Karnaval Tujuh Belasan ala Kampung Seneng Banyurojo

| Wednesday, 19 August 2015 |

Di kampung saya, Kampung Seneng, setiap tanggal 17 Agustus, selalu dihelat yang namanya karnaval kemerdekaan. Ini acara rutin yang sudah diselenggarakan selama 6 tahun terakhir.

Di acara karnaval ini, para warga akan berpawai parade dengan berjalan kaki keliling kampung, seluruh peserta dianjurkan untuk untuk macak alias berdandan dengan aneka karakter. Ada yang macak jadi guru, petani, nelayan, penari, pejuang, dan lain sebagainya. Ada juga yang macak menggunakan pakaian tradisional daerah.


Guyup dalam aneka kostum, simbol keberagaman


Emansipasi, sampeyan pikir cuma pria yang boleh nangkring di depan?


Bulik, Jadi warga Batak dan Minang setahun sekali. tradisionil bin insidentil


Dek Raihan, memupuk nasionalisme sedari kecil. Pokoke aku bocahmu

Selain pakaian profesi dan pakaian tradisional, ada juga beberapa warga yang berdandan dengan aneka pakaian yang unik dan nyentrik. Dan beberapa diantaranya sukses menarik urat tertawa saya.


Pak Sukri, pejuang sekaligus pemilik jasa penjinak bom partikelir


Pak Kadus, tak malu untuk tampil etnik dan garang


Pak Bagio, belum terdaftar BPJS (Barisan Pemuda Jomblo Sejahtera)


Gembleh, Aku wis bola-bali kondo, PL ki marai kere

Nah, Sebagai keluarga yang punya jiwa nasionalisme dengan kadar yang lumayan menyenangkan, Keluarga saya jelas tak ingin ketinggalan untuk ikut serta dalam acara karnaval ini. Yah, sekadar sumbangsih sederhana untuk hari kemerdekaan bangsa Indonesia tercinta.

Adik pertama saya, Yuria macak menjadi Syahrini KW, Syahrini edisi prihatin, Syahrini edisi tirakat. Jadi jangan heran kalau gaun sama Tas-nya dibuat dari barang-barang bekas. hehehe


Maju cantik, mundur mundur cantik. Cantik mbahmu dansa...

Nah, kalau adik kedua saya, Tia, mencoba tampil agak ngintelek. Ia macak menjadi wisudawati.


Rasah kuliah, cukup melu karnaval, wis iso dadi wisudawati 

Kalau emak saya, dia tampil sangat ngindonesia. Di acara yang sangat spesial dan hanya setahun sekali ini, emak saya macak menjadi seorang petani. Dengan celana batik kombor, baju lurik, juga caping. Lengkap dengan dengan wardrobe cangkul dan arit. Sangat cocok, sangat natural, apalagi wajah emak memang penuh dengan gurat-gurat agraris.


Waduh, ampun mak, aku bocahmu, tenin... ra ngapusi

“Mak, mbok itu cangkulnya diganti sama palu saja, biar jadi palu-arit, biar sangar gitu lho, sekali-kali macak Gerwani,” canda saya pada emak sesaat sebelum berangkat karnaval.

“Gerwani lambemu...” tukas emak.

Saya pun hanya tertawa terkekeh.

Oh iya, Lha bapak saya gimana? Ah, sayang sekali, tahun ini, bapak saya absen, yah, maklum saja, namanya juga nasionalisme, kadarnya selalu fluktuatif. Kebetulan, tahun ini, kadar nasionalisme bapak saya sedang tekor. hehehe

Trus saya sendiri macak apa?

Welha, kok masih saja tanya. Dengan melihat wajah saya yang senantiasa teduh, seharusnya sampeyan bisa langsung menebak saya macak jadi apa. Coba tebak, saya macak jadi apa?

Yak, benar... Saya macak jadi ustadz.


Untuk mengenang jasa para pahlawan, mengheningkan cipta, mulai...


