Menikmati Mangkunegaran Performing Art 2013

| Friday, 7 June 2013 |

Bagi saya, menikmati pertunjukan tari Jawa sudah merupakan hal yang biasa, bahkan jika dihitung, mungkin sudah berpuluh-puluh kali, maklum saja, dulu sewaktu bapak saya masih aktif sebagai pemain ketoprak, saya sering diajak untuk ikut mentas, dimana dalam setiap pementasan ketopraknya, selalu diselingi dengan pertunjukan tari jawa yang dibawakan oleh sanggar tari yang juga masih berafiliasi dengan sanggar ketoprak tempat bapak saya bernaung dulu. Tapi, kalau menikmati pertunjukkan tari khas Jawa yang dibawakan langsung oleh penari-penari ber-trah kebangsawanan, rasa-rasanya baru kali ini saya bisa merasakan. Dan itu terjadi dalam gelaran Mangkunegaran Performing Art 2013 yang dihelat beberapa waktu yang lalu di Surakarta.

Mangkunegaran Performing Art 2013 (juga dikenal sebagai Mangkunegaran Art Festival) adalah pertunjukan kesenian tari dan seni lainnya karya Trah Mangkunegaran, dan berlangsung di Pendopo Ageng Pura Mangkunegaran. Even ini merupakan agenda hasil kerjasama pemerintah kota Surakarta dengan Kerabat Keraton Mangkunegaran. Adapun tujuan diselenggarakannya acara ini adalah untuk melestarikan aset budaya kreasi Pura Mangkunegaran dan juga untuk menarik para wisatawan agar tertarik untuk berkunjung dan berwisata ke Surakarta.

Mangkunegaraan Performing Art 2013 sendiri diselenggarakan selama dua hari, yakni pada hari jumat dan sabtu tanggal 10 dan 11 Mei 2013.

Banner Mangkunegaran Performing Art 2013 yang terpasang di tepi ruas Jalan Diponegoro

Kesempatan untuk menyaksikan gelaran Mangkunegaran Performing Art 2013 beberapa waktu yang lalu itu datang seiring dengan digelarnya acara ASEAN Bloger Festival 2013 di Solo, dimana salah satu agenda-nya adalah melihat pertunjukan tari dalam Mangkunegaran Performing Art 2013 ini. Wah, benar-benar gayung yang bersambut.

Jumat, 10 Mei 2013. ba'da Isya. Saya dan bersama para rombongan peserta ASEAN Blogger Festival berangkat dari Hotel Sahid Jaya tempat kami menginap menuju pura Mangkunegaraan yang merupakan venue berlangsungnya Mangkunegaran Performing Art 2013. Jarak antara Hotel Sahid Jaya dengan Pura Mangkunegaran memang cukup dekat, sehingga kami para peserta pun tak enggan untuk berjalan kaki menuju pura Mangkunegaraan.

Pendopo Agung pura Mangkunegaran, tempat berlangsungnya Mangkunegaran Performing Art

Sekitar sepeminuman kopi kami berjalan, akhirnya sampai juga kami di Pura Mangkunegaraan. Masing-masing kami kemudian berpencar untuk mencari tempat yang dirasa cocok. Kebetulan pagelaran tari belum dimulai, sehingga kami semua masih punya cukup waktu untuk mencari tempat di sekitaran pura Mangkunegaran yang dianggap mempunyai view yang bagus untuk melihat pertunjukan.

Beberapa saat setelah mengelilingi area pendopo, akhirnya Saya, bersama Kang Nanang dan Kang Ivan (peserta lain yang sama-sama berasal dari magelang) memilih untuk melihat pagelaran tari dari sisi timur pendopo agung Mangkunegaran, karena menurut kami, sisi timur pendopo ini mempunyai view yang cukup bagus untuk melihat pertunjukan dan juga untuk mengambil foto penampil tari lengkap dengan background penabuh gamelannya.

Saya, Kang Nanang, dan Kang Ivan di dekat pendopo agung pura Mangkunegaran

Oh ya, sebagai informasi, selama gelaran Mangkunegaran Performing Art 2013 ini, akan ditambilkan 8 tarian Mangkunegaraan yang mana semuanya akan dibawakan oleh para penari dari Sanggar Tari Surya Sumira. 4 tarian akan ditampilkan pada hari pertama, sedangkan 4 tarian sisanya akan ditampilkan di hari kedua.

Oke, lanjut ke cerita.

Sekitar jam 8 malam, acara pun dimulai. Acara diawali dengan sambutan dari Wakil Walikota, Achmad Purnomo, dan juga dari Kerabat keraton Mangkunegaran yang diwakili oleh KRMH Jatmika Hamijaya Santosa.

