Hari ini, Raras anak saya berulang tahun yang ke-3. Waktu ternyata merambat begitu cepat. Rasanya saya masih bisa mengingat dengan jelas masa-masa mengudang dia saat dia masih cuma bisa tiduran di atas kasur.
Saat itu, dia begitu mudah tertawa ketika melihat saya memasang tampang jelek dengan memerot-merotkan bibir sambil menaik-turunkan alis. Hal yang saya sendiri merasa geli, sebab wajah saya yang sebenarnya sudah jelek, ternyata masih bisa dibikin lebih jelek lagi.
Waktu bergerak. Sekarang, dia tak lagi tertawa melihat tampang jelek saya. Dia sekarang akan tertawa saat melihat saya tertawa. Saya pikir, itu adalah bentuk kemajuan batin yang harus saya rayakan. Dari sebelumnya bahagia karena melihat orang jelek, menjadi bahagia karena melihat orang bahagia.
Sejak Raras hadir ke dunia, hari-hari saya kemudian melulu tentang menantikan apa saja yang akan dan bisa dia lakukan.
Saya sudah melakukannya tiga tahun ini, dan saya masih ingin terus seperti itu.
Raras sangat suka menanyakan banyak hal. Konon katanya, itu tanda tumbuh kembang yang bagus. Ia mengingat dengan baik apa saja yang ia lihat dan ia dengar.
Pada titik tertentu, kepolosannya sering membuat saya tertegun, menyadarkan saya betapa sempitnya dunia orang dewasa.
Pada titik yang lain, tingkah-polahnya membuat saya kerap terkagum-kagum, sebab saya tak menyangka ia bisa melakukannya.
Raras tumbuh menjadi pribadi yang sangat gigih, terutama gigih dalam memperjuangkan apa yang ia inginkan.
“Raras pengin beli mainan, Bapak,” rengeknya suatu ketika.
“Kan kemarin sudah Bapak belikan,” saya mencoba memberikan pengertian.
“Itu kan kemarin, sekarang beda lagi.”
“Bapak nggak punya duit.”
“Kan Bapak bisa ambil di Indomaret.”
Kalau sudah begitu, tak ada hal lain yang bisa menolong selain jurus nylamur alias menyibukkan dia dengan aneka hal lain yang bisa membuatnya lupa dengan keinginannya membeli mainan.
Di usianya yang ketiga ini, Raras makin menunjukkan tanda-tanda bahwa dia adalah anak yang cerdas. Dan saya bahagia sekali atas hal itu. Ia penghafal yang baik, tetapi pendendam yang buruk. Ia mudah menangis, tetapi juga mudah tertawa.
Seluruh gerak-geriknya membuat saya yakin bahwa kelak ia akan menjadi pribadi yang menarik dan penuh warna.
Sejujurnya, saya masih ingin lebih lama mendampingi Raras sebagai anak kecil yang lucu dan bisa setiap hari saya gendong.
Namun, di sudut perasaan saya yang lain, saya juga ingin melihat ia segera tumbuh dewasa agar kelak saya bisa mengajaknya menonton konser Scorpions di luar negeri atau menonton Manchester United di Old Trafford.
Atau kalau itu terlalu tinggi (dan mahal), saya ingin ia segera tumbuh dewasa agar saya bisa mengajaknya menonton Powerslaves dan Tony Q atau menyaksikan PPSM bertanding di stadion Moch Soebroto.
Saya tidak akan memaksanya harus menjadi pribadi yang cerdas cemerlang, saya hanya akan memaksanya menjadi manusia yang rajin belajar, tekun mendengar, dan gemar membaca. Sebab dengan itulah ia akan punya banyak perspektif dalam menghadapi hidup.
Saya tak akan pernah bosan mengatakan kepadanya, bahwa dunia ini penuh dengan hikmah dan perenungan, tergantung dari sudut pandang mana kita melihat. Seperti halnya bagaimana ia memaknai hari kelahirannya.
Saya akan sering mengatakan kepada Raras, bahwa ia harus banyak bersyukur, sebab dalam kalender hijriah, hari ulang tahunnya sama dengan hari ulang tahun Kanjeng Nabi Muhammad.
