Begitulah Jakarta yang Sibuk Bergegas

| Wednesday, 7 July 2021 |

Selayaknya banyak orang, saya menyaksikan wajah Jakarta di masa kecil melalui tampilan di layar-layar televisi. Jakarta di mata saya merupakan kota yang dihuni oleh artis-artis top dan beken. Dari Rano Karno sampai Mathias Muchus, dari Anwar Fuady sampai Pong Harjatmo, dari Dina Lorenza sampai Paramita Rusady.

Saya hampir selalu berpikir, Jakarta pastilah kota yang menyenangkan, sebab kalau tidak, mana mungkin orang-orang seperti Dina Lorenza itu kelihatan cantik melulu. Dari jaman jadi model video klip lagu Angin Malam-nya Sahara, trus jadi saingannya Peggi di sinetron Gerhana, sampai jadi istrinya tulang Togu di sinetron Tukang Bubur Naik Haji, kok ya nggak ada jelek-jeleknya.

Perlahan, saya mulai naksir pada kota itu. Dan rasanya tak berlebihan jika kemudian Jakarta menjadi kota yang, saya merasa, kelak harus pernah merasakan hidup di sana, atau setidaknya, pernah mengunjunginya.

Harapan itu tak tercapai saat saya SMP, sebab ketika banyak SMP di kota saya menjadikan Jakarta sebagai tujuan darmawisata, SMP saya justru bervakansi ke Bali.

Saya akhirnya baru benar-benar bisa mengunjungi Jakarta saat sudah dewasa. Bayangkan, betapa dahsyatnya kota ini, bahkan untuk sekadar ke Jakarta pun saya harus menunggu aqil-baligh dan berjembut dulu.

Di kunjungan pertama saya ke Jakarta itulah, saya menyadari bahwa Jakarta tak semenyenangkan yang saya kira. Ia adalah kota yang kejam. Saya datang ke sana untuk mengambil hadiah lomba menulis blog yang diadakan oleh salah satu BUMN. Saya tak punya kenalan di sana, sehingga malam hari saat saya tiba di sana, saya memutuskan untuk tidur di musala tak jauh dari stasiun Gambir. Belum juga saya terlelap, seseorang langsung mengusir saya dan mengatakan bahwa musala mau ditutup.

Bayangkan, bahkan di rumah Allah pun, saya tak punya hak untuk merebahkan diri.

Saya terpaksa berpindah ke tempat lain. Saya kemudian berjalan amat jauh, saya susuri sepanjang jalan Sudirman dan jalan-jalan di kiri-kanannya, berharap ada warnet yang bisa saya tumpangi untuk tidur. Hal yang selalu saya lakukan saat di Magelang atau Jogja.

Namun ternyata, kota ini kelewat maju. Saya tak menemukan warnet. Mungkin semua kantor di Jakarta sudah punya akses internet sendiri, sehingga warnet sudah tak diperlukan lagi dan hanya layak dicatat dalam arsip kebudayaan saja.

Pada akhirnya, saya memutuskan tidur di bangku taman Monas. Saya tidur dengan sangat lelap. Bukan karena bangkunya empuk dan nyaman buat tidur, namun karena saya sudah kelewat letih berjalan jauh mencari warnet dan tak menemukannya.

Pagi harinya, saya harus bertemu dengan kekejaman kota ini dalam versi yang lain. Saya tak tahu di mana alamat hotel tempat saya mengambil hadiah. Saya pun bertanya kepada orang yang lewat. Dan keparat, salah seorang yang saya tanyai bahkan mengusir saya dan memberikan tanda dengan tangannya agar saya menjauh darinya bahkan sebelum saya sempat menanyakan pertanyaan saya.

Dugaan saya, ia mengira saya adalah sales yang sedang menawarkan barang dagangan atau, yang lebih parah, ia mengira saya pengemis yang berharap ia mau menyisihkan barang sedikit uang receh miliknya.

Kota ini tak sebaik yang saya kira. Dan tak semenyenangkan yang saya duga. Perkara Dina Lorenza selalu tampak cantik, saya pikir itu murni karena dirinya rajin merias dan mematut-matutkan diri di depan cermin, bukan karena sumbangsih kota ini.

