Lowongan Perusahaan Apus-Apusan

| Thursday, 26 October 2017 |

Di Grup ICJ alias Info Cegatan Jogja, agaknya sedang ramai perihal penipuan lowongan kerja berbasis PT abal-abal. Salah satu kiriman dari anggota grup perihal pengalaman buruknya tertipu lowongan kerja apus-apusan alias tipu-tipu menuai hampir seribu komentar dan dibagikan oleh ratusan anggota lainnya.

Fenomena lowongan kerja tipu-tipu semacam ini sebenarnya adalah fenomena klasik, hanya saja, tiap waktu selalu saja ada korban-korban baru.

Oh ya, bagi yang belum tahu tentang fenomena ini, biar saya jelaskan sedikit, biar nggak cuma ndomblong dan bisa mengikuti sampai akhir.

Jadi begini alurnya. Sebuah perusahaan (yang sudah barang tentu abal-abal) memasang iklan lowongan kerja di koran, internet, atau lewat pamflet murahan ( saya sebut murahan sebab memang cuma pamflet hasil fotokopi HVS yang blas nggak ada artsy-artsy-nya) yang ditempel di tiang listrik atau tembok-tembok di pinggir jalan. Biasanya lowongannya untuk posisi administrasi dengan gaji yang cukup menggiurkan, antara 1,5 sampai 2 juta sebulan. Lowongan pekerjaannya dibikin semenarik mungkin, kriteria dan persyaratannya pun dibikin semudah mungkin agar banyak orang yang tertarik.

Nah, singkat cerita, si pencari kerja yang tertarik dengan iklan tersebut akan menghubungi nomor yang tertera di dalam iklan. Mereka kemudian dijanjikan untuk wawancara di kantor.

Si pencari kerja lantas datang ke kantor, dengan semangat yang menyala mburap-mburap, wajah semringah, dan pengharapan yang begitu indah, tentunya.

Pengharapan si pencari kerja perlahan akan mulai luntur begitu ia tiba di kantor, sebab kantor yang ia datangi rupanya tak ubahnya ruko atau rumah sederhana yang kemudian dipaksakan untuk dibuat menjadi selayaknya kantor. Sangat tidak meyakinkan untuk sebuah kantor.

Pengharapan si pencari kerja akan semakin luntur, kali ini karena ia dimintai uang sejumlah ratusan ribu yang konon katanya untuk biaya wawancara dan training, yang mau tak mau harus ia bayarkan jika ia ingin lolos.

Nah, pada akhirnya, pengharapan si pencari kerja akan benar-benar kandas begitu tahu kalau ternyata pekerjaan yang harus ia lakukan bukanlah kerja di bidang admin, melainkan pekerjaan sebagai tukang wawancara orang yang mencari kerja, yang mana nantinya si pencari kerja ini lagi-lagi akan dapat pekerjaan juga sebagai pewawancara pencari kerja, dan begitu seterusnya, seterusnya, dan seterusnya, sampai Anggun jadi duta sampo lain.

Oke, sampai di sini sudah mulai jelas kan di mana letak bajingannya?

Nah, skema lowongan kerja tipu-tipu ini modusnya bermacam-macam. Selain modus yang barusan saya tulis itu, ada juga modus yang lain lagi, di antaranya adalah lowongan berlabel sales sampai lowongan ala tukang ngelem benang teh celup. Walau modusnya berbeda-beda, tapi konsepnya sama saja: mencari orang lain untuk kerja dengan job desk mencari orang lain lagi untuk kerja.

Saya paham betul akan hal ini, sebab... sebab... saya sendiri pernah jadi korbannya. Duh gusti, betapa saya tak menyangka, redaktur-cum-cendekia nan intelek seperti saya ternyata pernah juga jadi korban lowongan tipu-tipu macam begini.

Saya masih ingat betul dengan peristiwa yang sebenarnya tidak pernah ingin saya ingat-ingat lagi itu. Sebuah peristiwa yang, jika ingatan saya tidak berkhianat, terjadi di tahun 2010.

Setelah lulus SMA, saya merantau ke Jogja dan bekerja selama satu tahun sebagai tukang jaga warnet, atau sebut saja operator warnet biar lebih estetis. Setelah satu tahun berjalan, warnet tempat saya bekerja itu kemudian berganti manajemen pengelolaan dan dipindah ke Magelang. Saya tetap tinggal di Jogja untuk kemudian mencari pekerjaan lain.

Nah, di titik itulah pengalaman pahit saya bermula. Mencari kerja di Jogja ternyata gampang-gampang susah: gampang carinya, susah dapatnya.

Hampir tiga bulan saya tinggal di Jogja tanpa pekerjaan, padahal waktu itu saya harus bayar kos, juga harus makan sebab saya bukan pohon trembesi yang bisa kenyang hanya dengan berjemur dan berfotosintesis. Pendapatan saya waktu itu hanya bergantung dari hasil jualan kaos secara online yang hasilnya minim dan tak menentu. Intinya, saya butuh pekerjaan tetap.

