Penolakanmu, Waktu itu

| Tuesday, 6 May 2014 |

Aku masih ingat, di sebuah diklat itu, aku dipertemukan dengan dirimu. Sungguh pertemuan yang tak terlupakan. Begitu membekas, dan masih terus mentatu hingga saat ini.

Sosokmu begitu mungil, tapi dirimu bukan cabe-cabean. Sungguhpun pesonamu jauh lebih pedas dari saus dan sambal manapun.

Entah mengapa aku benar-benar telah jatuh cinta pada dirimu, aku tak tau apa alasannya. Ah, bukankah cinta memang tak butuh alasan? Yang pasti, aku bertemu denganmu, waktu berlalu, dan akhirnya aku jatuh cinta pada dirimu.

Dan seperti layaknya tokoh protagonis di serial FTV, aku ingin sekali mengungkapkan perasaanku ini. Sungguh, sangat ingin. Menahan diri untuk tidak mengungkapkan perasaan kepadamu rasanya seperti menahan gidik sehabis kencing.

Sekali waktu, aku mencoba mengutarakan perasaan. Tapi sayang, aku kadung terlahir sebagai jejaka yang terlalu banyak bercanda. Dan siapapun di dunia ini pasti tahu apa konsekuensi seorang pecanda: Sekalipun dia serius, selamanya dia akan tetap dianggap sedang bercanda. Dan itu pula yang terjadi pada kalimat pengutaraan perasaanku.

Kau menganggapku sedang bercanda saat itu. Padahal diriku sudah berusaha sedemikian keras untuk mengubah mimik mukaku agar nampak serius. Sungguh, menjadi serius memang sangat susah. Kadang aku iri dengan para politikus itu, yang bisa selalu nampak serius, sungguhpun dalam kefoya-foyaan.

Sikapmu yang mengangap diriku bercanda itu benar-benar menusuk. Kuanggap itu sebagai penolakan yang halus. Mungkin dirimu menganggap aku bercanda karena sesungguhnya kau tau aku serius, terlalu serius malah, hanya saja kau tak tega menolakku. Aku sadar, kau masih kurang stress untuk bisa menerimaku.

Kini sudah hampir dua tahun berlalu, entah apa yang sedang kau kerjakan sekarang. Tapi yang jelas, kau pasti tidak sedang memikirkan pengutaraan perasaanku waktu itu.

Lamat-lamat kudengar kabar, bahwa kau sudah menjalin hubungan dengan seorang senior. Tentu itu kabar yang sangat menyakitkan, namun seperti layaknya jagoan, aku berusaha untuk tenang dan sok kalem, kendatipun perasaanku remuk redam. Ragaku Well, tapi Hatiku dedel Duel.

Ah, Jika mencintaimu adalah asusila, mungkin sudah sedari dulu aku ditelanjangi dan diarak warga...

(Kutulis setelah aku melintasi Kotamu)




Buku Agus Mulyadi

52 comments :

  1. Sebagai pria dengan kelakuan yang agak wagu... Kau terlalu romantis Gus...

    ReplyDelete
  2. kok melasmen to nasipe samean cak, seng sabar wae


    cah wadon ra mung siji

    salam ko ambulu, jember, jatim
    cideke Pantai Watu Ulo

    ReplyDelete
  3. waaaaaaaaa.... kang agus, kau membuatku termewek mewek.
    jane aku yo elek, tp ndilalah rung tau ditolak wong lanang. ning mergo elek iki yo aku ditinggal bar enek wong wedok liyo sing ayuu...

    *podo2 ngenese.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Lho, Ha ditinggal itu adalah penolakan dengan level yang lebih akstrem lho... wkwkwk

      Delete
  4. Kalimat terakhir wangun biyanget, isoh dadi Quote Of The Day hehehe

    ReplyDelete
  5. Moga Gusti Allah mbukakan pintu hatinya doi, Mas..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Yah, semoga mas.. semoga.... semoga... (semakin lirih)

      Delete
  6. Bersyukur dadi wong elek mas, bs buat pembanding. Yen ra ana wong elek berarti ra ana wong ganteng. Wong ganteng kudu matur nuwun karo sampeyan.
    Salam kenal ko kramat. Sementara anonim disik. Ra tego pasang poto.

    ReplyDelete
  7. ini yg polwan itu bro? hati2 lho.. kyk macarin dokter umum, dktr bedah resikonya tinggi.. bisa didor, disuntik mati ato disayat-sayat.. hii.. mendingan cari guru mstematika.. 1+1=9 hehe..

    ReplyDelete
  8. semoga ketemu yang serba lebih mas. Lebih cantik, lebih gila, dan lebih menyakitkan penolakannya. Semoga..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Doamu membuat prihatin mas... wkwkwk

      Delete
    2. Semoga iki postinganmu yo mung guyon...