Dalam sambutannya, KRMH Jatmika Hamijaya Santosa mengharapkan agar Mangkunegaran Performing Art ini bisa menjadi jembatan bagi masyarakat untuk lebih mengenal kesenian Mangkunegaran khususnya seni tari, sehingga kedepannya, seni Mangkunegaran bisa dilestarikan, dikembangkan, dan bisa dinikmati sepanjang masa.

Beberapa saat setelah semua sambutan disampaikan, akhirnya tibalah pertunjukan tari yang telah ditunggu-tunggu. Tarian pertama yang menjadi pembuka Mangkunegaran Performing Arts (MPA) 2013 hari pertama ini adalah Tari Golek Sukoreno.

Tari ini dibawakan oleh sembilan remaja putri yang mengenakan pakaian tradisional jawa lengkap dengan selendang dan jaritnya, mereka nampak begitu anggun dan manis, sangat sejalan dengan Tari Golek Sukoreno yang memang menceritakan tentang kehidupan gadis-gadis yang beranjak dewasa yang suka bersolek dan merias diri.

Para Gadis penari itu mula-mula bersiap di sisi tepi barat pendopo, dan begitu iringan gamelan dibunyikan, langsung saja kesembilan penari nan cantik ini maju perlahan ke tengah pendopo dan langsung membentuk formasi untuk kemudian membawakan tari Golek Sukoreno yang sarat dengan gerakan nan pelan lagi gemulai. Gerakan cepat mungkin hanya terlihat saat mereka menyibakkan selendang dengan tangannya atau jarit yang memang sengaja dibuat panjang terurai dengan kakinya. Istilah Putri Solo yang sangat identik dengan gerak lambat, lembut, dan gemulai sangat terwakilkan oleh tari ini.

Para Gadis ber-trah Mangkunegaran membawakan tari Golek Sukoreno

Tari kedua yang ditampilkan dalam Mangkunegaran Performing Art 2013 adalah Tari Kupu, berbeda dengan tari yang pertama, yaitu tari Golek Sukoreno yang lemah lembut dan gemulai serta dibawakan oleh gadis-gadis remaja, tari Kupu ini justru mengusung irama gamelan dengan beat yang cepat, hal ini karena tari kupu dibawakan oleh anak-anak, sehingga agar cocok dengan suasana anak-anak yang aktif dan ceria, maka iramanya juga harus cepat.

Para penari cilik yang membawakan tari Kupu ini menggunakan busana yang cantik lagi berwarna-warni, dan sesuai dengan tarinya, yaitu tari kupu, maka setiap penari mengenakan hiasan sayap kupu beraneka rupa. Pemandangan ini membuat tari Kupu menjadi sangat meriah. Ditambah dengan gerakan-gerakan lucu para penari cilik yang kerap bikin gemas, sehingga beberapa kali terdengar gelak tawa dari para penonton yang geli melihat para penari cilik itu membawakan gerak rampak tari kupu.

Dengan busana yang meriah, Anak-anak membawakan tari kupu dengan lincah

Selesai tari kupu, tari ketiga langsung menyusul beberapa saat sesudahnya. Tari ketiga ini adalah Tari Sobrak, yang mana tari ini merupakan perpaduan antara tari Soreng, Bareng, dan Dolalak. Tari ini dikreasikan oleh almarhum GPH Herwasto Kusumo yang telah berpulang setahun yang lalu, almarhum adalah kerabat keraton yang merupakan adik dari KGPAA Sri Mangkunagoro IX. Karena itulah sebelum tarian ini dibawakan, beberapa kerabat keraton nampak hening mendoakan almarhum, bahkan beberapa kerabat keraton ada yang meneteskan air mata karena teringat dengan almarhum yang lebih akrab dipanggil dengan panggilan Gusti Heru tersebut.

Melihat kostum para penari Sobrak ini, saya awalnya mengira ini adalah tari sufi, karena para penari memakai penutup kepala panjang yang sering dipakai oleh penari hadrah yang membawakan tari sufi. Namun begitu melihat gerakan tariannya, hilang sudah semua bayangan tentang sufi yang sempat terlintas di kepala saya.

