Djeladjah Djaloer Spoor : Setjang - Tjandi Oemboel

| Monday, 10 June 2013 |

Djeladjah Djaloer Spoor adalah salah satu agenda kegiatan yang diselenggarakan oleh Komunitas Kota Toea Magelang, yaitu sebuah komunitas pecinta dan pelestari bangunan tua di Magelang yang mempunyai misi untuk untuk lebih menggali informasi tentang sejarah dan berusaha melestarikan berbagai peninggalan cagar budaya yang ada di Magelang dan sekitarnya.

Djeladjah Djaloer Spoor sendiri sudah diselenggarakan sejak tahun 2012, dimana saat itu jalur yang dijelajahi adalah Magelang - Secang - Temanggung - Parakan.

Nah, di tahun 2013 ini, event Djeladjah Djaloer Spoor kembali digulirkan, namun tentu saja dengan rute yang berbeda dari event tahun sebelumnya. Rute Djeladjah Djaloer Spoor 2013 kali ini adalah antara Secang - Candi Umbul. Jarak yang ditempuh sepanjang penjelajahan ini sekitar 8 kilometer, jauh lebih dekat dibandingkan dengan jarak tempuh Djeladjah Djaloer Spoor 2012 yang mencapai lebih dari 15 kilometer. Namun perlu diketahui, bahwasanya Djeladjah Djaloer Spoor 2013 ini murni ditempuh dengan berjalan kaki, dan bukan dengan motor seperti pelaksanaan Djeladjah Djaloer Spoor 2012. Jadi bisa dibilang, Djeladjah Djaloer Spoor edisi 2013 Setjang - Tjandi Oemboel ini punya sensasi dan tantangan tersendiri.



Minggu, 9 Juni 2013. Di Hari inilah pelaksanaan event Djeladjah Djaloer Spoor 2013 Setjang - Tjandi Oemboel dilaksanakan. Tepat jam setengah tujuh pagi, saya sudah bersiap untuk berangkat mengikuti Djeladjah Djaloer Spoor. Sebenarnya saya ingin mengajak seorang kawan dari Jogja yang merupakan seorang Railfans, namun apa lacur, dia ada keperluan, sehingga terpaksa tak bisa ikut. Akhirnya, saya berangkat dengan kawan satu kampung yang alhamdulilah bisa saya bujuk untuk ikut bersama saya.

Kami berangkat menggunakan angkot dari rumah menuju ke Monumen Monumen A Yani Taman Badaan, Magelang yang merupakan tempat berkumpulnya para peserta Djeladjah Djaloer Spoor. Sesampainya di sana, nampak sudah datang beberapa orang, termasuk sang komandang Kang Bagus Priyana, juga asisten-nya Pakdhe Woto yang juga merupakan salah satu tetangga desa namun beda dusun.

Kami berdua langsung melakukan registrasi ulang dan membayar uang kontribusi sebesar 15.000 rupiah. Kami kemudian diberi sebuah poster berisi tentang summary dunia perkeretaapian Jawa Tengah di jaman dulu dan sekarang.

Sambil menunggu peserta lain datang, Saya, Mas Deki (kawan saya yang berhasil saya bujuk untuk ikut), juga Pakdhe Woto berbincang ringan seputar pembangunan masjid di kampung kami yang memang sedang menjadi agenda kampung, Sesekali kami juga menyapa peserta lain yang sudah datang sambil berkenalan untuk mengakrabkan diri.




Total peserta trekking tour Djeladjah Djaloer Spoor ini ada 39 peserta, termasuk diantaranya berasal dari komunitas Magelang Android Community. Sebagian besar peserta berasal dari Magelang, sedangkan peserta lain yang dari luar Magelang berasal dari Semarang, Solo, dan Yogyakarta. Dari kampung saya sendiri total ada 3 Orang.

Tepat jam 8 pagi, akhirnya semua peserta sudah berkumpul di Monumen A Yani Taman Badaan. Kang Bagus Priyana sebagai kooordinator acara kemudian memberikan penjelasan dan pengarahan sebelum berangkat ke Spot Pertama Eks Stasiun Secang. Dan setelah berdoa dan berfoto bersama, akhirnya kami para peserta berangkat ke Eks Stasiun Secang dengan menggunakan 3 angkutan Carteran setelah sebelumnya para peserta yang datang menggunakan motor diminta untuk menitipkan motornya di sebuah arena Futsal tak jauh dari Monumen Monumen A Yani Taman Badaan.



