Sebuah Analisis tentang Cicak Kawin

| Saturday, 24 April 2021 |

cicak kawin

Tidak seperti manusia yang butuh menjadi Peter Parker yang digigit laba-laba terlebih dahulu agar bisa berjalan merayap pada bidang vertikal, cicak secara alamiah sudah dibekali kemampuan untuk berjalan merayap di tembok atau bidang vertikal lainnya.

Tentu ada beberapa hewan yang punya kemampuan berjalan merayap di bidang vertikal, namun agaknya, cicaklah yang paling pas untuk merepresentasikan hewan dengan kemampuan merayap di tembok atau dinding rumah. Buktinya, lagu anak yang satu itu liriknya begini: “cicak-cicak di dinding”, bukan “semut-semut di dinding”, apalagi “tokek-tokek di dinding”.

Banyak orang penasaran dengan kemampuan cicak menempel di tembok. Beberapa bahkan mengira bahwa kaki cicak mempunyai semacam zat perekat yang membuatnya mampu menempel di tembok.

Usut punya usut, kemampuan cicak menempel di tembok ternyata bukan sebab zat perekat, melainkan rambut-rambut halus yang ada di telapak kakinya. Rambut-rambut halus ini namanya spatulae, ukurannya sangat kecil, hanya sekitar 200 nanometer, alias 500 kali lipat lebih tipis dibandingkan rambut manusia dan lebih tipis dari titian Shiratal Mustaqim yang tipisnya rambut dibelah tujuh itu.

Cicak menggunakan spatulae tersebut untuk masuk ke dalam atom lapisan dinding kemudian mengikat secara kuat dan menahan tubuhnya agar melekat dengan dinding dan bisa berjalan dengan mudah.

Namun, spatulae ini tidak lantas menjamin cicak tidak akan jatuh dari dinding atau permukaan vertikal lainnya, sebab pada kondisi tertentu, cicak juga bisa terjatuh, terutama jika sedang sial karena berada pada permukaan yang licin atau jika spatula-nya tidak mencengkeram atom lapisan dinding dengan cukup kuat.

Jadi, jika ada mitos yang mengatakan bahwa seseorang yang ketiban cicak akan terkena sial, maka mitos ini sejatinya palsu belaka, sebab yang sial sesungguhnya adalah cicak itu sendiri.

Oh ya, rambut-rambut halus spatulae pada cicak ini hanya ada pada telapak kaki cicak, bukan di sekujur tubuh, sehingga cicak hanya bisa menempel di tembok dengan posisi tengkurap, bukan telentang. Yah, kecuali cicaknya cicak akrobatik yang punya hobi kayang.

Itu pula sebabnya, saat cicak kawin, si jantan tidak akan pernah memaksa si betina untuk ambil posisi telentang. Kecuali kalau kawinnya di lantai atau bidang horizontal lainnya.

“Dik, mlumah’o, Dik.”

“Mlumah ndasmu, tibo, goblok!”




Buku Agus Mulyadi

2 comments :

  1. Tulisan sederhana dan absurd jadi ciri khas Mas Agus. Ngakak terus kalau baca tulisan-tulisan di blog ini.

    ReplyDelete
  2. jasa aqiqah terpercaya di jakarta, tangerang, dan bogor menyediakan paket murah kunjungi website kami Jasa Aqiqah jakarta

    ReplyDelete

Tentang Saya

Saya Agus Mulyadi, biasa dipanggil Gus Mul (bukan lulusan pesantren seperti Gus Dur, Gus Muh, maupun Gus Mus. Gus Mul hanya akronim dari nama saya). Blogger dan Freelance Layouter. Kini berusia 24 tahun. Aktif di Karang Taruna dan Komunitas Blogger Magelang Pendekar Tidar. Profil lebih lengkap, Lihat Disini
 
Copyright © 2010 Blog Agus Mulyadi , All rights reserved
Design by DZignine . Powered by Blogger