Merawat Besan dan Membikin Jemuran

| Saturday, 20 February 2021 |

Rumah saya yang biasanya sepi kini menjadi lebih meriah. Sudah beberapa hari terakhir ini bapak saya tinggal di Jogja. Ia ikut menemani saya, istri saya, dan ibu mertua saya merawat bapak mertua yang beberapa hari yang lalu tumbang karena stroke dan harus dirawat di Jogja.

Bapak saya memang saya minta untuk ikut membantu merawat bapak mertua saya. Maklum, bapak mertua saya ukuran tubuhnya cukup besar, sehingga saya yang kurus ini sering tak sanggup kalau harus mengangkat atau memapah bapak mertua saya.

Alhamdulillah, bapak mertua saya kini sudah rawat jalan di rumah. Dokter yang menangani bapak mertua saya berikut fasilitas rumah sakit tempat ia dirawat tampaknya memang tokcer. 

Nama dokter yang merawat bapak mertua saya adalah Rizaldy Pinzon. Dokter yang dari namanya saja saya sudah merasa yakin ia dokter yang canggih dan mumpuni. Keyakinan saya akan namanya itu toh kelak terbukti. Beberapa hari sejak dirawat, ada banyak kemajuan yang didapatkan. Bapak mertua saya yang tadinya blas nggak bisa apa-apa (bahkan sekadar ngomong sekalipun) sekarang sudah bisa jalan-jalan.

Ketika pertama kali bapak saya saya kabari bahwa besannya dirawat di rumah sakit, ia langsung meluncur ke Jogja. Ia datang dengan jaket tebal dan tas ransel besar berisi selimut, baju ganti, dan aneka peralatan mandi. Jaket yang ia pakai saat itu sangat tebal dengan ornamen bulu-bulu di bagian lehernya, sehingga mengingatkan saya pada busana penduduk suku air di serial ‘Avatar: The Last Airbender’ itu.  

Bapak saya adalah sosok yang sangat cekatan. Ia sangat telaten merawat bapak mertua saya. Saya bahkan harus mengakui, bahwa ketelatenan saya dalam urusan merawat bapak mertua saya kalah jauh bila dibandingkan dengan ketelatenan bapak saya. Kalau saja gurat usia tidak tampak pada wajah bapak saya, niscaya bapak mertua saya pasti bakal mengira bahwa besannya itu adalah menantunya.

Setelah bapak mertua saya dirawat jalan, bapak saya tetap setia menemani besannya itu. Ia ikut tinggal beberapa hari di rumah kontrakan saya untuk membantu apa saja yang ia bantu.

“Ya besok kalau kalau bapakmu sudah bisa jalan,” katanya saat saya tanya mau pulang kapan.

Ikut tinggal di rumah, bapak saya rajin melakukan kerja-kerja penjelajahan dan pemetaan wilayah.

Pagi-pagi benar, ia sudah jalan-jalan keliling daerah sekitar rumah untuk mengetahui di mana kantong-kantong strategis yang mungkin bakal ia perlukan. Salah dua yang harus ia petakan adalah toko bangunan dan toko alat-alat listrik terdekat.

Kerja-kerja pemetaan yang ia lakukan toh ternyata berguna di kemudian hari. Berbekal pengetahuan penguasaan wilayah strategis yang ia dapatkan selama jalan-jalan pagi dan pengetahuan listrik jaringan sederhana yang ia kuasai sejak masih duduk di bangku SMP, bapak saya melakukan banyak hal untuk merombak rumah saya.

Bapak saya dengan terampil dan tangkas memasang lampu hias di gudang belakang rumah saya. Ia tampaknya tahu betul bahwa saya sering klutak-klutik menulis di gudang sehingga ia berinisiatif mengubah gudang rumah saya selayaknya cafe-cafe kontemporer itu. 


Bapak saya juga menambah instalasi lampu di halaman depan rumah sebab ia merasa halaman bagian depan rumah saya kurang terang saat malam hari. 

Saya tadinya tak terlalu suka bapak saya merombak rumah saya dan mengotak-atiknya. Namun setelah saya melihat hasilnya, ternyata oke juga.

