Perkara Njoget Reggae

| Saturday, 18 October 2014 |

Joget Reggae
Joget Reggae (Source: kainhitampresent.blogspot.com)

Obrolan di Warung mas Andri siang itu terasa sangat asyik. Kami membahas tentang rencana untuk menyaksikan konser Reggae esok hari. Saya bersama Gembus, Paijo, Marcopolo, Komplong, dan kawan-kawan lain memang berencanan untuk menghabiskan malam minggu dengan menyaksikan konser reggae yang dihelat di salah satu gedung pertemuan tak jauh dari kampung kami. Konser yang diselenggarakan oleh salah satu produsen minuman suplemen ini menghadirkan satu band reggae terkenal dan belasan band reggae lokal.

Kami memang sering berkumpul di Warung mas Andri, oleh banyak orang disebut begitu, karena memang si empunya warung namanya Andri.

Di warung ini, bukan hanya anak-anak muda yang sering nongkrong, namun juga ada orang-orang tua berusia di atas kepala tiga bahkan kepala empat. Ada Pak Naryo, supir pro yang sudah malang melintang di dunia persupiran. Ada Mas Yus, pendaki gunung yang masih sangat setrong kendati umurnya sudah hampir kepala empat, ada Pak Tete, kretekus gaek yang sangat doyan ngopi, dan masih banyak lagi golongan tua yang juga sering nongkrong di warung Andri. Di warung inilah anak-anak muda dan bapak-bapak bisa ngobrol santai lepas dengan bahasa yang super ngoko. Warung ini menjadi semacam rendezvous bagi “golongan Wikana” dan “golongan Ahmad Soebardjo” di ranah per-gentho-an.

“Aku ndak ikut ke konser ah!!”, kata Sastro tiba-tiba. Hal ini tentu mengejutkan, karena Sastro dikenal sebagai kawan yang paling enggan menolak untuk ikut dalam event konser, bahkan ia kerap menjadi kompor kalau-kalau ada kawan yang ndak bisa ikut ke konser.

“Lha kenapa ndak ikut tro? wong yang lain saja pada ikut kok!”, tanya Marcopolo

“Ndak berani gelut kalau nanti rusuh po?”, Paijo menimpali

Wah, ra cengli tenan, memangnya ada apa tro?” tanya Gembus.

“Sebenarnya pengin sih mbus, tapi kalau reggae, aku ndak bisa njogetnya!”, jawab Sastro.

Demi mendengar jawaban super polos dari Sastro, kawan-kawan langsung meledak tawanya. Bahkan pak Naryo yang ndilalah ada di situ pun ikut tertawa terbahak-bahak. “Oalah tro.. tro... kemana-mana naik vespa, tapi njoget reggae saja ndak bisa, kilokke wae vespamu!!” seloroh Pak Naryo.

“Njoget Reggae itu susah pak, kaya orang lari-lari, tapi posisinya ndak maju-maju, kelihatannya simpel, tapi rumit, saya sudah pernah coba njoget reggae di depan kaca, tapi kok kelihatannya saya ndak luwes je pak”, kata Sastro masih tetap dengan kepolosannya.

Jawaban itupun kemudian kembali kembali gelak tawa seisi warung, bahkan lebih gempita dari tawa sebelumnya.

Ketidakbisaan Sastro untuk njoget reggae itu kemudian menjadi bahan guyonan dan cercaan. Sastro jadi bulan-bulanan, Sastro pun hanya bisa nyengir menahan malu dengan bibir yang terasa sangat kurang sedap untuk dipandang.

Sejujurnya, Sastro adalah penjoget yang handal. Njoget dangdut, mosing hardcore, ajojing disko, tari jatilan dan kubro siswo, bahkan sampai goyang poco-poco pun mungkin bisa ia jabani, tapi kalau njoget reggae, Sastro angkat tangan.

Yo wis, besok kamu ndak usah ikut joget, cukup berdiri sambil gerakkan badan saja!”, kata Paijo mencoba untuk membujuk sastro agar tetap ikut.

Akhirnya, Setelah diyakinkan dan dibujuk dengan aneka rupa bujukan, Sastro pun luluh dan bersedia untuk ikut. Dengan catatan, ia tak mau ikut maju ke depan panggung, hanya melihat saja dari belakang.

