Pageblug Kucingisme (Part 1)

| Wednesday, 10 September 2014 |

Semua orang yang pernah memelihara hewan peliharaan pasti punya cerita menarik tersendiri perihal hewan peliharaannya. Nah, sebagai salah satu orang yang juga pernah memelihara hewan peliharaan, saya ingin menuliskan sedikit cerita saya dengan hewan peliharaan saya, yaitu Kucing. Mungkin ini adalah postingan curhatan, namun tak apalah, bukankah blog memang salah satunya fungsinya adalah sebagai tempat untuk menampung curhatan?. Oh ya, karena cerita tentang hewan peliharaan ini terlalu panjang, maka akan saya buat menjadi dua part, part 1 dan part 2. Ini adalah part 1 dari cerita saya. Silahkan dibaca, dan syukur-syukur kalau mau berkomentar.

***

Saya adalah seorang pecinta kucing (eh, yg tepat pecinta atau pencinta sih?), kata banyak orang, pria yang mudah sayang sama kucing adalah pria yang romantis. Saya ndak tahu siapa yang pertama kali menghembuskan pameo ini, tapi yang jelas, kalau saya berkaca pada diri saya, saya memang merasa kalau saya ini romantis. Yah, walaupun sampai sekarang saya belum punya pasangan yang bisa dijadikan sebagai pelampiasan keromantisan saya. Tapi setidaknya, anda tahu dulu, kalau saya ini adalah pria yang romantis.

Di rumah saya, dulu saya banyak memelihara kucing, namun karena muncul protes spartan yang bertubi-tubi dari mbah dan emak saya, jadinya saya hanya boleh memelihara beberapa.

Pertengahan tahun 2010, adalah awal mula saya mulai memelihara kucing, kucing pertama saya sebenarnya adalah kucing tetangga, namun karena sering saya kasih makan, sang kucing jadi betah dan sering nongkrong di rumah saya. Setelah meminta izin kepada empunya kucing, akhirnya saya diperbolehkan untuk mengakuisisi kepemilikan kucing tersebut dengan banderol "komitmen".

Saya tak punya nama khusus untuk kucing betina ini. Hanya sering saya panggil sebagai "Pus", panggilan lazim untuk seekor kucing. Saya tak suka memberi nama kucing peliharaan seperti kebanyakan orang. Tapi untuk memudahkan cerita, selanjutnya, kucing ini akan saya sebut sebagai Yolanda.


Salah satu Foto Yolanda yang masih tersisa

Si Yolanda ini jenisnya kucing kampung, katanya. Saya sendiri ndak tahu kenapa bisa dipangil kucing kampung, padahal setahu saya, kucing model Yolanda ini juga sering saya temukan di kota-kota besar, bukan hanya di kampung-kampung.

Yolanda ini kelihatannya memang kucing binal dan genit. Doyan kawin, dan mudah sekali hamilnya. Subur sekali. Mungkin ini salah saya karena ndak pernah mengajak dia konsultasi dengan bidan ahli kontrasepsi.

Saking seringnya Yolanda hamil, saya sampai pernah dapat momen untuk mengabadikan detik-detik proses persalinannya. Bahkan sempat pula saya posting di Tumblr saya.


Bagi yang ndak kuat atau ndak tega, sila lambaikan tangan ke kamera

Setiap kali Yolanda melahirkan, nenek saya selalu melarang untuk memelihara seluruh anak kucingnya, sehingga setelah dirasa cukup besar, anak-anaknya lantas diberikan kepada tetangga yang sudi merawatnya. Ketentuan ini berlaku sampai beberapa kali lahiran.

Sekitar setahun yang lalu, Yolanda mati, dugaan saya, Yolanda keracunan. Kematian Yolanda membuat saya begitu terpukul. Betapa tidak, ia mati dengan begitu mengenaskan, setelah sempat muntah-muntah dan kejang, Yolanda ini lalu kabur entah kemana, dan tiga hari berselang, Yolanda ditemukan sudah meregang nyawa, dengan kondisi sebagian kepalanya sudah habis, kemungkinan dimakan tikus. Kondisi yang sangat mengerikan, saya sampai tak tega melihatnya, adik saya bahkan sampai menangis sejadi-jadinya. Saking ngerinya kondisi jasad Yolanda, saya sampai tak tega untuk menguburkannya, pada akhirnya, saya menyuruh tetangga saya untuk menghanyutkan jasadnya di sungai.

