Musim ini, toko buku kecil saya, Akal Buku, kembali menjadi sponsor buat PPSM Magelang di kompetisi junior. Ini tahun ketiga bagi saya dan Akal Buku menjadi sponsor buat tim sepakbola yang usianya sudah lebih dari 100 tahun ini.
Bagi saya pribadi, menjadi sponsor untuk PPSM masih dan akan selalu menjadi momen yang sangat sentimentil. Sejak kecil saya sudah menonton PPSM, sering menulis tentang PPSM, dan saat dewasa, akhirnya mendapatkan kesempatan untuk ikut menjadi sponsor bagi PPSM.
Saya tumbuh dengan kenangan sorak-sorai mendukung PPSM di Stadion Abu Bakrin, dengan segala umpatan dan cacian di tepi lapangan, bau minyak angin serta suara berisik penjaja arem-arem yang menyusuri tribun.
Maka, keputusan menaruh logo toko buku independen di jersey tim sepak bola lokal Magelang ini adalah cara saya untuk merayakan kenangan masa kecil. Sebab, tidak bisa tidak, PPSM-lah tim sepakbola yang mewarnai masa kecil saya yang miskin dan muram. Ia turut membersamai kecintaan saya pada sepakbola. PPSM adalah salah satu fragmen yang mengisi ruang kegembiraan masa kecil saya.
Semua orang mungkin paham belaka bahwa PPSM bukan tim hebat. Ia adalah tim pas-pasan dengan kabinet piala yang nyaris kosong, tim yang berkawan karib dengan papan tengah dan papan bawah. Namun, cinta memang selalu dibentuk oleh “walaupun”, bukan oleh “karena”.
Saya paham bahwa sebagai sebuah tim sepakbola, PPSM penuh dengan borok dan kekurangan, tapi sialnya, saya tak pernah punya alasan yang cukup kuat untuk berpaling darinya. Lelaki-lelaki Magelang paham betul perasaan menyebalkan ini.
Bagi kami, lelaki-lelaki Magelang yang masih terus mendukung PPSM, keras kepala bukan lagi sifat, melainkan gaya hidup.
Konon, ada banyak cara menyiksa diri yang bisa dilakukan oleh pemuda Magelang. Dari sekian banyak cara itu, yang tersulit adalah masuk Akmil, dan yang termudah adalah masuk stadion Moch Soebroto.
Saya tak tahu, akan sampai kapan saya masih ingin menjadi sponsor untuk PPSM, tapi yang pasti, selama PPSM masih ada, saya akan terus mencoba mendukungnya, entah sebagai sponsor, entah sebagai penonton yang hadir di tribun stadion, atau sebatas sebagai bapak-bapak yang mendoakan kemenangan untuknya, semustahil apa pun itu.
Mendukung PPSM akan selalu menjadi kegilaan yang menyenangkan, sebab hidup ini sudah terlalu serius untuk dijalani dengan logika yang lurus-lurus saja.
Akal Buku Jadi Sponsor PPSM Magelang Lagi
Diskualifikasi dan Patah Hati
Hari ini, kesedihan itu hadir serupa palu godam yang menghantam tanpa aba-aba. Siang tadi, hasil sidang komdis PSSI Jateng akhirnya diumumkan, dan PPSM Magelang resmi didiskualifikasi dari Liga 4.
Ya, ulah segerombol penonton purba yang melompat pagar dan masuk ke lapangan lalu menimbulkan kerusuhan itu pada akhirnya menutup perjalanan singkat PPSM musim ini yang seharusnya penuh dengan optimisme yang menguat.
Ini bukan yang pertama kali sebenarnya. Musim sebelumnya, PPSM juga mendapatkan hukuman yang sama, juga karena pelanggaran yang sama. Saya seharusnya tidak perlu kaget dan tidak perlu sedih. Toh ya sudah pernah. Tapi ternyata saya tak bisa. Kali ini, kesedihan itu mengepung lebih rapat.
Hati saya digelayuti kemarahan, getun, muak, serta berbagai perasaan menjengkelkan lainnya.
Ini tahun pertama saya agak “terlibat” di PPSM Magelang setelah belasan tahun lamanya hanya menjadi suporter biasa. Tidak lebih. Ini momentum di mana saya ingin mendukung PPSM lebih banyak daripada yang sudah-sudah.
Di musim ini, saya memutuskan untuk ikut menjadi sponsor untuk tim junior, banyak dilibatkan dalam proses diskusi pembuatan jersey, juga ikut serta membuat konten-konten sejarah dan trivia PPSM untuk akun media sosial mereka.
“Tahun ngarep melu ngrewangi PPSM yo, Mas,” kata kawan saya, sebut saja BT, sekitar pertengahan tahun lalu. BT, yang sudah beberapa tahun terakhir ikut di kepengurusan PPSM mengatakan bahwa dirinya optimis musim ini akan menjadi musim yang baik bagi PPSM.
Saya selalu senang ada orang yang punya gairah dan optimisme yang tinggi pada tim sepakbola lokal Magelang. BT menunjukkan gairah itu. Dan saya tak tega menolaknya.
“Yo, tapi tipis-tipis wae, yo.” Jawab saya singkat saat itu.
Bagi saya, mendukung PPSM akan selalu menjadi romantisme tersendiri. Ia tim sepakbola yang membersamai masa kecil saya. Ia bukan tim yang bagus, kabinet pialanya nyaris kosong, tapi saya mencintainya sebagai bagian dari perjalanan hidup saya.
“Pak, aku mau nulis soal Kurniawan dari perspektif alumni SMP 7, iso lebokke dadi konten ngge akun PPSM ra?” Tulis saya suatu ketika kepada BT melalui pesan WhatsApp.
“Wah, jelas iso banget, Mas. Suwun tenan yo. Aku hubungi desainerku sekarang juga.” Balasnya.
Saat itu, akun media sosial PPSM memang sepi dan tidak banyak mengunggah postingan. Ketidakbecusan federasi dalam membangun kompetisi membuat banyak tim lokal hanya bertanding tidak lebih dari 10 kali selama satu musim, itu pun hanya berlangsung 1-2 bulan. Tak heran jika banyak akun media sosial tim-tim lokal itu menjadi tak terawat dan hanya berisi postingan ucapan selamat hari-hari besar.
“Kalau akun media sosial kita bagus, semoga bisa jadi daya tawar buat menarik sponsor, Mas,” kata BT.
