Kadang memang susah memahami bagaimana cara kerja selera wanita. Ia seperti punya lintasannya sendiri, lintasan pendek yang seringkali justru tak bisa dinalar oleh logika-logika berpikir sederhana.
Peristiwa sore itu benar-benar membuat saya yakin atas hal ini.
Saya menemani Kalis membeli daster di salah satu pasar di bilangan Jogja. Dia memang pernah bilang kalau gemar memakai daster kalau pas di kosan.
Cukup lama ia memilah dan memilih daster yang ingin ia beli, dan ia belum juga menentukan pilihannya, padahal sudah sibak sana, sibak sini. Bahkan sampai kemudian ia berpindah ke lapak lain yang ndilalah sama-sama menjual daster.
"Gimana? sudah dapat?" Tanya saya dengan agak tidak sabar.
"Hurung, mas."
"Kok suwe sih, bukane satu sama lain nggak jauh beda?"
"Beda lah, ya. Mau cari yang agak feminim,"
Saya berusaha memahami jawabannya. Walau menurut akal bodo saya, yang namanya daster itu ya sudah pasti feminim.
Sepeminuman kopi saya menunggu, akhirnya ia selesai juga memilih daster yang ia inginkan. Alhamdulillah, sabar saya menemukan jalannya.
Saya tak tahu, daster yang mana dan yang bagaimana yang ia pilih, sebab tahu-tahu, penjaga kios sudah membungkusnya di tas kresek dan memberikannya kepada Kalis.
Sesampai di kos, ia langsung memfoto daster yang baru saja ia beli dan mengirimkannya ke saya lewat wasap.
Saya terperanjat kaget. Semacam gabungan rasa ingin tertawa dan prihatin pada porsi yang nyaris seimbang.
Betapa tidak, "daster feminim" hasil seleksi dalam durasi yang tak sebentar itu rupanya adalah daster berwarna kuning macan yang begitu rawrrr dengan motif semut ngangkrang.
Dan sungguh, saya sama sekali tak bisa menemukan, dimana letak feminimnya daster tersebut.
