Agus Mulyadi Njaluk Rabi

Nando 'Penghina Nyepi' dan Emosi Sosial Media

| Friday, 27 March 2015 |

Halo mas Nando apa kabar? Masih diliputi rasa ketakutan kah? Ah, semoga sudah tidak ya mas

Mas Nando, sebelum saya melanjutkan catatan ini, mungkin ada baiknya kalau kita beramah-tamah dahulu. Yah, sekadar basa-basi atau intermezzo gitu lah. Atau kita bisa berkenalan dulu mungkin? Maklum, sebagai sesama penggemar liga inggris, kurang lengkap rasanya kalau kita belum saling berkenalan.

Oke, saya duluan ya mas. Saya akan memperkenalkan diri, nama saya Agus Mulyadi. Saya orang Magelang, 23 tahun, masih bujang, dan pendukung berat Manchester United. Beda dengan sampeyan yang pendukung berat Arsenal (Yah, tapi tak apa. Kita memang punya hak untuk memilih jalan masing-masing. Sampeyan memilih jalan Arsenal, sedangkan saya memilih jalan kebaikan dan kebenaran).

Nah, sekarang giliran sampeyan yang memperkenalkan diri, mas.

Eh, tapi ndak usah ding, Setelah saya pikir-pikir, sampeyan ndak perlu memperkenalkan diri deh. Kan saya sudah tahu nama sampeyan: Nando Irawansyah, saya sudah tahu siapa sampeyan, Saya juga sudah tahu kalau sampeyan pendukung berat Arsenal, jadi sampeyan tidak perlu lagi memperkenalkan diri.

Saya dengar, mas Nando tinggal di Bali ya! Saya pernah lho ke Bali, dua kali malah. Tapi itu dulu mas, dulu banget. Sewaktu Darma Wisata kelas 3 SMP dan 3 SMA. Kalau sekarang sih rasanya berat bagi saya untuk berlibur lagi ke Bali. Maklum mas, berat di ongkos.

Oke, tu nde poin saja ya mas.

Begini mas Nando. Beberapa waktu yang lalu. Saya baca berita tentang Mas Nando. Iya, berita tentang Mas Nando yang menulis status hujatan itu. Ndak ingat? yang begini lho statusnya:

"bener2 fuck nyepi sialan se goblok ne, q jadi gak bisa nonton ARSENAL maen, q sumpahin acara gila nyepi semoga tahun depan pas ogoh2 terbakar semua yang merayakan, fuckkk you hindu"

Sudah ingat kan, mas? Ah, pasti ingat lah.

Begitu saya membaca status tersebut, sejenak, saya benar-benar tak habis pikir dengan mas. Bagaimana bisa seseorang yang tinggal di Bali tega menulis status yang sebegitu menyakitkan bagi masyarakat Bali.

Duh mas Nando, Sangat disayangkan, sampeyan rela mengorbankan harga diri dan nama baik sampeyan hanya demi Arsenal (kalau demi MU sih masih mending).

Tentu sampeyan kini tahu apa konsekuensi status tersebut. Ya, kini sampeyan menjadi public enemy di Bali (bahkan mungkin di Indonesia). Sampeyan dicari oleh banyak orang. Beberapa ingin menasehati, tapi kebanyakan ingin menghadiahi bogem mentah.

Tak heran sih, soalnya status facebook sampeyan itu benar-benar sudah keterlaluan. Menghina agama Hindu dengan kata yang teramat sangat kotor.

Saya yang notabene bukan pemeluk Hindu saja sempat merasa murka begitu membaca status sampeyan.

Saya jadi ingat dengan kasus yang pernah menimpa Florence Sihombing beberapa waktu yang lalu. Kasusnya hampir sama dengan yang sedang melanda mas saat ini: meluapkan emosi di sosial media, lalu memancing kemarahan massa.

Kasus Florence itu harusnya bisa menjadi pelajaran penting bagi saya, sampeyan, dan seluruh pengguna sosial media khususnya di Indonesia, untuk bisa lebih bijak dan beretika dalam menggunakan sosial media. Kendati sosial media adalah ranah maya, namun tetap saja kita harus bersikap layaknya seperti di ranah nyata. Karena seluruh aturan yang ada dalam sosial media pada dasarnya dibangun oleh aturan yang biasa digunakan oleh orang-orang di dunia nyata.