Pukul 9 pagi, kami sampai di Eks Stasiun Secang. Stasiun yang sudah tak beroperasi ini terletak di Dusun Krajan, Secang. Kang Bagus Priyana menjelaskan bahwa stasiun ini merupakan salah satu bagian dari proyek pembangunan jalur kereta senilai 350 ribu gulden dengan rute Ambarawa – Secang – Parakan, dan Secang – Magelang yang dibangun oleh Pemborong bernama Ho Tjong An, seorang Insinyur kelahiran Tungkwan, Canton tahun 1841 yang dipercaya oleh Belanda untuk membangun jalur baru setelah aktifnya jalur Semarang – Kedungjati – Ambarawa.




Kendatipun tergolong sebagai stasiun kecil, namun eks stasiun Secang ini dulunya adalah salah satu stasiun penting dan sentral, bahkan stasiun Kota Magelang pun kalah penting. Hal ini karena Stasiun Secang ini dulu merupakan stasiun yang melayani perlintasan rute trisula, yaitu Temanggung - Parakan, Ambarawa _ Semarang, dan Magelang - Jogja. Hal ini terbukti dengan banyaknya ruas rel (5 ruas) yang ada di stasiun secang, dimana dalam dunia perkeretaapian, semakin banyak jumlah ruas rel kereta di sebuah stasiun, maka semakin sentral pula fungsi stasiun tersebut.





Di Stasiun ini, kita para peserta punya waktu sekitar 15 menit untuk mengamati dan melihat-lihat sisa-sisa kejayaan stasiun ini. Dan setelah berfoto bersama, kita semua kembali melanjutkan perjalanan.



Dari Eks stasiun secang, kita berjalan menyusuri bekas lintasan kereta di kampung krajan dan sempat juga melewati pasar ternak krajan yang kebetulan sedang ramai-ramainya. Riuh dengan segala jenis transaksi ternak terutama bebek dan entok.



Setelah melewati jalan raya, peserta kemudian menyusuri kampung krajan yang merupakan medan pertama dalam petualangan Djeladjah Djaloer Spoor kali ini. Di Kampung ini, terlihat jelas bahwa bekas rel telah banyak ditutup dengan semen untuk dijadikan sebagai jalan umum.




Keluar dari perkampungan, para peserta langsung dihadapkan pada medan persawahan kampung Krajan. Sejak itulah kemudian rute penjelajahan didominasi oleh rute persawahan dan alas.



Dari persawahan Kampung Krajan, berurut-turut kita melewati area persawahan Dusun Ngloji, Dusun Selurah Krincing, dan Dusun Bangsren. Di area persawahan tiga dusun tersebut itulah rute persawahan maupun alas menjadi rute yang dominan.




Di sepanjang rute persawahan ini, bisa dilihat bekas bekas rel yang sudah tertimbun sawah maupun tegalan. Namun di beberapa titik, rel-rel tersebut bisa terlihat dengan jelas, terlebih di beberapa titik jembatan.




Di sepanjang rute ini pulalah kita disuguhi dengan pemandangan alam persawahan yang sangat indah, hal itu makin diperlengkap dengan suasana panen yang seakan menyambut kedatangan kami para rombongan tour Magelang Kota Tua. Pokoknya istilah italia-nya, "Perfecto Mas Bero".



Medan persawahan yang licin dan becek sedikit banyak agak menguras tenaga dan juga konsentrasi peserta. Jika-tak hati-hati dalam melangkah dan memperhatikan jalan, maka jatuh adalah sebuah keniscayaan. Dan benar saja, sepanjang rute persawahan Ngloji - Selurag - Bangsren ini, tercatat beberapa kali ada peserta yang terjatuh maupun terpelesat yang kemudian mengundang gelak tawa peserta lain, bahkan istri Kang Andreas Hartono terpaksa merelakan satu pasang sandalnya karena putus akibat terpeleset di tegalan sawah, Duh bu, sing sabar nggih, hehehe.