Maka, makanan saya sehari-hari kala itu selain Indomie rebus dan tempe goreng adalah koran Kedaulatan Rakyat, wabil khusus halaman lowongan pekerjaan. Rutinitas pagi sehari-hari saya kala itu ya cuma nonton Upin-Ipin disambi nyetabilo lowongan-lowongan yang memungkinkan untuk dilamar bagi saya yang cuma lulusan SMA.

Takdir kemudian mempertemukan saya dengan iklan lowongan pekerjaan yang sangat-sangat menggiurkan—tapi bajingan—itu: lulusan SMA, bagian administrasi, gaji 1,5 juta sebulan (ingat, ini 2010, angka 1,5 juta sangat besar kala itu). Sungguh sebuah lowongan yang kehadirannya bagaikan orson dingin di tengah dahaga yang sedang memuncak.

Maka, tak perlu menunggu lama, segera sama menghubungi nomor yang tertera di iklan tersebut. Tak berselang lama, pesan saya berbalas. Saya disuruh datang keesokan harinya ke alamat kantor di sekitaran Jalan Perintis Kemerdekaan, Umbulharjo.

Paginya, saya pun datang dengan pakaian yang paling saya banggakan. Dengan sisiran yang paling rapi dan paling setil.

Di sana, saya diminta membayar sejumlah uang, katanya untuk biaya dokumen dan wawancara (saya agak lupa berapa nilai persisnya). Saya kemudian diwawancarai oleh seseorang yang kalau tidak salah namanya Ibu Dian. Seorang wanita setengah baya yang, saya akui, tubuhnya cukup sintal dan menggoda.

Optimisme yang tinggi, ditambah dengan tampilan Ibu Dian yang membikin dada saya senantiasa berdesir membuat saya tidak menaruh kecurigaan sama sekali. Terlebih ketika saya mendapat sinyal kalau saya diterima.

Kekecewaan itu akhirnya datang tatkala saya tahu kalau job desk pertama saya ternyata adalah menjual tuksedo. Dan lebih buruk lagi, saya harus menjual tuksedo itu dengan harga, kalau tidak salah, 1,2 juta. Duh gusti, paringono ekstasi.

Bu Dian berdalih bahwa menjual tuksedo itu hanyalah bagian dari tes penerimaan. Lha kan asu, saya ndaftarnya jadi administrasi, tapi tesnya bukan tes mengoperasikan komputer atau MS Office, atau tes lain yang lebih kontekstual, tapi malah disuruh jual tuksedo. Lha mbok dibayangkan. Saya yang dengan pakaian semahal apa pun tetap kelihatan dekil disuruh menjual tuksedo seharga 1,2 juta. Untung kalau ada yang beli, lha kalau saya malah dituduh sedang menjual tuksedo hasil maling dari butik terkenal? Lha bobrok bakule slondok!

Singkat cerita, saya memutuskan untuk berhenti bertindak konyol. Saya pamit sama Ibu Dian, meninggalkan kantornya, dan tentu saja, merelakan uang yang sudah kadung saya keluarkan.

Saya akhirnya pulang ke kos dengan wajah yang paling ndembik dan mlotrok sembari merenungkan betapa bodohnya saya karena tidak berpikir jauh. Mana ada pekerjaan admin untuk lulusan SMA bergaji 1,5 juta tapi kantornya cuma kios kecil berukuran tak sampai 3 x 5 meter persegi.

Semenjak saat itu, saya mulai menanamkan kebencian kepada PT-PT apus-apusan yang dengan teganya menjual harapan para pencari kerja dengan kepalsuan.

Kebencian ini kemudian mulai menampakkan kesuburannya saat saya dipertemukan dengan seseorang asal Kediri. Saya tak ingat namanya, dan untuk memudahkan cerita, sebut saja dia dengan panggilan Sondeng.

Ia datang jauh-jauh ke Jogja untuk mencari kerja. Di Jogja, ia tinggal sama kakaknya yang ndilalah satu kos sama saya. Saya dan Sondeng cepat akrab; dia teman yang baik dan ideal walau sejujurnya, selera humornya agak memprihatinkan. Keakraban kami terjalin cukup erat. Ia bahkan lebih banyak tidur di kamar saya ketimbang di kamar kakaknya.

Suatu pagi, dengan pakaian yang begitu rapi dan wajah yang begitu semringah, ia izin sembari meminta saya mendoakannya, sebab ia akan melamar kerja di tempat yang lowongan pekerjaannya ia baca beberapa waktu lampau.

Hanya butuh waktu tak sampai dua belas jam untuk membuat wajah semringah yang ia tunjukkan di pagi hari itu berubah menjadi wajah yang paling pating-tlekuk bak celana dalam belum disetrika.

“Taek tenan,” katanya

“Kenapa e, Ndeng?” tanya saya

“Ternyata lowongan kerjanya cuma tipu-tipu, aku sudah bayar buat biaya formulir sama pendaftaran, ternyata kerjanya disuruh cari orang,” ratapnya

Saya tak bisa berbuat apa-apa selain memberinya penghiburan dan mengajaknya keluar untuk makan, mencoba mengademkan hatinya.

