Agus Mulyadi Njaluk Rabi

Dua Tahun Raras Ugahari

| Sunday, 28 September 2025 |

Tepat dua tahun, Raras Ugahari mengudara. Kehadirannya membuat dua tahun terakhir ini menjadi dua tahun paling membahagiakan dalam hidup saya.

raras ugahari

Raras membuat saya senantiasa ingin pulang ke rumah. Ia membuat saya tak jenak berada di luar kota lama-lama.

Melihat wajah gembulnya, menyaksikan tingkah menggemaskannya, mendengar teriakannya, semuanya terasa menyenangkan.

raras ugahari

Sejujurnya, saya ingin agar Raras tak cepat-cepat tumbuh dewasa, saya belum siap menerima kenyataan bahwa ia akan makin susah untuk saya cium, makin susah untuk saya peluk. Saya belum rela ia bakal lebih sering memikirkan lelaki lain selain saya.

Namun, waktu adalah makhluk bertangan dingin. Ia akan melaju begitu saja tanpa peduli dan memikirkan ketidakrelaan saya.

Maka, selagi masih ada waktu, saya ingin merayakan apa saja tentang Raras, mengabadikan banyak momen berharga bersamanya, merekam kenangan sebanyak-banyaknya.

Selamat ulang tahun, Raras anak bapak, Raras kesayangan ibu. Sehat selalu. Jadilah apa saja yang baik dan kamu mau.

raras ugahari

raras ugahari



raras ugahari

raras ugahari

raras ugahari

raras ugahari

raras ugahari

raras ugahari

raras ugahari

raras ugahari

Mandat Kebangsaan Raras Ugahari

| Saturday, 5 July 2025 |

raras ugahari

Model kuciran rambutnya sudah menyerupai tanduk banteng, sangat marhaen. Mau PDI, PNI, PNBK, PDIP, PDP, terserah. Yang jelas, semangatnya marhaen. Anti pada penindasan.

Bajunya batik kembang-setaman, perlambang pribadi yang menjunjung tinggi dan menghargai nilai-nilai keberagaman. Sedangkan celananya bermotif batik kawung, cerminan pribadi yang adil dan penuh kebijaksanaan.

Kakinya yang tanpa alas, tegas memijak bumi, menggambarkan sosok bersahaja yang “napak lemah”, tidak berjarak dengan tanah, tidak berbatas dengan arus bawah, punya sensitivitas terhadap nasib kaum papa, kaum tertindas.

Sungguh dari foto saja sudah terlihat bahwa sosok inilah yang kelak akan sangat dibutuhkan untuk memikul mandat kebangsaan pada momentum Indonesia emas 2045 nanti.

Honor Konten Raras Ugahari

| Saturday, 28 June 2025 |

Sebagai orangtua yang sayang anak sekaligus sayang duit, saya sebenarnya sudah mencium gelagat Raras sebagai niche konten potensial saya. Apalagi banyak follower saya yang kelihatannya gemes sama Raras dan banyak merequest agar saya sering-sering bikin konten soal Raras. Raras menjelma menjadi semacam “ponakan online” bagi beberapa audience konten-konten saya.

Sebagai sebuah niche konten, Raras berhasil. Namun, sebagai konten monetisasi, performa Raras ternyata tidak terlalu oke. Konten Raras paling ramai dalam beberapa hari terakhir, misalnya, mendapatkan 309 ribu views, engagement-nya tinggi, sampai 31 ribu. Earning-nya? “Hanya” $1,25.

raras ugahari

Facebook seperti ingin memberikan pesan, bahwa Raras memang sangat layak disayangi, tapi tidak layak untuk dimonetisasi.

Nah, niche konten yang saya tidak menyangka mendulang banyak dolar justru adalah konten soal sempak Indomaret dan soal kekonyolan Manchester United, wabil khusus Onana. Kalian bisa cek sendiri di timeline saya. Dalam beberapa minggu terakhir, konten soal sempak Indomaret dan kekalahan Manchester United selalu ramai.

