Agus Mulyadi Njaluk Rabi

Es Degan Ndoro Trimo: Kabut Asap

| Sunday, 13 September 2015 |

Pagi hari seperti ini memang paling enak leyeh-leyeh di lincak di depan kios es Degan Ndoro Trimo ini. Lha namanya juga masih pagi, baru jam delapan, pembeli juga belum ada yang nongol. Biasanya, pembeli memang baru pada pating jedhul kalau sudah jam sepuluh-sebelas.

Tapi dasar saya cuma batur, asisten, pembantu, jadi ndak bisa seenaknya leyeh-leyeh seperti juragan saya si Ndoro Trimo itu. Lha kalau saya konangan leyeh-leyeh pas jam kerja, ancaman potong gaji biasanya dengan mudahnya menculat dari mulut Ndoro saya itu. Memang sih, biasanya itu cuma ancaman sambel, lha tapi kalau ndilalah beliau sedang khilaf dan motong gaji saya beneran gimana? Lak yo bobrok to lek.

Mangkanya, saya cuma berani leyeh-leyeh kalau ndoro saya itu pas tidak ada di kios, entah pas kulakan degan, atau pas beli plastik di pasar gotong-royong sana.

Dan rupanya, hari ini, Gusti Alloh sedang berbaik hati sama saya (lha memangnya sejak kapan Gusti Alloh tidak baik hati sama umatnya?). Ini hari, Ndoro Trimo stok degan sudah menipis, dan Ndoro Trimo harus kulakan degan. Saya jadi bisa leyeh-leyeh. Duh, saya kok serasa jadi buruh rasa ningrat begini ya.

Satu jam lebih saya klekaran di lincak, mat dan eco sekali rasanya, sampai tak sadar kalau ternyata Ndoro Trimo sudah pulang dari kulakan dan bahkan sudah berada di dalam kios sambil menata-nata gelas.

Wah, modar gasik saya, sayang sekali, pagi yang seindah ini terpaksa bakal saya lalui dengan dampratan dan ancaman potong gaji.

Tapi lagi-lagi, Gusti Alloh kelihatannya memang sedang berbaik hati sama saya. Lha alih-alih marah karena saya ke-gep sedang klekaran di lincak, Ndoro Trimo malah langsung mengajak saya diskusi. temanya berat lagi: Kabut asap Riau. Mungkin bagi Ndoro saya, kasus kabut asap di Riau lebih genting ketimbang potongan gaji saya.

“Itu lho Gus, kamu itu heran ndak tho sama kasus kabut asap di Riau, tiap tahun lho, dari dulu ndak pernah bisa ditangani,” kata Ndoro Trimo membuka keran percakapan antara kami berdua.

Saya langsung bangkit dan mengubah posisi saya, dari klekaran menjadi duduk biasa.

“Lha yo ndak heran tho Ndoro, wong tiap tahun yo ada saja kok hutan yang dibakar dan dijadikan kebun sawit,” jawab saya. “Lebih parah lagi, pemerintah seolah tidak peduli, karena sampai sekarang siapa saja otak di balik pembakaran itu juga kelihatanya belum tersentuh.”

“Welha, kamu kok jadi elok begini Gus, pinter menganalisa, bangga saya jadi ndoro kamu.”

“Siapa yang menganalisa Ndoro, wong itu tadi saya baca di internet kok”

“Woooo, semprul!”

Saya cuma terkekeh dan langsung masuk kios menyusul Ndoro Trimo yang sedari tadi sudah ubet menata gelas dan menggepuk es batu dengan pukulan yang begitu ritmis dan indah.

“Tapi kabut asap di Riau itu bener-bener ngeri lho gus,” kata Ndoro melanjutkan diskusi, kali ini di dalam kios.

“Ngeri gimana Ndoro?”

“Ngeri kok gimana, ngeri yo ngeri. Itu tadi aku baca berita, katanya ada anak SD meninggal dunia karena sulit bernapas akibat kabut asap.”

“Waduh, kok jadi kayak slogan bungkus rokok ya ndoro, Kabut Asap membunuhmu.”