Saya paham betul bagaimana semangat BT dan kawan-kawan lain di PPSM dalam mencari sponsor. Mereka pontang-panting menawarkan proposal kepada siapa saja yang berminat. Jelas itu bukan hal yang mudah.
“Asumsi Insya Allah masuk, Mas,” BT mengirimi saya pesan chat. Singkat, tapi membahagiakan.
Bertahun-tahun lamanya PPSM nyaris tidak pernah mendapatkan sponsor dari unit bisnis di luar Magelang, dan musim ini, kesempatan yang langka itu akhirnya benar-benar terwujud.
Waktu berjalan hangat. Asumsi resmi menjadi sponsor. Beberapa unit usaha di Magelang seperti Sakopi dan Starmarket juga tertarik menjadi supporting partner.
“Sido main tenan iki, Pak!”
Optimisme itu benar-benar tumbuh. Jersey PPSM baik versi junior maupun senior banyak diminati pasar dan mendapat tanggapan yang positif dari khalayak.
Kemenangan di pertandingan pertama melawan PSIR Rembang makin menguatkan optimisme itu. Penjualan tiket kandang yang sempat kami khawatirkan karena harganya lebih mahal dari musim sebelumnya ternyata juga mencatatkan angka yang baik.
Keinginan saya untuk mendukung tim ini terasa makin besar. Saya menolak dibayar untuk ikut menulis konten buat PPSM Magelang. VIP pass yang saya dapat juga tidak pernah saya gunakan, saya memilih untuk membeli tiket dengan uang sendiri. Saya juga mencoba untuk rutin membuat konten video menonton PPSM agar banyak orang tertarik menonton di stadion. Itu semua saya niatkan sebagai bagian dari dukungan untuk tim kecil dan sederhana tapi penuh kenangan ini.
Singkatnya, saya dan kawan-kawan yakin musim ini akan menjadi musim yang menyenangkan. Dan keyakinan itu tampaknya tidak akan berakhir menjadi sekadar desas-desus saat PPSM akhirnya lolos ke babak 8 besar zona Jawa Tengah. Kesuksesan yang cukup membuat kami agak bisa prengas-prenges.
Namun, pada akhirnya, pesta yang sesaat dan belum sempat diteruskan itu ternyata harus tandas lebih cepat.
Keseriusan kawan-kawan di PPSM ternyata tidak diimbangi dengan kedewasaan suporternya. Klub ini, harus diakui, selain masih kacau dan terseok-seok, juga punya PR besar untuk mendisiplinkan suporternya agar lebih waras dan dewasa.
Banyak tim gagal karena pemainnya kalah dari lawannya di lapangan. Sedangkan PPSM, tampaknya ditakdirkan gagal karena kalah oleh suporternya sendiri.
PPSM gagal melaju lebih jauh musim ini, gagal mewujudkan stadion yang tidak membuat orang tua khawatir mengajak anak-anaknya menonton di atas tribun, dan yang pasti, gagal untuk membangun citra baik sebagai tim sepakbola.
Hari ini, saya masih tidak bisa menyembunyikan perasaan. Saya sedih, dan ingin mengumpat sekeras-kerasnya, kepada mereka yang tak bisa mengontrol emosinya, menjadi goblok, masuk lapangan, lalu mengubur mimpi yang terpahat di banyak kepala.
Sekali lagi, saya ingin mengumpat sekeras-kerasnya.
Kalian bajingan tengik. Tidak lebih, tidak kurang!
Menjadi Manusia Magelang di Pekan Buku Magelang
Senang sekali bisa menjadi narasumber sesi obrolan ngalor-ngidul “Manusia Magelang” di salah satu rangkaian acara Pekan Buku Magelang yang dihelat oleh Melek Huruf beberapa waktu yang lalu.
Melek Huruf, sebagai sebuah teman baca yang ada di Magelang, memang tengah merancang segmen obrolan bertajuk “Manusia Magelang” sebagai obrolan untuk menggali kisah dan pengalaman sosok-sosok yang berasal dari Magelang, dan kebetulan, saya diminta untuk menjadi narasumber pertama untuk edisi “Manusia Magelang” yang pertama ini.
Ditemani oleh kawan saya Arief “Toyib” Yulindra, kami mencoba membuka percakapan-percakapan menyenangkan tentang betapa kami merasa sangat terberkati terlahir sebagai warga Magelang.
Kesempatan itu kemudian menjadi sesi di mana saya mendapatkan ruang untuk meluapkan kebanggaan saya atas Magelang. Ruang di mana saya bisa meromantisasikan apa saja yang bagus-bagus tentang Magelang dan mencarikan dalih atas apa saja yang jelek-jelek tentang Magelang.
Bagaimanapun, saya akan selalu menjadi bagian dari Magelang, sebuah tanah wingit di mana lima gunung berserikat dengan baik. Tempat di mana manusia-manusia terpilih lahir dan bertumbuh.
Manusia-manusia terpilih yang terus dan tak pernah berhenti menanam meski harga panen hancur-lebur.
Manusia-manusia terpilih yang diberkahi talenta memahat batu turun-temurun, dan membuat mereka bisa berangkat umroh dan haji dari hasil menjual patung Buddha dan Bunda Maria.
Manusia-manusia terpilih yang punya hak secara kultural dan geografis untuk menggambar dua buah gunung dengan matahari terbit di antara keduanya, sebab mereka menyaksikan secara langsung pemandangan sejuta umat itu dalam bentuk fajar yang menyembul malu di antara Merbabu dan Merapi setiap pagi.
Saya mungkin berproses di Jogja, lalu mencoba menjadi besar dan berubah congkak di Jakarta, namun ke Magelang-lah, saya akan selalu kembali.
Kepada Magelang, saya selalu menaruh hormat dan menyisipkan keyakinan besar, bahwa ia bukan sekadar wilayah, ia adalah bangsa hebat yang selalu berpotensi untuk menjadi unggul.
Dan semua orang paham belaka, bangsa yang bisa membangun Borobudur, seharusnya bisa membangun apa saja.
Akal Buku Jadi Sponsor untuk PPSM Magelang
Per musim kompetisi 2024/2025 ini, toko buku saya, Akal Buku, resmi menjadi sponsor PPSM Magelang di kompetisi junior. Logo Akal Buku sudah tercetak di jersey tanding musim ini yang desainnya asoy betul.
