Wahai Tetangga Pemilik Pohon Rambutan

| Tuesday, 21 March 2017 |



Jujur, semasa saya kecil, saya hampir tak pernah membeli rambutan. Kalaupun saya makan rambutan, itu biasanya karena dikasih atau dapet metik dari pohon tetangga yang dengan sukarela rambutannya dipetiki anak-anak kiri-kanan rumah, atau pohon "tak bertuan" di pinggir kali dekat perumahan akademi militer.

Sekira dua atau tiga minggu yang lalu, saat perjalanan dari Magelang ke Jogja, saya mendadak berhenti di pinggir jalan, tertarik dengan display rambutan yang nampak begitu hijau kekuningan, ranum, dan juga sintal yang dijajakan pedagang di tepi jalan di sekitaran jalan Blondo.

Saya berniat membeli barang sekilo dua kilo. Yah, hitung-hitung buat oleh-oleh kawan atau pacar di Jogja (uhuk).

Saya tanya harga satu kilonya.

“Dua lima satu kilo, mas,” jawab bapak penjualnya.

Deg, saya kaget tratapan, harga rambutan satu kilo yang mungkin hanya satu dompol itu ternyata mahal juga.

“Wah, lha kok mahal je pak, nggak bisa kurang?” tawar saya. Entah kenapa, dalam situasi begini, jiwa nyang-nyangan saya kok mendadak keluar.

“Wah, nggak bisa, mas. Ini rambutannya baru soalnya, kalau mau yang murah, ini yang sudah agak alum, sekilo 12 ribu juga boleh,” katanya sambil menunjukkan setumpuk rambutan di keranjang yang lain yang tampilannya sungguh tiada menyelerakan sebab sudah tidak segar lagi.

Duh gusti, kalau ingat momen-momen itu, saya jadi membayangkan, betapa baiknya tetangga-tetangga saya yang punya pohon rambutan dan rela rambutannya dipetiki oleh anak-anak tetangga di lingkungannya. Lha betapa tidak, sekali petik, biasanya bisa sampai 3-4 dompol, alias bisa sampai 3-4 kilo. Yang kalau dirupiahkan dengan parameter harga rambutan tadi, maka itu artinya rambutan senilai 75-100 ribu.

Ingin sekali rasanya saya pulang ke Magelang, lalu mencium tangan tetangga saya, sembari berterima kasih atas berpuluh-puluh kilo rambutan yang sudah mereka relakan untuk saya dan kawan-kawan saya petik.

Tapi... Ah, kapan-kapan aja ah. Mereka juga udah ikhlas ini...




Buku Agus Mulyadi

9 comments :

  1. Beruntung kau gus sering dikasih...
    kalau aku biasanya "nutur" buah yang jatuh di pagi hari...

    Tapi yo kadang2 nyuri juga... hehhee...
    Karena, kalau anak ndeso belum pernah nyolong rambutan atau mangga, bisa dikatakan KURANG AFDHOL JADI ANAK NDESO.
    Hahahaaaa.................

    ReplyDelete
    Replies
    1. paling afdhol nyolong jagung di sawah juga kali ya

      gus agus, ane pernah lihat orang jualan rambutan tulisannya 8000, pas disamperin bilang kalo harganya 20ribu, yg 8ribu yg ijo2, semprul

      Delete
  2. Jadi nostalgia juga, golek rambutan gone tonggone

    ReplyDelete
  3. musim rambutannya kok ga merata ya..

    ReplyDelete
  4. Untuk para pecinta togel, kami www.istanalotto.com memberi kemudahan dalam pemasangan togel online.

    Kami menyediakan 6 pasaran, seperti:
    - Cambodia
    - Sydney
    - China
    - Kudalari
    - Singapore
    - Hongkong

    Untuk info lebih lanjut hubungi kami di:
    - BBM: 5A897387
    - WA: +447447387791
    Atau Langsung Kunjungi Kami di www.istanalotto.com

    ReplyDelete
  5. Hahaa..jg inget masa kecil di kampung mas..

    ReplyDelete
  6. Kalo dah inget kecil, inget kampung, inget kampung inget simboke..
    Wahhh jadi bener2 kangen semua

    ReplyDelete
  7. memang menggiurkan sekali rambutan, jadi bnr2 kangen juga

    ReplyDelete
  8. Masa masa yang indah. jadi pengin balik kecil lagi bair bisa mreteli rambutan tetangga. kunbal + jejak ya mas. hehe

    ReplyDelete

Tentang Saya

Saya Agus Mulyadi, biasa dipanggil Gus Mul (bukan lulusan pesantren seperti Gus Dur, Gus Muh, maupun Gus Mus. Gus Mul hanya akronim dari nama saya). Blogger dan Freelance Layouter. Kini berusia 24 tahun. Aktif di Karang Taruna dan Komunitas Blogger Magelang Pendekar Tidar. Profil lebih lengkap, Lihat Disini

Tambahkan saya di Google+

 
Copyright © 2010 Agus Mulyadi Blog , All rights reserved
Design by DZignine . Powered by Blogger