“Lha yo itu, mangkanya kalau tidak segera diatasi, bisa gawat, bakal banyak nyawa yang melayang karena kabut asap ini.”

“Memangnya pemerintah sana ndak ngurus ya Ndoro?”

“Yo ngurus sih ngurus, tapi kok kelihatannya ndak niat!” Kata Ndoro, kali ini agak emosi. “Lha bayangkan saja, sudah tahu warganya sedang berjuang susah payah melawan kabut asap, ealah kok Anggota DPRD-nya malah sibuk dolan ke Norwegia, studi banding katanya.” lanjut Ndoro Trimo tambah emosi.

“Studi banding?”

“Lha iya, Studi banding. Mending kalau studi bandingnya ada urusannya sama asap, lha ini studi bandingnya saja malah studi banding teknologi budi daya perikanan je, apa ndak gemblung itu namanya?”

“Ya...Berbaik sangka saja lah Ndoro, ya siapa tahu ikan-ikan di Norwegia sana itu punya kemampuan khusus, cocot-nya bisa nyedot kabut asap yang pating kemebul itu.” Kata saya sambil terkekeh.

“Nyedot asap cocotmu kuwi...”

Saya makin terkekeh. Geli, apalagi sewaktu melihat Ndoro Trimo mengucapkan kata “Cocotmu” sambil bibirnya dimonyong-monyongkan, padahal tanpa dimonyong-monyongkan pun, bibir Ndoro Trimo sebenarnya memang sudah monyong dari sononya.

Belum rampung saya terkekeh, saya dan Ndoro Trimo mendadak dikagetkan dengan kedatangan Jumadi yang tiba-tiba saja sudah mecungul di pintu kios.

“Wah, ini dia, aktivis kita sudah datang Gus, mari sambut dia dengan sambutan yang semeriah mungkin gus!”

“Halah, rugi Ndoro... makhluk kaya gini ndak usah pakai disambut, wong paling beli Es Deganya juga cuma satu gelas thok, ndak nambah, hoo to Ju?” kata saya seraya memicingkan mata ke arah Jumadi.

Saya dan Ndoro Trimo kompak tertawa riuh. Jumadi yang diglendeng cuma nyengir kecut.

“Es Degannya satu, biasa, es batunya ndak usah banyak-banyak!” Kata Jumadi setengah teriak.

“Nah tho, apa kata saya Ndoro, cuma satu gelas thok, hehehe”

Sembari saya membuatkan pesanan Es Degan Jumadi, Ndoro mendekat ke arah Jumadi dan langsung duduk di sebelahnya.

“Eh, Jumadi, gimana tanggapanmu tentang anggota DPRD Riau yang malah ke luar negeri itu?” tanya ndoro seraya menepuk punggung Jumadi. Agaknya Ndoro saya itu sudah menemukan sparing partner yang mumpuni untuk diskusi soal kabut asap ini.

“Ah, parah Pak Mo, Pejabat-pejabat kita ini memang susah diandalkan, dan nggapleki. Lha kemarin Gubernur sama Wagub Lampung menggugat rakyatnya sendiri 50 miliar, sekarang anggota DPRD Riau malah dolan ke luar negeri saat rakyatnya kepontal-pontal kena kabut asap. Wis, pokoknya parah pak Mo!”

“Oalah, politisi kita itu memang asu-asu kok ya Ju!” saya nyeletuk sambil mengantarkan pesanan Es Degan si Jumadi.

“Hus, jangan bilang begitu, nanti kamu bisa kena pidana!” Kata Ndoro.

“Lho, pidana apa Ndoro? Pencemaran nama baik?”

“Bukan... Membocorkan rahasia negara!”

Es Degan Ndoro Trimo: 11 Tahun Munir

| Monday, 7 September 2015 |

“Bajingan... pemerintah ini benar-benar bajingan!” maki Jumadi sambil membanting koran di atas meja di kios Es Degan milik Ndoro Trimo.

“Eee, e, e... kamu ada apa kok siang-siang begini sudah berani mbajingan-mbajinganke pemerintah?” tanya Ndoro Trimo sambil mlathoki degan-degan miliknya.