Bersikap tidak sopan dan tidak etis di dunia maya tentu saja tak jauh berbeda fatalnya dengan bersikap tidak sopan di dunia nyata.

Saya berani ngomong begini karena saya sendiri dulu pernah mengalaminnya mas. Iya, dulu saya pernah menulis status yang sangat sangat tidak etis.

Entah kegoblokan bagian mana yang dulu sampai bisa membuat saya menulis status facebook yang sebegitu kurang ajar. Kurang lebih, begini bunyi statusnya:

"Wanita adalah kendaraan terbaik di dunia ini, karena: Memiliki 2 lampu depan yg menawan, Memiliki 2 bemper belakang yg indah, Mengeluarkan pelumas sendiri saat panas, Di starter hanya dengan sentuhan jari, Ganti oli otomatis setiap bulan, Beragam posisi berkendara, mudah di sesuaikan, dan Aksesorisnya mengagumkan..."

Status tersebut sebenarnya bukan asli buatan saya, itu jelas, karena saya terlalu sholeh dan lurus untuk bisa menulis status se-bajingan itu. Status itu saya dapatkan dari pesan di facebook yang kemudian saya copas dan saya buat sebagai status facebook. Niatnya awalnya sih untuk lucu-lucuan saja. Ealah, status tersebut malah menjadi sumber perkara bagi saya.

Alih-alih mendapatkan komentar yang lucu (harapan saya sih begitu), saya justru mendapatkan banyak hujatan. Bahkan ada salah satu guru SMP saya (kebetulan beliau berteman di facebook) ikut memarahi.

Status saya sebagai jejaka yang suci dalam fikiran, perkataan, dan perbuatan langsung tumbang seketika. Roboh sudah pertahanan nama baik saya waktu itu. Entah sudah berapa kawan wanita meng-unfriend pertemanan facebook saya setelah status itu terbit.

Dan efek yang paling parah tentunya adalah: saya semakin susah dapat pacar. Lha bayangkan, lha wong seandainya saya rutin nulis status-status motivasi khas Mario Teguh pun saya belum tentu dapat pacar, apalagi kalau saya nulis status yang isinya menghina perempuan. Duuuh, jelas makin banyak perempuan yang menjauhi saya.

Karenanya, Sejak saat itu, saya kemudian selalu berhati-hati kalau mau nulis status atau ngetwit. Takut kalau-kalau ada yang tersinggung oleh status atau twit saya.

Nah, Mas Nando, sebagai orang yang sama-sama pernah dihujat karena menulis status di sosial media. Saya hanya ingin menasehati sampeyan. Mari kita sama-sama belajar untuk tidak seenaknya sendiri menulis status di sosial media. Mari sama-sama belajar untuk tidak melampiaskan emosi di sosial media yang memang sudah terlalu berisik ini.

Sampeyan bukanlah pelukis ternama yang bisa dengan mudah melampiaskan emosinya lewat lukisan dan kemudian menjualnya dengan harga puluhan juta, yang tentu lebih dari cukup untuk membeli persediaan kopi teman begadang selama bertahun-tahun.

Sampeyan juga bukan aktor atau aktris sinetron yang bisa melampiaskan emosi lewat akting memukau di layar kaca yang untuk selanjutnya dibayar dengan bayaran yang luar biasa tinggi, yang tentu lebih dari cukup untuk membeli persediaan orson pengisi kulkas selama setahun lebih.

Sampeyan bukan penjual emosi yang cerdik, maka setidaknya, jadilah penyalur emosi yang baik. Salurkanlah emosi sampeyan pada tempatnya. Karena bagaimanapun, emosi itu tak selamanya buruk, asal disalurkan pada tempat yang pas.

Nah, karena saya tahu sampeyan adalah fans berat Arsenal, maka saran saya, luapkan saja emosi sampeyan pada Manchester United, karena tim 'kacangan' asal Manchester itu sudah menggondol gelar juara liga Ingris jauh lebih banyak ketimbang Arsenal, sehingga membuat tim sekelas Arsenal nampak seperti pecundang.