Tak hanya lampu hias, bapak saya juga berinisiatif membikin jemuran di tembok belakang rumah. Hal itu ia lakukan karena jemuran portable yang saya beli menurutnya tidak akan cukup untuk menampung baju-baju cucian utamanya setelah bapak, bapak mertua, dan ibu mertua saya ikut tinggal di rumah.




Ia membeli kayu usuk dan kawat-kawat yang ia gunakan sebagai gantungan jemuran itu dari toko kayu tak jauh dari rumah.

“Jogja ngeri, ya, Gus,” kata bapak.

“Ngeri gimana, Pak?”

“Lha ini, aku beli kayu usuk buat jemuran, kayu usuk begini harganya 22 ribu.”

“Loh, murah ya.”

“Murah ndasmu, kayu kayak begini di Randu Mas cuma 15 ribu.”

Saya tentu saja tertawa. Tertawa karena lama sekali saya tak mendapatkan umpatan “ndasmu” dari bapak saya yang dulu biasa ia lontarkan kepada saya sebelum saya menikah. Dan kini, saya kembali mendengarkan umpatan itu. Ada semacam rindu-rindu kecil yang tertunaikan dalam umpatan “ndasmu” itu.

Saya mengamati dengan seksama bagaimana ia menggergaji kayu dengan tangan kirinya itu. Benar-benar si kecel yang terampil. Sambil melihatnya merangkai kayu dan kawat, hati kecil saya berharap agar ia melontarkan kata “ndasmu” lagi.

Bersama bapak, bahkan umpatan “ndasmu” bisa terdengar sangat menenangkan hati.

Membetulkan Bacaan Surat-Surat Pendek

| Tuesday, 16 February 2021 |

Sudah beberapa hari terakhir ini, bapak mertua saya dirawat di rumah sakit. Ia menderita stroke. Saya tak tahu seberapa gawat stroke yang ia derita, yang jelas, di hari pertama ia masuk ke rumah sakit, ia benar-benar tak bisa apa-apa. Jangankan untuk bergerak, sekadar ngomong pun tak sanggup. 


Puji Tuhan, dokter yang menangani bapak mertua saya, dan fasilitas rumah sakit tempat ia dirawat tampaknya sangat mendukung kesembuhan bapak mertua saya. Beberapa hari sejak dirawat, ada banyak kemajuan yang didapatkan. Kacek. Dari yang blas nggak bisa apa-apa, sampai akhirnya bisa menggerakkan tangan dan kaki serta bisa bicara. Walau tentu saja masih dengan kata-kata yang sederhana.  

Ibu mertua saya, sepupu bapak mertua saya, Kalis, saya, dan bapak saya bergantian menunggu. Tentu saja Kalis dan ibunya yang paling sering. Kalis amat sabar merawat bapaknya. Ia membimbing bapaknya untuk perlahan membaca Al-Fatihah dan surat-surat pendek lainnya. 

Perlahan, hari demi hari, bacaan Fatihah bapak mertua saya mulai lancar. Ia kemudian mulai rutin mencoba melafalkan surat-surat pendek lain. Saya yakin, semangatnya agar bisa segera kembali ngimami salat di kampungnya (Bapak mertua saya seorang modin dan imam musala) itu menjadi salah satu pendorong baginya agar bisa cepat pulih. 

Kalis selalu telaten membetulkan bacaan-bacaan surat pendek bapak mertua saya, maklum saja, kemampuan membaca surat bapak mertua saya benar-benar turun drastis. Dalam momen itulah, Kalis menunjukkan semacam ketelatenan yang membuat saya merasa sangat beruntung. 

Kadang , tugas membetulkan bacaan-bacaan surat pendek itu harus saya ambil alih saat Kalis harus bekerja, kadang nulis kadang jadi pemateri zoom. 

Membimbing bapak mertua membaca surat-surat pendek menjadi tugas yang menyenangkan sekaligus mengerikan. Menyenangkan sebab hati ini terasa tenteram setiap kali ia bisa lancar membaca satu surat dengan lancar sampai selesai, itu artinya, kesehatannya semakin membaik. Dan menjadi mengerikan sebab semakin lama, bacaan mertua saya semakin lancar dan ia selalu ingin mencoba bacaan surat yang lebih panjang. 