Kekecewaan ini kelak membuat Sondeng pulang ke Kediri.

Belakangan baru saya ketahui, perusahaan apus-apusan yang menipu kawan saya ini ternyata adalah salah satu perusahaan di bilangan Denggung yang memang sudah terkenal menjadi dedengkot lowongan kerja tipu-tipu.

Tak berselang lama, mengikuti jejak Sondeng, saya pun juga pulang ke Magelang dan kembali menjalani karier saya sebagai penjaga, eh, maksud saya, operator warnet.

Dasar nasib, di Magelang, rupanya saya masih juga bergesekan dengan kisah perusahaan tipu-tipu. Kali ini adalah kawan dekat sekaligus tetangga sekaligus pelanggan tetap warnet saya. Sebut saja ia Gudel. Ia menceritakan niatnya untuk mendaftar kerja sebagai tukang lem benang teh celup. Tentu saja saya kaget tratapan.

Saya sudah paham nglothok akan modus lowongan berbasis pengeleman benang teh celup ini, maka sebagai kawan yang baik, saya berusaha menyadarkan kawan saya yang sedang mempersiapkan jalan menuju kemalangannya ini.

“Ini bukan tipu-tipu, Gus. Ini asli,” kata Gudel gigih saat saya berusaha menjelaskan padanya bahwa lowongan kerja pengeleman benang teh celup itu palsu adanya.

“Aduuuh, Del. Percaya sama aku, itu cuma tipu-tipu,” terang saya. “Nanti kamu memang bakal dapat job ngelem benang teh celup, taruhlah satu boks dapat 50 ribu, memang lumayan, tapi nanti, untuk bisa mendapatkan boks-boks berikutnya, kamu harus bisa mencari kawan lain yang mau ikut kerja ngelem juga, ini MLM menungso, Del!”

“Kamu itu ngeyel, memangnya kamu pernah ndaftar?”

“Ya belum, tapi aku tahu skemanya,”

“Lha gene kamu sendiri belum pernah ndaftar.”

Saya kalah cocot, kalah omong. Dan pada akhirnya, saya hanya bisa pasrah.

Yang terjadi selanjutnya adalah... ah, saya tak ingin menceritakannya. Sungguh, di titik itu, saya merasa begitu gagal sebagai seorang kawan sebab saya tak bisa menunjukkan jalan yang baik dan benar untuk kawan saya sendiri.

Sekarang, sudah enam tahun berselang. Saya sudah hampir melupakan kisah pengalaman saya dan dua kawan saya tentang lowongan kerja tipu-tipu itu. Hingga kemudian, ingatan memaksa saya untuk mengingatnya kembali setelah membaca postingan soal PT tipu-tipu di Grup Info Cegatan Jogja itu.

Saya membacanya dengan kemirisan yang teramat sangat. Komentar-komentar yang masuk cukup menarik. Ada beberapa orang yang sharing kisahnya yang juga pernah jadi korban, ada yang berbagi informasi seputar lowongan tipu-tipu, ada yang cuma sekadar “bantu up lur, ben mumbul”, pun ada yang malah berkomentar dengan nada yang terkesan menyalahkan si korban.

“Mangkanya, sebelum mendaftar pakai akal sehat.”

Untuk yang saya sebut terakhir ini, rasanya ingin sekali saya datangi orangnya, kemudian saya kremus wajahnya.

Enak saja dia bilang perihal akal sehat. Dia pasti tidak paham, betapa akal sehat tidak berlaku untuk lelaki yang harga dirinya terancam sebab tak punya pekerjaan. Dan betapa akal sehat... ah... bajingan.




Buku Agus Mulyadi

7 comments :

  1. Akal sehat mlaku yen pas kerjo. Wit kates kui le keri dewe

    ReplyDelete
  2. Waduh, mesti berhati-hati dong.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Penginnya sih gitu, tapi... ah sudahlah

      Delete
  3. Akal n Nalar dijadikan tameng, tp memang ada kalanya manusia khilaf.
    tetap waspada, kritis dan berdoa

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bukan ada kalanya, tapi yang namanya manusia dari dulu memang tempatnya khilaf

      Delete
  4. Akalmu gak sehat Gus...

    ngko sik...


    Ketika jadi pengangguran...
    hahahhaaaa.....


    ReplyDelete

Tentang Saya

Saya Agus Mulyadi, biasa dipanggil Gus Mul (bukan lulusan pesantren seperti Gus Dur, Gus Muh, maupun Gus Mus. Gus Mul hanya akronim dari nama saya). Blogger dan Freelance Layouter. Kini berusia 24 tahun. Aktif di Karang Taruna dan Komunitas Blogger Magelang Pendekar Tidar. Profil lebih lengkap, Lihat Disini

Tambahkan saya di Google+

 
Copyright © 2010 Agus Mulyadi Blog , All rights reserved
Design by DZignine . Powered by Blogger