Bagi saya pribadi, tentu saja ini menjadi momen yang sangat sentimentil. Sejak kecil saya sudah menonton PPSM, sering menulis tentang PPSM, dan ndilalah sekarang diberi kesempatan untuk ikut menjadi salah satu sponsornya.
Dulu pas masih kecil, bersama kawan-kawan sebaya, saya biasa menonton PPSM Magelang di Abu Bakrin. Kadang membeli tiket, kadang “mbludus” begitu saja mengaku keponakan penonton lain yang lebih dewasa.
Saat remaja, saya ikut tergabung korwil Syndrome yang spanduk raksasanya sering terpasang di pagar sisi timur Abu Bakrin.
Saat itu memang banyak sekali korwil pendukung PPSM yang lahir seiring dengan prestasi PPSM yang makin membaik bahkan sempat promosi sampai divisi utama.
Prestasi PPSM kemudian mulai menurun setelah ketok palu Permendagri nomor 1 tahun 2011 yang melarang klub sepakbola disubsidi oleh APBD.
Mendukung PPSM, tim sepakbola biasa dengan prestasi yang amat terseok-seok ini, memang menjadi sebuah keputusan karena saya lahir di kampung yang para lelaki dewasanya banyak yang menjadi pendukung PPSM. Sesepele itu.
PPSM bukan tim yang bagus-bagus amat, ia tidak terlalu akrab dengan kemenangan. Masa kejayaannya pun boleh dibilang cukup singkat. Ia lebih sering mengisi papan tengah atau bawah. Maka, mendukung tim ini bagi saya adalah sesuatu yang agak konyol.
Namun, begitulah hidup, kita kadang perlu menyukai kekonyolan, lalu perlahan mencintainya.
Dan memutuskan untuk menjadi sponsor PPSM Magelang, mungkin menjadi rangkaian kekonyolan yang lain. Kekonyolan yang, sialnya, membuat saya bahagia.
Mencintai Kekonyolan melalui PPSM Magelang
Saya tumbuh menjadi pendukung PPSM Magelang seperti layaknya orang yang beragama Islam karena kebetulan lahir dari orangtua yang juga beragama Islam. Tak ada proses pencarian diri atau pergolakan batin seperti yang dialami oleh orang Islam dari jalur mualaf.
Mendukung PPSM, tim sepakbola biasa dengan prestasi yang amat terseok-seok itu, menjadi sebuah keputusan karena saya lahir di kampung yang para lelaki dewasanya banyak yang menjadi pendukung PPSM. Sesepele itu.
Saat remaja, bersama kawan-kawan, saya cukup rajin menonton PPSM bertanding di Abu Bakrin. Kadang membeli tiket, kadang “mbludus” begitu saja.
Kalau PPSM kalah, saya akan pulang dengan perasaan yang biasa saja. Tidak ada kesedihan. Di dalam angkot, sepanjang perjalanan pulang, saya akan lebih banyak membicarakan keseruan saat menonton pertandingan, bukan hasil pertandingannya. Peduli setan dengan klasemen.
Sebaliknya, kalau PPSM menang, saya dan kawan-kawan akan ikut berpawai berkeliling kota sejenak. Merayakan kemenangan seolah-olah PPSM adalah hidup mati kami.
PPSM bukan tim yang bagus-bagus amat, ia tidak terlalu akrab dengan kemenangan. Memang ia pernah berada di masa yang cukup gemilang, namun itu hanya sesekali. Ia lebih sering mengisi papan tengah atau bawah. Maka, mendukung tim ini bagi saya adalah sesuatu yang agak konyol.
Namun, begitulah hidup, kita kadang perlu menyukai kekonyolan, lalu perlahan mencintainya.
Mendukung PPSM, dengan segala hasil buruk yang mereka dapat, tampaknya menjadi kebahagiaan tersendiri bagi saya.
PPSM tidak seperti Persib, PSIS, Persebaya, atau tim-tim besar lainnya yang punya sponsor berderet sehingga membuat jersey mereka selayaknya seragam pembalap F1. Namun, PPSM-lah tim sepakbola yang mewarnai masa kecil saya yang miskin dan muram. Ia turut membersamai kecintaan saya pada sepakbola.
Saya tidak ingin menjadi lelaki tak tahu diuntung yang tak kenal rasa terima kasih. Saya selalu ingin bisa merawat apa saja yang sudah saya miliki sejak kecil. Dan PPSM adalah salah satunya.
Sekali lagi, ini masih tetap menjadi rangkaian kekonyolan. Hari ini, besok, dan entah sampai kapan, saya masih akan terus mendukung tim kebanggaan yang pas-pasan ini. Dengan senang hati.
Apel Pagi Akmil Pada Suatu Hari
Saya, dan ratusan warga kampung Seneng Banyurojo lainnya tampaknya memang sudah benar-benar ditakdirkan untuk berkarib dengan pergaulan akademi militer.
Pagi hari, ketika orang-orang kebanyakan terbangun oleh azan subuh atau alarm dari ponsel, kami telah puluhan tahun dibangunkan oleh suara pembina apel pagi akademi militer yang memang kebetulan lokasinya bersebelahan persis dengan kampung kami.
Materi pembinaan apel pagi itu selalu bisa kami dengar dengan jelas. Dari instruksi, pesan, sampai bentakan-bentakannya.
“Selamaaaat pagiiiiii...” Pembina apel yang saya tak pernah tahu siapa namanya dan bagaimana tampangnya itu mengawali sapaannya kepada para taruna akademi militer peserta apel pagi ini.
“Pagi, pagi, pagi!” para taruna akademi militer menjawab serentak. Entah kenapa mereka harus menjawab sapaan itu tiga kali, seolah kalau cuma dijawab “Pagi!” satu kali saja, niscaya berkurang kadar keprajuritan mereka.
Nyatanya, jawaban “Pagi!” yang sampai diulang tiga kali dengan suara yang lantang itu tidak cukup memuaskan si pembina apel.
“Kalian ini prajurit, jangan loyo. Jangan malas buka mulut. Saya ulangi lagi, Selamaaaat Pagiiiii...”
“Pagi, pagi, pagi!” kembali jawab para taruna serempak.
“Nah, ini baru prajurit,” kata si pembina apel.
Saya geli sendiri mendengar respons si pembina apel itu, sebab sependengaran saya, jawaban “Pagi, pagi, pagi!” yang pertama dan yang kedua itu rasanya memang tak ada bedanya.
Wahai Tetangga Pemilik Pohon Rambutan