Gembus (kiri), emak (tengah), dan Syech Agus Mulyadi Al Magelangi (Kanan), 


Korban PL selalu butuh pendampingan Rohaniawan




Buku Agus Mulyadi

31 comments :

  1. Keren mas macak jadi ustadz.
    kirain macak jd yg lebih eksotis hihihi :-D
    Peace :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Lha ustadz itu adalah salah satu bentuk yg paling eksotis dari segala yang eksotis lho... hahaha

      Delete
  2. Kang Mas kok iso dadi ustadz,marai koyok pak p3n....

    ReplyDelete
    Replies
    1. Lha kolo-kolo macak alim tho... setahun pisan je

      Delete
  3. Tak kiro koe arep dadi londo, Gus. Ben tambah wangun :-D

    ReplyDelete
    Replies
    1. wah, aku ra nduwe potongan londo, wong mangan roti we wagu

      Delete
  4. Replies
    1. Sing penting namanya menjual, perkara ilmu fikih, itu belakangan... :)

      Delete
  5. Walah Pak Ustadz, itu Gembus pamer jari tengah mbok yo diganti jempol sajah, biar keliatan elegan nan profesional bak member MLM

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wah, la sudah kadung kejepret je.. wkwkwk

      Delete
  6. Tak pikir ganteni dadi hansip mas

    ReplyDelete
  7. jos mas hehehehehe. nek magelange sendiri kpan to mas

    ReplyDelete
  8. wealah jan, pacakanmu kui lho Gus, ko Gus Ucup

    ReplyDelete
  9. kok kaya'e penak sing dadi korban BPJS .... sak dowone karnaval, lungguh ning kursi ... lak yo pegel sing nyurung to?

    ReplyDelete
    Replies
    1. sing ra penak berarti sing nyurung yo? hahaha

      Delete
  10. Masuk ke blog ini kok merasa disumanggakake yo gus, rasane kaya ditompo temenanan. Gek sing kagungan dalem siap sendiko dawuh sinambi ngacungna jempol. Lha nek di fb, rasane kaya tangi turu, ngekep bantal...owalah gus gus....

    ReplyDelete
    Replies
    1. hahaha, opo perlu sing ng blog tak ganti foto dadi ngekep bantal? wkwkwk

      Delete
  11. Salim sek karo Syech Agus Mulyadi Al Magelangi. mugo magelang lan kampung seneng tambah sejahtera setelah munculnya sosok fenomenal Syech Agus. Merdeka!!!
    *uopooooo* :D

    ReplyDelete
  12. sing penting ojo dadi ustad jarkoni wae kang

    ReplyDelete
  13. korban PL esih abu2..

    ReplyDelete
  14. Meriah sekali sepertinya acara karnaval di desa mas Agus, lengkap. Pakaian adat minang dari daerah saya juga ada. Oh ya, sedikit cerita... Acara karnaval seperti ini di komplek tempat saya tahun ini absen karena beberapa kendala. Jadinya kemarin yang diadakan cuma acara-acara lomba 17-an saja. Seperti makan kerupuk, balap karung. Dsb.

    ReplyDelete
  15. Kenapa g jadi pasangan nikah aja gus..sp tau didunia nyata cepet keturutan..

    ReplyDelete
  16. Melu mongkok atine... dusun seneng kasebut. Dadi eling jaman kontraktor mbiyen...

    ReplyDelete
  17. seru banget ya, tiap tahun ada acara karnaval kalau di daerah saya boro-boro paling cuma lomba-lomba aja.. hehe

    ReplyDelete

Tentang Saya

Saya Agus Mulyadi, biasa dipanggil Gus Mul (bukan lulusan pesantren seperti Gus Dur, Gus Muh, maupun Gus Mus. Gus Mul hanya akronim dari nama saya). Blogger dan Freelance Layouter. Kini berusia 24 tahun. Aktif di Karang Taruna dan Komunitas Blogger Magelang Pendekar Tidar. Profil lebih lengkap, Lihat Disini

Tambahkan saya di Google+

 
Copyright © 2010 Agus Mulyadi Blog , All rights reserved
Design by DZignine . Powered by Blogger