Di Penghujung rute persawahan Dusun Bangsren, kita akan melewati jembatan Elo yang cukup panjang, jembatan ini menghubungkan Kampung Bangsren dengan kampung Kalikuto yang terletak di seberang sungai. Pemandangan di sekitar jembatan ini cukup indah, karena merupakan perpaduan yang pas antara persawahan dengan sungai berbatu. Tak heran jika kemudian banyak peserta yang mengabadikan momen di jembatan ini (halah, omong wae narsis ju).




Tak jauh dari jembatan ini kali elo ini, terdapat sebuah jembatan perlintasan kereta api yang sudah tak digunakan lagi. Di jembatan perlintasan ini, para peserta diijinkan untuk mengambil foto juga sekalian untuk istirahat. Kang bagus Priyana juga mengijinkan para peserta untuk melewati jembatan perlintasan kereta, namun dengan catatan, peserta harus berhati-hati, dan resiko juga ditanggung sendiri.



Ijin dari kang Bagus Priyana yang disertai dengan sedikit peringatan ini agaknya membuat ciut nyali para peserta untuk berani melintasi jembatan. Karena nyatanya, tercatat hanya 3 peserta yang berani melintasi jembatan dan mengambil foto di tengah-tengah jembatan, sedangkan peserta lainnya hanya berani berpose di tepian jembatan, termasuk saya, hehehe *maaf, saya bukannya ndak berani lho, cuman males aja (alesan ndes).



Setelah beristirahat barang sepeminuman kopi di sebuah rumah tak jauh dari jembatan, kami kemudian kembali melanjutkan perjalanan. Dan Rute penjelahan selanjutnya masih tetap area persawahan.

Area persawahan selepas jembatan adalah area persawahan luas yang berada di antara dusun Pangonan dan Kalikuto. Di area persawahan ini, kami masih tetap disuguhi dengan pemandangan panenan padi, maklum saja, memang lagi musimnya panen (padahal yo ngepasi, hehehe #diar we).



Di rute sekitar area persawahan setelah jembatan inilah terdapat sebuah reruntuhan stopplats kereta (sejenis halte) Brangkal, namun sayang, saya tak melihatnya, karena katanya posisi haltenya berada di balik bukit kecil dan juga bangunannya tertutup semak belukar.

Lanjut ke medan berikutnya adalah persawahan dusun Ngencek, rombongan sampai di medan ini tepat pada waktu dzuhur. Di lokasi inilah, hujan perlahan mulai turun, sehingga para peserta kemudian meneruskan perjalanan dengan menggunakan mantol atau payung yang dibawa peserta masing-masing. Beberapa peserta yang kebetulan tidak membawa payung atau mantol punya inisiatif menggunakan daun pisang sebagai payung (Welha, memory daun pisang ndes!).




Hujan yang turun membuat medan perlahan semakin licin dan sulit, sehingga para peserta wajib berhati-hati agar tidak terperosok ke dalam lembah hitam sawah. Tapi apadaya, masih saja ada beberapa peserta yang keblunyuk kepleset njebur sawah. Yah itulah, manusia hanya bisa berkehendak dan berusaha untuk berhati-hati, namun Alloh SWT jua yang menentukan kaum mana yang harus selamet, dan kaum mana yang harus terpeleset *walah bosone.

Dari dusun Ngencek, dilanjut sampai dusun Kali Bendokidul. Barulah setelah berjalan sekitar setengah jam dari area persawahan kali Bendo Kidul, akhirnya para peserta sampai di bekas Stasiun Candi Umbul yang terletak di Desa Kartoharjo, Kecamatan Grabag.




Stasiun candi Umbul ini terdiri dari dua bangunan. Jaraknya hanya sekitar 50 meter dari situs pemandian air panas Candi Umbul. Pembangunan stasiun di dekat Candi Umbul oleh Belanda ini sebenarnya bukan tanpa alasan, karena usut punya usut, ternyata pemandian air panas Candi umbul sudah ditemukan dan dieksplorasi sebagai tempat wisata pemandian air panas sejak Jaman Belanda. Yang mana saat itu, banyak Meneer-mener, Sinyo-sinyo, dan Noni-noni belanda yang suka mandi ke pemandian ini, maka tak heran jika kemudian Belanda membangun stasiun kecil di sekitar tempat pemandian air panas Candi Umbul.