Namun, saya juga akan mengatakan kepadanya, bahwa ia perlu sering merenung, sebab dalam kalender masehi, hari ulang tahunnya sama dengan hari ulang tahun Luhut Binsar Panjaitan.
Selamat ulang tahun, anakku, Raras Ugahari. Tumbuhlah baik, jangan takut melawan, dan jangan gentar untuk berderma.
Dunia ini mungkin kelak akan sering melukaimu, tapi ketahuilah, bapak akan selalu menjadi lelaki pertama yang siap mati-matian demi mencarikan obat atas luka-lukamu.
Tiga Tahun Raras Ugahari
Sugeng Tindak, Den Baguse Ngarso
Ada semacam kesedihan yang sentimentil dalam diri saya saat mendengar kabar bahwa Pak Susilo Nugroho, atau yang lebih populer sebagai Den Baguse Ngarso meninggal dunia sore ini.
Saya mungkin bukan bagian dari lingkar terdalamnya, juga bukan orang yang sering berbagi panggung dengannya. Namun, bagi saya, Pak Sus (begitu saya biasa memanggilnya) menghadirkan kesan yang sangat mendalam.
Tak bisa tidak, beliaulah orang pertama yang memberikan saya kepercayaan diri untuk berani berakting.
Saya memang seorang penulis, tetapi nasib membawa saya untuk beberapa kali mencicipi kehidupan artifisial sebagai seorang aktor di beberapa film.
Film pertama saya berjudul “Jomblo Juga Keren” yang disutradarai oleh Dona Roy dan diproduksi oleh Dinas Kebudayaan DIY. Di Film ini, saya berperan sebagai tokoh utama bernama Roy, seorang anak SMA tengil dan miskin yang jatuh cinta kepada teman satu kelasnya. Sementara Pak Sus berperan sebagai Pak Beye, bapak saya.
Bayangkan, pengalaman pertama berakting dan langsung beradu dialog dengan Den Baguse Ngarso, nama raksasa yang rekam jejak keaktorannya sudah mengakar sangat dalam di tanah Jogja.
Di hari-hari pertama syuting itu, saya menjelma menjadi makhluk paling menyedihkan. Saya gugup, gemetar, dan tentu saja, sering mengacau. Kalau boleh jujur, semacam sedikit nervous, banyak gobloknya. Namun, di tengah kekacauan itu, Pak Sus hadir bukan sebagai bintang besar yang angkuh. Ia justru hadir menjadi seorang senior yang menenangkan, seorang senior yang merangkul dan ngayem-ayemi saya dengan kesabaran luar biasa.
Setiap kali saya salah blocking, terbata-bata, atau mendadak lupa naskah sehingga harus di-cut oleh sutradara, saya selalu merasa tak enak hati, sebab bukan saya saja yang kemudian harus mengulang adegannya, melainkan juga para pemain lain, tak terkecuali Pak Sus.
“Ngapunten nggih, Pak Sus, barusan saya lupa dialognya,” kata saya. Kalau tak salah ingat, itu adalah permintaan maaf saya yang kedua untuk sebuah adegan yang kami mainkan.
Pak Sus tersenyum, tidak ada raut jengkel sama sekali.
“Santai wae, Le, jenenge syuting yo ancen ngono kuwi. Umpomo awakmu ora lali dialog, yo tetep dibaleni kok.”
Kalimat itu mungkin terdengar seperti angin lalu bagi orang lain, tapi bagi saya yang sedang dililit ketakutan, kata-kata itu bekerja selayaknya mantra. Apa yang ia katakan adalah kebenaran murni dalam dunia syuting: sebagus apa pun akting kita di percobaan pertama, sutradara akan tetap menuntut pengambilan gambar berulang demi stok alternatif, walau pada akhirnya yang akan dipakai adalah shoot yang pertama.
Harus saya akui, kalimat itulah yang kelak saya tanamkan dalam diri saya sehingga saya mulai punya kepercayaan diri untuk tidak takut salah dalam proses syuting-syuting berikutnya.
Pak Sus tak sekadar jago menenangkan, ia juga manifestasi dari kesederhanaan. Di tengah ingar-bingar dunia seni peran, saya tak pernah sekalipun melihatnya menuntut riders aneh-aneh atau perlakukan istimewa. Sering kali, saya mendapatinya duduk santai saat jeda syuting, menyantap bekal nasi jagung dan menyesap teh hangat yang ia bawa sendiri dari rumah.
