Selamat jalan Ki Ngabdul

| Monday, 6 May 2013 |

Hari senin sore ini, bada maghrib, seperti biasanya, saya beserta segenap keluarga menonton televisi bersama. Hari senin sore memang menjadi agenda rutin bagi keluarga kami untuk menikmati acara televisi Pangkur Jenggleng yang rutin disiarkan tiap senin di TVRI Jogja. Jujur, Pangkur jenggleng adalah salah satu acara televisi yang disukai hampir oleh semua anggota keluarga saya (selain sinetron Tukang Bubur Naik Haji), jadi setiap senin sore bada maghrib, kami semua sekeluarga sudah duduk manis di atas karpet di depan televisi sambil menikmati setiap guyonan-guyonan jawa khas Pangkur Jenggleng yang sesekali disisipi dengan alunan tembang mocopat yang dibawakan syahdu dan penuh cengkok oleh para pemain pendukung maupun oleh sinden. Pokoknya setiap senin sore, kami sekeluarga selalu larut dalam kegembiraan dan keceriaan karena humor-humor jawa segar yang rasanya tak ada habisnya dibawakan dengan penuh ekspresi oleh segenap cantrik padepokan Ayom ayem.

Tapi sore ini ternyata lain, Pangkur Jenggleng nampaknya pindah jam tayang, atau malah tidak siar. Jam tayang Pangkur Jenggleng justru diganti dengan acara memorial kenangan dan kisah perjalanan lawak Ki Ngabdul, salah satu Frontliner dan tokoh utama di Pangkur Jenggleng. "Ah, mungkin cuman sisipan, nanti juga pasti mulai acara Pangkur Jengglengnya" batin saya saat itu. Namun ternyata saya salah, Saya terkejut saat kemudian muncul tulisan "In Memoriam Ki Ngabdul" di sudut kiri bawah layar Televisi. "Apakah Ki Ngabdul sudah tiada?". Ah, Rasanya baru kemarin saya menikmati guyonan bijak khas Ki Ngabdul di Pangkur Jenggleng edisi minggu lalu. Penasaran, sayapun mencoba mencari kebenarannya di Internet, dan benarlah, ternyata Ki Ngabdul, telah tiada. Sebuah berita dari salah satu portal berita lokal Yogyakarta memberitahukan bahwasanya Ki Ngabdul telah meninggal dunia karena kecelakaan.

Pangkur Jenggleng

Wah, Mataram kembali kehilangan salah satu legenda lawak mataram. Setelah Basiyo, Djunaedi, kini Ki Ngabdul. Lantas di masa depan, siapa lagikah tokoh yang akan sukses membawakan dagelan mataram dan melestarikan kesenian asli Yogyakarta ini?.




Buku Agus Mulyadi

4 comments :

  1. sampean juga lucu mas..kayaknya bisa

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ah, masa sih mas... ah, mas gitu deh

      Delete
  2. bener mas, sampeyan bisa jg jd penerusnya...

    ReplyDelete
  3. masih ada :
    1. Agus ngabdul mulyadi
    2. Agus mulyadi basiyo
    3. (ketoke isih ono trah-e iki) Djunaedi Agus Mulyadi

    ReplyDelete

Tentang Saya

Saya Agus Mulyadi, biasa dipanggil Gus Mul (bukan lulusan pesantren seperti Gus Dur, Gus Muh, maupun Gus Mus. Gus Mul hanya akronim dari nama saya). Blogger dan Freelance Layouter. Kini berusia 24 tahun. Aktif di Karang Taruna dan Komunitas Blogger Magelang Pendekar Tidar. Profil lebih lengkap, Lihat Disini

Tambahkan saya di Google+

 
Copyright © 2010 Agus Mulyadi Blog , All rights reserved
Design by DZignine . Powered by Blogger