Itu adalah pertama kalinya saya begitu terpukul karena kehilangan kucing.

Dulu saya pernah menganggap bahwa pria yang menangis karena kucingnya mati itu adalah pria yang lebay, namun setelah saya sendiri mengalaminya, agaknya saya jadi mengerti, betapa sedihnya kehilangan hewan peliharaan yang sudah lama dipelihara, bahkan sudah dianggap seperti anggota keluarga sendiri.

Gusti Alloh rupanya tak membiarkan saya bersedih berlarut-larut, Tak berselang lama setelah kematian Yolanda, saya mendapatkan kucing baru yang bisa saya pelihara. Kucing ini adalah kucing neko, alias kucing yang tiba-tiba mampir dan kemudian betah tinggal di rumah saya.

Ndilalah kelir bulu dan postur tubuh Kucing baru ini sama persis dengan Yolanda, Yaitu kembang Telon, alias tiga warna (coklat, hitam, putih)

Salah satu tetangga bahkan ada yang bilang kalau Kucing baru ini adalah anaknya Yolanda. Entah benar atau tidak, namun saya sedikit banyak percaya, karena dalam edisi lahiran beberapa waktu yang lalu, Yolanda memang sempat melahirkan anak yang warnanya sama persis.


Yolanda bersama anak-anaknya

Sama seperti pendahulunya, Si Kucing baru inipun tidak pernah saya beri nama, hanya sering saya panggil dengan panggilan "Pus", namun sekali lagi, untuk memudahkan cerita, kedepannya si kucing baru ini akan saya sebut sebagai Bunga.

Berikut ini adalah beberapa penampakan si Bunga


Gugahen jam papat esuk yo mas, meh subuhan aku.


Bahkan tidur pun mengambil posisi kuda-kuda, sungguh Kucing yang defensif


Piye mas, seh penak ngeongku tho?

Bunga adalah salah satu kucing terlama yang pernah saya pelihara, Saya banyak menghabiskan waktu saya di rumah bersama Bunga. Saya bahkan menuliskan bab khusus tentang Bunga di buku saya Jomblo Tapi Hafal Pancasila.


Kisah si Bunga di Buku Jomblo Tapi Hafal Pancasila


Kalau sudah bersama Bunga, dunia serasa milik berdua (yang lain cuma ngontrak)

Seperti pendahulunya, Yolanda, Bunga ini rupanya juga mudah sekali hamil. Begitu subur, mungkin tak kalah binal dan genit dibandingkan Yolanda.

Namun jelas, setiap kali Bunga melahirkan, saya tak bisa memelihara seluruh anak-anaknya, karena seperti kebiasaan lama, setiap anak-anak Bunga yang lahir dan beranjak dewasa, maka harus diberikan kepada tetangga yang berkenan untuk merawatnya.

Jadi untuk jangka waktu yang lama, bisa dibilang, saya hanya memelihara bunga seorang, sedangkan belasan anak-anak bunga yang pernah lahir hanya saya pelihara sampai minimal sudah tidak nyusu lagi, karena selanjutnya akan diberikan kepada tetangga atau kawan yang sudi merawatnya.

Dalam salah satu kesempatan, Bunga melahirkan anak dengan kelir bulu seperti dirinya, yaitu kembang Telon. Saya merengek kepada nenek saya agar kali ini diperbolehkan untuk memelihara si anak kucing Kembang Telon ini. Dan alhamdulillah, nenek mengizinkan. Entah mengapa, saya selalu merasa punya chemistri tersendiri dengan kucing yang punya kelir kembang telon.

Jadilah sejak itu, saya resmi memelihara dua ekor kucing (yang permanen), Bunga, dan -sebut saja- Bunga Junior.


Bunga bersama Bunga Junior, beberapa hari setelah proses kelahiran


Tatapanmu itu lho, mencurigakan, rumangsamu kowe ayu po?


Akur dalam kebersamaan, salah satu indikasi keluarga harmonis tanpa konflik


Give me your hottest and wettest kiss, baby !!


Tetaplah dalam kedamaian, Kandhani og


Sini nak, biarkan ibu memelukmu erat, aku tak ingin bajingan itu melukaimu


Kadang saya berimajinasi, Mungkin inilah asal-usul logo Mozilla Firefox


Memang benar, Buah jatuh ndak jauh dari pohonnya


Karena Torabika diciptakan untuk seluruh makhluk.

