Agus Mulyadi Njaluk Rabi

Susah Menangis Saat Lebaran

| Wednesday, 4 May 2022 |

Lebaran tahun ini menjadi mudik pertama setelah pandemi sekaligus menjadi mudik pertama ke rumah mertua setelah saya menikah. Sebagai sebuah pengalaman pertama, tentu saja ada banyak kegagapan yang saya rasakan. Salah satu yang mungkin cukup mengagetkan adalah betapa banyaknya rombongan ujung (berkunjung) yang datang silih berganti ke rumah mertua saya, nyaris dari pagi sampai malam pada lebaran pertama dan kedua. Tak habis-habis.

Ada tiga alasan kenapa hal itu terjadi. Pertama, bapak mertua saya memang seorang modin kampung, sehingga banyak tetangga dan tokoh masyarakat yang sowan ke rumahnya. Kedua, nenek istri saya adalah orang tertua di kampungnya, usianya kini sudah 104 tahun, usia yang menjadikan dirinya jujugan bagi para warga untuk sowan dan meminta doa. Dan yang ketiga, Bapak dan ibu mertua saya punya saudara yang memang kelewat banyak jumlahnya. Kata Kalis, istri saya, hubungan saudara tersebut membengkak karena bapak dan ibunya doyan mengangkat orang lain yang bukan sedarah sebagai saudara.

“Dulu pernah ada pedagang mau pulang ke rumahnya, dia nunggu angkot tapi nggak dapat dan akhirnya kemalaman, ibu menawarinya menginap di rumahnya. Sejak saat itulah, mereka kemudian jadi saudara sampai sekarang,” terang Kalis.

Saya menyimak penjelasan itu dengan seksama.

“Ada juga tukang sapu yang bekerja di depan kantor PLN, kebetulan sering mampir ke warungnya ibu yang saat itu buka warung kelontong, eh diangkat saudara juga. Sampai sekarang masih sering ke sini tiap lebaran bawa hasil bumi dari kampungnya.”

Setidaknya ada beberapa nama saudara yang ketika saya tanyakan jalur kekeluargaannya kepada Kalis, ia cuma menjawab “Ya pokoknya sedulur.”

Namun, hal yang paling membuat saya benar-benar kaget tentu saja adalah nuansa emosional yang terasa sangat kental dalam momen saling bermaaf-maafan di lingkungan keluarga Kalis.

Saat istri saya sungkem kepada bapak dan ibunya meminta maaf, bapak dan ibu mertua saya menangis. Istri saya pun demikian. Hal yang sama terjadi saat saya meminta maaf, bapak dan ibu mertua saya menangis sesenggukan, padahal saya lempeng-lempeng saja.

kalis sungkem

Awalnya saya mengira, itu hanya terjadi karena Kalis dan saya adalah anak dan mantu. Namun dugaan saya salah. Hal tersebut kembali berulang saat bapak dan ibu mertua saya saling bermaaf-maafan dengan tetangga depan rumah. Tangis tetap pecah.

Momen itu kembali terulang saat bapak mertua saya berpelukan dengan saudara-saudara lelakinya. Bapak mertua saya menangis. Air mata tumpah begitu rupa. Singkatnya, bagi keluarga istri saya, momen lebaran adalah momen yang emosional dan sentimentil.

Melihat pemandangan itu, saya jadi merasa amat tidak berperasaan. Lha gimana, sepanjang saya hidup, saya nyaris tidak pernah sampai menangis saat meminta maaf kepada bapak dan ibu saya saat lebaran. Bapak dan ibu saya juga tak pernah menangis saat saya meminta maaf.

Saat mencium tangan bapak saya untuk meminta maaf pada momen lebaran tahun 2018 lalu, saya bahkan melakukannya dengan agak cengengesan. Dan gathelnya, bapak saya pun memberi saya maaf dengan cengengesan pula.

