Sayur Kulit Melinjo

| Tuesday, 27 May 2014 |

Saya ingat, dulu saya pernah dicibir sebagai bocah koclok karena lebih memilih sayur kulit melinjo ketimbang opor ayam. Cibiran yang sama sekali tidak mengubah pendirian saya, karena hingga saat ini pun, saya masih tetap memilih sayur kulit melinjo ketimbang opor ayam.

Saya tak ingin berdebat tentang hal ini, karena berdebat soal makanan tentulah debat yang maha kusir, karena jika sudah menyangkut urusan selera, maka tak ada argumen yang bisa mematahkannya.

18 Tahun lalu, atau tepatnya sewaktu saya masih TK, saya diperkenalkan pertama kalinya dengan sayur ini. Saya ingat betul, waktu itu ibu saya memasakkan saya sayur krecek tolo dengan campuran sedikit kulit melinjo. Waktu itu saya belum ngeh kalau ternyata kulit melinjo bisa diolah sebagai campuran sayur, karena sebelumnya, saya tahunya kulit melinjo hanya bisa diolah menjadi keripik.

Setelah disantap, barulah saya sadar bahwa ternyata kulit melinjo tersebut rasanya justru lebih enak ketimbang krecek atau tolo-nya. Maka selanjutnya, setiap kali ibu ingin memasak sayur krecek tolo, saya selalu meminta agar porsi campuran kulit melinjo-nya ditambah lebih banyak.

Lambat laun, ibu saya pun sadar kalau saya sudah keranjingan kulit melinjo. Maka, sebagai ibu yang pengertian, Ibu saya pun kemudian mencoba memasakkan saya sayur kulit melinjo, kali ini bukan sebagai campuran sayur krecek tolo, melainkan sebagai sayur utama. Sayur mandiri, sayur yang tak tergantung pada sayur lain, halah.

Hasilnya tentu bisa ditebak, sayur melinjo buatan ibu saya habis oleh saya seorang. Saya sampai nambah dua kali. piringpun licin tandas. sebagian saya santap bersama nasi, sebagian saya gado.

Sayur kulit melinjo

Bapak saya adalah orang yang paling susah kalau ibu saya memasak sayur kulit melinjo, karena berkebalikan dengan saya, bapak sangat tidak menyukai sayur ini, kata bapak, sayur kulit melinjo itu rasanya kesat di tenggorokan. Jadi setiap kali ibu memasak sayur kulit melinjo, bapak harus rela berkorban dengan hanya memakan nasi dicampur kuah sayur kulit melinjo-nya.

Dan kabar buruknya, Ibu nampaknya lebih mencintai saya ketimbang suaminya. Terbukti walaupun bapak saya sering protes, ibu tetap saja sering memasak sayur kulit melinjo ini. Tentu untuk anak lelaki tercintanya.

"Patrun meneh, patrun meneh, ngasi bosen!", begitu gerutu bapak tiap kali ibu saya memasak sayur laknat ini.

Bapak memang lebih senang menyebut sayur kulit melinjo sebagai sayur Patrun alias selongsong peluru. Maklum saja, karena bentuk sayur ini memang seperti pelor, lebih tepatnya kaliber enam lima.

Pagi ini, ibu kembali memasak sayur kulit melinjo.

Sayur kulit melinjo

Sembari menyantap sang patrun di ruang tamu dengan nikmat dan lahapnya, saya melirik bapak yang hanya makan nasi bercampur kuah sayur kulit melinjo. Kali ini beliau tidak menggerutu, namun raut wajah mrengut-nya saya rasa tak bisa menutupinya.

"Mbok njajal karo kulit melinjo-ne pak! tenang wae, ra bakal mati kok!" kata saya mencoba membujuk bapak untuk mencoba sayur kulit melinjo.

Bapak hanya diam tak menjawab, setelah nasi kuah-nya habis, bapak pun bangkit, sambil mengembalikan piring ke dapur, saya dengar bapak menggeurut pelan.

"Oalah, Kepala keluarga kok mangane koyo narapidana!"

Dan saya pun hanya bisa tersenyum kecut, sambil meneruskan melahap si patrun yang sudah sedari tadi menunggu untuk dihabiskan.

NB: Kalau sampeyan ndilalah pembaca wanita, manis, Islam, bisa masak sayur kulit melinjo, wani perih, serta siap fisik dan siap mental. Bolehlah kiranya kita berkorespondensi. #Kode




Buku Agus Mulyadi

22 comments :

  1. Kulit melinjo? Tp daging melinjonya juga dimasak donk mas agus? Kuahnya pake santen ya? Bisa dipatenkan nih utk produksi masal

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kalau daging melinjonya yo ndak dimasak mbak, soalnya kan ibu saya beli kulitnya saja... kalau dagingnya biasanya diolah dibuat emping...