Jujur, semasa saya kecil, saya hampir tak pernah membeli rambutan. Kalaupun saya makan rambutan, itu biasanya karena dikasih atau dapet metik dari pohon tetangga yang dengan sukarela rambutannya dipetiki anak-anak kiri-kanan rumah, atau pohon "tak bertuan" di pinggir kali dekat perumahan akademi militer.
Sekira dua atau tiga minggu yang lalu, saat perjalanan dari Magelang ke Jogja, saya mendadak berhenti di pinggir jalan, tertarik dengan display rambutan yang nampak begitu hijau kekuningan, ranum, dan juga sintal yang dijajakan pedagang di tepi jalan di sekitaran jalan Blondo.
Saya berniat membeli barang sekilo dua kilo. Yah, hitung-hitung buat oleh-oleh kawan atau pacar di Jogja (uhuk).
Saya tanya harga satu kilonya.
“Dua lima satu kilo, mas,” jawab bapak penjualnya.
Deg, saya kaget tratapan, harga rambutan satu kilo yang mungkin hanya satu dompol itu ternyata mahal juga.
“Wah, lha kok mahal je pak, nggak bisa kurang?” tawar saya. Entah kenapa, dalam situasi begini, jiwa nyang-nyangan saya kok mendadak keluar.
“Wah, nggak bisa, mas. Ini rambutannya baru soalnya, kalau mau yang murah, ini yang sudah agak alum, sekilo 12 ribu juga boleh,” katanya sambil menunjukkan setumpuk rambutan di keranjang yang lain yang tampilannya sungguh tiada menyelerakan sebab sudah tidak segar lagi.
Duh gusti, kalau ingat momen-momen itu, saya jadi membayangkan, betapa baiknya tetangga-tetangga saya yang punya pohon rambutan dan rela rambutannya dipetiki oleh anak-anak tetangga di lingkungannya. Lha betapa tidak, sekali petik, biasanya bisa sampai 3-4 dompol, alias bisa sampai 3-4 kilo. Yang kalau dirupiahkan dengan parameter harga rambutan tadi, maka itu artinya rambutan senilai 75-100 ribu.
Ingin sekali rasanya saya pulang ke Magelang, lalu mencium tangan tetangga saya, sembari berterima kasih atas berpuluh-puluh kilo rambutan yang sudah mereka relakan untuk saya dan kawan-kawan saya petik.
Tapi... Ah, kapan-kapan aja ah. Mereka juga udah ikhlas ini...
Panganan Tradisional Lebaran khas Magelangan
Lebaran memang sudah berlalu, tapi agaknya, sayang rasanya kalau saya tidak menulis barang selarik dua larik perihal lebaran. Nah, makanya, di postingan kali ini, saya akan mencoba menulis sedikit tentang panganan yang biasa disajikan saat lebaran untuk menjamu para tamu.

