Agus Mulyadi Njaluk Rabi

Persaingan Internal

| Wednesday, 24 March 2021 |

sebuah seni untuk memahami kekasih

Ketika saya menulis buku ‘Sebuah Seni untuk Memahami Kekasih’ ini, saya sadar betul bahwa tulisan-tulisan saya tentang Kalis di dalam buku ini sangat berpotensi menganggu citra intelektual Kalis sebagai seorang aktivis perempuan yang bergiat di isu-isu serius seperti kesetaraan gender dan kesehatan reproduksi.

Lha gimana, saya menulis banyak hal bodoh tentang Kalis, tentang bagaimana ia pernah menangis karena tak bisa membuka jok motor saat mengisi bensin sebab yang ia tarik bukanlah jok bagian belakang, melainkan jok bagian depan (sampai kiamat juga nggak bakal kebuka, Lis), atau tentang bagaimana ia gagal terbang dari Jogja ke Jakarta sebab tiket yang ia beli ternyata adalah penerbangan dari Jakarta ke Jogja (Dikira film Warkop kali ya, pesawatnya bisa terbang mundur) atau tentang ia yang mengira bahwa film ‘The Lion King’ edisi 2019 itu benar-benar diperankan oleh hewan asli selayaknya film dokumenter National Geographic (Kalau pakai hewan asli, yang jadi sutradaranya siapa, Lis? Kanjeng Nabi Sulaiman?).

Saat buku ini terbit dan Akal Buku ikut menjual buku ini, saya tak menyangka, buku ini ternyata sangat laku (setidaknya untuk ukuran toko buku kami yang masih sangat kecil itu). Maklum, buku ini awalnya memang saya tulis untuk menambal ongkos resepsi pernikahan saya (royalti buku ini saya terima di depan).

Buku ini dicetak 2.000 eksemplar dan berhasil cetak ulang beberapa bulan setelah terbit. Tentu sangat lumayan untuk sebuah buku yang isinya sangat jauh dari saripati ilmu ataupun mutiara hikmah dan kebijaksanaan.

Lakunya buku seni-senian ini membuat saya jadi punya senjata tandingan, sebab Kalis sering menyombongkan buku ‘Sisterfillah You’ll Never be Alone’ dan ‘Muslimah yang Diperdebatkan’ miliknya yang sangat laris di Akal Buku.

Kami memang punya semacam persaingan internal rumah tangga untuk membuktikan buku karya siapa di antara kami yang lebih laku. Di atas kertas, saya memang kalah (buku Kalis sudah cetak ulang berkali-kali). Tapi setidaknya, dengan buku ‘Sebuah Seni untuk Memahami Kekasih’, saya membuktikan bahwa saya tidak kalah dengan mudah, melainkan melalui perlawanan yang sengit sambil sesekali menyerang tipis-tipis.

“Mas, tahu nggak? Hari ini, buku Sisterfillah sama Muslimah yang Diperdebatkan laku banyak, lho. Siapa dulu dong penulisnya.” Ujarnya dengan wajah yang sangat kemaki itu.

“Lho, sama, buku Sebuah Seni untuk Memahami Kekasih juga laku. Itu membuktikan bahwa...”

“Bahwa apa?”

“Bahwa kebodohanmu layak dijual dan laku keras.”




Sawer blog ini

0 komentar :

Post a Comment

Tentang Saya

Saya Agus Mulyadi, biasa dipanggil Gus Mul (bukan lulusan pesantren seperti Gus Dur, Gus Muh, maupun Gus Mus. Gus Mul hanya akronim dari nama saya). Blogger dan Freelance Layouter. Kini berusia 24 tahun. Aktif di Karang Taruna dan Komunitas Blogger Magelang Pendekar Tidar. Profil lebih lengkap, Lihat Disini
 
Copyright © 2010 Blog Agus Mulyadi , All rights reserved
Design by DZignine . Powered by Blogger