“Besok kumpul disini, jam tujuh, kita berangkat bareng pakai motor masing-masing, yang punya baju reggae, silahkan dipakai!!”, Kata Marcopolo memberi pengumuman yang sejurus kemudian langsung disepakati oleh kawan-kawan.

Besoknya, jam setengah tujuh, alias setengah jam sebelum jam keberangkatan, Sastro sudah sampai di warung Mas Andri, dandanannya sangat Reggae, bajunya klombor khas baju barong bali warna rasta, celana pendek, dan tak lupa ia memakai topi rajut merah kuning hijau. Wajahnya kumal (menurut Sastro, semakin kumal semakin reggae).

Warung mas Andri ternyata masih sepi, hanya ada Pak Naryo yang sedang asyik menyeruput kopi sambil sms-an.

“Pak, anak-anak mana? kok kosong melompong begini, katanya mau lihat konser reggae!”

“Di rumahnya Gembus, sedang pada latihan!”, jawab Pak Naryo singkat

“Lho, latihan apa pak?”

Ha yo latihan njoget reggae tho, rumangsamu cuma kamu thok yang ndak bisa joget reggae?, yang lain juga sama!”

Woooooo, telek!!!”

Sejurus kemudian, Sastro pun langsung meluncur ke rumah Gembus. Di wajahnya, terpancar jelas nafsu membunuh yang begitu besar.




Buku Agus Mulyadi

21 comments :

  1. Rumangsamu awakmu thok tah sing gak iso joget?
    Wkakaka ....

    ReplyDelete
    Replies
    1. Lha kene ki yo ra iso je njoget reggae.... :)

      Delete
  2. hahaha lucune mengalir tur natural tenan, koyo tai mili neng kalen, gus.

    ReplyDelete
    Replies
    1. jiamput, perumpamaane ki lho, kok yo Tai

      Delete
  3. njoget reggae itu maksudnya goyang rege bukan mas?

    ReplyDelete
  4. Asik juga ya Gus kalo joget reggae rame-rame, walau gak bisa joget tapi gak ketara kalo rame, hehe...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Yang penting gerak, ikuti arus... ciaelah.... wkwkwk

      Delete
  5. Klimaks nang mburi yo

    nganti ngekek elek ki

    ReplyDelete
  6. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete
  7. top markotop, melu nyimak lek . . . . .

    ReplyDelete
  8. Lha nek podo ndak iso joget regae, sopo seng ngajari njoget sidane?

    ReplyDelete
  9. Endingnya bangsat! Haha ngguyokke Gus.

    ReplyDelete
  10. ngguyuku tak tahan nganti loro wetengku, isin ro kancane sing lg sibuk nyambut gawe...

    ReplyDelete
  11. gak paham musik regae,,,ngertine inyong joget dangdut om...hehehe

    ReplyDelete
  12. semua orang suka reggae... aqu ngg suka reggae.. maaf ya mas Agus Mulyadi, hehehe

    ReplyDelete
  13. kok ora iso joghet reggae ki pie toh bro ?
    kan gampang, tangan tengen diangkat, terus ngawe awe sitik, sing tangan kiwo iso di nggo nyekel udud opo nyekeli katok, kan tetep puwenak joghetane broo. hhehehehehehe

    ReplyDelete
  14. Aku sudah lama ingin menulis sesuatu seperti ini di situs web saya sendiri dan sekarang Anda telah memberi saya ide untuk menulis, terima kasih

    ReplyDelete

Tentang Saya

Saya Agus Mulyadi, biasa dipanggil Gus Mul (bukan lulusan pesantren seperti Gus Dur, Gus Muh, maupun Gus Mus. Gus Mul hanya akronim dari nama saya). Blogger dan Freelance Layouter. Kini berusia 24 tahun. Aktif di Karang Taruna dan Komunitas Blogger Magelang Pendekar Tidar. Profil lebih lengkap, Lihat Disini

Tambahkan saya di Google+

 
Copyright © 2010 Agus Mulyadi Blog , All rights reserved
Design by DZignine . Powered by Blogger