Keharuan di Sancaka Malam

| Thursday, 29 September 2016 |



Pemandangan mengharukan yang terpaksa harus saya hadapi saat pulang dari Surabaya menumpang kereta malam Sancaka.

Saya satu gerbong dengan pasangan suami istri dan seorang putrinya yang saya taksir berusia empat atau lima tahun. Keluarga kecil nan bahagia ini rencananya akan turun di Solo.

Sang suami duduk di sebelah saya, sedangkan si istri bersama anaknya duduk di baris sebelah kursi saya.

Sekitar jam sembilan kurang seperempat, si anak agaknya sudah tak sanggup lagi berduel dengan kantuk yang mulai beringas menyerang membabi-buta. Maka, tertidurlah si anak di kursinya. Posisinya sangat tidak nyaman, kepalanya harus bersandar di bantalan sisi kursi dan dengan tubuh yang harus ditekuk bak udang ebi.

Mungkin tak tega dengan ketidaknyamanan tidur si anak, si ibu kemudian bangkit dan mengosongkan kursi miliknya. diselonjorkannya kaki si kecil agar posisi tidurnya nyaman. Lalu di sepanjang perjalanan, si Ibu berdiri di depan kursi sambil terus menatap wajah pulas anaknya. Melihat sang Istri berdiri, si suami pun ikut bangkit, menemani istrinya berdiri.

Pasangan suami-istri ini merelakan kenyamanan duduknya dan lebih memilih berdiri, semata demi tidur yang nyaman dan jenak untuk si kecil, setidaknya sampai nanti kereta tiba di tujuan.

Entah mengapa, adegan di depan mata yang sebenarnya biasa saja ini langsung membuat saya mak-tretes ingat sama emak dan bapak di rumah.

Ingat sama emak yang selalu saja merawat kamar loteng saya dengan perawatan yang paling paripurna, sehingga setiap saya pulang, kamar saya selalu rapi dan layak huni.

Ingat sama bapak yang selalu selalu giat menanyakan kabar lewat pesan singkat jika di akhir pekan saya tidak pulang ke Magelang.

Saya melongok ke luar jendela. Rasanya tidak hujan, toh kalaupun hujan, tentu airnya tak akan tempyas sampai ke dalam. Tapi entah kenapa, mata ini semakin basah saja.

Sungguh, ingin rasanya saya mengantikan mereka berdiri. Tapi setelah saya pikir-pikir, kelihatannya kok lebih enak duduk daripada berdiri... lagian, bukan anak saya ini. Hahaha 😂😂😂




Buku Agus Mulyadi

52 comments :

  1. Sungguh 'mengharukan' Mas Agus crita sampeyan ini. Tapi bagian akhir crita sukses membuat saya mesam-mesem sendiri.... hehemmm..:)

    ReplyDelete
    Replies
    1. lha intinnya ki justru yg bagian terakhir itu je... hahaha

      Delete
  2. Gek tak pikir wingin, kok orak ditulis neng blog wae iki. Ternyata ditulis akhire. hahahahha

    ReplyDelete
    Replies
    1. lha nek postingan facebook'e dhowo, biasane langsung tak tarik ng blog ndan...

      Delete
  3. Ada tisu gak? MAu ngelap air mata nih :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. wah, tissu-nya kosong mas... kanebo, mau?

      Delete
  4. Sampai Ngiler aku bacanya mas Agus.

    ReplyDelete
  5. Mengharukan sekali Mas Agus. Tapi terakhirnya itu loh yang bikin gemes gimana gitu.

    ReplyDelete
  6. aku pernah mengalami hal seperti ini, ketika naik mutiara timur. anak ku ngantuk, terpaksa aku berdiri cari kursi lain. istri ama anak aku biarkan tidur :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. wah, benar-benar suami siaga tenan...

      Delete
  7. Sing sabar yo mas, nek dirasakrasakke ncen mbedhedheg rasane, gara gara sampeyan duduk dikursi samping si Bapak, si ibu enggan duduk di tempat duduk si Bapak. Hehehe..