Tapi tentu saya tidak akan membahas tentang Astor, orson, wafer, biskuit, ataupun nastar, soalnya sangat tidak elok dan tidak inlander, juga terlalu kapitalis. Saya hanya akan membahas beberapa panganan ringan khas tradisional yang jamak disajikan di rumah-rumah sebagai hidangan lebaran, khususnya di daerah Magelang dan seputaran Kedu (Temanggung, Wonosobo, Purworejo, Kebumen, dan sekitarnya), daerah tempat tinggal saya.
Nah, apa sajakah? Ini dia beberapa kudapan pilih tanding yang mungkin beberapa diantaranya anda sudah kenal dengannya.
Jipang

Walau namanya mirip dengan negara yang ke-hentai-hentai-an, namun percayalah, panganan yang satu ini sama sekali tak punya hubungan kekerabatan dengan sushi, ramen, ataupun onigiri. Jipang terbuat dari beras ketan, teksturnya renyah, rasanya manis, namun masih kalah manis kalau dibandingkan sama Raisa atau Nia Daniati.
Keripik Tempe

Agaknya, orang Magelangan paham benar, bahwa makanan ringan tak melulu diposisikan sebagai pelepas rasa, lebih dari itu, makanan ringan juga mempunyai hak untuk memenuhi kodratnya sebagai suplemen asupan gizi. Karenanya, jangan heran jika keripik tempe menjadi salah satu menu kudapan andalan orang-orang Magelang. Tentu kita semua tahu, bahwa selain mengandung banyak protein, tempe juga mengandung vitamin B kompleks, mineral kalsium, juga zat besi, sehingga sangat bagus untuk kesehatan. Eh, saya kok mendadak jadi sok biologi gini ya.
Klici

Panganan mungil yang terbuat dari tepung terigu. Salah satu panganan yang sengaja diciptakan untuk mengetahui tingkat ketangguhan gigi seseorang. Panganan ini sangat digemari, karena selain ngirit dan cocok untuk ngemil, panganan ini juga sangat gembol-able.
Kerupuk Gendar

Dengan mengusung konsep "Reduce, Reuse, Recycle" atau prinsip daur ulang, kerupuk ini tampil sebagai salah satu panganan yang ramah lingkungan. Betapa tidak, kerupuk gurih ini biasanya dibuat dari nasi yang sudah basi (walau ada juga yang biasa membuatnya dari nasi yang masih baru). Caranya, si nasi diberi garam bleng, kemudian dikenyalkan, lalu diiris-iris tipis, dijemur, kemudian digoreng. Karenanya, tak salah bila krupuk ini sering disebut sebagai perwujudan Nasi goreng dalam bentuk yang paling paripurna.
Semprong

Jauh sebelum chocolatos dan fullo merajai dunia makanan teropong, Panganan bernama Semprong ini sudah lebih dulu menancapkan tonggak eksistensinya di bumi nusantara ini.
Tape Ketan

