Agus Mulyadi Njaluk Rabi

Keharuan dalam Konser 30 Tahun Dewa 19

| Saturday, 28 May 2022 |

Dari sekian banyak konser Dewa19 yang pernah saya tonton, konser 30 Tahun Dewa19 di Grand City, Surabaya, semalam rasanya menjadi salah satu yang paling berkesan.

Konser itu menjadi konser pertama Ari Lasso bersama Dewa19 setelah ia dinyatakan pulih dari Kanker.

Ini konser yang agak berbau “kejutan” sebenarnya. Saat pertama kali saya memesan tiket, vokalis yang bakal tampil adalah Ello dan Virzha. Namun entah bagaimana ceritanya, sekira beberapa hari sebelum konser, saya melihat kembali posternya dan sudah ada tambahan Ari Lasso sebagai vokalis. Tentu saja saya girang, dan terharu.

konser 30 tahun DEwa19

Ari Lasso memang hanya menyanyikan lima lagu. Namun tak apa, sebab Ello dan Virzha berhasil melakukan tugasnya dengan baik untuk membawakan sisanya.

Tiga lagu pertama yang dibawakan adalah lagu Dewa19 era Ari Lasso yang sangat jarang dibawakan saat konser: Selamat Pagi, Kita Tidak Sedang Bercinta Lagi, dan, Still I’m Sure We’ll Love Again.

Walau tiga lagu itu tidak dinyanyikan oleh Ari Lasso, melainkan bergantian oleh Ello dan Virzha, saya tetap bahagia. Apalagi “Still I’m Sure We’ll Love Again” adalah lagu yang nyaris tidak pernah dibawakan saat konser.

“Spesial untuk konser 30 tahun ini, Dewa19 akan membawakan lagu ini,” kata Dhani.

Ello dan Virzha, saya akui, tampil dengan sangat baik, apalagi Ello, yang baru pertama kali tampil dalam konser Dewa19, berhasil membuktikan bahwa Dewa19 tak perlu menyesal menunjuk dirinya sebagai salah satu vokalis additional.

Momen saat Ari Lasso akhirnya naik ke panggung menjadi momen yang paling istimewa. Ada keharuan yang merayap di sana.

“Lasso... Lasso... Lasso...” penonton berteriak kompak mencoba memanggil Ari Lasso agar naik ke atas panggung. Dan ketika akhirnya ia benar-benar naik, tempik-sorak itu tak bisa dihindarkan lagi.

“Yak opo kabare, Rek?” kata Ari Lasso yang langsung disambut dengan teriakan dan gemuruh yang tak jelas lagi saking ramainya.

“Saya lebih ganteng sekarang apa dulu?” kata Ari bertanya tentang penampilannya yang kini berambut pendek pasca penyembuhan.

“Sekaraaaaaaang!!!” Jawab penonton.

Dari belakang, Dhani menimpali jawaban penonton untuk Ari Lasso itu. “Kon iku ket biyen ancen gak tau ganteng, Ri.”

“Iyo, Dhan. Ngono yo dijawab karo penonton.”

Penonton tentu saja tertawa dengan celetukan itu. Tawa yang berhasil memecah keharuan yang ada.

“Terbaring di tempat tidur selama sembilan bulan dan tidak bisa bernyanyi seperti sekarang ini rasanya sangat melelahkan. Tapi alhamdulillah, saya bisa lolos dari lubang jarum dan bisa tampil lagi di sini.” Kata Ari Lasso.

Penonton kembali berteriak, beberapa mungkin menangis. Itu adegan yang sentimentil, saya kira. Dan sial, Dhani lagi-lagi berulah.

“Ha kamu mending cuma sembilan bulan, aku sebelas bulan,” ujarnya. Sebelas bulan yang ia maksud adalah saat dirinya dipenjara karena kasus ujaran kebencian tahun 2019 lalu.

Keharuan yang muncul itu kembali dihempaskan oleh Dhani. Keparat betul. Tapi memang begitulah seharusnya Dewa19 di “rumah” mereka sendiri. Penuh canda dan keakraban masa lalu.