Oh ya, saya hampir lupa cerita, saya punya satu lagi kucing peliharaan tetap. Dia adalah satu-satunya kucing peliharaan yang punya kelir bulu bukan kembang telon. Kucing berwarna coklat ini saya temukan di jalan, kondisinya begitu kumal dan kusut. Besar kemungkinan, dia sengaja dibuang oleh pemiliknya.

Sewaktu saya temukan, dia begitu lapar, sampai-sampai nasi putih yang saya hidangkan di hadapannya ia lumat habis tak bersisa, tandas. Oh ya, Untuk memudahkan cerita, kedepannya, akan saya sebut kucing ini dengan nama panggilan "Jane".


Jane, beberapa saat setelah saya temu

Saya bawa Jane ini ke rumah, lalu saya suruh adik saya untuk memandikannya. Yah, minimal agar tampilan kumal nya berkurang sedikit, jadi biar ndak kelihatan gembel-gembel amat.

Kali itu, saya lagi-lagi memberanikan diri untuk memohon kepada nenek dan emak agar diperbolehkan memelihara si Jane, dan agaknya, wajah melas saya masih cukup ampuh dan persuasif. Saya diizinkan untuk memelihara Jane sampai besar.

Ndilalah, Jane ini kucing yang nurut dan cepat beradaptasi dengan lingkungan. Bahkan tak sampai hitungan jam, Jane sudah bisa akrab dengan Bunga Junior, dan sudah mau bermain bersama serta berbagi makanan.


Bermain dan beradu cakar dengan Bunga Junior yang statusnya lebih senior


Berbagi makanan, salah satu penerapan pelajaran PMP: Tenggang rasa

Yang paling membuat gemes adalah, Jane ini suka sekali tidur di sela-sela kedua kaki saya. Jadi gini, Karena komputer saya komputer lesehan, jadi setiap kali komputeran, saya harus duduk bersila. Nah, biasanya kalau sudah agak malam, si Jane ini biasanya ndesel numpang tidur di sela-sela kaki saya.


Ndesel-ndesel, mencari celah yang bisa dimasuki

Mungkin ini bentuk baktinya kepada saya karena telah memungut dan merawatnya... Mungkin lho ya, mungkin.

Nah, kehadiran si Jane ini membuat saya terpaksa meralat pernyataan saya di atas tentang jumlah kucing yang saya pelihara. Jadi dengan adanya si Jane, maka jumlah kucing yang saya pelihara permanen adalah 3 ekor: Bunga, Bunga junior, dan Jane.

***

Bersambung ke Part 2




Buku Agus Mulyadi

26 comments :

  1. PMP Tenggang rasa...ketok umurmu gus...eh tapi apik tenan postingan iki...lanjuttttt gus...

    ReplyDelete
    Replies
    1. sampeyan yo iso ngomentari babagan iki... ketok juga umurmu... wkwkwk.. suwun kas, wis gelem mampir...

      Delete
  2. Mulus tenan iki mas alur ceritane,, saya sampe bethah nh mantengin artikelnya Mas Agus. Salam dari Bojonegoro :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Matursuwun mas Eko, salam dari Magelang...

      Delete
  3. Saya juga punya kucing telon, Gus. Manggilnya juga "pus"
    Dia cowok dan gemesin banget, sayangnya dia mati digigit anjing tetanga :( sedih banget sampai 2 mingguan kami sekeluarga gak doyan makan.

    Sering ada kucing keluar masuk rumah tapi kucingnya nakal, kalau si pus ini dia manis banget, tidurnya sering ndusel di kaki.

    Dia mati sudah 14 tahun yang lalu tapi masih ingat aja sampai sekarang

    ReplyDelete
    Replies
    1. wah, berarti postinganku iki membangkitkan kembali kenangan dirimu akan kucingmu yang sudah tiada itu mbak... Duh mbak.. ken, tak Puk puk'e

      Delete
    2. Penginmu kuwi gus, gus
      Salam seko Kota Kembang

      Delete
  4. Kalo ini postingan yang paling bagus Mas Agus..
    Karena Nabi Muhammad SAW adalah seorang pecinta kucing juga,,

    Insya Allah ada nilai nilai yang bisa kita petik Mas..