Pak Sus seorang pencair suasana yang baik. Sering sekali ia melemparkan celotehan-celotehan spontan yang lucu dan menjadi hiburan bagi pemain dan kru yang mungkin sedang lelah dan letih selama menjalani proses syuting.
Pernah suatu ketika, seorang telco (talent coordinator) menawari Pak Sus yang barangkali pengin nitip beli rokok karena si telco mau membeli sesuatu di toko kelontong tak jauh dari lokasi syuting.
“Njenengan bade nitip rokok nopo mboten, Pak Sus?” tanya si telco.
“Oh yo, sisan yo, rokok … sak bungkus,” jawab Pak Sus menyebut nama salah satu merek rokok yang saya lupa apa mereknya.
Singkat cerita, rokok pun dibeli dan diserahkan kepada Pak Sus oleh si telco.
Pak Sus kemudian merogoh sakunya untuk mengambil uang yang akan digunakan untuk membayar rokoknya itu.
Melihat Pak Sus merogoh saku, si telco segera mencegahnya, “Mboten usah, Pak Sus, mboten usah, ini sudah ada budgetnya kok.”
Demi mendengar penjelasan tersebut, Pak Sus langsung merenges dan menjawab, “Nah, aku pancen nunggu kowe ngomong ngono, soale ning sak-ku asline yo ra ono duit.”
Gatheeeeeel.
Saya yang berada di sebelah Pak Sus persis sontak langsung tertawa, begitu pula telco dan beberapa kru yang menyaksikan adegan tersebut. Benar-benar senior pencair suasana. Ia tahu persis kapan harus membangun panggung kebahagiaan di tengah rasa letih.
Kelak, dalam beberapa kesempatan, saya masih lumayan sering berjumpa dengan Pak Sus, dan ia masih tetap Pak Sus yang celetukan-celetukannya menghibur dan ngangeni.
Selama ini saya masih cukup rutin menonton pertunjukan Ketoprak Conthong di TBY, salah satunya ya demi menyaksikan celetukan-celetukan Pak Sus.
Maka, ketika hari ini berita kepulangannya mengetuk telinga, ada bagian dari masa lalu saya yang ikut runtuh. Saya kehilangan seorang pembimbing tanpa pamrih.
Doaku hari ini, semoga Pak Sus tenang di alam sana, dan semoga ia senantiasa penuh dengan tawa, seperti orang-orang yang ia hibur dengan guyonan dan celetukan-celetukan nggathelinya.
Sugeng tindak, Pak Sus. Sugeng tindak, Den Baguse Ngarso. Kula nyekseni, panjenengan tiyang sae.
Sedikit Hansip Banyak Bansernya
Maghrib tadi saya pulang ke rumah Magelang. Kakak dari salah satu kawan saya meninggal dunia kemarin sore. Saya meniatkan pulang untuk lek-lekan hari kedua. Harusnya saya pulang kemarin, tetapi kemarin saya tidak enak badan, semacam masuk angin yang disertai dengan kepala nggliyeng.
Sesampainya di rumah, saya tidak menemukan bapak saya.
“Sedang ada dines,” kata ibu saya.
“Nggak ikut lek-lekan?”
“Sudah kemarin, sekarang jatahnya dines.”
Dines yang dimaksud ibu adalah bertugas sebagai banser. Sejak lulus diklatsar beberapa tahun yang lalu, bapak memang jadi sering kebagian jatah jaga tiap kali ada acara pengajian yang dilaksanakan di wilayah Mertoyudan dan sekitarnya.
Saya senang bapak punya banyak kegiatan di masa-masa tuanya. Bagi saya, itu adalah keasyikan dan kesibukan tersendiri buat bapak selain momong cucu-cucunya.
Setahu saya, bapak saya lumayan aktif di empat komunitas kolektif. Kolektif pertama adalah grup penggali kubur. Di grup ini, bapak saya lebih banyak berposisi sebagai ice breaker ketimbang gravedigger, sebab ia memang lebih sering menghabiskan porsi waktunya untuk bercanda dan prengas-prenges ketimbang menggali tanah kuburan.
