Bapak Momong dan Sebuah Kesabaran

| Monday, 29 December 2014 |

Setahun setelah dilahirkan dari rahim mulia ibu saya tercinta, saya tumbuh menjadi bayi yang trengginas dengan suara tangisan yang sangat kencang, dan susah untuk dihentikan. Mungkin tangisan saya termasuk tipe tangisan Falseto tinggi. Melengking namun nyaring.

Suara tangisan saya yang keras dan susah dihentikan ini pernah menjadi masalah tersendiri dalam keluarga saya.

Syahdan, suatu hari, bapak saya diberi tugas untuk momong saya yang waktu itu masih kecil kinyis-kinyis, usia saya baru genap satu tahun waktu itu. Bapak terpaksa harus kebagian tugas momong saya karena ndilalah emak (yang biasanya momong saya) sedang ada rewang (kerja bakti ibu-ibu di rumah tetangga yang sedang ada hajatan).

Sebagai sosok pria yang jarang sekali momong anak kecil, bapak tentu saja kurang cakap. Cara bapak memperlakukan seorang bayi sangat tidak elegan, tidak metodis, dan tidak sabaran.

Maka, ketika saya mulai menangis, yang dilakukan bapak bukanlah menimang-nimang saya seperti yang biasa emak saya lakukan, namun justru hanya bilang mênêngo gus, mênêngo!. Dan yang terjadi tentu seperti yang sudah bisa diperkirakan, saya tetap menangis dengan suara nyaring tanpa mau berhenti. Ya jelas lah, bayi baru umur setahun kok disuruh berhenti nangis cuma dengan mênêngo gus, mênêngo! lak yo mokal tho?. Kalau saja waktu itu saya sudah bisa ngomong, mungkin bakal saya jawab: “mbok tulung kecerdasanmu pak!”

Saya menangis tanpa kenal lelah. Bapak mulai gusar. Bapak pun mulai mencari cara lain, mulai dari ndolani saya pakai mainan, sampai ngipas-ngipasi saya. Sekali lagi, sangat tidak metodis. Dan itu sama sekali tidak menyelesaikan masalah.

Sampai di suatu titik, bapak saya pun memuncak emosinya, bapak saya hilang kesabaran. Lantas, dibopongnya saya dan dibawalah saya keluar rumah, saya diletakkan begitu saja di atas tanah kebun dengan beralaskan bantal. Bapak saya berjongkok tak jauh dari tempat saya diletakkan.

“Mênêng ora!! mênêng ora!!” hardik bapak kepada saya yang masih saja terus menangis, bahkan kali ini lebih keras. Lagi-lagi, sangat tidak metodis. Cah bayi kok dihardik. Kejiwaanmu lho pak, kejiwaanmu. #GuyonLhoPak

Bapak saya terus menunggui saya yang tergeletak di atas bantal di atas tanah kebun di depan rumah saya itu. Berharap saya segera diam dari tangisan saya. Hampir 20 menit bapak saya jongkok, dan saya belum jua berhenti nangisnya. Saya sendiri juga ndak tahu, bagaimana saya bisa menangis sampai selama itu. Mungkin ada onderdil yang dol.

Barulah setelah setengah jam, saya berhenti menangis. Hardikan bapak rupanya ampuh, sungguhpun butuh waktu setengah jam untuk bisa bereaksi. Saya kemudian dibopong dibawa masuk ke rumah.

Nah, disinilah petaka dimulai.

Setelah kejadian di kebun depan rumah itu, saya justru berubah menjadi bayi yang pendiam. Sama sekali tak pernah menangis. Tubuh saya lemah. Badan saya terus menerus panas. Saya juga tidak ceria seperti biasanya. Sepanjang hari, saya hanya bisa tertidur dan terkulai lesu tak bertenaga. Mengutip istilah Sangobion, saya benar-benar kena 6L: Lelah Letih Lesu Lemas Lunglai Letoi.

Bapak pun menceritakan muasal kenapa saya bisa menjadi seperti itu. Dan bisa ditebak, emak ngamuk berat sama bapak.

Bapak agaknya sadar dan menyesal atas apa yang telah diperbuatnya.

Bapak yang tadinya adalah seorang ayah yang tidak metodis, kini berubah menjadi sangat metodis, bahkan juga sistematis. Bapak mulai mendata populasi dokter anak yang ada di Magelang dan sekitarnya. Satu per satu dokter anak pun didatangi, tak lain dan tak bukan hanya untuk mengobati saya. Sudah tak terhitung berapa dokter spesialis anak yang sudah didatangi. Namun sama sekali tak membuahkan hasil. Saya tetap murung dan tidak bergas. Bapak pun bingung setengah mati.

Kata tetangga, saya jadi murung dan pendiam karena kena sawan. Kata tetangga yang lain, saya jadi begitu karena saudara ghaib saya (istilah jawanya Kakang kawah adi ari-ari) ngambek karena saya diperlakukan sembrono dengan diletakkan begitu saja di kebun di depan rumah.

Bapak pun kemudian mencoba mendatangi beberapa orang pinter, dan hasilnya masih juga belum memuaskan. Bapak dan emak semakin khawatir.