“Ini lho pak Mo, pemerintah ini kok kelihatanya ndak serius mengungkap dalang dibalik pembunuhan Munir, padahal sudah sebelas tahun berlalu, jangankan menangkap dalang pembunuhnya, lha wong eksekutor pembunuhannya saja cuma dihukum ringan, wis, pokoke bajingan lah pak mo!”

“Dimaklumi saja, Ju... dimaklumi saja.”

Jumadi adalah mahasiswa Jurusan Budi Daya Pertanian, dia masih terbilang sebagai mahasiswa baru, karena memang baru dua semester ia kuliah. Ia adalah salah satu pelanggan tetap Es Degan Ndoro Trimo. hampir setiap hari ia selalu mampir ke kios Es Degan ini, mungkin karena memang lokasinya yang tak terlalu jauh dari kampusnya.

“Gus, itu si Jumadi buatkan Es Degan satu, biar adem otaknya, kalau ndak cepet-cepet dibikin adem, bisa-bisa kios Es Degan ini pun nanti bakal ikut dibajingan-bajingankan!” Ndoro Trimo memberi instruksi kepada saya

“Siyap ndoro!” jawab saya mantap sambil cak-cek menyiapkan satu gelas Es Degan.

Saya sendiri namanya Gusmul, sudah dua tahun ini saya bekerja ikut Ndoro Trimo sebagai asisten. Saya sepantaran dengan Jumadi. Dulu setelah lulus SMA, saya ndak melanjutkan kuliah karena ndak punya biaya, dasar nasib lagi apes, cari kerja kok ya susah, untung saja ada Ndoro Trimo ini, ndilalah ia sedang butuh karyawan, saya dikasih kerjaan buat bantu-bantu di kios Es Degannya.

Ndoro Trimo sendiri masih ada hubungan saudara sama saya, walau agak jauh. Orang-orang memanggilnya dengan panggilan biasa: Pak Trimo, namun agaknya, ia punya setitik jiwa feodal, mangkanya, saya sebagai karyawannya diwajibkan memanggilnya dengan embel-embel “Ndoro”, jadilah saya memanggilnya dengan pangilan Ndoro Trimo.

“Ini Ju, diminum, biar adem otaknya,” kata saya sambil meletakkan segelas Es degan di atas meja di hadapan Jumadi, bersebelahan dengan koran yang tadi dibantingnya. Saya sempat melirik sebentar, di koran tersebut, tertulis headline yang cukup provokatif “11 tahun Munir: Belum juga tuntas”

“Gimana, Gus, menurutmu?” tanya Jumadi

“Gimana apanya?”

“Lha itu, Kasus Munir yang belum juga selesai,”

“Wah, aku ndak tahu je Ju, lha wong aku ndak terlalu mudeng sama kasus Munir,” jawab saya diplomatis, semata agar bisa menghindar dari perdebatan panjang dengan Jumadi. Maklum, berdebat dengan Jumadi soal dunia aktivis adalah salah satu pekerjaan yang bisa membuat saya menjadi tidak bergairah.

“Wah, kamu itu kok ya apatis banget tho sama perkara penting begini, mbok peduli sedikit, aku yang kuliahnya di jurusan pertanian saja tetap peduli sama urusan-urusan yang politis begini kok!”

“Hasyah, susah Ju, daripada mikir yang begituan, mending sibuk mbantu Ndoro mlathoki degan, lebih nyata khasiatnya, dan lebih nyata juga hasilnya.”

“Oalah, Pemerintahnya bajingan, rakyatnya ndak pedulian... mau jadi apa negara ini? Bobrok bakule slondok!

Saya cuek saja dan lekas menghampiri Ndoro untuk mbantu mlathoki degan.