Statistik yang saya sertakan di gambar ini misalnya. Saat Manchester United kalah dalam final piala Europa lalu, saya mengunggah konten gambar tembok dengan tulisan “Adili Onana”, tanpa caption yang rumit dan ndakik-ndakik. Reachnya 503 ribu, engagement-nya 63 ribu, dan earningnya $5,98.

Sementara postingan saya saat saya dikirimi oleh Sempak Indomaret viewsnya 410 ribu, engagement-nya 48 ribu, dan menghasilkan earning $12,12.

Hal tersebut pada akhirnya membuat saya merenung dan mendapatkan satu kesimpulan penting, bahwa rumus hidup yang baik menuju worklife balance dan financial freedom adalah tiga hal: Sayangilah anak, pakailah sempak Indomaret, dan olok-oloklah Manchester United wabil khusus Onana-nya.

Pengasuhan Agraris

| Thursday, 23 January 2025 |

Agenda rutin saya nyaris setiap sore adalah membawa Raras berkeliling kampung naik sepeda, menjelajahi jalanan di pinggir sawah, lalu mencari spot yang sekiranya bisa dicibloni. Raras suka “kekeceh” dan ia sangat senang tiap kali saya bawa ke sungai kecil atau jalur aliran air di samping pematang sawah yang airnya tampak jernih.

raras ugahari

raras ugahari

Dulu saat masih kecil, saya jarang sekali diajak berwisata ke luar kota seperti teman-teman saya sebaya. Orang tua saya miskin, lumrah belaka jika urusan wisata menjadi tidak terlalu penting untuk dipikirkan.

Namun, saya akan selalu mengingat bapak saya yang sering membawa saya ke taman Panca Arga di tengah kompleks perumahan akademi militer di seberang kampung, dengan berjalan kaki.

Bapak sering memunji atau menggendong saya di leher. Kalau lehernya sudah mulai lelah, ia akan menurunkan saya, lalu menggandeng tangan saya dengan jenis gandengan yang khas: ia sodorkan jari telunjuknya, lalu saya akan menggenggamnya dengan lima jari saya.

Di taman Panca Arga itu, bapak selalu antusias menunjukkan kepada saya cara memutar moncong tank Amphibi PT-76 bekas buatan Soviet yang dipajang di sana. Bapak saya melakukannya nyaris setiap minggu, sebab itulah aktivitas “berwisata” yang murah dan masuk akal bagi kondisi keuangannya.

Itu menjadi pengalaman yang sederhana dan monoton, tapi saya mengenangnya sebagai pengalaman masa kecil yang indah dan sentimentil.

Mungkin perasaan sentimentil jenis itu yang sedang ingin saya bangun untuk Raras. Puji Tuhan, saya dan Kalis saat ini diberi keberuntungan lebih sehingga tidak menjadi orang tua yang melarat seperti bapak dan ibu saya dulu. Saya dan Kalis punya cukup uang untuk mengajak Raras pergi ke tempat-tempat wisata yang bagus, setidaknya yang masih berada di Jogja, dan kami sudah cukup sering melakukannya.

Namun, sejujurnya, saya lebih ingin Raras mengenang saya sebagai bapak yang sering mengajaknya berkeliling naik sepeda, lalu mengampirkannya ke sungai-sungai kecil berair jernih, dan membiarkannya bermain air sampai separuh pakaiannya kuyup.

Saya ingin Raras mengenang saya sebagai bapak yang selalu ingin bisa membahagiakan anaknya dengan cara yang sederhana, penuh kasih, serta dibalut oleh romantisme negeri agraris.

Tentang Saya

Agus Mulyadi, seorang blogger, penulis, dan digital storyteller. Lahir di Magelang, 3 Agustus 1991. Sering menulis artikel ringan tentang politik, sosial, isu-isu populer di media sosial, serta catatan reflektif tentang kehidupan sehari-hari utamanya yang berkaitan dengan kehidupan pribadi, kawan, dan keluarga.

Pernah bekerja sebagai pemimpin redaksi di Mojok.co, sebuah media opini alternatif berbasis di Jogja. Sekarang menjadi manajer di Akal Buku, sebuah toko buku online sederhana yang saya jalankan bersama istri saya.
 
Copyright © 2010 Blog Agus Mulyadi , All rights reserved
Design by DZignine . Powered by Blogger