Hasil fermentasi beras ketan, rasanya sungguh-sungguh nikmat dan menggugah selera, jika dimakan dalam porsi berlebih, akan menghasilkan efek mabuk ringan. Sebagai warga Magelang, Sungguh sangat durhaka kalau saya sampai tidak menyertakan panganan yang satu ini.
Unthuk-unthuk Cacing

Begitu mendengar kata cacing, yang terlintas di pikiran sampeyan tentu adalah binatang mungil yang geli dan menjijikkan. namun jikalau kata cacing diberi awalan unthuk-unthuk, maka segala kejijikan dan kegelian itu bakal sirna seketika dan berganti dengan kelezatan dan citarasa tinggi. Terbuat dari adonan tepung ketan, unthuk-unthuk cacing ini menjanjikan rasa yang manis-gurih, lagi renyah. Dinamakan unthuk-unthuk cacing karena memang bentuknya yang persis seperti Cacing yang sedang berkumpul dan berserikat.
Untir-untir

Bahannya terbuat dari tepung terigu, pembuatan adonannya hampir sama dengan klici, Namun secara wujud, Untir-untir ini jauh lebih ngilmiah, karena untir-untir adalah satu-satunya panganan yang dibuat dengan mengikuti konsep bentuk rantai ganda DNA.
Itulah beberapa sajian panganan yang jamak disajikan di rumah saat momen-momen lebaran untuk menyambut tamu di daerah Magelangan. Sebenarnya masih ada banyak, diantaranya ada Sinapon, Satu, Geblek, Ongko Wolu, Lenteng, dan masih banyak lagi. Namun karena keterbatasan gambar, jadi tak mungkin bakal saya cantumkan semuanya.
Nah, pembaca sekalian, adakah diantaranya pembaca yang menyediakan salah satu panganan di atas di meja rumah anda?
Sesekali krisis Air

Sudah dua hari terakhir ini air ledeng dari PAM di Banyurojo dan beberapa kelurahan lain di Mertoyudan mati total. Kabar yang beredar, hal ini disebabkan karena adanya kerusakan (lebih tepatnya kebocoran) saluran air di toren PAM karena hujan deras yang mengguyur Magelang dua hari yang lalu.
Kini, di kampung saya, air bersih benar-benar menjadi benda langka yang sangat berharga dan sangat sulit didapatkan. Sangat kontras dengan nama desa saya, Banyurojo (raja air).
Kelangkaan air ini kemudian memaksa banyak warga untuk bisa lebih beradaptasi dengan keadaan. Saya salah satunya.
Sebagai salah satu makhluk yang paling sering menghabiskan banyak waktu di kamar mandi, saya kini harus lebih hemat dan selektif dalam menggunakan air.
Sebisa mungkin, saya akan berusaha untuk tidak berak atau kencing di siang hari, karena susah sekali mendapatkan air untuk cebok. Kalau malam sih oke saja, karena masih bisa nunut berak atau kencing di kali di depan kompleks perumahan akademi militer di seberang kampung. Persetan dengan petugas jaga yang mungkin bakal menyorot pantat kenyal saya dengan lampu senter. Anggap saja itu cendera mata salam kenal dari saya. Bukankah pepatah mengatakan: Tak kenyal maka tak sayang?.
Kalaupun terpaksa harus buang hajat siang hari, ya mau bagaimana lagi. Saya harus berubah menjadi orang kulon yang cukup cebok dengan menggunakan tissu. Berat memang, tapi tetap harus dilakukan (yo meh piye meneh). Okeee, Menurut ajaran agama saya, cebok dengan tissu memang diperbolehkan, tapi bagi saya, tetap saja, rasanya belum marem kalau belum menggunakan air.
Urusan wudhu pun saya terpaksa harus mbukak yutub dulu, cari video tutorial bagaimana cara berwudhu dengan satu gelas air (1 mud). Dan alhamdulillah, sejauh ini, belum ada masalah.
Untuk urusan ngopi, kini saya tak bisa sembarangan ngopi-ngopi bareng kawan-kawan di kamar loteng saya. Maklum, air di galon harus saya manfaatkan dengan seefektif mungkin. Boleh ngopi, asal air bawa sendiri. Terkesan kejam dan tega memang, tapi mau bagaimana lagi. Bukankah "tanah air" memang sudah selayaknya diperjuangkan? hehehe.
Tapi dari seluruh problema air bersih ini, setidaknya ada satu berkah yang bisa saya dapat. Setidaknya, kini saya tak bakal berani coba-coba buka situs esek-esek. Tentu ada alasan lain selain alasan "takut dosa".
Please deh, di saat kondisi krisis air seperti ini, rasanya kurang etis kalau harus menghabiskan air bergayung-gayung hanya untuk mandi junub cuma karena khilaf memainkan jari-jari tangan.
Oh, ya, untuk kawan-kawan (terutama kawan-kawan perempuan), saya sarankan jangan mampir dulu ke rumah saya. soalnya, sudah dua hari ini saya ndak mandi.
Bukan apa-apa sih, saya cuma takut, kalian bakal jatuh cinta sama aroma tubuh saya. Cukuplah gigi saya saja yang menyihir kalian, aroma tubuh saya jangan.
Diskusi Novel Sang Patriot dan aksi teatrikal Rantai Kentjana
Bisa dibilang, Novel berjudul Sang Patriot ini adalah salah satu novel autobiografi perjuangan terbaik yang terbit tahun ini. Novel yang ditulis oleh Irma Devita ini menceritakan tentang perjuangan seorang tokoh pejuang kemerdekaan dari Tanah jember bernama Letkol Moch Sroedji, yang notabene adalah kakek sang Penulis.
Pertama kali saya tahu novel ini dari postingan Pakdhe Cholik, kawan sesama blogger yang ndilalah sama-sama aktif di komunitas Warung Blogger.
Bagi saya, Novel Sang Patriot adalah novel yang sangat menarik, karena tak melulu menceritakan tentang kisah perang, namun juga menceritakan kisah asmara nan romantis dan mengharukan, sehingga nuansa asmara khas novel kekinian anak muda tetap terjaga.

