidak, PPSM-lah tim sepakbola yang mewarnai masa kecil saya yang miskin dan muram. Ia turut membersamai kecintaan saya pada sepakbola. PPSM adalah salah satu fragmen yang mengisi ruang kegembiraan masa kecil saya.
Semua orang mungkin paham belaka bahwa PPSM bukan tim hebat. Ia adalah tim pas-pasan dengan kabinet piala yang nyaris kosong, tim yang berkawan karib dengan papan tengah dan papan bawah. Namun, cinta memang selalu dibentuk oleh “walaupun”, bukan oleh “karena”.
Saya paham bahwa sebagai sebuah tim sepakbola, PPSM penuh dengan borok dan kekurangan, tapi sialnya, saya tak pernah punya alasan yang cukup kuat untuk berpaling darinya. Lelaki-lelaki Magelang paham betul perasaan menyebalkan ini.
Bagi kami, lelaki-lelaki Magelang yang masih terus mendukung PPSM, keras kepala bukan lagi sifat, melainkan gaya hidup.
Konon, ada banyak cara menyiksa diri yang bisa dilakukan oleh pemuda Magelang. Dari sekian banyak cara itu, yang tersulit adalah masuk Akmil, dan yang termudah adalah masuk stadion Moch Soebroto.
Saya tak tahu, akan sampai kapan saya masih ingin menjadi sponsor untuk PPSM, tapi yang pasti, selama PPSM masih ada, saya akan terus mencoba mendukungnya, entah sebagai sponsor, entah sebagai penonton yang hadir di tribun stadion, atau sebatas sebagai bapak-bapak yang mendoakan kemenangan untuknya, semustahil apa pun itu.
Mendukung PPSM akan selalu menjadi kegilaan yang menyenangkan, sebab hidup ini sudah terlalu serius untuk dijalani dengan logika yang lurus-lurus saja.
