Agus Mulyadi Njaluk Rabi

Gairah Membalap Driver Gojek Paruh Baya

| Wednesday, 5 January 2022 |

“Hari ini, sudah ada tiga penumpang yang minta saya ngebut, Mas,” ujar driver Gojek yang kebetulan sama-sama bernama Agus ini. Ia driver yang ramah dan supel. Tipikal driver yang menyenangkan buat penumpang yang suka diajak ngobrol. 

driver gojek

Saya antusias mendengarkan ceritanya. Bukan karena kami sama-sama bernama Agus yang membuat kami kelak punya potensi bertemu di acara kopdar komunitas Agus-Agus Bersaudara Indonesia, namun lebih karena ia terdengar sangat bersemangat dan bergairah dengan cerita yang ingin ia sampaikan.

“Terakhir itu tadi siang, ada mbak-mbak naik dari Hyatt. Pas dapet, dia langsung ngechat saya, ‘Bisa ngebut nggak. Pak?’ begitu. Mungkin dia terburu-buru, jadi ketika tahu dapat driver yang tua, dia langsung mengira kalau saya ini pasti nggak bisa ngebut, rindik. Padahal, Mas, saya ini, walau memang sudah tua, tapi kalau disuruh ngebut, ha senengnya minta ampun.”

“Trus langsung njenengan jawab, ‘Bisa, Mbak!’ gitu, Pak?”

“Enggak, dong, Mas.”

“Lha trus njenengan jawab gimana?”

“Nggak langsung tak jawab, Mas. Tapi malah saya balik tanya.”

“Tanya gimana, Pak?”

“Mbaknya minta kecepatan berapa?”

Saya tentu saja tertawa mendengar jawaban ndlogok driver kita ini. Benar-benar kepercayaan diri yang luar biasa untuk ukuran lelaki yang sudah tak lagi muda.

“Pembalap kok ditantang, ha yo tak tantang genti.” Ujarnya dengan nada yang sangat kemaki dan kemlinthi.

Tawa saya makin pecah.

Apel Pagi Akmil Pada Suatu Hari

| Thursday, 30 December 2021 |

Saya, dan ratusan warga kampung Seneng Banyurojo lainnya tampaknya memang sudah benar-benar ditakdirkan untuk berkarib dengan pergaulan akademi militer.

Pagi hari, ketika orang-orang kebanyakan terbangun oleh azan subuh atau alarm dari ponsel, kami telah puluhan tahun dibangunkan oleh suara pembina apel pagi akademi militer yang memang kebetulan lokasinya bersebelahan persis dengan kampung kami.

akademi militer

Materi pembinaan apel pagi itu selalu bisa kami dengar dengan jelas. Dari instruksi, pesan, sampai bentakan-bentakannya.

“Selamaaaat pagiiiiii...” Pembina apel yang saya tak pernah tahu siapa namanya dan bagaimana tampangnya itu mengawali sapaannya kepada para taruna akademi militer peserta apel pagi ini.

“Pagi, pagi, pagi!” para taruna akademi militer menjawab serentak. Entah kenapa mereka harus menjawab sapaan itu tiga kali, seolah kalau cuma dijawab “Pagi!” satu kali saja, niscaya berkurang kadar keprajuritan mereka.

Nyatanya, jawaban “Pagi!” yang sampai diulang tiga kali dengan suara yang lantang itu tidak cukup memuaskan si pembina apel.

“Kalian ini prajurit, jangan loyo. Jangan malas buka mulut. Saya ulangi lagi, Selamaaaat Pagiiiii...”

“Pagi, pagi, pagi!” kembali jawab para taruna serempak.

“Nah, ini baru prajurit,” kata si pembina apel.

Saya geli sendiri mendengar respons si pembina apel itu, sebab sependengaran saya, jawaban “Pagi, pagi, pagi!” yang pertama dan yang kedua itu rasanya memang tak ada bedanya.

Dua Tahun Pernikahan

| Saturday, 11 December 2021 |

Hari ini, persis dua tahun lalu, saya menikahi Kalis, perempuan dengan urat ketabahan dan kesabaran yang layak diacungi jempol.

agus mulyadi kalis mardiasih

Di tengah hidup yang terasa kacau oleh kemiskinan dan keburukrupaan, Kalis hadir sebagai alasan saya untuk tetap bersyukur sebagai lelaki.

Ia memberikan penghiburan bagi saya, menjadi tempat bersandar paling empuk bak bantal dacron saat kesedihan menerjang. Memberikan banyak hal yang, seandainya saya tidak menikah dengannya, mungkin tidak pernah saya terpikir untuk mendapatkannya.

Saya selalu merasa beruntung atas sikap dan perhatian yang ia berikan pada saya.

Saya amat bahagia tiap kali ia memasak sambel pindang kesukaan saya dan tak henti-hentinya memperhatikan saya saat makan sambil senyum-senyum sendiri. Senyumnya akan semakin mengembang kalau nasi sambel pindang di piring yang ia sajikan itu habis saya makan dengan telap-telep. Adegan yang, sejujurnya, membuat saya tampak seperti anak miskin terlantar di jalanan dan Kalis seperti orang kaya yang habis turun dari mobil lalu memberi saya makan.

Saya bahagia tiap kali saya mendaratkan ciuman ke pipinya saat ia tidur dan membisikinya “I love u”, lalu ia terbangun dan kemudian tersenyum sambil memeluk tubuh saya yang kurus dan ringkih itu.

Saya selalu bahagia tiap kali berhasil membuatnya tersenyum. Seolah itulah harga diri saya sebagai lelaki yang menjadi pasangannya.

Memang saya tertipu oleh selera musiknya yang ternyata amat menggilai soundtrack film India dan selalu memutarnya sepanjang hari, hal yang tidak pernah ia lakukan saat kami masih pacaran —saat itu, ia lebih sering memutar lagu Adele. Namun tentu saja saya bisa memakluminya, sebab saya pikir, ia lebih banyak tertipu oleh saya dalam banyak hal.

Sejak awal, saya sudah meyakini, bahwa menikah dengan Kalis akan membuat masa depan saya tak akan suram-suram amat. Dan di tahun kedua pernikahan ini, keyakinan itu ternyata makin terbukti.

Terima kasih, Kalis Mardiasih, atas keputusanmu menjadi tabah dan menjalani hidup bersamaku.

Yo ngene iki lho, Riiii, wong lanang ki, Riiii.

Tentang Saya

Saya Agus Mulyadi, biasa dipanggil Gus Mul (bukan lulusan pesantren seperti Gus Dur, Gus Muh, maupun Gus Mus. Gus Mul hanya akronim dari nama saya). Blogger dan Freelance Layouter. Kini berusia 24 tahun. Aktif di Karang Taruna dan Komunitas Blogger Magelang Pendekar Tidar. Profil lebih lengkap, Lihat Disini
 
Copyright © 2010 Blog Agus Mulyadi , All rights reserved
Design by DZignine . Powered by Blogger