Gerakan tari Sobrak ini persis sedikit banyak nampak seperti gerakan tari kobro siswo, yang lebih banyak mengandalkan gerakan tangan dengan rancak kaki yang menghentak. benar-benar mengesankan, ditambah lagi dengan iringan cepat gamelan yang mengiringi tari ini, membuat atmosfer tari Sobrak penuh dengan keramaian. Kelucuan pun sempat timbul di tengah tarian tatkala para penari mengenakan kaca mata hitam bak seorang detektif. hal ini tak pelak mengundang gelak tawa para penonton, tak terkecuali saya. Dan tawa saya semakin pecah saat ada seorang penari yang cukup gendut memperlihatkan gerakan tarian yang lucu, sumpah, saat itu saya tak mampu menahan tawa saya. Dan saya akui, Tari Sobrak ini adalah tari yang paling menarik sejauh ini dalam gelaran Mangkunegaran Performing Art 2013 di hari pertama.

Tari Sobrak, hasil perpaduan antara tari Soreng, Bareng, dan Dolalak

Dan agaknya, penonton yang lain pun sependapat dengan saya, hal ini dibuktikan dengan riuhnya tepuk tangan penonton saat para penari Sobrak ini turun dari pendopo.

Pada Tari keempat sekaligus terakhir di Mangkunegaran Performing Art 2013 hari pertama, ada sedikit sesuatu yang berbeda, karena yang ditampilkan adalah bukan murni tarian, melainkan perpaduan tari dengan operet bertajuk Opera Anak Timun Mas. Di tengah-tengah pertunjukkan operet ini, saya dan Kang Nanang meninggalkan arena pendopo untuk membeli sedikit cemilan untuk dimakan bersama, namun begitu kami kembali ke pendopo, ternyata sudah tak ada tempat untuk menyelinap di balik kerumunan penonton. Jadinya kami berdua menonton operet timun mas di pelataran pura melalui layar tancap yang dipasang di depan pendopo. Sambil menonton, kami berdua asyik berbincang seputar arsitektur bangunan Pura Mangkunegaraan, saking asyiknya hingga tanpa terasa gelaran Mangkunegaran Performing Art 2013 hari pertama ini usai. Kamipun segera berkemas dan kemudian kembali lagi ke hotel untuk berisitirahat agar kami bisa fit mengikuti kegiatan ASEAN Blogger festival esok harinya.

Malam berikutnya, sekitar jam 8 malam, agenda kegiatan ASEAN Blogger Festival sebenarnya adalah berkeliling kota Solo menggunakan bus tingkat Werkudara, Namun saya bersama Kang Nanang lebih memilih untuk kembali menyaksikan Mangkunegaran Performing Art. Maka setelah ijin dengan panitia ASEAN Blogger Festival, kamipun segera bertolak ke Pura Mangkunegaraan, dan lagi-lagi, Jalan Kaki. Hidup Pejalan Kaki, Karena Tuhan bersama para pejalan kaki.

Di Hari kedua ini, rencananya bakal ditampilkan tari Bedhoyo Bedah Madiun, tari Harjuna Newata Kawaca, tari Mandrarini, dan Fregmen Tari Topeng Sekar Taji.

Tari pertama yang membuka acara Mangkunegaran Performing Art 2013 hari kedua ini adalah tari Bedhoyo Bedah Madiun, yang mana tari ini menceritakan tentang pertempuran antara Raja Mataram Panembahan Senopati dengan penguasa Madiun, Retno Dumilah.

Tari kedua yang ditampilkan adalah Tari Harjuna Newata Kawaca. tari ini menceritakan tentang pertempuran Raden Arjuna melawan Prabu Newata Kawaca yang berwujud Buto raksasa. Dalam tari ini, kedua penari yang masing-masing berperan sebagai Raden Arjuna dan Prabu Newata Kawaca memperagakan gerakan-gerakan tari yang lembut lagi pelan namun sesekali diselingi dengan adegan gebuk-gebukan keras menggunakan gaman (senjata) masing-masing. Saking kerasnya adegan gebuk-gebukan antara keduanya, sampai-sampai properti wadah panah milik Raden Arjuna sampai terlepas.

Pertempuran antara Arjuna dengan Newata Kawaca dalam tari Harjuna Newata Kawaca

Untuk tari ketiga dan selanjutnya, saya kurang begitu mengamati, karena selama petunjukkan tari ketiga dan tari keempat itu berlangsung, Saya bersama mas nanang justru sibuk menghabiskan waktu di balik pendopo ketimbang menyaksikan langsung pertunjukkan tari. Alasannya satu, karena saya dari awal memang berniat untuk bisa berfoto dengan para penari Solo yang terkenal cantik dan manis itu. Namun sial bagi saya, karena ternyata untuk bisa berfoto dengan para penari wanita itu kita harus ngantri, karena banyak penonton lain yang juga ingin berfoto bersama dengan para penari (Padahal karena ndak berani bilang sama penarinya, hehehe).