Tak sia-sia beli buku ini, isinya benar-benar bikin mbrebes mili
Magelang beruntung karena menjadi salah satu dari sekian kota persinggahan bagi sang Penulis untuk membedah bukunya.
Adalah Komunitas Magelang Kembali, bekerja sama dengan SMP Negeri 1 Magelang, yang menggelar acara Diskusi Novel Sang Patriot hari minggu kemarin tanggal 21 September 2014 dengan mendatangkan langsung sang penulis, Mbak Irma Devita sebagai pembicara.

Mameth Hidayat (anggota Magelang kembali) dan Irma Devita
Komunitas Magelang kembali sendiri adalah Komunitas Sejarah yang rutin menyelenggarakan kegiatan kesejarahan dan berusaha membangkitkan semangat patriotisme lewat berbagai aksi teatrikal perjuangan zaman penjajahan dengan setting kota Magelang pada khususnya dan Indonesia pada umumnya. Dalam setiap aksi teatrikalnya, Komunitas ini selalu mengenakan replika pakaian jaman dulu, sesuai dengan setting kisah perjuangan yang diperankan. Hampir sama dengan Cosplay, bedanya, replika kostum yang dipakai bukanlah kostum tokoh anime, melainkan kostum tentara pejuang di zaman penjajahan.
Saya termasuk manusia Magelang yang beruntung, karena bisa ikut menghadiri acara diskusi novel ini. Maklum, event langka ini tentu sangat sayang untuk dilewatkan, karena selain diskusi buku, event ini juga dimeriahkan oleh pertunjukan teatrikal Rantai Kentjana 1945.

Saya Bersama mas Ake Ru dan mas Arief dari Komunitas Kota Toea Magelang
Pertunjukan tatrikal"Rantai Kentjana 1945" ini akan diperankan oleh Komunitas Magelang kembali, bekerjasama dengan Komunitas Djokjakarta 1945, Roodebrug Soerabaia, dan Semarang Historical Reenactment, serta dibantu oleh para siswa SMP Negeri 1 Magelang.
Pertunjukan teatrikal ini menceritakan tentang kisah pertempuran antara pejuang Indonesia melawan tentara Jepang di masa pasca Kemerdekaan.
Saat pertunjukan teatrikal dimulai, Halaman upacara SMP Negeri 1 Magelang seketika berubah menjadi medan tempur tempat berlangsungnya perang sengit antara pejuang Indonesia melawan tentara Jepang. Asap buatan dan suara ledakan dari petasan serta teriakan-teriakan heroik dari para pejuang pemeran teatrikal semakin menambah keseruan pertunjukkan.
Berikut ini adalah beberapa cuplikan adegan pertunjukkan Teatrikal "Rantai Kentjana 1945"

Mbak perawat, aku kena tembak, obati aku mbak, obati aku!! Sakitnya tuh disini

Menyerbu Pasukan Jepang, hancurkan Hentai beserta akar-akarnya #hehe

Acting terbaik dan paling natural: Pura-pura mati

semangat juang tetap tinggi meski satu per satu pejuang berguguran

Aksi Cak gepeng dari Roodebrug Soerabaia, Auuuuuuuu
Aksi teatrikal ini berlangsung sekitar setengah jam, dan cukup menyedot banyak sekali pewarta untuk meliput. para prajurit yang ikut berperang pun mendadak menjadi selebritis dadakan karena diburu oleh para hadirin yang ingin mengabadikan foto bersama mereka.

Berfoto Bersama Mas Bagus Priyana, Prajurit yang nyambi jadi Gubernur Komunitas Kota Toea Magelang
Tak hanya para hadirin, bahkan para prajurit yang berperang pun ikut narsis berpose mengabadikan foto mereka.