Oke mas Nando, semoga sharing singkat kita kali ini bermanfaat.

Sudah ya mas. Sekian dulu, kapan-kapan dilanjut lagi. Saya sedang nunggu SMS dari manajemen One Direction soalnya.

*Terbit pertama kali di kolom Merdeka.com, 27 Maret 2015

Hanya Sepotong Doa untuk Mbak Winalia

| Friday, 13 March 2015 |



Dear Mbak Winalia,

Kemarin, Saya terperanjat kaget dengan link iklan jual rumah yang dibagikan seorang kawan di Facebook. Iklan jual rumah itu bukan iklan jual rumah biasa, karena tagline iklan tersebut sangat-sangat menggoda mata untuk membaca lebih lanjut: "Beli rumah bisa ajak pemiliknya nikah."

Saya mengira, itu hanya iklan guyonan atau sekadar trik promosi situs properti yang menayangkan iklan tersebut. Maklum, di jaman sekarang ini, banyak sekali web e-commerce yang menggunakan metode iklan nyleneh dan nyentrik agar menarik perhatian banyak orang.

Tak berselang lama, berita soal iklan itu kemudian masuk ke berbagai portal berita. Dan saya kembali terperanjat. Ternyata iklan jual rumah plus nikah sama pemiliknya itu benar adanya. Bukan guyonan.

Setelah saya cari tahu, ternyata pemilik rumah itu adalah Mbak Winalia. Iya, kamu mbak, kamu..., Mbak Winalia.

Mbak adalah janda cantik berusia 40 tahun dan punya dua orang anak. Kini mbak memang sedang mendambakan seorang suami pendamping hidup. Saya paham, menjadi janda di usia yang belum terlalu renta memang menjadi problema tersendiri.

Mendadak, saya merasa harus mencari tahu lebih jauh tentang mbak.

Berusaha untuk tidak menaruh perhatian kepada seorang janda cantik yang sedang mencari pendamping hidup memang sulit rasanya, mbak. Sama sulitnya seperti menyebutkan nama personel Soneta selain Rhoma Irama. Karenanya, setiap ada berita soal mbak, saya akan berusaha untuk menyempatkan diri untuk membaca. Saya ingin mengetahui perkembangan proses penjualan rumah mbak.

Saya masih terus terkagum-kagum dengan mbak. Betapa tidak, mbak sedang terlilit masalah keuangan, karenanya mbak kemudian ingin menjual rumah mbak yang sebenarnya mbak sendiri masih sangat sayang untuk melepasnya, karena memang mbak sudah sangat lama tinggal di rumah tersebut. Di satu sisi, mbak juga sedang mencari seorang suami untuk mendampingi mbak.

Polemik itu akhinya memancing mbak untuk bermanuver cantik.

"Aku berpikir rumah ini kalau dijual sayang juga, lalu terlintas gimana kalau yang beli itu nanti jadi suamiku, biar aku juga bisa tetap tinggal di sini."

Dan akhirnya, terbitlah iklan sensasional itu.

Saya suka dengan cara berpikir mbak yang sangat taktis dan brilian. Jarang lho ada wanita yang kepikiran seperti itu.

Namun sayang mbak, iklan rumah dijual milik mbak itu juga membuat saya merasa prihatin. Soalnya gara-gara iklan itu, jadi banyak yang menghujat mbak, ada yang bilang Janda gatel lah, wanita perhitungan lah, murahan lah, dan masih banyak lagi hujatan yang menerpa mbak. Jujur, saya ingin sekali meninju muka mereka yang tega menghujat mbak. Apa urusan mereka? Bisanya kok cuma menghujat. Orang mau berusaha mencari suami yang baik kok malah dinyinyirin. Dasar manusia kelas menengah ngehek.

Tapi saya yakin, mbak adalah tipe wanita yang tabah dan tahan banting.

Bagi saya, apa yang mbak lakukan adalah salah satu usaha mulia mbak untuk beribadah (Bukankah menikah itu ibadah?). Karenanya menurut saya, tak elok rasanya jika sampai ada yang menghujat mbak.