Di pelataran stasiun ini, para peserta diperbolehkan beritirahat sebentar sekedar melepas lelah. Kaki sayapun langsung saya selojorkan, dan, Hhh, rasanya nikmat sekali, rasanya seakan hilang rasa pegal di kaki walau barang sejenak sebelum kembali berjalan beberapa puluh meter lagi menuju ke tempat pemandian air panas Candi Umbul.



Dari reruntuhan Stasiun candi Umbul, para peserta berjalan sekitar 10 menit menuju candi Umbul dengan memutar lewat pemukiman warga. Tapi tentu saja, sebelumnya kita semua berfoto-foto terlebih dahulu, tak terkecuali saya sendiri. Lha wong rasanya kurang Etis kalau belum Narsis.

Setelah semua peserta berkumpul di depan gerbang situs pemandian air panas Candi Umbul. Mas Bagus pun kemudian memimpin briefing sejenak sambil memberikan penjelasan mengenati tata cara masuk dan pembayaran tiket. Setelah itu, para peserta pun langsung masuk ke situs pemandian air panas Candi umbul.



Tiket masuk situs peninggalan cagar budaya ini adalah 3.300 rupiah per orang, namun karena kami rombongan (dan sudah dinegosiasikan), maka kami hanya perlu membayar 3.000 rupiah per orang *lumayan, sing 300 iso ge ngisi jimpitan. Itupun kita hanya perlu mengeluarkan uang 2.000 rupiah, karena kekurangan 1.000 per orang diambilkan dari uang kontribusi yang kita bayarkan di awal.

Sesampainya di pelataran Candi Umbul, musik dangdut koplo (mbuh Monata po Sera, aku ra patio eling) sudah menghadang kami, ketukan gendang yang menghentak sedikit banyak telah mampu membuat sbadan saya agak meriang penuh hasrat untuk bergoyang, Asolole Joss.




Karena hari ini hari minggu, jadi area pemandian terlihat sangat ramai, kolam pemandian air panas candi umbul terdiri dari dua kolam, saya tak tahu apa bedanya dua kolam ini, tapi yang jelas, satu kolam terisi penuh dengan orang mandi, sedangkan kolam lainnnya hanya terisi 3 orang, itupun yang dua anak-anak, dan yang satu simbok-simbok.




Para peserta Djeladjah Djaloer Spoor : Setjang - Tjandi Oemboel pun langsung menempatkan diri, ada yang mau bener-bener mandi, tapi tak sedikit pula yang hanya mau nunut ngenclup kaki demi merasakan angetnya air di pemandian Candi Umbul, dan saya termasuk golongan kaum yang kedua.

Kami semua para peserta tur Djeladjah Djaloer Spoor kali ini terlihat sangat menikmati kehangatan air di pemandian candi umbul. Basuhan air hangat yang membasahi kaki seakan mampu menghilangkan lelah dan penat yang kami rasakan setelah menelusuri perjalanan sejauh 8 kilometer. Rileks.





Setelah sekitar 1 jam para peserta menikmati Pemandian Air panas Candi Umbul, tibalah saatnya kita harus pulang, karena mobil jemputan sudah menunggu kami di luar.

Sebelum pulang, dalam penutupannya, mas Bagus Priyana selaku perwakilan pelaksana meyampaikan terima kasih kepada seluruh peserta Djeladjah Djaloer Spoor kali ini, tak lupa beliau juga mempersilahkan para peserta untuk memberikan saran maupun masukan untuk acara penjelajahan yang berikutnya yang rancananya akan dilaksanakan sebelum lebaran tahun ini, yaitu jelajah Plengkung.



Akhirnya, setelah ditutup dengan doa, para pesertapun kembali pulang menggunakan angkot carteran. kami semua turun di lokasi Futsal tempat para peserta menitipkan sepeda motornya, untuk selanjutnya pulang ke rumah-masing-masing baik yang menggunakan motor maupun yang menggunakan angkot. Berpisah jua pada akhirnya.

Yah, semoga ke depannya, acara djeladjah semacam ini semakin banyak pesertanya dan semakin asyik kegiatannya. Maju terus Kota Toea Magelang.

