Agus Mulyadi Njaluk Rabi

Dividen Pertama

| Thursday, 3 November 2022 |

Saya selalu menghargai dan merayakan penghasilan pertama. Bagi saya, sekecil apa pun penghasilan pertama, ia akan tetap menjadi penanda besar bagi setiap pekerja. Dan karena itulah, ia selalu menempati ruang yang spesial.

Gaji pertama saya sebagai seorang penjaga warnet pada tahun 2009 silam adalah 625 ribu. Tentu saja itu bukan uang yang banyak, namun saya akan selalu mengingatnya. Saya bahkan mengabadikan bilangan 625 ribu itu sebagai bagian dari mahar nikah saya bersama seperangkat alat sholat dan satu set kitab tafsir Al-Misbah saat saya menikahi Kalis pada 2019 lalu.

Saya juga masih mengingat jelas uang hasil hadiah lomba blog pertama saya yang saya menangkan tahun 2010. Saya mendapatkannya setelah terpilih menjadi 5 besar peserta lomba blog yang diadakan oleh sebuah platform iklan bernama Kliksaya. Jumlahnya tak banyak, hanya 200 ribu. Namun, uang itulah yang kelak memantik semangat saya untuk rajin menulis blog hingga akhirnya saya memenangkan lebih banyak lagi kontes blog dengan hadiah yang jauh lebih besar.

Penghasilan pertama dari Google Adsense pun tak pernah bisa saya lupakan. Saya mendapatkannya tahun 2012. Jumlahnya 103 dolar atau sekitar 1 juta rupiah. Itu penghasilan selama 6 bulan saya menulis blog yang dipasangi iklan adsense yang akhirnya bisa diambil setelah mencapai batas 100 dolar. Ada debar yang tak bisa saya gambarkan saat saya mengambil uang tersebut di kantor pos. Ada semacam kegembiraan yang merayap saat menerima uang tersebut dari petugas.

Kegembiraan itu pula yang saya rasakan saat pertama kali mendapatkan uang royalti buku pertama saya, “Jomblo tapi Hafal Pancasila” dari penerbit Bentang Pustaka, atau honor menulis pertama saya dari Mojok sebesar 250 ribu rupiah melalui sebuah tulisan wagu (tapi keren pada masanya) berjudul “Pledoi Truk Boks dan Sandal Joger sebagai Jomblo Abadi”, atau gaji pertama saya sebagai redaktur Mojok tahun 2016 lalu.

Kini, debar dan sensasi kegembiraan itu kembali hadir. Hari ini, saya mendapatkan deviden pertama saya. Seperti yang Anda ketahui, sudah sejak dua bulan terakhir ini saya berinvestasi saham. Sejak awal masuk ke dunia saham, saya memang sudah meniatkan diri untuk mencari profit dari pembagian dividen. Itulah kenapa, dari semua perusahaan yang sahamnya saya beli, nyaris semuanya adalah perusahaan yang membagikan deviden secara rutin.

Dividen pertama yang saya dapatkan berasal dari saham Eastparc hotel. Pemberitahuan pembayaran dividen itu saya terima siang tadi melalui email yang dikirim oleh Mirae Asset, perusahaan sekuritas tempat saya biasa membeli saham.

dividen saham

Saya memang sempat membeli 27600 lembar saham Eastparc hotel, dan pada tanggal 25 Oktober lalu, mereka mengumumkan pembagian dividen sebesar Rp1.639 per lembar saham. Itu artinya, saya berhak mendapatkan deviden sebesar 45.236 rupiah.

Tentu saja itu jumlah yang sangat sedikit, sebab memang saham yang saya beli juga nilainya kecil, namun, seperti yang sudah saya katakan di awal, ia akan tetap menjadi penanda besar. Sampai kapan pun, 45.236 ini akan selalu lebih istimewa dibandingkan dengan 45 ribu-45 ribu yang lain.

Ah, ini mungkin terdengar norak, tapi rasanya menyenangkan sekali merayakan 45 ribu dengan perasaan yang sebahagia ini.

