Mengapresiasi Kerusuhan Kongres HMI

| Thursday, 25 March 2021 |

Kongres XXXI Himpunan Mahasiswa Islam (HMI), di Gedung Islamic Center Surabaya pada Selasa, 23 Maret 2021 malam lalu berakhir ricuh. Tak sedikit kader HMI peserta kongres yang kemudian berubah beringas dan kelewat atraktif dengan membanting kursi dan memecahkan pintu kaca gedung.

Dari berbagai pemberitaan yang ada, kericuhan tersebut disebabkan oleh adanya sekelompok peserta yang merasa diacuhkan dan usulnya tidak diperhatikan.

Imbas dari kerusuhan tersebut, Kepolisian Daerah Jawa Timur pun menahan 6 peserta kongres.

Kerusuhan yang terjadi dalam kongres HMI kemarin tentu sedikit banyak mengingatkan kita pada kisruh kongres-kongres partai politik. 

Kongres ke-V Partai Amanat Nasional (PAN) yang digelar di Hotel Claro, Kendari, Sulawesi Tenggara, pada Februari 2020 lalu, misalnya. Atau Kongres Luar Biasa Partai Demokrat di Deli Serdang, Sumatera Utara, pada Jumat, 5 Maret 2021 lalu.

Dengan melihat kecenderungan yang ada, bentrok atau ricuh tampaknya menjadi agenda yang semakin lekat dengan kongres partai. Ia menjadi semacam acara hiburan agar kongres menjadi lebih menarik dan variatif. Kalau nggak ricuh, kongres menjadi kurang heroik. Kayak ada yang kurang.

Hal tersebut tentu saja dilatarbelakangi oleh konstelasi politik yang memang semakin lama semakin keras.

Kondisi tersebut sudah seharusnya menjadi perhatian tersendiri. Politik kini bukan lagi menjadi ajang pemikiran, namun juga ajang kontak fisik. Full body contact. Ide, gagasan, visi, dan aneka hal-hal abstrak lainnya harus disempurnakan dengan kecakapan berkelahi, atau minimal, kecakapan melempar kursi agar tepat sasaran.

Dalam lingkungan partai, gagasan tidak cukup hanya diperjuangkan melalui debat beradu argumentasi dan retorika, lebih dari itu, juga harus diperjuangkan dengan luka fisik. Karena itulah, keberadaan kisruh, saling tonjok, saling hantam, saling lempar kursi, menjadi instrumen yang sangat penting.

Nah, kisruh yang terjadi dalam kongres HMI kemarin sudah selayaknya diapresiasi.

Kita semua tentu paham, bahwa HMI, dan juga organisasi-organisasi pergerakan mahasiswa lainnya memang tak bisa dimungkiri merupakan ruang persinggahan dan pembibitan bagi banyak mahasiswa sebelum masuk ke dalam arena politik yang lebih nyata.

Dengan adanya kisruh, saling lempar kursi, dan hal-hal brutal lainnya, para mahasiswa diharapkan bisa lebih siap dan tidak kaget seandainya mereka masuk ke dalam partai politik dan kemudian harus merasakan sensasi tawur yang sesungguhnya.

Politik adalah dunia yang keras dan membutuhkan mental yang kuat lagi kokoh.

Tak sampai di situ, politik adalah identitas bangsa, di mana di dalamnya, terdapat banyak instrumen yang harus dijaga, salah satunya tentu adalah kearifan lokal. Dan kita semua tahu, sebagai negara pendekar, Indonesia punya identitas kelokalan dalam bentuk seni bela diri. Para politisi harus dengan sekiat tenaga menjaga warisan ini.

Agar bisa terus hidup, seni harus dipraktikkan. Nah, dalam posisi itulah tawur, ricuh, kisruh, dan sejenisnya mampu menjadi manifestasi penting kearifan lokal tersebut.

Sudah saatnya bagi kita untuk memaknai kisruh dalam kaca mata yang berbeda. Ia bukan lagi bersifat negatif, melainkan justru positif. Kisruh adalah medan pertarungan nyata untuk membuktikan mental seseorang.

Politisi, atau calon politisi harus bermental kuat, dan karena itulah ia perlu merasakan bagaimana rasanya kisruh dan tawur.

Apa yang terjadi pada kongres HMI kemarin adalah sebentuk usaha selemah-lemahnya iman untuk menguatkan peran mental itu. Para kader HMI yang terlibat dalam kisruh kemarin seakan ingin memberikan pesan nyata, bahwa sudah saatnya ilmu kanuragan dimasukkan dalam kurikulum pendidikan politik yang baru.

Ini merupakan langkah yang ideal. Jika hal tersebut bisa dilakukan, maka kelak, untuk masuk dalam sebuah partai politik, calon kader bukan hanya harus paham pengetahuan dasar tentang politik praktis, namun juga harus lolos tes mengambil kartu tanda anggota yang ditempel di batu nisan salah satu makam di kompleks kuburan wingit persis tengah malam.

Ini tentu bagus, sebab dengan begitu, politik bukan lagi dipandang sebagai sekadar perkara elektoral, namun juga perkara spiritual.