Saya kemudian berjodoh lagi dengan Jakarta saat saya bekerja sebagai desainer grafis di Sukabumi. Agensi tempat saya bekerja sering mengerjakan desain annual report perusahaan-perusahaan dari Jakarta, sehingga mau tak mau, saya jadi harus sering bolak-balik Sukabumi-Jakarta.

Pengalaman tidak menyenangkan tentang kerasnya Jakarta itu masih tetap tersisa. Di bayangan otak saya, Jakarta semakin tampak serba bergegas. Jakarta tampak serba cepat dan mekanis. Sebagai seorang pemalas, saya tak yakin bisa mengimbangi ritme kerja Jakarta yang amat ketat itu.

Entah kenapa, saat itu, saya selalu merasa sangat tersiksa tiap kali harus ke Jakarta dan selalu bahagia tiap kali harus balik ke Sukabumi.

Jakarta menjadi selayaknya kawan menyebalkan yang saya selalu berusaha untuk menghindar darinya.

Kelak, dalam waktu yang lain, saya ternyata berkesempatan untuk kembali bersentuhan dengan Jakarta. Kali ini, saya mendapatkan tantangan kerja di Jakarta.

Saya dipanggil untuk datang ke studio Bukan Empat Mata dan diminta menjadi salah satu pengisi acara di sana. Awalnya sebagai narasumber. Saat itu, saya memang sedang cukup moncer karena terkenal sebagai tukang edit foto bareng artis.

Setelah penampilan saya di episode Bukan Empat Mata itu, dua minggu kemudian, saya diminta untuk datang lagi ke Jakarta. Kali ini, saya diminta untuk menjadi semacam asisten co-host yang bertugas untuk menyemarakkan acara.

Agus Mulyadi bukan empat mata

Dua episode saya menjadi asisten co-host di sana, dan itu sudah cukup untuk membuat saya amat tak betah di Jakarta. Di studio syuting, kebergegasan Jakarta yang dulu saya saksikan di kantor-kantor menjadi tampak semakin jelas. Itu belum termasuk kemacetan Jakarta yang ngaudubillah setan itu.

Bayangkan, saya tidur di penginapan tak jauh studio Trans7, dan jarak yang tak jauh itu rupanya tak bisa ditempuh dengan sebentar. Kemacetan Jakarta benar-benar susah dinalar. Saya bahkan butuh puluhan menit hanya untuk berpindah dari satu tempat ke tempat lain yang berjarak tak sampai tiga kilometer.

Sejak saat itulah, saya meyakini, Jakarta benar-benar bukan tempat yang cocok untuk saya. Jakarta hanya cocok untuk para pekerja keras dan saya bukanlah salah satunya. Apa saja yang menggelinding di sana berderap dengan sangat cepat dan taktis.

“Alangkah mengerikannya menjadi tua dengan kenangan masa muda yang berisi kemacetan jalan, ketakutan datang terlambat ke kantor, tugas-tugas rutin yang tidak menggugah semangat, dan kehidupan seperti mesin, yang hanya akan berakhir dengan pensiun tidak seberapa.” Begitu kata Seno Gumira dalam salah satu karyanya.

Narasi menyeramkan yang ditulis oleh Seno Gumira itu begitu terbayang dalam kepala saya, dan saya meyakini, itulah yang akan terjadi pada diri saya seandainya saya tetap memutuskan untuk terus bertahan dan bekerja di Jakarta.

Pada akhirnya, saya memutuskan untuk pulang ke Magelang, berusaha bekerja di sana, sebagai seorang penjaga warnet atau sebagai penulis, dengan honor yang tak terlalu besar, tentu saja, namun saya amat menikmatinya.

Di Magelang, memang tak ada Dina Lorenza, namun itu mungkin adalah harga sepadan yang harus dibayar agar tak ada kemacetan yang semenyebalkan jalanan Jakarta.