Kalau cuma kulhu, qulyaa, atau tabbat yadaa, saya masih mampu. Tapi kalau sudah Izaa waqa'atil waaqi'ah, ha yo remuk. Saya yang nggak hafal. 

Beruntung, sebagai lelaki berjiwa taktis, saya selalu punya cadangan pertahanan ganda. Tiap kali bapak saya mau mencoba membaca surat panjang, saya langsung bilang “Surat-surat pendek saja dulu, Pak, biar lancar dulu. Yang penting bisa buat ngimami.” 

Dan untung lagi, ibu mertua saya senantiasa mendukung menantu kesayangannya. “Iyo, Pak. Rasah ngoyo. Yang pendek-pendek saja cukup,” ujarnya kepada bapak mertua saya. 

Ah, kalau begini, saya jadi agak menyesal kenapa dulu saya menolak keras saat mau dimasukkan ke madrasah oleh bapak saya. 

“Yo, rapopo sekolah ng Madrasah, Pak, tapi Pak’e wae sing sekolah, ojo aku,” kata saya pada Bapak saya waktu itu.

Satu Tahun Pernikahan

| Friday, 11 December 2020 |


Hari ini, tepat setahun yang lalu, saya menikahi perempuan trengginas bernama Kalis Mardiasih ini.

Ia perempuan yang sangat menjengkelkan. Ia hobi bercocok tanam namun malas membereskan tanah dan cetok yang habis ia gunakan. Ia sering mewanti-wanti saya agar hemat namun dirinya sendiri kerap kalap saat belanja sandang dan pangan. Ia juga sering (lebih tepatnya, selalu) lupa mengisi uang jimpitan saat saya sedang tak ada di rumah.

Satu tahun kami menikah, kami banyak berselisih paham, kami sering berdebat, saya tak pernah segan untuk membantahnya, begitu pula sebaliknya, selayaknya pasangan suami istri lainnya, kami kerap adu mulut (baik dalam arti yang sebenarnya maupun tidak).

Namun, pada titik yang lain, ia juga perempuan yang begitu melegakan. Tak terhitung berapa banyak masalah besar yang kemudian terasa menjadi sepele belaka hanya karena saya merebahkan diri lalu memeluknya di tengah malam.

Memandang wajahnya saat ia terlelap benar-benar menjadi sebuah kebahagiaan tersendiri. Ia memberi semacam kekuatan aneh yang membuat saya yakin bisa menghadapi hari esok dengan lebih mantap dan berani.

Ada banyak impian yang ingin kami raih. Kami ingin punya rumah yang halamannya luas. Rumah yang bangunannya dibikin ala-ala rumah budayawan yang batu-batanya sengaja tidak diaci itu. Di rumah itu, kami ingin secara rutin bikin kelas dan diskusi tentang dunia kepenulisan.

Kami ingin punya banyak uang, agar bisa membeli apa saja yang ditawarkan oleh para pedagang yang mampir ke rumah kami.

Kami juga ingin berkeliling ke banyak tempat dan membagi-bagikan uang kepada siapa saja yang kami kehendaki selayaknya Helmy Yahya di acara reality show Uang Kaget.

Di kepala saya, ada banyak harapan indah yang, kalau dipikir-pikir, memang kelewat muluk dan mungkin tidak akan pernah terpikirkan sedikit pun, seandainya saya tidak menikah dengan Kalis.

Bersamanya, saya merasa, ada banyak sekali hal-hal besar yang terasa masuk akal untuk saya raih. Bersamanya, kebahagiaan terasa seperti udara, yang bisa saya temukan di mana saja. Bersamanya, ketakutan-ketakutan dalam hidup seakan berkurang.

Menikah dengan Kalis membuat saya yakin bahwa masa depan saya tak akan suram-suram amat

Tentang Saya

Saya Agus Mulyadi, biasa dipanggil Gus Mul (bukan lulusan pesantren seperti Gus Dur, Gus Muh, maupun Gus Mus. Gus Mul hanya akronim dari nama saya). Blogger dan Freelance Layouter. Kini berusia 24 tahun. Aktif di Karang Taruna dan Komunitas Blogger Magelang Pendekar Tidar. Profil lebih lengkap, Lihat Disini
 
Copyright © 2010 Agus Mulyadi Blog , All rights reserved
Design by DZignine . Powered by Blogger