“Ndoro, itu kok si Jumadi bisa sebegitunya ya? jiwa aktivisnya itu lho, mburap-mburap, padahal kuliah juga baru dua semester,” tanya saya sama Ndoro Trimo, “Kalau saya sih sebenarnya juga benci sama Pemerintah karena ndak juga bisa menyelesaikan kasus Munir, tapi kan yo ndak pakai mbajingan-mbajinganke begitu,”

“Maklum Gus, Aktivis anyaran!” jawab Ndoro Trimo pelan, saya cuma terkekeh sambil sibuk membantu Ndoro saya mlathoki degan.

“Pak Mo, pamit dulu, ini uangnya di meja!” teriak Jumadi agak mengagetkan

Ndoro Trimo bangkit dari aktivitas mlathok-nya, “La kok buru-buru amat, mau kemana?” tanya Ndoro saya

“Mau cepet-cepet pulang, mau tidur, biar nanti malem bisa melek nonton bola, wong nanti malem, Liverpool main lawan Emyu,”

“Memangnya kamu ndukung siapa?”

“Ya ndukung liverpool tho pak Mo, mosok ndukung Emyu, iiih, najis...!”

“Ngakunya pro Munir, tapi kok ndukung Liperpul!”

“Lho, memangnya apa hubunganya pak Mo?” tanya Jumadi, kali ini ia kembali duduk di kursinya, menunda kepergiannya.

“Lha apa kamu itu lupa, Salah satu sponsornya Liperpul itu Garuda Indonesia lho Ju, maskapai yang konon katanya ikut andil dalam kasus pembunuhan Munir!”

Bagai disambar petir, Jumadi langsung mak jenggirat, kaget, kena touche yang kelihatannya sangat temapuk dari Ndoro Trimo.

Sebagai mahasiswa yang selalu mengklaim dirinya sebagai seorang aktivis dan ndilalah juga seorang pendukung Liverpool, Tentu perasaan Jumadi bergejolak hebat begitu mendengar apa kata ndoro saya itu. Wajahnya jadi nampak sangat sangat kecut dan njelehi, kalau saja ia bukan pelanggan setia Kios Es Degan ini, rasanya tak sudi saya memandangi wajah Jumadi berlama-lama karena saking kecutnya.

Pergulatan batin yang teramat dahsyat sedang melanda Jumadi, wajar saja, karena ia memang sedang dihadapkan pada dua pilihan yang baginya sama-sama pentingnya: Munir atau Liverpool.

Saya jadi kasihan melihat si Jumadi. Wajahnya itu lho, wagu-wagu asu.

Tapi untunglah, tak berselang lama, Jumadi segera bisa menguasai suasana, dan tampaknya, ia sudah punya pemecahan yang diplomatis. Hal ini terlihat dari raut wajahnya yang berangsur mulai terlihat normal dan tidak lagi njelehi.

“Ya sudah, untuk menghormati Munir, selama seminggu ini, saya tak absen dulu mendukung Liverpool pak Mo!” kata Jumadi mantap. “Atau gimana ya baiknya pak Mo? barangkali ada saran?” lanjut Jumadi

La yo embuh, ra urusan, wong aku pendukung Emyu...!” kata Ndoro Trimo terkekeh. Saya ikut terkekeh, dan Jumadi pun pasang muka mecucu.

Hhhh, Menjadi pendukung Manchester United memang salah satu bentuk nikmat Tuhan yang tak terkira.

***

NB: Tulisan ini murni Fiksi, kalau ndilalah ada kesamaan nama atau tempat, itu memang disengaja.

Tentang Saya

Agus Mulyadi, seorang blogger, penulis, dan digital storyteller. Lahir di Magelang, 3 Agustus 1991. Sering menulis artikel ringan tentang politik, sosial, isu-isu populer di media sosial, serta catatan reflektif tentang kehidupan sehari-hari utamanya yang berkaitan dengan kehidupan pribadi, kawan, dan keluarga.

Pernah bekerja sebagai pemimpin redaksi di Mojok.co, sebuah media opini alternatif berbasis di Jogja. Sekarang menjadi manajer di Akal Buku, sebuah toko buku online sederhana yang saya jalankan bersama istri saya.
 
Copyright © 2010 Blog Agus Mulyadi , All rights reserved
Design by DZignine . Powered by Blogger