Hingga akhirnya, bapak saya bertemu dengan salah seorang kawannya yang bernama Agus Ngentak. Dia kawan bapak semasa bapak masih kerja jadi kernet angkot. Oleh si Agus Ngentak ini, bapak saya diberi saran agar saya dibawa ke tempat seseorang bernama Bu Hesti, beliau adalah orang pinter yang biasa mengatasi permasalahan seputar sawan anak-anak.

Bapak saya akhirnya menuruti saran Agus Ngentak. Saya lantas dibawa ke tempat Bu Hesti di daerah Mayongan, Tegalrejo.

Di sana, Bu Hesti seakan sudah tahu dengan permasalahan bapak.

“Wah, kalau ini, mau dibawa ke dokter anak manapun ndak bakal sembuh pak, beruntung sampeyan bawa anak sampeyan ini ke tempat saya!!”, kata Bu Hesti kepada bapak saya.

“Ini anak saya kena penyakit apa bu?” tanya bapak.

“Biasa, sawan bocah!!”, jawab bu Hesti singkat.

“Bisa sembuh tho bu?”

“Bisa, nanti dibantu doa!!”

Singkat cerita, bapak pun diberi petunjuk sama Bu Hesti. Katanya, kalau bapak ingin saya sembuh, saya harus dimandikan di air yang sudah diberi campuran daun jeruk, debog bosok (batang pisang yang sudah busuk), dan kêmbang macan kêrah.

Bapak saya pun menuruti apa yang diinstruksikan oleh Bu Hesti, dan benar saja, dua hari setelah saya dimandikan, saya pun kembali segar. Saya kembali sehat, bergas, dan bisa menangis lagi.

Bapak dan emak pun ayem.

Semenjak saat itu, Bapak saya ndak berani lagi memperlakukan saya dengan sembrono. Kalau saya menangis tak terkendali, sebisa mungkin bapak saya akan menahan emosi dan kesabarannya. Seemosi-emosinya bapak, bapak ndak bakal mungkin berani meletakkan saya lagi di kebun depan rumah saya. Bapak tentu tak ingin insiden di atas terulang kembali. Paling bapak hanya bisa menggerutu pelan: “Oalah gus, kowé ki, nangis nyusahi, ora nangis tansoyo nyusahi!!”.

Nah, melalui kisah singkat saya ini, saya ingin memberikan pesan kepada para orang tua muda yang baru saja dikaruniai anak, sabarlah dalam mengurus dan mengasuh anak. Jangan mudah emosi, anak kecil memang sering membuat ulah dan sering merepotkan para orang tua, tapi justru disitulah seni perjuangan orang tua dalam membesarkan anaknya. Ingat, anak adalah satu dari tiga perkara yang kelak bisa menolong dan mendongkrak klasemen amal anda di alam kubur nanti.


Trimo Mulgiyanto, Bapak saya, 47 tahun, trengginas dan bisa diandalkan 

Ini adalah tulisan ke-tujuh tentang bapak saya yang pernah saya tulis, berikut ini adalah beberapa tulisan tentang bapak saya yang mungkin anda tertarik untuk membacanya:

Tinky Winky: Solusi Terapi Masuk Angin. Bisa dibaca Disini

Bapak Saya dan Soal Penghapusan Hansip. Bisa dibaca Disini
Pesugihan Terlarang. Bisa dibaca Disini
Bapak Kesetrum Baju. Bisa dibaca di buku saya Jomblo Tapi Hafal Pancasila
Asmara Emak dan Bapak. Bisa dibaca di buku saya Bergumul dengan Gusmul
Pengkhianatan 212. Bisa dibaca di buku saya Bergumul dengan Gusmul 




Buku Agus Mulyadi

56 comments :

  1. gus gus .... masih cilik udah bikin riweuh, dan sampe sekarang masih aja bikin riweuh orang baca .. *nahan ngakak*

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hahaha, mungkin saya terlahir memang untuk menguji kesabaran orang-orang di sekitar saya mas... :) hehe

      Delete
  2. nunut ngguyu gus. salam nggo pak trimo mugo2 sehat terus lan tambah sabar ngadhepi awakmu sing ribut pengin rabi ning durung kètok jodhone

    ReplyDelete
    Replies
    1. hahaha, ndilalah cen hurung ketok, mbuh sesuk esuk piye...

      Delete
  3. We suwe ndak denger istilah: Kembang Macan Kerah. Yok opo kuwi wujude?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hahaha, yo pokoke koyo mono kae mas...

      Delete
  4. Klo dilihat dari riwayat kecil mu gus. "kena sawan bocah."
    Sudah di pastikan sekarang ini agus "kena sawan joko"
    Mandi kembang 7 rupa gus!!!!

    ReplyDelete
  5. kok mirip artis diding boneng yo gus heuheu

    ReplyDelete
  6. Gus mul mirip banget sama babenya..hihi

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hahaha, lha kalo ndak mirip malah bahaya...

      Delete
  7. ojo sok misuhi bapakmu gus, kuwalat sawanen rabi tahun ngarep kapok kowe!!