    ReplyDelete
  8. Sng berdiri iku sopo. Sharusnya yg muda ngalah memberi kesempatan pd orang lain

    ReplyDelete
    Replies
    1. enak saja, saya sudah mahal-mahal beli tiket, masak harus berdiri... *tertawa jahat*

      Delete
  9. dan pada akhirnya si agus lah yang ternyata menangis, hakhakhakhak, gembeng kowe lek.

    ReplyDelete
  10. melihat fenomena tersebut secara langsung di depan mata, ketok'e wi yo sekalian kode kanggo kowe mas gus, kode nyusul untuk lekas berpasangan dalam kehalalan, hehehe...

    ReplyDelete
  11. Asli, inspiratif banget ceritanya, kita jadi tahu faham tentang kasih kedua orang tua kita

    ReplyDelete
  12. Hei siapa yang menaruh bawang di sini?

    ReplyDelete
  13. kadang hati suka meringis namun nafsu selalu lebih bede egonya

    ReplyDelete
  14. Betapa orangtua Mas Agus sangat perhatian dan mencintai Mas Agus, hiks... aku terharu, Mas :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hahaha, akhirnya ada juga yang ketularan terharu...

      Delete
  15. jls mengharukan dan salut pd dedikasi orang tua pada anaknya. makany sehabis salat jgn lpa panjatkan doa utk kedua orang tua kita..

    ReplyDelete
  16. wkwk koplak mas akhir ceritanya...

    ReplyDelete
  17. aku melu mrebes mili mas dab...he he

    ReplyDelete
  18. hahahaha..tak kiro arep melu berdiri..lha jebule...

    ReplyDelete
  19. salam sesama agus hehee :D

    Aku Agus Sugianto mas...

    blognya keren mas :D

    ReplyDelete
  20. lah kampret bener closing statementnya mas hahahaha

    benar jg sih ya, yang bikin yg tanggung jawab kann?? wkkw

    ReplyDelete
  21. Ini Satire yang terselubung, Mas Gus. Buat saya sang resap dan endap. hihi...salam santun dari blogger baru

    ReplyDelete
  22. Bagian terakhire gur koyo ngunu kuwi gus?
    wkwkwkkwk

    ReplyDelete
  23. Bagian terakhire gur koyo ngunu kuwi gus?
    wkwkwkkwk

    ReplyDelete
  24. wkwkww... kok kaya gtu ya...

    lucu banget deh :D

    ReplyDelete
  25. wkwkwk gus gus, akhire yo podo wae ra gelem menehi longgomu wkwk

    ReplyDelete
  26. sebaiknya ngaca kepada yang lebih tua

    ReplyDelete
  27. ojo ngelawan sama ortu,mereka sangat menyayangi kita

    ReplyDelete
  28. gus berbaktilah sama orang tuamu selagi masih hidup

    ReplyDelete
  29. Begitulah kasih sayang ortu sama anaknya. Sampeyan akan merasakannya nanti kalo udah nikah dan jadi Bapak, aamiin.

    ReplyDelete
  30. Izin berkunjung dan nyimak artikelnya ya gan? :)

    ReplyDelete
  31. Kirain akan ada hero action didalam ceritanya.. eh malah.... :v

    ReplyDelete
  32. Wah-wah, lumayan mengharukan ceritanya...

    ReplyDelete
  33. orang tua yang perhatian, memang seharusnya begitu jadi orang tua :)

    ReplyDelete

Tentang Saya

Saya Agus Mulyadi, biasa dipanggil Gus Mul (bukan lulusan pesantren seperti Gus Dur, Gus Muh, maupun Gus Mus. Gus Mul hanya akronim dari nama saya). Blogger dan Freelance Layouter. Kini berusia 24 tahun. Aktif di Karang Taruna dan Komunitas Blogger Magelang Pendekar Tidar. Profil lebih lengkap, Lihat Disini

Tambahkan saya di Google+

 
Copyright © 2010 Agus Mulyadi Blog , All rights reserved
Design by DZignine . Powered by Blogger