Merawat Besan dan Membikin Jemuran

| Saturday, 20 February 2021 |

Rumah saya yang biasanya sepi kini menjadi lebih meriah. Sudah beberapa hari terakhir ini bapak saya tinggal di Jogja. Ia ikut menemani saya, istri saya, dan ibu mertua saya merawat bapak mertua yang beberapa hari yang lalu tumbang karena stroke dan harus dirawat di Jogja.

Bapak saya memang saya minta untuk ikut membantu merawat bapak mertua saya. Maklum, bapak mertua saya ukuran tubuhnya cukup besar, sehingga saya yang kurus ini sering tak sanggup kalau harus mengangkat atau memapah bapak mertua saya.

Alhamdulillah, bapak mertua saya kini sudah rawat jalan di rumah. Dokter yang menangani bapak mertua saya berikut fasilitas rumah sakit tempat ia dirawat tampaknya memang tokcer. 

Nama dokter yang merawat bapak mertua saya adalah Rizaldy Pinzon. Dokter yang dari namanya saja saya sudah merasa yakin ia dokter yang canggih dan mumpuni. Keyakinan saya akan namanya itu toh kelak terbukti. Beberapa hari sejak dirawat, ada banyak kemajuan yang didapatkan. Bapak mertua saya yang tadinya blas nggak bisa apa-apa (bahkan sekadar ngomong sekalipun) sekarang sudah bisa jalan-jalan.

Ketika pertama kali bapak saya saya kabari bahwa besannya dirawat di rumah sakit, ia langsung meluncur ke Jogja. Ia datang dengan jaket tebal dan tas ransel besar berisi selimut, baju ganti, dan aneka peralatan mandi. Jaket yang ia pakai saat itu sangat tebal dengan ornamen bulu-bulu di bagian lehernya, sehingga mengingatkan saya pada busana penduduk suku air di serial ‘Avatar: The Last Airbender’ itu.  

Bapak saya adalah sosok yang sangat cekatan. Ia sangat telaten merawat bapak mertua saya. Saya bahkan harus mengakui, bahwa ketelatenan saya dalam urusan merawat bapak mertua saya kalah jauh bila dibandingkan dengan ketelatenan bapak saya. Kalau saja gurat usia tidak tampak pada wajah bapak saya, niscaya bapak mertua saya pasti bakal mengira bahwa besannya itu adalah menantunya.

Setelah bapak mertua saya dirawat jalan, bapak saya tetap setia menemani besannya itu. Ia ikut tinggal beberapa hari di rumah kontrakan saya untuk membantu apa saja yang ia bantu.

“Ya besok kalau kalau bapakmu sudah bisa jalan,” katanya saat saya tanya mau pulang kapan.

Ikut tinggal di rumah, bapak saya rajin melakukan kerja-kerja penjelajahan dan pemetaan wilayah.

Pagi-pagi benar, ia sudah jalan-jalan keliling daerah sekitar rumah untuk mengetahui di mana kantong-kantong strategis yang mungkin bakal ia perlukan. Salah dua yang harus ia petakan adalah toko bangunan dan toko alat-alat listrik terdekat.

Kerja-kerja pemetaan yang ia lakukan toh ternyata berguna di kemudian hari. Berbekal pengetahuan penguasaan wilayah strategis yang ia dapatkan selama jalan-jalan pagi dan pengetahuan listrik jaringan sederhana yang ia kuasai sejak masih duduk di bangku SMP, bapak saya melakukan banyak hal untuk merombak rumah saya.

Bapak saya dengan terampil dan tangkas memasang lampu hias di gudang belakang rumah saya. Ia tampaknya tahu betul bahwa saya sering klutak-klutik menulis di gudang sehingga ia berinisiatif mengubah gudang rumah saya selayaknya cafe-cafe kontemporer itu. 


Bapak saya juga menambah instalasi lampu di halaman depan rumah sebab ia merasa halaman bagian depan rumah saya kurang terang saat malam hari. 

Saya tadinya tak terlalu suka bapak saya merombak rumah saya dan mengotak-atiknya. Namun setelah saya melihat hasilnya, ternyata oke juga.

Tak hanya lampu hias, bapak saya juga berinisiatif membikin jemuran di tembok belakang rumah. Hal itu ia lakukan karena jemuran portable yang saya beli menurutnya tidak akan cukup untuk menampung baju-baju cucian utamanya setelah bapak, bapak mertua, dan ibu mertua saya ikut tinggal di rumah.




Ia membeli kayu usuk dan kawat-kawat yang ia gunakan sebagai gantungan jemuran itu dari toko kayu tak jauh dari rumah.

“Jogja ngeri, ya, Gus,” kata bapak.

“Ngeri gimana, Pak?”

“Lha ini, aku beli kayu usuk buat jemuran, kayu usuk begini harganya 22 ribu.”

“Loh, murah ya.”

“Murah ndasmu, kayu kayak begini di Randu Mas cuma 15 ribu.”