      Delete
  2. RT! "Oalah, Kepala keluarga kok mangane koyo narapidana!".

    mbok ya dicampur tahu-goreng-dadu lho sayurnya, po krecek #KembalikanKrecekPakmu
    biar bapakmu orak brasa napi.
    btw, rasane emang aneh di tenggorokan. aku ae sebel. tapi tetep nambah!

    ReplyDelete
  3. MLINJO = MiLIh NJOmblo. hehe..

    ReplyDelete
  4. aku yo sueneng kulit melinjo gussss #eaaa :D tapi biasane paling enak disayur santen campur tahu tempe atau dicampur di oseng-oseng mie. wihh sedeeeeppp.

    ReplyDelete
    Replies
    1. ketoke menu kuwi iso jadi pelengkap meja makan keluarga kita kelak.... #tsaaahhh

      Delete
    2. piye mba' tita tawarane mas agus, kesempatan lho.....aku sing nunggu kata-kata kwi malah dirimu sing entuk lho.
      etungan mburi yo gus hagagaga......

      Delete
  5. nek saya suka kulit melinjo digoreng pakai gula jawa dan lombok (cabe) mas agus.
    Rasanya nagih banget

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wah.. njuk pedes plus legi no... malah hurung tahu aku...

      Delete
  6. ati-ati gus ndak keselek.. tapi luwih ati2 mneh ndak artikelmu di copas... ko misuh-misuh mneh... hehehe... Pisssss

    ReplyDelete
  7. Saya juga suka kulit melinjo yang dibuat sayur asem. Kalo makan sayur asem orang lain pada buang kulit melinjo, saya tandas sampe kulit (luar) nya.

    ReplyDelete
  8. enak digoreng kulit mlinjone gus..luweh greget..q penggemar kulit mlinjo juga...salam kulit melinjoers...hahaha

    ReplyDelete
  9. oseng kulit melinjo, sayur asem kulit melinjo, lodeh kulit melinjo lan kulit melinjo digoreng pedes manis a.k.a "mata maling" kuwi kesenenganku.
    mreneo mas, taq masakke.

    gek aku yo diomong ndeso gara2 nggowo jajan matamaling neng kantorku to. hasyem tenan. nyatane yo podho njaluk
    :(
    gelem ra? taq paketi matamaling seko solo.
    eh wegah maketi ding, mreneo wae
    :D

    *eh, sampeyan wis tau njajal nyopo kulit mlinjo seko mlinjone hurung? mantap neng tangan. pedes tur perih.

    ReplyDelete
  10. Jajalen Simak kon masak oseng" kulit mlinjo... njuk dirajangi pete sing lembut"... Dijamin Pakmu mesti lali ro krecek'e tur mesti nambah entek sak cethinge mas...

    #kandhani og...

    ReplyDelete
  11. Asli mas ndelok gambare gae ilerku kotos kotos,maklum orang rantau neng daerahku kene (samarinda) ora ono dodol kulit mlinjo kapaan iso mangan kulit mlinjo maneh yoooooo

    ReplyDelete
  12. welehh..biasane kulit melinjo nek nggonku mung nggo campuran tumis kacang lanjaran je mas, kuwi ae yo wis arang sing masak,makanan langka

    ReplyDelete
  13. aku pengen jajal tp jauh di cerbon.. tulisn resepnya dong..

    ReplyDelete
  14. puantes ra ndang rabi gus... karo bapake wae njangkar...


    piye yen karo morotuwamu.... :v

    ReplyDelete
  15. Emang betul mas, saya waktu pertama kali coba waktu masih kecil jadi ketagihan sampe sekarang huehuehue, tp semenjak pindah rumah melinjonya jarang yg jual ditukang sayur, hadeeeeuhh

    ReplyDelete

Tentang Saya

Saya Agus Mulyadi, biasa dipanggil Gus Mul (bukan lulusan pesantren seperti Gus Dur, Gus Muh, maupun Gus Mus. Gus Mul hanya akronim dari nama saya). Blogger dan Freelance Layouter. Kini berusia 24 tahun. Aktif di Karang Taruna dan Komunitas Blogger Magelang Pendekar Tidar. Profil lebih lengkap, Lihat Disini

Tambahkan saya di Google+

 
Copyright © 2010 Agus Mulyadi Blog , All rights reserved
Design by DZignine . Powered by Blogger