Pertautan Rasa dan Selera

| Tuesday, 1 November 2022 |

Kemarin di Surabaya, saat berkumpul bersama kawan-kawan Patjar Merah yang memang sedang punya hajat, Kalis mencoba pecel semanggi yang dibawa oleh seorang kawan. Itu pertama kalinya Kalis makan pecel semanggi.

Kalis menciduk sambel pecel itu dengan potongan kerupuk lalu memasukannya ke mulutnya, dan mengunyahnya dengan penuh khidmat.

Ia diam sejenak. Dari roman mukanya, tampak belaka bahwa ia sedang memproses rasa sambel pecel semanggi. Lidahnya sedang mengkalkulasikan pecel itu, apakah layak disebut enak, biasa saja, atau tidak enak.

“Pecelnya enak,” kata Kalis.

Saya yang mendengar itu langsung mendekatkan tangan saya, mencoba meraih potongan kerupuk dan mencicipi pecel tersebut.

Namun, belum juga saya sempat memotong kerupuk itu, Kalis langsung menghalau saya.

“Mas pasti nggak suka, ini sambel pecelnya kayak ada rasa petisnya,” terang Kalis. “Mas pasti nggak cocok.”

Terharu juga saya mendengarkan penjelasan itu. Betapa sebagai istri, Kalis tahu betul selera makan saya. Hati saya langsung congkak. Apalagi saat itu, ada beberapa kawan yang ikut makan bersama kami. Saya seakan-akan ingin berteriak, “Kalian lihat itu? Betapa istriku sangat mengerti aku.”

Tentu saja itu sejenis kecongkakan yang menggembirakan. Saya menikmati kesombongan yang lahir dari kepekaan Kalis atas selera makan saya itu.

Sebagai pasangan suami-istri yang kerap beradu mulut (baik dalam arti yang sebenarnya maupun tidak), tentu lidah kami sangat sering bertaut. Namun saya tak menyangka, bahwa pertautan itu ternyata menjadi medium bagi lidah Kalis untuk menyerap saripati selera lidah saya sehingga ia sampai bisa tahu, rasa yang bagaimana saja yang bisa cocok di lidah saya dan mana yang tidak.

Malam harinya, saya, Kalis, dan kawan kami Windy Ariestanty, makan malam di salah satu warung penyetan di bilangan Wonokromo.

Di depan meja kasir, Kalis dan Windy sibuk memilih menu, sedangkan saya berdiri di belakang mereka berdua.

Kalis bertanya pada saya, “Mas mau makan apa?”

Entah kenapa, saya ingin sekali menikmati lagi kecongkakan yang saya rasakan tadi siang. Maka, tanpa banyak basa-basi, saya menjawab pertanyaan Kalis itu dengan jawaban singkat.

“Terserah kamu saja, Lis. Kamu tahu seleraku.”

Tepat setelah selesai mengatakan itu, saya langsung berjalan menuju ke tempat duduk. Tentu saja dengan dada yang membusung.

Mencoba Terjun ke Dunia Saham

| Saturday, 15 October 2022 |

Tentu saja saya tak pernah menyangka jika saya akhirnya akan ikut-ikutan berinvestasi saham. Maklum saja, saya tipikal orang yang agak takut dengan dunia investasi berbasis digital. Dulu ketika booming kripto-kriptoan, ketika semua orang ngomongin kripto, sampai-sampai tebak-tebakan yang cukup populer saat itu adalah “Bandara, bandara apa yang bayarnya pake bitcoin? Bandara Adi Sukripto”, saya bahkan blas nggak tertarik untuk sekadar mencoba kripto.

Tapi ya gimana, satu per satu, kawan-kawan pada nyebur, saya akhirnya penasaran juga.

Pada mulanya adalah Prima Sulistya. Perempuan bergestur serupa Yayuk Basuki itu, pada satu ketika, pernah sangat gencar mempromosikan aplikasi Bibit pada saya dan kawan-kawan di Mojok. Kegetolannya mempromosikan aplikasi reksadana itu bahkan sudah berada di level yang jauh lebih militan dari seorang penjual tahu bulat.