Saya pikir, saya dan bapak saya memang tidak didesain untuk mudah menangis dalam suasana haru, baik secara perasaan maupun secara penampilan. Saya merasa kami berdua jauh lebih mudah tertawa dan prengas-prenges alih-alih menumpahkan air mata.

Maka, tak berlebihan jika begitu melihat banyak sekali adegan sentimentil dalam momen saling meminta maaf di hari lebaran di rumah mertua saya itu, ada semacam gegar budaya yang timbul dalam diri saya. Nurani kemanusiaan saya seperti tertampar. Kok bisa ada orang yang tidak terharu dan tidak menangis dalam situasi yang sesentimentil itu?

“Ancen keluargamu ki unik og, Mas,” kata Kalis.

Saya sebenarnya bisa saja memberi pembelaan tentang hal itu dengan kutipan Pak Idrus Madani, Si Ketua RW Kampung Kincir di sinetron Para Pancari Tuhan itu: “Hidup itu saling memaafkan, bukan saling minta maaf.” Namun setelah saya pikir-pikir, saya memilih untuk tidak berkilah dan merenungi saja kejadian ini.

Lagipula, kalau dipikir-pikir, kelihatannya benar belaka apa yang dikatakan Kalis. Keluarga saya, utamanya saya dan bapak saya, memang unik. Urusan sensitivitas dalam keharuan di momen lebaran, harus diakui bahwa skor kami sangat buruk.

Dan setelah saya renungi jauh lebih dalam lagi, saya pikir hal itu memang harus terjadi. Itu semata demi kebaikan yang lebih tinggi.

Bapaknya Kalis yang mudah menangis dan terharu itu memang harus punya besan yang cengengesan seperti bapak saya. Bapaknya Kalis yang imam masjid dan seorang modin itu memang harus berbesan bapak saya yang langganan masbuk seperti muslim pada umumnya.

Juga Kalis yang sering menulis tema-tema berat (feminisme, gender, dan pemberdayaan perempuan) itu yang memang harus punya suami seperti saya, yang gemar menulis tema-tema receh yang tidak mencerdaskan kehidupan bangsa. Kalis yang berbakat mencari uang itu juga cocok sekali menikah dengan saya yang berbakat menghambur-hamburkan uang.

Singkat kata, kami keluarga yang saling melengkapi. Inilah pernikahan yang ideal, pernikahan yang bisa menciptakan keseimbangan kosmis.

Bayangkan jika bapaknya Kalis itu adalah sosok yang cengengesan dan selengekan seperti bapak saya, betapa akan kacaunya tatanan kehidupan ini.

Komunikasi antar mereka pastilah runyam dan susah untuk mufakat.

Saya membayangkan, ketika bapak saya memanggil bapaknya Kalis, “Pak Samuri,” niscaya bukan jawaban “Nggih” atau “Dalem” yang bakal didapat oleh bapak saya, melainkan “Cakeeeep.” Sebab apa pun yang keluar dari mulut bapak saya bakal terdengar sebagai pantun di telinga Pak Samuri.

Atau ketika bapaknya Kalis menanyakan kepada bapak saya, apakah anaknya benar-benar serius ingin menikahi Kalis, mungkin bapak saya akan menjawab, “Wah, Prei sik, Pak. Iki anakku wis kadung tak jodokke karo jaran kepang.”

Hae modyar akuuuu… Hae modyar akuuuu…

Mug Orang Kaya

| Friday, 29 April 2022 |

Seminggu yang lalu, saya membeli satu set mug di Informa dengan harga yang lumayan. Bukan mug biasa, tentu saja, melainkan mug “orang kaya”. Ini mungkin terdengar aneh, namun saya yakin, Anda pasti paham dengan apa yang saya maksud sebagai mug orang kaya ini. Singkatnya, mug yang sangat estetika. Berkelas, adiluhung, skandinavian. Pokoknya mug yang kemungkinan besar hanya bisa ditemukan di dapur rumah orang-orang kaya.

mug informa

Bagi saya, peralatan makan dan minum memang bisa dilihat sebagai penanda hierarki kekayaan dan kemakmuran. Piring, gelas, sendok, mug, dan sebangsanya itu punya kemampuan untuk mengangkut energi kemewahan. Maksud saya, semahal apa pun minuman, kalau ia dituang ke dalam gelas belimbing hadiah sabun colek itu, niscaya minuman itu akan hilang sensasi kemahalannya. Sebaliknya, sekadar limun atau wedang sereh pun, kalau ia dituang ke dalam gelas Martini, niscaya ia bisa mengubah tindak-tanduk peminumnya menjadi serupa diplomat tajir yang hobi dansa-dansi.