Jadinya saya berfoto dengan para penari Adam alias penari pria (ndak papa lah, daripada tidak sama sekali, hehehe #pelampiasan).

Berfoto bersama pemeran Raden Arjuna dan Prabu Newata Kawaca sesaat sebelum mentas

Tapi beruntung bagi saya, setidaknya saya sempat mengambil foto para penari wanita, yah, walaupun saya tidak bisa berpose dengan mereka. Mungkin memang belum jodoh kali ya.


Potret keayuan para penari Solo ber-trah Mangkunegaran, hati siapa yang tak tergoda?

Setelah puas mengambil foto, kami akhirnya bersantai dan berbincang di pelataran pura sambil menikmati hidangan tahu tempe goreng dan es beras kencur yang sengaja kami beli di pedagang makanan di samping barat pendopo. kali ini, kami berbincang panjang lebar tentang asal-usul suku jawa.


Tempe Tahu goreng dan bacem, plus Es kunir asem atau beras kencur, Mangkunegaran punya

Di tengah-tengah pebincangan, kang Ivan Purnawan tiba-tiba menghampiri kami dan kemudian ikut nimbrung dalam perbincangan, usut punya usut, kang Ivan ini ternyata juga tidak ikut berkeliling kota solo dengan bus tingkat Werkudara, dan dia memutuskan untuk menyusul kami berdua di pura Mangkunegaran dengan mengendarai sepeda onthel hasil minjem dari Hotel. Kami bertiga pun kemudian asyik dan tenggelam dalam perbincangan ngalor-ngidul ngetan-ngulon sampai berakhirnya pagelaran tari Mangkunegaran Performing Art 2013 hari kedua.

Dan sebelum kami pulang ke hotel, rasanya tak lengkap bila kami tidak berfoto dengan background Pura Mangkunegaraan. Akhirnya dengan properti sepeda onthel yang dibawa Kang Ivan, Kami bertiga pun kemudian berpose untuk mengabadikan momen langka ini.

Berfoto di depan pura Mangkunegaran dengan properti sepeda onthel pinjaman

Sekitar jam setengah 11 malam, begitu acara usai dan kami selesai berfoto ria, kami langsung kembali ke hotel untuk beristirahat agar bisa melanjutkan agenda ASEAN Blogger festival hari berikutnya.

Hhh, sungguh pengalaman Menikmati Mangkunegaran Performing Art 2013 yang tak akan pernah terlupakan. Semoga saya bisa kembali menikmati even ini di tahun berikutnya. Aamiin.

Sumber gambar :
Jepretan Sendiri, Kang Nanang, Ivan Purnawan, dan Metrotvnews.com

Support by :
http://4.bp.blogspot.com/-g1G082Ts8n4/T8_nxpG-jyI/AAAAAAAAA1w/aIbrolDn4Rg/s560/cropped-pegipegi.png




Buku Agus Mulyadi

9 comments :

  1. Bengi kae ora melu numpak bis tingkat abang sik celukane "Wrekudoro" ora popo, nanging isih iso pit-pitan mubeng mangkunegaran, muter-muter golek angin lan kucingan kanggo ganjel weteng ngelih.

    ReplyDelete
    Replies
    1. sing penting iso tenguk-tenguk ng mangkunegaran tho....

      Delete
  2. lengkap pak bos.... goodluck ae... bawa pulang kupu-kupunya satu harus e

    ReplyDelete
    Replies
    1. wah, penginnya sih bawa yg penari golek sukoreno, bukan yang penari kupu.... hehe

      Delete
    2. Pas pisan karo Header e.. Agus Mulyadi Njalok Rabi..hehehe

      Delete
  3. tak kiro meh crito sing ora bisa nyanding kae....

    ReplyDelete
    Replies
    1. Waduh, nek sing kuwi keri kang... hehe

      Delete
  4. Yen tak sawang sawang.... kaose sampeyan kegedean mas, opo kui kaose kancamu..

    ReplyDelete

Tentang Saya

Saya Agus Mulyadi, biasa dipanggil Gus Mul (bukan lulusan pesantren seperti Gus Dur, Gus Muh, maupun Gus Mus. Gus Mul hanya akronim dari nama saya). Blogger dan Freelance Layouter. Kini berusia 24 tahun. Aktif di Karang Taruna dan Komunitas Blogger Magelang Pendekar Tidar. Profil lebih lengkap, Lihat Disini

Tambahkan saya di Google+

 
Copyright © 2010 Agus Mulyadi Blog , All rights reserved
Design by DZignine . Powered by Blogger