Tiap kali saya bertemu dengan kawan yang berhenti dari kerjanya di Jakarta karena merasa tak betah, saya selalu berusaha membesarkan hatinya. Saya lalu semangat untuk memprovokasinya bahwa pilihannya sudah benar.

“Kowe ki ancen ra cocok kerjo ng Jakarta. Aku yo podo. Wis, ngopi wae. Iki sing paling cocok ngge aku ro kowe. Loskeeee.”

Ketika Bapak Mertua Akhirnya Kena Covid-19

| Tuesday, 22 June 2021 |

Beberapa hari yang lalu, pagi hari, bapak mertua saya harusnya mendapatkan tindakan DSA untuk mengobati stroke-nya. Mujur tak dapat diraih, malang tak dapat ditolak. Setelah dites, bapak ternyata positif covid. Tindakan DSA urung dilakukan. Sebagai gantinya, beliau harus menjalani perawatan di ruang isolasi.

Bapak saya tidak bisa berbicara dengan lancar, satu-satunya kata yang ia lancar untuk mengatakan hanya “bismillah”. Kaki tangannya pun tak bisa bergerak sempurna. Tak mungkin ia menghabiskan masa isolasi dengan kondisi seperti itu sendirian. Maka, Kalis pun mengambil risiko untuk menjaga bapak.

samuri pasien covid-19
Bapak mertua di ruang isolasi RS Bethesda.

Segala proses tetek bengek itu benar-benar membuat kami lelah. Saya kemudian mencoba untuk mengambil tes swab. Agar cepat, saya memilih untuk tes secara drive thru di salah satu rumah sakit. Sial, ternyata drive thru hanya diperuntukkan untuk mereka yang pakai mobil, untuk yang pakai motor, harus antri manual di poli. Tentu ini bukan salah mereka, namanya juga drive thru, bukan ride thru. Maka, tubuh saya yang sudah amat lelah harus kembali menahan kelelahan yang lain. Mengantri terkadang sambil berdiri sebab seluruh kursi yg boleh diduduki sudah penuh.

Saya pun menghabiskan waktu berjam-jam untuk sekadar antri swab. Malam harinya, hasilnya keluar. Saya negatif. Hal itu sedikit memberikan penghiburan pada saya.

Hari-hari berikutnya saya lalui dengan perasaan yang aneh. Kalis di ruang isolasi, sedangkan saya bertugas untuk bolak-balik rumah-ruang isolasi untuk menyuplai segala kebutuhan dia dan bapaknya. Susu, makanan, buah, air minum, obat, tissu, popok, dan sebangsanya.

Saya dan Kalis hanya bisa saling menguatkan melalui pesan singkat. Hal yang membuat apa saja pesan darinya menjadi sangat sentimentil.

chat kalis

Hari ini, Kalis mengabari, kalau oksigen se-Jogja habis. Bapak saya tidak bisa menggunakan oksigen kecuali hanya kalau saturasi di bawah 90. Kalis tentu amat takut.

“Apakah masih ada keajaiban buat semua ini, Mas?” tulisnya.

“Keajaiban kuwi mesti ono, Wong nggawe kowe gelem rabi karo aku we Gusti Allah gampang, opomeneh nggawe bapak sehat meneh. Sepele kuwi,” jawab saya.

Kami tak tahu, kapan ini semua akan berakhir. Saya tampaknya benar-benar sudah berada di fase “Pengin sambat tapi isin karo bojone dhewe.” Apa yang saya lakukan dalam pertarungan ini tak ada apa-apanya dibandingkan apa yang dilakukan oleh istri saya.

Minggu lalu, minggu ini, dan juga minggu depan, entah sampai minggu kapan lagi, tampaknya masih akan tetap menjadi minggu yang berat bagi kami.

Dalam perjalanan pulang tadi dari rumah sakit, saya tak langsung pulang. Saya berputar-putar keliling Jogja. Hanya untuk menangis. Saya melaju dengan kecepatan yang amat pelan, sambil sesekali meneriaki mobil-mobil yang terus mengklakson laju motor saya yang pelan. “Bajingaaaaan!” “Asuuuuuu!”