Bukan tanpa alasan saya membeli mug orang kaya itu. Pertama, bagi saya pribadi, minum menggunakan mug yang estetik cenderung mampu memunculkan kepercayaan diri saya yang selama ini lebih banyak timbul tenggelam. Ia menghadirkan semacam perasaan kemlinthi dan nggleleng yang sifatnya positif. Bekerja di depan komputer menjadi lebih bergairah. Ngobrol bersama kawan juga bisa menjadi lebih interaktif.

Kedua, bagaimana pun, saya ini sedang menuju taraf hidup yang lebih sejahtera. Memang belum bisa disebut kaya, namun tampaknya sedang menuju ke sana. Setidaknya, saya sudah merasakan tanda-tandanya: buku saya yang terbaru sedang difilmkan dan menunjukkan gelagat untuk mulai sering dicetak ulang. Selain itu, tawaran endorse di media sosial dan undangan mengisi kelas menulis juga makin deras. Itu belum termasuk project-project penulisan yang didapat istri saya yang juga makin ramai.

Maka, sudah saatnya bagi saya untuk mulai mengganti mug-mug lama saya, mug khas orang miskin itu, dari mug bingkisan syukuran kelahiran bayi (yang bergambar foto bayi dengan tambahan nama yang sulit dibaca seperti “Queensya Tasya Tamasya” di bawahnya) sampai mug bergambar logo Lembaga Pers Mahasiswa yang saya dapat sebagai kenang-kenangan saat mengisi acara mereka.

Mengganti mug menjadi hal yang wajib hukumnya, dan keputusan saya membeli mug di Informa itu saya anggap sebagai keputusan hidup yang tepat.

Malam hari, begitu sampai rumah, saya langsung antusias menyertai mug yang saya beli dari Informa itu.

“Besok kita mulai pakai mug orang kaya,” kata saya pada Kalis seraya mengeluarkan mug-mug itu dari kardusnya dan menggantungkannya di tengkrek atau rak piring di dapur.

Kalis tertawa, saya ikut tertawa, walau saya serius soal mug orang kaya itu.

Pagi harinya, semangat saya meluap-luap. Saya sudah tak sabar ingin memakai mug itu. Ingin segera menyeruput kopi susu dari mug yang estetik itu.

Saya berlari ke dapur dengan penuh gusto. Saya saut sesachet kopi susu dari atas kulkas untuk saya seduh. Bodo amat dengan kopi sachet itu, toh selama diseduh di dalam mug orang kaya, maka ia akan menjelma menjadi kopi Starbucks. Saya tengah bersiap menuju kekayaan gastronomi.

Namun betapa kecewa hati saya, mug yang semalam saya gantung di tengkrek itu raib. Tak tampak di atas gantungan dan hanya menyisakan mug-mug lama saya, mug-mug orang miskin itu.

Saya bertanya pada Kalis. Ia menggeleng. “Aku nggak mindahin mug-nya,” katanya.

Saya bingung setengah mati. Ke mana pula itu mug orang kaya? Siapa maling senewen yang selo mengambil mug-mug saya itu? Ah, lebih tepatnya, kenapa harus mug-mug saya? Kenapa bukan televisi atau laptop yang ada di ruang tengah? Kenapa harus mug-mug saya?

