Menikmati Sepur Kluthuk Jaladara

| Thursday, 16 May 2013 |

Selain bus tingkat Werkudara dan juga Railbus Batara Kresna, Surakarta ternyata masih punya kendaraan wisata khas yang lainnya, yaitu Sepur (kereta) Kluthuk Jaladara. Apa itu sepur Kluthuk Jaladara? Sepur Kluthuk Jaladara adalah Kereta Steam Loco (Lokomotif uap) yang beroperasi di rute Stasiun Puwosari sampai Stasiun Kota Sangkrah yang berjarak kurang lebih 5.6 kilometer. Rute ini melewati Jalan Slamet Riyadi, yang merupakan jalan protokol kota Solo, dan berhenti di beberapa titik pemberhentian diantaranya Kampung Laweyan, Loji Gandrung, Ngapeman, Pasar Pon, Keraton, Gladak, dan lain-lain.

Sepur kluthuk Jaladara ini sudah resmi beroperasi sejak tanggal 27 september 2009, dan diresmikan langsung oleh Menteri Perhubungan Jusman Syafi’i Djamal bersama Gubernur Jawa Tengah dan Walikota Solo saat itu, Joko Widodo.

Rangkaian Sepur Kluthuk Jaladara ini merupakan buatan Jerman, dengan rincian body terdiri dari satu lokomotif Seri C 1218 dan dua gerbong penumpang dengan Seri TR 144 dan TR 16. Lokomotif Sepur Kluthuk Jaladara ini diambilkan dari Museum Kereta Ambarawa, sementara gerbongnya dari Magelang dan Bandung (wah, Magelang lho mas bero, Magelang! #njuk ngopo?).

Kereta ini murni masih menggunakan sistem tenaga uap, dimana bahan bakarnya untuk satu kali jalan adalah lima meter kubik kayu jati. Maka tak heran jika biaya operasional sepur ini cukup mahal, Rp 3.250.000,00. untuk 80 penumpang per satu kali perjalanan pulang-pergi.

Secara fungsional, kereta ini memang lebih dirujuk sebagai kereta wisata, ketimbang kereta perhubungan, karena jarak tempuh perjalanannya yang singkat dan pendek, serta waktu operasinya yang hanya 2 kali dalam semingu, yakni setiap hari sabtu dan minggu (dan hari libur nasional).

Dan Alhamdulillah, saya yang punya wajah ndeso ini ternyata diberi kesempatan untuk bisa menikmati kereta ini, yah setidaknya satu kali seumur hidup, Matur suwun Gusti. Jadi ceritanya kemarin, dalam gelaran acara ASEAN blogger Festival 2013 yang kebetulan berlangsung di Surakarta, semua peserta diberi kesempatan untuk mencicipi sejenak sensasi menjadi penumpang Sepur Kluthuk Jaladara ini.

Agus MulyadiBertempat di perempatan Jl Brigjen Slamet Riyadi, tepatnya persis di area patung Slamet Riyadi, Saya dan puluhan blogger lainnya menunggu kedatangan Si Sepur Kluthuk ini sambil menikmati suasana car free day kota Solo di pagi hari yang cukup cerah namun sedikit panas. Suasana car free day yang riuh ramai dan beberapa kali diselingi dengan parade seni dan pawai onthel membuat suasana menunggu kereta menjadi tak menjemukan, beberapa blogger malah memanfaatkan momen tersebut untuk berfoto bersama.

Setelah 30 menit kami menunggu, akhirnya datang juga si kereta kluthuk Jaladara ini dengan ditandai bunyi peluit yang meraung keras. Segeralah kami para blogger naik satu per satu ke gerbong kereta yang sudah disediakan, tentu setelah sebelumnya berfoto-foto ria terlebih dahulu #MaklumBloggerNarsis.



Kereta uap Jaladara pun segera melaju, dan dasaran blogger narsis, di dalam kereta pun masih tetap berfoto ria (termasuk saya), maklum, kapan lagi bisa naik sepur Kluthuk Jaladara yang begitu kesohor ini. Kami menikmati setiap meter demi meter perjalanan yang dilalui oleh sepur kluthuk, kami para penumpang disuguhi dengan pemandangan suasana pagi hari di sepanjang jalan protokol Slamet Riyadi yang riuh dengan warga Solo yang menghabiskan waktu menikmati car free day bersama kerabat dan keluarga. Saking asyiknya hingga tak terasa sepur yang kami tumpangi sudah sampai di stasiun Purwosari, tempat pemberhentian Sepur Kluthuk ini.

Walaupun saya dan beberapa blogger lainnya sebenarnya masih tetap ingin naik sepur kluthuk ini, tapi apa daya, saya memang harus turun, takutnya nanti malah keterusan (lagian kan ndak mungkin kan saya merajuk sama panitia buat naik sekali lagi *berat nang ongkos je kang). Ya sudah, mau tak mau memang kami harus turun. Tapi tetap saja, sebelum berlalu meninggalkan sepur ini, kami sekali lagi berfoto ria bersama si hitam kluthuk yang kini sedang menikmati masa rehat sejenaknya di stasiun Purwosari (sekali lagi, #bloggernarsis).

Yah, semoga tahun depan atau di lain kesempatan (tanpa harus merajuk pada panitia ABFI, hehe), saya bisa kembali merasakan sensasi sepur kluthuk ini. Semoga.

"Neng Kluthuk, Tunggu akang kembali ya neng, akang pasti akan datang menemuimu" #KecupBasah.

NB : Gambar Hasil Jepretan Kang Nanang




Buku Agus Mulyadi

6 comments :

  1. weh langsung update..
    mantep iso numpak sepur klutuk..
    klo sewa sendiri mahal :))

    ReplyDelete
  2. ralat dab,
    lokomotif dari Museum Kereta Api AMbarawa, bukan Museum Palagan Ambarawa!
    terus stasiun dimana kita turun itu namane Stasiun Purwosari, bukan stasiun kota(stasiun kota di Jakarta!)

    ReplyDelete
    Replies
    1. stasiun sangkrah namanya juga stasiun kota mas bro... :D

      Delete
  3. Kang Anno : wayo hoo, telung juta je...

    Sang Nanang : oh, salah aku yo, wah, suwun ralat'e kang... ket wingi aku salah terus hiks...

    ReplyDelete
  4. mantap kang.. sering sering ke solo om.. haha

    ReplyDelete

Tentang Saya

Saya Agus Mulyadi, biasa dipanggil Gus Mul (bukan lulusan pesantren seperti Gus Dur, Gus Muh, maupun Gus Mus. Gus Mul hanya akronim dari nama saya). Blogger dan Freelance Layouter. Kini berusia 24 tahun. Aktif di Karang Taruna dan Komunitas Blogger Magelang Pendekar Tidar. Profil lebih lengkap, Lihat Disini

Tambahkan saya di Google+

 
Copyright © 2010 Agus Mulyadi Blog , All rights reserved
Design by DZignine . Powered by Blogger