      Delete
  9. sabar gus... cinta ditolak sarkem ijik bukak... hahahahha

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kalah rupo menang Dowo.... wkwkwk

      Delete
  10. Seperti pepatah, lebih baik infeksi bernanah karena kaki terinjak paku berkarat, daripada goresan luka di hati karena ditolak pujaan hati............

    Ah beginilah cinta, deritanya tiada akhir....

    ReplyDelete
  11. nembe sepisan iseh kurang tragis kang....

    ReplyDelete
  12. Walah, sabar kangmas. Turut berduka cita :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Matursuwun kangmas atas dukacinta-nya

      Delete
  13. Terus terang...saya ngakak tragis kang Gus...semoga anda tidak dianjurkan dokter untuk mencabut gigi..karena lebih baik sakit hati ditolak cinta nya daripada sakit gigi.. Sumpah...saya lebih baik sakit hati daripada sakit gigi..mekaten mawon..piLih anonymous karena saya takut kang gus mengirimi saya obat sakit gigi

    ReplyDelete
  14. mesakke tapi kok ya lucu....ndak biso ngomong aku......sbar ae lah gus

    ReplyDelete
  15. mesak'ke kehidupanmu to le....xixixixixixixixixixixixixixi

    ReplyDelete
  16. Agus..aku padamu.................... titik dua tanda bintang

    ReplyDelete
    Replies
    1. Nek kowe padaku, hanjuk pacarmu sing Londo kae meh buwak ngendi? wkwk

      Delete
  17. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete
    Replies
    1. welha, tulisanku termasuk karya sastra tho? ndak iyo?

      Delete
  18. gak popo kang tak kancani

    ReplyDelete
  19. Tulisanmu mbeler dengkul, Mas Gus.... Hahaha

    ReplyDelete
    Replies
    1. mbeler... ha rumangsamu welat po? wkwkwk

      Delete
  20. iki pas tenan karo aku saiki

    ReplyDelete
  21. lha ajian semar mesem saking simbah wes di lakokno durung gus?
    ben ketok serius, nganggo toa opo megaphone trus orasi ning pasar. "aku cinta padamu" merdeka"

    ReplyDelete
    Replies
    1. Malah koyo wong gemblung....

      Delete
    2. Ajian semar mesem wes ra usum saiki je mas...kimcil ra bakal kepincut, kejobo koe nganggone fortuner opo jazz...

      #napuk cangkeme laler

      Delete
  22. Jaman serba internet kok ngaku isih jaman ril sepur berdua tak pernah ketemu.

    ReplyDelete
  23. Jatuh cinta yg ke berapa tuh, Gus? Wkkk.

    ReplyDelete
  24. Melu trenyuh aku mas... Mugo2 cewek berikutnya mas.

    ReplyDelete
  25. hahaha sakno saknoooo Urip pisan nelongso goro2 TRESNO WARENGGONO kikikikikkkk

    ReplyDelete
  26. ilmu jago ngoyak babon durung muk terapke gus, oyak terus......sampai cukup stress..akhire babone ndekem dewe hahaha....

    ReplyDelete
  27. ya ampun, semonone mas, nderek prihatin, semoga dapat cewek yang lebih baek yaaaa

    ReplyDelete
  28. gus tenang'no pikirmu....aku yo tau d'tolak kok.......biyen aku meh mutus pacarku tapi d'tolak gak d'acc gus......gak gelem tak putus malah jaluk terus piye jal perasaanmu,,,, aku sing ganteng'e tanpo ukur koyo ngene wae sek sempat d'tolak gus,, dadi tenang no pikirmu. wiz ojo mbok terus-terus'ke mergane ora ono gunane

    ReplyDelete
  29. Turut bersuka cita Gus. Tabahkan dirimu

    ReplyDelete
  30. sampean gawe aq kemutan masa lalu

    ReplyDelete
  31. terus terang ini sangat puitis sekali, sepuitis pendekar syair berdarah....:D

    ReplyDelete
  32. sakitnya tuh disini ...........................................

    ReplyDelete
  33. Njobo tegar ,, Njeroo Ambyarrr

    ReplyDelete
  34. tenang Gus.. masih banyak wanita di dunia ini. perbandingannya 1: 5. Kalau ada 1 wanita menolak, Jangan khawatir.. Karena masih ada 4 wanita lain yang siap menolak juga (cak lontong)

    ReplyDelete

Tentang Saya

Saya Agus Mulyadi, biasa dipanggil Gus Mul (bukan lulusan pesantren seperti Gus Dur, Gus Muh, maupun Gus Mus. Gus Mul hanya akronim dari nama saya). Blogger dan Freelance Layouter. Kini berusia 24 tahun. Aktif di Karang Taruna dan Komunitas Blogger Magelang Pendekar Tidar. Profil lebih lengkap, Lihat Disini

Tambahkan saya di Google+

 
Copyright © 2010 Agus Mulyadi Blog , All rights reserved
Design by DZignine . Powered by Blogger