Kalis melihat wajah saya yang lesu. Mungkin ia tak menyangka bahwa hilangnya mug itu akan sangat berpengaruh pada mood saya sehingga membuat wajah saya mlotrok begitu rupa. Kalis kemudian membantu saya mencari mug-mug saya itu. Kami berdua bergerilnya memeriksa setiap sudut dapur.

Nihil. Mug-mug itu tidak ditemukan.

Dalam keputusasaan, Kalis tampak teringat sesuatu. “Oh, kamu coba periksa kardus mug-mu itu, Mas,” kata Kalis. “Jangan-jangan dimasukkan lagi ke dalam kardus sama Budhe.”

Budhe yang dimaksud oleh Kalis adalah Budhe Tuk, perempuan paruh baya yang kami gaji untuk bantu-bantu pekerjaan rumah.

Saya menuruti apa kata Kalis. Saya periksa kardus itu, dan benar saja, mug-mug itu ternyata ada di dalam. Budhe benar-benar memasukkan kembali mug yang sudah saya gantungkan di rak itu ke dalam kardus.

Dalam sekejap, perasaan saya langsung berkecamuk. Ada perasaan lega, namun juga sedih. Lega karena mug itu akhirnya saya temukan. Sedih karena ternyata, semesta seperti tidak rela saya memakai mug orang kaya.

Saya menatap mug-mug itu dengan tatapan nanar. Saya membatin getir, “Bahkan Budhe, orang yang saya gaji pun, meragukan bakat kaya saya.”

Saya lantas bergeser, melirik ke rak piring, tempat tergantungnya mug-mug lama saya, mug-mug orang miskin itu. Entah kenapa, mereka menjadi tampak seperti sahabat karib.

Hahahahasyuuuuu.

Baju Kotak-Kotak Dedik Priyanto

| Wednesday, 9 March 2022 |

Hari Jumat kemarin, saya dan kawan saya jurnalis Kompas TV Dedik Priyanto menjadi pemateri dalam workshop bertajuk “Menjadi praktisi media di era digital” di UIN Surakarta. Dedik diminta berbagi materi tentang praktik menjadi jurnalis televisi dan seorang content writer, sedangkan saya diminta untuk berbagi materi tentang personal branding di media sosial serta perkembangan media online di tengah iklim media sosial.

Foto saat saya mengisi dishare oleh Zakky Zulhazmi (sosok pemuda lugu, lurus, dan anti molimo yang kini menjadi Kaprodi KPI UIN Surakarta sekaligus sosok yang mengundang saya dan Dedik). Dalam foto tersebut, terlihat jelas bahwa baju yang saya pakai sama persis dengan foto yang ada di backdrop.

agus mulyadi

Kalis ikut melihat foto tersebut dan tampaknya ia merasa punya beban moral. Sehari setelahnya, ia langsung membeli kain batin Lar Gurda dan dijahitkan sebagai kemeja batik untuk saya.

“Biar Mas baju batiknya nggak itu-itu aja,” katanya.

Saya paham, apa yang dilakukan oleh Kalis adalah bentuk cinta sekaligus gengsi sebagai seorang istri. Namun, menurut saya, apa yang ia lakukan terlalu berlebihan, sebab apa yang terjadi pada saya itu sejatinya tidak separah dengan apa yang terjadi pada Dedik Priyanto.

dedik priyanto

Bukan hanya baju yang ia pakai sama dengan baju di foto backdrop, namun juga sama dengan baju saat ia bertugas sebagai reporter yang kebetulan materinya ia sampaikan.

Di atas langit, masih ada Dedik.

Tentang Saya

Saya Agus Mulyadi, biasa dipanggil Gus Mul (bukan lulusan pesantren seperti Gus Dur, Gus Muh, maupun Gus Mus. Gus Mul hanya akronim dari nama saya). Blogger dan Freelance Layouter. Kini berusia 24 tahun. Aktif di Karang Taruna dan Komunitas Blogger Magelang Pendekar Tidar. Profil lebih lengkap, Lihat Disini
 
Copyright © 2010 Blog Agus Mulyadi , All rights reserved
Design by DZignine . Powered by Blogger