Keharuan malam itu bukan hanya hadir melalui kembalinya Ari Lasso, melainkan juga dimunculkannya foto-foto kolase perjalanan Dewa19 selama 30 tahun. Hal yang tentu saja menyisakan sesak, sebab foto-foto itu mau tak mau memang membuat ingatan Baladewa tentang kepergian Erwin Prasetya juga hadir. Sosok yang huruf pertama pada namanya akan selalu mewakili huruf “E” pada Dewa19 itu.

Konser sepanjang dua setengah jam tadi malam saya kira menjadi konser pelepas rindu yang amat sempurna.

Lagu “Kamulah Satu-Satunya” yang dinyanyikan bertiga oleh Ari Lasso, Virzha, dan Ello menutup konser dengan kegembiraan yang empuk dan paripurna.

Selamat datang kembali, Ari Lasso. Selamat berkonser lagi, Dewa19.

Pak Lartono

| Wednesday, 25 May 2022 |

Ada satu masa ketika saya nyaris gagal ikut darmawisata ke Bali saat SMP. Alasannya tentu saja klasik dan sudah barang tentu Anda paham: duit. Saya menyampaikan ketidaksanggupan saya untuk ikut darmawisata itu kepada lelaki yang berfoto bersama bapak saya ini. Namanya Lartono, ia guru biologi saya di SMP 7, sekaligus wali kelas saya saat kelas tiga.

Ia guru yang celelekan sekaligus menghibur, hal yang membuat ia amat disayang oleh murid-muridnya, termasuk saya.

“Lha ngopo kowe ora melu? Kowe ora pengin nonton bule renang nganggo bikini, po?” Ujarnya seraya tertawa.

Tentu saja saya ikut tertawa, dan itu membuat saya makin bingung untuk menjawab pertanyaan tersebut. Saya sebenarnya sudah menyiapkan jawaban, namun entah kenapa, jawaban itu mendadak seperti tak ingin dikeluarkan dari mulut saya. Uang adalah hal yang sentimentil. Dan akan menjadi jauh lebih sentimentil jika ia harus disampaikan setelah guyonan tentang bikini yang lucu itu.

Namun, bagaimana pun, saya harus menyampaikannya. Maka, saya paksakan, walau terasa getir.

“Bapak saya nggak punya duit buat nomboki kekurangan biaya pikniknya, Pak.”

Lelaki di depan saya itu tidak memperlihatkan perubahan roman muka. Ia tetap ceria, seolah-olah ia sudah tahu jawaban apa yang akan saya berikan kepadanya.

“Ah, gampang kuwi. Bapakmu suk kon dolan ning omahku,” ujarnya.

Singkat kata, bapak saya benar-benar mampir ke rumahnya. Saya tak tahu apa yang mereka bicarakan, dan manuver apa yang dibuat oleh Pak Lar. Yang jelas, saya kemudian bisa ikut darmawisata. Ketika saya tanyakan pada bapak saya, ia hanya menjawab, “Aku ning omahe Pak Lar malah dijak nggosip babagan awakmu.”

Dugaan saya, Pak Lar-lah yang nomboki biaya piknik saya, atau setidaknya mengusahakan agar saya tidak perlu membayar sisa pelunasan biaya darmawisata.

Kebaikannya itu, selain tentu saja sikapnya yang akrab pada saya dan pesan-pesannya yang amat simpatik dan peduli, membuat dirinya menjadi salah satu guru yang amat berkesan bagi saya.

Pak Lar-lah yang pertama kali mengajari saya membuat telor asin, mengajari saya membuat tape, juga mengajari saya menyambung batang ketela jenderal dan ketela taun agar menghasilkan ketela yang besar namun rasanya tidak pahit.