    Salam Syahdu dari Kota Mangga Mas Agus (Probolinggo)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Nggih mas... dan lagi, kucing itu kan hewan yang lucu lagi tak najis, makanya saya mau memelihara... Salam syahdu dari Magelang Mas

      Delete
  5. wah gus podo2 seneng kucing jebule, cuman aku senenge kucing lanang. oh yow, ada miss sedikit di paragraf ini gus : "Saya bawa Sonya ini ke rumah, lalu saya suruh adik saya untuk memandikannya. Yah, minimal agar tampilan kumal nya berkurang sedikit, jadi biar ndak kelihatan gembel-gembel amat." <-- Sonya apa Jane?

    Salam dari Boja gus

    ReplyDelete
    Replies
    1. Woiyo... suwun kas, koreksine.. maune cen meh tak jenenge Sonya, tapi njur kelingan nek aku duwe konco jenenge Sonya... samar ndak diarani ngece, njuk tak ganti Jane...

      Salam balik seko Magelang kas

      Delete
  6. wahahaha matanya bunga junior itu gak nguati... :3
    eh saya sempet punya 4 kucing waktu jaman SD, satu mati kecebur sumur, dua tiba-tiba mati keknya sakit, yang terakhir, yang paling menyakitkaaaaan, mati ditemuin tetangga sesama pecinta kucing, tinggal kepalanya, kabarnya lagi ada beberapa orang yang nggragas suka makan kucing waktu itu.. :(

    ReplyDelete
    Replies
    1. Waduh mbak, sebagai sesama pecinta kucing, saya turut berduka cita... sekarang masih memelihara kucing mbak?

      Delete
  7. podo wae ternyata gus mbek aku... tapi kucingku jenenge kucing.... apik iki tulisane tak enteni seng part 2 :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sing part 2 wis metu kas, monggo diwoco...

      Delete
  8. Ditempatku juga ada kucing persia mas namanya blacky dia kawin sama kucing kampungl namanya molly dan dikaruniai 2 anak suriko sama suriki tapi saat ini ibunya molly telah mati akhirnya blacky jadi sedih mencarikan ibu pengganti blm temu dp skrng

    ReplyDelete
    Replies
    1. Trus kapan mereka bahagia bersama di istana? :)

      Delete
  9. Konon katanya kalo kita mungut hewan yg terluka lahir batin, itu bisa jadi rezeki berlimpah loh mas Agus

    ReplyDelete
    Replies
    1. Yang pasti semoga kucing yang kita rawat bisa menjadi sumber keberkahan bagi kita tho mbak...

      Delete
  10. aku ki gumon loh ,,lah cerita bab kucing ,ketoke sepele kok yo dadi apik yo..aku dewe duwe kucing neng seng nyok nei pangan ibukku ,dadi aku blas raono cemistrine blas...lanjut gus ...meooong

    ReplyDelete
  11. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete
  12. Wah, mengharukan mas critane. Semoga Bunga Junior berumur panjang. Btw, aku geli sama istilah kucing neko. Soalnya dalam bahasa Jepang, Neko berarti Kucing. Iso pas yo.. :v

    ReplyDelete
  13. Aku wedi ro kucing, tp bojoku seneng buanget karo kucing. Dilemaaaa

    ReplyDelete
  14. Berdasarkan KBBI sing bener pen-cin-ta, kena imbuhan peN-
    aku yo seneng kucing tp mbiyen

    ReplyDelete
    Replies
    1. http://tanja.portalbahasa.com/pencinta-atau-pecinta/

      Delete
  15. Lak lanang seneng kucing, biasane penyayang Gus. Beruntung tenan jodomu mengko. wwkkwk

    ReplyDelete

Tentang Saya

Saya Agus Mulyadi, biasa dipanggil Gus Mul (bukan lulusan pesantren seperti Gus Dur, Gus Muh, maupun Gus Mus. Gus Mul hanya akronim dari nama saya). Blogger dan Freelance Layouter. Kini berusia 24 tahun. Aktif di Karang Taruna dan Komunitas Blogger Magelang Pendekar Tidar. Profil lebih lengkap, Lihat Disini

Tambahkan saya di Google+

 
Copyright © 2010 Agus Mulyadi Blog , All rights reserved
Design by DZignine . Powered by Blogger