    ReplyDelete
    Replies
    1. hahaha... kuwi aku ra misuh kok, mung shock therapi

      Delete
  8. Sesuk rek wes rabi ojo nyusahi bojomu Gus :-D

    ReplyDelete
  9. Ingat, anak adalah satu dari tiga perkara yang kelak bisa menolong dan mendongkrak klasemen amal anda di alam kubur nanti.
    Kalimat yang fangkeh Gus...jempollah pokoknya..!!!

    ReplyDelete
  10. Dari senyum nya bapak, sangat terlihat jelas dominasi gen nya di kamu gus hehe.. :p

    ReplyDelete
    Replies
    1. wah, iya ya... sampeyan bukan orang pertama yang bilang begitu

      Delete
  11. Hua hua...Asli kadang nek wes nesu, esmosi membawa petaka.. Wajar sang bapak memang kekurangan Hormon estrogen...Gampang Nesu.. mulane si Bapak kudu sering dikasih sentuhan wanita...

    ReplyDelete
    Replies
    1. wahaha, bener kuwi.... wanita ada untuk menenangkan pria

      Delete
  12. Pesanmu ki jiann rodo ndhisik'i pengalamanmu, koyo wis tau rabi wae...:)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hayo kolo-kolo nyolong start tho yo...

      Delete
  13. Replies
    1. Ha nek ra kembar malah nyamari tho yo....

      Delete
  14. Baru tau saya Gus ada namanya penyakit gaib sawan bocah. Mungkin lain daerah lain nama. Beruntung sampeyan dibawa ke Bu Hesti, jadi sembuh. Lha, saiki mesti dibawa ke Bu Hesti maneh, biar jodohmu itu cepat datang hehe...

    ReplyDelete
    Replies
    1. kalau di tempat mas Alris namanya apa mas?

      Delete
  15. senyumnya sama kayak bapaknya ya :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. kalau ndak sama justru berbahaya.. hehe

      Delete
  16. setelah melihat foto bapakmu, aku jadi faham skrg gus...

    ReplyDelete
  17. Alhamdulillah bapakmu masih diberi kesabaran, coba kalo seandainya dulu beliau lupa naro bayi agus di kebun, mungkin blog ini gak akan pernah ada...

    Tapi btw, Wajah bapakmu kok mirip sampeyan ya mas Agus??!

    ReplyDelete
    Replies
    1. nek ra mirip malah berbahaya mas.. hehehe

      Delete
  18. Dan artikel ini malah tak share karo bojoku gus 😂😂😂😂
    Sungguh ilmu parenting yang absurd 😒

    ReplyDelete
    Replies
    1. semoga manfaat mbak... hehehehe *manfaatndasmusempalgus

      Delete
  19. Oalah... bukumu wes teko mneh to gus... aku ngenteni yo.. (gratisane hahaha)

    ReplyDelete
    Replies
    1. hurung terbit mo, seh suk akhir januari

      Delete
  20. Kuwanen tenan sampean :v
    Mung arep melu komen wae, malah ngarani aku ki robot.. sempre sekali :v

    ReplyDelete
    Replies
    1. lha sing kuwanen hudu aku, tapi blog'e

      Delete
  21. pesen ning artikel iki kanggo sing moco tok, opo kanggo sing moco+sing nulis mas? wkwkwkwkw :v
    sungguh trengginas sekali pesannya, saya suka saya suka :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. untuk semuanya... kan iki blog sejuta umat.. hehehe

      Delete
  22. wajah bapak sampeyan kyk artis boneng tu loh guus.. :)

    ReplyDelete
  23. Hahaha ketoke kenal foto kui...ngerti ra sopo kui sik moto?

    ReplyDelete
  24. Isih untung ra dijeblesne uwit gedang gus

    ReplyDelete
  25. melalui kisah singkat saya ini, saya ingin memberikan pesan kepada para orang tua muda yang baru saja dikaruniai anak, sabarlah dalam mengurus dan mengasuh anak. Jangan mudah emosi, anak kecil memang sering membuat ulah dan sering merepotkan para orang tua, tapi justru disitulah seni perjuangan orang tua dalam membesarkan anaknya.

    ^^ ingat pas wes gede, biasane lebih nyusahi gus

    ReplyDelete
  26. pesan moral yang bagus mas agus untuk pembelajaran bapak muda yang labil hahaha

    ReplyDelete
  27. lucu dan sangat inspiratif banget mas agus,,, hehehe

    ReplyDelete
  28. Apiiikk..."trengginas" itu apa artinya mas?

    ReplyDelete

Tentang Saya

Saya Agus Mulyadi, biasa dipanggil Gus Mul (bukan lulusan pesantren seperti Gus Dur, Gus Muh, maupun Gus Mus. Gus Mul hanya akronim dari nama saya). Blogger dan Freelance Layouter. Kini berusia 24 tahun. Aktif di Karang Taruna dan Komunitas Blogger Magelang Pendekar Tidar. Profil lebih lengkap, Lihat Disini

Tambahkan saya di Google+

 
Copyright © 2010 Agus Mulyadi Blog , All rights reserved
Design by DZignine . Powered by Blogger