Ketika saya mulai pindah ke Jogja, saya baru tahu kalau Pak Lar sudah menjadi kepala sekolah. Tadinya di SMP 6, lalu SMP 4. Saat ia menjadi kepala sekolah di SMP 4, saya sempat diundang untuk mengisi kelas menulis untuk para siswa di sana. Kepada Pak Lar, saya berikan buku “Madgeo: Ensiklopedia Nabati-Hewani Seadanya dan Semampunya” yang saya tulis. Semacam persembahan untuknya bahwa walaupun saya tidak pernah menjadi murid yang pandai dalam pelajaran biologi, namun setidaknya, saya pernah menulis sesuatu yang berhubungan dengan biologi.

“Sekadar oleh-oleh, biar Pak Lar tidak terlalu menyesal pernah mengajar biologi pada saya,” kata saya saat itu. Ia tertawa.

Pak Lartono

Siang tadi, Pak Lar mampir ke warung Es Degan bapak saya. Ia berfoto dengan bapak saya lalu mengirimkan fotonya kepada saya via pesan Whatsapp.

“Kapan pulang ke Magelang, kita ngopi bareng, sisan tak mbaleni pelajaran biologi sing biyen. Bulan depan aku sudah pangsiun.”

Semacam Review Film “Srimulat: Hil yang Mustahal”

| Tuesday, 17 May 2022 |

Saya cukup beruntung karena ikut menonton film “Srimulat: Hil yang Mustahal” dalam pemutaran gala premier di XXI Epicentrum Kuningan pada 12 Mei 2022 lalu alias seminggu sebelum film ini resmi dirilis ke bioskop pada 19 Mei 2022 mendatang. Ini film yang saya tidak ragu dan tidak punya beban untuk merekomendasikannya kepada orang-orang.

Srimulat: Hil yang Mustahal

Film ini bercerita tentang kisah perjalanan kelompok lawak Srimulat dalam meniti karier dunia hiburan, tentang bagaimana grup lawak ini, yang sudah cukup punya nama di daerah melalui pementasan panggung, berusaha untuk melebarkan sayapnya ke ibukota sebagai grup lawak nasional melalui pementasan televisi.

Ada sederet masalah yang harus mereka hadapi, dari masalah laten pelawak: gagal tampil lucu, proses pencarian ciri khas persona masing-masing personel, sampai masalah kecakapan bahasa Indonesia mereka yang kurang fasih dan lancar.

Impresi saya pada film ini jelas: Ini film komedi yang bagus dan layak untuk ditonton. Film ini sangat menghibur, dan unik. Saya katakan unik, sebab formula humor yang dipakai dalam film ini benar-benar humor lawas yang, saya pikir, sudah nyaris punah bertahun-tahun yang lalu. Tipikal komedi farce yang dramatik dan karikatural.

Sebagai ilustrasi, dalam film ini, ada adegan di mana Rano Karno meminum teh dan ia salah menempelkan cangkir tehnya, bukan pada mulutnya, melainkan pada matanya. Ini jenis adegan komedi yang tentu saja satu liting dengan adegan orang mengambil bola yang setelah diangkat ternyata kepala orang, atau adegan saat seseorang salah paham menggunakan es contong sebagai teropong untuk melihat sesuatu. Adegan-adegan yang mengiringi kehidupan komedi kita di masa lalu.

Dan keparat, adegan Rano Karno yang salah menempelkan cangkir tehnya itu, yang harusnya jayus dan oldies itu, ternyata berhasil membuat saya dan nyaris seluruh penonton di dalam bioskop tertawa terbahak-bahak. Ini menyebalkan, kami dibuat tertawa oleh adegan yang seharusnya bikin kami mengelus dada.

“Asuuuuu, mung koyo ngene wae kok aku iso ngguyu.”

Bahkan sekadar melihat adegan Tarzan yang diperankan oleh Ibnu Jamil bertemu dengan perwakilan pejabat pemerintah yang diperankan oleh Tarzan yang asli (Toto Muryadi) pun, saya lagi-lagi tertawa.

Film “Srimulat: Hil yang Mustahal” benar-benar membuat selera humor penonton merosot berjamaah, sebab film ini membuat penonton tertawa terus-menerus melalui adegan-adegan komedi yang receh. Komedi yang sama sekali tidak butuh mikir. Saya jadi agak meragukan intelektualitas humor saya.