Lagipula, syarat kriteria yang diajukan mbak pada pembeli rumah yang berminat meminang mbak juga mantap. Tak terlalu berlebihan, tidak ndakik-ndakik, namun berbobot.

"Syaratnya pertama single, Islam, kalau bisa mengerti agama, syukur-syukur bisa ajak aku umroh dan pulangnya aku pakai hijab, dan tentunya bertanggung jawab lah, karena aku juga punya anak yang butuh sosok ayah yang bertanggung jawab," begitu kata mbak beberapa waktu yang lalu kepada wartawan.

Sebagai jejaka single yang merasa sholeh (walau ndak hafal ayat kursi), hati saya seakan terpanggil untuk menyanding mbak di Pelaminan. Namun apa daya mbak, merasa terpanggil saja rupanya belum cukup, saya musti cari duit satu miliar dulu kalau mau bersanding dengan mbak. Dan itu jelas sulit bagi saya.

Satu miliar itu jumlah yang sangat besar, mbak. Kalau dibelikan LKS, mungkin bisa digunakan untuk sekolah sampai ribuan caturwulan. Kalau dibelikan behel, tentu sudah tak terhitung berapa gigi tonggos yang terselamatkan karenanya.

Dan lagi, saya juga harus membuang jauh ego saya. Saya jelas tak cocok dengan njenengan mbak. Jauh, saya sadar akan hal itu.

Ada banyak alasan mengapa saya tak mungkin bisa (atau belum bisa) bersanding dengan njenengan, mbak.

Pertama, Usia saya sekarang baru 23, masih lucu-lucunya. Sedangkan mbak sekarang sudah 40 tahun. Kalau kita jadi bersanding, apa kata orang-orang nantinya, saya tak ingin mbak dituduh sebagai wanita yang hanya mengincar sensasi brondong belaka.

Kedua, ya masalah itu tadi. Saya ndak punya duit satu miliar untuk membeli rumah mbak. Seandainya pun saya punya, saya pasti lebih memilih untuk menggunakan uang tersebut untuk untuk beli sawah, buka konter pulsa dan token listrik, kulakan batu akik, dan buat ongkos naik haji bersama kawan-kawan saya yang sangat doyan mabuk.

Ketiga, saya tak mau gegabah dalam urusan memilih pasangan hidup, sungguhpun saya yakin bahwa mbak adalah wanita baik-baik. Soalnya selama ini, saya punya track record yang buruk soal asmara. 23 tahun saya hidup, belum pernah sekalipun saya pacaran, maklum, selama ini, wanita-wanita yang dekat dengan saya hanya mengincar tubuh saya semata.

Keempat, dan yang paling utama, saya ndak yakin Mbak Winalia mau sama saya. Lha wong laler saja kelihatannya harus introspeksi diri dulu sebelum memutuskan untuk sekadar hinggap di tubuh saya. Apalagi mbak Winalia yang elok dan cantik jelita ini.

Mungkin Mbak Winalia memang belum atau bukan jodoh saya. Saya yakin, di luar sana, ada banyak sekali pria-pria beruntung yang lebih cakap dari saya yang siap menerima curahan cinta mbak sebagai seorang istri yang baik. Saya yakin itu.

Dan Alhamdulillah, tadi saya baru saja baca berita, katanya sejak iklan mbak heboh, kini sudah banyak yang menghubungi mbak. Sehari konon bisa sampai ratusan penelpon, ada yang hanya berminat membeli rumah mbak saja, pun ada pula yang berminat ingin membeli rumah sekaligus menjadi suami mbak juga. Semoga diantara sekian banyak penelpon, ada yang sreg di hati mbak.

Yah, pada akhirnya, Hanya doa yang sanggup saya haturkan untuk mbak Winalia.

Semoga rumah mbak laku, dan mbak mendapatkan suami yang mampu menjadi imam yang baik bagi keluarga mbak nantinya. Dan semoga keluarga mbak senantiasa diberikan keberkahan dan kebahagiaan (Pembaca, tolong diaminkan).

Pokoknya, sampeyan bahagia saja duluan, mbak. Saya gampang.