NB : Reportase perdjalanan Djeladjah Djaloer Spoor : Setjang - Tjandi Oemboel ini saja boeat berdasarkan ingatan dan sepengetahoean saja semata selama mengikuti Djeladjah Djaloer Spoor ini. Djika dalam saja menjampaiken reportase ini ada kesalahan, baik penoelisan, kesalahan nama tempat, atau jang lainnja, mohon oentoek bisa dikoreksi dengan memberikan komentar pada postingan ini. terima kasih.

Sumber foto : Dokumentasi Pribadi




Buku Agus Mulyadi

14 comments :

  1. Mantep Gus, aku sing gak melu wae dadi duwe bayangan koyo opo suasanane. Taun Ngarep menyang arah Muntilan koyone apik, durung tau jelajah jalur kereta arah ngidul...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Lha mugo2 wae ngono, tapi ketoke sing tahun sesok malah jelajah'e ng bedono mbahrowo... tapi yo mbuh sih, maslahe mung gek wacana. lagian bedono ki ketoke lak ora melu magelang tho?

      Delete
  2. sing paling mantep tur legendaris justru poto sepatu sing slonjor kuwi dab....jan kaos kakine ora nguwati dab!

    ReplyDelete
    Replies
    1. Pengin nggo sendal gunung, tapi ra nduwe. Nek nggo sendal suwalo ndak ketok ndesone, hehehe...

      Delete
  3. Sumpah, postingane dawaa bangeet. . :D
    Tapi aku suka, jadi tahu ada stasiun di situ. Ke sawah2 mbarang ya? KEreen lah Djeladjahnya. Apalagi yang punya memori pakai daun pisang. :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Lha kolo2 to mbakyu, biasane postingan'e cendek, saiki tak gawe sing dowo. Walah, le nulis djeladjah kok melu-melu nggo ejaan lama.... hehehe

      Delete
  4. mas agus kalo bisa ojo moeng djeladjah djaloer sepoer thok.. tapi gimana agar di kemoedian hari kota magelang dan oemoemnja kaboepaten magelang iso menghidoepkan kembali transportasi massal sepoer itoe... dan itoe jd peER boeat kawoela mouda kyk mas agus..

    ReplyDelete
  5. Sekedar usul, baiknya tiap foto ada sedikit keterangan singkat mengenai foto, sekedar sbg preview dari ulasan panjang lebar mengenainya. Salam kenal.

    ReplyDelete
  6. Biadalahhh...
    Stasiun Secang kuwi cedhak omahku, gus ...
    Ning ora persis sih... Soale, sekitare stasiun kuwi ono banci ewer-ewerrr...
    Koe slamet tho gus? Wkwkwkwk

    Koe nek dolan secang maneh, I'm very happy if you can visit my house...

    Btw, nek koe dolan Jogja, nek ketemu tak traktir es degan wes... wkwkwkwk

    ReplyDelete
  7. mas kalau mau ikut acara gituan gimana ya.
    saya ada rencana mau buat tulisan mengenai jalur mati kereta api di jateng.
    mohon infonya
    cp: 085 725 571 790

    ReplyDelete
  8. Gus, jelajah 2014 apakah sudah diadakan?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sudah mas, beberapa waktu yang lalu, start dari stasiun Bedono, dan finish di Candi umbul lagi..

      Delete
  9. mas apakah ada kenalan atau kontak komunitas serupa dijogjakara ?. saya pernah mendengar komunitas rumah tua tetapi tidak berhasil menemukannya.
    terimaksih

    ReplyDelete
  10. Komunitas seru habis ini, jalan bareng-bareng asyik ya

    ReplyDelete

Tentang Saya

Saya Agus Mulyadi, biasa dipanggil Gus Mul (bukan lulusan pesantren seperti Gus Dur, Gus Muh, maupun Gus Mus. Gus Mul hanya akronim dari nama saya). Blogger dan Freelance Layouter. Kini berusia 24 tahun. Aktif di Karang Taruna dan Komunitas Blogger Magelang Pendekar Tidar. Profil lebih lengkap, Lihat Disini

Tambahkan saya di Google+

 
Copyright © 2010 Agus Mulyadi Blog , All rights reserved
Design by DZignine . Powered by Blogger