Astor Mbah Mi

| Sunday, 5 April 2020 |



Berkali-kali saya menuliskannya. Namanya Lasmi, saya memanggilnya Mbah Mi. Ia adalah adik kandung nenek saya.

Mbah Mi tinggal di sebuah rumah petak persis di belakang rumah saya yang memang ia tinggali sendiri. Mbah Mi selalu menjadi orang keempat, setelah ibu saya, bapak saya, dan nenek saya, yang saya sungkemi untuk meminta maaf saat lebaran.

Saya punya semacam tradisi unik di rumah Mbah Mi. Di rumahnya, saat lebaran, dari sekian banyak kudapan di ruang tamunya, ia selalu menyediakan astor. Ya, tentu saja “astor” imitasi, sebab astor yang asli harganya jauh lebih mahal.

Selama hampir sepuluh tahun terakhir, sayalah yang selalu menjadi orang yang mereyen astor itu. Menjadi orang pertama yang mengambil astor dalam plastik yang memang oleh pabriknya didesain agar mudah diambil sebagai awalan.

Saking seringnya, Mbah Mi sampai hafal kebiasaan saya itu. Saya tak ubahnya seperti seorang petugas quality control untuk astor yang disediakan Mbah Mi.

Tape ketan nenek, dan astor Mbah Mi, selalu menjadi cemilan yang sederhana namun spesial setiap lebaran.

Beberapa waktu yang lewat, saya iseng membeli dua kaleng astor. Satu astor asli, satunya lagi imitasi.

Ketika membuka kaleng astor imitasi yang berbahan plastik bening itu, saya langsung ingat Mbah Mi.

Lebaran tahun ini akan menjadi lebaran yang sangat berbeda. Bukan hanya karena salat ied yang kemungkinan ditiadakan karena corona, tapi juga karena tahun ini, saya tak akan mereyen astor di rumah Mbah Mi. Dan begitu pula lebaran di tahun-tahun berikutnya.

Mbah Mi meninggal tiga bulan lalu. Beberapa hari sebelum saya menikah. Rumah Mbah Mi kini kosong. Dan tak akan pernah lagi ada astor di meja ruang tamunya untuk saya cicipi.

Aneh sekali. Memandangi astor rasanya tak pernah sesentimentil ini.




Buku Agus Mulyadi

17 comments :

  1. wah ceritanya sederhana tapi menrik mas, dari kehidupan dan keboasaan kita dpt menjadi sebuah cerita yg menarik,

    ReplyDelete
  2. Obituari yang indah buat Mbah Mi...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Dan cukup sentimentil saat menulisnya, Mas...

      Delete
  3. Jaman cilik saben riyoyo pangana siji iki wajib mplebu cangkem, gak ngerti umahe sopo nek ono astor yo wajib jukut minkmal 2

    ReplyDelete
  4. ceritanya sederhana tapi sangat berkesan

    ReplyDelete
  5. mas mangan astor awan-awan ta? lagi puasa kok yo...

    ReplyDelete
  6. Lebaran ini rumah saya juga ada astor KW ini, tetapi karena pandemik walhasil tutup pintu semua dan akhirnya astornya utuh sampai sekarang. :')

    ReplyDelete
  7. astor ?
    saya mencoba memahami apa yang sebenarnya terjadi dengan astor,
    tapi ternyata saya gagal :D

    ReplyDelete
  8. Kenangan memang seringkali membuat kita lemas. Astor mudah ditemui, tapi dalam suasana beda, beda pulalah rasa yang kita alami.

    ReplyDelete
  9. Astor tutup merah ya mas. Yang lumayan enak dulu merknya cho cho, coklatnya lumayan belok belok di dalem astornya, kalo yang lainnya coklatnya cuma lurus terus tanpa belok sepanjang astornya :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, sekaleng harganya 29 ribu, tapi worth buat dibeli, soalnya coklatnya full..

      Delete

Tentang Saya

Saya Agus Mulyadi, biasa dipanggil Gus Mul (bukan lulusan pesantren seperti Gus Dur, Gus Muh, maupun Gus Mus. Gus Mul hanya akronim dari nama saya). Blogger dan Freelance Layouter. Kini berusia 24 tahun. Aktif di Karang Taruna dan Komunitas Blogger Magelang Pendekar Tidar. Profil lebih lengkap, Lihat Disini
 
Copyright © 2010 Agus Mulyadi Blog , All rights reserved
Design by DZignine . Powered by Blogger