Tentara PETA dan Prajurit Jepang, duh seneng deh kalau kalian akur begini, kenapa ndak dari dulu sih akurnya?
Setelah pertunjukan teatrikal usai, dan sesi foto-foto berakhir, seluruh peserta diskusi novel dipersilahkan untuk memasuki aula SMP Negeri 1 Magelang untuk mengikuti acara diskusi novel.
Aula SMP Negeri 1 Magelang seakan berubah menjadi seperti barak prajurit, betapa tidak, karena selain para peserta bedah novel, aula ini juga menjadi tempat berkumpulnya para prajurit dari Komunitas Magelang kembali, Komunitas Djokjakarta 1945, Roodebrug Soerabaia, dan Semarang Historical Reenactment.

Para prajurit, perwakilan dari empat Komunitas
Sebelum acara diskusi buku dimulai, para peserta diskusi dihibur dengan aksi paduan suara SMP Negeri 1 Magelang dan diputarkan video teaser tentang kisah singkat Tokoh utama Novel Sang Patriot, yaitu Letkol Sroedji.

Aksi paduan suara dari siswa-siswi SMP N 1 Magelang, (eh, mbak-mbak berjilbab hitam yang di pojok itu namanya siapa ya? #Tsaaaah)

Nonton bareng di layar tancap, benar-benar nostalgia masa lalu
Selain Mbak Irma Devita, ada juga mas Rifkhi Sulaksmono dari Komunitas Magelang Kembali yang ikut menjadi pemateri dalam acara bedah Novel ini.
Diskusi novel dibuka dengan penjelasan sang penulis tentang alasan dan motivasi mengapa ia menulis novel ini. Menurutnya, semangat patriotism anak-anak bangsa sekarang ini semakin luntur, di sisi lain, penuturan kisah perjuangan dari para saksi dan pelaku perjuangan pun semakin minim, hal inilah yang membuat Mbak Irma Devita selaku penulis tergugah untuk ikut serta dalam usaha membangkitkan kembali semangat patriotisme di kalangan para pemuda. Salah satu cara yang menurutnya tepat adalah dengan menulis kisah-kisah perjuangan para Pahlawan.

Mbak Irma Devita, menceritakan ihwal bagaimana ia bisa menulis "Sang Patriot"
Bukan perkara yang mudah bagi seorang Irma Devita untuk membuat Novel ini. Karena secara riwayat, Irma Devita bukanlah seorang penulis fiksi, ia adalah seorang praktisi hukum. Ia terbiasa menulis buku-buku seputar hukum bisnis, kenotariatan, dan pertanahan. Novel Sang Patriot ini menurutnya adalah buku pertama yang ia tulis dengan gaya fiksi. Sebelumnya ia sudah menulis tujuh buku, namun seluruhnya adalah buku literatur hukum.
Mbak Irma Devita menceritakan bagaimana perjuangan dia dalam membuat novel ini. Menurutnya, novel Sang Patriot ini bukan novel biasa, karena walaupun genrenya fiksi, namun kisah yang ada di dalam Novel Sang Patriot ini sejatinya adalah kisah nyata. Sang penulis bahkan sampai berkeliling di beberapa kota untuk mengumpulkan riset dan data, bahkan bertanya langsung kepada para saksi hidup yang ndilalah pernah berhubungan dengan Letkol Sroedji.

Kamu... Iya kamuuuu
Kisah perjuangan Letkol Sroedji diceritakan dengan sedemikian runtut dan menarik oleh Mbak Irma Devita.
Di sela-sela penuturan kisah Letkol Sroedji oleh Irma Devita, diselipkan pula materi dan pengetahuan sejarah oleh Rifkhi Sulaksmono, yang membuat acara diskusi buku menjadi semakin menarik dan informatif.

Rifkhi Sulaksmono sedang memaparkan materi tentang perang Gerilya
Seluruh peserta nampak sangat antusias mengikuti acara diskusi novel ini. Apalagi Mbak Irma Devita menyediakan banyak sekali doorprize untuk para peserta diskusi yang mampu menjawab pertanyaan yang ia ajukan. Tak pelak, di akhir sesi diskusi, para peserta berebutan menjawab pertanyaan yang diajukan oleh Mbak Irma Devita.
Hadiah berupa buku, jam tangan, serta kaos Sang Patriot pun ludes dan sukses menjadi oleh-oleh bagi beberapa peserta diskusi.
Acara diskusi berakhir sekitar jam 1 siang.
Dan seperti layaknya acara diskusi buku pada umumnya, di akhir acara, para peserta berebutan untuk berfoto dan meminta tanda tangan sang penulis. Tak hanya para peserta, para prajurit pun ikut gas-gasan mengejar sang penulis untuk diminta foto bersama. Duh, yang sabar ya Mbak Irma, Prajurit memang suka kaya gitu.

Para pejuang bersama mbak Irma Devita, tak ada studio, Dapur umum pun jadi
Ah, sungguh sebuah event yang sangat berkesan. Semoga tahun depan event yang menarik ini bisa kembali dihelat.
Sumber foto: Dokumentasi Pribadi, Candra Yoga Pratama, dan Ake Ru