Walau secara format film ini adalah film biopik, namun kisah dalam film ini dibumbui gaya lawakan yang tentu saja ala Srimulat. Singkatnya, film ini menceritakan kisah nyata personel Srimulat, namun dibalut dengan komedi panggung Srimulat. Jadi, ini bukan film yang 100 persen biopik. Ini semacam peleburan antara dunia nyata dan dunia panggung. Dan peleburan itu berhasil.

Tentu saja ada ekspektasi yang luput. Ketika akan menonton film ini, saya sebenarnya berharap ada adegan yang, walau hanya sekilas, menceritakan bagaimana transformasi para personel dari sebelum masuk Srimulat menuju momen saat sudah di Srimulat. Ya misal kisah sekelebat bagaimana seorang Kabul, yang tampil kemayu itu, dengan nama panggung Tessy itu, dulunya adalah seorang marinir KKO. Namun sayang, ekspektasi itu tidak saya dapatkan. Padahal menurut saya, itu penting sebagai sebuah kisah biopik.

Kendati demikian, toh saya tetap puas dengan film ini. Selain karena faktor komedinya yang memang berhasil, juga kecemerlangan tim casting dan make-up yang berhasil menyeleksi dan memermak aktor-aktris dengan total sehingga mereka pas memerankan tokoh-tokoh pemain Srimulat dan juga tokoh-tokoh di luar Srimulat.

Pemilihan para aktor dan aktris yang terlibat, wabil khusus Ibnu Jamil sebagai Tarzan, Zulfa Maharani sebagai Nunung, Elang El Gibran sebagai Basuki, dan Bio One sebagai Gepeng, menurut saya adalah manuver yang jitu.

Dan ya, saya sempat dibikin kaget dengan sosok Pak Djijat yang berperan dengan amat sempurna sebagai Presiden Soeharto dan Endah Laras sebagai Bu Tien. Saat adegan yang melibatkan mereka berdua muncul, ada perasaan mak tratap, saya sampai mengira Pak Harto dan Bu Tien hidup lagi.

Lebih lanjut, ada banyak fragmen-fragmen kecil penyokong komedi yang sangat berhasil dalam film ini. Fragmen-fragmen itu pula yang saya pikir ikut berperan membuat adegan seorang Rano Karno salah menempelkan cangkir menjadi amat lucu.

Yang paling penting, kalau memang harus ada pesan moral seperti selayaknya produk kebudayaan masyarakat ketimuran, film ini memberikan pelajaran penting tentang kolektivitas dalam berorganisasi, apalagi sebuah organisasi lawak. Dalam hal ini, saya mengingat jelas apa yang dikatakan oleh tokoh tukang jahit yang diperankan oleh Arief Didu: “Menjadi pelawak itu nggak harus lucu, tapi harus bisa bikin teman-temannya lucu.” Betapa dunia lawak adalah hal yang bukan hanya butuh ekosistem, namun juga support system.

Dan saya pikir, film ini sangat berhasil mengejawantahkan hal itu, sebab menurut saya, adegan paling lucu dan berhasil memancing tawa yang panjang dalam film ini justru adegan selengekan Ki Sapari yang diperankan oleh Whani Darmawan, sosok yang saya tidak menyangka dan tidak terlalu berharap ia bakal selucu itu.

Sekali lagi, ini film yang bagus dan menyenangkan. Kalau ada waktu, tontonlah.

Tentang Saya

Saya Agus Mulyadi, biasa dipanggil Gus Mul (bukan lulusan pesantren seperti Gus Dur, Gus Muh, maupun Gus Mus. Gus Mul hanya akronim dari nama saya). Blogger dan Freelance Layouter. Kini berusia 24 tahun. Aktif di Karang Taruna dan Komunitas Blogger Magelang Pendekar Tidar. Profil lebih lengkap, Lihat Disini
 
Copyright © 2010 Blog Agus Mulyadi , All rights reserved
Design by DZignine . Powered by Blogger