Jangan Hujan Ya Alloh

| Tuesday, 6 February 2018 |

Saya dan Kalis baru sampai di daerah Prambanan dalam perjalanan dari Solo ke Jogja ketika hujan perlahan mulai turun dari rintik kecil dan kemudian mulai menunjukkan tanda-tanda rusuh menjadi semakin deras.

Saya mulai membatin doa dalam hati, “Ya Alloh, kulo nyuwun terang, jangan hujan, Ya Alloh.”

Tapi apa daya, doa saya rupanya kurang makbul. Hujan tetap turun, dan bahkan semakin deras dan provokatif.

“Ngeyup sik, Mas,” kata si Kalis.

Saya manut dan kemudian memutuskan untuk berteduh di masjid di tepi jalan raya. Sekalian luhuran.

Selesai salat, entah karena efek spiritual luhuran atau tidak, tapi yang jelas, hujan mendadak mereda.

“Wah, jan sholate manjur tenan,” kata saya. “Langsung terang.”

Kami lantas melanjutkan perjalanan. Motor saya starter, dan kami pun kembali melaju menggilas aspal jalanan Prambanan.

Namun kemudian, tak sampai lima menit setelah kami melaju, hujan yang tadi sempat mereda mendadak menderas kembali.

“Wah, Gusti Alloh ki cen seneng guyon kok ya, Lis. Tiwas seneng udane mandeg, saiki kok malah deres meneh.” kata saya.

“Ha mangkane nek udane terang ki mas meneng wae, rasah komentar,” balasnya sengak.

Saya sadar bahwa mustahil untuk melanjutkan perjalanan dalam kondisi hujan deras, sebab mantol yang kami punya hanya satu. Kalau saya yang pakai, nanti saya dikira egois, tapi kalau saya suruh kalis yang pakai, nanti saya dituduh sok romantis, sok heroik, dan sok berkorban.

Akhirnya, saya memutuskan untuk membeli mantol di salah satu kios jualan mantol yang kami lewati.

Satu mantol pun terbeli. Harganya tak mahal, tapi agak tak layak pula disebut murah. 45 ribu.

Sekarang kami punya dua mantol. Pas. Satu buat saya, satu buat Kalis.

Tanpa banyak ba bi bu, kami segera memakai mantol kami masing-masing. Warnanya serasi, sama-sama biru. Berasa mantol couple.

Kali ini, saya mantap melanjutkan perjalanan, mau hujannya deres atau tidak. Sudah pakai mantol semuanya soalnya.

Tapi jan bajangkrek tenan. Belum ada tiga menit setelah memakai mantol, hujan mendadak reda.

“Nah, tenan tho. Gusti Alloh ki seneng guyon,” kata saya kembali.

“Nek iki pancen iyo, Mas,” balas Kalis.

Karena sudah kadung pakai mantol, kami memaksa untuk tetap lanjut perjalanan tanpa mencopot mantol yang sudah kami pakai. Rasanya kagol kalau kami harus mencopotnya.

Sepanjang perjalanan, saya membatin doa terus-menerus, “Ya Alloh, udano sing deres, udano sing deres,”




Buku Agus Mulyadi

9 comments :

  1. Seng penting wes koyok Dilan ro Melia, Gus.

    ReplyDelete
  2. Penjalukanmu mencla mencle ga konsisten. Udan iku ora mung nggo memfasilitasi perjalananmu tok lho mas....

    ReplyDelete
  3. Terimakasih mas ini artikel sangat bermanfaat untuk saya, jika berkenan saya pribadi juga menyediakan konten tentang Teknologi, jadi jika mas ada kendala tentang dunia teknologi bisa konfirmasi ke situs saya yah mas, Terimakasih >>> Feri Tekno

    ReplyDelete
  4. Angpao cuma-cuma hanya dari Aiabet untuk semua member nya !
    bisa didapatkan di www.aiabet.com
    nonton bola online

    Daftar Judi Tangkas disini
    agen bola terbaik

    ReplyDelete
  5. bawa mantel.. terang, ga bawa mantel ujan gemrobyos

    ReplyDelete
  6. Saya dilema kl hujan...
    Karena gak tahan dingin, tapi waktu hujan itu waktu yang mustajab u hanturkan doa...

    Btw salam kenal ya pak Agus :)

    ReplyDelete
  7. Sik ta, pas udan ndungo ndang kawin po gak, Gus?

    ReplyDelete
  8. Wkwk koplak.. Dungo kok mencla mencle. Ramashoook koe, gus..

    ReplyDelete

Tentang Saya

Saya Agus Mulyadi, biasa dipanggil Gus Mul (bukan lulusan pesantren seperti Gus Dur, Gus Muh, maupun Gus Mus. Gus Mul hanya akronim dari nama saya). Blogger dan Freelance Layouter. Kini berusia 24 tahun. Aktif di Karang Taruna dan Komunitas Blogger Magelang Pendekar Tidar. Profil lebih lengkap, Lihat Disini

Tambahkan saya di Google+

 
Copyright © 2010 Agus Mulyadi Blog , All rights reserved
Design by DZignine . Powered by Blogger