Entah karena kekuatan cocot kencono seorang Prima Sulistya atau faktor yang lain, yang jelas, banyak anak-anak yang akhirnya mencoba aplikasi Bibit. Saya salah satunya. Itulah pertama kalinya saya mencoba reksadana.

Waktu kemudian membawa saya untuk mengikuti semacam kelas financial planning dari ZAP Finance. Ini kelas yang membuka mata saya tentang betapa pentingnya merencanakan dana masa depan melalui instrumen investasi.

Tentu saja saham menjadi instrumen yang cukup sering dibahas, sebab dari sekian banyak instrumen investasi, saham-lah yang punya potensi imbal balik yang paling besar.

Minat untuk belajar saham pun mulai muncul, namun saya belum berani masuk ke dunia saham, padahal saat itu, saya sudah punya rekening saham di Mirae Asset Sekuritas. Saya merasa masih belum punya cukup keberanian untuk membeli saham.

Dasar mujur, nasib baik kemudian mempertemukan saya dengan Purnomo Sony. Ia orang yang sudah cukup lama berinvestasi saham dan punya semacam kelas edukasi saham.

Kebetulan, ia dulu sangat suka baca blog saya, dan itu menjadi jalan bagi kami untuk bisa bertemu muka. Ndilalah, anaknya ternyata mondok di Pesantren Bumi Cendekia, satu pondok dengan keponakannya Kalis. Mangkanya, ketika ia berkenan mampir ke rumah saya di sela-sela jadwal tilik anaknya, saya langsung daftar ikut kelasnya dan minta dicicil diajari saat itu juga. Dan itu salah satu keputusan paling strategis yang pernah saya buat.



Dari lelaki yang murah senyum, bahkan cenderung prengas-prenges itulah, saya mendapatkan banyak ilmu saham. Ada beberapa metode analisis yang ia ajarkan agar saya bisa membeli saham yang baik dan tepat. Salah dua yang paling saya ingat adalah, belilah saham perusahaan yang sudah terbukti kuat dan sehat. Itu analisis sederhana, utamanya buat pemula yang belum terlalu bisa menganalisis secara mendalam.

Perusahaan yang kuat itu indikasinya adalah sudah terbukti mampu bertahan melalui krisis. Mangkanya, paling enak itu beli saham perusahaan yang sudah berdiri sebelum tahun 1998 dan terbukti survive sampai sekarang.

Sedangkan perusahaan yang sehat itu bisa dilihat dari rekam jejak keuangannya. Keuntungan perusahaannya cenderung stabil dari tahun ke tahun, sukur-sukur bisa memberikan deviden secara rutin.

Akhir bulan lalu, saya akhirnya kesampaian membeli saham pertama saya. Sudah barang tentu saya belum mahir-mahir amat bermain saham. Namun yang pasti, saya sekarang jadi punya hobi baru: mantengin aplikasi Neo Hots (aplikasi sahamnya Mirae Asset) dan aplikasi RTI Business buat “sok-sokan” melihat saham-saham yang potensial.

Kalau istri saya nanya, “Lagi buka apa sih, Mas?” saya sekarang bisa jawab nggleleng “Lagi nganalisis saham. Ingat, suamimu ini sekarang anak saham.”

Ia mungkin tak sadar, bahwa suaminya sekarang adalah investor. Sama seperti Sandiaga Uno atau Erick Thohir. Cuma beda di jumlah modal saja.

Tentang Saya

Saya Agus Mulyadi, biasa dipanggil Gus Mul (bukan lulusan pesantren seperti Gus Dur, Gus Muh, maupun Gus Mus. Gus Mul hanya akronim dari nama saya). Blogger dan Freelance Layouter. Kini berusia 24 tahun. Aktif di Karang Taruna dan Komunitas Blogger Magelang Pendekar Tidar. Profil lebih lengkap, Lihat Disini
 
Copyright © 2010 Blog Agus Mulyadi , All rights reserved
Design by DZignine . Powered by Blogger