*Terbit pertama kali di kolom Merdeka.com, 12 Maret 2015

Jadi Pembicara di Community & Society Summit 2015

| Sunday, 8 March 2015 |

7 Maret 2015, mungkin akan menjadi salah satu titik balik dalam hidup saya. Di hari itulah, saya menjadi speaker dalam sebuah forum yang sangat istimewa, namanya Community & Society Summit 2015. Saya sebut istimewa karena selain event ini adalah salah satu event gathering komunitas terbesar di jogja, event ini juga akan menjadi ajang pertemuan antara saya, dengan musuh bebuyutan saya: Christian Sugiono.

Community & Society Summit 2015

Ini bukan soal eksistensi, ini soal pertarungan pribadi. Dulu kami sama-sama berjuang untuk mendapatkan hati Titi Kamal, namun apa daya, manuver Cristian benar-benar tak terduga. Selain itu, ia punya modal penting, ia punya semuanya yang diinginkan oleh setiap wanita: ia cerdas, penuh kasih sayang, enak diajak ngobrol, dan penuh perhatian. Sedangkan saya, modal saya hanya tampang dan kharisma. Secara modal, Cristian jelas sudah berada di atas angin. Pertarungan yang tak imbang itu pun akhirnya bisa dengan mudah ditebak hasilnya: Saya kalah, dan telak. Christian akhirnya bisa menikahi Titi Kamal, sedangkan saya kini masih saja sendiri.

Oke, lupakan tentang persaingan yang tak sehat antara saya dan Tian. Biarkan itu hanya menjadi masa lalau saya.

Lebih baik saya jelaskan tentang event Community & Society Summit 2015 ini.

Jadi begini, Community & Society Summit 2015 (CSSummit 2015) adalah event gathering bagi komunitas dan pelaku dunia online yang dihelat oleh Ngonoo Media (atau yang lebih terkenal dengan situsnya ngonoo.com).

Event ini bertujuan untuk menjembatani dan memfasilitasi networking para pelaku dunia online, penggiat media sosial, dan komunitas online di Yogyakarta khususnya dan Indonesia pada umumnya. Karena selama ini, belum ada wadah yang dinilai cukup memadahi untuk mempertemukan para pelaku dunia online dan penggiat media sosial yang justru lebih sering aktif di dunia maya.



CSSummit ini diharapkan akan menjadi ajang untuk berkomunikasi langsung, bertatap muka, bertemu, dan berkumpul untuk mengenal dekat sesama para pelaku dunia online dan penggiat media sosial, sehingga para peserta diharapkan bisa bertukar Ide untuk saling berkumpul, bertemu, berkalaborasi, bertukarpikiran, berbagi ide, dan bekerjasama antar para pelaku dunia online dan penggiat media sosial untuk membentuk simbiosis mutualisme.

Event ini diselenggarakan tanggal 7 Maret 2015 kemarin di Grand Ballroom Eastparc Hotel Yogyakarta, pukul 9.00 WIB.

Selain saya, ada Beberapa speaker lain, diantaranya adalah Christian Sugiono, Petra Jebraw, Babab Dito, dan Nawa Jtoku.

Berikut ini adalah beberapa dokumentasi yang berhasil saya dapatkan (dari berbagai sumber)













Dan tak lupa juga, sebagai pamungkas, saya sertakan foto saya bersama sang rival.

Tentang Saya

Agus Mulyadi, seorang blogger, penulis, dan digital storyteller. Lahir di Magelang, 3 Agustus 1991. Sering menulis artikel ringan tentang politik, sosial, isu-isu populer di media sosial, serta catatan reflektif tentang kehidupan sehari-hari utamanya yang berkaitan dengan kehidupan pribadi, kawan, dan keluarga.

Pernah bekerja sebagai pemimpin redaksi di Mojok.co, sebuah media opini alternatif berbasis di Jogja. Sekarang menjadi manajer di Akal Buku, sebuah toko buku online sederhana yang saya jalankan bersama istri saya.
 
Copyright © 2010 Blog Agus Mulyadi , All rights reserved
Design by DZignine . Powered by Blogger