Kolektif kedua adalah Bravo atau Banyurojo Volunteer, semacam grup relawan desa yang aktif diperbantukan untuk membantu masalah-masalah kebencanaan yang terjadi di desa. Kolektif inilah yang membuat bapak saya mulai terbiasa menyebut kasus orang tenggelam bukan sebagai “wong klelep” melainkan sebagai “laka air”.
Kolektif ketiga adalah Hansip alias Linmas. Ini identitas yang melekat pada diri bapak dan nyaris abadi, sebab sudah puluhan tahun bapak mengemban identitas ini. Pemilu tanpa bapak adalah pemilu yang kurang satu. Dialah ujung tombak demokrasi.
Nah, kolektif terakhir adalah banser. Bapak saya ikut diklatsar bersama beberapa kawannya satu dusun dan dinyatakan lulus. “Diniati melu ngaji,” kata bapak dengan prengesan khasnya.
Bapak saya punya kebanggaan tersendiri tiap kali bisa menjaga pengajian, terutama saat mengawal kiai. Ia sering tidak paham siapa kiai yang ia kawal, yang jelas, asalkan Gus atau kiai, bakal ia ladeni. Sesekali ia mengirimi saya foto dirinya saat sedang mengawal seorang gus atau kiai di sebuah pengajian.
Dalam kesempatan yang tak sering, bapak beberapa kali bercerita dengan penuh kebahagiaan saat ada Gus atau kiai yang mengenali dirinya karena mereka tahu bahwa ia bapak saya. “Wah, ini Pak Trimo bapaknya Mas Agus, nggih?”
Dalam momen yang tidak sering itulah saya merasa punya kebahagiaan tersendiri karena bisa membuat bapak dikenali oleh seorang gus atau kiai. Saya pikir, itulah salah satu dari sangat sedikit kesempatan saya sebagai seorang anak untuk membuat bapak saya bangga. Bahwa anaknya yang pendidikannya tidak tinggi-tinggi amat itu gagal menjadi orang penting atau pejabat tinggi, tetapi setidaknya anaknya kenal dan dikenali lumayan banyak gus dan kiai.
Tadi saat duduk di acara lek-lekan, sebuah chat WA masuk. Saya buka chat itu, ternyata dari Wahyu, kawan SMA saya yang menginfokan kehadiran bapak saya di acara pengajian di dekat rumahnya.
“Terpantau mengamankan area Bagongan malam ini” tulisnya disertai foto dirinya bersama bapak saya. “Pengajian Abah Anza” lanjutnya di chat berikutnya.
Saya melihat foto tersebut. Bapak saya berpose mengacungkan jempol sambil merenges. Ia tampak sumringah dengan seragam banser kebanggaannya. Nametag “M. FRENGKY”, nama panggilan akrabnya, terpajang jelas di dada sebelah kanan.
Dalam ke-merenges-an bapak itulah, saya melihat semangat ber-NU yang sebenarnya. Semangat meramaikan pengajian, semangat ngajeni kiai.
Bagi saya, banser-banser di kampung seperti bapak dan kawan-kawannya itu, guru-guru ngaji di TPQ dan pengajar madrasah, para jamaah rutinan pengajian yang aktif di satu pengajian ke pengajian yang lain, kader-kader yang berkeliling mengedarkan kencleng Lazisnu, ibu-ibu Muslimat yang aktif mendampingi usaha rumahan, mereka-mereka itulah para penggerak NU yang sebenarnya.
Hari ini, di tengah pro-kontra beserta aneka luapan kekecewaan banyak orang atas hasil muktamar terkait kepengurusan PBNU, melihat senyum bapak saya ternyata sudah lebih dari cukup untuk membuat saya masih bangga dan mencintai NU, bahkan walau saya bukan seorang NU.
Lamat-lamat, saya jadi ingat dengan celetukan seorang kawan, “Apakah kita bisa mencintai NU tanpa harus peduli pada PBNU-nya?”
Kawan saya yang lain memberikan jawaban yang saya kira sangat tepat: “Tentu saja bisa, toh selama ini kita mencintai Indonesia tapi membenci setengah mati isi kabinet dan anggota dewannya.”