Saya tak tahu, apa lagi yang bisa saya lakukan. Saya hanya bisa berdoa, lalu berikhtiar membeli barang apa saja yang dijajakan oleh pedagang yang saya lihat di jalanan meski uang saya mulai menipis dan saya tak butuh barang itu: geblek, tape ketan, sapu, dan banyak barang-barang lainnya. Kiranya Gusti Allah mau menyembuhkan bapak mertua saya atas apa yang sudah saya lakukan.

Ya Allah, maafkan saya. Saya pamrih. Dan cengeng.

Bersih-Bersih Rumah

| Saturday, 29 May 2021 |

Untuk urusan kebersihan rumah, saya dan Kalis amat terbantu oleh Mbak Wulan. Ia dulunya adalah pekerja goclean yang hasil kerjanya cukup memuaskan.

Setelah goclean resmi dihapus oleh gojek, kami pun kemudian meminta Mbak Wulan untuk membersihkan rumah kami dengan sistem rutinan dan kami bayar secara bulanan.

Kehadiran Mbak Wulan membuat tugas rumah tangga saya dan Kalis menjadi amat ringan. Saya dan Kalis hanya perlu mencuci piring dan menyapu halaman rumah sesekali.

Namun, sudah beberapa waktu ini, Mbak Wulan libur sebab ia tengah melahirkan. Ia ambil cuti satu setengah bulan.

Selama Mbak Wulan cuti itulah kemanjaan saya dan Kalis mendapatkan tantangan terbuka. Rumah kami tidak sebersih biasanya. Cucian menumpuk. Dapur juga menjadi lebih berantakan.

Dalam kondisi seperti itu, bersih-bersih rumah menjadi aktivitas yang amat heroik. Mengepel teras rumah terasa seperti sebuah pencapaian besar.

Siang tadi, belum juga nyawa saya terkumpul sempurna karena baru saja bangun tidur setelah sebelumnya begadang semalaman, Kalis mendadak mengagetkan saya.

“Mas, kamu harus mencintaiku selamanya,” katanya dengan suara yang sangat intimidatif.

Saya yang masih belum melek sempurna, ditodong dengan permintaan aneh seperti itu tentu saja terheran juga. Bukankah mencintai Kalis adalah memang sudah tugas saya? Dan itu tak perlu lagi ditanyakan.

Namun, tetap saja saya merasa harus menanyakannya. Sekadar sebagai kepantasan percakapan belaka.

“Apa yang membuatku sampai harus mencintai kamu selamanya?”

“Harus dong, soalnya selama kamu tidur dari pagi tadi, aku sudah bersih-bersih seluruh rumah,” katanya dengan penuh kebanggaan.

Saya kemudian keluar kamar dan melihat ruang tengah dan ruang tamu, memang bersih betul dan jauh lebih enak dipandang.

“Tuh, bersih, kaaaaan? Makanya, kamu harus mencintai aku selamanya.”

Saya merenges tipis. Ingin sekali saya jawab dengan jawaban guyon: “Kalau alasannya itu, maka seharusnya aku lebih mencintai Mbak Wulan ketimbang kamu,” namun hal itu saya urungkan, sebab di tangannya masih tergenggam sapu dengan gagang yang tampak keras dan kokoh.

Saya harus paham, bahwa guyonan yang baik adalah guyonan yang tidak mengancam kesehatan fisik dan tidak melahirkan hantaman benda tumpul, apalagi di bagian tubuh yang vital dan rapuh.

Tentang Saya

Saya Agus Mulyadi, biasa dipanggil Gus Mul (bukan lulusan pesantren seperti Gus Dur, Gus Muh, maupun Gus Mus. Gus Mul hanya akronim dari nama saya). Blogger dan Freelance Layouter. Kini berusia 24 tahun. Aktif di Karang Taruna dan Komunitas Blogger Magelang Pendekar Tidar. Profil lebih lengkap, Lihat Disini
 
Copyright © 2010 Blog Agus Mulyadi , All rights reserved
Design by DZignine . Powered by Blogger