Saya tentu saja tertawa. Tertawa karena lama sekali saya tak mendapatkan umpatan “ndasmu” dari bapak saya yang dulu biasa ia lontarkan kepada saya sebelum saya menikah. Dan kini, saya kembali mendengarkan umpatan itu. Ada semacam rindu-rindu kecil yang tertunaikan dalam umpatan “ndasmu” itu.

Saya mengamati dengan seksama bagaimana ia menggergaji kayu dengan tangan kirinya itu. Benar-benar si kecel yang terampil. Sambil melihatnya merangkai kayu dan kawat, hati kecil saya berharap agar ia melontarkan kata “ndasmu” lagi.

Bersama bapak, bahkan umpatan “ndasmu” bisa terdengar sangat menenangkan hati.

Membetulkan Bacaan Surat-Surat Pendek

| Tuesday, 16 February 2021 |

Sudah beberapa hari terakhir ini, bapak mertua saya dirawat di rumah sakit. Ia menderita stroke. Saya tak tahu seberapa gawat stroke yang ia derita, yang jelas, di hari pertama ia masuk ke rumah sakit, ia benar-benar tak bisa apa-apa. Jangankan untuk bergerak, sekadar ngomong pun tak sanggup. 


Puji Tuhan, dokter yang menangani bapak mertua saya, dan fasilitas rumah sakit tempat ia dirawat tampaknya sangat mendukung kesembuhan bapak mertua saya. Beberapa hari sejak dirawat, ada banyak kemajuan yang didapatkan. Kacek. Dari yang blas nggak bisa apa-apa, sampai akhirnya bisa menggerakkan tangan dan kaki serta bisa bicara. Walau tentu saja masih dengan kata-kata yang sederhana.  

Ibu mertua saya, sepupu bapak mertua saya, Kalis, saya, dan bapak saya bergantian menunggu. Tentu saja Kalis dan ibunya yang paling sering. Kalis amat sabar merawat bapaknya. Ia membimbing bapaknya untuk perlahan membaca Al-Fatihah dan surat-surat pendek lainnya. 

Perlahan, hari demi hari, bacaan Fatihah bapak mertua saya mulai lancar. Ia kemudian mulai rutin mencoba melafalkan surat-surat pendek lain. Saya yakin, semangatnya agar bisa segera kembali ngimami salat di kampungnya (Bapak mertua saya seorang modin dan imam musala) itu menjadi salah satu pendorong baginya agar bisa cepat pulih. 

Kalis selalu telaten membetulkan bacaan-bacaan surat pendek bapak mertua saya, maklum saja, kemampuan membaca surat bapak mertua saya benar-benar turun drastis. Dalam momen itulah, Kalis menunjukkan semacam ketelatenan yang membuat saya merasa sangat beruntung. 

Kadang , tugas membetulkan bacaan-bacaan surat pendek itu harus saya ambil alih saat Kalis harus bekerja, kadang nulis kadang jadi pemateri zoom. 

Membimbing bapak mertua membaca surat-surat pendek menjadi tugas yang menyenangkan sekaligus mengerikan. Menyenangkan sebab hati ini terasa tenteram setiap kali ia bisa lancar membaca satu surat dengan lancar sampai selesai, itu artinya, kesehatannya semakin membaik. Dan menjadi mengerikan sebab semakin lama, bacaan mertua saya semakin lancar dan ia selalu ingin mencoba bacaan surat yang lebih panjang. 

Kalau cuma kulhu, qulyaa, atau tabbat yadaa, saya masih mampu. Tapi kalau sudah Izaa waqa'atil waaqi'ah, ha yo remuk. Saya yang nggak hafal. 

Beruntung, sebagai lelaki berjiwa taktis, saya selalu punya cadangan pertahanan ganda. Tiap kali bapak saya mau mencoba membaca surat panjang, saya langsung bilang “Surat-surat pendek saja dulu, Pak, biar lancar dulu. Yang penting bisa buat ngimami.” 

Dan untung lagi, ibu mertua saya senantiasa mendukung menantu kesayangannya. “Iyo, Pak. Rasah ngoyo. Yang pendek-pendek saja cukup,” ujarnya kepada bapak mertua saya. 

Ah, kalau begini, saya jadi agak menyesal kenapa dulu saya menolak keras saat mau dimasukkan ke madrasah oleh bapak saya. 

“Yo, rapopo sekolah ng Madrasah, Pak, tapi Pak’e wae sing sekolah, ojo aku,” kata saya pada Bapak saya waktu itu.

Tentang Saya

Saya Agus Mulyadi, biasa dipanggil Gus Mul (bukan lulusan pesantren seperti Gus Dur, Gus Muh, maupun Gus Mus. Gus Mul hanya akronim dari nama saya). Blogger dan Freelance Layouter. Kini berusia 24 tahun. Aktif di Karang Taruna dan Komunitas Blogger Magelang Pendekar Tidar. Profil lebih lengkap, Lihat Disini
 
Copyright © 2010 Blog Agus Mulyadi , All rights reserved
Design by DZignine . Powered by Blogger